Tag: nabi ibrahim

  • Saat Nabi Ibrahim AS Mengajak Ayahnya untuk Beriman, Ini Kisahnya



    Jakarta

    Kisah Nabi Ibrahim AS ketika menyeru ayahnya agar beriman dan menyembah Allah SWT diabadikan dalam sejumlah ayat dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW.

    Para ulama berbeda pendapat terkait nama ayah Nabi Ibrahim. Menukil buku Kisah Para Nabi terjemah Qashash Al-Anbiya karya Ibnu Katsir, jumhur ulama nasab menyatakan nama bapak dari Ibrahim AS yakni Tarikh.

    Pendapat Ibnu Jarir dan sebagian ulama lain, nama ayahnya adalah Azar lantaran merujuk Surat Al-An’am ayat 74. Mereka berpandangan, nama Tarikh merupakan gelar dari berhala yang disembah bapaknya itu, sehingga Azar yaitu nama asli ayahnya.


    Terlepas dari nama ayah Nabi Ibrahim, Ibnu Katsir mengemukakan bahwa dakwah pertama kali yang dilaksanakan Ibrahim AS adalah kepada ayah kandungnya. Yang mana ayahnya adalah seorang penyembah berhala.

    Bahkan dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul oleh Ridwan Abdullah Sani & Muhammad Kadri disebutkan ayah Nabi Ibrahim yakni pedagan dari patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri. Kemudian ia menjual berhala itu kepada kaumnya untuk disembah.

    Maka dari itu, bapak kandunganya menjadi orang pertama sekaligus terdekat yang diajak Ibrahim AS untuk beriman dan menyembah Alah SWT, serta meninggalkan tuhan lamanya itu.

    Kisah Dakwah Nabi Ibrahim AS kepada Ayahnya

    Masih dari buku Kisah Para Nabi terjemah Qashash Al-Anbiya, Allah SWT menceritakan kisah Ibrahim AS dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Pada Surat Maryam ayat 41-48 diceritakan:

    “Ceritakanlah (Nabi Muhammad, kisah) Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an)! Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat benar dan membenarkan lagi seorang nabi. “

    Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya, “Wahai Bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak pula bermanfaat kepadamu sedikit pun?

    Wahai Bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu. Ikutilah aku, niscaya aku tunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

    Wahai Bapakku, janganlah menyembah setan! Sesungguhnya setan itu sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

    Wahai Bapakku, sesungguhnya aku takut azab dari (Tuhan) Yang Maha Pemurah menimpamu sehingga engkau menjadi teman setan.”

    Dia (bapaknya) berkata, “Apakah kamu membenci tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika tidak berhenti (mencela tuhan yang kusembah), engkau pasti akan kurajam. Tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.”

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan bagimu. Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia Mahabaik kepadaku.

    Aku akan menjauh darimu dan apa yang engkau sembah selain Allah. Aku akan berdoa kepada Tuhanku semoga aku tidak kecewa dengan doaku kepada Tuhanku.” (QS Maryam: 41-48)

    Terlihat dari ayat tersebut, ajakan Ibrahim AS kepada ayahnya dengan begitu tulus dan lembut. Beliau menggunakan kata-kata persuasi santun tanpa adanya bentakan atau kekerasan dan menyatakan fakta bahwa berhala tidak dapa mendengar maupun melihat, sehingga bagaimana mampu patung itu merupakan tuhan yang pantas disembah.

    Beliau bahkan berjanji akan memohonkan ampunan atas ayahnya itu kepada Allah SWT jika ia mau mengikuti ajaran yang diwahyukan Nabi Ibrahim. Setelah berbagai usaha yang dilakukan oleh Ibrahim AS, beliau melihat dengan jelas segala penolakan yang dilakukan oleh ayahnya tersebut. Maka jelas bagi Nabi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah SWT.

    Sebagaiman Allah SWT nyatakan dalam Surat At-Taubah ayat 114, “Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah dia ikrarkan kepadanya. Maka, ketika jelas baginya (Ibrahim) bahwa dia (bapaknya) adalah musuh Allah, dia (Ibrahim) berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim benar-benar seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

    Rasul SAW melalui sabdanya juga mengisahkan tentang Ibrahim AS yang bertemu ayahnya kelak di hari kiamat, tetapi bapaknya itu sudah tidak diberi kesempatan lagi oleh Allah SWT. Abu Hurairah meriwayatkan hadits bahwa Nabi SAW bersabda:

    “Ibrahim AS bertemu dengan ayahnya, Azar, pada hari Kiamat nanti. Ketika itu wajah Azar tampak hitam berdebu. Lalu Ibrahim AS berkata kepada ayahnya: ‘Bukankah sudah aku katakan kepada ayah agar ayah tidak menentang aku?’

    Ayahnya menjawab, ‘Hari ini aku tidak akan menentangmu.’

    Kemudian Ibrahim AS berkata, ‘Wahai Tuhan, Engkau sudah berjanji kepadaku untuk tidak menghinakan aku pada hari berbangkit. Lalu kehinaan apalagi yang lebih hina dari pada keberadaan ayahku yang jauh (dariku)?’

    Allah SWT berfirman: ‘Sesungguhnya, Aku mengharamkan surga bagi orang-orang kafir.” (HR Bukhari)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapakah Nama Asli Nabi Ilyasa? Masuk Golongan Orang Terbaik di Al-Qur’an



    Jakarta

    Nabi Ilyasa AS adalah salah satu dari 25 nabi yang wajib kita imani. Nabi Ilyasa memiliki sedikit kisah yang diceritakan namun dapat memberikan pelajaran dan hikmah kepada umat muslim.

    Nama asli Nabi Ilyasa AS menurut penulisan di Al-Qur’an pada Surah Al-An’am: 86 adalah Alyasa’. Selanjutnya, pada surah Sad: 48 dituliskan nama beliau adalah Ilyasa’.

    Menurut buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul oleh Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri disebutkan Nabi Ilyasa adalah putra dari paman Nabi Ilyas. Ilyasa adalah rasul dari kalangan Bani Israil dari garis keturunan yang sama dengan Musa, Harun dan Ilyas.


