Tag: mr p

  • Di Usia Berapa Sih Ukuran Mr P Sudah ‘Mentok’ Berhenti Memanjang?


    Jakarta

    Sebenarnya, kapan sih pertumbuhan ukuran penis berakhir? Hal ini kerap menjadi pertanyaan banyak pria. Perlu diketahui, umumnya pertumbuhan penis berlangsung selama masa pubertas yaitu di usia 9 hingga 14 tahun.

    Saat pria memasuki masa pubertas, ia akan mengalami banyak perubahan pada fisiknya. Termasuk pertumbuhan penis, rambut kemaluan, perubahan suara, tinggi badan, peningkatan massa otot dan terjadinya mimpi basah.

    Sebenarnya, pertumbuhan, bentuk dan ukuran penis bervariasi tidak ada patokan atau tolak ukur yang pasti. Selama tidak terjadi masalah terkait fungsi kandung kemih dan organ reproduksi, perihal ukuran sebenarnya tak perlu dikhawatirkan.


    Hormon testosteron pada pria dapat meningkat selama pubertas, yang mana hal ini menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya perubahan yang beragam. Umumnya, masa pubertas ditandai dengan perubahan testis, yang mana dimulai dari perubahan skrotum. Kulitnya menjadi gelap, membesar dan posisinya menurun.

    Sekitar satu tahun pertumbuhan testis terjadi, mulailah penis tumbuh. Pada pertumbuhan penis, diawali dengan pertumbuhan ukuran panjang terlebih dahulu. Setelah itu, diikuti dengan pertumbuhan lebar atau ketebalannya.

    Sama halnya seperti pertumbuhan tinggi badan, pertumbuhan penis juga terjadi secara bertahap. Penis dapat berhenti tumbuh saat masa pubertas berakhir. Hal ini berlangsung sekitar lima tahun dan biasanya berakhir antara usia 18-21 tahun.

    Rata-rata ukuran penis saat tidak ereksi yaitu 9 cm dan jika sedang ereksi rata- rata ukuran penis dapat berubah sekitar 12 cm. Namun, tidak ada ukuran penis yang pasti, setiap pria pasti memiliki ukuran dan bentuk yang bervariasi.

    Umumnya pada usia sekitar 21 tahun, penis tidak akan mengalami pertumbuhan lagi. Ukuran penis di saat usia tersebut akan menjadi ukuran tetap dan tidak dapat diubah.

    (vyp/vyp)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Bapak-bapak Mohon Waspada, 3 Variasi Seks yang Berisiko Picu Mr P Patah

    Jakarta

    Penis patah dalam istilah medis disebut fraktur penis. Kondisi ini adalah cedera serius ketika penis yang ereksi ditekuk secara paksa, walhasil timbul pecahnya selaput yang mengelilingi corpora cavernosa, atau jaringan spons yang terisi darah selama ereksi.

    Beberapa posisi seks memang berpotensi menyebabkan patah penis. Untuk menghindari hal ini terjadi, pria harus berhati-hati saat mencoba posisi seks ini.

    Doggy Style

    Sebuah studi berjudul Relationship between Sexual Position and Severity of Penile Fracture dalam International Journal of Impotence Research menyebut bahwa posisi seks doggy style sebagai posisi paling berbahaya menimbulkan fraktur penis.


    “41 persen kasus patah tulang penis terjadi karena posisi ini,” ungkap studi tersebut.

    Posisi ini mungkin umum dilakukan setiap pasangan, tetapi faktanya posisi seks doggy style sangat berisiko jika pasangan yang melakukan penetrasi terlalu keras dan ‘meleset’ dari target yang dituju, malah mengenai tulang kemaluan atau perineum.

    Cow Girl

    Posisi berhubungan intim cowgirl bisa berisiko jika penis pasangan yang melakukan penetrasi keluar dan kemudian bengkok atau terpelintir saat masuk kembali.

    Posisi ini dilakukan dengan pria yang tertidur terlentang, kemudian penetrasi dilakukan dengan posisi wanita di atas pria.

    Missionary

    Posisi seks ini terlihat sangat sederhana tetapi bisa berisiko jika penis pasangan yang melakukan penetrasi keluar dan kemudian bengkok atau terpelintir saat masuk kembali, atau jika kaki pasangan diangkat terlalu tinggi menyebabkan penis menekuk.

