Tag: musafir

  • Doa sebelum Pergi Mudik Lebaran, Dibaca agar Lancar dan Selamat


    Jakarta

    Jelang Hari Raya Idul Fitri, umumnya muslim Indonesia melakukan mudik ke kampung halaman. Kegiatan ini sudah seperti tradisi tahunan setiap lebaran.

    Biasanya perjalanan mudik memakan waktu yang cukup lama. Tidak hanya berjam-jam, bahkan hingga berhari-hari.

    Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya umat Islam memanjatkan doa ketika hendak melakukan sesuatu, begitu pula sebelum mudik. Doa tersebut dimaksudkan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar selamat sampai tujuan.


    Doa sebelum Pergi Mudik

    Berikut doa sebelum pergi mudik yang disadur dari Instagram resmi Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI.

    سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

    Arab latin: Subhanalladzi sakh-khoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa inna ila robbina lamun-qolibuun. Allahumma innaa nas’aluka fii safarinaa hadza al birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardho. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘anna bu’dahu. Allahumma antash shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli.

    Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini.

    Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga.”

    Doa Musafir Tergolong Mustajab

    Pada dasarnya, orang yang melakukan perjalanan jauh termasuk musafir. Menurut hukum Islam, musafir adalah orang yang meninggalkan tempat tinggalnya dalam jarak tertentu dan berniat tinggal di tempat yang dituju dalam waktu tertentu, seperti dikutip dari buku Tuntunan Shalat Musafir oleh Aulia Fadhli.

    Imam Ahmad, Imam Syafi’i dan Imam Malik menetapkan batas waktu seseorang yang dapat disebut musafir ialah empat hari. Sementara itu, Abu Hanifah mengatakan batas waktunya 15 hari.

    Walau demikian, banyak pendapat yang mengatakan bahwa musafir adalah orang yang sedang bepergian untuk tujuan tertentu dengan perjalanan kurang lebih 70 km, dan orang tersebut tidak berencana menetap di daerah tertentu lebih dari tiga hari.

    Secara sederhana, musafir dapat juga didefinisikan sebagai seseorang yang melakukan perjalanan dengan tujuan bukan untuk maksiat.

    Doa dari seorang musafir dikatakan mustajab. Hal ini disebutkan dalam buku Agar Doa Selalu Dikabulkan Allah susunan Muhammad Syafie el-Bantanie, sebagaimana merujuk pada hadits Nabi SAW, ia bersabda:

    “Ada tiga jenis doa yang pasti dikabulkan, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang dalam perjalanan (safar) dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 15 Golongan Orang yang Doanya Mustajab dan Tidak Akan Ditolak, Siapa Saja?


    Jakarta

    Doa yang mustajab sesungguhnya adalah doa yang dipanjatkan dengan tulus, penuh harapan, dan disertai keyakinan akan kekuasaan Allah SWT.

    Selain terdapat waktu, dan tempat yang mustajab dalam berdoa, ada hal lain yang perlu diperhatikan agar doa seseorang diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT, yaitu kekuatan dari golongan orang yang doanya mustajab. Siapakah golongan orang-orang itu?

    15 Golongan Orang yang Doanya Mustajab

    Inilah 15 orang istimewa yang doanya mustajab, dikutip dari buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki dan Kesuksesan yang ditulis oleh Deni Lesmana.


    1. Doa Orang yang Sedang Berpuasa

    Doa dari orang yang berpuasa, yang melakukannya dengan ikhlas karena Allah SWT lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, serta menjaga seluruh anggota tubuhnya dari yang terlarang, sangat istimewa di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,

    “Ada tiga doa yang tidak diragukan lagi akan dikabulkan oleh Allah, yaitu doa imam yang adil, doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doa orang yang teraniaya.” (HR. Ahmad, Tarmudzi, dan Ibnu Majah)

    2. Doa Pemimpin yang Adil

    Memiliki pemimpin yang adil adalah impian setiap rakyat, karena ia menjadi pelindung di tengah kesulitan dalam negaranya. Ia merupakan teladan yang baik, mendukung yang lemah, serta memperbaiki keadaan yang buruk.

    Pemimpin seperti ini akan senantiasa dirahmati oleh Allah SWT dan didoakan oleh rakyatnya karena keadilan dan kebijaksanaannya. Bahkan menurut riwayat, pemimpin yang adil akan ditempatkan di surga bersama dengan para nabi dan orang-orang saleh.

    3. Doa Orang yang Dianiaya atau Dizalimi

    Orang yang zalim akan mendapatkan balasan dari Allah SWT di dunia maupun di akhirat. Sementara itu, mereka yang dizalimi memiliki posisi yang istimewa di hadapan Allah SWT, dan doa mereka dianggap sangat mustajab di sisi-Nya.

