Tag: ngeteh di tea room

  • Menyeruput Seduhan Matcha hingga Hojicha Langka Asli dari Jepang


    Jakarta

    Sebuah tea room mungil belum lama ini buka di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Pilihan menunya berupa matcha ceremonial hingga hojicha langka asli Jepang.

    Tren minum teh kini mulai merambah generasi muda dengan cara yang unik. Melalui seduhan matcha berkualitas ceremonial asli Jepang salah satunya.

    Untuk menikmati matcha dengan kualitas yang tak main-main, kini juga banyak bermunculan tea room mungil di beberapa wilayah. Di kawasan Kemang, Jakarta Selatan ada tea room yang baru buka bernama Hakuji.


    Hakuji yang awalnya muncul sebagai pop up store untuk menyajikan matcha berkelas ceremonial akhirnya miliki tea room sendiri. Saat detikfood mendatangi Hakuji (9/1) ada ceremonial matcha, hojicha yang langka, hingga cheesecake dengan penyajian unik yang kami cicipi.

    Detail Informasi
    Nama Tempat Makan Hakuji Tea Room
    Alamat Jalan Kemang I No.12H, Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
    No Telp 0856 1172 601
    Jam Operasional Setiap hari, 09.00 – 21.00 WIB
    Estimasi Harga Rp 39.000 – Rp 130.000
    Tipe Kuliner Tea Room
    Fasilitas
    • Area parkir
    • Toilet
    • Makan di Tempat
    • Bawa Pulang
    • dll
    Menyeruput Seduhan Matcha hingga Hojicha Langka Asli dari JepangHakuji hadir sebagai tea room yang menawarkan pengalaman eksklusif menikati teh dan camilan. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Ruangan mungil yang eksklusif

    Sesuai dengan konsepnya ‘tea room’, Hakuji memiliki ruangan yang terbatas. Sehingga untuk datang ke sini, apalagi dalam jumlah rombongan, disarankan melakukan reservasi pada laman yang dicantumkan di Instagram @hakuji_tearoom.

    Bagi tamu yang sudah datang dengan reservasi saja durasinya ditentukan selama 1,5 jam. Walaupun diperbolehkan datang langsung atau walk in, tetapi risiko untuk menunggu meja lebih lama dan durasi yang lebih sebentar untuk mendahulukan tamu yang sudah reservasi harus siap ditanggung.

    Menurut pengamatan kami, ruangan di Hakuji cukup hanya cukup untuk sekitar 20 orang dalam satu waktu. Namun, keterbatasan ini yang membuat pengalamannya lebih eksklusif untuk melihat proses penyeduhan atau menikmati teh yang sudah dipesan tanpa bising yang berlebihan.

    Variasi metode seduhan teh

    Menyeruput Seduhan Matcha hingga Hojicha Langka Asli dari JepangAda dua metode seduh teh yang dapat dipilih sesuai selera tamu. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Ketika datang ke Hakuji, tamu akan dipersilahkan memilih menu yang diinginkan. Saat hendak memilih matcha atau hojicha, ada dua metode yang ditawarkan.

    Pertama, ada Clasic Latte yang menyeduh matcha atau hojicha dengan air bersuhu 70 derajat celcius. Hasil senduhan ini akan memberikan rasa teh yang lebih kuat untuk kemudian dicampur pilihan susu.

    Namun jika ingin rasa teh yang lebih lembut dan creamy bisa memesan Cold Whisk Latte. Bubuk teh akan disaring terlebih dahulu untuk kemudian dikocok menggunakan chasen dengan campuran susu dingin secara langsung. Sehingga hasilnya akan lebih creamy dan rasanya seimbang.

    Pengalaman mencicip matcha dan hojicha yang langka ada di halaman berikutnya.

    Pilihan matcha berkualitas ceremonial

    Menyeruput Seduhan Matcha hingga Hojicha Langka Asli dari JepangMatcha berkualitas ceremonial asli Jepang, banyak variannya di sini. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Mengingat Hakuji populer dengan ceremonial matchanya, ada dua jenis matcha ceremonial yang kami pesan. Keduanya menggunakan metode Cold Whisk Latte untuk mendapatkan rasa yang lembut dan minim pahit.

    Adalah Makoto dan Kiyoe yang kami pesan. Saat memesan matcha, kami juga ditanya jika ingin menambahkan gula mulai dari 100%, 50%, 25%, atau tanpa gula sama sekali.

    Segelas Cold Whisk Latte dengan campuran susu sapi yang kami pesan dibanderol Rp 68.000. Makoto adalah matcha ceremonial tingkat tertinggi yang disajikan oleh Hakuji Tea Room.

