Tag: obesitas

  • Berat Badan Saykoji Turun 40 Kg Tanpa Pantang Nasi, Begini Tipsnya


    Jakarta

    Ignatius Rosoinaya Penyami alias Igor Saykoji dalam beberapa tahun terakhir sering membagikan aktivitas diet yang Ia jalani di akun Instagram pribadinya. Rapper hitz tanah air itu lagi rajin-rajinnya olahraga dan mengatur pola makan untuk menurunkan berat badan.

    Igor mengaku kalau pola makannya jauh berbeda dengan yang dulu. Konsumsi makanan lebih dijaga dan tidak asal-asalan. Sekarang, dia harus melakukan kalori defisit yakni jumlah kalori yang masuk harus lebih banyak yang dikeluarkan.

    “Untuk kalori itu bukan berarti kita harus makan sedikit loh, ternyata harus mengurangi makanan yang kalorinya tinggi. Saya hindarin gula dan karbohidrat berlebih. Tapi, bukan berarti nggak boleh dimakan ya. Ukurannya yang ditakar,” kata Igor saat ditemui detikcom di Jakarta Selatan, Minggu (3/3/2024).


    Dia mengaku tidak menghindari konsumsi nasi, tapi memang lebih banyak konsumsi serat, seperti buah dan sayur. Tidak kalah penting juga untuk konsumsi protein karena otot di dalam tubuh akan berkembang oleh protein.

    “Otot itu bisa dibangun dengan modal protein, makanya paling banyak konsumsi protein. Saya bisa lebih banyak ngenyangin diri dengan makan dada ayam dibanding makan lauk sedikit terus nasinya banyak, apalagi makan snack manis,”

    Selama menjalankan diet dengan menjaga pola makan salah satunya, Igor berhasil turun sekitar 40 kg. Semula berada di angka hampir 150 kg, sekarang sudah berada di sekitar 100 kg.

    Tentunya dengan berat badannya yang turun jauh, Dia mengaku sudah berganti size baju. Sekarang sudah bisa di size XL atau XXL. Sedangkan dulu, paling kecil di XXXL dan itu ngepress di badan.

    (up/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Begini Kriteria Orang yang Bisa Jalani Operasi Bariatrik demi Turun BB


    Jakarta

    Operasi bariatrik kerap menjadi pilihan untuk penurunan berat badan mereka yang mengidap obesitas. Padahal, tidak semua orang dengan berat badan berlebih bisa menjalani prosedur tersebut.

    Operasi bariatrik merupakan prosedur medis untuk membantu menurunkan berat badan pada orang dengan obesitas morbid, yakni obesitas dengan indeks massa tubuh di atas 40.

    Namun, ternyata tidak semua orang bisa menjalaninya. Pakar gizi masyarakat Dr dr Tan Shot Yen, MHum, mengungkap indikasi dari prosedur tersebut.


    “Tentu saja bariatrik itu adalah tindakan invasif. Jadi, kita tidak akan menganjurkan pasien melakukan tindakan invasif kalau yang konvensional belum dijalankan,” jelasnya dalam konferensi pers Kementerian Kesehatan, Senin (4/3/2024).

    Indikasi yang menandakan seseorang bisa melakukan prosedur operasi bariatrik, yakni:

    • Indeks massa tubuh harus di atas 32,5
    • Memiliki penyakit penyerta

    dr Tan menegaskan orang yang bisa melakukan operasi bariatrik memang memiliki kondisi lain atau komorbid yang mengganggu kehidupannya. Misalnya seperti diabetes hingga gangguan metabolisme yang harus dalam kondisi stabil.

    “Pokoknya amburadul deh, sudah gangguan metabolisme, ada hipertensi, hiperkolesterol, arthritis, yang mana sebelum dioperasi itu semua harus distabilkan dulu,” tegas dr Tan.

    “Jadi, nggak bisa tiba-tiba lambungnya digunting setengah. Tentu ada indikasi dan indikasi setiap orang itu tidak sama,” sambungnya.

    NEXT: Kapan bisa menjalani operasi bariatrik?

    Kapan Bisa Operasi Bariatrik?

    Pada kesempatan yang sama, dokter spesialis kedokteran olahraga dr Elsye, SpKO, mengungkapkan soal kapan seseorang bisa melakukan operasi bariatrik. Menurutnya, pasien harus terlebih dulu dilihat dari faktor fisik dan aktivitas fisiknya.

    Pasien yang akan menjalani operasi bariatrik perlu menjalani pola makan dan aktivitas fisik sesuai arahan dokter dalam waktu 3-6 bulan. Jika metode itu tidak berhasil dan tidak ada perubahan pada penyakit penyerta yang diidapnya, dianjurkan untuk konsultasi ke dokter untuk proses operasi.