    Mempertahankan sudut pandang yang tepat dan berhati-hati sangatlah penting dilakukan. Fraktur penis jarang terjadi, tetapi satu kesalahan dapat menyebabkan cedera serius dan menyakitkan yang memerlukan perhatian medis segera.

    (Faesal Mubarok/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Ternyata Segini Rata-rata Panjang Penis Pria RI Menurut Dokter


    Jakarta

    Ukuran penis sering dianggap sebagai tolak ukur kejantanan seorang pria. Banyak pria berpikir bahwa ukuran penis yang panjang dan besar akan memberikan kenikmatan lebih saat berhubungan seksual.

    Hal tersebut keliru, banyak wanita yang tidak selalu mendapatkan kepuasan dari panjang penis pria, melainkan keintiman antara pasutri. Namun, di sisi lain, adapula kondisi penis yang dikategorikan kecil karena masalah genetik atau riwayat penyakit.

    Lantas berapa sih rata-rata ‘normal’ ukuran penis pria di Indonesia?


    Rata-rata Ukuran Mr P Pria Indonesia

    dr Gampo Alam Irdam Sp.UK dari RSCM Kencana, seorang spesialis urologi menyatakan bahwa ukuran rata-rata penis pria Indonesia cenderung lebih pendek jika dibandingkan dengan pria Afrika. Salah satu faktor yang dikaitkan dengan hal ini adalah genetik tinggi badan rata-rata pria.

    Namun, dr Gampo Alam Irdam juga menyebutkan bahwa belum ada penelitian yang pasti mengenai ukuran normal penis pria di Indonesia. Meskipun ada beberapa penelitian yang dilakukan di Surabaya dan Semarang, fokus penelitian tersebut lebih pada ukuran penis pada anak-anak.

    Meski begitu, sebagian besar ukuran penis pria di Indonesia termasuk dalam kisaran yang normal. Berdasarkan beberapa data, rata-rata panjang penis di Indonesia dalam kondisi ereksi berkisar antara 11,6 sentimeter hingga 11,8 sentimeter.

    Selain itu, dr Irdam juga menyebutkan beberapa kondisi kesehatan yang dapat membuat ukuran penis terlihat lebih kecil. Contohnya, kondisi penis setelah tindakan sirkumsisi atau pada pasien obesitas saat penis cenderung tertarik ke belakang.

    Ada juga kondisi kesehatan lain yang disebut micropenis, umumnya terjadi karena kelainan hormonal sejak lahir.

    “Micropenis apabila panjang penis kurang dari 7,5 sentimeter sejak diregangkan, disertai dengan tanda-tanda karena kurangnya hormon testosteron tersebut, buah zakar tidak membesar,” ungkap dr Irdam.

    Pria yang mengidap kondisi micropenis perlu mendapatkan penanganan dari dokter sebelum memasuki usia dewasa, yaitu pemberian injeksi hormon testosteron.

    “Tapi kalau dia datangnya sudah akil baligh, sudah tidak ada tempatnya lagi diberikan,” jelasnya.

    Terkadang, beberapa pria menganggap bahwa ukuran penis mereka termasuk dalam kategori micropenis, akibatnya pria tersebut memilih terapi ilegal dalam upaya memperbesar penis. Namun, terapi semacam itu dapat menimbulkan efek samping dan komplikasi.

    (naf/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Macam-macam Bentuk Mr P Pria, Dari Pensil hingga Paprika


    Jakarta

    Beberapa pria mungkin ada yang merasa insecure lantaran memiliki bentuk penis dan ukuran yang berbeda. Padahal terlepas dari besar-kecil ukuran dan bentuknya, tak perlu berkecil hati. Pasalnya, setiap pria memiliki bentuk dan ukuran penis yang berbeda satu sama lain. Ini merupakan kondisi yang wajar.

    Dikutip dari Daily Mail, pakar seks Darren Breen mengungkap ada tujuh bentuk penis pada pria. Apa saja?

    1. Pensil

    Penis yang berbentuk mirip pensil memiliki ketebalan yang hampir seragam dan kelenjar penis yang sempit. Panjang penis bervariasi, namun umumnya sangat panjang dan lebih tipis.


    2. Paprika

    Breen menyebut penis yang berbentuk seperti paprika ‘luar biasa pendek’. Panjangnya sekitar 3-4 inci atau setara 7,6-10 cm. Namun, penis sangat tebal di seluruh batangnya.

