Tag: ngabuburit

  • Ngabuburit Sambil Ngadem Dulu di Danau Ciperna Cirebon



    Cirebon

    Cuaca sedang panas membara. Traveler yang mau ngabuburit sambil ngadem sejenak bisa mampir ke danau Ciperna di Cirebon. Sudah pernah ke sini belum?

    Ada banyak cara untuk menunggu waktu berbuka puasa, salah satunya adalah dengan menghabiskan waktu di alam terbuka. Di Cirebon, ada salah satu destinasi yang bisa jadi pilihan untuk menunggu waktu berbuka puasa, yaitu Danau Ciperna.

    Lokasinya berada tepat di area Lapangan Golf Ciperna yang luas. Memasuki area Danau Ciperna, pengunjung akan disuguhkan dengan rindangnya pepohonan yang banyak tumbuh di sekitar danau.


    Masuk lagi ke dalam, tampak danau Ciperna yang dipenuhi dengan air berwarna hijau. Di sekeliling danau itu, terdapat rerumputan dan juga bangku kayu yang menghadap langsung ke area danau.

    Meski letaknya tidak jauh dari Jalan Raya Cirebon-Kuningan, tetapi, udara di sekitar danau terasa adem. Ditambah dengan hembusan angin sepoi-sepoi membuat suasana ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa di sana menjadi semakin nyaman.

    Suasana Danau Ciperna yang asri dan adem di CirebonSuasana Danau Ciperna yang asri dan adem di Cirebon Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

    Sedikit berbeda dengan di tempat lain, di sekitar danau tidak ada pedagang kaki lima yang menjajakan makanan. Hal ini membuat suasana Danau Ciperna terasa semakin asri dan menenangkan.

    Selain bisa menikmati suasana danau yang asri dengan cara duduk santai atau berjalan kaki mengelilingi danau, pengunjung juga bisa memancing ikan di Danau Ciperna. Sore itu, tampak beberapa orang sedang memancing ikan sambil menikmati suasana Danau Ciperna.

    Salah satu pengunjung yang sering datang ke Danau Ciperna adalah Sendi (21). Menurut dia, Danau Ciperna memiliki suasana yang adem dan nyaman, sehingga cocok dijadikan tempat untuk menunggu waktu berbuka puasa tiba.

    “Nyaman, adem di sini, apalagi jaraknya nggak jauh dari rumah juga, paling berapa menit, ” tutur Sendi, Rabu (5/4/2025).

    Senada dengan Sendi, Doni (22), juga merasa nyaman untuk menghabiskan waktu sore di Danau Ciperna. Menurutnya, meski letaknya di perbatasan Kota dan Kabupaten Cirebon, namun, masih banyak orang yang belum tahu tentang adanya Danau Ciperna.

    Selain nyaman, tidak ada tiket masuk atau biaya parkir di Danau Ciperna, pengunjung hanya perlu memarkirkan kendaraannya dengan tertib di sekitar danau.

    “Kayak tempat hidden gems lah karena masih banyak orang yang belum tahu, padahal lokasinya deket, jadi rasanya nyaman, masih asri, adem juga, nggak terlalu ramai, apalagi di sini masuknya nggak bayar juga, masih gratis, rekomendasi buat yang mau ngabisin waktu sore,” tutur Doni.

    Cara Menuju ke Danau Ciperna

    Danau Ciperna sendiri berlokasi di Desa Ciperna, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Dari Terminal Bus Harjamukti, Kota Cirebon hanya membutuhkan waktu sekitar 12 menit untuk sampai ke Danau Ciperna.

    Untuk rutenya, dari Terminal Bus Harjamukti, bisa langsung belok kiri di Jalan Ahmad Yani lurus terus menuju Jalan Raya Ciperna sampai terlihat gapura kecil sebelah kiri di Jalan Cirebon-Cilimus.

    ——

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Ngabuburit Beda di Pangandaran Sambil Petik Melon Inthanon



    Pangandaran

    Ngabuburit menunggu azan Maghrib di Pangandaran bisa diisi dengan kegiatan yang berbeda, yaitu memetik buah melon langsung dari pohonnya.