    Setelah operasi bariatrik, pasien akan dianjurkan untuk konsultasi ke dokter spesialis kedokteran olahraga. Ini dilakukan agar pasien bisa tetap aktif secara fisik pasca operasi.

    “Setelah operasi bukan berarti harus duduk diam saja. Bukan alasan jadi malas bergerak,” beber dr Elsye.

    “Tapi, kita harus tetap melakukan olahraga dan biasanya kita pantau dan tetap bekerja sama dengan dokter bedah,” pungkasnya.

    (sao/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Sukses Pangkas 26 Kg, Tya Ariestya Ngaku Tak Pernah Skip Nasi saat Diet


    Jakarta

    Aktris Tya Ariestya menjadi salah satu selebriti yang dikenal dengan perjalanan dietnya. Sempat mengalami obesitas tingkat 1, Tya saat ini ketat untuk urusan pola makan.

    Bercerita kepada detikcom, wanita berusia 37 ini mengatakan saat ini sedang menjaga berat badannya agar tak lagi obesitas sejak berhasil turun 26 kg dalam setahun. Tidak ingin terlalu tersiksa saat diet, Tya mengaku masih makan nasi saat sedang diet.

    “Nasi masih makan, selama program diet itu aku masih makan nasi nggak pernah nggak makan nasi,” ujarnya.


    Meskipun sudah mencapai berat badan yang diinginkan, Tya tetap memperhatikan kalori. Ia selalu menghitung jumlah kalori yang dibutuhkan tubuh dan yang harus dibakar. Dia juga membatasi jenis makanan yang dikonsumsinya.

    Saat diet, sebagian besar orang mungkin menghindari nasi. Tidak sedikit yang beranggapan makan nasi saat dalam program penurunan berat badan bikin diet gagal.

    Menurut spesialis gizi klinik dr Davie Muhamad, SpGK, makan nasi saat diet itu masih diperbolehkan. Karbohidrat yang ada pada nasi adalah sumber energi tubuh, terutama untuk otak.

    “Jadi, nasi masih nggak masalah asal porsinya disesuaikan, tergantung tiap orang. Karena setiap orang itu kebutuhan kalorinya berbeda-berbeda,” tutur dr Davie pada detikcom.

    dr Davie mengatakan prinsip utama dalam menurunkan berat badan adalah defisit kalori. Dia menekankan untuk menerapkan pola diet harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan berolahraga rutin.

    “Misalnya makannya saja yang diatur, tapi nggak olahraga, jadi nggak bisa turun berat badannya. Atau olahraga saja, tapi makannya bebas ya nggak akan optimal hasilnya,” tutur dia.

    (kna/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Makan Lewat Jam 5 Sore Ternyata Punya Efek Merugikan Kesehatan


    Jakarta

    Waktu makan bukan sekedar urusan mengisi perut. Penelitian terbaru menyebut makan lewat jam 17.00 berdampak negatif untuk kesehatan.

    Selama puluhan tahun para dokter sudah memperingatkan orang-orang yang ingin menurunkan berat badan, untuk menghindari makan setelah matahari terbenam. Rupanya hal ini tak sekedar imbauan saja.

    Baru-baru ini penelitian terbaru dari Universitat Oberta de Catalunya (UOC) dan Columbia University. Dilansir dari DailyMailUK (22/11), penelitian ini membahas tentang efek makan di atas jam 5 sore pada tubuh seseorang.


    Makan Lewat Jam 5 Sore Ternyata Punya Efek Merugikan KesehatanMakan Lewat Jam 5 Sore Ternyata Punya Efek Merugikan Kesehatan Foto: Ilustrasi iStock

    Penelitian ini mengungkapkan bahwa setidaknya makan dengan porsi 45% asupan kalori harian di pukul 5 sore, dapat menghambat kemampuan tubuh untuk mengatur kadar gula darah.

    Selain itu makan saat larut malam dapat meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes.Karena itu para peneliti ini melihat bahwa pola makan intermittent fasting (puasa intermiten), yang membatasi orang untuk makan di sore dan malam hari ini cukup baik.

    Kebanyakan orang yang melakukan puasa intermiten mengonsumsi sebagian besar kalori mereka di awal hari. Sementara berhenti makan di sore hari.

    “Kemampuan tubuh untuk melakukan proses metabolisme glukosa terbatas pada malam hari. Hall ini disebabkan karena sekresi insulin berkurang, dan sensitivitas sel-sel kita terhadap hormon ini menurun karena ritme sirkadian (circadian rhythm),” jelas Dr Diana Díaz Rizzolo selaku salah satu peneliti.

    Makan Lewat Jam 5 Sore Ternyata Punya Efek Merugikan KesehatanMakan Lewat Jam 5 Sore Ternyata Punya Efek Merugikan Kesehatan Foto: Ilustrasi iStock

    Penelitian yang dipublikasikan dalam ‘Nutrition and Diabetes’ ini, melibatkan 26 orang berusia 50 hingga 75 tahun yang kelebihan berat badan atau obesitas. Serta mengalami gejala pradiabetes atau diabetes tipe 2.

