Tag: museum satriamandala

  • Es Wedang Uwuh hingga Mie Godhok di Kafe Bernuansa Nasionalis


    Jakarta

    Tak hanya menawarkan edukasi sejarah aviasi, ternyata ada kafe nyaman di area museum Satriamandala. Suguhannya berupa es wedang uwuh hingga mie godhok.

    Kehadiran museum menjadi salah satu cara untuk mengenal lebih dekat perjalanan bangsa Indonesia. Apalagi museum-museum yang berkaitan dengan perjuangan bangsa seperti Satriamandala.

    Kawasan ini akrab dikenal sebagai pusat edukasi sejarah aviasi dan pertahanan udara Indonesia. Ternyata, saat masuk hingga ke belakang gedung museumnya, ada kafe nyaman untuk disambangi.


    Setibanya tim detikfood di Kampoeng Djoeang, Kamis (31/8), nuansa nasionalis yang kental langsung terasa. Ornamen barang-barang antik menyambut pelanggan yang masuk ke Kampoeng Djoeang.

    Detail Informasi
    Nama Tempat Makan Kampoeng Djoeang
    Alamat Museum Satriamandala, Jalan Gatot Subroto No 14, Kuningan Barat, Jakarta Selatan.
    No Telp 0859-3382-3141
    Jam Operasional

    Setiap hari, 09.00 – 20.00 WIB

    Estimasi Harga Rp 20.000 – Rp 40.000
    Tipe Kuliner Tradiisonal, Fusion
    Fasilitas
    • Area parkir
    • Toilet
    • Makan di Tempat
    • Bawa Pulang
    • Pembayaran Non-tunai, dll
    Kampoeng Djoeang: Es Wedang Uwuh hingga Mie Godhok di Kafe Bernuansa NasionalisKampoeng Djoeang menjadi kafe di tengak kota yang menawarkan oase bernuansa nasionalis. Foto: Tim detikfood

    Suasana Nasionalis yang Kental

    Berada di dalam area museum, kafe bernama Kampoeng Djoeang ini menghadirkan tema selaras dengan sekitarnya. Patung Jenderal Soedirman, mobil-mobil antik, hingga patung-patung yang menggambarkan masyarakat pada zaman perjuangan memenuhi setiap sudut kafe.

    Selain itu di bagian tengah kafe juga tersedia semacam gerobak kayu yang menyediakan berbagai pilihan dan camilan tradisional. Bagi anak-anak yang tumbuh di era tahun 2000an awal, datang ke sini rasanya seperti bernostalgia dengan masa kecil.

    Kursi-kursi dan meja kayu menambah suasana ala zaman dahulu semakin kental. Koleksi bendera dan lukisan pahlawan juga dipertahankan agar sesuai dengan arti namanya, Kampoeng Djoeang yang mengingatkan perjuangan para pahlawan memerdekakan Indonesia.

    Kampoeng Djoeang: Es Wedang Uwuh hingga Mie Godhok di Kafe Bernuansa NasionalisTempat makan dengan nuansa tempo dulu menjadi bagian dari museum Satriamandala. Foto: Tim detikfood

    Menjadi bagian dari Museum Satriamandala

    Untuk menyambangi Kampoeng DJoeang, pelanggan harus masuk ke area museum Satriamandala. Ada tiket masuk yang harus dibayarkan senilai Rp 5.000 per kendaraan yang masuk.

    Kemudian melaju terus hingga ke bagian belakang, bahkan sampai melewati gedung utama museum dan beberapa gedung administrasi di sana. Menurut perwakilan kafe, tempat makan ini sebenarnya sudah buka sejak beberapa tahun silam.

    Pada awal pembukaannya, kafe ini termasuk dalam pengelolaan dengan museum. Namun kini Kampoeng Djoeang telah mengalami perubahan sehingga pengelolaannya tak sepenuhnya berada di bawah museum Satriamandala.

    Tempat ini pun tetap menjadi pilihan yang tepat untuk bersantai setelah puas berkeliling di museum Satriamandala.

