Source : unsplash.com / Eater Collective
Jakarta –
Makanan tinggi gula yang dikonsumsi terus-menerus dapat menimbulkan berbagai risiko, mulai dari obesitas, hingga penyakit jantung. Untuk itu, mulai sekarang detikers harus mewaspadai makanan tinggi gula.
Di bawah ini akan kita ulas 13 makanan tinggi gula yang sebaiknya mulai dikurangi, bahkan dihindari. Beberapa jenis makanan atau minuman ini tidak disangka memiliki kandungan gula yang tinggi.
13 Macam Makanan Tinggi Gula
Dirangkum dari laman Healthline dan WebMD, berikut ini 13 macam makanan dan minuman tinggi gula yang wajib diwaspadai agar tidak menimbulkan risiko kesehatan.
1. Saus
Baik saus tomat, saus barbekyu (BBQ), maupun saus spageti memang penyedap rasa yang enak. Namun saus ini termasuk makanan tinggi gula.
Dua sendok makan (sekitar 28 gram) saus BBQ bisa mengandung 9 gram gula. Bahkan dalam satu kemasan saus, sekitar 33 persennya adalah gula murni. Hal ini juga termasuk saus tomat dan saus lainnya.
Saat membeli saus, pastikan lihat labelnya dan pilih saus yang kandungan gulanya paling sedikit. Dalam mengkonsumsinya pun tetap harus dibatasi.
2. Jus Buah
Jus buah termasuk makanan sehat karena kandungan vitamin dan mineralnya. Namun perhatikan ketika mengkonsumsi jus buah, jangan terlalu banyak menggunakan gula. Jika membeli jus buah kemasan, pilih yang berlabel 100% buah asli.
3. Minuman Olahraga
Minuman olahraga bukanlah pilihan yang sehat, sekalipun bagi olahragawan. Kandungannya memang dirancang untuk menghidrasi dan memberi tenaga selama periode latihan yang lama dan intens.
Untuk itu, minuman ini mengandung gula tambahan dalam jumlah besar yang dapat dengan cepat diserap tubuh dan diolah sebagai energi. Minuman ini akan semakin berisiko jika dikonsumsi orang yang tidak menjalankan latihan.
4. Susu Cokelat
Susu memang sumber protein dan kalsium. Namun susu cokelat yang mengandung kakao dan gula tinggi harus diwaspadai. Pilihlah susu dengan label rendah gula.
5. Es Teh
Buat detikers pecinta es teh, waspadai kandungan gulanya. Es teh manis biasanya mengandung banyak gula, bahkan beberapa penjual menggunakan pemanis buatan. Jika suka minum teh, lebih baik minum es teh tawar atau rendah gula.
6. Madu
Madu sering kali dianggap sebagai alternatif yang lebih baik daripada gula tebu. Mau ini mengandung fruktosa, yang lebih manis daripada sukrosa atau glukosa. Hal ini tetap harus diwaspadai. Madu tetap harus dinikmati dalam jumlah sedang.
7. Sirup Jagung
Sirup jagung, terutama yang tinggi fruktosa, termasuk jenis bahan pangan yang menyebabkan tingginya obesitas di Amerika Serikat. Kemungkinan penyebabnya adalah fruktosa dalam sirup jagung tidak membuat rasa kenyang seperti halnya jumlah kalori yang sama jika dikonsumsi dalam bentuk lain, misalnya nasi.
8. Granola
Granola sering disebut sebagai makanan rendah lemak. Meski rendah lemak, kandungan kalori dan gulanya kemungkinan tinggi. Granola dibuat dari gandum yang telah dikombinasikan dengan kacang-kacangan dan madu atau pemanis lainnya.
Jika menyukai granola, cobalah memilih granola yang rendah gula. Atau Anda juga bisa menjadikan granola sebagai taburan pada buah atau yogurt.
9. Kopi Rasa-rasa
Minum kopi mungkin sudah menjadi keseharian anak muda zaman sekarang. Kopi yang populer adalah yang beraroma dan rasanya manis. Satu porsi kopi ini bisa 45 gram gula.
Cobalah untuk minum kopi tanpa gula. Kopi arabika menjadi pilihan nikmat meskipun tanpa gula.
10. Protein Bar
Bagi pelaku diet, protein bar termasuk cemilan yang populer karena bisa menahan lapar, sehingga dapat mengatasi pola makan berlebih. Namun banyak protein bar yang mengandung tinggi gula. Bacalah labelnya dan hindari yang mengandung banyak gula.
11. Sup Instan
Sup jarang diasosiasikan dengan gula, jika dibuat dari bahan-bahan segar. Namun, banyak sup instan yang mengandung banyak bahan tambahan, termasuk gula. Lihatlah labelnya untuk memastikan kandungan gulanya.