    Dalam Bahasa Ibrani, Nabi Ilyasa AS disebutkan sebagai Eliyahu. Dalam Bahasa Yunan disebutkan Nabi Ilyasa AS disebutkan sebagai Elias, sama seperti terjemahan dalam Bahasa Indonesia.

    Nabi Ilyasa AS adalah salah satu dari beberapa nabi yang nama dan kisahnya disebutkan dalam 3 agama berbeda, yaitu: Islam, Kristen, dan Yahudi. Hal yang membuat menarik adalah kisah Nabi Ilyasa AS tidak bisa dipisahkan dari kisah Nabi Ilyas AS yaitu pendahulunya.

    Masa Kecil Nabi Ilyasa AS

    Dalam buku 25 Nabi dan Rasul yang ditulis oleh Nurul Ihsan disebutkan bahwa Nabi Ilyasa AS lahir dari kaum Bani Israil yang saat itu dituntun oleh Nabi Ilyas AS atas perintah Allah SWT. Nabi Ilyasa lahir dari seorang perempuan yang rumahnya dijadikan tempat berlindung dan bersembunyi oleh Nabi Ilyas AS atas kejaran kaumnya.

    Umat Nabi Ilyas AS sangat kejam dan durhaka kepada pesan yang disampaikan olehnya. Meskipun demikian, dengan tekanan yang ada beliau tetap berdakwah secara lembut kepada kaumnya.

    Ketika Nabi Ilyasa AS kecil, beliau mengalami sakit yang cukup sulit disembuhkan. Oleh karena itu, Nabi Ilyas AS berdoa kepada Allah SWT untuk kesembuhan Nabi Ilyasa AS.

    Doa seorang nabi ternyata langsung dikabulkan oleh Allah SWT sehingga Nabi Ilyasa AS langsung sembuh dari sakitnya. Singkat cerita, Nabi Ilyasa AS selalu mendampingin kemanapun Nabi Ilyas AS pergi berdakwah.

    Kisah Kenabian Nabi Ilyasa AS

    Menurut Tafsir Kemenag, Allah menyebutkan bahwa Nabi Ilyasa AS merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim. Diolah dari tafsir Kemenag dalam Surah Sad: 48 bahwa Nabi Ilyasa AS termasuk orang yang paling baik yang dipilih oleh Allah SWT untuk membimbing kaumnya agar taat kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan.

    Nabi Ilyasa AS melanjutkan perjuangan dakwah yang sebelumnya dilaksanakan Nabi Ilyas AS. Nabi Ilyasa AS berdakwah kepada Bani Israil yang saat itu sedang ramai menyembah berhala.

    Ba’labak adalah sebutan daerah yang ditugaskan Allah SWT kepada Nabi Ilyasa AS untuk melaksanakan dakwahnya. Penduduk tersebut secara berangsur pada zaman dakwah Nabi Ilyas AS mulai mendapatkan hidayah dan mengikuti seruannya untuk beriman kepada Allah SWT.

    Setelah Nabi Ilyas AS wafat, kemudian masyarakat Ba’labak kembali ke kemungkaran dan tidak lagi beriman kepada Allah SWT.

    Keburukan masyarakat Ba’labak inilah yang menjadi tantangan bagi Nabi Ilyasa AS dalam masa berdakwahnya dari awal kenabian hingga masa akhir kenabiannya yaitu ketika beliau wafat. Nabi Ilyasa dengan tidak kenal lelah tetap berdakwah dan menyerukan ajaran Allah SWT dengan lembut dan berusaha untuk mengajak kaumnya untuk kembali ke jalan yang lurus.

    Hingga menjelang akhir kenabian Nabi Ilyasa AS, Bani Israil yang dipandu oleh Nabi Ilyasa AS masih tidak mau untuk mendengar dan mengikuti ajakan Nabi Ilyasa AS. Hal ini mengakibatkan Allah murka dan memberikan bencana kekeringan yang luar biasa.

    Kesabaran yang dikisahkan oleh berbagai riwayat inilah yang mungkin menjadi penyebab Allah SWT memasukan nama Ilyasa sebagai golongan orang yang paling baik di dunia Wallahu a’lam bish-shawabi. Semoga kisah ini menambah kesabaran serta keimanan kita kepada Allah SWT ya, detikers!

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapa Putra Nabi Ibrahim yang Dikurbankan?



    Jakarta

    Kisah putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan atas perintah Allah SWT menjadi sejarah di balik pelaksanaan kurban hari raya Idul Adha. Dalam cerita kenabian, Nabi Ibrahim AS dikatakan memiliki dua orang putra dari dua istrinya.

    Putra pertama Nabi Ibrahim AS, yaitu bernama Ismail dari istri keduanya yang bernama Siti Hajar. Sedangkan putra keduanya bernama Ishaq dilahirkan dari istri pertamanya, Sarah.

    Ada dua pendapat yang berbeda terkait satu di antara kedua putra Nabi Ibrahim AS yang pernah dikurbankan. Orang-orang Yahudi berkeyakinan bahwa putra yang disembelih ialah Nabi Ishaq. Sedangkan umat Islam menganggap Nabi Ismail lah sosok putra nabi yang disembelih.


    Lantas, siapa sebenarnya putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan? Berikut ini penjelasannya.

    Sosok Putra Nabi Ibrahim yang Dikurbankan

    Melansir dari buku Kala Kanjeng Nabi Bercerita karya Rizem Aizid, dalam ayat Al-Qur’an tidak disebutkan secara jelas sosok putra Nabi Ibrahim AS yang dikurbankan. Hanya saja terdapat dalil yang secara tersirat mengarah kepada Nabi Ismail AS, Allah SWT berfirman:

    وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّلِحِينَ فَبَشِّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعَى قَالَ يَسُنَى إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَبْيَ أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَتَأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّبِرِينَ

    Artinya: “Dan, Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya, aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.’ Maka, Kami beri ia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka, tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. ash-Shaffat: 99-102).