    Hal ini berdasarkan salah satu pesan Nabi SAW kepada sahabatnya, Mu’adz bin Jabal RA saat diutus untuk berdakwah ke Yaman, beliau bersabda,

    “Dan waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi. Karena tidak ada hijab/penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari)

    4. Doa Orang yang Sedang Ditimpa Sakit

    Saat mengunjungi orang yang sakit, seringkali orang yang menjenguk berdoa agar mereka cepat sembuh. Di samping itu, orang sakit juga istimewa di sisi Allah SWT, dan doa mereka sangat mustajab.

    Maka saat menjenguk orang sakit, selain mendoakannya, jangan sungkan untuk minta didoakan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW,

    “Jika engkau menjenguk orang sakit, mintalah kepadanya agar ia berkenan mendoakanmu, karena doanya seperti doa malaikat.” (HR. Ibnu Majah)

    5. Doa Orang Tua kepada Anaknya

    Doa dari orang tua, terutama ibu, untuk anaknya adalah sesuatu yang sangat mustajab. Dalam suatu riwayat pun disebutkan, bahwa rida Allah SWT kepada anak bergantung pada rida kedua orang tuanya.

    Sehingga, doa yang satu ini diyakini tidak ada tandingannya di sisi Allah SWT. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Ada tiga doa yang diterima oleh Allah secara langsung, yaitu doa orang yang dianiaya, doa seorang musafir, dan doa orangtua kepada anaknya.” (HR. Turmudzi, Ahmad, dan Abu Daud)

    6. Doa Anak Saleh untuk Orang Tuanya

    Seorang anak yang saleh selalu mendoakan orang tuanya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Selain berdoa saat orang tuanya telah wafat, ia pun senantiasa bersedekah, membuat amal kebajikan, dan mendoakan keduanya.

    Oleh karena itu, doa anak yang saleh ini mustajab di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,

    “Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah (pahala) amalnya, kecuali tiga amal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

    7. Doa Anak Yatim

    Anak yatim memiliki posisi yang sangat istimewa dalam Islam. Seorang muslim pun dianjurkan untuk menghormati dan menyayangi mereka.

    Sebab, doa anak yatim merupakan salah satu doa yang mustajab. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

    “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah SAW dan mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabi pun bertanya, ‘Sukakah kamu jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Kasihilah anak yatim, usaplah wajahnya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” (HR. Ath-Thabrani)

    8. Doa yang Dilakukan secara Berjamaah

    Ibadah yang dilakukan secara bersama-sama memiliki keutamaan yang tinggi. Sebagaimana salat yang dilaksanakan berjamaah akan mendapatkan pahala 27 derajat.

    Oleh karena itu, doa yang dipanjatkan secara berjamaah, sudah pasti akan mustajab. Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidaklah berkumpul sekelompok orang (muslim) kemudian sebagian dari mereka berdoa dan diamini oleh sebagian yang lain kecuali Allah mengabulkannya.” (HR. Hakim)

    9. Doa Orang yang Berhaji dan Umrah

    Doa yang dipanjatkan oleh orang yang berhaji atau umrah termasuk doa yang istimewa. Karena, keistimewaan orang yang berhaji dan umrah juga setara dengan orang yang sedang berperang di jalan Allah SWT.

    Di antara keistimewaan itu adalah mustajabnya doa yang dipanjatkan. Rasulullah SAW bersabda,

    “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah, mereka adalah tamu Allah SWT. Allah telah menyeru mereka, dan mereka pun menyambutnya. Jika mereka meminta kepada Allah, Allah SWT pun akan memperkenankan permohonannya.” (HR. Ibnu Majah)

    10. Doa Penghafal Al-Qur’an

    Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar bagi umat Islam. Dan mereka yang belajar, mengajar, dan penghafalnya memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT, seperti halnya dengan hafidzul Qur’an yaitu orang-orang yang menghafalkan Al-Qur’an.

    Maka tidak diragukan lagi doa dari seorang penghafal Al-Qur’an termasuk doa yang mustajab. Rasulullah SAW bersabda,

    “Penghafal Al-Qur’an mempunyai doa yang ketika dibaca akan dikabulkan.” (HR. Baihaqi)

    11. Doa Orang yang Banyak Berzikir

    Dalam buku Dahsyatnya Puasa Sunah karya Amirulloh Syarbini, Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang sering berzikir dengan menyebut nama-Nya. Oleh karena itu, doa mereka tidak akan ditolak. Rasulullah SAW bersabda,