    Kampoeng Djoeang: Es Wedang Uwuh hingga Mie Godhok di Kafe Bernuansa NasionalisPilihan minuman seperti wedang uwuh hingga kopi butterscotch mengawinkan citarasa tradisional dan kekinian. Foto: Tim detikfood

    Racikan Minuman Tradisional hingga Kekinian

    Menerapkan konsep tradisional yang kental, Kampoeng Djoeang mengawinkan menu-menu tradisional dan yang kekinian. Hal ini dapat dilihat dari pilihan menu minumannya, baik kopi maupun non kopi.

    Dua minuman yang kontras dicoba oleh tim detikfood. Ada Wedang Uwuh dalam versi es yang dibanderol Rp 25.000 dan Butterscotch yang dipatok Rp 30.000.

    Wedang uwuh yang biasanya disajikan hangat, di sini bisa diubah jadi minuman dingin. Tetapi tidak mengubah sensasi rasa rempahnya yang tetap menghangatkan tenggorokan.

    Racikan terasa lebih manis daripada wedang uwuh tradisional. Sehingga akan lebih cocok bagi penikmat minuman yang tak terlalu menyukai rempah yang kuat.

    Sementara untuk Butterscotchnya menggunakan bahan dasar espresso. Racikannya sama seperti kopi Butterscotch di kafe-kafe kekinian.

    Rasa kopinya kuat terasa tetapi tidak menjadi dominan. Sirup butterscotch yang manis legit seperti karamel berpadu dengan espresso yang digunakan. Cocok untuk yang ingin minuman penambah energi setelah berkeliling di museum Satriamandala.

    Kampoeng Djoeang: Es Wedang Uwuh hingga Mie Godhok di Kafe Bernuansa NasionalisPilihan menu makanannya menghadirkan citarasa ala Indonesia yang medhok. Foto: Tim detikfood

    Citarasa Bumbu khas Indonesia yang Medhok

    Perut yang keroncongan juga bisa diatasi di sini. Menu-menu tradisional seperti Mie Godhok dan Nasi Goreng dapat dipesan dengan harga yang masih terjangkau.

    Seporsi Mie Godhok dibanderol Rp 35.000. Ukurannya cukup besar dengan isian berupa potongan sawi, sosis, kol, serta bumbu. Sebegai toppingnya ditambahkan pula telur mata sapi.

    Jenis mie yang digunakan adalah mie telur dengan tingkat kematangan menengah, tidak terlalu keras maupun tidak lunak. Racikan kuahnya terasa seperti mie godhok buatan rumahan, rasa khas bawang-bawangan yang segar dengan sedikit sentuhan merica terasa cukup menghangatkan pangkal tenggorokan.

    Menu Nasi Gorengnya juga tak kalah enak. Seporsi nasi goreng dilengkapi potongan sosis, sawi, kol, telur ceplok, acar, timun, dan tomat. Nasinya pulen dan sedikit berminyak, tetapi tak mengganggu langit-langit mulut.

    Tingkat kepedasannya juga bisa disesuaikan, tergantung selera pelanggannya. Saat dicecap bumbunya terasa kuat namun lembut, menandakan tak terlalu banyak tambahan perasa instan di dalamnya. Mirip seperti nasi goreng rumahan yang sedap!

    Sebagai menu penutup juga bisa memesan Piscok seharga Rp 30.000. Bagian kulit lumpia yang renyah diisi dengan pisang yang lembut dan cokelat yang lumer saat digigit.

    Ingin tempat makan atau produk Anda direview detikfood? Kirim email ke foodreview@detik.com.

    (dfl/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Nongkrong di Kampoeng Djoeang, Kafe Vintage di Ujung Museum Satriamandala



    Jakarta

    Butuh tempat nongkrong yang anti mainstream? Traveler dari Jakarta dan sekitarnya bisa berkunjung ke salah satu kafe yang terletak di kawasan Museum Satriamandala, yakni Kampoeng Djoeang.

    Ornamen vintage ala-ala rumah joglo bikin nuansa adem seperti di rumah nenek ditambah dengan suasana yang sejuk karena banyak pepohonan.