    Berdasarkan ayat tersebut, umat Islam meyakini bahwa Ismail adalah putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan. Sebab, Nabi Ibrahim dulunya tidak dikaruniai anak dengan istri pertamanya, Siti Sarah.

    Hingga akhirnya beliau menikah dengan istri keduanya, Siti Hajar, dan dikaruniai anak pertama yang bernama Ismail.

    Menambahkan dari sumber lain, dalam buku Tuntunan Berkurban dan Menyembelih Hewan karya Ali Ghufron turut diterangkan tentang sosok putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan.

    Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menegaskan bahwa adz-dzabih (orang yang dikurbankan) adalah Ismail karena dialah anak pertama Nabi Ibrahim yang memberi berita gembira atas kabar kelahirannya.

    Ahli kitab maupun umat Islam pun sepakat bahwa Nabi Ismail lebih dahulu dilahirkan dan lebih tua dibandingkan dengan Nabi Ishaq.

    Bahkan dalam kitab-kitab mereka turut disebutkan, ketika Nabi Ismail lahir, Nabi Ibrahim berusia 86 tahun. Sedangkan ketika Nabi Ishaq dilahirkan, usia Nabi Ibrahim telah menginjak 99 tahun.

    Dengan demikian, umat Islam percaya bahwa putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan ialah Nabi Ismail. Beliau melaksanakan kurban tersebut di Makkah, tempat dimana ia bersama putranya membangun Ka’bah.

    Terlepas dari adanya perbedaan tersebut, umat muslim dapat memetik hikmah dari kisah Nabi Ibrahim. Beliau rela berkurban demi melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih anak pertamanya yang telah dinantikan-nantikan, wallahu ‘alam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ibrahim Berdebat dengan Kaumnya soal Tuhan yang Berhak Disembah



    Jakarta

    Nabi Ibrahim AS adalah rasul ulul azmi yang mempunyai kisah hidup yang luar biasa apalagi selama masa kenabiannya. Kisah Nabi Ibrahim AS ini turut diceritakan dalam Al-Qur’an, salah satunya ketika ia berdebat dengan kaumnya.

    Sosok Nabi Ibrahim

    Dikutip dari Qashash Al-Anbiyaa tulisan Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa nama Nabi Ibrahim AS adalah Ibrahim bin Tarikh. Ia berasal dan keluarga Nahur, Sarugh, Raghu, Faligh, ‘Abir, Syalih, Arfakhsyadz, Sam, dan Nuh. Informasi ini didapatkan dari penjelasan Ahli Kitab dalam kitab mereka.

    Al-Hafizh Ibnu Asakir, dalam kitab Tarikh-nya, menceritakan tentang biografi Nabi Ibrahim Khalilullah. Ia merujuk pada Ishaq bin Basyar al-Khalili, penulis kitab Al-Mubtada, yang menyebutkan bahwa nama ibunda Ibrahim adalah Amilah.


    Al-Kalabi juga menyebutkan bahwa nama ibunda Nabi Ibrahim AS adalah Buna binti Karbita bin Kartsi, yang berasal dari Bani Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh. Ibnu Asakir juga meriwayatkan melalui jalur riwayat lain dari Ikrimah, yang mengatakan bahwa Nabi Ibrahim AS memiliki gelar Abu adh-Dhaifan.

    Beberapa orang berpendapat bahwa saat Tarikh berusia 75 tahun, Ibrahim, Nahur, dan Haran dilahirkan. Kemudian Haran memiliki seorang putra bernama Luth.

    Ada juga pendapat bahwa Nabi Ibrahim AS sebenarnya adalah al-Ausath, sementara Haran meninggal di tanah kelahirannya saat ayah mereka masih hidup. Tanah kelahiran mereka berada di wilayah Kaldaniyyun, di kawasan Babilonia.

    Pendapat terakhir ini lebih diterima dan populer di kalangan ahli sejarah dan ahli biografi. Ibnu Asakir membenarkan pendapat ini setelah meriwayatkannya melalui jalur riwayat Hisyam bin Imar, al-Walid, Sa’id bin Abdul Aziz, Makhul, dan Ibnu Abbas. Mereka mengatakan bahwa Ibrahim dilahirkan di Ghauthah, Damaskus, di sebuah desa yang disebut Barzah, yang terletak di Gunung Qasiyun.

    Selanjutnya, Ibnu Abbas berkata, “(Pendapat) yang benar adalah Ibrahim dilahirkan bertepat di Babilonia. Dinisbatkannya Babilonia sebagai tempat kelahiran Ibrahim adalah dari dalih bahwa beliau pernah mengerjakan shalat di sana ketika beliau mengunjungi Luth (keponakannya).”

    Kisah Nabi Ibrahim Berdebat dengan Kaumnya

    Perihal kisah ini diceritakan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada surah Al-An’am. Allah SWT berfirman,

    “Demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

    Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.”

    Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.”

    Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

    Kaumnya membantah. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada yang kamu persekutukan dengan-Nya, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?”

    Bagaimana mungkin aku takut kepada yang kamu sekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut menyekutukan sesuatu dengan Allah yang Dia (sendiri) tidak pernah menurunkan kepadamu alasan apa pun. Maka, golongan yang manakah dari keduanya yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka) jika kamu mengetahui?”

    Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.

    Itulah keterangan yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan orang yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS Al An’am: 75-83)

    Dijelaskan lebih lanjut oleh Ibnu Katsir bahwa dialog di atas adalah sanggahan yang diajukan oleh Nabi Ibrahim AS kepada kaumnya. Dalam dialog tersebut, Nabi Ibrahim AS menyanggah keyakinan kaumnya yang menyembah benda-benda langit seperti bintang-bintang.

    Nabi Ibrahim AS menjelaskan bahwa benda-benda langit tersebut tidak layak dijadikan sebagai Tuhan, karena mereka adalah makhluk yang diciptakan, diatur, dan ditundukkan oleh Tuhan yang menciptakannya. Meskipun benda-benda langit tersebut muncul dan tenggelam, lenyap dari alam ini, Tuhan tetap kekal dan abadi. Tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada yang pantas disembah kecuali Dia.