    Aromanya menyegarkan seperti rumput basah pada pagi hari. Saat disesap ada semburat rasa mirip kacang yang dipanggang dan umami layaknya rumput laut. Penambahan susu sapi tak membuat rasanya berubah, hanya menambahkan kekentalannya saja.

    Berbeda dengan Makoto, matcha bernama Kiyoe yang kami pesan punya rasa yang lebih unik. Segelas matcha seharga Rp 88.000 ini punya rasa umami atau gurih yang khas lebih kuat daripada Makoto.

    Aromanya didominasi oleh kacang-kacangan, mirip aroma pistachio tetapi lebih lembut. Saat diseruput dengan tambahan susu sapi perpaduan rasa gurih yang kencang di awal berubah menjadi semburat pistachio dan edamame setelah ditelan.

    Hojicha langka yang unik rasanya

    Menyeruput Seduhan Matcha hingga Hojicha Langka Asli dari JepangHojichanya yang langka asli Jepang dapat dinikmati dengan metode Cold Whisk Latte yang lembut. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Selain matcha, kami juga memesan hojicha. Hojicha sendiri serupa dengan matcha, tetapi setelah dipanen daunnya kemudian dipanggang hingga kecokelatan baru dipisahkan dari tulang daunnya dan dihaluskan sampai benar-benar halus.

    Ada tiga jenis hojicha yang ditawarkan yaitu Yoyaku, Aiko, dan Kuromi. Pilihan kami jatuh kepada Aiko yang ternyata salah satu hojicha langka dengan persediaan terbatas.

    Harga secangkir hojichanya dibanderol rata, Rp 62.000. Untuk menikmati hojicha kami masih memilih metode Cold Whisk Latte, tapi dengan campuran susu oat yang disarankan guna mendapat rasa lebih seimbang.

    Benar saja, saat disajikan di meja aromanya langsung berbeda dengan matcha. Aroma seperti beras yang dipanggang kuat terhirup dan berpadu lembut dengan aroma dari susu oat itu sendiri.

    Saat disesap semburat rasa perpaduan antara beras yang dipanggang dan sedikit rasa cokelat langsung menyeruak. Di pangkal lidah terasa juga rasa pahit yang mirip seperti minum espresso.

    Kesan rasanya lebih tak manis dibandingkan dengan matcha. Namun sentuhan rasa umami tetap akan tertinggal setelah Aiko ditelan.

    Perpaduan cheesecake dengan teh

    Menyeruput Seduhan Matcha hingga Hojicha Langka Asli dari JepangSelain diminum, tehnya juga bisa disajikan bersama cheesecake. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Rasanya tak lengkap jika menikmati teh tanpa camilan pelengkap. Hakuji Tea Room menyajikan menu Basque Burnt Cheesecake, Seasonal Nerikiri Wagashi, dan Onigiri yang paling laris dan sering cepat habis.

    Saat mendatangi Hakuji Tea Room kami hanya berkesempatan mencicip cheesecakenya. Namun cheesecake seharga Rp 75.000 di sini juga disajikan dengan cara yang berbeda.

    Cheesecake ala Hakuji disajikan dengan Makoto Matcha Ganache dan Aiko Hojicha Ganache. Ditambah dengan taburan cookie crumble untuk menambah tekstur renyah.

    Untuk cheesecake dengan matcha ganache rasanya berbeda dibandingkan matcha yang diracik sebagai minuman. Campuran makoto dengan cokelat putih membuat rasa khas matcha lebih mendominasi campuran cokelatnya tetapi tetap dengan sentuhan manis dan legit.

    Sementara pada cheesecake yang menggunakan hojicha, aroma panggangnya semakin kuat. Aiko hojicha yang sudah memiliki sentuhan rasa dark chocolate berubah menjadi milk chocolate karena lebih legit.

    Karakter cheesecakenya sendiri cenderung lembut dan tak terlalu kuat cream cheesenya. Namun karakter rasa tersebut yang membuat matcha dan hojicha ganache lebih mudah menyatu dan tidak terlalu berat saat dinikmati.

    Ingin tempat makan atau produk Anda direview oleh detikfodod? Kirim email ke foodreview@detik.com.

    (dfl/odi)



    Sumber : food.detik.com

  • Uniknya Ochazuke Ditemani Secangkir Matcha Ceremonial Asli Kyoto


    Jakarta

    Tea room di dalam kafe ini punya pilihan menu-menu yang unik. Ada tea blend, matcha ceremonial, hingga ochazuke yang memadukan nasi dengan teh.

