Tag: mitos masyarakat

  • Misteri Telaga Warna dan Mitos Dieng yang Masih Dipercaya


    Jakarta

    Telaga Warna dan Dieng menyimpan misteri yang masih banyak dipercaya masyarakat. Inilah misteri Telaga Warna dan mitos-mitos yang ada di Dieng.

    Telaga Warna di Dataran Tinggi Dieng adalah salah satu tempat wisata menarik di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dinamakan demikian karena warna telaga ini bisa berubah ubah, dari warna hijau, kuning, hingga pelangi.

    Di balik keindahannya, ada misteri Telaga Warna dan mitos-mitos tentang Dieng yang masih banyak dipercaya oleh sejumlah masyarakat. Hal ini termasuk asal-usul, tempat keramat, hingga tradisi adat yang masih dijalankan.


    Misteri Telaga Warna dan Asal-usulnya

    Ada sejumlah versi cerita rakyat mengenai asal-usul Telaga Warna ini. Sebagian masyarakat mempercayainya dan sebagian menganggapnya sebagai dongeng belaka.

    Berikut ini beberapa cerita mengenai misteri Telaga Warna dan penjelasan ilmiahnya:

    1. Pakaian Ratu dan Putri

    Perubahan warna pada Telaga Warna diyakini berasal dari pakaian ratu dan putri.

    Suatu hari, seorang putri dan ratu mandi di sebuah telaga. Setelah melepas dan menggantung pakaiannya di pohon, tiba-tiba angin kencang menerbangkan pakaian mereka ke telaga.

    Kemudian warna air telaga berubah sesuai dengan warna pakaian yang dikenakan sang ratu dan putri.

    2. Cincin Bangsawan

    Legenda lain mengisahkan sebuah cincin bangsawan yang menyebabkan air Telaga Warna berubah warnanya.

    Suatu hari, cincin bangsawan tersebut jatuh ke dalam telaga. Konon, cincin tersebut sangat sakti sehingga bisa membuat warna air telaga berubah-ubah.

    3. Kalung Putri Raja

    Ada juga kisah tentang kalung putri raja yang membuat warna telaga berubah-ubah. Kisah ini sering dipentaskan dalam drama Telaga Warna.

    Kisahnya tentang Putri Gilang Rukmini yang diberikan hadiah kalung untuk ulang tahunnya yang ke-17. Akan tetapi sang putri menolak dan membuang kalungnya.

    Tingkah laku Putri Gilang Rukmini ini membuat permaisuri dan rakyat menangis. Bersamaan dengan peristiwa ini, tiba tiba muncul mata air yang tiada henti hingga menenggelamkan kerajaan. Warna di telaga ini pun berubah-ubah karena pantulan dari permata kalung sang putri.

    4. Cupumanik Astagina

    Masyarakat juga ada yang mengaitkan Telaga Warna dengan kisah Karmapala tentang Cupumanik Astagina, pusaka milik Batara Surya yang diberikan kepada Dewi Indradi. Namun, Dewi Indradi menunggu pujaan hatinya, Resi Gotama, yang sedang berperang memperebutkan dirinya.

    Kemudian Batara Surya menyamar menjadi Resi Gotama dan memadu kasih dengan Dewi Indradi. Setelah menunjukkan wujud aslinya, Batara Surya memberikan cupumanik itu kepada Dewi Indradi.

    Cupumanik itu disimpan oleh Dewi Indradi. Dewi Indradi lalu menikah dengan Resi Gotama dan melahirkan tiga orang anak, yaitu Dewi Anjani, Subali, dan Sugriwa. Namun keberadaan cupumanik itu diketahui Resi Gotama dan akhirnya dibuang.

    Cupumanik itu jatuh terpisah di dua telaga, yaitu telaga Sumala dan Telaga Nirmala. Perubahan warna di Telaga Warna diyakini karena tumpahan dari isi pusaka tersebut.

    5. Penjelasan Ilmiah

    Secara ilmiah, perubahan warna telaga tersebut terjadi karena kandungan sulfur atau belerang yang cukup banyak di dalam telaga. Saat sinar matahari mengenai telaga, maka warna permukaan air akan tampak berwarna warni.