    “Ada tiga orang yang tidak ditolak doanya oleh Allah SWT, yaitu (1) Orang yang banyak berdzikir kepada Allah, (2) Doa orang yang dianiaya, dan (3) Doa pemimpin yang adil.” (HR. Baihaqi)

    12. Doa Orang yang dalam Perjalanan

    Allah SWT mengasihi orang yang sedang dalam perjalanan dengan mengijabah doa-doanya. Sesuai sabda Rasulullah SAW,

    “Ada tiga doa yang mustajab tanpa diragukan lagi, yaitu (1) Doa orang yang dianiaya, (2) Doa orang yang dalam perjalanan, dan (3) Doa kedua orang tua kepada anak-anaknya.” (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

    13. Doa Saudara dari Tempat yang Jauh

    Meskipun jarak sering kali menghalangi pertemuan keluarga, mereka tetap dapat saling mendoakan satu sama lain, karena doa seorang saudara yang jauh sangat mustajab. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

    “Sesungguhnya doa orang Islam bagi saudaranya di tempat yang jauh adalah mustajab, di dekat kepalanya terdapat malaikat yang bertugas, setiap saat ia berdoa yang baik untuk saudaranya, malaikat membaca amin (semoga terkabulkan apa yang engkau ucapkan) dan bagimu seperti apa yang engkau ucapkan.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

    14. Doa Orang yang Tertimpa Cobaan

    Orang yang tertimpa musibah atau cobaan sesungguhnya adalah orang yang diberi keuntungan oleh Allah SWT. Salah satu keuntungan tersebut adalah mustajabnya doa yang mereka panjatkan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Ambillah keuntungan dari doa orang yang menderita karena mendapat cobaan.” (HR. Sai’id ibn Mansur)

    15. Doa Orang yang Sering Memberikan Pertolongan

    Seseorang yang memiliki sikap peduli yang tinggi dan sering memberi pertolongan kepada orang lain, doanya juga akan mustajab di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,

    “Barangsiapa yang berkehendak doanya mustajab, dan kesedihannya terhapus, maka hendaklah membantu orang yang sedang dalam kesukaran.” (HR. Ahmad)

    Itulah 15 golongan orang yang doanya mustajab dan tidak akan ditolak di sisi Allah SWT. Jika bertemu 15 golongan orang-orang ini, jangan lupa minta didoakan ya!

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Doa Berkendara dan Adabnya agar Selamat Sampai Tujuan


    Jakarta

    Doa berkendara diamalkan untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT selama perjalanan. Selain itu, membaca doa berkendara menjadi anjuran yang bisa dikerjakan kapanpun.

    Dalam Islam, doa orang yang sedang dalam perjalanan atau musafir termasuk salah satu yang mustajab. Diterangkan dalam Fiqih Do’a dan Dzikir Jilid 1 oleh Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr terjemahan Amiruddin Djalil, semakin lama perjalanan maka semakin tinggi kemungkinan doa dikabulkan.

    Hal itu dikarenakan waktu mereka dalam perjalanan bertepatan dengan luluhnya jiwa karena lama terasing di suatu tempat dan menanggung kesulitan. Disebutkan bahwa orang yang sedang dalam perjalanan dianggap mengemban beban berat sehingga kondisi itu menjadi penyebab dikabulkannya doa.


    Bahkan, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits mengatakan bahwa safar termasuk bagian dari azab karena kesulitan yang dihadapi musafir. Beliau bersabda,

    “Safar adalah bagian dari azab (siksaan). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Kumpulan Doa Berkendara bagi Muslim

    Berikut beberapa doa berkendara perjalanan darat, laut dan udara yang bisa dibaca oleh muslim sebelum keberangkatan seperti dinukil dari Kumpulan Dzikir dan Doa Shahih: Tuntunan Hidup 24 karya Anshari Taslim.

    1. Doa Berkendara Versi Pertama

    Doa berkendara versi pertama ini dapat dibaca muslim sebelum berangkat menggunakan kendaraan darat, seperti mobil, motor, dan sebagainya.

    سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبَّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

    Arab latin: Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin, wa innaa ilaa robbinaa lamun qolibuun

    Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak akan mampu menguasainya, dan sungguh kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

    2. Doa Berkendara Versi Kedua

    Selain doa di atas, ada juga bacaan yang bisa diamalkan muslim yang akan melakukan perjalanan laut. Berikut bacaannya,

    بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا، إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

    Arab latin: Bismillaahi majreehaa wa mursaahaa, inna robbii laghofuurur rohiim

    Artinya: “Dengan nama Allah, kami berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

    3. Doa Berkendara Versi Ketiga

    Selanjutnya, doa berkendara dapat dibaca muslim sebelum melakukan perjalanan udara.

    اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِعَنَّابُعْدَهُ اَللّٰهُمَّ اَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِوَالْخَلِيْفَةُفِى الْاَهْلِ

    Arab latin: Allaahumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa wathwi ‘annaa bu’dahu allaahumma anta ashshoohibu fissafari walkholiifatu fil-ahl.

    Artinya: “Ya Allah, mudahkanlah kami bepergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam bepergian, dan Engkau pula yang melindungi keluarga.”

    4. Doa Berkendara Versi Keempat

    Doa berkendara ini dapat dibaca bagi muslim yang melakukan perjalanan udara juga. Doa kali ini lebih panjang dibanding doa sebelumnya.

    للهُ أَكْبَر، اللهُ أكْبر، الله أكْبَر، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

    Arab latin: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Subhanalladzi sakkhoro lana hadza wa maa kunnaa lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibun, allahumma inna nas’aluka fii safarinaa hadzal birro wat taqwa wa minal ‘amal maa tardho, allahumma hawwin ‘alaina safarona hadza wa athwi ‘annaa bu’dahu, allahumma antash shohibu fis safari wal kholifatu fil ahli, allahumma inni a’udzubika min wa’tsaais safari wa kaabatil mandzhori wa suuil munqolibi fil maali wal ahli.

    Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha suci Allah yang telah menundukkan (pesawat) ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kepada Allah lah kami kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai.

    Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga.”

    Adab Berkendara bagi Muslim

    Menukil dari kitab Minhajul Muslim oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi yang diterjemahkan Fedrian Hasmand dan Syarah Riyadhush Shalihin terjemahan Bamuallim, berikut sejumlah adab bepergian.

    1. Membaca Doa ketika Berkendara

    Adab pertama dalam berkendara yaitu membaca doa sebelum memulai perjalanan. Hal ini dijelaskan dalam hadits dari Ibnu Umar RA. Ia berkata,

    “Apabila Rasul SAW di atas punggung untanya untuk bepergian, beliau bertakbir tiga kali, kemudian mengucapkan doa:

    سُبْحٰنَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

    Arab latin: Subhaanalladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunna lahu muqriniina wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun

    Artinya: “Mahasuci Zat yang telah menundukkan (semua) ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami.” (HR Muslim)

    Adab lainnya ketika berkendara adalah membaca takbir ketika menanjak dan tasbih ketika menurun. Dari Jabir bin Abdullah berkata,

    “Ketika kami bepergian, kami bertakbir bila berjalan menanjak, dan bertasbih apabila berjalan menurun.” (HR Bukhari)

    3. Bagi Perempuan yang Bepergian Jauh Harus dengan Mahram

    Bagi perempuan muslim yang melakukan perjalanan jauh hendaknya disertai oleh mahram. Ini turut disebutkan dalam hadits Nabi SAW,

    “Tidak boleh seorang perempuan melakukan safar yang jarak tempuhnya sehari semalam, kecuali jika bersama mahramnya.” (Muttafaq Alaih)

    4. Membaca Doa ketika Kembali dari Bepergian

    Setelah menyelesaikan perjalanan dan hendak pulang, muslim juga bisa membaca doa lagi untuk memohon perlindungan. Dari Anas bin Malik berkata,

    “Kami tiba bersama Nabi SAW, yaitu aku, Abu Thalhah, dan Shafiyyah yang membonceng Rasulullah SAW, hingga ketika kami mendekati Madinah beliau mengucapkan:

    ‘Kita semua adalah orang-orang yang kembali, orang-orang yang bertaubat, dan orang-orang yang beribadah serta memuji kepada Allah.; Beliau senantiasa mengucapkannya hingga kami sampai di Madinah.’ (HR Muslim, An-Nasa’i, & Ahmad)

    Adapun, doa pulang dari bepergian yang bisa diamalkan muslim seperti dikutip dari buku Kumpulan Doa Makbul tulisan Neni Nuraeni.

    آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَاحَامِدُوْنَ

    Arab latin: Aaibuuna taaibuuna ‘aabiduuna lirobbina haamiduun

    Artinya: “Kami adalah orang-orang yang kembali, orang-orang yang bertaubat, orang-orang yang beribadah kepada Rabb kami, kami memanjatkan segala puji.” (HR Muslim)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Doa Safar Sesuai Sunnah, Dibaca agar Perjalananmu Berkah


    Jakarta

    Setiap orang pasti melakukan perjalanan di setiap harinya, baik itu perjalanan jauh maupun dekat. Ketika melakukan perjalanan jauh atau safar, ada banyak hal yang perlu disiapkan.