    Jika berkesempatan untuk datang ke Museum Satriamandala di Jalan Gatot Subroto No. 14 Jakarta Selatan, kamu harus coba datang ke Kampoeng Djoeang. Kafe itu memang berada di pojokan, tepatnya berada di belakang salah satu bangunan museum, yakni ruang diorama tiga dan empat atau tak jauh dari Taman Soekarno.


    Tampak depan kafe, pengunjung akan disambut dengan dua mobil tua yang tampilannya begitu keren, satu mobil van berwarna putih dan satu lagi gahar berwarna hitam.

    Di tengah kedua mobil itu juga terdapat patung Panglima Besar Jenderal Sudirman, saat detikTravel berkunjung sore hari ke kafe itu, Rabu (17/7/2024) lantunan musik khas Jawa menyambut dengan apik.

    Cuaca yang tidak terlalu panas juga seakan mendukung kedatangan ke Kampoeng Djoeang, ketika masuk ke dalam langsung tampak kejadulan kafe itu dengan property lawasnya. Mulai dari kursi, meja, tv analog, hingga ke pernak-pernik militer.

    Dari informasi yang ada, konsep kafe Kampoeng Djoeang ini merujuk pada tempat tinggal dan markas dari Jenderal Sudirman dan pasukannya. Kafe itu berbentuk rumah joglo.

    Kampoeng Djoeang adalah kafe di Jakarta dengan ornamen vintage ala-ala rumah joglo bikin nuansa seperti di rumah nenek. Begini suasananya.Kampoeng Djoeang adalah kafe di Jakarta dengan ornamen vintage ala-ala rumah joglo bikin nuansa seperti di rumah nenek. Begini suasananya. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Untuk melibas rasa haus yang sudah melanda sedari pagi, segelas minuman Kiwi Breeze yang dibanderol harga Rp 30.000 jadi pilihannya.

    Kombinasi buah kiwi dan jeruk begitu segar masuk ke dalam kerongkongan, ditambah suasana yang nyaman membuat duduk-duduk sore kali ini sangat nikmat. Tentunya Kampoeng Djoeang juga masih menyimpan menu-menu lain mulai dari makanan ringan, berat, dan berbagai minuman khas kafe itu.

    Menu ‘sadjian oetama’ Kampoeng Djoeang terdapat berbagai makan berat seperti berbagai variasi nasi goreng hingga mie goreng. Tentunya dengan selipan nuansa sejarah dan kedaerahan, salah satunya Nasi Goreng Padri yang harganya Rp 40.000.

    Rata-rata sajdian oetama di Kampoeng Djoeang di harga Rp 40.000. Jika ingin cemal-cemil, pengunjung juga bisa memilih sajian seperti cireng, tempe pleton (mendoan), kentang goreng, dan masih banyak lagi. Harga untuk kudapan tersebut dimulai dari harga Rp 25.000.

    Dan untuk variasi minumannya, pengunjung juga bisa memilih minuman kopi ataupun non kopi seperti yang detikTravel pilih. Bagi pecinta kopi di Kampoeng Djoeang terdapat menu kopassus atau kopi susu dan kodam atau hitam aren yang keduanya dibanderol Rp 30.000 untuk kopassus dan Rp 25.000 untuk kodam.

    Varian kopi lainnya pun masih ada lagi, Kampoeng Djoeang juga menyedia minuman hangat seperti wedang uwuh hingga bajigur. Untuk minuman dingin nan segar terdapat pine coaster, candy love, choco butternut, dan yang lainnya.

    Harga minuman di sini mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 35.000. Kampoeng Djoeang cocok dinikmati ketika terik matahari tengah bersahabat atau dinikmati saat sore tiba, tenang saja tempat ini tutup hingga pukul 20.00 WIB.

    Kampoeng Djoeang adalah kafe di Jakarta dengan ornamen vintage ala-ala rumah joglo bikin nuansa seperti di rumah nenek. Begini suasananya.Kampoeng Djoeang adalah kafe di Jakarta dengan ornamen vintage ala-ala rumah joglo bikin nuansa seperti di rumah nenek. Begini suasananya. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    “Kami buka setiap weekdays itu dari jam 08.00 sampai 20.00 WIB, kalau weekend kita buka dari jam 09.00 sampai 20.00 WIB,” kata salah satu pegawai Kampoeng Djoeang.