    Berbeda dengan tea house, tea room bisa tersedia di mana pun. Di dalam sebuah kafe, juga bisa dilengkapi dengan tea room yang punya pilihan teh spesial.

    Di kawasan Jakarta Barat, tepatnya Puri Kembangan, ada kafe yang menawarkan ragam pilihan teh yang unik. Namanya Tsvaya, yang dikelola oleh Yasmine Leevin penuh gairah sebagai pencinta teh dan matcha.


    Ada tujuan tertentu yang dilakukan oleh Yasmine Leevin dalam mendirikan Tsvaya. Ia menyebut selain ingin menyajikan teh yang enak tetapi juga ingin menciptakan tempat berkumpul yang nyaman untuk berbagai komunitas.

    Menyambangi Tsvaya (22/1), detikfood puas menikmati teh hingga menunya yang enak nan unik. Kami juga berkesempatan mengintip aktivitas melukis yang tak kalah menyenangkan.

    Detail Informasi
    Nama Tempat Makan Tsvaya
    Alamat Jalan Puri Kencana, Rukan Grand Puri Niaga K6/2K, Kembangan, Jakarta Barat
    No Telp 0852-8101-1227
    Jam Operasional Senin-Minggu, 08.00 – 20.30 WIB
    Estimasi Harga Rp 20.000 – Rp 200.000
    Tipe Kuliner Fusion Jepang
    Fasilitas
    • Area parkir
    • Toilet
    • Ruang VIP
    • Makan di Tempat
    • Bawa Pulang
    • dll
    Uniknya Ochazuke Ditemani Secangkir Matcha Ceremonial Asli KyotoDi bagian atas tea roomnya, Tsvaya memiliki ruang komunal kedap suara yang cocok untuk berbagai aktivitas. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Area komunal di dalam kafe yang nyaman

    Tsvaya bukan nama khusus yang diberikan untuk sebuah tea room, tetapi di dalam kafe bernama Tsvaya ada sudut khusus teh yang sengaja diciptakan Yasmine Leevin sebagai salah satu pemiliknya.

    “Sebuah tempat supaya komunitas itu bisa berkumpul. Jadi kita itu ada matcha ceremonial dan juga ada tempat untuk melukis di latar luar. Jadi orang itu bisa berkumpul dan bukan cuma makan menu, tapi bisa berkomunikasi dan bisa membentuk sebuah perkumpulan gitu,” ujar Yasmine kepada detikfood.

    Bertepatan dengan kedatangan kami, kami juga diajak mengintip kelas melukis yang sedang berlangsung. Lokasinya berada di lantai yang berbeda, tapi masih gabungan dari bangunan Tsvaya.

    Yasmine juga menyebut bahwa ada banyak kegiatan yang biasa dilakukan di sini. Seperti workshop parfum, membuat lilin, terarium, hingga melukis untuk berbagai tingkatan.

    Pemilik Tsvaya belajar matcha sampai ke Jepang

    Uniknya Ochazuke Ditemani Secangkir Matcha Ceremonial Asli KyotoAdalah Yasmine Leevin, sosok dibalik berbagai penyajian teh berkualitas terbaik dari Tsvaya. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Saat mendirikan Tsvaya, Yasmine punya cara sendiri untuk mengembangkannya. Ia tak segan-segan untuk belajar matcha ceremony di Jepang hingga memilih sendiri perlengkapan yang ingin digunakan di kedai miliknya.

    Yasmine mengaku dirinya sempat belajar khusus tentang pembuatan matcha ceremonial di Jepang. Dirinya juga tak sungkan berkeliling Kyoto untuk mengunjungi langsung para pengrajin guna mendapatkan perlengkapan membuat matcha.

    Begitupula dengan bahan-bahan tea blend atau teh campuran yang dipilih Yasmine menggunakan bahan berkualitas terbaik. Mulai dari bahan-bahan lokal hingga bahan-bahan impor didatangkan langsung guna meracik teh untuk disajikan.

    Pilihan teh hingga menunya yang enak dan unik ada di halaman berikutnya.

    Tea blend yang spesial

    Uniknya Ochazuke Ditemani Secangkir Matcha Ceremonial Asli KyotoAda racikan teh blend Dorian Grey yang menggunakan earl grey dari Inggris, mawar dari Mesir, dan lavender lokal. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Yasmine Leevin menyebut bahwa setiap bahan teh yang terbaik dihasilkan dari tempat-tempat tertentu. Seperti ada Dorian Grey yang disuguhkan sebelum kami memesan banyak menu andalan Tsvaya.

    Dorian Grey terbuat dari teh earl grey yang didatangkan dari Inggris, kelopak bunga mawar dari Mesir, dengan tambahan aroma lavender lokal yang harum lembut. Rasanya pekat tetapi ada sentuhan manis tanpa penambahan gula atau pemanis lainnya.

    Ada juga pilihan menu chai yang diakui Yasmine racikannya otentik dari India. Baginya kekayaan alam Indonesia merujuk pada sumber tehnya, bisa berdaya dengan lebih baik dan tak kalah dari Jepang.

    “Saya pikir tujuannya saya tuh pengen supaya orang Indonesia itu minum teh, kan kita juga perkebunan tehnya banyak,” ujar Yasmine.

    Matcha ceremonial hasil kurasi

    Uniknya Ochazuke Ditemani Secangkir Matcha Ceremonial Asli KyotoMatcha ceremonial yang ada di Tsvaya dikurasi langsung oleh Yasmine dari Kyoto, Jepang. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Beralih ke koleksi matcha, Yasmine yang fokus pada mengembangkan menu-menu khas Jepang juga tak lupa untuk menyajikan matcha. Matcha yang dihadirkan berkelas ceremonial dengan jenis matcha yang dikurasi langsung oleh Yasmine dari Jepang.

    Yasmine tidak memilih matcha-matcha yang sudah diproduksi masif dan diekspor dari produsennya di Jepang. Sehingga ia harus datang sendiri ke Kyoto, mencicipi matcha-matcha di sana, kemudian membawa teh-teh tersebut pulang secara hand carry atau bersamaan dengan barangnya sendiri.

    Kami mencicipi matcha bernama Umi yang merupakan menu baru dari Tsvaya, bahkan belum sempat dicantumkan dalam daftar menu. Yasmine menyebut menemukan Umi saat tak sengaja mencobanya di Kyoto dan berminat untuk membawanya pulang.

    Dalam penyeduhannya Yasmine menggunakan 1 sendok teh matcha dengan air panas bersuhu 80 derajat celcius. Sebelum mulai menyeduh, peralatannya terlebih dahulu disterilkan.

    Kemudian matcha ditambahkan satu gayung kecil air untuk membuat matchanya blooming sehingga siap untuk dikocok. Baru secara perlahan air panas ditambahkan hingga takarannya menjadi 30 mililiter dan dikocok dengan chasen sampai berbuih.

    Matcha yang bagus ialah matcha yang berbuih kecil dan mengilap. Saat diseruput tanpa tambahan susu, Umi memiliki rasa yang pekat, aftertaste yang bersih, dan rasa umami mirip rumput laut yang kuat.

    Ochazuke hingga dessert yang nikmat

    Uniknya Ochazuke Ditemani Secangkir Matcha Ceremonial Asli KyotoHidangan unik di sini ada Ochazuke khas Jepang yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Selain matcha dan tea blend, Tsvaya punya menu makanan andalan. Namanya adalah Ochazuke yang dibanderol Rp 55.000 per porsinya.

    Ochazuke adalah perpaduan antara nasi putih, rumput laut kering, beras merah panggang, serta racikan teh asal Jepang. Kemudian dipadukan dengan karage yang renyah di luar dan juicy di dalam.

    Cara menikmatinya ialah dengan menuangkan teh yang disediakan ke dalam mangkuk. Mengaduk lembut nasi dan seluruh komponennya secara merata baru dinikmati sesuap demi sesuap.

    Tehnya sendiri memiliki rasa yang hambar. Uniknya setelah dituangkan dan tercampur dengan rumput laut, rasanya asin gurih mirip kaldu rumput laut umami yang terasa kuat.

    Setelah puas menikmati ochazuke, ada beberapa makanan penutup yang bisa dinikmati guna mencuci mulut. Pilihan seperti Warabi Mochi dan Caramel Sea Salt Scone yang tak kalah nikmat.

    Warabi mochi dibuat dengan bahan gula aren dan tuile wijen sangrai. Baik mochi maupun sconenya memiliki rasa yang terlalu manis.

    Ternyata memang konsep dari Tsvaya ialah menyajikan hidangan yang tak terlalu manis. Namun citarasa semua makanan dan minuman yang terinspirasi dari hidangan Jepang tetap dipertahankan secara otentik.

    Ingin tempat makan atau produk Anda direview oleh detikfood? Kirim email ke foodreview@detik.com.

    (dfl/adr)



    Sumber : food.detik.com