    Dikutip dalam buku Traveling Asyik Ibadah Jalan Terus yang ditulis oleh Muhammad Muhlisin, salah satu kebiasaan Rasulullah SAW yaitu beliau tidak pernah meninggalkan sebuah tempat untuk melakukan perjalanan jauh kecuali ia melakukan salat sebelum pergi, yaitu salat sunnah safar. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya, daripada dua rakaat yang dia kerjakan di tengah (tempat) mereka ketika hendak melakukan perjalanan.” (HR. Ath-Thabrani)


    Selain salat sunnah, amalan yang dilakukan Rasulullah SAW sebelum melakukan perjalanan jauh adalah berdoa, yaitu doa safar. Dalam Islam, doa safar merupakan salah satu doa yang tidak diragukan lagi mustajabnya.

    Diriwayatkan dalam kitab Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah melalui Abu Hurairah RA, yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

    “Ada tiga jenis doa yang dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang teraniaya, doa orang musafir, dan doa orang tua terhadap anaknya.”

    Berikut ini adalah kumpulan doa safar yang bisa diamalkan ketika hendak melakukan perjalanan jauh sesuai ajaran Rasulullah SAW.

    Kumpulan Doa ketika Melakukan Perjalanan Jauh

    Mengutip kitab Al-Adzkar Imam Nawawi, berikut adalah kumpulan doa safar yang selalu diamalkan Rasulullah SAW sebelum melakukan perjalanan jauh.

    1. Doa ketika Merasa Takut dalam Perjalanan

    Abu Thahir ibnu Jahsyawaih mengatakan,

    “Aku bermaksud melakukan suatu perjalanan ketika aku merasa takut, lalu aku berkunjung ke rumah Al-Qazwaini untuk meminta doa. Ia berkata kepadaku sebelum aku mengutarakan apa-apa, ‘Barang siapa yang hendak melakukan suatu perjalanan, lalu ia merasa takut (gentar) karena musuh atau hewan buas, hendaklah ia membaca surah Al-Quraisy. Sesungguhnya surat ini memberi keamanan dari semua kejahatan.’ Maka aku membacanya dan ternyata tidak ada suatu halangan pun yang menghambatku hingga sekarang.”

    Bila telah selesai membaca surah tersebut, disunnahkan berdoa dengan hati yang ikhlas dan penuh kelembutan. Di antara doa yang paling baik ialah seperti berikut:

    اَللّٰهُمَّ بِكَ اَسْتَعْيْنُ وَعَلَيْكَ اَتَوَكَّلُ, اَللّٰهُمَّ ذَلِّلْ لِى صُعُوْبَةَ اَمْرِى وَسَهِّلْ عَلَىَّ مَشَقَّةَ سَفَرِى وَارْزُقْنِى مِنَ الْخَيْرِ اَكْثَرَمِمَّااَطْلُبُ, وَاصْرِفْ عَنِّى كُلَّ شَرٍّ رَبِّ اشْرَحْلِى صَدْرِى وَيَسِّرْلِى اَمْرِى, اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَسْتَحْفِظُكَ وَاَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِى وَدِيْنِى وَاَهْلِى وَاَقَارِبِى وَكُلَّ مَااَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ اٰخِرَةٍ وَدُنْيَا, فَاحْفَظْنَااَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍيَاكَرِيْمُ

    Arab Latin: Allaahumma bika asta’iinu, wa’alaika atawak kalu. Allaahumma dzallil lii shu’uu bata amrii, wa sahhil ‘alayya masyaqqata safarii, warzuqnii minal khairi aktsara mimmaa athlubu, washrif ‘anni kulla syarrin, rabbisy rahlii shadrii wayassirlii amrii. Allaahumma innii astahfidhuka wa astaudi ‘uka nafsii wadiinii wa ahlii wa aqaaribii wakulla maa an’amta ‘alayya wa ‘alaihim bihi min aakhiratin wadunyaa. Fahfadhnaa ajma’iina min kulli suu-in yaa kariim.

    Artinya: “Ya Allah, hanya kepada Engkaulah aku meminta tolong, dan hanya kepada Engkaulah aku bertawakal. Ya Allah, mudahkanlah kesukaran perkaraku, ringankanlah atas diriku kelelahan perjalananku, berilah aku rezeki halal lebih banyak daripada apa yang kuminta, dan palingkanlah dariku semua kejahatan. Wahai Rabbku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah perkaraku. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pemeliharaan dan menitipkan diriku kepada-Mu, juga agamaku, keluargaku, karib kerabatku, dan semua apa yang telah Engkau berikan berupa nikmat kepadaku dan kepada mereka, baik berupa perkara akhirat maupun perkara dunia. Maka peliharalah kami semua dari semua kejahatan, wahai Yang Mahamulia.”