    Kelompok orang ini dibagi menjadi dua kelompok: pemakan awal dan pemakan akhir. Mereka mengonsumsi makanan yang sama dan jumlah kalori yang sama, hanya pada waktu yang berbeda.

    Mereka yang makan lebih banyak setelah pukul 5 sore, memiliki kadar glukosa yang lebih tinggi setelah tes glukosa. Hal ini menunjukkan toleransi glukosa yang lebih buruk.

    Sementara itu puasa intermiten terbukti secara signifikan meningkatkan kemampuan tubuh untuk menggunakan glukosa dari makanan secara efektif. Serta memanfaatkan insulin untuk mengelola kadar gula darah. Karena kebanyakan orang yang melakukan puasa intermiten biasanya tidak makan malam.

    Makan Lewat Jam 5 Sore Ternyata Punya Efek Merugikan KesehatanMakan Lewat Jam 5 Sore Ternyata Punya Efek Merugikan Kesehatan Foto: Ilustrasi iStock

    Dengan membatasi waktu makan dan memperpanjang waktu tanpa makanan, tubuh dapat memproses glukosa dengan lebih baik dan lebih efisien.

    Peneliti menambahkan makanan yang biasanya dimakan di malam hari lebih padat kalori dan kebanyakan makanan olahan.

    “Dua hal ini mungkin menjelaskan mengapa makan larut malam sering dikaitkan dengan berat badan dan massa lemak yang lebih besar,” tutur Dr. Diaz.

    Efek buruk makan malam juga dijelaskan di penelitian lain yang dilakukan oleh Harvard. Kebanyakan orang yang terbiasa makan di malam hari tubuhnya membakar kalori dengan kecepatan yang lebih lambat.

    Faktor ini kemudian mendorong tubuh untuk menyimpan lemak dan mengurangi pemecahan lemak, sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan lemak pada tubuh.

    Di akhir penelitian, para ahli menyarankan agar orang berhenti makan sebelum jam 5 sore agar tubuh bisa mencerna kalori sampai glukosa lebih efektif.

    (sob/odi)

    Sumber : food.detik.com

    Alhamdulillah Makanan Minuman Sehat Di JumatBerkah.Com اللهم صل على محمد
    Source : unsplash.com / Dan Gold

  • Waspada! Ini 6 Risiko Kecanduan Makanan Cepat Saji


    Jakarta

    Fast food atau makanan cepat saji memang enak dan murah, tetapi konsumsi berlebihan dapat membawa dampak negatif bagi tubuh dalam jangka panjang.

    Makanan cepat saji menjadi pilihan populer karena mudah ditemukan, rasanya enak, penyajiannya cepat dan harganya lebih murah. Namun mengkonsumsi fast food berkalori tinggi setiap hari dalam porsi besar dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan.

    Alasannya berasal dari kandungan lemak jenuh, natrium yang tinggi, serta gula tambahan tersembunyi yang berbahaya untuk kesehatan. Meski begitu, bukan berarti makanan cepat saji harus dihindari sepenuhnya. Dalam porsi kecil dan sesekali, makanan ini masih bisa masuk dalam pola makan sehat.


    Menurut Ahli gizi Nicole Rodriguez, konsumsi makanan cepat saji setiap hari dapat menyebabkan berbagai efek samping, seperti peningkatan tekanan darah, kolesterol tinggi, kekurangan serat, hingga risiko diabetes tipe 2. Hal ini umumnya disebabkan oleh kandungan nutrisi yang tidak seimbang serta minimnya serat, vitamin, dan mineral penting dalam menu-menu cepat saji yang populer.

    Dilansir dari Eat This Not That (10/07/2025), berikut 6 efek yang dialami tubuh jika makan makanan cepat saji setiap hari:

    1. Meningkatkan Risiko Stroke

    assorted junk foodAneka makanan cepat saji yang bisa picu stroke. Foto: iStock

    Rodriguez, menjelaskan meski makanan cepat saji dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang, mengonsumsinya lebih dari satu kali sehari secara rutin dapat meningkatkan asupan natrium.

    Sebagai contoh, satu porsi double cheeseburger, kentang goreng kecil, dan milkshake kecil dari salah satu restoran cepat saji dapat mengandung lebih dari 1.500 miligram natrium.

    Padahal menurut anjuran dari Dietary Guidelines for Americans 2020-2025, batas maksimal konsumsi natrium per hari untuk sebagian besar orang adalah 2.300 miligram. Jika dikonsumsi berlebihan, asupan natrium tinggi dapat memicu tekanan darah tinggi dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serta stroke.

