Tag: orangutan

  • Mahasiswa Mau Teliti Orangutan? Cek Beasiswa Skripsi Semua Jurusan Ini



    Jakarta

    Beasiswa Orangutan Tapanuli Batch 2 dibuka untuk mahasiswa sampai 24 Maret 2024. Mahasiswa yang akan menjalani tugas akhir atau skripsi dengan IPK minimal 2,75 dari semua jurusan di perguruan tinggi Sumatera bisa mendaftar.

    Beasiswa Orangutan Tapanuli adalah beasiswa dukungan materi dan pengetahuan dari Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) dan Yayasan KEHATI. Skripsi atau tugas akhir para penerima beasiswa harus berfokus pada orangutan Tapanuli di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara.

    Dikutip dari akun Instagram @yosloic, mahasiswa pendaftar wajib punya komitmen dan peduli pada upaya konservasi alam serta pelestarian lingkungan, khususnya perlindungan dan penyelamatan orangutan Tapanuli dan habitatnya. Penerima beasiswa akan mendapat dana penelitian Rp 15 juta per orang.


    Syarat Beasiswa Orangutan Tapanuli Batch 2

    1. Mahasiswa aktif dari semua jurusan yang ada di Pulau Sumatera
    2. Akan melakukan penelitian yang merupakan bagian dari tugas akhir atau skripsi, mendapat persetujuan dari dosen pembimbing
    3. Diutamakan bagi mahasiswa di luar fakultas biologi, kedokteran hewan, dan kehutanan
    4. Mengisi formulir pendaftaran di tautan https://bit.ly/PendaftaranBatch2BeasiswaOrangutanTapanuli
    5. Membaca formulir dengan saksama dan mengisi data yang sebenarnya
    6. Melampirkan CV, transkrip nilai sampai semester akhir, surat persetujuan dosen pembimbing, proposal penelitian, dan motivation letter maksimal 500 kata

    Tahap Seleksi

    • Seleksi berkas dan proposal
    • Pengumuman peserta yang lolos berkas dan proposal
    • Seleksi presentasi dan interview

    Pengumuman penerima Beasiswa Orangutan Tapanuli Batch 2 akan disampaikan poada pihak kampus melalui surat resmi. Mahasiswa juga dapat melihat pengumumannya dari grup WhatsApp Program Beasiswa Orangutan Tapanuli. Semoga berhasil, detikers!

    (twu/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Orangutan Sumatera Kuasai Teknik Bangun Sarang dengan Amati-Tiru-Modifikasi



    Jakarta

    Tak hanya manusia yang belajarnya dengan teknik ‘ATM’ alias amati-tiru-modifikasi. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) pun ternyata ‘ATM’ juga buat menguasai teknik membangun sarang, menurut riset selama 17 tahun ini.

    Keahlian Orangutan Dirikan Sarang

    Para ahli primata dari Universitas Warwick Inggris bersama Institut Max Planck Jerman mengemukakan bahwa keahlian orang utan muda untuk membuat sarang merupakan hasil dari mengamati secara dekat orang utan lain dan kemudian mempraktikkannya. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan orang utan dalam membangun sarang bukan sekadar naluri saja melainkan kemampuan mereka dalam observasi atau mengamati.

    Bagi spesies hewan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pepohonan atau arboreal, sarang yang kokoh sangatlah penting untuk bertahan hidup serta melindungi diri dari predator. Dengan membangun sarang di tempat yang tinggi dapat membantu mereka memperoleh kehangatan bahkan dapat terhindar dari gigitan nyamuk. Bagaimana tepatnya orangutan bisa menguasai kemampuan rumit ini, selama ini masih menjadi tanda tanya.


    Rahasia di Balik Sarang Orangutan

    Para peneliti dari Universitas Warwick telah mengkonfirmasi bahwa orangutan Sumatera yang masih muda mempelajari teknik membangun sarang yang rumit dengan ‘mengintip’ hasil karya induk mereka dengan cermat dan saksama.

    “Membangun sarang sangat penting untuk kelangsungan hidup orangutan, tetapi anehnya tidak menjadi fokus banyak penelitian. Kami sebelumnya melaporkan bahwa butuh beberapa tahun bagi orangutan muda untuk belajar membuat sarang, tetapi berdasarkan 17 tahun data observasi, makalah ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran ini sangat bergantung pada hewan muda yang dengan cermat memperhatikan pembuatan sarang oleh individu lain,” ujar penulis utama dalam studi tersebut Dr Ani Permana dari Departemen Psikologi dari Universitas Warwick dikutip Senin (20/10/2025).

    Di alam liar, orangutan Sumatera membangun dua jenis sarang. Sarang siang cenderung berupa kerangka praktis dasar, tetapi sarang malam berupa platform tidur yang rumit yang sering kali dibangun setinggi 20 meter di tajuk pohon dan dilengkapi elemen kenyamanan seperti ‘bantal’, ‘selimut’, kasur (pelapis), dan atap untuk melindungi dari kondisi buruk cuaca.

    Dengan mengamati orangutan dalam jangka waktu yang lama selama bertahun-tahun, kelompok peneliti berhasil menunjukkan bahwa orangutan muda mengamati (sengaja mengamati) induk mereka membuat sarang untuk mempelajari cara melakukannya. Ketika pengamatan dilakukan, orangutan yang belum dewasa lebih cenderung menindaklanjuti dengan berlatih membangun sarang sendiri.

    Jika orangutan yang belum dewasa berada di dekat induk mereka ketika membangun sarang tetapi tidak mengamati, misalnya karena teralihkan, mereka umumnya tidak melanjutkan berlatih sendiri. Hal ini berarti pengamatan aktif kemungkinan penting untuk mengembangkan keterampilan tersebut, yang sangat mendukung gagasan bahwa ini adalah pembelajaran sosial observasional.

    Orangutan yang belum dewasa juga terbukti memberikan perhatian khusus pada bagian-bagian yang lebih rumit dari konstruksi sarang. Seperti menambahkan elemen kenyamanan atau membangun di atas beberapa pohon, dan berlatih lebih banyak setelah mengamati tindakan-tindakan ini.

    Seiring bertambahnya usia orangutan, mereka mulai mengamati dan belajar dari individu lain selain induk mereka, memilih panutan baru yang dapat membantu mendiversifikasi pengetahuan mereka tentang pohon mana yang akan digunakan, menunjukkan bahwa baik cara membangun, maupun dengan apa membangun, dipelajari secara sosial.

    “Orangutan muda tidak hanya belajar cara membuat sarang, tetapi juga tahu bahan apa yang paling cocok. Mereka belajar memilih jenis pohon dari induknya dan cenderung menggunakan jenis yang sama,” ucap penulis senior studi Dr Caroline Schuppli dari Max Planck Institute of Animal Behavior.

    Uniknya, orangutan dewasa justru ‘balik lagi’ menggunakan bahan sarang yang sama seperti induknya. Seolah ada tradisi turun-temurun, pola ini jadi bukti adanya budaya dalam kehidupan orangutan liar. Tapi hati-hati, budaya unik ini bisa lenyap kalau spesies dan habitatnya tak dilindungi.

    Riset selama 17 tahun ini sudah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications Biology dengan judul ‘Observational social learning of “know-how” and “know-what” in wild orangutans: evidence from nest-building skill acquisition’ yang diterbitkan 7 Juni 2025.

    *) Siti Nur Salsabilah Silambona, adalah peserta Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama di detikcom

    (nwk/nwk)



    Sumber : www.detik.com