    2. Doa ketika Bangkit dari Tempat Duduk

    Diriwayatkan dalam kitab Shahih Muslim dalam Kitabul Manasik melalui Abdullah ibnu Umar RA, yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW apabila telah duduk tegak di atas untanya untuk melakukan suatu perjalanan, beliau bertakbir tiga kali, kemudian berdoa,

    سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

    Arab latin: Subhanalladzi sakkhara lana hadza wa maa kunnaa lahu muqrinin, wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibun, allahumma inna nas’aluka fii safarinaa hadzal birra wat taqwa wa minal ‘amal maa tardha, allahumma hawwin ‘alaina safarana hadza wa athwi ‘annaa bu’dahu, allahumma antash shahibu fis safari wal kholifatu fil ahli, allahumma inni a’udzubika min wa’tsaais safari wa kaabatil mandzhari wa suuil munqalibi fil maali wal ahli.

    Artinya: “Mahasuci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal sebelum itu kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebajikan dan ketakwaan serta amal perbuatan yang Engkau ridai. Ya Allah, mudahkanlah bagi kami perjalanan kami ini, dan dekatkanlah untuk kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti dalam keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, kesedihan dalam pemandangan, dan keburukan tempat kembali dalam harta dan keluarga.”

    Apabila beliau kembali, beliau mengucapkan doa yang sama. Kemudian ditambahkan dengan bacaan ini,

    أَيبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَ بَّنَا حَامِدُونَ

    Arab Latin: Aybuna tayibun abidun li rabbina hamidun

    Artinya: “Kami kembali dalam keadaan bertobat, dan kami menyembah serta memuji hanya kepada Rabb kami.”

    3. Doa Memohon Perlindungan dalam Perjalanan

    Imam Tirmidzi dan kitab Ibnu Majah meriwayatkan melalui Abdullah ibnu Sarjis yang menceritakan bahwa Nabi SAW apabila bepergian selalu mengucapkan doa berikut,

    اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

    Arab Latin: Allahumma antash shohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli.

    Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan, dan khalifah pada keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam perjalanan, kesedihan pada tempat kembali, dan (aku berlindung kepada-Mu) dari doa orang yang teraniaya, dan dari keburukan pemandangan pada keluarga dan harta benda.”

    4. Doa ketika Naik Kapal Laut

    Kami meriwayatkan di dalam kitab Ibnu Sinni melalui Al-Husain ibnu Ali RA yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Untuk keamanan umatku dari tenggelam bila mereka berkendaraan, hendaklah mereka mengucapkan,

    بِسْمِ اللهِ مَجْرَهَا وَمُرْسَهَآاِنَّ رَبِّىْ لَغَفُوْرٌرَّحِيْمٌ

    Arab latin: Bismillaahi majraha wa mursaahaa inna robbii laghofuurur rohiim

    Artinya: “Dengan nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.”

    5. Doa ketika Melihat Suatu Kampung

    Diriwayatkan dalam kitab Sunan Imam Nasai dan kitab Ibnu Sinni melalui Shuhaib RA yang menceritakan bahwa Nabi SAW belum pernah melihat suatu kampung yang hendak dimasukinya melainkan beliau mengucapkan doa berikut ketika melihatnya,

    اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ وَرَبَّ الأَرَضِينِ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ فَإِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا .

    Arab Latin: Allahumma Rabbas samawati as-sab’i wa ma azlalna, wa Rabbal aradhina as-sab’i wa ma aqallna, wa Rabbash-shayatin wa ma adlalna, wa Rabbar-riyahi wa ma dharayna, fa inna nas’aluka khaira hadhihil qaryati wa khaira ahlaha, wa na’udhu bika min sharriha wa sharri ahlaha wa sharri ma fiha.

    Artinya: “Ya Allah, Rabb tujuh langit dan semua yang dinaunginya, Rabb tujuh lapis bumi dan semua yang di- muatnya, Rabb semua setan dan semua yang disesatkannya, dan Rabb angin dan semua yang ditiupnya, aku memohon kepada-Mu kebaikan kampung ini, kebaikan penghuninya, dan kebaikan apa yang terkandung di dalamnya. Dan kami ber- lindung kepada-Mu dari kejahatannya, dari kejahatan penduduknya, dan dari kejahatan apa yang terkandung di dalamnya.”

    6. Doa ketika Hampir Tiba di Daerah Tempat Tujuan

    Diriwayatkan dalam kitab Ibnu Sinni melalui Siti Aisyah RA yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW bila hampir sampai pada suatu daerah yang hendak dimasukinya selalu mengucapkan doa berikut,

    اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ اْلأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِيْنَ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ. أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا.