    Pertama-tama, Nabi Ibrahim AS menjelaskan kepada kaumnya bahwa bintang-bintang tidak mungkin dijadikan sebagai Tuhan. Ada yang menyebutkan bahwa bintang yang dimaksud adalah Lucifer (Bintang Fajar).

    Selanjutnya, Nabi Ibrahim AS meningkatkan penjelasannya kepada bulan yang memiliki cahaya yang lebih besar daripada bintang. Kemudian, penjelasan Ibrahim semakin meningkat pada matahari yang memiliki sinar paling terang di antara benda langit lainnya.

    Nabi Ibrahim AS menjelaskan bahwa semua benda tersebut tunduk, digerakkan, dan dikuasai berdasarkan kehendak Tuhan, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah SWT,

    “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika hanya Dia yang pantas untuk disembah.” (QS Fushshilat: 37)

    Karenanya, Allah berfirman,

    “Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.”

    Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

    Kaumnya membantah. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada yang kamu persekutukan dengan-Nya, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?” (QS. Al-An’am: 78-80)

    Menurut Tafsir Ibnu Katsir, dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim AS menyampaikan bahwa ia tidak mempedulikan tuhan-tuhan yang kaumnya sembah selain Allah. Ia menjelaskan bahwa semua tuhan sembahan mereka tidak memiliki manfaat sedikit pun, tidak dapat mendengar, dan tidak memiliki akal. Mereka hanyalah benda-benda yang diatur dan dikendalikan oleh Tuhan, seperti bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya.

    Hal tersebut juga merupakan sanggahan terhadap pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Ibrahim AS mengungkapkan hal itu ketika ia keluar dari sebuah lorong saat masih kecil, seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya berdasarkan kabar-kabar israiliyat yang tidak dapat dipercaya dan bertentangan dengan kebenaran.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ibrahim Melawan Raja Namrud yang Mengaku Tuhan


    Jakarta

    Raja Namrud adalah raja yang memiliki kekuasaan selama 400 tahun lamanya dan wilayah yang sangat besar hampir seluruh dunia. Hal ini menyebabkan dirinya berlaku sombong, kafir, dan menyamakan dirinya dengan Tuhan.

    Menurut para ahli tafsir, ulama ahli nasab, dan pakar sejarah, Raja Namrud adalah raja Babilonia yang memiliki nama lengkap Namrud bin Kan’an bin Kausy bin Sam bin Nuh. Sementara itu, ulama lainnya mengatakan namanya adalah Namrud bin Falih bin Abir bin Shaleh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh.

    Mujahid dan para ulama lainnya mengatakan, kecongkakkan Raja Namrud semakin jadi karena ia termasuk dalam empat raja yang pernah menguasai hampir seluruh muka bumi. Dua raja merupakan dari golongan orang mukmin, Raja Dzul Qarnain dan Sulaiman, lalu dua lainnya dari golongan kafir termasuk, Raja Namrud.


    Raja Namrud hidup pada masa Nabi Ibrahim AS. Karena kecongkakkannya, Nabi Ibrahim AS pun menantang Raja Namrud dengan mengeluarkan bukti-bukti bahwa dirinya keliru dan bukanlah Tuhan sebagaimana yang diklaimnya.

    Kisah Nabi Ibrahim AS Melawan Raja Namrud

    Dikutip dari Kisah Para Nabi oleh Imam Ibnu Katsir, Nabi Ibrahim AS mengajak Raja Namrud untuk mengakui bahwa satu-satunya Tuhan adalah Allah SWT dan beribadah hanya kepada-Nya. Namun, Raja Namrud menolak dan malah mengklaim dirinya sebagai Tuhan.

    Kisah ini terabadikan dalam surah Al-Baqarah ayat 258-260,

    أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِى حَآجَّ إِبْرَٰهِۦمَ فِى رَبِّهِۦٓ أَنْ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّىَ ٱلَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحْىِۦ وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأْتِى بِٱلشَّمْسِ مِنَ ٱلْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ ٱلْمَغْرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِى كَفَرَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

    Artinya: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” Orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

    Raja Namrud mengaku sebagai Tuhan yang dapat menghidupkan atau mematikan orang. Hal yang dimaksud olehnya adalah ia bisa menentukan nasib orang lain dengan membiarkannya hidup atau memberinya hukuman mati.

    Namun tentunya bukan ini yang dimaksud oleh Nabi Ibrahim AS. Allah SWT dapat menghidupkan orang dari yang tidak ada menjadi ada dan mematikan yang ada menjadi tidak ada.

    Pada ayat berikutnya dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS menunjukkan kekuasaan Allah SWT yang bisa mengatur tata surya dan mengatur siang dan malam. Lalu beliau menantang Raja Namrud untuk menunjukkan kemampuannya menerbitkan Matahari dari barat.

    Dengan kesesatan, kebodohan, dan kebohongan dakwahnya, ia tidak bisa berkata apa-apa untuk menjawab Nabi Ibrahim AS. Barulah Allah SWT berfirman seperti di ayat yang terakhir bahwa Allah SWT tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.

    Kekejaman Raja Namrud kepada Nabi Ibrahim AS

    Abdurrazaq telah meriwayatkan dari Ma’mar, dari Zaid bin Aslam, bahwa suatu waktu Raja Namrud mengadakan sebuah jamuan makan yang dihadiri oleh rakyatnya. Nabi Ibrahim AS pun datang memenuhi undangan tersebut.

    Namun, hari itu terjadi perdebatan antara Nabi Ibrahim AS dengan Raja Namrud. Akhirnya Nabi Ibrahim AS tidak diberi makanan sedikitpun hingga pesta itu selesai.

    Saat perjalanan pulang, Nabi Ibrahim AS mengambil pasir lalu ditaruhnya di kedua kantongnya, seraya berkata, “Kehadiranku akan membuat repot keluargaku.”

    Sesampainya dirumah ia tertidur karena terlalu lelah dan lemas. Saat bangun betapa terkejutnya dirinya sebab menemui Sarah, istrinya sudah memasak. Sarah mengatakan bahwa bahan masakan itu ditemukannya di kantong-kantong suaminya.