    2. Memicu Kenaikan Berat Badan

    Ilustrasi makanan cepat sajiIlustrasi makanan cepat saji Foto: Getty Images/arselozgurdal

    Porsi standar satu kali makan di restoran cepat saji seperti burger, kentang goreng, dan minuman bersoda bisa mencapai lebih dari 1.000 kalori. Kalori ini akan bertambah signifikan jika seseorang memilih burger yang berukuran besar, kentang goreng jumbo, dan minuman soda manis.

    Asupan kalori berlebihan yang terus-menerus serta melebihi kebutuhan tubuh harian, akan menyebabkan penambahan berat badan secara bertahap. Hal ini tentu berisiko bagi kesehatan dalam jangka panjang.

    3. Tubuh Kekurangan Serat

    Rodriguez menambahkan jika sebagian besar makanan diperoleh dari restoran cepat saji, kemungkinan besar asupan serat pada tubuh tidak akan memenuhi anjuran. Ia menyarankan konsumsi 14 gram serat per 1.000 kalori makanan.

    Contohnya pada salad ayam yang dijual di beberapa restoran cepat saji hanya memiliki kandungan 5 gram serat. Bahkan jika dikonsumsi tiga kali sehari, jumlah tersebut masih belum mencukupi kebutuhan harian.

    Rendahnya asupan biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sayur serta buah segar di menu makanan cepat sajisulit memenuhi kebutuhan serat dan fitonutrien.

    Kekurangan serat pada tubuh bisa menimbulkan gangguan pencernaan, seperti sembelit, serta meningkatkan risiko kanker usus besar dan kolesterol tinggi.

    4. Risiko Kolesterol Tinggi

    Ilustrasi kolesterol tinggiIlustrasi kolesterol tinggi Foto: Getty Images/iStockphoto/interstid

    Salah satu masalah utama pada makanan cepat saji adalah tingginya kandungan lemak jenuh. Dalam diet 2.000 kalori, batas maksimal asupan lemak jenuh adalah 22 gram per hari. Sementara rata-rata satu porsi makanan cepat saji bisa mengandung lebih dari 75% bahkan mencapai 150% dari batas harian tersebut.

    Konsumsi lemak jenuh berlebih terbukti berkaitan dengan meningkatnya kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat). Sehingga Dietary Guidelines for Americans menyarankan agar lemak jenuh tidak melebihi 10% dari total kalori harian setiap orang.

    5. Risiko Kekurangan Nutrisi

    Mengandalkan makanan cepat saji sebagai sumber utama asupan harian bisa membuat tubuh kekurangan nutrisi penting. Empat nutrisi penting yang sering mengalami kekurangan pada tubuh adalah kalsium, serat, vitamin D, dan kalium.

    Kalium banyak ditemukan dalam buah dan sayur dan jarang ditemukan di menu makanan cepat saji. Kalsium dapat diperoleh dari keju atau susu, namun jumlahnya tidak signifikan jika hanya dari selembar keju dalam burger.

    Vitamin D biasanya hanya tersedia dalam susu atau produk olahan susu tertentu yang juga jarang ditemukan di menu makanan cepat saji. Ketidakseimbangan ini berisiko menyebabkan kekurangan gizi mikro jika konsumsi fast food terus-menerus dilakukan.

    6. Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

    Image of an Asian Chinese woman helping her mother check blood sugar level using a blood glucose meter at homeIlustrasi cek gula darah bagi penderita diabetes. Foto: Getty Images/hxyume

    Sebuah studi beberapa waktu lalu menemukan bahwa konsumsi makanan cepat saji lebih dari dua kali seminggu berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2, gangguan metabolik, dan risiko kematian akibat penyakit jantung koroner.

    Bagi individu yang memiliki kondisi pra-diabetes, makanan cepat saji tidak menjadi pilihan pola makan seimbang yang dibutuhkan, seperti setengah porsi sayuran di setiap piring, konsumsi biji-bijian utuh, dan sumber protein rendah lemak.

    Sehingga hal ini memperburuk kondisi kesehatan seseorang. Untuk itu penting agar tetap menjaga pola makan sehat yang berimbang. Menurut Rodriguez, sah-sah saja makan makanan cepat saji sesekali, asal tidak berlebihan dan tidak terus menerus.

    (sob/dfl)

    Sumber : food.detik.com

  • Alhamdulillah Makanan Minuman Sehat Di JumatBerkah.Com اللهم صل على محمد
    Source : unsplash.com / Eater Collective

  • Sering Konsumsi 13 Makanan Tinggi Gula Ini? Yuk Mulai DIkurangi

    Jakarta

    Makanan tinggi gula yang dikonsumsi terus-menerus dapat menimbulkan berbagai risiko, mulai dari obesitas, hingga penyakit jantung. Untuk itu, mulai sekarang detikers harus mewaspadai makanan tinggi gula.

    Di bawah ini akan kita ulas 13 makanan tinggi gula yang sebaiknya mulai dikurangi, bahkan dihindari. Beberapa jenis makanan atau minuman ini tidak disangka memiliki kandungan gula yang tinggi.

    13 Macam Makanan Tinggi Gula

    Dirangkum dari laman Healthline dan WebMD, berikut ini 13 macam makanan dan minuman tinggi gula yang wajib diwaspadai agar tidak menimbulkan risiko kesehatan.


    1. Saus

    Baik saus tomat, saus barbekyu (BBQ), maupun saus spageti memang penyedap rasa yang enak. Namun saus ini termasuk makanan tinggi gula.

    Dua sendok makan (sekitar 28 gram) saus BBQ bisa mengandung 9 gram gula. Bahkan dalam satu kemasan saus, sekitar 33 persennya adalah gula murni. Hal ini juga termasuk saus tomat dan saus lainnya.

    Saat membeli saus, pastikan lihat labelnya dan pilih saus yang kandungan gulanya paling sedikit. Dalam mengkonsumsinya pun tetap harus dibatasi.

    2. Jus Buah

    Jus buah termasuk makanan sehat karena kandungan vitamin dan mineralnya. Namun perhatikan ketika mengkonsumsi jus buah, jangan terlalu banyak menggunakan gula. Jika membeli jus buah kemasan, pilih yang berlabel 100% buah asli.

    3. Minuman Olahraga

    Minuman olahraga bukanlah pilihan yang sehat, sekalipun bagi olahragawan. Kandungannya memang dirancang untuk menghidrasi dan memberi tenaga selama periode latihan yang lama dan intens.

    Untuk itu, minuman ini mengandung gula tambahan dalam jumlah besar yang dapat dengan cepat diserap tubuh dan diolah sebagai energi. Minuman ini akan semakin berisiko jika dikonsumsi orang yang tidak menjalankan latihan.

    4. Susu Cokelat

    Susu memang sumber protein dan kalsium. Namun susu cokelat yang mengandung kakao dan gula tinggi harus diwaspadai. Pilihlah susu dengan label rendah gula.

    5. Es Teh

    Buat detikers pecinta es teh, waspadai kandungan gulanya. Es teh manis biasanya mengandung banyak gula, bahkan beberapa penjual menggunakan pemanis buatan. Jika suka minum teh, lebih baik minum es teh tawar atau rendah gula.

    6. Madu

    Madu sering kali dianggap sebagai alternatif yang lebih baik daripada gula tebu. Mau ini mengandung fruktosa, yang lebih manis daripada sukrosa atau glukosa. Hal ini tetap harus diwaspadai. Madu tetap harus dinikmati dalam jumlah sedang.

    7. Sirup Jagung

    Sirup jagung, terutama yang tinggi fruktosa, termasuk jenis bahan pangan yang menyebabkan tingginya obesitas di Amerika Serikat. Kemungkinan penyebabnya adalah fruktosa dalam sirup jagung tidak membuat rasa kenyang seperti halnya jumlah kalori yang sama jika dikonsumsi dalam bentuk lain, misalnya nasi.

    8. Granola

    Granola sering disebut sebagai makanan rendah lemak. Meski rendah lemak, kandungan kalori dan gulanya kemungkinan tinggi. Granola dibuat dari gandum yang telah dikombinasikan dengan kacang-kacangan dan madu atau pemanis lainnya.

    Jika menyukai granola, cobalah memilih granola yang rendah gula. Atau Anda juga bisa menjadikan granola sebagai taburan pada buah atau yogurt.

    9. Kopi Rasa-rasa

    Minum kopi mungkin sudah menjadi keseharian anak muda zaman sekarang. Kopi yang populer adalah yang beraroma dan rasanya manis. Satu porsi kopi ini bisa 45 gram gula.

    Cobalah untuk minum kopi tanpa gula. Kopi arabika menjadi pilihan nikmat meskipun tanpa gula.

    10. Protein Bar

    Bagi pelaku diet, protein bar termasuk cemilan yang populer karena bisa menahan lapar, sehingga dapat mengatasi pola makan berlebih. Namun banyak protein bar yang mengandung tinggi gula. Bacalah labelnya dan hindari yang mengandung banyak gula.

    11. Sup Instan

    Sup jarang diasosiasikan dengan gula, jika dibuat dari bahan-bahan segar. Namun, banyak sup instan yang mengandung banyak bahan tambahan, termasuk gula. Lihatlah labelnya untuk memastikan kandungan gulanya.

    12. Sereal

    Sereal sering menjadi pilihan makanan untuk sarapan yang cepat, terutama di negara Barat. Bagi Anda yang suka sereal, perhatikan kandungan gulanya. Sebab banyak jenis sereal yang tinggi gula.

    13. Buah Kaleng

    Buah memang memiliki kandungan nutrisi sehat. Namun jika buah sudah dikemas dalam kaleng, kemungkinan buah sudah diawetkan dalam sirup manis. Proses ini bisa menghilangkan serat buah dan meningkatkan kadar gula.

    Itulah tadi 13 makanan tinggi gula yang mungkin sering detikers konsumsi. Sebaiknya mulai sekarang dikurangi, bahkan dihindari.

    (bai/row)



    Sumber : food.detik.com

  • Wamenkes Bagikan Kabar Terbaru Cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan


    Jakarta

    Sudah lebih dari satu dekade berlalu, wacana penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan belum juga terlaksana. Wakil Menteri Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Prof Dante Saksono Harbuwono menyebut rencana tersebut masih dalam pembahasan.

    Meski begitu, pemerintah disebutnya tidak tinggal diam dalam upaya pemberian edukasi kepada masyarakat terkait bahaya konsumsi tinggi gula, yang juga tersebar di pangan olahan maupun pangan siap saji.

    Menurut Prof Dante, penerapan cukai MBDK juga tak akan berjalan efektif bila tidak dibarengi dengan edukasi masif di masyarakat.


    “Nah nanti urusan cukai masih kita dalam proses pembahasan. Tetapi kita terus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi potensi obesitas dan diabetes, tinggal mengurangi makanan bergula, tinggi kalori, dan sebagainya,” tutur Prof Dante saat ditemui di Mall of Indonesia (MOI), Jakarta Utara, Rabu (15/10/2025).

    “Yang paling penting adalah sekarang adalah edukasi. Cukainya kita naikin kalau edukasinya tidak masif juga tidak akan berhasil,” lanjutnya.


    Ia juga menekankan sejumlah fasilitas kesehatan perlu lebih banyak meningkatkan layanan promotif dan preventif. Bukan tanpa sebab, hal ini dinilai bisa menekan angka kematian lebih banyak saat identifikasi atau diagnosis penyakit diketahui dan ditangani lebih awal.

    Salah satunya melalui skrining faktor risiko yang kerap memicu penyakit tidak menular dengan bebas kasus tertinggi di Indonesia seperti jantung, masalah ginjal, hingga stroke.

    “Jadi edukasi menjadi sangat penting. Seperti rumah sakit primaya sekarang melakukan terapi kuratif, mereka juga melakukan terapi promotif dan preventif untuk melakukan dan mengedukasi masyarakat,” pungkasnya.

    (naf/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Milenial hingga Gen Z Berisiko 4 Kali Lipat Kena Kanker Usus, Waspadai Gejalanya


    Jakarta

    Kimmie Ng, dokter onkologi saluran cerna dari Harvard Medical School dan pendiri Young-Onset Colorectal Cancer Center di Boston, mengatakan angka kejadian kanker usus besar dan rektum pada usia muda meningkat sekitar 2 persen setiap tahun sejak pertengahan 1990-an.

    “Awalnya kami kaget, karena pasiennya masih muda, sehat, tidak punya faktor risiko, bahkan tanpa riwayat keluarga, tapi sudah terdiagnosis stadium 4. Dan kasus seperti ini sekarang makin sering,” beber Dr Ng.

    Menurutnya, pasien penting untuk mengenali gejala awal kanker kolorektal.


    Gejala utama yang kerap muncul pada pasien muda adalah keluarnya darah bersama tinja.

    “Kalau darah tampak tercampur di dalam tinja, bukan hanya di permukaan atau di tisu, itu lebih mengkhawatirkan dan perlu diperiksa,” jelasnya.

    Tanda lain yang harus diwaspadai:

    • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
    • Perubahan pola buang air besar (sering diare atau sembelit baru)
    • Tinja menjadi lebih tipis
    • Sakit perut atau perut terasa penuh
    • Lemas karena anemia (kurang darah)
    • Jika mengalami gejala-gejala ini, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.

    Faktor Lingkungan Diduga Berperan

    Para peneliti menduga perubahan lingkungan dan gaya hidup modern berperan besar dalam peningkatan kasus kanker di usia muda.

    “Setiap generasi setelah tahun 1950 mengalami risiko yang lebih tinggi,” kata dr Ng.

    Generasi Muda

    Orang yang lahir tahun 1990, misalnya, punya risiko terkena kanker rektum 4 kali lebih tinggi dan kanker usus besar 2 kali lebih tinggi dibanding mereka yang lahir pada 1950.

    Hal ini menunjukkan penyebabnya tidak mungkin dari genetik semata, karena gen manusia tidak berubah banyak dalam 30 tahun.

    Faktor-faktor lingkungan yang mungkin berperan antara lain:

    Obesitas (kegemukan)

    Kurang aktivitas fisik

    Pola makan tinggi daging merah, ultra processed food, dan gula tambahan.