    Salah satu pengunjung yang datang ke Kampoeng Djoeang, Deva, mengatakan Kampoeng Djoeang cocok untuk yang suka foto-foto dan ia mengetahui tempat ini dari media sosial. Selain ingin berkunjung ke Kampoeng Djoeang, ia dan pasangannya itu sekalian untuk melihat Museum Satriamandala.

    “(Dari Museum Satriamdala) Terus juga sekalian ke Kampoeng Djoeang juga karena di dalam museum ada café. Nah itu juga termasuk vibesnya vintage gitu jadi cocok buat anak-anak yang suka foto-foto,” kata Deva.

    “Seneng soalnya ke sini bisa sambil belajar (sejarah) juga sama lihat kafenya ternyata di dalam (kawasan) museum juga ada café yang bagus,” ujar dia.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Museum Satriamandala Simpan Peristiwa Penting, Punya Kafe yang Nyaman



    Jakarta

    Museum Satriamandala berada di kawasan strategis, namun bisa jadi sering terlewatkan. Padahal, museum itu tak hanya menyimpan peristiwa penting dan kebendaannya, namun juga memiliki kafe yang nyaman.

    Museum Satriamandala memamerkan mulai dari sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga peristiwa-peristiwa penting di zaman dahulu. Museum itu menyuguhkan informasi sejarah militer, peristiwa bersejarah sampai senjata dan kendaraan TNI dari masa ke masa. Juga, terdapat diorama berbagai tema tentang TNI.

    Terletak di Jalan Gatot Subroto Nomor 14, Jakarta Selatan, museum itu mudah dijangkau. Lokasinya persis berada di samping Pusat Sejarah Markas Besar TNI.


    Museum Satriamandala diresmikan pada tahun 1972 oleh presiden ke-2 Soeharto.

    Di gedung utama museum ada beberapa ruangan yang memuat sejarah panjang Indonesia, mulai dari lorong pertama terdapat beberapa diorama untuk sambutan sebelum masuk ke ruang yang menyimpan informasi tentang petinggi militer Indonesia seperti Soeharto hingga Jenderal Sudirman.

    Setelah melalui ruangan tersebut tersimpan beberapa diorama peristiwa sejarah lainnya serta simbol-simbol dari Pertahanan Keamanan (Hamkam), TNI, dan kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang dulunya masih dalam bagian ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

    Melihat perkembangan Indonesia melalui informasi menarik bisa masyarakat Jakarta nikmati di Museum Satria Manda, di museum tersebut nantinya akan diperlihatkan mulai dari sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga peristiwa-peristiwa penting di zaman dahulu. Cocok untuk kamu yang senang dengan berwisata sambil menambah pengetahuan.Diorama di Museum Satria Manda di Jl Gatot Soebroto, Jaksel (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Di bangunan utama museum terdapat kurang lebih 74 diorama peristiwa bersejarah seperti Pertempuran Surabaya, pertempuran lima hari di Semarang, Bandung Lautan Api, dan masih banyak lagi. Turun dari ruangan utama museum pengunjung akan melihat puluhan senjata yang sempat dipakai oleh tentara kita (1945-sekarang), contohnya seperti senjata Lee Enfield MK III buatan Inggris yang dibuat tahun 1945.

    Adapun di gedung lainnya yakni Gedung Museum Waspada Purbawisesa terdapat 34 diorama yang menjelaskan tentang perjuangan TNI membasmi pasukan DI/TII di berbagai wilayah di Indonesia.

    Daya tarik yang bikin menohok lainnya adalah kendaraan-kendaraan yang dipakai oleh TNI yang berada di luar museum. detikTravel berkunjung pada Rabu (17/7/2024) langsung dibuat takjub dengan koleksi kendaraan-kendaraan perang yang ada.

