Tag: nostalgia

  • 5 Resto Chinese Food Jadul di Jakarta yang Masih Pakai Piring Seng Vintage


    Jakarta

    Tak hanya mempertahankan resep otentik puluhan tahun, restoran Chinese food legendaris ini juga masih pakai piring seng yang ada sejak dulu.

    Bagi kebanyakan orang, makan di restoran legendaris tak hanya sekedar untuk menikmati makanannya saja, tapi juga jadi ruang nostalgia hingga untuk mengenang momen manis di masa lalu.

    Di Jakarta, ada banyak restoran legendaris yang sudah berusia puluhan tahun dan masih beroperasi sampai sekarang. Kebanyakan merupakan restoran Chinese food yang eksis tahun 1960-an.


    Tak heran kebanyakan tempat makan ini masih mempertahankan suasana jadul sampai peralatan makan yang sudah jarang dipakai di restoran modern. Salah satunya piring saji berbahan stainless steel atau dulu lebih akrab disebut piring seng.

    Piring seng justru menambah kesan vintage yang bikin pengunjung nostalgia. Berikut lima restoran Chinese food legendaris di Jakarta yang masih menggunakan piring seng untuk makanannya.

    1. Restoran Trio

    Restoran TrioRestoran Trio Foto: dok. detikFood

    Bagi kamu yang melintas di kawasan Menteng, Jakarta Pusat pasti mudah menemukan Restoran Trio. Tempat makan legendaris ini berdiri di tepi jalan dengan bangunan sederhana berwarna hijau dan putih yang khas.

    Berdiri sejak1947, restoran ini dikenal dengan sajian khas masakan ala Kanton yang autentik dan tetap mempertahankan cita rasa aslinya hingga kini. Beberapa menu andalannya antara lain lumpia udang, mie goreng oriental, ayam lada hitam, fuyunghai, serta sup asparagus, semuanya dimasak dengan resep warisan turun-temurun.

    Ciri khasnya juga terletak pada penggunaan piring seng yang sudah berusia puluhan tahun. Rasa makanannya pun terkenal lezat.

    Tak heran jika pelanggan yang datang berasal dari beragam kalangan, mulai dari warga sekitar hingga pejabat. Konon, mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pun termasuk pelanggan setianya. Harga makanannya berkisar Rp 100.000 ke atas, sepadan dengan porsi besar dan rasa yang memuaskan.

    2. Restoran Paramount

    Restoran Paramount Jadi Tempat Makan Keluarga Legendaris Penuh KenanganRestoran Paramount Jadi Tempat Makan Keluarga Legendaris Penuh Kenangan Foto: detikFood

    Tak jauh dari Restoran Trio, ada lagi tempat makan legendaris di kawasan Menteng bernama Restoran Paramount. Restoran ini menempati bangunan yang cukup luas dengan nuansa klasik yang masih dipertahankan sejak dulu.

    Berdiri sejak 1970, Paramount dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner yang menyajikan masakan Chinese food autentik dan tetap ramai dikunjungi hingga kini.

    Dengan ruang makan yang lapang, restoran ini sering digunakan untuk acara keluarga maupun pesta kecil. Beberapa menu yang paling diminati antara lain sup jagung telur puyuh, lumpia Paramount ayam, udang kuluyuk, hingga bistik saus tomat. Setiap hidangan diolah dengan cita rasa khas oriental yang kaya bumbu.

    Tentunya piring saji yang digunakan masih menggunakan piring seng, meskipun untuk piring makan sudah menggunakan piring keramik. Harga makanannya berkisar mulai dari Rp 90.000, sebanding dengan porsinya yang melimpah.