    Aktivitas ini bisa dinikmati di kebun melon milik Tuslam, yang berlokasi di Dusun Sukanegara, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Kebun melon ini menggunakan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) yang dikembangkan oleh Tuslam di halaman belakang rumahnya.

    Saat Ramadan, kebun melon milik Tuslam ramai dikunjungi warga, terutama karena sedang memasuki panen raya. Uniknya, ia sengaja tidak memanen seluruh melon yang sudah matang, sehingga pengunjung bisa merasakan sensasi memetik sendiri langsung dari pohonnya.


    Kebun milik Tuslam memiliki luas 130 meter persegi dengan populasi 150 tanaman melon jenis Inthanon. Ia pun berharap kebun ini bisa menjadi destinasi agrowisata baru di kampungnya.

    Tuslam, mengungkapkan bahwa kebun melon ini berawal dari hobinya dalam bertani.

    “Awalnya hanya hobi, tapi kemudian saya coba menanam melon secara hidroponik. Alhamdulillah hasilnya bagus,” tuturnya.

    Sebagai lulusan jurusan pertanian, ia ingin menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya sekaligus berbagi pengalaman dengan masyarakat sekitar.

    Tuslam juga memiliki visi untuk mengembangkan kebunnya sebagai destinasi agrowisata dan edukasi, di mana pengunjung tidak hanya bisa membeli, tetapi juga memetik melon langsung dari pohonnya.

    “Awalnya hanya iseng, tapi saya berpikir bahwa hobi itu harus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ungkapnya.

    Tuslam menjelaskan bahwa kebun melon miliknya baru berjalan selama satu tahun, tetapi dalam lima bulan pertama sudah dua kali panen.

    “Dari awal tanam hingga panen hanya butuh waktu sekitar dua bulan. Dalam satu pohon, hanya dipertahankan satu buah agar kualitasnya terjaga,” jelasnya.

    Melon jenis Inthanon yang ia budidayakan tergolong langka di pasaran. Selain memiliki rasa yang sangat manis, melon ini juga dikenal dengan aromanya yang harum dan teksturnya yang renyah.

    Kebun melon ini selalu ramai dikunjungi, terutama pada bulan Ramadan. “Setiap hari selalu ada pengunjung, mulai dari pagi, siang, hingga sore hari,” ujar Tuslam.

    Pengunjung Tahu dari Media Sosial

    Meski luas lahannya terbatas, kebun ini mampu menghasilkan buah melon yang cukup melimpah. Ika Umika, seorang pengunjung asal Kalipucang, mengaku mengetahui kebun ini dari media sosial dan tertarik untuk datang.

    “Saya dapat info dari media sosial, katanya bisa memetik melon segar langsung dari pohonnya,” ujar Ika.

    Menurutnya, melon merupakan buah favoritnya karena rasanya yang manis dan segar, terutama untuk hidangan berbuka puasa.

    Hal serupa juga dirasakan oleh Rifda, yang mengetahui kebun melon ini dari status WhatsApp temannya.

    “Saya melihat teman update sedang memetik melon disini, jadi saya langsung datang. Kebetulan lokasinya masih dekat dengan rumah,” kata Rifda.

    Kebun Melon Tuslam Menghasilkan Cuan

    Dari hasil panen, Tuslam mengaku bisa memperoleh pendapatan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya operasional.

    “Jika dirata-ratakan, penghasilan per hari bisa mencapai Rp 1 juta lebih. Alhamdulillah, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama menunggu panen berikutnya,” katanya.

    Namun, penghasilan yang lumayan itu dia dapatkan ketika kebun melonnya mengalami musim panen.

    “Kebetulan Ramadan ini pun waktunya panen,” ucapnya.

    Untuk pengunjung yang ingin menikmati pengalaman memetik sendiri, harga satu buah melon dengan berat 1 kg adalah Rp 35 ribu. Sementara dalam sehari kebun Tuslam mampu menjual sekitar 30 kg melon yang dibeli langsung oleh pelanggan.

    “Alhamdulillah, saat ini lebih banyak yang membeli langsung ke kebun,” ucapnya.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com