    Arab Latin: Allahumma Rabbas-samāwāti as-sab’i wamā aẓlaln, wa Rabbal-arḍīnas-sab’i wamā aqlaln, wa Rabbash-shayāṭīni wamā aẓlaln, wa Rabbar-riyāḥi wamā dharayn. As’aluka khayra hādhihi al-qaryati wa khayra ahluhā, wa khayra mā fīhā, wa a’ūdhu bika min sharrihā wa sharri ahluhā wa sharri mā fīhā.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikan kampung ini, dan kebaikan yang Engkau himpun padanya, serta aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang terkandung di dalamnya. Ya Allah, berilah kami rezeki dari kehidupannya, dan lindungilah kami dari wabah (penyakit)nya, jadikanlah kami mencintai para penduduknya serta jadikanlah orang-orang saleh dari penduduknya mencintai kami.”

    7. Doa ketika Menempati Suatu Tempat

    Diriwayatkan dalam kitab Shahih Muslim dan kitab Muwaththa’ Imam Malik serta kitab Imam Tirmidzi melalui Khaulah bintil Hukaim RA yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beristirahat di suatu tempat, kemudian ia mengucapkan,

    أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

    Arab Latin: A’udzu bi kalimatillahi attammati min sharri ma khalaq.

    Artinya: “Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang diciptakan-Nya,”

    Niscaya tidak akan membahayakannya sesuatu pun hingga ia meninggalkan tempat istirahatnya itu.”

    8. Doa ketika Kembali dari Bepergian

    Diriwayatkan dalam kitab Shahih Muslim melalui Anas RA yang menceritakan, “Kami tiba bersama Nabi SAW, yakni aku dan Abu Thalhah, sedangkan Shafiyyah dibonceng di belakang unta Nabi SAW. Ketika kami sampai pada perbatasan Madinah, Nabi SAW mengucapkan doa berikut,

    آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ

    Arab Latin: Ayibūna tā’ibūn ʿābidūn li-rabbinā hāmidūn

    Artinya: “Kami tiba, kami bertobat, kami menyembah, dan hanya kepada Rabb-lah kami memuji.”

    Beliau masih tetap mengucapkan doa ini hingga kami sampai di Madinah.”

    9. Doa Masuk Rumah ketika Pulang dari Bepergian

    Diriwayatkan dalam kitab Ibnu Sinni melalui Ibnu Abbas RA yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW mengucapkan doa berikut apabila kembali dari perjalanan, lalu memasuki rumah keluarganya:

    تَوْبًا تَوْبًا، لِرَبِّنَا أَوْبًا، لَا يُغَادِرُ حَوْبًا

    Arab latin: Tauban, tauban, li rabbinâ, lâ yughâdiru hauban.

    Artinya: “Kami bertobat, kami bertobat, hanya kepada Rabb-lah kami kembali tanpa meninggalkan suatu dosa pun.”

    Itulah kumpulan doa safar yang dapat dibaca sebelum melakukan perjalanan jauh. Dengan membaca doa-doa ini, seorang muslim dapat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman dengan perlindungan Allah SWT.

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Doa Perjalanan Jauh yang Bisa Diamalkan Musafir


    Jakarta

    Doa perjalanan jauh dapat dibaca oleh muslim untuk memohon perlindungan Allah SWT. Dalam Islam, orang yang bepergian jauh disebut sebagai musafir.

    Menukil dari Buku Pintar Beribadah Perjalanan karya Mahima Diahloka, musafir berasal dari kata safara atau safar yang artinya bepergian atau menempuh perjalanan. Makna musafir dalam bahasa Arab yaitu orang yang sedang melakukan perjalanan.

    Para fuqaha mendefinisikan musafir sebagai seseorang yang keluar dari negerinya untuk menuju suatu tempat tertentu. Perjalanan tersebut menempuh jarak tertentu pula.


    Doa musafir tergolong mustajab, Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tak ada keraguan padanya; doa orang dizalimi, doa musafir, dan doa seorang bapak untuk anaknya.” (HR Abu Daud)

    Penyebab mustajabnya doa seorang musafir dikarenakan waktu perjalanan bertepatan dengan luluhnya jiwa karena terasing di suatu tempat dan menanggung kesulitan. Menurut Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam Fiqih Do’a dan Dzikir Jilid 1 terjemahan Amiruddin Djalil, ketika sedang dalam perjalanan maka orang itu dianggap menanggung beban berat, kondisi itu menyebabkan doa dikabulkan.

    Jadi, semakin lama perjalanan, semakin tinggi juga doa dikabulkan oleh Allah SWT. Berkaitan dengan itu, ada beberapa doa perjalanan jauh yang bisa dibaca oleh muslim.