    Padahal seingat Nabi Ibrahim AS, dirinya hanya membawa pasir di kedua kantongnya. Namun, akhirnya Nabi Ibrahim AS menyadari bahwa hal tersebut adalah rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.

    Laknat Allah SWT untuk Raja Namrud

    Zaid bin Aslam berkata, “Allah mengutus malaikat kepada raja yang sombong itu agar ia beriman kepada Allah, tetapi ia menolaknya. Malaikat mengajaknya untuk yang kedua kali, tetapi ia menolaknya hingga malaikat mengajaknya untuk yang ketiga kali dan lagi-lagi ia tetap menolaknya. Akhirnya malaikat berkata: ‘Kumpulkan bala tentaramu dan aku akan mengumpulkan bala tentaraku’.”

    Esoknya, Raja Namrud benar-benar mengumpulkan bala tentaranya dan seluruh pasukan. Namun, yang datang bukanlah tentara perang melainkan pasukan nyamuk yang sangat banyak.

    Nyamuk-nyamuk itu lantas menghisap darah bala tentara Raja Namrud dan bahkan mengoyak daging-daging mereka hingga tersisa hanyalah tulang belulang.

    Salah satu nyamuk datang kepada Raja Namrud yang tidak ikut berperang dan masuk ke hidungnya selama 400 tahun. Selama 400 tahun itu jugalah Raja Namrud selalu memukuli kepalanya dengan tongkat besi agar nyamuk itu keluar.

    Itulah azab yang dikirim oleh Allah SWT untuk Raja Namrud hingga akhirnya binasa karena seekor nyamuk. Naudzubillahi min dzalik.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ibrahim Sunat Menggunakan Kampak di Usia 80 Tahun


    Jakarta

    Nabi Ibrahim adalah salah satu nabi yang memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah Islam. Ia dikenal sebagai “Khalilullah,” yang berarti “Sahabat Allah” atau “Temannya Allah”.

    Tak hanya itu, Nabi Ibrahim juga dianggap sebagai salah satu nabi ulul azmi, yaitu kelompok nabi pilihan yang memiliki keteguhan dan keberanian luar biasa dalam menyampaikan ajaran Allah. Pengajaran dan contoh kehidupan Nabi Ibrahim sangat dihormati dalam agama Islam dan menjadi inspirasi bagi umat Muslim dalam menjalani kehidupan yang taat kepada Allah dan penuh kesabaran serta keimanan.

    Selain kurban, Nabi Ibrahim juga mengajarkan umat Islam untuk melaksanakan khitan atau sunat. Hal ini tercantum dalam sebuah hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah, beliau berkata:


    “Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama kali memakai celana panjang, membersihkan rambut yang kotor, mencukur bulu kemaluan, dan orang yang pertama kali melakukan khitan dengan qadum saat beliau berusia 80 tahun. Beliau dikenal sebagai orang yang pertama kali menjamu tamu dan orang yang pertama kali rambutnya beruban.” (HR Ibnu Hibban).

    Mengutip buku Kisah Para Nabi oleh Imam Ibnu Katsir, beberapa pendapat mengatakan bahwa qadum ini adalah sebuah alat yang digunakan oleh tukang kayu berupa kampak. Ada juga yang menyebut bahwa qadum adalah nama sebuah tempat (yakni, ia disunat di daerah Qadum).

    Namun tidak menutup kemungkinan bahwa keterangan dari ahli kitab itu semuanya benar. Meskipun sedikit berbeda dari hadits nabi, namun bisa saja keduanya digabungkan.

    Lantas, mengapa menggunakan kampak? bisa saja pada saat itu perintah Allah SWT datang kepada Nabi Ibrahim secara mendadak. Ibrahim yang tidak ingin menundanya akhirnya mengambil kampak yang ada di sekitarnya dan langsung berkhitan.

    Tak hanya Ibrahim, Allah SWT juga memerintahkannya untuk mengkhitan Ismail dan juga semua hamba sahayanya. Begitu pun setiap laki-laki yang ada pada keluarganya. Kala itu Nabi Ismail dikhitan pada usia 13 tahun.

    Nabi Ibrahim Sunat Usia 80 Tahun

    Dalam riwayat lain, usia Nabi Ibrahim AS saat disunat juga disebutkan sama. Ia khitan di umur 80 tahun.

    اختتن إبراهيم عليه السلام وهو ابن ثمانين سنة بالقدوم

    “Rasulullah SAW bersabda, “Ibrahim al Khalil berkhitan setelah mencapai usia 80 tahun dan beliau berkhitan menggunakan kampak.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Sedangkan dalam riwayat Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Usia Ibrahim ketika dikhitan telah mencapai 120 tahun. Kemudian setelah itu Ibrahim masih menjalani kehidupannya selama 80 tahun.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

    Dalam kedua hadits di atas dapat disimpulkan bahwa tidak menutup kemungkinan jika Nabi Ibrahim dikhitan pada usia lebih dari 80 tahun. Wallahu a’lam.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Mukjizat Nabi Ishaq, Dikaruniai Panjang Umur dan Ilmu yang Tinggi



    Jakarta

    Nabi Ishaq AS merupakan salah satu nabi yang diutus Allah SWT untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Nabi Ishaq AS adalah putra dari Nabi Ibrahim AS dan Siti Sarah.

    Semasa hidupnya, Nabi Ishaq AS dikaruniai beberapa mukjizat yang menunjukkan kebesaran Allah SWT. Nabi Ishaq AS termasuk utusan Allah SWT yang memiliki umur panjang.

    Mukjizat Nabi Ishaq AS

    Allah SWT memberi anugerah kepada Nabi Ishaq AS berupa mukjizat atau kelebihan. Beberapa kisah dan mukjizat Nabi Ishaq diterangkan dalam Al-Qur’an.


    Mukjizat Kelahiran Nabi Ishaq AS

    Dikutip dari buku Dua Puluh Lima Nabi Banyak Bermukjizat sejak Adam A.S hingga Muhammad S.A.W karya Usman bin Affan bin Abul As bin Umayyah bin Abdu Syams, Nabi Ishaq AS adalah putra dari Nabi Ibrahim AS dan Siti Sarah.

