Tag: movie crypto

  • Apa itu MBL Coin? Simak Pengertian dan Cara Kerja Ekosistemnya Disini!

    Beberapa tahun terakhir, industri perfilman global dan dalam negeri sedang amat produktif. Meski sempat tersendat karena pandemi, berbagai jenis film tetap terus lahir. Hal ini membuka banyak kesempatan baru, salah satunya adalah adopsi blockchain di dunia perfilman, seperti yang dilakukan oleh platform MovieBloc beserta MBL coin miliknya. 

    Penasaran? Yuk, baca terus artikel ini!

    Apa itu MovieBloc?

    platform perfilman MovieBloc

    MovieBloc adalah sebuah platform perfilman berbasis blockchain asal Korea Selatan yang diluncurkan pada Mei 2019 lalu. Melalui platform ini, para filmmaker dan kreator bisa mendistribusikan beragam koleksi film dan konten yang mereka ciptakan. Kemudian, film dan konten tersebut dapat diakses secara global dan membawa pendapatan bagi para pembuatnya setiap kali film tersebut ditonton.

    Tujuan utama dari dibentuknya platform ini adalah untuk meningkatkan transparansi di industri perfilman, terutama dalam hal distribusi suatu karya film. Hal ini disebabkan umumnya produksi dan distribusi film dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar dan tertentu saja, sehingga sulit bagi para pelaku berskala kecil dan menengah untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Maka dari itu, MovieBloc dibangun di blockchain sehingga segala transaksi dilengkapi oleh smart contract.

    Baca juga: Serba-Serbi Blockchain dan 5 Karakteristik Utamanya

    Ekosistem MovieBloc terbagi ke dalam 3 lapisan, yaitu:

    1. Block Layer

    Lapisan ini mewadahi para pengguna untuk berkomunikasi dan berkontribusi terhadap karya masing-masing maupun pengguna lainnya. Misalnya, pengguna bisa saling berinteraksi dan membagikan rekomendasi film, dengan memberikan rating atau komentar.

    2. Market Layer

    Sementara itu, seperti namanya lapisan ini mewadahi seluruh aktivitas yang berkaitan dengan transaksi. Seperti memungkinkan para distributor film untuk membiayai suatu film, para penonton untuk menonton sebuah film, hingga para kreator untuk membayar jasa penerjemah untuk film miliknya.

    3. Fundraising

    Lapisan terakhir memungkinkan para pengguna untuk berdonasi terhadap koleksi film dan konten yang tersedia pada MovieBloc. Nantinya, donasi ini bertujuan untuk mengusung koleksi film untuk ikut serta dalam berbagai festival film.

    Selain itu, genre film yang tersedia di MovieBloc sangat beragam, lho. Mulai dari dokumenter, horor, komedi, hingga animasi. Tidak sedikit pula koleksi film yang menghiasi festival film kenamaan dunia ikut tersedia di platform ini. Bentuk dan durasi filmnya juga bervariasi, sehingga para penggemar short movie pun bisa menemukan banyak pilihan tontonan

    MovieBloc juga mengeluarkan token yang lebih dikenal dengan sebutan MBL coin. Koin satu ini sudah listing di 11 exchange aset kripto besar dunia, salah satunya adalah Binance. 

    Ingin tahu lebih banyak mengenai MBL coin yang kerap menjadi buah bibir ini? Simak penjelasan lengkapnya sebagai berikut!

    Serba-serbi MBL Coin dan Manfaatnya bagi MovieBloc

    1. Pembayaran untuk semua transaksi di platform

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, MBL coin adalah native token dari platform MovieBloc. MBL bergerak di bawah protokol Ontology atau OEP-4. Selayaknya native token, MBL berperan dalam segala transaksi yang terjadi dalam platform. Namun, hal ini tidak terbatas pada pembayaran untuk menonton film dan konten premium saja, lho.

    2. Imbalan bagi para pihak yang terlibat

    Manfaat lain dari MBL dalam ekosistem MovieBloc antara lain adalah sebagai imbalan bagi para pihak yang terlibat seperti kurator atas jasa kurasi, partisipasi pengguna dalam melakukan report serta rekomendasi melalui kolom komentar, imbalan bagi penerjemah atas hasil terjemahannya ke dalam bahasa lain, donasi antar pengguna, hingga biaya promosi film dan konten.

    3. Voting

    Pada MovieBlock, terdapat sebuah program yang diberi nama ‘PICK’. Program ini menyediakan sederet koleksi film yang bisa dipilih oleh para pengguna, biasanya berlangsung selama empat hari. Nantinya, akan terdapat dua film teratas yang paling banyak dipilih oleh para pengguna. Pengguna yang melakukan vote terhadap dua film tersebut berkesempatan untuk mendapatkan total hadiah senilai 1.8 juta MBL.

    Nah, untuk melakukan voting, pengguna wajib memiliki sejumlah tiket terlebih dahulu. Satu tiket voting akan diberikan pada pengguna yang melakukan staking 20,000 MBL coin selama PICK berlangsung. Jumlah tiket voting berlaku kelipatan, sehingga semakin banyak staking, semakin banyak kesempatan pengguna untuk voting.