    Konsumsi minuman berpemanis berlebihan

    Meski begitu, dr Ng mengakui banyak pasien muda yang tidak memiliki faktor risiko sama sekali.

    “Sebagian dari mereka adalah pelari maraton, makan sehat, hidup aktif, tapi tetap terdiagnosis kanker usus besar,” ujarnya.

    Peran Pemeriksaan Genetik

    Kebanyakan kasus kanker usia muda tidak disebabkan faktor keturunan, tetapi mereka yang terkena di usia muda punya kemungkinan lebih tinggi memiliki sindrom genetik tertentu, seperti Lynch Syndrome atau Familial Adenomatous Polyposis.

    Karena itu, dr Ng menyarankan agar semua pasien muda yang terdiagnosis kanker menjalani tes genetik keluarga.

    Mengetahui riwayat kanker dalam keluarga juga sangat penting. Jika ada anggota keluarga yang pernah mengalaminya, seseorang bisa memulai skrining lebih awal, langkah yang berpotensi menyelamatkan nyawa.

    Walau menakutkan, dr Ng mengingatkan bahwa kanker di usia muda bisa dilawan, terutama jika terdeteksi lebih awal.

    Ia menegaskan pentingnya skrining rutin mulai usia 45 tahun, atau lebih muda bila ada riwayat keluarga.

    “Deteksi dini bisa menyelamatkan nyawa. Banyak orang menunda pemeriksaan karena malu atau takut, padahal semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang sembuh,” katanya.

    (naf/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Dokter Ungkap Cara Melakukan ‘Japanese Walking’ agar Manfaatnya Maksimal


    Jakarta

    Salah satu tren kebugaran terbaru yang tengah populer di media sosial adalah ‘Japanese walking’, yaitu rutinitas berjalan kaki selama 30 menit dengan mengombinasikan jalan santai dan jalan cepat secara bergantian.

    Japanese walking tergolong latihan yang singkat, mudah diakses, dan tidak membutuhkan fasilitas khusus seperti keanggotaan gym atau peralatan mahal. Cukup keluar rumah dan mulai berjalan, siapa pun bisa melakukannya.

    “Yang saya sukai dari Japanese walking adalah semua orang bisa melakukannya,” ujar dr Irvin Sulapas, dokter spesialis kedokteran olahraga sekaligus profesor di UTHealth Houston, dikutip CNN.


    “Kamu tidak perlu melakukan olahraga intensitas tinggi yang membuat tubuh pegal dan lelah untuk mendapatkan manfaat bagi kesehatan.”

    Latihan ini pertama kali dikembangkan oleh peneliti Jepang lebih dari 20 tahun lalu, dengan tujuan untuk meningkatkan kebugaran fisik pada orang paruh baya dan lansia, sekaligus membantu mencegah penyakit terkait gaya hidup seperti diabetes dan obesitas.

    Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada tahun 2025 menunjukkan lansia yang rutin menjalani latihan Japanese walking selama lima bulan mengalami peningkatan signifikan pada tekanan darah istirahat, kekuatan otot tungkai bawah, serta VO₂ max, indikator utama kebugaran jantung dan daya tahan aerobik.

    Temuan ini diyakini menjadi salah satu pemicu meningkatnya popularitas Japanese walking dalam beberapa waktu terakhir.

    Menurut dr Sergiu Darabant, dokter spesialis jantung di Miami Cardiac & Vascular Institute, bagian dari Baptist Health South Florida, latihan jalan cepat dengan interval intensitas tinggi, seperti Japanese walking, terbukti memberikan manfaat besar bagi kesehatan jantung dan kebugaran secara keseluruhan.

    “Namun, jalan kaki ala Jepang menarik bagi banyak orang karena menawarkan akses untuk berolahraga dari gaya hidup yang kurang gerak,” kata dr Darabant.

    “Tidak mengintimidasi.”

    Cara Memulai Japanese Walking

    Dalam studi tahun 2007, para peneliti menginstruksikan peserta untuk bergantian antara tiga menit jalan cepat dengan intensitas sekitar 70 persen dari kapasitas aerobik puncak (setara dengan intensitas sedang hingga tinggi), lalu tiga menit jalan lebih lambat dengan intensitas sekitar 40 persen, yang termasuk kategori ringan. Pola ini dilakukan selama setidaknya 30 menit, empat hari dalam seminggu.

    Rekomendasi tersebut masih relevan hingga kini. Namun, dr Darabant menyarankan agar latihan ini dilakukan lima kali seminggu. Dengan begitu, seseorang dapat mencapai 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, sesuai anjuran dari American Heart Association (AHA).

    Bagaimana mengetahui apakah kecepatan jalan sudah cukup cepat? Menurut dr Darabant, cukup berjalan secepat mungkin tanpa sampai berlari.