    Mitos-mitos dan Misteri Dieng

    Berikut ini sejumlah mitos dan misteri terkait Dataran Tinggi Dieng:

    1. Gunung Kosmik

    Dikutip dari buku Dieng: Data Geografis dan Wacana Umum (2021) oleh Otto Sukatno, Dieng diyakini sebagai gunung kosmik atau gunung primordial di masa purba. Tinggi gunung ini tidak terkira besarnya.

    Akibat proses geologis dan vulkanologis, gunung itu terpenggal. Sisa-sisa penggalan itu membentuk Dataran Tinggi Dieng. Dataran tinggi ini sangat luas hingga muncul banyak puncak bukit dan puncak gunung di sekeliling Dieng.

    2. Makhluk Penjaga Hutan Telaga Warna

    Di sekitar Telaga Warna terdapat hutan yang masih dianggap keramat. Dikutip dari buku Bawana Winasis Dieng: Budaya Tak Terkatakan (2021) terbitan Kemdikbud, ada makhluk penjaga hutan bernama Kebondaru berbentuk kerbau dengan telinga yang menjalar ke bawah dengan badan dan tanduk yang besar.

    Hutan ini merepresentasikan jagad alam tempat sumber air, makanan, dan sumber penghidupan lainnya. Kepercayaan ini membuat warga tetap melestarikan dan menjaga hutan dari perusakan oleh manusia.

    3. Candi Tertua di Jawa

    Berdasarkan situs indonesia.go.id, Dieng juga menyisakan misteri adanya candi yang diyakini sebagai candi tertua di Jawa, sedikit lebih tua dari Kompleks Candi Gedong Songo di Gunung Ungaran dan lebih tua dari Borobudur.

    Tidak banyak prasasti yang ditemukan di sini. Satu-satunya prasasti adalah yang ditemukan di dekat Candi Arjuna. Disebutkan bangunan candi ini dibuat tahun 808-809 M. Namun, siapa yang membangun candi ini masih belum terungkap.

    Awalnya diperkirakan ada puluhan bahkan mungkin mencapai 100 candi. Karena banyak peristiwa alam, candi yang ditemukan hanya tersisa 8 buah ketika ditemukan pada awal 1800-an. Pemerintah Hindia Belanda lalu merekonstruksi bangunan tersebut.

    4. Banyak Gua Keramat

    Ada banyak gua keramat di kawasan Dieng, seperti Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur, dan Gua Penganten yang berada di dekat Telaga Warna.

    Gua Semar dipercaya sebagai tempat paling keramat. Konon, tempat ini digunakan raja-raja Jawa terdahulu untuk bersemedi dan mendapatkan wahyu.

    Ada juga Gua Jaran yang konon dijaga oleh seorang resi bernama Kendali Seto (penunggang kuda putih). Gua ini sering jadi tempat tujuan ziarah pasangan yang kesulitan memiliki keturunan.

    Gua Pengantin juga dipercayai masyarakat sebagai tempat keramat bagi pasangan yang ingin menikah.

    5. Sumber Mata Air Suci

    Banyak pula sumber mata air di Dieng yang dianggap keramat dan suci oleh masyarakat. Sumber mata air ini berwujud tuk, sendang, sungai, sumur, atau telaga.

    Salah satunya adalah Tuk Bimo Lukar yang merupakan tempat penyucian diri yang telah ada sejak dibangunnya candi-candi di Dieng. Tuk Bimo Lukar ditemukan setelah dilakukan babad alas Dieng.

    Tumenggung Kolodete saat itu membuka kembali dan bertapa di sana. Dari pertapaan itu, ia menemukan tujuh tuk lainnya.

    Tuk Bimo Lukar juga menjadi tempat penyelenggaraan acara paling besar, yaitu ruwat desa atau bersih-bersih desa. Biasanya warga Dieng yang berada di luar daerah atau merantau ikut pulang kampung untuk merayakannya.

    6. Ruwatan Rambut Gimbal

    Di Dieng terdapat ritual yang wajib dilakukan yaitu ruwat rambut gembel. Tradisi ini adalah mencukur rambut anak berambut gembel yang dilakukan setahun sekali. Dalam ritual ini, orang tua harus memberikan hadiah sesuai permintaan anak.