    Kumpulan Doa Perjalanan Jauh bagi Muslim

    Mengutip dari buku Kumpulan Dzikir dan Doa Shahih: Tuntunan Hidup 24 yang disusun Anshari Taslim, ada beberapa bacaan yang dapat diamalkan sebagai doa perjalanan jauh. Dengan membaca doa berikut, niscaya muslim berada di bawah lindungan Allah SWT.

    1. Doa Perjalanan Jauh Versi Pertama

    سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبَّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

    Arab latin: Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin, wa innaa ilaa robbinaa lamun qolibuun

    Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak akan mampu menguasainya, dan sungguh kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

    2. Doa Perjalanan Jauh Versi Kedua

    Doa perjalanan jauh berikut ini dapat diamalkan ketika muslim menempuh perjalanan laut.

    بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا، إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

    Arab latin: Bismillaahi majraahaa wa mursaahaa, inna robbii laghofuurur rahiim

    Artinya: “Dengan nama Allah, kami berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

    3. Doa Perjalanan Jauh Versi Ketiga

    Ketika melakukan perjalanan udara, berikut bacaan yang dapat diamalkan muslim.

    اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِعَنَّابُعْدَهُ اَللّٰهُمَّ اَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِوَالْخَلِيْفَةُفِى الْاَهْلِ

    Arab latin: Allaahumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa wathwi ‘annaa bu’dahu allaahumma anta ashshoohibu fissafari walkholiifatu fil-ahl.

    Artinya: “Ya Allah, mudahkanlah kami bepergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam bepergian, dan Engkau pula yang melindungi keluarga.”

    4. Doa Perjalanan Jauh Versi Keempat

    للهُ أَكْبَر، اللهُ أكْبر، الله أكْبَر، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

    Arab latin: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Subhanalladzi sakkhoro lana hadza wa maa kunnaa lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibun, allahumma inna nas’aluka fii safarinaa hadzal birro wat taqwa wa minal ‘amal maa tardho, allahumma hawwin ‘alaina safarona hadza wa athwi ‘annaa bu’dahu, allahumma antash shohibu fis safari wal kholifatu fil ahli, allahumma inni a’udzubika min wa’tsaais safari wa kaabatil mandzhori wa suuil munqolibi fil maali wal ahli.

    Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha suci Allah yang telah menundukkan (pesawat) ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kepada Allah lah kami kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai.

    Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga.”

    Itulah beberapa doa perjalanan jauh yang dapat dibaca muslim agar diberi keselamatan oleh Allah SWT. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Mandi Bersih Haid dan Tata Caranya, Muslimah Pahami Ya!


    Jakarta

    Doa mandi bersih haid sama artinya dengan niat yang dibaca sebelum mandi wajib. Sesuai syariat, wanita muslim harus membersihkan diri setelah masa haid selesai.

    Kewajiban mandi bersih termaktub dalam surah An Nisa ayat 43,

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْرَبُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا۟ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا


    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”

    Selain itu, wanita yang haid tidak diperbolehkan melakukan sejumlah ibadah seperti salat, puasa dan membaca Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 222,

    وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

    Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran,” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

    Doa Mandi Bersih Haid

    Menukil dari buku Fiqh Ibadah oleh Zaenal Abidin, berikut doa mandi bersih haid yang bisa dibaca muslim sebelum membasuh air ke tubuh.

    نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ عَنِ الْحَيْضِ لِلَّهِ تَعَالَى

    Arab latin: Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari ‘anin haidhi lillaahi ta’aala

    Artinya: “Aku berniat mandi untuk menghilangkan hadats besar yang disebabkan haid karena Allah Ta’ala.”

    Doa Mandi Bersih Haid Termasuk Rukun

    Menurut buku Fikih tulisan Udin Wahyudin, membaca doa mandi bersih haid termasuk ke dalam rukun. Jika terlewat, mandi wajibnya tidak sah.

    Adapun, rukun mandi bersih terdiri dari niat dan membasuh seluruh tubuh dengan air.

    Tata Cara Mandi Bersih Haid

    Mengacu pada sumber yang sama, berikut tata cara mandi bersih setelah haid.

    • Membaca doa mandi bersih haid atau niat
    • Bersihkan kedua telapak tangan 3 kali
    • Bersihkan kotoran-kotoran di daerah lipatan-lipatan seperti kemaluan, bawah ketiak, pusar, dan lain sebagainya
    • Cuci tangan
    • Berwudhu
    • Menyela pangkal rambut menggunakan jari-jari tangan yang telah dibasuh air hingga menyentuh kulit kepala
    • Guyur kepala 3 kali
    • Bilas seluruh tubuh dari sisi kanan lalu ke sisi kiri
    • Pastikan seluruh lipatan kulit dan bagian yang tersembunyi terkena air

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com