    Baca juga: Tips Cari Cuan Investasi Aset Kripto di Kala Market Anjlok

    Perkembangan MBL Coin dari Masa ke Masa

    Tidak bisa dipungkiri, sepanjang tahun 2021, MBL coin banyak mencapai titik keemasannya, seperti menyentuh harga tertingginya sebesar 0.04599 USD pada bulan April. Selain itu, MovieBloc juga menjalin banyak kerja sama yang membuat harganya tetap stabil di pasaran. Beberapa di antaranya adalah kerja sama dengan distributor short movie asal Eropa bernama Radiator IP dan mengadakan festival film bersama Asiana.

    Dilansir dari CoinMarketCap, harga satu keping MBL coin per tanggal 17 Januari 2021 berada di angka 0.00736 USD, setara dengan Rp 14.372,00 dan volume perdagangan mencapai 4,336,678 USD. MBL coin saat ini menduduki peringkat 430 berdasarkan kapitalisasi pasarnya dengan total supply sebanyak 30 miliar keping dan sudah ada 13.53 miliar keping yang beredar di pasar.

    vision of MovieBloc

    Tidak menutup kemungkinan harga MBL akan terus meningkat di masa yang akan datang. Sebab, MovieBloc berencana untuk terus melakukan pengembangan bisnis untuk menciptakan sebuah platform berisi konten yang sifatnya global, mencakup NFT video, multi-channel, serta dilengkapi dengan layanan pembayaran yang lebih terintegrasi.

    Jadi, apakah Anda pecinta film dan tertarik berinvestasi aset kripto? MBL coin adalah pilihan yang tepat. Meski begitu, Anda tetap harus memperhatikan strategi dan susunan portofolio yang Anda miliki agar volatilitas pasar tidak berdampak buruk bagi Anda, ya, di mana hal ini juga berlaku pada aset kripto selain MBL. 

    Untuk informasi serta tips and trick investasi kripto lainnya, kunjungi Tokonews dan segera gabung bersama kami di komunitas Discord Tokocrypto!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Film Demon Slayer Ramai Dibajak, Bisakah Blockchain Jadi Solusi?

    Setelah penantian panjang dari para fans, Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – Infinity Castle Arc Chapter 1 akhirnya mampir ke layar lebar Indonesia mulai 15 Agustus 2025. Film ini menandai babak awal dari trilogi penutup kisah Tanjiro dan para Hashira dalam menghadapi musuh terbesar mereka: Muzan Kibutsuji.

    Tayang perdana di Jepang dengan rekor box office yang mengesankan, Demon Slayer: Infinity Castle berhasil menjadi film terlaris ke-4 di Jepang. Dengan visual yang memukau dan alur cerita yang semakin menuju klimaks, film ini membawa hype tersendiri bagi kalangan pecinta anime.

    Tapi dibalik semua hype dan capaian yang diraih oleh Demon Slayer: Infinity Castle—membuka juga dejavu yang terus berulang di industri anime: pembajakan.

    Tak lama setelah tayang, potongan adegan beredar di internet, rekaman layar bioskop (CAMRip) muncul di situs ilegal, hingga link streaming bajakan tersebar melalui grup-grup di media sosial. 

    Versi Bajakan yang Telah Ditonton Lebih dari 10 Juta Fans Secara Ilegal

    Menurut laporan dari @Daily Dose of Anime, lebih dari 10 juta orang telah menonton Demon Slayer: Infinity Castle secara ilegal melalui situs bajakan dan media sosial. Jumlah yang sangat besar untuk film yang baru rilis satu bulan, jika kita estimasi menggunakan rata-rata harga tiket bioskop di Indonesia yang berkisar Rp40.000, 10 juta penonton ilegal berarti potensi kerugian mencapai Rp400 triliun bagi pihak studio dan kreator.

    Lebih mengejutkan lagi, hanya di platform Facebook saja, unggahan film bajakan ini sudah mencapai lebih dari 2 juta tampilan dan terus bertambah seiring waktu. Artinya, meskipun meskipun sebelumnya pihak studio telah mengumumkan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara bagi siapa pun yang tertangkap mengunggah versi bajakan, konten ini masih tersebar luas di hampir semua situs streaming anime ilegal dan media sosial.

    Masalah Klasik Pembajakan Intellectual Property (IP) dan Demon Slayer: Infinity Castle

    Fenomena pembajakan intellectual property (IP) alias hak kekayaan intelektual bukan hal baru, tapi kasus Demon Slayer: Infinity Castle menyoroti kembali betapa rapuhnya ekosistem distribusi digital ketika antusiasme global bertemu dengan keterbatasan akses. Ada tiga akar masalah utama yang saling berkaitan hal tersebut:

    Jeda Distribusi dan Antusiasme yang Tidak Bisa Menunggu

    Film ini memulai debutnya di Jepang dengan gemilang, memecahkan rekor box office dan memicu gelombang antusiasme internasional. Namun, rilis globalnya dilakukan secara bertahap dengan jeda satu bulan untuk pasar Indonesia, hingga dua bulan untuk wilayah seperti Amerika dan Eropa.

    Di era digital yang serba instan, penundaan seperti ini terasa seperti tidak adil bagi fans yang sudah siap menonton. Akibatnya, sebagian memilih jalur cepat dengan menonton versi bajakan.

    Kontrol Digital yang Sulit Dilacak

    Begitu satu file digital, entah rekaman bioskop atau rip dari platform streaming diunggah di internet, mencari sumbernya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sebab file digital tersebut bisa disalin ribuan kali dengan hasil salinan yang identik, sehingga sulit membedakan mana yang asli atau pertama kali diupload.

    Ekosistem Pembajakan jadi Ladang Cuan

    Situs bajakan bukan sekadar tempat berbagi file. Mereka telah menjadi ekosistem tersendiri, menghasilkan trafik tinggi, pendapatan iklan, bahkan donasi dari pengguna. Sementara itu, pihak yang seharusnya menerima imbal hasil seperti pihak studio, kreator, hingga distributor kehilangan potensi pendapatan. 

    Baca juga: Heboh Royalti Musik! Bisakah Kripto dan Blockchain Jadi Solusinya?

    Bagaimana Blockchain & Kripto Bisa Membantu Melindungi IP?

    Pembajakan dalam bentuk CAMRip atau rekaman film ilegal dari layar bioskop menggunakan kamera tidak sepenuhnya dicegah oleh blockchain, karena masalahnya terjadi di dunia fisik, bukan digital. 

    Tapi, meskipun blockchain tidak sepenuhnya bisa melindungi intellectual property (IP), blockchain bisa menjadi salah satu komponen yang dapat meminimalisir hal tersebut.

    Secara teori, jika IP dibangun di atas teknologi blockchain, penegak hukum dapat lebih mudah melacak sumber kebocoran atau pihak yang menyebarkan konten ilegal. Sebab, setiap media atau karya digital bisa diberi token unik atau watermark yang tercatat di blockchain dan dapat diakses melalui smart contract.

    Terkesan utopis, tetapi beberapa proyek berikut sudah mulai menerapkan hal tersebut lho!

    Proyek Kripto dengan Tujuan Melindungi IP

    Di tengah maraknya pembajakan digital, sejumlah proyek kripto hadir dengan misi khusus untuk melindungi Intellectual Property (IP) lewat teknologi blockchain. Setiap proyek menawarkan pendekatan berbeda, mulai dari manajemen hak cipta, distribusi konten, hingga insentif bagi kreator.

    Sekuya (SKYA)

    Sekuya (SKYA) merupakan proyek sebuah proyek berbasis komunitas yang mengusung Intellectual Property (IP) lokal Indonesia ke dalam dunia game dan metaverse terdesentralisasi. Kini, Sekuya telah bertransformasi menjadi ekosistem hiburan Web3 yang lengkap, dengan IP orisinal berupa karakter, webtoon, dan musik yang saling terhubung dalam satu universe terdesentralisasi.

    Baca juga: Sekuya dan Kebangkitan IP Lokal Indonesia di Jagat GameFi

    Pudgy Penguins (PENGU)

    Pudgy Penguins (PENGU)  awalnya berupa NFT di blockchain Ethereum yang telah meraih lebih dari 50 miliar tampilan di media sosial dan menempatkan mainannya di rak-rak Walmart dan Target. Dengan miliki NFT pengu secara tidak langsung setiap pemegang NFT mendapat hak penuh atas Intellectual Property (IP) dari karakter penguin yang mereka miliki.

    MovieBloc (MBL)

    MovieBloc (MBL) adalah sebuah proyek blockchain yang punya misi besar untuk mengatasi masalah dominasi industri film oleh bioskop besar dan layanan hiburan rumah. Dengan teknologi blockchain, pembuat film bisa mendapatkan pembagian pendapatan yang transparan. Sementara itu, penonton dapat mengakses berbagai film independen, sekaligus berkontribusi pada ekosistem dengan membuat subtitle, memberikan kurasi, hingga membantu promosi dengan imbalan token.

    Kesimpulan

    Kasus Demon Slayer: Infinity Castle membuktikan bahwa pembajakan masih jadi masalah serius. Lebih dari 10 juta penonton ilegal yang berpotensi memberikan kerugian ratusan miliar. Meski blockchain tidak bisa menghentikan pembajakan sepenuhnya, teknologi ini bisa membantu memperkuat perlindungan IP melalui lisensi digital, NFT tiket, dan watermark.

    Jika kamu ingin mendukung ekosistem blockchain yang melindungi karya kreator, kamu bisa menjelajahi dan investasi ke berbagai proyek blockchain yang berhubungan dengan IP secara legal melalui Tokocrypto dengan deposit mulai dari Rp50.000 disini.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Sumber gambar ©Koyoharu Gotoge : SHUEISHA, Aniplex, ufotable.



    Sumber : news.tokocrypto.com