    Allah SWT berfirman dalam surah Ash-Shaffat ayat 112-113,

    وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ . وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ ࣖ

    Artinya: “Kami telah memberinya kabar gembira tentang (akan dilahirkannya) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh. Kami melimpahkan keberkahan kepadanya dan Ishaq. Sebagian keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.”

    Dikutip dari buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, berita kelahiran Nabi Ishaq AS disampaikan oleh para malaikat kepada Nabi Ibrahim AS dan Siti Sarah ketika hendak menuju Madain tempat kaum Luth, untuk membinasakan mereka karena kekafiran dan kekejian mereka.

    Kelahiran Nabi Ishaq AS menjadi sebuah mukjizat Allah SWT karena usia Nabi Ibrahim AS dan Sarah sudah sangat tua. Usia Sarah pada saat melahirkan Nabi Ishaq AS adalah 90-an.

    Kisah tersebut terdapat dalam surah Hud ayat 69-73, https://www.detik.com/hikmah/quran-online/hud

    وَلَقَدْ جَاۤءَتْ رُسُلُنَآ اِبْرٰهِيْمَ بِالْبُشْرٰى قَالُوْا سَلٰمًا ۖقَالَ سَلٰمٌ فَمَا لَبِثَ اَنْ جَاۤءَ بِعِجْلٍ حَنِيْذٍ ٦٩ فَلَمَّا رَآٰ اَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ اِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَاَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيْفَةً ۗقَالُوْا لَا تَخَفْ اِنَّآ اُرْسِلْنَآ اِلٰى قَوْمِ لُوْطٍۗ ٧٠ وَامْرَاَتُهٗ قَاۤىِٕمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنٰهَا بِاِسْحٰقَۙ وَمِنْ وَّرَاۤءِ اِسْحٰقَ يَعْقُوْبَ ٧١ قَالَتْ يٰوَيْلَتٰىٓ ءَاَلِدُ وَاَنَا۠ عَجُوْزٌ وَّهٰذَا بَعْلِيْ شَيْخًا ۗاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيْبٌ ٧٢ قَالُوْٓا اَتَعْجَبِيْنَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ رَحْمَتُ اللّٰهِ وَبَرَكٰتُهٗ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الْبَيْتِۗ اِنَّهٗ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ ٧٣

    Artinya: “Sungguh, utusan Kami (malaikat) benar-benar telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan, “Selamat.” Dia (Ibrahim) menjawab, “Selamat.” Tidak lama kemudian, Ibrahim datang dengan membawa (suguhan) daging anak sapi yang dipanggang. Ketika (Ibrahim) melihat tangan mereka tidak menjamahnya, dia mencurigai dan memendam rasa takut kepada mereka. Mereka (malaikat) berkata, “Jangan takut! Sesungguhnya kami diutus kepada kaum Lut (untuk menghancurkan mereka).” Istrinya berdiri, lalu tersenyum. Kemudian, Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya’qub (putra Ishaq). Dia (istrinya) berkata, “Sungguh mengherankan! Mungkinkah aku akan melahirkan (anak) padahal aku sudah tua dan suamiku ini sudah renta? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang ajaib.” Mereka (para malaikat) berkata, “Apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah (yang) dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Dia Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

    Mukjizat Panjang Umur

    Dikutip dari buku Dua Puluh Lima Nabi Banyak Bermukjizat sejak Adam A.S Hingga Muhammad S.A.W karya Usman bin Affan bin Abul As bin Umayyah bin Abdu Syams, Nabi Ishaq AS termasuk salah satu nabi yang dianugerahi panjang umur oleh Allah SWT.

    Nabi Ishaq AS membantu sang ayah, Nabi Ibrahim AS menyebarkan dakwahnya. Allah SWT mengutus Nabi Ishaq untuk meneruskan dakwah Nabi Ibrahim kepada umatnya di tanah Palestina setelah Nabi Ibrahim wafat.

    Nabi Ishaq menyerukan kaum di Palestina untuk menyembah Allah, mendirikan sholat, mengingatkan akan akhirat, dan perintah-perintah baik lainnya.

    Nabi Ishaq AS diketahui wafat pada usia 170 tahun.

    Dikaruniai Nabi Yaqub sebagai Anak

    Nabi Ishaq AS belum menikah di usia 40 tahun. Sang ayah, Nabi Ibrahim AS kemudian meminta pelayannya untuk mencarikan istri bagi Nabi Ishaq AS.

    Kemudian Nabi Ishaq AS menikah dengan seorang wanita Irak bernama Rifkah. Keduanya kemudian dianugerahi dua anak laki-laki kembar yang kemudian diberi nama Ish dan Yaqub.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ishaq AS, Sosok yang Saleh dan Lemah Lembut



    Jakarta

    Nabi Ishaq adalah salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui dalam Islam. Ia adalah keturunan dari Nabi Ibrahim AS dan istrinya yang bernama Siti Sarah.

    Kelahiran Ishaq AS sangat dinantikan oleh keduanya. Saat itu, Nabi Ibrahim AS dan istrinya diberi kabar gembira dari Allah SWT melalui Jibril, Mikail dan Israfil yang berkunjung ke rumahnya, seperti dikisahkan dalam buku Kisah Para Nabi & Sahabat RA Vol 3 oleh Dr A A Ahmed.

    Isi dari pesan tersebut ialah Siti Sarah akan melahirkan anak laki-laki yang bernama Ishaq. Nantinya, anak tersebut akan menjadi seorang nabi.


    Allah SWT berfirman dalam surah Hud ayat 69,

    وَلَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُنَآ إِبْرَٰهِيمَ بِٱلْبُشْرَىٰ قَالُوا۟ سَلَٰمًا ۖ قَالَ سَلَٰمٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَن جَآءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

    Artinya: “Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat”. Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.”