    3. Kerucut

    Bentuk ini menandakan adanya penyempitan linier dari batang ke ujung penis. Terkadang, hal ini terkait dengan ‘phimosis’ atau pengencangan kulup yang begitu ketat sehingga tidak dapat ditarik sama sekali. Dengan kata lain, adanya penyempitan perluasan normal kepala penis.

    4. Pisang

    Kalau yang satu ini seperti kurva ke kiri atau kanan. Bentuk ini mungkin terjadi karena seseorang pernah mengalami cedera.

    “Ini bisa juga menjadi ‘kurva’ bawaan. Mereka dilahirkan dengan itu atau disebut penyakit peyronie,” tambah Breen.

    tujuh persen dari semua pria akan mengalami episode peyronie di beberapa titik dalam hidup dan disebabkan oleh jaringan parut berlebih yang berkembang setelah cedera. Jaringan parut menyebabkan kelainan berbentuk lateral atau jam pasir.

    5. Palu

    Bentuk ini memiliki batang penis yang lebih ramping. Semakin mengarah ke kepala penis, bentuknya menjadi lebar.

    “Ini adalah pangkal sempit yang melebar. Gravitasi membuatnya lebih sulit untuk terangkat ke atas saat ereksi. Terlihat sedikit seperti jamur dengan tangkai pangkal yang sempit. Kelenjarnya luar biasa lebar,” jelas Breen.

    6. Sosis

    Ada juga pria yang memiliki penis dengan bentuk sosis. Bentuk ini memiliki ketebalan dan panjang yang seragam.

    7. Timun

    Bentuk ini memiliki ketebalan sepanjang batang penis. Penis memiliki ketebalan lebih dari biasanya.

    (suc/suc)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Masalah Kesehatan Pria yang Bisa Terlihat saat Ereksi di Pagi Hari


    Jakarta

    Penis mengalami ereksi saat bangun tidur pada pagi hari merupakan kejadian umum yang dialami oleh para pria. Penyebab pria mengalami ereksi pagi atau morning wood dapat terjadi karena beberapa faktor yakni relaksasi otak, stimulasi fisik, dan kadar hormon testosteron meningkat.

    Ereksi di pagi hari adalah fenomena yang umum terjadi pada pria dan seringkali dianggap sebagai tanda kesehatan seksual yang baik. Namun, meskipun ereksi di pagi hari dapat memberikan petunjuk mengenai kesehatan seksual, tidak semua masalah kesehatan pria dapat dideteksi hanya dengan melihat ereksi pagi.

    Ereksi umumnya terjadi selama tahap tidur Rapid Eye Movement (REM) yang terjadi secara siklus selama tidur. Saat tidur REM, sistem saraf pusat mengirimkan sinyal ke penis yang menyebabkan ereksi. Ini adalah proses yang normal dan biasanya tidak berkaitan dengan rangsangan seksual.


    Namun, jika ereksi di pagi hari tidak terjadi atau terjadi dengan frekuensi yang berkurang, ini mungkin dapat menunjukkan adanya masalah kesehatan seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, dan masalah psikologis lainnya.

    Dikutip dari Men’s Health, jika pria mengalami kesulitan dalam mempertahankan ereksi saat melakukan hubungan seks dan tidak mengalami ereksi di pagi hari, hal ini memungkinkan adanya aliran darah yang bermasalah. Kondisi ini bisa menjadi pertanda dari penyakit yang mendasarinya seperti penyakit jantung, hipertensi, kolesterol tinggi, dan pembuluh darah yang tersumbat.

    Selain itu, terdapat faktor lain seperti gangguan hormon, masalah sirkulasi, dan gangguan saraf yang menyebabkan pria tidak bisa melakukan ereksi di pagi hari.

    Penting untuk diingat bahwa ereksi pagi yang tidak terjadi atau berkurang bukanlah indikator tunggal untuk menentukan masalah kesehatan. Jika Anda mengalami kekhawatiran atau masalah kesehatan seksual, penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan yang berkompeten untuk diagnosis yang tepat dan perawatan yang sesuai.