    3. Rendezvous

    Tak Tergerus Zaman, Restoran Legendaris 'Rendezvous' Eksis Sejak 1973Tak Tergerus Zaman, Restoran Legendaris ‘Rendezvous’ Eksis Sejak 1973 Foto: detikFood

    Satu lagi restoran Chinese food legendaris di kawasan Jakarta Pusat adalah Rendezvousyang berlokasi di Jalan Johar No. 2B-C, Kebon Sirih. Berdiri sejak 1973, tempat makan ini sudah melayani pelanggan selama lebih dari setengah abad dan tetap mempertahankan pesonanya hingga kini.

    Suasana klasik di dalamnya memberi nuansa nostalgia, seolah membawa pengunjung kembali ke masa lalu, tapi tetap nyaman untuk bersantap bersama keluarga. Hidangan andalan Rendezvous adalah bistik yang terkenal karena cita rasanya yang kaya dan lembut.

    Selain itu, semua piring saji di sini masih menggunakan piring seng yang vintage. Jangan lupa pesan menu andalannya seperti lumpia udang goreng, nasi goreng kepiting, capcay, bakmi goreng, hingga siomay Bandung juga menjadi favorit pengunjung. Dengan harga mulai sekitar Rp 100.000 per porsi, kelezatan yang disajikan terasa sepadan dengan kualitasnya.

    4. RM Otista Jaya

    .RM Otista Jaya. Foto: Site Culinary/Visual

    Bagi pencinta kuliner Chinese food, RM Otista Jaya di kawasan Jatinegara, JakartaTimur bisa jadi pilihan tepat. Rumah makan legendaris yang berdiri sejak 1976 ini terkenal dengan sajian Chinese food autentik dengan harga ramah di kantong.

    Restorannya luas dan nyaman menghadirkan nuansa klasik lewat penggunaan piring seng sebagai wadah saji. Menu yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari mie, bihun, kwetiau, bakso, pangsit, ayam, sapi, ikan, lindung, hingga kodok, yang dimasak dengan berbagai saus seperti rica-rica, mentega, tauco, dan nanking.

    Salah satu menu andalannya Mie Cap Ayam Kungfu, terkenal dengan mie lembut, ayam gurih, dan tingkat kepedasan yang bisa dipilih. Semua kelezatan ini bisa dinikmati dengan harga mulai Rp 45.000 per porsi.

    5. Fajar Restaurant (Google Photos: Andy Hendrawan)

    .Fajar Restaurant. Foto: (Google Photos: Andy Hendrawan)

    Fajar Restaurant di kawasan Kembangan dikenal sebagai salah satu restoran Chinese food legendaris di Jakarta Barat. Berdiri sejak 1958, tempat makan ini mempertahankan suasana klasik dengan konsep sederhana dan penggunaan piring seng lawas yang khas.

    Mengusung konsep restoran keluarga, setiap hidangan di sini disajikan dalam porsi besar sehingga cocok untuk disantap bersama. Menu yang tersedia sangat beragam, mulai dari olahan ikan, ayam, sapi, kodok, kepiting, tahu, hingga aneka sup. Salah satu menu favorit pelanggan adalah lumpia goreng yang renyah dan lezat, serta fuyunghai kepiting yang gurih dan kaya rasa.

    Semua hidangan di restoran ini dibanderol dengan harga mulai sekitar Rp 90.000 per porsi, sebanding dengan cita rasanya yang memanjakan lidah.

    (sob/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Bioskop Legenda hingga Jadi Tempat Transaksi PSK



    Medan

    Di Medan, ada satu tempat yang begitu melegenda, yaitu Medan Plaza. Zaman dulu, tempat ini jadi favorit buat nonton film hingga buat transaksi dengan PSK.

    Apabila melintas di Jalan Iskandar Muda dari arah Jalan Gatot Subroto di Medan, coba lihat sisi kiri jalan, di situ ada bekas mal legendaris dan tertua di Kota Medan. Namanya Medan Plaza.

    Namun sayang, mal ini sudah tiada usai terjadi kebakaran pada Agustus 2015 silam. Saat ini eks Medan Plaza hanya tersisa lahan kosong. Lahan tersebut dipagari seng yang mengelilingi bangunan.