    Menukil buku Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Qur’an oleh Adil Musthafa Abdul Halim, Nabi Ibrahim AS sempat tidak percaya dan berkata,

    “Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku, padahal usiaku telah lanjut, dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini.” (QS Al Hijr : 54)

    Para malaikat kemudian menjawab, “Wahai Ibrahim, ini adalah perkara dan kehendak Allah. Dan kabar yang kami bawa ini adalah sesuatu yang pasti. Sesungguhnya Allah SWT menganugerahkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi orang alim yang bernama Ishaq, saudaranya Ismail.”

    Atas jawaban malaikat tersebut, Nabi Ibrahim mengatakan, “Oh seandainya sekarang ini Ismail ada di hadapanku, pasti aku kabarkan dia tentang kelahiran saudaranya.”

    Semasa hidupnya, Ishaq AS terkenal memiliki akhlak yang mulia. Ia gemar membantu orang-orang miskin di sekitarnya.

    Semakin hari, Nabi Ishaq AS tumbuh menjadi pria yang jujur dan bertanggung jawab. Bahkan ketika dewasa, ia ikut membantu Nabi Ibrahim AS berdagang dan berdakwah di daerah Syam.

    Ishaq AS lalu melanjutkan hidup dengan menikahi wanita bernama Rifqah. Pada 10 tahun usia pernikahan, Ishaq AS dan istri dikaruniai dua anak yaitu Aishu dan Yakub yang nantinya menjadi nabi pula.

    Nabi Ishaq AS merupakan nabi sekaligus pemimpin yang saleh bagi kaumnya yaitu kaum Kan’an. Nabi Ishaq As berdakwah dengan caranya yang lemah lembut, serta beliau pandai memikat hati orang, ramah dan tamah, sehingga ajaran agama Islam yang disampaikan dapat dirasakan manfaatnya.

    Dikutip dari buku Kisah dan Mukjizat 25 Nabi dan Rasul susunan Alifa Syah, salah satu mukjizat yang diberikan pada Ishaq AS ialah memiliki dua orang anak kembar dari sang istri yang berusia tua dan mandul. Hal ini tertuang dalam surah Al Anbiya ayat 72,

    وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ إِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا صَٰلِحِينَ

    Artinya: “Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshaq dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh.”

    Selain itu, beliau juga dianugerahi kekuatan yang besar dalam ilmu dan akhlak yang tinggi oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Ishaq AS disebut sebagai seorang anak yang arif dan bijaksana.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ibrahim AS, Selamat Meski Dibakar Hidup-hidup



    Jakarta

    Nabi Ibrahim AS adalah salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui. Kisahnya tercantum dalam sejumlah ayat Al-Qur’an.

    Dalam buku Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir disebutkan nama asli Ibrahim AS ialah Ibrahim bin Tarikh. Ibunya bernama Buna binti Karbita bin Kartsi. Ibrahim AS juga disebut sebagai rasul ulul azmi yang merupakan gelar bagi rasul Allah SWT dengan kedudukan tinggi.

    Selain itu, ia juga memiliki julukan Abul Anbiya yang berarti ayahanda dari para nabi. Putranya merupakan seorang nabi juga yang tak lain Ismail AS.


    Beliau memiliki sejumlah mukjizat, salah satunya tidak hangus meski dibakar. Kisahnya bermula ketika ia menghancurkan berhala-berhala di dalam gedung.

    Mengutip buku Kisah 25 Nabi dan Rasul karya Yudho Pramuko, kala itu Raja Namrud beserta pengikutnya sedang pergi ke luar untuk melaksanakan upacara keagamaan. Karenanya, gedung tempat berhala menjadi sepi.

    Mengetahui hal itu, Nabi Ibrahim AS langsung masuk ke dalam gedung dan menghancurkan satu persatu berhala. Kendati demikian, ia menyisakan satu berhala paling besar.

    Ibrahim AS kemudian meletakkan kapak yang ia gunakan di leher berhala besar dalam keadaan menggantung. Setelahnya, ia pulang ke rumah.

    Saat Raja Namrud dan para pengikutnya kembali, alangkah terkejutnya mereka melihat berhala-berhala yang mereka sembah sudah hancur. Mengetahui Nabi Ibrahim AS yang menghancurkannya, Raja Namrud segera menangkap san nabi.

    Ketika dibawa ke pengadilan raja dan disaksikan masyarakat umum, Raja Namrud bertanya.

    “Hai Ibrahim! Apakah kamu yang menghancurkan berhala-berhala itu?”

    “Bukan!” jawab Ibrahim AS.

    Merasa geram, Raja Namrud mendesak Ibrahim untuk menjawab.

    “Jangan mungkir, hai Ibrahim! Akui saja perbuatanmu itu,”

    “Tidak!” kata Nabi Ibrahim AS.

    Jawaban Ibrahim AS memicu kemarahan Raja Namrud. Akhirnya, Nabi Ibrahim menambahkan ucapannya.

    “Baiklah, kita sama-sama berakal. Persoalan saat ini adalah mencari pelaku penghancuran berhala itu. Siapa yang telah memperlakukan berhala-berhala seperti itu. Sebetulnya, buktinya sudah ada. Sekarang di hadapan kita ada satu patung besar dan di lehernya tergantung kapak besar. Mungkin dialah pelakunya!”

    Ucapan Nabi Ibrahim membuat Raja Namrud Geram.

    “Kau banyak akal. Kau pikir aku dan rakyatku sebdooh itu? mana mungkin patung bisa aku ajak bicara dan aku tanyakan siapa pelakunya. kau terlalu bodoh, hai Ibrahim!”

    “Hai Raja Namrud! Rupanya yang bodoh bukan aku, tapi engkau dan seluruh rakyatmu. Buktinya, patung yang tidak berdaya apa–apa, tidak bisa bicara, tidak bisa dimintai pertolongan, dan tidak bisa mendatangkan kebaikan dan kejelekan itu, engkau sembah dan engkau puja,” kata Ibrahim AS menanggapi Raja Namrud.