12. Sereal
Sereal sering menjadi pilihan makanan untuk sarapan yang cepat, terutama di negara Barat. Bagi Anda yang suka sereal, perhatikan kandungan gulanya. Sebab banyak jenis sereal yang tinggi gula.
13. Buah Kaleng
Buah memang memiliki kandungan nutrisi sehat. Namun jika buah sudah dikemas dalam kaleng, kemungkinan buah sudah diawetkan dalam sirup manis. Proses ini bisa menghilangkan serat buah dan meningkatkan kadar gula.
Itulah tadi 13 makanan tinggi gula yang mungkin sering detikers konsumsi. Sebaiknya mulai sekarang dikurangi, bahkan dihindari.
(bai/row)

Sumber : food.detik.com
Jakarta –
Sudah lebih dari satu dekade berlalu, wacana penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan belum juga terlaksana. Wakil Menteri Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Prof Dante Saksono Harbuwono menyebut rencana tersebut masih dalam pembahasan.
Meski begitu, pemerintah disebutnya tidak tinggal diam dalam upaya pemberian edukasi kepada masyarakat terkait bahaya konsumsi tinggi gula, yang juga tersebar di pangan olahan maupun pangan siap saji.
Menurut Prof Dante, penerapan cukai MBDK juga tak akan berjalan efektif bila tidak dibarengi dengan edukasi masif di masyarakat.
“Nah nanti urusan cukai masih kita dalam proses pembahasan. Tetapi kita terus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi potensi obesitas dan diabetes, tinggal mengurangi makanan bergula, tinggi kalori, dan sebagainya,” tutur Prof Dante saat ditemui di Mall of Indonesia (MOI), Jakarta Utara, Rabu (15/10/2025).
“Yang paling penting adalah sekarang adalah edukasi. Cukainya kita naikin kalau edukasinya tidak masif juga tidak akan berhasil,” lanjutnya.
Ia juga menekankan sejumlah fasilitas kesehatan perlu lebih banyak meningkatkan layanan promotif dan preventif. Bukan tanpa sebab, hal ini dinilai bisa menekan angka kematian lebih banyak saat identifikasi atau diagnosis penyakit diketahui dan ditangani lebih awal.
Salah satunya melalui skrining faktor risiko yang kerap memicu penyakit tidak menular dengan bebas kasus tertinggi di Indonesia seperti jantung, masalah ginjal, hingga stroke.
“Jadi edukasi menjadi sangat penting. Seperti rumah sakit primaya sekarang melakukan terapi kuratif, mereka juga melakukan terapi promotif dan preventif untuk melakukan dan mengedukasi masyarakat,” pungkasnya.
(naf/up)

Sumber : health.detik.com
Jakarta –
Kimmie Ng, dokter onkologi saluran cerna dari Harvard Medical School dan pendiri Young-Onset Colorectal Cancer Center di Boston, mengatakan angka kejadian kanker usus besar dan rektum pada usia muda meningkat sekitar 2 persen setiap tahun sejak pertengahan 1990-an.
“Awalnya kami kaget, karena pasiennya masih muda, sehat, tidak punya faktor risiko, bahkan tanpa riwayat keluarga, tapi sudah terdiagnosis stadium 4. Dan kasus seperti ini sekarang makin sering,” beber Dr Ng.
Menurutnya, pasien penting untuk mengenali gejala awal kanker kolorektal.
Gejala utama yang kerap muncul pada pasien muda adalah keluarnya darah bersama tinja.
“Kalau darah tampak tercampur di dalam tinja, bukan hanya di permukaan atau di tisu, itu lebih mengkhawatirkan dan perlu diperiksa,” jelasnya.
Tanda lain yang harus diwaspadai:
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
- Perubahan pola buang air besar (sering diare atau sembelit baru)
- Tinja menjadi lebih tipis
- Sakit perut atau perut terasa penuh
- Lemas karena anemia (kurang darah)
- Jika mengalami gejala-gejala ini, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.
Faktor Lingkungan Diduga Berperan
Para peneliti menduga perubahan lingkungan dan gaya hidup modern berperan besar dalam peningkatan kasus kanker di usia muda.
“Setiap generasi setelah tahun 1950 mengalami risiko yang lebih tinggi,” kata dr Ng.
Generasi Muda
Orang yang lahir tahun 1990, misalnya, punya risiko terkena kanker rektum 4 kali lebih tinggi dan kanker usus besar 2 kali lebih tinggi dibanding mereka yang lahir pada 1950.
Hal ini menunjukkan penyebabnya tidak mungkin dari genetik semata, karena gen manusia tidak berubah banyak dalam 30 tahun.
Faktor-faktor lingkungan yang mungkin berperan antara lain:
Obesitas (kegemukan)
Kurang aktivitas fisik
Pola makan tinggi daging merah, ultra processed food, dan gula tambahan.
Konsumsi minuman berpemanis berlebihan
Meski begitu, dr Ng mengakui banyak pasien muda yang tidak memiliki faktor risiko sama sekali.
“Sebagian dari mereka adalah pelari maraton, makan sehat, hidup aktif, tapi tetap terdiagnosis kanker usus besar,” ujarnya.
Peran Pemeriksaan Genetik
Kebanyakan kasus kanker usia muda tidak disebabkan faktor keturunan, tetapi mereka yang terkena di usia muda punya kemungkinan lebih tinggi memiliki sindrom genetik tertentu, seperti Lynch Syndrome atau Familial Adenomatous Polyposis.
Karena itu, dr Ng menyarankan agar semua pasien muda yang terdiagnosis kanker menjalani tes genetik keluarga.
Mengetahui riwayat kanker dalam keluarga juga sangat penting. Jika ada anggota keluarga yang pernah mengalaminya, seseorang bisa memulai skrining lebih awal, langkah yang berpotensi menyelamatkan nyawa.
Walau menakutkan, dr Ng mengingatkan bahwa kanker di usia muda bisa dilawan, terutama jika terdeteksi lebih awal.
Ia menegaskan pentingnya skrining rutin mulai usia 45 tahun, atau lebih muda bila ada riwayat keluarga.
“Deteksi dini bisa menyelamatkan nyawa. Banyak orang menunda pemeriksaan karena malu atau takut, padahal semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang sembuh,” katanya.
(naf/kna)

Sumber : health.detik.com
Jakarta –
Salah satu tren kebugaran terbaru yang tengah populer di media sosial adalah ‘Japanese walking’, yaitu rutinitas berjalan kaki selama 30 menit dengan mengombinasikan jalan santai dan jalan cepat secara bergantian.
Japanese walking tergolong latihan yang singkat, mudah diakses, dan tidak membutuhkan fasilitas khusus seperti keanggotaan gym atau peralatan mahal. Cukup keluar rumah dan mulai berjalan, siapa pun bisa melakukannya.
“Yang saya sukai dari Japanese walking adalah semua orang bisa melakukannya,” ujar dr Irvin Sulapas, dokter spesialis kedokteran olahraga sekaligus profesor di UTHealth Houston, dikutip CNN.
“Kamu tidak perlu melakukan olahraga intensitas tinggi yang membuat tubuh pegal dan lelah untuk mendapatkan manfaat bagi kesehatan.”
Latihan ini pertama kali dikembangkan oleh peneliti Jepang lebih dari 20 tahun lalu, dengan tujuan untuk meningkatkan kebugaran fisik pada orang paruh baya dan lansia, sekaligus membantu mencegah penyakit terkait gaya hidup seperti diabetes dan obesitas.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada tahun 2025 menunjukkan lansia yang rutin menjalani latihan Japanese walking selama lima bulan mengalami peningkatan signifikan pada tekanan darah istirahat, kekuatan otot tungkai bawah, serta VO₂ max, indikator utama kebugaran jantung dan daya tahan aerobik.
Temuan ini diyakini menjadi salah satu pemicu meningkatnya popularitas Japanese walking dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut dr Sergiu Darabant, dokter spesialis jantung di Miami Cardiac & Vascular Institute, bagian dari Baptist Health South Florida, latihan jalan cepat dengan interval intensitas tinggi, seperti Japanese walking, terbukti memberikan manfaat besar bagi kesehatan jantung dan kebugaran secara keseluruhan.
“Namun, jalan kaki ala Jepang menarik bagi banyak orang karena menawarkan akses untuk berolahraga dari gaya hidup yang kurang gerak,” kata dr Darabant.
“Tidak mengintimidasi.”
Cara Memulai Japanese Walking
Dalam studi tahun 2007, para peneliti menginstruksikan peserta untuk bergantian antara tiga menit jalan cepat dengan intensitas sekitar 70 persen dari kapasitas aerobik puncak (setara dengan intensitas sedang hingga tinggi), lalu tiga menit jalan lebih lambat dengan intensitas sekitar 40 persen, yang termasuk kategori ringan. Pola ini dilakukan selama setidaknya 30 menit, empat hari dalam seminggu.
Rekomendasi tersebut masih relevan hingga kini. Namun, dr Darabant menyarankan agar latihan ini dilakukan lima kali seminggu. Dengan begitu, seseorang dapat mencapai 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, sesuai anjuran dari American Heart Association (AHA).
Bagaimana mengetahui apakah kecepatan jalan sudah cukup cepat? Menurut dr Darabant, cukup berjalan secepat mungkin tanpa sampai berlari.
“Umumnya, jalan cepat dianggap sekitar 6,5 km per jam, meskipun setiap orang berbeda,” kata Sulapas. 6,5 km per jam setara dengan kecepatan 15 menit per km.
Seperti halnya olahraga lain, keamanan tetap menjadi hal utama. Sebelum mencoba Japanese walking, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, dan hentikan segera jika muncul rasa nyeri.
Latihan ini juga bisa dilakukan di dalam ruangan menggunakan treadmill, terutama jika kondisi jalan di luar tidak mendukung, misalnya licin, tidak rata, atau kurang aman.
“Jika menggunakan treadmill, atur kemiringannya pada 1-2 persen,” saran dr Sulapas.
Kemiringan ini paling mendekati tingkat resistensi alami saat berjalan di luar ruangan.”
Namun, jika memungkinkan, melakukan Japanese walking di luar ruangan, terutama di alam terbuka, menjadi pilihan terbaik,
“Berinteraksi langsung dengan alam memberikan manfaat 100 persen. Tidak hanya meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga membantu menenangkan pikiran, mengurangi kecemasan, dan memperkuat koneksi dengan lingkungan sekitar,” kata dr Darabant.
(suc/suc)

Sumber : health.detik.com
Jakarta –
Makanan ternyata sangat berperan dalam urusan gairah seksual. Beberapa makanan berfungsi sebagai afrodisiak karena dapat membantu meningkatkan gairah seksual.
Ahli diet Kaitlin Dresser mengungkapkan pola makan yang sehat dapat meningkatkan kehidupan seks. Mulai dari mendukung peningkatan fungsi seksual, dorongan seks, keseimbangan hormon, tingkat energi, kesuburan, dan kesehatan secara keseluruhan.
“Diet buruk yang tinggi makanan olahan, gula tambahan, dan serat terbatas dapat menyebabkan hasil seksual yang lebih buruk dengan meningkatkan obesitas, tekanan darah tinggi, atau gangguan GI (gastrointestinal),” tambah Dresser yang dikutip dari The Healthy.
Namun, beberapa orang mungkin tidak menyadari bahwa beberapa makanan yang dikonsumsi sehari-hari dapat mempengaruhi gairah seksual. Berikut beberapa makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi sebelum bercinta.
1. Kacang-kacangan
Kacang-kacangan, lentil, buncis, dan jenis kacang lainnya terkenal dapat memicu ketidaknyamanan pencernaan. Itu karena kacang-kacangan mengandung serat dan gula yang tidak dapat dicerna tubuh manusia dengan cara normal.
“Sebaliknya, bakteri dalam usus kita memecah semuanya, menyebabkan fermentasi, yakni proses yang membuat bir atau kombucha bersoda dan membuat kita merasa kembung dan bergas,” kata Dresser.
2. Makanan ‘karbo’
Makanan dengan kandungan karbohidrat dalam roti, pasta, dan kentang juga mengandung gula sederhana, umumnya memgirimkan lonjakan energi langsung ke dalam sistem tubuh. Namun menurut American Heart Association, peningkatan ini tidak berlangsung lama.
Karbohidrat sederhana ini cenderung membuat kita kelelahan setelah lonjakan energi yang cepat.
3. Daging merah
Beberapa daging merah mungkin bisa membuat gairah seks anjlok. Ini karena lemak adalah nutrisi yang paling sulit dicerna tubuh kita.
Untuk membantu proses tersebut, tubuh mengarahkan lebih banyak energi kita ke sistem gastrointestinal, dan terlalu banyak lemak dapat menyebabkan gangguan pencernaan.
Carilah potongan daging yang lebih ramping seperti steak sirloin tip, dan hindari pilihan yang lebih berlemak seperti steak rib eye atau roti burger sapi.
4. Produk susu
Institut Nasional Diabetes dan Penyakit Pencernaan dan Ginjal menemukan bahwa produk susu dapat memicu gejala IBS (sindrom iritasi usus besar) atau keluhan mulas.
Selain itu, produk susu juga cenderung memiliki kandungan lemak yang tinggi. Itulah sebabnya seseorang dapat merasa lesu saat tubuh berusaha mencernanya.
5. Goreng-gorengan
Menurut pakar, makanan yang digoreng dan berminyak dapat membuat orang merasa kembung atau dalam beberapa kasus memicu diare.
“Sebaiknya hindari jenis makanan ini dan pesan makanan yang dipanggang atau dibakar sebagai gantinya,” sambungnya.
Selain itu, makan dalam porsi besar cenderung membuat seseorang merasa kembung. Jadi, pastikan untuk mengunyah makanan dengan baik dan berhenti saat sudah kenyang.
(sao/naf)
Sumber : health.detik.com

Image : unsplash.com/ Spacejoy
|