    Pencukuran rambut gembel dulunya dilakukan berkeliling desa. Tapi kini pencukuran rambut dilakukan di pelataran Candi Arjuna bersamaan dengan acara Dieng Culture Festival.

    Anak rambut gembel diyakini sebagai simbol keberkahan yang tak ternilai harganya. Munculnya anak rambut gembel bermula dari adanya anak yang demam tinggi hingga berhari-hari. Kemudian rambut si anak gimbal dengan sendirinya.

    Setelah si anak sembuh, orang tuanya membiarkan rambut anak tersebut panjang sampai si anak meminta sendiri agar rambutnya dicukur.

    Nah detikers, itulah tadi aneka misteri Telaga Warna dan mitos-mitos Dieng yang masih dipercaya hingga sekarang oleh sebagian orang.

    (bai/inf)



    Sumber : travel.detik.com

  • Telinga Berdenging, Mitos atau Benar Ada Penjelasan dalam Islam?


    Jakarta

    Fenomena telinga berdenging seringkali dikaitkan dengan berbagai kepercayaan di masyarakat. Sebagian orang meyakini bahwa itu adalah pertanda gaib, seperti dipanggil orang yang sudah meninggal, atau ada seseorang yang sedang membicarakan kita. Namun, bagaimana Islam memandang hal ini?

    Banyak Mitos yang Beredar

    Tidak sedikit orang yang langsung mengaitkan telinga berdenging dengan hal-hal mistis. Beberapa kepercayaan menyebutkan bahwa ketika telinga berdenging, itu artinya ada seseorang yang sedang membicarakan kita, atau bahkan pertanda ada keluarga yang telah meninggal sedang “memanggil”.

    Menyikapi keyakinan seperti ini, Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah memberikan penjelasan yang tegas dalam salah satu kajian beliau di kanal YouTube resminya:


    “Begitu banyak kepercayaan-kepercayaan mengenai telinga berdenging ini. Ada yang bilang dipanggil oleh keluarganya yang lagi di dalam kuburan, ada yang percaya juga bahwa telinga berdenging itu karena ada yang meninggal dunia. Tidak ada hubungannya dengan yang demikian. Jangan percaya hal-hal tidak nyata seperti itu,” tegas Buya Yahya. detikHikmah telah mendapatkan izin dari tim Al-Bahjah TV untuk mengutip ceramah Buya Yahya di kanal tersebut.

    Telinga Berdenging, Bukan Panggilan Nabi

    Selain mitos seputar arwah atau kematian, ada pula yang meyakini bahwa telinga berdenging adalah tanda bahwa seseorang sedang dipanggil oleh Nabi Muhammad SAW. Namun, menurut Buya Yahya, anggapan ini juga tidak memiliki dasar yang benar.

    “Telinga berdenging bisa jadi ada permasalahan pada kesehatan telinganya. Pertama-tama, coba tanyakan kepada medis, bisa jadi ada tekanan dalam telinga, seperti itu. Jangan dihubung-hubungkan dipanggil Nabi dan sejenisnya, padahal Nabi panggil kita setiap hari, mengajak shalat, mengajak ibadah,’ jelasnya.

    Pandangan ini mengingatkan kita bahwa seruan Nabi SAW bukan datang melalui tanda-tanda gaib, melainkan melalui ajaran dan sunnah beliau yang sudah jelas disampaikan kepada umat Islam.

    Adakah Penjelasan dalam Hadits?

    Meski banyak mitos tidak berdasar, Islam tetap memberikan adab atau sikap ketika seseorang mengalami telinga berdenging. Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi, disebutkan sebuah riwayat:

    Kami meriwayatkan dalam Kitab Ibnu As-Sunni dari Abu Rafi’, pembantu Rasulullah, bahwa beliau bersabda:

    “Jika telinga salah seorang di antara kalian berdenging, maka sebutkanlah aku, bacalah shalawat kepadaku dan ucapkanlah, ‘Semoga Allah menyebutkan dengan kebaikan untuk orang yang menyebutku.’”

    Dari sini kita bisa melihat bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk menyikapi peristiwa sehari-hari, termasuk telinga berdenging, dengan cara yang positif, yaitu mengingat beliau dan membaca shalawat.

    (inf/lus)



    Sumber : www.detik.com