    Area sekitar lahan eks Medan Plaza ini sering menjadi pangkalan tukang becak untuk menunggu penumpang. Para tukang becak ini pun bercerita sering mendapat sewa dari pengunjung usai pulang dari Medan Plaza.

    “Dulu banyaklah penumpang dari sini (Medan Plaza), udah ada langganan kami dari pegawai di sana. Biasanya kita jemput pas tutup mal, mereka udah keluar itu jam 11 malam. Ada juga kita jemput anak muda, lucunya jumpa pertama mereka di Medan Plaza ini. Si laki-lakinya yang antar pulang perempuannya naik becak, terus baru kita antar ke tempat laki-lakinya. Pernah juga kita antar pasangan ke hotel, macem-macem lah di mal ini,” kenang Sugi, tukang becak yang mangkal di sekitaran lahan eks Medan Plaza.

    Selain Sugi, warga Medan banyak menyimpan kenangan dengan plaza yang berdiri tahun 1984 ini. Apalagi, Medplaz, nama populernya, punya bioskop dengan harga termurah se-kota Medan saat itu.

    Suhas, warga yang masih merasakan pelayanan dari Medan Plaza, bercerita jika ia sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya untuk nongkrong di plaza ini.

    “Ada kenangan zaman sekolah jadi tempat tujuan utama nonton bioskop karena paling murah plus boleh makan dari luar, cuma ya itu bioskopnya kurang nyaman,” ungkap Suhas.

    Suhas bercerita bioskop di Medan Plaza ini menjadi favorit karena selain murah namun juga boleh membawa makanan dari luar.

    “Satu-satunya bioskop murah di mal Medan yang bisa bawa makanan dari luar. Dulu tiketnya ada yang paket Rp 15 ribu,” Suhas.

    Tak hanya Suhas yang rindu momen tersebut. warga medan lainnya, Irhan juga mengenang momen dia dan saudara-saudaranya dari kampung begitu senang menonton bioskop di mal tertua ini.

    “Yang paling dirindukan itu ya bioskopnya. Dulu waktu saudara-saudara ke Medan pasti kita nonton bioskop di Medan Plaza, nonton film Nenek Gayung waktu itu. Siap nonton kami pasti ke Plaza Medan Fair untuk jalan-jalan dan makan,” ujar Irhan.

    Sering Digoda Pria Genit

    Selain bioskop, ternyata banyak warga Medan yang mengenang hal-hal mengerikan seperti berjumpa dengan pria genit yang banyak menggoda para pengunjung, khususnya remaja dan anak kuliahan.

    “Waktu kuliah dulu pernah mau ke bioskop diikutin bapak-bapak mulai dari pintu masuk sampai ke pintu masuk bioskop. Kalau ke sana enggak berani pergi sendiri, banyak om-om genit,” kata Via.

    Hal serupa juga turut dirasakan Erna, warga Medan yang pernah ‘ditawar’ pria hidung belang usai berbelanja pakaian di Medan Plaza.

    “Kenangan paling parah saya pernah ditawar om-om di pintu masuk waktu nunggu taksi. Saya langsung lari ke tempat security itupun mau diikuti tapi saya lari, aduh, lucu tapi seram juga lah waktu itu,” pungkasnya.

    Jadi Tempat Transaksi PSK

    Sejarahwan Sumut Budi Agustono mengungkapkan bahwa Medan Plaza memiliki daya tarik dengan memiliki banyak tenant seperti restoran es krim, warung rujak yang populer, dan juga bioskop.

    “Sebenarnya pada tahun 1990-an, Medan Plaza tidak terlalu modern lah karena awalnya dirancang untuk kelas menengah ke bawah karena produk yang dijual biasa. Tapi di situ ada yang menarik banyak orang seperti es krim Fontain yang tiap hari ramai dan cafe waktu itu belum populer. Jadi hiburan sore kalau tempat nongkrong ya Medan Plaza,” ungkap Budi.