    Ia lalu melanjutkan, “Kalau engkau dan rakyatmu sudah tahu bahwa patung dan berhala yang kalian sembah itu tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, dan tidak bisa dimintai pertolongan, mengapa kalian sembah dan kalian puja? Di hadapannya, kalian berdoa. Kalian meminta kebaikan dan keselamatan. Sudah jelas, patung-patung yang kalian sembah itu tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari bahaya kehancuran,”

    Mendengar jawaban Nabi Ibrahim AS, Raja Namrud dan para pengikutnya merasa terpojok. Ucapan beliau memang masuk akal, sehingga mereka tidak bisa berkata-bata.

    Namun, akhirnya secara serentak mereka menangkap Nabi Ibrahim AS dan hendak membakarnya. Seketika itu juga, Raja Namrud menyuruh rakyatnya mencari kayu bakar.

    Atas izin Allah, ketika api dinyalakan justru Nabi Ibrahim AS tidak merasa panas. Sebaliknya, api tersebut malah menyejukkan Ibrahim. Hal ini termasuk ke dalam salah satu mukjizat yang Allah SWT berikan kepada beliau.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anbiya’ ayat 68-70,

    (68) قَالُوْا حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْٓا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ

    (69) قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ

    (70) وَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ

    Artinya: “Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.”

    Menyaksikan peristiwa itu, Raja Namrud dan seluruh orang di sana tercengang. Akhirnya, ia memerintahkan agar pembakaran dihentikan dan Ibrahim AS dibebaskan.

    Menurut hadits yang diriwayatkan oleh al-Hafid Abu Ya’la, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menceritakan bahwa ketika Nabi Ibrahim AS akan dilemparkan ketengah api yang berkobar itu, ia berdoa sebagai berikut,

    اللهُمَّ أَنْتَ الْوَاحِدُ فِي السَّمَاءِ وَأَنَا الْوَاحِدُ فِي الْأَرْضِ لَيْسَ اَحَدٌ يَعْبُدُكَ غَيْرِي حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ

    Arab latin: Allahumma antal wahidu fissama’i wa anal wahidu fil ardi laisa ahadun ya ‘buduka gairī hasbiyallahu wa ni’mal wakil.

    Artinya: Ya Allah! Engkau Esa di langit dan aku sendirian di bumi. Tiada seorang pun yang taat kepada-Mu selain aku. Bagiku cukuplah Allah sebaik-baik tempat berserah diri.

    Wallahu ‘alam bishawab.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ketika Nabi Ibrahim Berdebat dengan Kaumnya Soal Tuhan yang Harus Disembah



    Jakarta

    Nabi Ibrahim AS merupakan satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui kaum muslimin. Sebagai utusan Allah SWT, banyak pelajaran dan hikmah dari kisah hidupnya selama menjadi nabi dan rasul.

    Menurut Qashash al-Anbiyaa oleh Ibnu Katsir yang diterjemahkan Saefullah MS, nama lengkap Nabi Ibrahim AS adalah Ibrahim bin Tarikh. Ia merupakan keturunan dari keluarga Nahur, Shrug, Raghu, Faligh, ‘Abir, Syalih, Arfakhsyadz, Sam, dan Nuh.

    Nabi Ibrahim AS juga disebut sebagai rasul ulul azmi yang mana gelar ini diberikan bagi rasul Allah SWT yang kedudukannya tinggi. Selain itu, ia juga dijuluki Abun Anbiya yang artinya ayahanda para nabi.


    Ada kisah menarik terkait Nabi Ibrahim AS yang dikisahkan dalam surah Al An’Am ayat 75-83. Ini mengenai Ibrahim AS yang berdebat dengan kaumnya terkait Tuhan yang berhak disembah.

    Allah SWT berfirman,

    “Demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

    Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.”

    Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.”

    Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

    Kaumnya membantah. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada yang kamu persekutukan dengan-Nya, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?”

    Bagaimana mungkin aku takut kepada yang kamu sekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut menyekutukan sesuatu dengan Allah yang Dia (sendiri) tidak pernah menurunkan kepadamu alasan apa pun. Maka, golongan yang manakah dari keduanya yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka) jika kamu mengetahui?”

    Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.

    Itulah keterangan yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan orang yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS Al An’am: 75-83)

    Ibnu Katsir menafsirkan, dialog di atas dalam surah Al An’am merupakan sanggahan yang Nabi Ibrahim AS ajukan kepada kaumnya terkait keyakinan mereka yang menyembah benda-benda langit seperti bintang. Ibrahim AS menjelaskan bahwa benda-benda tersebut tidak layak dijadikan Tuhan karena mereka makhluk ciptaan Allah SWT.

    Benda-benda langit itu bisa muncul dan tenggelam serta lenyap dari alam ini. Sementara Tuhan yang Maha Esa kekal dan abadi, tidak ada Tuhan yang layak disembah selain Allah SWT.

    Nabi Ibrahim AS mengatakan kepada kaumnya bahwa bintang-bintang tersebut tidak mungkin dijadikan Tuhan. Ada yang menyebut bintang yang dimaksud adalah Lucifer atau Bintang Fajar.

    Lebih lanjut Ibrahim AS juga menerangkan tentang bulan yang bercahaya lebih besar daripada bintang. Penjelasan ia tingkatkan lagi pada matahari yang bersinar paling terang di antara benda langit lain.

    Nabi Ibrahim AS menjelaskan seluruh benda langit itu tunduk, digerakkan, dan dikuasai berdasarkan kehendak Tuhan sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Fushilat ayat 37.

    “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika hanya Dia yang pantas untuk disembah.” (QS Fushshilat: 37)

    Dalam surah Al An’am ayat 78-80, Allah SWT berfirman:

    “Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.”

    Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

    Kaumnya membantah. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada yang kamu persekutukan dengan-Nya, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?” (QS. Al-An’am: 78-80)

    Menurut Tafsir Ibnu Katsir, melalui ayat tersebut Nabi Ibrahim AS menyampaikan bahwa ia tidak peduli tuhan-tuhan yang kaumnya sembah kecuali Allah SWT. Ia mengatakan semua tuhan yang kaumnya sembah tidak memiliki manfaat, tidak dapat mendengar, dan tidak memiliki akal. Mereka hanyalah benda-benda yang diatur dan dikendalikan oleh Tuhan layaknya seperti bintang dan benda langit lainnya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com