    Saksikan juga Sudut Pandang terbaru: Komedian Bidik Parlemen

    [Gambas:Video 20detik]

    (kna/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Sering Jadi Pertanyaan, Kapan Mr P Berhenti Bertumbuh? Ini Penjelasan Medisnya


    Jakarta

    Banyak orang khawatir soal ukuran penis. Paalnya mereka percaya, panjang-pendeknya penis bisa memengaruhi kepuasan pasangan. Lantas sebenarnya, pada usia berapa sih ukuran penis seseorang berhenti bertumbuh?

    Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penis akan berhenti bertumbuh pada usia tertentu. Berdasarkan hasil studi, saat pubertas berakhir, penis akan berhenti tumbuh. Hal ini biasanya terjadi ketika seseorang mencapai usia sekitar 18 tahun.

    Untuk laki-laki, pubertas terjadi pada usia 9 sampai 14 tahun dan biasanya berlangsung selama 3-4 tahun. Selama waktu ini, penis akan menjadi lebih panjang dan lebih tebal. Tingkat di mana pertumbuhan terjadi bervariasi dari satu orang ke orang lain.


    Perubahan lain yang mempengaruhi penis dan alat kelamin selama masa pubertas meliputi:

      • Pertumbuhan testis
      • Penipisan dan kemerahan pada skrotum
      • Pertumbuhan rambut kemaluan di sekitar penis
      • Emisi semen nokturnal, atau “mimpi basah”
      • Ereksi dan ejakulasi lebih sering

    Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Penis

    Beberapa faktor mungkin berperan dalam menentukan ukuran penis seseorang, misalnya faktor genetik. Selain itu, tingkat testosteron dalam tubuh juga bisa mempengaruhi.

    Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa paparan bahan kimia tertentu di dalam rahim dapat memengaruhi bagaimana gen dan hormon bermanifestasi dalam tubuh, yang juga dapat mempengaruhi ukuran penis. Sebaliknya, tidak terpenuhinya nutrisi yang cukup di dalam rahim dapat mempengaruhi perkembangan penis.

    Di masa dewasa, faktor kelebihan berat badan bisa membuat penis terlihat lebih kecil.

    (vyp/vyp)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Ternyata Ada Benarnya, Ukuran Mr P Bisa Dilihat dari Besar Hidung

    Jakarta

    Berbicara tentang ukuran penis, ada banyak teori yang mencoba memastikan faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap peningkatan atau penurunan ukuran penis.

    Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim Rumah Sakit Universitas Ulsan di Korea Selatan mendukung hasil penelitian di Jepang dari tahun 2021, menemukan bahwa panjang hidung berpengaruh terhadap besarnya ukuran penis.

    Pria dengan panjang hidung 4,5 cm memiliki rata-rata ukuran penis tidak ereksi 10 cm. Sedangkan, pria dengan hidung mencapai panjang 5,5 cm memiliki ukuran penis rata-rata 13,4 cm.


    Hasil studi ini melibatkan lebih dari 1.160 pria berusia 30-an, juga mendukung bahwa pria dengan kaki besar cenderung memiliki alat kelamin yang lebih lebar. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa efek yang sama terlihat pada pria dengan jari manis yang lebih panjang.

    Korelasi Terhadap Ukuran Penis

    “Ukuran hidung merupakan indikator penting dari ukuran penis. Dan lingkar penis meningkat dengan ukuran kaki,” ucap peneliti dr Sungwoo Hong.

    Para ilmuwan berpikir bahwa kondisi ini terjadi karena paparan tingkat testosteron yang lebih tinggi di dalam rahim. Hormon tersebut diketahui berperan penting dalam pembentukan hidung dan alat kelamin bayi laki-laki.

    Selain itu, genetika memainkan peran penting dalam menentukan ukuran penis. Namun, faktor lain, seperti hormon, lingkungan, dan nutrisi, juga bisa mempengaruhi ukuran penis.

    (naf/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Apa Itu Impoten? Berikut Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya

    Jakarta

    Disfungsi ereksi, juga dikenal sebagai impotensi, adalah ketidakmampuan untuk mendapatkan dan mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual.

    Kondisi disfungsi ereksi adalah masalah yang sangat umum, terutama di kalangan pria yang lebih tua. Diperkirakan setengah dari semua pria berusia antara 40 dan 70 tahun terpengaruh sampai taraf tertentu.

    Apa itu Impotensi?

    Dikutip dari PBS, Disfungsi ereksi, umumnya dikenal sebagai impotensi, adalah ketidakmampuan terus-menerus untuk mencapai atau mempertahankan ereksi berkualitas yang cukup untuk hubungan seksual yang memuaskan. Impotensi adalah gejala, bukan penyakit, tetapi disfungsi ereksi bisa menjadi masalah medis yang serius.


    Masalah umum pada pria yang ditandai dengan ketidakmampuan terus-menerus untuk mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual, atau ketidakmampuan mencapai ejakulasi, atau keduanya.

    Impoten dapat bervariasi, hal ini dapat mencakup ketidakmampuan total untuk mencapai ereksi atau ejakulasi, kemampuan yang tidak konsisten untuk melakukannya, atau kecenderungan untuk mempertahankan ereksi dalam waktu yang sangat singkat.

    Penyebab Impotensi

    Disfungsi ereksi terjadi karena berbagai penyebab, berikut penyebabnya:

    1. Merokok

    Merokok telah terbukti mengganggu aliran darah arteri dan juga dapat merusak arteri penis, mengurangi aliran darah yang dibutuhkan untuk mempertahankan ereksi.

    2. Diabetes

    Ini adalah salah satu penyebab impotensi yang paling umum, karena diabetes dapat menyebabkan perubahan aliran darah melalui penyempitan pembuluh darah, atau kerusakan ujung saraf di penis.

    3. Ketidakseimbangan Hormon

    Hanya sebagian kecil kasus impotensi yang disebabkan oleh masalah hormonal, seperti testosteron yang tidak mencukupi.

    4. Kerusakan Neurologis

    Cedera pada sumsum tulang belakang atau otak, atau penyakit saraf seperti penyakit Alzheimer dapat menyebabkan impotensi. Disfungsi ereksi sering dikaitkan dengan multiple sclerosis dan penyakit Parkinson.

    5. Bedah Panggul

    Pembedahan atau radiasi pada perut, kandung kemih, rektum, atau usus besar dapat menyebabkan kerusakan saraf di area tersebut. Kerusakan dapat mengganggu sinyal yang harus ditransmisikan antara otak dan alat kelamin untuk memungkinkan ereksi dan orgasme.

    6. Trauma Panggul

    Cedera akibat kecelakaan, terutama kecelakaan yang berhubungan dengan bersepeda, olahraga air, senam, dan menunggang kuda, dapat menyebabkan impotensi.

    7. Obat-obatan

    Banyak obat resep, terutama obat tekanan darah atau antidepresan, dapat menyebabkan impotensi, seperti halnya beberapa obat bebas.

    8. Psikologis

    Depresi, kecemasan, masalah harga diri, kemarahan, ketakutan, dan penyakit mental lainnya dapat menyebabkan impotensi.

    9. Penyakit Vaskular

    Penyakit vaskular seperti pengerasan pembuluh darah atau penyakit jantung dapat mengurangi aliran darah, mengurangi kemampuan penis untuk tumbuh cukup untuk mempertahankan ereksi.

    Faktor Risiko Impotensi

    Meskipun penyebab impotensi bersifat fisik dan psikologis, ada faktor gaya hidup dan medis tertentu yang dapat meningkatkan risiko penyebab tersebut. Misalnya, penggunaan tembakau dapat membatasi aliran darah ke pembuluh darah vena dan arteri, menyebabkan masalah pembuluh darah dari waktu ke waktu yang menyebabkan impotensi.

    Usia adalah salah satu faktor risiko terbesar dalam impotensi. Impotensi terjadi pada sekitar 20-40 persen pria yang lebih tua. Penelitian telah menunjukkan bahwa risiko impotensi pada pria berusia antara 40 dan 70 tahun meningkat sebesar 10% setiap tahun.

    Ada banyak alasan, seperti penis menjadi kurang sensitif terhadap rangsangan, kadar hormon menurun, masalah kardiovaskular menjadi lebih umum, dan libido secara alami menurun seiring bertambahnya usia.

    Faktor risiko lain termasuk obesitas, cedera yang merusak saraf atau arteri yang terlibat dalam ereksi, minuman keras, atau alkoholisme. Terkadang impotensi dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup, seperti mengurangi minum dan merokok, namun terkadang memerlukan pengobatan khusus.