    “Umumnya, jalan cepat dianggap sekitar 6,5 km per jam, meskipun setiap orang berbeda,” kata Sulapas. 6,5 km per jam setara dengan kecepatan 15 menit per km.

    Seperti halnya olahraga lain, keamanan tetap menjadi hal utama. Sebelum mencoba Japanese walking, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, dan hentikan segera jika muncul rasa nyeri.

    Latihan ini juga bisa dilakukan di dalam ruangan menggunakan treadmill, terutama jika kondisi jalan di luar tidak mendukung, misalnya licin, tidak rata, atau kurang aman.

    “Jika menggunakan treadmill, atur kemiringannya pada 1-2 persen,” saran dr Sulapas.

    Kemiringan ini paling mendekati tingkat resistensi alami saat berjalan di luar ruangan.”

    Namun, jika memungkinkan, melakukan Japanese walking di luar ruangan, terutama di alam terbuka, menjadi pilihan terbaik,

    “Berinteraksi langsung dengan alam memberikan manfaat 100 persen. Tidak hanya meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga membantu menenangkan pikiran, mengurangi kecemasan, dan memperkuat koneksi dengan lingkungan sekitar,” kata dr Darabant.

    (suc/suc)



    Sumber : health.detik.com

  • Daftar Makanan Pantang Dikonsumsi Sebelum Bercinta, Gairah Auto Ngedrop

    Jakarta

    Makanan ternyata sangat berperan dalam urusan gairah seksual. Beberapa makanan berfungsi sebagai afrodisiak karena dapat membantu meningkatkan gairah seksual.

    Ahli diet Kaitlin Dresser mengungkapkan pola makan yang sehat dapat meningkatkan kehidupan seks. Mulai dari mendukung peningkatan fungsi seksual, dorongan seks, keseimbangan hormon, tingkat energi, kesuburan, dan kesehatan secara keseluruhan.

    “Diet buruk yang tinggi makanan olahan, gula tambahan, dan serat terbatas dapat menyebabkan hasil seksual yang lebih buruk dengan meningkatkan obesitas, tekanan darah tinggi, atau gangguan GI (gastrointestinal),” tambah Dresser yang dikutip dari The Healthy.


    Namun, beberapa orang mungkin tidak menyadari bahwa beberapa makanan yang dikonsumsi sehari-hari dapat mempengaruhi gairah seksual. Berikut beberapa makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi sebelum bercinta.

    1. Kacang-kacangan

    Kacang-kacangan, lentil, buncis, dan jenis kacang lainnya terkenal dapat memicu ketidaknyamanan pencernaan. Itu karena kacang-kacangan mengandung serat dan gula yang tidak dapat dicerna tubuh manusia dengan cara normal.

    “Sebaliknya, bakteri dalam usus kita memecah semuanya, menyebabkan fermentasi, yakni proses yang membuat bir atau kombucha bersoda dan membuat kita merasa kembung dan bergas,” kata Dresser.

    2. Makanan ‘karbo’

    Makanan dengan kandungan karbohidrat dalam roti, pasta, dan kentang juga mengandung gula sederhana, umumnya memgirimkan lonjakan energi langsung ke dalam sistem tubuh. Namun menurut American Heart Association, peningkatan ini tidak berlangsung lama.

    Karbohidrat sederhana ini cenderung membuat kita kelelahan setelah lonjakan energi yang cepat.

    3. Daging merah

    Beberapa daging merah mungkin bisa membuat gairah seks anjlok. Ini karena lemak adalah nutrisi yang paling sulit dicerna tubuh kita.

    Untuk membantu proses tersebut, tubuh mengarahkan lebih banyak energi kita ke sistem gastrointestinal, dan terlalu banyak lemak dapat menyebabkan gangguan pencernaan.

    Carilah potongan daging yang lebih ramping seperti steak sirloin tip, dan hindari pilihan yang lebih berlemak seperti steak rib eye atau roti burger sapi.

    4. Produk susu

    Institut Nasional Diabetes dan Penyakit Pencernaan dan Ginjal menemukan bahwa produk susu dapat memicu gejala IBS (sindrom iritasi usus besar) atau keluhan mulas.

    Selain itu, produk susu juga cenderung memiliki kandungan lemak yang tinggi. Itulah sebabnya seseorang dapat merasa lesu saat tubuh berusaha mencernanya.

    5. Goreng-gorengan

    Menurut pakar, makanan yang digoreng dan berminyak dapat membuat orang merasa kembung atau dalam beberapa kasus memicu diare.

    “Sebaiknya hindari jenis makanan ini dan pesan makanan yang dipanggang atau dibakar sebagai gantinya,” sambungnya.

    Selain itu, makan dalam porsi besar cenderung membuat seseorang merasa kembung. Jadi, pastikan untuk mengunyah makanan dengan baik dan berhenti saat sudah kenyang.

    (sao/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy