Tag: organisasi kerjasama islam

  • 5 Beasiswa S1-S3 ke Luar Negeri Tanpa Syarat TOEFL/IELTS, Intip Yuk!



    Jakarta

    Bisa melanjutkan studi di kampus luar negeri adalah impian bagi sebagian orang. Namun, tak semua bisa mewujudkannya karena merasa punya keterbatasan.

    Salah satunya dalam berbahasa Inggris. Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa kuliah ke luar negeri harus memiliki skor kemampuan bahasa Inggris tinggi terlebih dahulu seperti TOEFL atau IELTS.

    Namun ternyata ada beberapa beasiswa ke luar negeri yang tidak menjadikan nilai TOEFL/IELTS sebagai syaratnya. Apa saja beasiswa tersebut? Mengutip unggahan Instagram @hasanuddin_univ, berikut daftarnya:


    Beasiswa S1-S3 ke Luar Negeri Tanpa Syarat TOEFL

    1. Turkiye Burslari Scholarship

    Beasiswa ini bisa dicoba untuk mahasiswa S1, S2, S3 hingga doktor penelitian. Tidak ada syarat kemampuan bahasa Inggris, melainkan bahasa Turki.

    Tak hanya memberikan bantuan pendidikan dan hidup saja, Turkiye Burslari Scholarship juga akan menjamin mahasiswa ditempatkan di universitas terbaik di Turki.

    Berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi jika ingin mendaftar beasiswa ini:

    • Bukan warga negara Turki
    • Bagi pendaftar S1 berusia tidak lebih dari 21 tahun
    • Bagi pendaftar S2 berusia tidak lebih dari 30 tahun
    • Bagi pendaftar S3 berusia tidak lebih dari 35 tahun
    • Bagi pendaftar research program berusia tidak lebih dari 45 tahun
    • Memiliki nilai ijazah pendidikan terakhir minimal 70 bagi pendaftar S1
    • Memiliki nilai ijazah pendidikan terakhir minimal 75 bagi pendaftar S2 dan S3
    • Memiliki nilai ijazah pendidikan terakhir minimal 90 bagi pendaftar jurusan kedokteran

    2. Seoul National University Graduate Fall

    Bagi detikers yang bermimpi kuliah di Korea Selatan, beasiswa ini dapat menjadi kesempatan yang bisa dicoba. Ditambah, tak ada syarat skor TOEFL ataupun IELTS.

    Penerima manfaat beasiswa ini akan mendapatkan fasilitas biaya kuliah, biaya hidup, biaya buku dan penelitian, dan asuransi kesehatan. Untuk bisa mendaftar beasiswa ini, berikut beberapa syarat yang harus dipenuhi:

    • Menyiapkan study plan
    • Menyiapkan personal statement
    • Menyiapkan letter of reference
    • Tidak terbatas usia
    • Tidak ada persyaratan GPA

    3. Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD)

    DAAD adalah salah satu beasiswa yang bisa dicoba bagi detikers yang ingin kuliah di Jerman. Beasiswa ini berlaku bagi mahasiswa calon mahasiswa magister, doktoral atau pascadoktoral.

    Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendaftar beasiswa ini yakni:

    • Telah menyelesaikan gelar sarjana atau berada di tahun terakhir studi (bagi pelamar S2)
    • Telah menyelesaikan gelar magister atau berada di tahun terakhir studi (bagi pelamar S3)
    • Mempunyai prestasi akademis yang tinggi
    • Memiliki tingkat bahasa Jerman menengah
    • Tidak ada batasan usia tetapi ada waktu maksimal antara menyelesaikan gelar sarjana dan mengambil hibah

    4. Brunei Darussalam Government Scholarship

    Beasiswa ini bersumber langsung dari Pemerintah Brunei Darussalam. Beasiswa berlaku bagi calon mahasiswa D3, S1 dan S2 dari negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), ASEAN, Persemakmuran, dan asosiasi lainnya.

    Mau coba beasiswa dari negara tetangga Indonesia ini? Berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu:

    • Warga negara ASEAN, Persemakmuran, dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI)
    • Berusia maksimal 25 tahun untuk program diploma dan sarjana, serta kurang dari 35 tahun untuk program magister
    • Pelamar bukan warga negara Brunei Darussalam
    • Penerima beasiswa diperbolehkan bekerja selama di Brunei
    • Penerima beasiswa wajib kembali ke negara asal setelah masa studi selesai

    5. Russian Government Scholarship

    Beasiswa ini juga disediakan oleh Pemerintah Rusia untuk pelajar internasional termasuk dari Indonesia. Bantuan beasiswa bisa dimanfaatkan untuk melanjutkan studi S1, S2 atau S3.

    Apa saja syarat untuk mendaftar beasiswa ini? Berikut di antaranya:

    • Bukan warga negara Federasi Rusia
    • Memiliki batas maksimal usia untuk S1 23 tahun, S2 25 tahun, dan S3 35 tahun.
    • Memiliki nilai rata-rata ijazah pendidikan terakhir minimal 80
    • Mempunyai kemampuan bahasa Rusia minimal di level B1, dan bahasa Inggris di level B2
    • Sehat secara jasmani dan rohani
    • Mempunyai minat yang tinggi terhadap bidang studi yang dipilih serta berkomitmen untuk menyelesaikan studi di Rusia

    Nah, itulah beberapa beasiswa ke luar negeri yang tidak mensyaratkan nilai TOEFL/IELTS. Detikers tertarik daftar yang mana?

    (cyu/nwy)



    Sumber : www.detik.com

  • Merumuskan Ulang Posisi Islam Indonesia dalam Kancah Global



    Jakarta

    Kunjungan Grand Syaikh Al-Azhar Dr. Ahmed Muhammad Ahmed El-Tayeb untuk ketiga kalinya ke Indonesia, pada 8 hingga 11 Juli 2024, yang merupakan bagian dari lawatannya ke Asia Tenggara, patut mendapat sambutan istimewa karena beberapa alasan. Kunjungan ini bertujuan untuk menggaungkan Piagam Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia, yang ditandatangani oleh pemimpin tertinggi Universitas Al-Azhar dan Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada tahun 2019, sebagaimana dijelaskan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (balitbangdiklat.kemenag.go.id 26/6/2024).

    Lebih dari itu, kunjungan Grand Syaikh Al-Azhar kali ini memiliki arti penting bukan saja bagi penguatan hubungan historis yang mendalam antara Indonesia dan Mesir, tetapi juga bagi upaya Indonesia untuk memperkuat posisi strategisnya dalam kancah global. Indonesia dan Mesir dapat bergandengan tangan berdiri di depan untuk menyuarakan perdamaian dan persaudaraan sambil melawan segala bentuk ekstremisme, radikalisme dan kekerasan. Ditopang Al-Azhar, Mesir dikenal sebagai benteng nilai-nilai moderasi dan toleransi. Begitu juga Indonesia. Dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar, Indonesia masyhur dengan model keislaman yang inklusif dan damai.

    Dalam lanskap dunia kontemporer, interaksi antara agama, politik, dan identitas menjadi semakin kompleks. Di antara dinamika ini, konsep “decentring Islam” (mendesentrisasi Islam) muncul sebagai paradigma signifikan. Decentring Islam berupaya untuk mengalihkan dari perspektif tradisional yang berpusat pada Arab mengenai identitas dan praktik Islam, ke arah keragaman dan pluralitas dalam dunia Muslim. Indonesia, sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim terbanyak dan satu negeri Asia besar, menawarkan sudut pandang unik untuk mengeksplorasi konsep ini dan implikasinya terhadap geopolitik global, wacana keagamaan, dan pertukaran budaya.


    Secara historis, pemikiran dan praktik Islam sangat dipengaruhi oleh budaya Arab, mengingat asal-usul agama ini di Jazirah Arab. Pandangan yang berpusat pada Arab ini sering kali menutupi kekayaan keragaman tradisi Islam di berbagai wilayah, termasuk Indonesia yang sering masih dipandang pinggiran (peripheral). Decentring Islam bertujuan memperluas pemahaman tentang identitas Islam dengan mengakui dan menghargai berbagai ekspresi Islam yang dipraktikkan oleh Muslim non-Arab. Pendekatan ini menekankan pentingnya konteks lokal, kekhasan budaya, dan perkembangan historis yang membentuk praktik keagamaan Muslim di berbagai belahan dunia.

    Decentring Islam bukan berarti mengurangi pentingnya kontribusi Arab terhadap peradaban Islam, tetapi mengakui bahwa Islam adalah agama global dengan berbagai macam ekspresi dan perubahan budaya. Ini bertujuan membongkar representasi Islam yang monolitik, dengan mendorong pemahaman yang lebih inklusif dan representatif yang mencerminkan realitas kehidupan Muslim di seluruh dunia.

    Indonesia: Model Pluralisme Islam

    Indonesia, rumah bagi lebih dari 270 juta Muslim, mewujudkan prinsip-prinsip decentring Islam melalui perpaduan khas antara iman Islam dan budaya lokal. Sejarah kepulauan ini ditandai oleh sintesis berbagai pengaruh budaya dan agama, termasuk Hindu, Buddha, dan kepercayaan adat, yang telah berjalin dengan tradisi Islam. Mosaik budaya ini melahirkan Islam khas Indonesia yang berakar kuat pada konteks lokal yang melahirkan berbagai keragaman di dalam Islam Indonesia itu sendiri. Kecuali Islam di Jawa yang terepresentasi dengan baik dalam berbagai kajian kesarjanaan, sebenarnya mosaik keragaman di berbagai kepulauan lain, termasuk wilayah Indonesia Timur, masih sangat menarik dieksplorasi untuk mendapatkan gambaran lebih utuh tentang Islam Indonesia.

    Islam Indonesia ditandai oleh sifatnya yang moderat dan pluralistik. Falsafah dasar bangsa, Pancasila, yang mempromosikan toleransi dan inklusivitas beragama, memastikan bahwa semua komunitas agama dapat hidup berdampingan dengan harmonis. Pancasila menjadi falsafah antarbudaya (intercultural philosophy) yang sangat relevan dengan kemajemukan. NU dan Muhammadiyah mendukung interpretasi Islam yang kontekstual dan progresif yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia. Model pluralistik dan inklusif ini menawarkan narasi alternatif tentang Islam, dengan menunjukkan bahwa agama ini dapat berkembang dalam lingkungan budaya dan politik yang beragam.

    Peran NU dan Muhammadiyah sangat penting dan tidak tergantikan dalam memosisikan Islam Indonesia dalam kancah global. Terutama melalui inisiatif pendidikan, sosial, dan politik mereka, NU dan Muhammadiyah berkontribusi pada pemahaman Islam yang lebih pluralistik dan inklusif, baik di Indonesia maupun di dunia Muslim yang lebih luas. Konsistensi mereka dalam inisiatif-inisiatif fundamental ini akan menentukan trayektori masa depan mereka dalam decentring Islam.

    NU mengoperasikan jaringan luas pendidikan keagamaan (pesantren) di seluruh Indonesia, dari tingkat dasar sampai universitas, yang mendorong pendekatan holistik terhadap pembelajaran. Kurikulum sering kali mencakup pengajaran tentang toleransi beragama, demokrasi, dan hak asasi manusia. Demikian pula, Muhammadiyah telah membangun jaringan pendidikan yang komprehensif, yang menekankan pemikiran ilmiah dan rasional di samping pendidikan agama, mendorong pemikiran kritis dan inovasi. Lembaga-lembaga pendidikan yang mereka kelola perlu didorong tampil di kancah global, melalui pembukaan cabang-cabangnya di berbagai kawasan dunia Islam.

    Reformulasi di Kancah Global

    Posisi strategis Indonesia dalam kancah global bersifat multifaset, mencakup dimensi politik, ekonomi, dan budaya. Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, Indonesia memainkan peran krusial dalam urusan ekonomi regional dan global. Model pemerintahan demokratisnya dan identitas Islam moderatnya memberikan narasi alternatif terhadap persepsi Islam yang sering terpolarisasi dalam politik global.

    Di panggung internasional, Indonesia aktif mempromosikan dialog dan kerja sama antaragama melalui kebijakan luar negerinya. Upaya diplomatik negara ini dalam mempromosikan perdamaian dan stabilitas di wilayah konflik, terutama di dunia Muslim, menunjukkan komitmennya terhadap tatanan global yang didasarkan pada saling menghormati dan pengertian. Kepemimpinan Indonesia dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan partisipasinya dalam misi perdamaian PBB semakin menegaskan perannya sebagai mediator dan advokat perdamaian.
    Secara budaya, Indonesia berkontribusi terhadap pemahaman global tentang Islam melalui warisan seni, sastra, dan praktik keagamaannya yang kaya. Peringatan tahunan hari raya Islam, perayaan musik dan tarian tradisional Islam, serta lembaga pendidikan Islam yang berkembang pesat semuanya mencerminkan budaya Islam Indonesia yang dinamis. Dengan membagikan aset budaya ini di panggung global, Indonesia membantu mendesentrisasi narasi yang berpusat pada Arab dan menyoroti keragaman dalam dunia Muslim.

    Singkatnya, decentring Islam adalah kerangka kerja yang krusial untuk memahami sifat multifaset dari dunia Islam, dan posisi Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim utama mencerminkan keragaman ini. Perpaduan unik antara iman Islam dan praktik budaya lokal, komitmennya terhadap pluralisme dan demokrasi, serta peran aktifnya dalam diplomasi global, semuanya berkontribusi pada pemahaman yang lebih bernuansa dan inklusif tentang Islam.

    Seiring dunia terus bergumul dengan isu-isu identitas keagamaan dan koeksistensi, contoh Indonesia menawarkan wawasan berharga tentang bagaimana Islam dapat dipraktikkan dan dipahami dalam cara yang beragam dan dinamis. Dengan merangkul prinsip-prinsip decentring Islam, komunitas global dapat bergerak menuju apresiasi yang lebih komprehensif dan adil terhadap keragaman dunia Muslim yang sangat kaya. Dalam lingkup praktisnya, dengan memberdayakan segenap kemampuan ekonomi-politik dan modal kultural keislaman di kawasan, di Asia khususnya, dan global melalui prinsip co-production of peace, pemerintah dan warga Indonesia bisa lebih berperan untuk ikut menawarkan secercah harapan baru.

    Noorhaidi Hasan
    Guru Besar Islam dan Politik, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com