    Dalam kasus lain, pengobatan seperti terapi radiasi atau operasi prostat dapat menjadi faktor risiko impotensi dan mungkin diperlukan untuk menyelamatkan nyawa pasien.

    Gejala Impotensi

    Dikutip dari Everyday Health, impoten menunjukkan beberapa gejalas jika menderita impotensi, ada beberapa gejala yang mungkin dialami sebagai berikut:

    1. Kesulitan mendapatkan ereksi

    2. Kesulitan mempertahankan ereksi untuk waktu yang lama

    3. Gairah seksual menurun

    4. Perasaan malu atau bersalah inferioritas

    5. Gejala gangguan seksual lainnya

    Beberapa kelainan seksual terkait dengan impoten dan dapat menyebabkan gejala seperti impoten, seperti:

    • Ejakulasi dini (ejakulasi terlalu cepat)
    • Ketidakmampuan untuk orgasme setelah rangsangan yang memadai
    • Ejakulasi tertunda (ketika ejakulasi terlalu lama)

    Pencegahan Impoten

    Langkah-langkah tertentu dapat membantu menurunkan risiko impotensi, di antaranya sebagai berikut :

    1. Makan makanan yang sehat
    2. Berhenti merokok
    3. Menurunkan berat badan berlebih
    4. Berolahraga setiap hari
    5. Menjaga tekanan darah normal dan kadar kolesterol
    6. Mendapatkan bantuan untuk masalah kecanduan alkohol atau narkoba
    7. Belajar tentang efek samping dari obat-obatan yang diminum
    8. Mempertimbangkan konseling pasangan jika Anda dan pasangan kesulitan berkomunikasi

    Cara Mengatasi Impoten

    Pengobatan disfungsi ereksi terutama dilakukan dengan menghilangkan penyebab masalahnya, baik itu fisik maupun psikologis.

    Perubahan gaya hidup

    Dalam kasus ini, dokter Anda mungkin menyarankan penurunan berat badan untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Ini dapat membantu meringankan gejala dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

    Pemberian obat untuk mengatasi aterosklerosis

    Penyempitan arteri atau aterosklerosis adalah salah satu penyebab impotensi yang paling umum. Selain perubahan gaya hidup, pasien juga diberi obat penurun kolesterol statin dan obat penurun tekanan darah.

    Obat-obatan untuk disfungsi ereksi dan pompa penis

    Obat jenis sidenafil bisa memperbaiki disfungsi ereksi, meski tidak mengobati secara keseluruhan. Sedangkan pompa penis membantu mengalirka n darah ke kepala Mr P.

    Perawatan psikologis

    Jenis penanganan ini termasuk terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi seks. Secara umum, pengobatan untuk disfungsi ereksi telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kebanyakan pria akhirnya bisa berhubungan seks lagi.

    (row/row)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Mr P Bau Tak Sedap? Mungkin Ini Penyebabnya


    Jakarta

    Penis merupakan organ yang sangat penting bagi reproduksi pria. Oleh karena itu, organ vital ini harus dijaga kebersihannya. Pada umumnya, penis yang sehat dan bersih tak akan mengeluarkan bau tidak sedap.

    Namun, jika muncul bau dari penis, kondisi ini bisa menandakan kurangnya menjaga kebersihan penis atau mengisyaratkan adanya kondisi medis tertentu yang perlu diperhatikan. Penis bau tentu bisa membuat seseorang merasa malu, apalagi terhadap pasangan.

    Menurut Mike Bohl, MD, MPH, dari klinik kesehatan pria digital Roman, terdapat beberapa alasan mengapa penis mengeluarkan aroma yang bau sepanjang hari.


    Dikutip dari Health, berikut beberapa alasan penis mengeluarkan bau tidak sedap:

    1. Keringat

    “Sebagian besar tubuh ditutupi kelenjar keringat yang disebut kelenjar eccrine, yang mengeluarkan air dan garam dan bagus untuk mendinginkan tubuh,” kata dr Bohl.

    “Tapi ada jenis kelenjar keringat lain yang disebut kelenjar apokrin, yang lebih besar, mengeluarkan senyawa tambahan seperti protein dan lemak, dan sebagian besar bertanggung jawab atas bau badan,” tambahnya.

    Kelenjar apokrin hanya bisa ditemukan di bagian tubuh tertentu, yakni ketiak dan selangkangan. Untuk kondisi ini, penis sebenarnya memiliki bau seperti ketiak daripada aroma lengan yang telah berkeringat seharian.