    Taman Soekarno dan Taman Dirgantara

    Pengunjung bisa melihatnya kurang lebih 12 kendaraan tempur darat di Taman Soekarno. Termasuk, kendaraan Jeep Willys buatan Amerika Serikat tahun 1945 yang pernah dimiliki oleh Jenderal Sudirman.

    Jika ingin melihat pesawat-pesawat tempur, pengunjung bisa menuju ke Taman Dirgantara. Di sana terdapat berkisar 16 unit pesawat tempur.

    Melihat perkembangan Indonesia melalui informasi menarik bisa masyarakat Jakarta nikmati di Museum Satria Manda, di museum tersebut nantinya akan diperlihatkan mulai dari sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga peristiwa-peristiwa penting di zaman dahulu. Cocok untuk kamu yang senang dengan berwisata sambil menambah pengetahuan.Koleksi kendaraan tempur di Museum Satriamandala (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Salah satu pengunjung yang datang ke Museum Satriamandala adalah Deva. Dia datang bersama pasangannya karena penasaran. Dia ingin mengetahui informasi sejarah Indonesia yang ada di museum ini.

    “Pertama karena penasaran kan lewat fyp (for your page) TikTok, ya kita pengen lihat sejarah-sejarah Indonesia nih di Museum Satriamandala kayak gimana. Terus juga sekalian ke Kampoeng Djoeang juga karena di dalam museum ada kafe,” kata dia.

    Dari papan informasi yang terdapat di depan pintu masuk museum, jam operasional Museum Satriamandala ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Untuk mengetahui sejarah Indonesia dan menanamkan rasa cinta tanah air, Museum Satriamandala bisa menjadi medianya.

    Teringat salah satu kutipan yang terdapat di bangunan museum yang berbunyi ‘Kenali Bangsamu, Cintai Bangsamu’.

    Kafe nan Sejuk

    Di area museum terdapat sebuah kafe, dinamai Kampoeng Djoeang. Kafe itu bernuansa jadul dengan ornamen vintage ala-ala rumah joglo. Kafe itu juga adem seperti di rumah nenek ditambah dengan suasana yang sejuk karena banyak pepohonan.

    Kampoeng Djoeang adalah kafe di Jakarta dengan ornamen vintage ala-ala rumah joglo bikin nuansa seperti di rumah nenek. Begini suasananya.Kampoeng Djoeang adalah kafe di Jakarta dengan ornamen vintage ala-ala rumah joglo bikin nuansa seperti di rumah nenek. Begini suasananya. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Kafe itu berada di pojokan, tepatnya berada di belakang salah satu bangunan museum, yakni ruang diorama tiga dan empat atau tak jauh dari Taman Soekarno.

    Tampak depan kafe, pengunjung akan disambut dengan dua mobil tua yang tampilannya begitu keren, satu mobil van berwarna putih dan satu lagi gahar berwarna hitam.

    Dari informasi yang ada, konsep kafe Kampoeng Djoeang itu merujuk pada tempat tinggal dan markas dari Jenderal Sudirman dan pasukannya.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Masjid Tua Al Mubarok, Berumur Ratusan Tahun, Tempat Sejuk buat Karyawan Jaksel



    Jakarta

    Di Jakarta Selatan terdapat salah satu masjid yang berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. Masjid Tua Al Mubarok.

    Masjid itu berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Dari sejarahnya, masjid tersebut merupakan peninggalan dari Syekh Arkanuddin atau Pangeran Adipati Awangga yang memiliki gelar Pangeran Kuningan yang berasal dari Cirebon.

    Di masjid itu terdapat sebuah prasasti yang memastikan usia bangunan tersebut. Di sana tertulis masjid tersebut dibangun pada 1527.


    Tahun tersebut bukan merujuk kepada bangunan mushola yang didirikan oleh Pangeran Kuningan bersama pasukannya, yang saat itu menempati kawasan tersebut. Tetapi, tahun itu merupakan pembangunan Masjid Tua Al Mubarok oleh warga di sekitar masjid. Lokasinya pas di mushala Pangeran Kuningan.

    Musala yang dibangun Pangeran Kuningan dan pasukannya itu

    Bendahara Masjid Tua Al Mubarok, Budi Raharjo, menceritakan kepada detikTravel, Jumat (19/7/2024) ada hal menarik dari pembangunan awal masjid tersebut, yakni berasal dari sebuah mimpi.

    Konon, masjid yang dibangun oleh Pangeran Kuningan itu hanya terbuat dari kayu dan begitu sederhana.

    “Nyi Imeh itu mimpi, dulu masjid ini terkenal dengan nama Masjid Rusak karena ya udah nggak terurus gitu. Di Masjid Rusak itu banyak orang datang pake jubah, pake pakaian putih ini dalam mimpinya, dia ngeliat banyak yang sembahyang di sini, itu akhirnya ngomong sama keluarga atau masyarakat di sini akhirnya dibangun lah masjid lagi,” kata Budi.

    Masjid itu dibangun pada 1850 oleh Guru Simin dan Guru Jabir. Seiring berjalannya waktu, masjid itu kembali dimakan oleh zaman, sekiranya tahun 1915. Masjid Rusak kembali mengalami renovasi karena kala itu bangunannya masih terbuat dari kayu.

    “Akhirnya di tahun 1925 itu digunakan sholat berjamaah rame-rame, kalau dulu kan mungkin hanya terbatas. Nah di tahun itu bangun untuk orang-orang banyak lah,” sambungnya.

    Budi juga menerangkan kala pembangunan masjid pada 1925, bangunan masih kayu meskipun jamaah sudah banyak. Dan, secara terus menerus bangunan ini selalu diperbaiki oleh masyarakat.

    Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan.Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. (Muhammad Lugas Pribady)

    Barulah di tahun 1996 bangunan masjid diperbaiki dan menggunakan beton hingga bisa berdiri hingga saat ini. Pembangunan tersebut dikatakan oleh Budi atas inisiasi pengurus masjid kala itu di antaranya adalah Haji Wardi.

    “1925 yang dibangun sama guru itu ya masjid dari kayu aja tapi besar, nah dari kayu pun itu udah berubah-ubah kan mulai dari zamannya siapa diperbaiki. Jadilah pengurus terakhir itu zamannya Haji Wardi dibangunlah masjid ini, ya sampai sekarang,” kata dia.

    “Dari zaman dulu posisinya di sini zaman dulu nggak berubah titiknya di sini,” ujar Budi.

    Kini, peninggalan lawas masjid itu tidak banyak lagi. Budi mengatakan satu barang yang tersisa hanya jam yang berada di dekat mimbar. namun ia juga tak yakin jam tersebut berada di dalam masjid sejak tahun berapa.

    Makam Pangeran Kuningan

    Selain membahas tentang perjalanan Masjid Tua Al Mubarok, Budi juga menjelaskan kenapa nama wilayah ini Kuningan adalah untuk mengenang Pangeran Kuningan yang berada di kawasan ini dari 1527 hingga meninggal pada 1579. Budi juga menjelaskan letak makam yang letaknya bukan di area masjid.

    “Meninggalnya itu 1579 kalau dia datang 1527, dia meninggal dan sekarang makamnya ada di (area perkantoran) Telkom,” sebut dirinya.

    detikTravel pun penasaran dengan keberadaan makam sang pangeran yang berada di tengah perkantoran. Merujuk cerita dari Budi dan informasi dar penjaga, Makam Pangeran Kuninganberada di dekat lobi gedung dan dekat dengan sebuah mini market.

    Dengan sejarah yang membersamai masjid ini jadi cerita sendiri bagi para jemaah. Selain sebagai tempat beribadah, tempat ini juga kerap dipakai untuk tempat istirahat para karyawan-karyawan di sela pekerjaan mereka.

    Suasana yang rindang dan sejuk menjadi idaman di tengah-tengah panas matahari dan bisingnya jalanan Ibu Kota. Masjid Tua Al Mubarok dan makam Pangeran Kuningan oleh pemerintah daerah telah ditetapkan sebagai Monumen Ordonansi No 238 tahun 1931 melalui Lembaran Daerah No 60 tahun 1972 dan juga menjadi situs sejarah.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com