    Tak hanya itu, lokasi Medan Plaza yang terkoneksi dengan Jalan Nibung Raya ternyata juga menjadi magnet tersendiri terjadinya pertemuan ataupun transaksi Pekerja Seks Komersial (PSK).

    “Antara Medan Plaza dan Nibung Raya itukan terkoneksi juga. Ini menjadi salah satu wilayah yang termasuk PSK yang bertransaksi di sekitar Medan Plaza. Jadi dengan mudah melihat perempuan bertransaksi dengan siapa saja,” ujarnya.

    Lanjutnya, Budi menyebutkan transaksi PSK di Medan Plaza merupakan hal yang biasa terjadi, terlebih pada sore hari.

    “Mulai sekitar jam 5 sore atau jam 7-8 malam itu banyak sekali orang iseng dan kemudian banyak perempuan yang bertemu dengan banyak pria, mungkin transaksinya tidak di situ tapi bertemu di sana. Saat itu merupakan pemandangan umum di sekitar Medan Plaza, makanya Medan Plaza itu sebagai magnet untuk banyak orang ke sana,” kata Budi.

    “Saya kira ini yang tidak dimiliki plaza waktu itu. Di situ terjadi tempat orang bertemu untuk hiburan, belanja, dan menikmati suasana pada sore hari,” pungkasnya.

    “Memang Medan Plaza ini zona agak “kemerah-merahan”, jadi saya kira ini saling berkaitan dan memang sirkuit ekonomi ini saling berjalan,” tutupnya.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikSumut.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Nongkrong di Kafe Betawi Jadul Tanah Abang, Tempatnya Fotogenik



    Jakarta

    Waroeng Daon Lontar, sebuah kafe bernuansa Betawi jadul, yang berada di Jl. Lontar Raya, Tanah Abang, Jakarta. Tempatnya nyaman dan harga makanan terjangkau.

    Kafe yang baru merayakan ulang tahun pertamanya itu dibangun berdasarkan rekomendasi dari orang tuanya yang sangat menyukai nuansa jadul dan barang antik.

    “Orang tua saya memang sangat menyukai barang-barang antik dan desain vintage. Mereka merekomendasikan untuk membuka kafe dengan tema ala jaman dahulu,” kata Waroeng Daon Lontar, Putera, saat berbincang dengan detikTravel, Minggu (15/9/2024).


    Putera menceritakan bahwa desain kafe itu benar-benar dipengaruhi oleh selera dan keinginan orang tuanya.

    “Desainnya pun merupakan ide dari orang tua saya. Orang tua saya benar-benar ingin menciptakan suasana yang membawa nuansa jadul,” kata Putera.

    Waroeng Daon Lontar, kafe betawi jadulWaroeng Daon Lontar, kafe betawi jadul Foto: (Asti/detikTravel)

    Urusan menu makanan, Putera sempat berencana menyajikan makanan khas Betawi di kafe itu, seperti soto dan kerak telor. Tetapi, setelah mempertimbangkan waktu dan proses penyajiannya, ia memutuskan untuk menyediakan menu yang lebih umum dan praktis.

    “Saya memang ingin menyajikan menu Betawi awalnya, tetapi proses penyajiannya memerlukan waktu yang lama. Jadi, saya memilih untuk menyajikan menu yang lebih sesuai dengan konsep kafe pada umumnya,” kata Putera.

    Waroeng Daon Lontar pada mulanya dibuka untuk melayani tamu-tamu dari kantor advokat milik orang tua Putera.

    “Awalnya, kafe itu hanya dibuat untuk melayani tamu kantor orang tua saya. Namun, semakin lama semakin banyak pengunjung, ditambah lagi banyak yang merekam video dan menjadi viral di FYP. Dari situ, saya mulai berinovasi untuk meningkatkan kualitas kafe ini,” ujar Putera.

    Itu mencerminkan bahwa kafe tersebut tidak hanya menjadi tempat bersantap, tetapi juga bagian dari strategi pengembangan bisnis keluarga mereka.

    Perjalanan kafe ini tidak selalu mulus. Putera menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan kafe ini dari sekadar tempat untuk tamu kantor menjadi destinasi populer di Tanah Abang.

    “Saya tidak menyangka bahwa kafe ini akan berkembang seperti sekarang. Awalnya, kami hanya berencana untuk melayani kebutuhan tamu kantor. Namun, kami berhasil mengembangkan kafe ini dan kini mulai ramai dikunjungi,” kata Putera.

    Tanggal 7 Agustus 2024 menandai satu tahun perayaan Waroeng Daon Lontar sejak grand opening pada 7 Agustus 2023.

    Waroeng Daon Lontar, kafe betawi jadulWaroeng Daon Lontar, kafe betawi jadul Foto: (Asti/detikTravel)

    “Pada 7 Agustus bulan kemarin, Kami baru saja merayakan satu tahun kafe kami,” ujar Putera. Perayaan ini menjadi kesempatan untuk refleksi dan perencanaan masa depan kafe.

    Dalam satu tahun terakhir, Putera berharap agar kafe ini terus ramai dikunjungi dan menjadi berkah. Putera juga berharap agar kafe ini dapat bertahan dan terus berkembang di masa depan.

    “Saya berharap kafe ini tidak hanya ramai, tetapi juga membawa berkah. Semoga konsep Betawi jadul ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujar dia.

    Dengan suasana vintage yang kental dan desain yang unik, Waroeng Daon Lontar menjadi tempat yang menarik untuk menikmati makanan dan merasakan nostalgia masa lalu.

    “Kafe ini dirancang untuk memberikan pengalaman yang berbeda dari tempat makan lainnya. Kami ingin pengunjung merasakan suasana yang nyaman dan membawa pengunjung kembali ke masa lalu,” kata Putera.

    Putera juga menekankan bahwa meskipun harga menu terjangkau, kualitas tetap menjadi prioritas utama.

    “Kami ingin memastikan bahwa semua orang bisa menikmati makanan dengan harga yang wajar tanpa mengurangi kualitas dan suasana,” kata dia.

    Itu menunjukkan komitmen Putera untuk menjaga standar pelayanan dan kepuasan pelanggan.

    Seiring dengan perkembangan zaman, Waroeng Daon Lontar berusaha untuk tetap relevan dengan menyesuaikan konsep kafe tanpa mengorbankan esensi Betawi jadul yang diusung.

    “Meskipun zaman terus berkembang, kami berusaha untuk mempertahankan konsep Betawi jadul yang menjadi ciri khas kafe ini,” kata Putera.

    Waroeng Daon Lontar menawarkan pengalaman yang berbeda dan menyenangkan di tengah kesibukan Jakarta.

    “Kami ingin pengunjung merasa seperti berada di masa lalu yang penuh kenangan, sambil menikmati makanan dan suasana yang nyaman di era modern,” kata Putera.

    Itu menjadi kombinasi yang menarik antara nostalgia dan kenyamanan. Soal harga juga tak menguras kantong. Makanan dibanderol antara Rp 25.000 hingga Rp 50.000. Meskipun harga dapat berubah sewaktu-waktu, kafe ini tetap menjadi pilihan menarik bagi pengunjung.

    Bagi anda yang ingin merasakan suasana Betawi jadul dan menikmati makanan dengan harga terjangkau, Waroeng Daon Lontar adalah pilihan yang tepat.

    “Jika Anda ingin menikmati pengalaman makan yang unik dan merasakan nuansa masa lalu, Waroeng Daon Lontar adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi,” ujar Putera.

    Jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Waroeng Daon Lontar dan merasakan keunikan kafe ini. Dengan desain yang menarik dan konsep yang khas, kafe ini menawarkan pengalaman bersantap sambil bernostalgia di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

    (bnl/bnl)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kampoeng Gallery, Kafe Antik di Jaksel Pas buat Long Weekend



    Jakarta

    Di tengah pesatnya perkembangan kafe kekinian yang mengutamakan gaya minimalis, terdapat sebuah kafe dengan tema barang antik bernama “Kampoeng Gallery”. Pas, buat mengisi long weekend-mu.

    Kafe barang antik itu berada di pusat kota Jakarta Selatan, yakni di Kebayoran lama, pas di samping Stasiun Kebayoran. Traveler hanya perlu menuju pintu keluar dan berjalan sedikit maka akan terlihat suasana tempat nongkrong dengan tulisan ‘Kebayoran Vintage/Kampoeng Gallery’.

    Berada di gang yang tersembunyi dengan papan nama kafe yang sederhana, kafe itu ternyata penuh warna. Dinding-dindingnya dipenuhi beraneka lukisan dan rak-rak yang diisi dengan buku-buku, pajangan, dan barang-barang antik.


    Gagasan membuka Kampoeng Gallery ternyata merupakan pelampiasan hobi si pemilik Ivan Moningka. Dia senang mengoleksi barang bekas.

    Kampoeng Gallery di Kebayoran Lama, Jakarta SelatanIvan Moningka, pemilik Kampoeng Gallery di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Syanti Mustika/detikcom)

    “Saya memiliki hobi sejak saya SMA dalam mengoleksi barang bekas dan saya suka sekali dengan musik. dari sinilah saya mencari kaset, piringan hitam, CD yang susah ditemukan di berbagai toko maupun koleksi orang lain,” kata Ivan dalam perbincangan dengan detikTravel beberapa waktu lalu.

    “Saat saya hunting musik kesukaan saya, bertemulah dengan berbagai buku-buku, poster hingga benda-benda unik yang akhirnya saya jadikan koleksi,” dia menambahkan.

    Menggali Nostalgia di Tengah Kota Modern

    Kampoeng Gallery yang berada dekat di Pasar Kebayoran LamaKampoeng Gallery yang berada dekat di Pasar Kebayoran Lama (Yenny Mustika Sari/detikcom)

    Ketika memasuki Kampoeng Gallery, traveler disambut dengan atmosfer yang akan membawa kembali ke masa lalu. Dekorasi yang menciptakan suasana vintage, seperti berbagai macam barang-barang antik, bangku-bangku dan meja yang sederhana.

    Bahkan, Lukisan yang menghiasi dinding kafe menawarkan keindahan, menciptakan ruang yang nyaman, dan penuh dengan rasa seni yang mendalam dan juga rak buku yang dipenuhi dengan koleksi literatur klasik menambah kesan nostalgia.

    Menjaga Tradisi di Tengah Tren Serba Modern

    Kampoeng Gallery di Kebayoran Lama, Jakarta SelatanKampoeng Gallery di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Syanti Mustika/detikcom)

    Di era maraknya kafe kekinian sering kali mengedepankan desain sleek dan high-tech, Kampoeng Gallery mengandalkan daya tarik barang antik. Bagaimana sebuah tempat dapat mempertahankan nilai-nilai dan gaya klasik di tengah dominasi tren kafe kekinian.

    Dengan interior yang tidak hanya dipenuhi dengan koleksi barang-barang antiknya saja, Kampoeng Gallery memberikan adanya pengalaman yang menghubungkan visual nostalgia yang mendalam.

    Memadukan sentuhan Klasik Kampoeng Gallery adalah contoh yang baik tentang bagaimana sebuah kafe dengan desain antik dapat mempertahankan tradisi bersaing di dunia modern.

    Dengan menyatukan kebutuhan dan ekspektasi pengunjung seperti menu makan dan minuman yang bervariatif, terdapat colokan yang mendukung jika traveler ingin WFA menciptakan ruang yang nyaman dan fungsional sambil tetap mempertahankan sentuhan klasik.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com