    2. Kurangnya sirkulasi udara

    Alasan lain mengapa penis mengeluarkan bau adalah karena posisinya yang tertutup dan tidak banyak bergerak.

    “Ada lebih sedikit udara segar di area tersebut dan juga lebih sulit untuk menghilangkan keringat dan sel kulit mati – semuanya pada dasarnya tetap menempel di penis,” jelasnya.

    Menurut dr Bohl, jika penis memiliki bau seperti ketiak dan kaki, pria tidak perlu khawatir. Hal ini menunjukkan bahwa penis memiliki kesehatan yang normal.

    3. Kurang menjaga kebersihan

    Jika pakaian dalam tidak bersih dan terdapat sisa urine setelah buang air kecil bisa menyebabkan penis mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Maka dari itu, usahakan selalu mengganti pakaian dalam ketika melakukan aktivitas sehari-hari yang mengeluarkan banyak keringat.

    Dengan membersihkan penis di kamar mandi, seharusnya bisa menyingkirkan bau yang tidak sedap. Tetapi, jika penis memiliki bau yang tidak bisa hilang, hal ini memungkinkan seseorang mengalami masalah kesehatan, seperti:

    4. Infeksi menular seksual (IMS)

    Dalam beberapa kasus, infeksi menular seksual (IMS) dapat menyebabkan penis bau. Jenis IMS yang paling mungkin menyebabkan bau tak sedap pada penis adalah gonore dan klamidia.

    Selain penis bau, pengidap gonore dapat menunjukkan gejala berupa keluarnya cairan berwarna hijau, putih, atau kuning dari penis, nyeri saat kencing, dan radang di kulup. Sementara, pengidap klamidia mungkin juga menunjukkan gejala yang meliputi keluarnya cairan encer berwarna putih dari penis, sakit saat buang air kecil, dan nyeri testis.

    (suc/suc)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Anti Loyo! 4 Makanan Ini Bisa Bikin Mr P ‘Tegak’ Tahan Lama di Ranjang


    Jakarta

    Beberapa makanan terbukti bisa meningkatkan stamina pria saat melakukan hubungan seksual. Selain itu, beberapa jenis makanan sehat juga memiliki nilai gizi yang baik untuk kesehatan tubuh.

    Disfungsi ereksi menjadi salah satu permasalahan dalam aktivitas seks yang dialami oleh pria. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pria bisa menerapkan pola makan yang sehat. Selain itu, mengonsumsi makanan sehat juga meningkatkan kesuburan dan ereksi menjadi tahan lama.

    Dikutip dari Pulse, berikut beberapa makanan yang bisa membuat ereksi tahan lama:


    1. Pisang

    Pisang kaya akan potasium yang membantu meningkatkan produksi testosteron, hormon seks pria yang berperan meningkatkan libido dan membuat ereksi menjadi tahan lama. Selain itu, kandungan bromelain dan vitamin B bisa meningkatkan kinerja penis secara keseluruhan.

    2. Makanan pedas

    Makanan pedas dapat meningkatkan gairah seks pria dan wanita. Hal ini dikarenakan mengonsumsi makanan pedas dapat melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan aliran. Selain itu, makanan pedas juga dikenal sebagai vasodilator yang dapat merilekskan tubuh dan menurunkan tekanan darah.

    3. Alpukat

    Alpukat memiliki kandungan vitamin B yang membantu menurunkan risiko gangguan ovulasi pada wanita. Sedangkan pada pria, asam folat dipercaya mampu meningkatkan jumlah sperma dalam testis untuk mendukung kesuburan. Alpukat memberikan tubuh nutrisi berupa lemak tak jenuh yang sehat dan mengubahnya menjadi energi sehingga pria tidak gampang loyo saat melakukan hubungan seks.

    4. Daging

    Makan daging atau makanan yang mengandung asam amino dapat meningkatkan performa seks. Berbagai makanan yang memiliki protein tinggi seperti daging sapi, ayam, dan babi mengandung senyawa yang meningkatkan aliran darah seperti carnitine, L-arginin, dan seng. Kandungan ini dapat meningkatkan aliran darah dan efektif dalam mengobati disfungsi ereksi.

    (vyp/vyp)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy