Tag: Milenial

  • CEO BlockFi: Milenial Berperan Tingkatkan Adopsi Bitcoin Masa Depan

    Milenial, generasi dengan banyak problematika terkait keuangan dapat berperan dalam meningkatkan adopsi Bitcoin di masa mendatang. Topik tersebut masuk ke dalam diskusi pada KTT BlockShow di Singapura.

    Dengan tema utama “Tren Investasi Milenial – Gelombang Baru Keuangan Pribadi” yang menghadirkan Aya Kantorovich dari FalconX, Zac Prince dari BlockFi, dan Michael Sonnenshein dari Grayscale. Panel tersebut berfokus pada dampak generasi Milenial terhadap masa depan aset digital.

    Baca Juga: 10 Prediksi Bitcoin Tahun 2021

    Selama diskusi, Zac Prince mengidentifikasi tiga tren adopsi Bitcoin utama yang terkait erat dengan Milenial dan investor muda: Transfer kekayaan yang sedang berlangsung dari Generasi Baby Boom ke kaum muda melalui warisan, pertumbuhan aset alternatif, dan pergeseran preferensi untuk segala sesuatu yang digital.

    Menurut penyedia data Preqin, Aset alternatif yang dikelola mencapai $10 triliun di seluruh dunia pada bulan Juni, naik lebih dari 55% dari tahun 2013 silam. Meskipun angka tersebut sebenarnya banyak melibatkan tingkat kelembagaan, kaum Milenial nantinya juga akan memainkan peran penting dalam pasar ini.

    Zac Prince berkata ia berharap agar crypto terus “tumbuh sebagai bagian dari alternatif dunia baru tersebut.”

    “Milenial yang berinvestasi crypto merupakan kelompok yang sangat penting (…) Mereka adalah orang-orang yang berada di depan tren ini.”

    Dalam pandangan CEO BlockFi, hanya masalah waktu sebelum akhirnya lebih banyak lembaga keuangan membuat landasan terkait dengan layanan ini secara demografi.

    “Ini benar-benar masalah aksesibilitas,” tambah Aya Kantorovich, kepala cakupan institusional di FalconX. Meskipun sempat mengalami penurunan pada tren saat ini, Kantorovich mengatakan perusahaannya melihat masuknya sejumlah besar agregator yang menangani langsung investor ritel (perorangan) dan penyedia pembayaran dengan likuiditas yang baik. Hal ini jelas masuk ke dalam indikator dari peningkatan adopsi di tingkat konsumen.

    Baca Juga: Standard Chartered Luncurkan Layanan Kustodian Bitcoin pada 2021

    Michael Sonnenshein, direktur pelaksana Grayscale, juga mengidentifikasi perubahan penting dalam cara orang, terutama generasi muda, memandang diversifikasi kripto.

    Meskipun banyak yang percaya bahwa diversifikasi ke dalam crypto adalah keputusan penting, diversifikasi dalam crypto juga semakin penting. Investor mulai melihat melampaui Bitcoin dan aset lain yang dapat bertahan, seperti Ethereum (ETH) dan Litecoin (LTC).

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Banyak Generasi Milenial Memandang Bitcoin sebagai Safe Haven

    Aset kripto, seperti Bitcoin (BTC) sudah terlihat sebagai investasi yang menjanjikan di masa depan. Sebuah survei terbaru bahkan menyebutkan banyak generasi milenial yang memandang Bitcoin sebagai safe haven dari investasi mereka.

    Sebuah studi oleh BanklessTimes mengungkapkan bahwa 67% responden berusia 27-42 menganggap Bitcoin sebagai instrumen yang aman untuk investasi.

    Jajak pendapat sebelumnya menunjukkan bahwa kaum milenial adalah salah satu kelompok demografis paling aktif di ruang kripto dan memiliki pandangan yang lebih ramah daripada generasi yang lebih tua.

    Investasi Aman

    Dikutip Crypto Potato, sebanyak 67% dari generasi milenial yang disurvei menganggap BTC sebagai tempat yang aman karena sifatnya yang terdesentralisasi dan batas pasokan tetap.

    Menurut Jonathan Merry, CEO BanklessTimes, aset kripto utamanya adalah instrumen investasi vital bagi kaum milenial karena menawarkan kebebasan finansial dan memungkinkan mereka melakukan diversifikasi di saat ketidakpastian ekonomi.

    Mereka yang lahir antara tahun 1981-1996 lebih terbuka terhadap inovasi digital dan lebih cenderung berurusan dengan BTC daripada Generasi X dan Baby Boomers. Individu yang lebih tua tetap dominan konservatif dengan tetap berpegang pada mata uang fiat dan mengekspresikan skeptisisme terhadap sektor kripto.

    Ilustrasi generasi milenial semakin tertarik investasi aset kripto.
    Ilustrasi generasi milenial semakin tertarik investasi aset kripto. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Bitcoin Menuju Level Harga Tertinggi 6 Bulan, Akankah Terus Naik?

    Sebagian besar milenium yang berpartisipasi dalam survei percaya bahwa Bitcoin akan menjadi arus utama di tahun-tahun berikutnya. Mereka juga melihatnya sebagai alat moneter yang lebih baik daripada Dolar AS, Euro, atau mata uang nasional lainnya.

    Bitcoin Menarik Minat

    Sifat aset Bitcoin yang terdesentralisasi dan batas persediaan yang terbatas tampaknya menjadi manfaat paling penting bagi kelompok demografis untuk mengklasifikasikannya sebagai instrumen investasi yang aman atau safe haven.

    Berada di luar jangkauan bank sentral berarti Bitcoin bukan subjek dari kebijakan moneter yang meragukan yang diperkenalkan oleh pemerintah. Pasokan maksimum 21 juta koin yang pernah ada membuat banyak orang percaya bahwa itu bisa berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Kelangkaan juga dapat meningkatkan valuasi USD aset di masa mendatang jika permintaan tetap sama atau meningkat.

    Di sisi lain, banyak bank sentral mencetak uang dalam jumlah besar selama krisis COVID-19 untuk mendukung rumah tangga dan bisnis tertutup. Langkah tersebut, antara lain, mendorong rekor inflasi di banyak negara. Tingkat di AS mencapai 9,1% pada Juni tahun lalu, tertinggi empat dekade.

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Xendit x Tokocrypto: Kolaborasi Bangun Ekosistem Aset Kripto di Indonesia

    Milenial dan Kecintaan Kripto

    Studi lain yang dilakukan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa hampir 50% miliader milenial telah menginvestasikan setidaknya seperempat dari kekayaan mereka dalam aset kripto.

    36% generasi milenial dan 51% Generasi Z bersedia menerima sebagian dari gaji mereka dalam Bitcoin pada November 2021. Saat itu, aset kripto utama diperdagangkan sekitar US$ 65.000 (cukup dekat dengan harga tertinggi sepanjang masa hampir US$ 70 ribu).

    Terlepas dari bear market pada tahun 2022, kelompok demografis tidak kehilangan minat pada kelas aset. Survei Alto dari musim panas lalu mengungkap bahwa 40% dari generasi milenial AS adalah HODLers. Mereka juga memandang kripto sebagai alat investasi yang lebih menarik daripada reksa dana.

    Selain itu, 45% generasi milenial dan 46% Gen Z mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam aset digital sebagai bagian dari rencana pensiun mereka.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investasi Aset Kripto Sarana Pengembangan Ekonomi Anak Muda

    Investasi aset kripto kini telah menjadi salah salah satu pilihan anak muda untuk mengembangkan ekonomi mereka. Anak muda terutama Gen Z dan Milenial sudah banyak melirik aset kripto untuk menjadi pilihan instrumen investasi mereka.

    Beberapa waktu lalu, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Jerry Sambuaga, mengatakan banyak kalangan anak muda yang mulai melihat aset kripto sebagai ruang baru yang menjanjikan untuk meningkatkan kondisi keuangan mereka.

    “Terjadi perubahan perilaku investor maupun pedagang khususnya di kalangan anak muda yang mulai melihat kripto sebagai ruang baru yang menjanjikan. Anak muda dan investor pada umumnya cara berpikirnya out of the box dan selalu mencari peluang baru. Jadi, selain alternatif bursa saham saat ini mereka juga melihat kripto bisa menjadi sarana pengembangan ekonomi,” kata Jerry dikutip situs resmi Kementerian Perdagangan RI.

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.
    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo), Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.

    Senada dengan Jerry, Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo), Teguh Kurniawan Harmanda, mengatakan investasi aset kripto kini sudah didominasi oleh kalangan Gen Z dan Milenial. Volatilitas ekonomi dan pandemi COVID-19 mempercepat tren pertumbuhan anak muda yang memperdagangkan kripto dan NFT.

    “Salah satu hal yang menyebabkan peningkatan tersebut adalah kemudahan bagi investor Milenial dan Gen Z dalam melakukan pembukaan akun atau wallet secara online kripto melalui smartphone. Mereka termasuk generasi yang tech savvy sehingga lebih akrab dengan teknologi dan open minded dengan hal-hal yang baru, termasuk aset kripto dan blockchain,” kata pria yang akrab disapa Manda.

    Baca juga: Market Kripto Anjlok Berlarut: Investor Tak Perlu Panik

    Menurut data Bappebti, dari 12,4 juta investor per Februari 2022, mayoritas investor di aset kripto di Indonesia sebesar 40% didominasi oleh usia 25-34 tahun. Sedangkan data internal Tokocrypto, mengungkap secara keseluruhan 67% investor aset kripto di Indonesia berusia 18-34 tahun. Rinciannya, 36% 18-24 tahun dan 31% 25-34 tahun.

    Ilustrasi perempuan pandai investasi aset kripto.
    Ilustrasi generasi milenial investasi aset kripto.

    Aset kripto juga bisa menjadi investasi jangka panjang untuk para generasi muda. Meski memiliki volatilitas tinggi, kripto kini tengah populer sebagai bagian rencana dari tabungan pensiun investor muda. Para investor muda dapat mengambil lebih banyak risiko untuk strategi investasi mereka, karena memiliki waktu yang panjang. 

    Tantangan Ledakan Investor Muda di Kripto

    Pertumbuhan investor muda di industri aset kripto bisa menjadi berkah dan sekaligus tantangan. Seperti diketahui industri kripto masih tergolong baru dengan pertumbuhan yang cepat, banyak orang yang belum memahami tingkat risiko dari investasi mereka.

    “Tantangannya, anak muda punya rasa curiosity yang tinggi. Jadi kita harus siap memberikan edukasi dan pemahaman kepada mereka terkait investasi di aset kripto. Generasi Milenial dan Gen Z rentan terkena FOMO. Mereka bisa ikut investasi karena mengikuti tren dan termakan flexing di media sosial,” jelas Manda.

    Ilustrasi tips investasi aset kripto yang aman dan cuan.
    Ilustrasi generasi milenial investasi aset kripto.

    Baca juga: Tanah Cluster Metaverse Pertama di Indonesia Laku Terjual Rp 150 Juta

    Lebih lanjut Manda menambahkan dorongan ingin keuntungan yang cepat bisa membahayakan investor muda untuk mengambil langkah yang salah. Bahayanya, generasi Milenial dan Gen Z lebih berani berutang pakai paylater atau lainnya membeli produk investasi yang belum tentu akan memberikan imbal hasil yang diharapkan.

    “Kami di asosiasi bersama para pedagang aset kripto lain terus menggencarkan program edukasi untuk kalangan investor muda, antara lain mengedukasi tentang analisa fundamental, top to down analysis, analisa teknikal, manajemen portofolio, diversifikasi dan lainnya. Hal penting lannya, mereka harus memiliki pondasi literasi keuangan yang baik. Seperti dana untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan dan investasi,” pungkas Manda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ekonomi Lagi Sulit, Keuangan Orang RI Tertekan-Bergantung ke Pinjol


    Jakarta

    Keadaan ekonomi yang sulit semakin dirasakan semua generasi, mulai dari gen X, milenial, hingga gen Z. Hal ini dapat dilihat dari pengeluaran yang semakin bertambah dalam satu tahun terakhir.

    Berdasarkan hasil survei lembaga riset YouGov Indonesia, sekitar 50% responden mengalami kenaikan pengeluaran rumah tangga, terutama untuk kebutuhan pokok (34%), pendidikan (25%), dan tabungan (24%).

    “Lalu kita melihat generasi Gen X, sebetulnya sama. Mereka merasa 51 dari 2 bilang, ya, pengeluarannya lebih bertambah. Di mana kelihatan millennials di sini yang sedikit kelihatan lebih condong pengeluarannya. Lebih bertambah di 12 bulan terakhir,” kata General Manager YouGov Indonesia, Edward Hutasoit dalam ‘Media Briefing’ yang disiarkan secara daring, Kamis (19/6/2025).


    Generasi Milenial dan gen X mencatat peningkatan belanja pada kebutuhan rumah tangga seperti bahan makanan dan listrik. Di sisi lain, Gen Z justru lebih banyak mengalokasikan pengeluaran untuk kategori gaya hidup, seperti kecantikan (21%) dan fesyen (20%).

    “Sedangkan Gen Z, itu terlihat kalau pengeluaran itu lebih banyak untuk kebutuhan-kebutuhan personal mereka, menyediakan personal care, untuk beli-beli baju, atau makan di luar,” tambah Edward.

    Pengeluaran yang makin bertambah, membuat setiap generasi memangkas pengeluaran di beberapa pos. Gen Z lebih banyak memangkas pengeluaran di kategori dasar seperti layanan kesehatan dan belanja kebutuhan pokok. Sementara generasi yang gen milenial dan gen X, lebih memilih mengurangi aktivitas konsumtif seperti makan di luar (23%) dan hiburan (19%). Milenial sendiri cenderung menahan pengeluaran untuk makanan siap saji, dan perjalanan internasional.

    Makin Sering Pakai Pinjol

    Untuk mengatasi kesulitan, Edward menilai masyarakat cenderung mengambil pinjaman. Bahkan, bagi mereka yang sudah mengambil pinjaman pun makin bertambah.

    Berdasarkan layanan keuangan, sebanyak 36% responden menambah pinjaman di pinjol, 40% tidak merasa, dan 24% menurunkan jumlah pinjaman di pinjol.

    “Jadi meminjam uang juga adalah sesuatu yang mereka salah satu opsi untuk mereka menghadapi kesulitan situasi ini. Kalau kita melihat, ada 36% yang merasa increase dalam peminjaman pinjol,” tutur Edward.

    Selain pinjol, Edward menyebut sebanyak 27% yang juga mengalami peningkatan pinjaman di paylater, 50% responden tidak meningkatkan pinjaman, dan 23% responden menurunkan pinjaman di paylater.

    Hal serupa juga terjadi bank, sebanyak 28% yang makin bertambah pinjamannya di bank. Edward menekankan survei ini diikuti oleh 2.067 responden, di mana berusia di atas 18 tahun serta basisnya yang memang sudah mempunyai pinjaman dalam setahun terakhir.

    Apabila digolongkan lintas generasi, Edward menyebut gen X dan gen milenial lebih memilih pinjam uang ke teman atau keluarga. Sementara, gen Z cenderung menggunakan produk layanan keuangan, seperti kartu kredit.

    Meski semakin meningkatnya pinjaman, sebanyak 70% responden merasa mampu membayar pinjaman tepat waktu. Kendati begitu, 20% masih merasa mengalami telat bayar dan 10% hanya mampu melunasi setengahnya.

    “Sebetulnya 70% dari mereka sebetulnya enggak, mereka merasa saya selalu membayar on time dan selalu full. Tapi kita melihat memang ada sekitar 20% mengalami kesulitan telat bayar,” terang Edward.

    Simak juga Video: Deputi Gubernur Senior BI Bicara Masa Depan Ekonomi RI

    (rea/rrd)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah Haji Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad Ekonomi Bisnis uang dolar
    ilustrasi sumber : unsplash.com / adam nir
  • 90% Kredit Macet Datang dari Anak Muda


    Jakarta

    Jumlah outstanding peer to peer (P2P) lending atau utang pinjaman online (pinjol) perseorangan di Indonesia tercatat sudah mencapai Rp 75,44 triliun Per Maret 2025 ini. Dari jumlah ini, total outstanding kredit macet sebesar Rp 1,65 triliun.

    Berdasarkan Statistik Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) OJK, mayoritas peminjam hingga akhir triwulan tahun ini masih didominasi oleh mereka yang berusia 19-34 tahun alias kalangan milenial dan generasi Z (gen Z).

    Dalam data tersebut OJK membagi para peminjam berdasarkan empat kelompok usia yakni mereka yang di bawah 19 tahun, kelompok usia 19-34 tahun, kelompok usia 35-54 tahun, dan mereka yang berusia lebih dari 54 tahun.


    Dalam hal ini, total utang pinjol kelompok usia 19-34 tahun (milenial dan Gen z) mencapai Rp 37,87 triliun dengan jumlah rekening penerima sebanyak 14.001.344 entitas. Sayang selain menjadi kelompok peminjam terbesar, dua generasi ini juga tercatat sebagai penyumbang gagal bayar (galbay) terbesar.

    Kondisi ini terlihat dari jumlah kredit macet lebih dari 90 hari (TWP90) perseorangan kelompok usia 19-34 tahun yang sebesar Rp 794,41 miliar dengan jumlah rekening penerima sebanyak 467.865 entitas. Angka ini setara 2,09% dari total pinjaman yang diambil Generasi Milenial dan Z.

    Selain itu generasi milenial (kelahiran 1981-1996) yang kini ditaksir berusia hingga 45 tahun juga tergabung dalam kelompok usia 35-54 tahun bersama Generasi X. Di mana kelompok usia ini memiliki total utang pinjol per Maret 2025 sebesar Rp 33,92 triliun.

    Sedangkan untuk outstanding kredit macet kelompok usia 35-54 tahun ini berada di Rp 725,26 miliar dengan jumlah rekening penerima sebanyak 264.794 entitas. Angka ini setara 2,13% dari total pinjaman yang diambil oleh masyarakat milenial dan Generasi X.

    Jika ditotal, gagal bayar atau galbay kedua kelompok usia ini (19-34 dan 35-54 tahun) ini mencapai Rp 1,51 triliun. Jumlah ini setara dengan 91,92% dari seluruh kredit macet pinjol per Maret 2025. Sehingga tak berlebihan jika mayoritas galbay utang pinjol paling banyak dilakukan oleh mereka kelompok milenial dan gen Z, ditambah mereka dari generasi X.

    Simak juga Video: Kurangi Risiko Galbay, Score Credit Masuk ke Slip Gaji?

    (igo/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah Haji Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad Ekonomi Bisnis uang dolar
    ilustrasi sumber : unsplash.com / adam nir
  • Milenial dan Gen Z Paling Banyak Tunggak Utang Pinjol, Ini Datanya


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap kelompok usia 19-34 tahun mendominasi menggunakan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau Peer-to-Peer Lending (P2P Lending/Pinjaman Online). Generasi itu pula yang paling banyak mengalami kredit macet atau menunggak.

    Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (KE PVML) Agusman mengungkap outstanding pembiayaan terbesar berada pada kelompok 19-34 tahun dengan porsi 51,52% dari total outstanding pinjaman perorangan.

    “Adapun pembiayaan bermasalah didominasi oleh kalangan usia 19-34 tahun dengan porsi 53,48%,” kata Agusman dalam keterangannya, dikutip Sabtu (11/1/2025).


    Kelompok usia 19-34 tahun itu diketahui masuk dalam generasi milenial dan generasi Z. Dalam catatan detikcom, generasi milenial lahir dari tahun 1981-1996, saat ini berusia 29-44 tahun; Gen Z dari tahun 1997-2012, saat ini berusia 13-28 tahun.

    Lebih lanjut, OJK mengungkapkan pada periode November 2024 total utang pinjol tumbuh 27,32% yoy menjadi Rp 75,60 triliun. Angka ini naik dari catatan bulan sebelumnya yakni Rp 72,03 triliun per Agustus 2024.

    “Berdasarkan gender borrower, outstanding pembiayaan kepada gender perempuan mencapai 54,34% dari total outstanding pembiayaan perorangan,” lanjut Agusman.

    Terkait usia yang diperbolehkan menggunakan pinjol telah diatur oleh OJK. Aturan baru bagi pengguna financial technology peer to peer (fintech P2P) lending. Syarat tersebut tertuang dalam Surat Edaran OJK Nomor 19/SEOJK.05/2023 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (SEOJK 19/2023). Penerapan aturan baru ini untuk meningkatkan kualitas pendanaan dari Lembaga Pembiayaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI).

    “Batas usia minimum pemberi dana (lender) dan penerima dana (borrower) adalah 18 tahun atau telah menikah dan penghasilan minimum penerima dana LPBBTI adalah Rp 3.000.000 per bulan,” tulis OJK dalam keterangan resminya.

    (ada/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Pandu Sjahrir Terpilih Jadi Ketua Umum AFTECH 2025-2029


    Jakarta

    Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH)telah menggelar Rapat Umum Anggota (RUA) Tahunan 2025 pada Jumat (21/3/2025) lalu. Adapun agenda utama RUA ini meliputi penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2021-2025, perubahan AD/ART organisasi dan pengangkatan pengurus baru periode 2025-2029.

    Pelaksanaan RUA Tahunan AFTECH 2025 dihadiri oleh sebanyak 141 perusahaan anggota AFTECH menyepakati seluruh agenda yang ditentukan termasuk terpilihnya Anggota Pengurus AFTECH Periode 2025-2029. Pandu Sjahrir terpilih sebagai Ketua Umum AFTECH, lalu Arsjad Rasjid sebagai Ketua Dewan Pengawas AFTECH dan Harun Reksodiputro sebagai Ketua Dewan Kehormatan/Etik AFTECH.

    Ketua Umum AFTECH Terpilih Periode 2025 – 2029, Pandu Sjahrir mengatakan, pergantian kepengurusan bukan sekadar formalitas, melainkan momentum penting bagi industri fintech Indonesia untuk terus bergerak maju. Menurutnya, periode sebelumnya penuh dengan berbagai tantangan, mulai dari pandemi yang mengubah lanskap industri, fenomena tech winter, hingga maraknya kasus fraud dan fintech ilegal.


    Ia berharap, dengan kepengurusan baru, AFTECH siap menghadapi tantangan sekaligus menangkap peluang industri fintech dalam periode 2025-2029 sebagai organisasi payung bagi ekosistem keuangan digital di Indonesia.

    “AFTECH senantiasa berkomitmen untuk mendorong transformasi dan memajukan industri fintech untuk mendukung ekosistem ekonomi digital di Indonesia. Kolaborasi antara pelaku industri, regulator, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci utama dalam memastikan perkembangan yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan,” kata Pandu dalam keterangan tertulis, Minggu (23/3/2025).

    Pandumenambahkan bahwa kepengurusan baru akan menjadi penggerak utama dalam memperkuat peran AFTECH sebagai asosiasi payung ekosistem keuangan digital Indonesia. Fokus utamanya adalah menciptakan industri fintech yang sehat, terpercaya, dan berintegritas.

    “Melalui kolaborasi lintas sektor, regulasi yang kondusif, dan penguatan literasi digital, kami optimis AFTECH dapat mempercepat transformasi keuangan digital dan mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% menuju Indonesia Emas 2045,” terang Pandu.

    Sementara, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi mengatakan pentingnya peran AFTECH dalam memperkuat sinergi serta meningkatkan tata kelola industri fintech nasional. Menurutnya, sejak berdiri pada 2016, AFTECH konsisten menjadi mitra strategis regulator dalam mendorong inovasi, meningkatkan literasi keuangan digital, serta memastikan pertumbuhan teknologi finansial berjalan secara inklusif, aman, dan berkelanjutan.

    “Kami melihat bahwa AFTECH selama ini sangat membantu kami sebagai regulator dalam menyusun berbagai regulasi. Ke depan, kami berharap kolaborasi ini tidak hanya menghadirkan regulasi-regulasi yang mendorong inovasi dan perkembangan fintech, tetapi juga bersifat adaptif, akomodatif, serta memperhatikan kebutuhan dan harapan para pelaku industri,” kata Hasan.

    Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, mengatakan bahwa ekonomi digital Indonesia tumbuh pesat dan akan semakin berkembang hingga 2030. Volume pembayaran digital nasional diperkirakan meningkat hingga 55,9%, didorong oleh peran aktif generasi Milenial, Gen Z, dan Alpha, serta pertumbuhan UMKM dan sektor ekonomi kreatif. Menurutnya, AFTECH memiliki peran strategis dalam mencapai target pemerintah melalui implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI).

    “Peran AFTECH sangat krusial untuk mewujudkan implementasi dari BSPI dan kami mengapresiasi partisipasi AFTECH dalam kesuksesan implementasi yang sudah kita lihat dengan BSPI 2025. Dan kami berharap ini akan berlanjut dengan BSPI 2030. Sinergi dalam dukungan pengembangan inovasi sistem pembayaran dan ITSK akan terus kita perkuat. Kita akan sama-sama memberikan sumbangsih dalam mendukung program Asta Cita dan mendukung pertumbuhan ekonomi keuangan digital nasional,” terang Filianingsih.

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Ekonomi Makin Sulit, Orang RI Makin Sering Pinjam ke Paylater-Pinjol


    Jakarta

    Hasil survei dari lembaga riset, YougGov Indonesia menunjukkan pinjaman masyarakat Indonesia ke buy now pay later (BNPL) dan pinjaman online (pinjol) makin meningkat. Hal ini semakin sulitnya kondisi ekonomi mereka.

    General Manager YouGov Indonesia, Edward Hutasoit mengatakan untuk mengatasi kesulitan, masyarakat Indonesia mengambil pinjaman. Bahkan, bagi mereka yang sudah mengambil pinjaman pun makin bertambah.

    Berdasarkan layanan keuangan, sebanyak 36% responden menambah pinjaman di pinjol, 40% tidak merasa, dan 24% menurunkan jumlah pinjaman di pinjol.


    “Jadi meminjam uang juga adalah sesuatu yang mereka salah satu opsi untuk mereka menghadapi sesuatu situasi ini. Kalau kita melihat, ada 36% yang merasa increase dalam peminjaman pinjol,” kata Edward dalam ‘Media Briefing’ yang disiarkan secara daring, Kamis (19/6/2025).

    Selain pinjol, Edward menyebut sebanyak 27% yang juga mengalami peningkatan pinjaman di paylater, 50% responden tidak meningkatkan pinjaman, dan 23% responden menurunkan pinjaman di paylater.

    Hal serupa juga terjadi bank, sebanyak 28% yang makin bertambah pinjamannya di bank. Edward menekankan survei ini diikuti oleh 2.067 responden, di mana berusia di atas 18 tahun serta basisnya yang memang sudah mempunyai pinjaman dalam setahun terakhir.

    “Habis itu juga banyak dari juga menjual barang-barang, tetap aja juga ada yang meminjam uang dari bank. Nah kalau dilihat dari, kita lihat dari lintas generasi, kalau kita melihat, ya 54% mereka melakukan pinjaman-pinjaman dalam 12 bulan terakhir, terlebih sedikit condong di antara generasi milenial dan gen X, terutama milenial yang sedikit lebih condong dibanding generasi-generasi lain,” jelas Edward.

    Apabila digolongkan lintas generasi, Edward menyebut gen X dan gen milenial lebih memilih pinjam uang ke teman atau keluarga. Sementara, gen Z cenderung menggunakan produk layanan keuangan, seperti kartu kredit.

    Meski semakin meningkatnya pinjaman, sebanyak 70% responden merasa mampu membayar pinjaman tepat waktu. Kendati begitu, 20% masih merasa mengalami telat bayar dan 10% hanya mampu melunasi setengahnya.

    “Sebetulnya 70% dari mereka sebetulnya enggak, mereka merasa saya selalu membayar on time dan selalu full. Tapi kita melihat memang ada sekitar 20% mengalami kesulitan telat bayar,” terang Edward.

    Simak juga Video: Utang Pinjol Warga +62 Tembus Angka Rp 80 T!

    (rea/rrd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Pinjol Diam-diam Jerat Orang Tua, Gagal Bayar Ratusan Miliar!


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total outstanding pinjaman di fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) perseorangan mencapai Rp 75,44 triliun per Maret 2025 ini. Besaran utang individu ini turun sekitar Rp 96,5 miliar jika dibandingkan bulan sebelumnya.

    Namun dalam Statistik Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) OJK Periode Maret 2025 besaran outstanding pinjaman online perorangan ini jauh lebih besar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp 56,68 triliun pada Maret 2024.

    Jika dilihat berdasarkan usia, total utang pinjol hingga akhir triwulan tahun ini masih didominasi oleh peminjam berusia 19-34 tahun atau mereka dari kalangan milenial dan generasi Z (gen Z) sebanyak Rp 37,87 triliun dengan jumlah rekening penerima 14.001.344 entitas.


    Kemudian disusul oleh peminjam berusia 35-54 tahun dengan outstanding Rp 33,92 triliun dengan jumlah rekening penerima 8.685.044 entitas. Kemudian untuk debitur usia di atas 54 tahun memiliki total utang Rp 3,43 triliun dengan jumlah rekening penerima 805.344 entitas.

    Namun jika dilihat dari kenaikan total utang pinjol tertinggi, terlihat peminjam di atas usia 54 tahun tahun ini naik sangat tinggi dari sebelumnya Rp 1,14 triliun per Maret 2024. Artinya besaran utang mereka yang berada di usia tua ini tumbuh 299,36% alias naik hampir tiga kali lipat.

    Kemudian untuk tingkat kredit macet lebih dari 90 hari (TWP90) pada periode Maret 2015 secara keseluruhan berada di kisaran 2,19%. Sementara untuk outstanding kredit macet alias tunggakan perseorangan yang belum dibayar sebesar Rp 1,65 triliun.

    Dari total outstanding yang macet tersebut, peminjam yang gagal bayar (galbay) juga masih didominasi oleh mereka yang berusia 19-34 tahun dengan jumlah Rp 794,41 miliar (2,09% dari total pinjaman).

    Kemudian disusul oleh peminjam berusia 35-54 dengan total galbay mencapai Rp 725,26 miliar atau 2,13%. Selanjutnya untuk peminjam berusia 54 tahun ke atas atau mereka dari kalangan baby boomers masih menunggak utang pinjol Rp 129,29 miliar atau 3,76%.

    Dengan begitu jika dilihat secara keseluruhan, jumlah kenaikan utang pinjol hingga Maret 2025 ini terjadi di kelompok usia 54 tahun ke atas. Mirisnya kelompok usia ini jugalah yang memiliki persentase galbay terbesar dibandingkan kelompok lainnya.

    Simak Video: Kurangi Risiko Galbay, Score Credit Masuk ke Slip Gaji?

    (igo/fdl)



    Sumber : finance.detik.com

  • Utang Pinjol Orang Tua Naik Hampir 300%


    Jakarta

    Jumlah orang tua yang berutang ke fintech peer-to-peer lending (P2P) atau pinjaman online (pinjol) meningkat drastis. Hal ini terlihat dari naiknya total utang kelompok usia di atas 54 tahun per Maret 2025 kemarin.

    Berdasarkan data Statistik Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) OJK Periode Maret 2025, outstanding pinjaman perseorangan yang diterima kelompok berusia di atas 54 tahun alias para orang tua sudah mencapai Rp 3,43 triliun dengan jumlah rekening penerima 805.344 entitas.

    Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,14 triliun, besaran pinjaman orang tua ini tumbuh sampai 299,36% alias naik hampir tiga kali lipat.


    Sementara untuk tingkat kredit macet lebih dari 90 hari (TWP90) peminjam berusia 54 tahun ke atas atau mereka dari kalangan baby boomers juga yang terbesar di antara kelompok usia lain. Di mana total tunggakan utang pinjol kelompok ini mencapai Rp 129,29 miliar setara 3,76% dari total seluruh pinjaman.

    Di luar itu, besaran outstanding pinjaman online perorangan di Indonesia secara keseluruhan mencapai Rp 75,44 triliun. Jumlah ini jauh lebih besar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp 56,68 triliun.

    Jika dilihat berdasarkan usia, total utang pinjol masih didominasi oleh kelompok berusia 19-34 tahun atau mereka kalangan milenial dan generasi Z sebanyak Rp 37,87 triliun dengan jumlah rekening penerima 14.001.344 entitas.

    Jumlah ini tercatat naik cukup tinggi hingga 131,46% dibandingkan tahun sebelumnya dengan total utang pinjol sebesar Rp 28,8 triliun. Selain nominal, jumlah peminjam juga tercatat naik yang terlihat dari rekening penerima pinjaman bertambah 4.818.739 entitas.

    Kemudian disusul oleh peminjam berusia 35-54 tahun dengan outstanding Rp 33,92 triliun dengan jumlah rekening penerima 8.685.044 entitas. Jumlah ini tercatat naik 141,7% dari Maret 2024, yakni Rp 23,93 triliun dengan jumlah rekening penerima 6.397.083 entitas.

    Barulah setelah itu ada debitur usia di atas 54 tahun memiliki total utang Rp 3,43 triliun dengan jumlah rekening penerima 805.344 entitas. Terakhir untuk peminjam berusia di bawah 19 tahun memiliki total utang Rp 323,86 miliar dengan jumlah rekening penerima 193.673 entitas.

    Diliuar itu tingkat kredit macet lebih dari 90 hari (TWP90) alias gagal bayar utang pinjol pada periode Maret 2015 secara keseluruhan berada di kisaran 2,19%. Sementara untuk outstanding kredit macet alias tunggakan perseorangan yang belum dibayar sebesar Rp 1,65 triliun.

    Daftar Utang Pinjol Berdasarkan Kelompok Usia

    1. Usia di Bawah 19 Tahun: Gen Z dan Alpha

    – Total utang pinjol: Rp 323,86 miliar
    – Total gagal bayar: Rp 4,16 miliar (1,28%)

    2. Usia 19-34 Tahun: Gen Z dan Milenial

    – Total utang pinjol: Rp 37,87 triliun
    – Total gagal bayar: Rp 794,41 miliar

    3. Usia 35-54 Tahun: Milenial dan Gen X

    – Total utang pinjol: Rp 33,92 triliun
    – Total gagal bayar: Rp 725,16 miliar

    4. Usia di Atas 54 Tahun: Gen X dan Baby Boomers

    – Total utang pinjol: Rp 3,47 triliun.
    – Total gagal bayar: Rp 129,29 miliar (3,67%).

    (igo/fdl)



    Sumber : finance.detik.com