Tag: pameran seni

  • Mengenal Karya Seni Rupa Murni dan Potensinya di Dunia NFT

    Apakah Anda sering mengunjungi pameran seni rupa? Jika sering, maka sudah saatnya Anda mengetahui bahwa bentuk karya seni yang Anda temui kemungkinan besar terdiri dari dua jenis, yaitu karya seni rupa murni dan karya seni rupa terapan. Keduanya memang serupa, tapi tidak sama, lho. Yuk, simak penjelasan lengkapnya beserta perkembangannya dalam adopsi NFT!

    Pengertian Karya Seni Rupa Murni

    Mengutip dari Kompas.com, karya seni rupa murni adalah karya seni rupa yang diciptakan dengan mengutamakan keindahan dan estetika dari karya seni itu sendiri dibandingkan dengan fungsi. Umumnya, seniman menciptakan jenis karya seni rupa ini untuk memuaskan dirinya sendiri, dengan memanfaatkan aliran serta gaya yang dimiliki oleh seniman itu sendiri.

    Dikarenakan karya seni ini cenderung dibuat dengan preferensi seniman, maka seringkali apresiasi seni yang bisa dilakukan terhadap seni rupa murni hanya dengan menikmati visual yang disajikan saja. Sebab, seni rupa murni tidak dibuat untuk memenuhi tugas tertentu dan berfungsi bagi kehidupan sehari-hari.

    Perbedaan Seni Rupa Murni dan Seni Rupa Terapan

    Perbedaan Seni Rupa Murni dan Seni Rupa Terapan

    Meski selalu berdampingan, seni rupa murni dan terapan adalah dua hal yang berbeda. Berikut ini beberapa perbedaan di antara keduanya:

    1. Definisi

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, seni rupa murni merupakan jenis seni rupa yang lebih memfokuskan pada nilai keindahan dan sifatnya cenderung bebas atau freehand, sesuai dengan keinginan seniman. 

    Sebaliknya, seni rupa terapan merupakan jenis seni rupa yang mengutamakan nilai teknis dan penerapannya dalam kehidupan. Meski begitu, seni rupa terapan juga tetap memperhatikan nilai estetika, hanya saja tidak sedominan seni rupa murni.

    2. Tujuan

    Seni rupa murni memiliki tujuan yang cenderung lebih personal, yaitu untuk memenuhi kepuasan senimannya. Hal ini sesuai dengan nilai yang ditanamkan saat menciptakan karya seni rupa murni, yaitu mencapai keindahan sesuai dengan preferensinya. Seni rupa yang satu ini tidak bertujuan untuk menjadi sebuah karya seni yang fungsional.

    Sementara itu, seni rupa terapan berbanding terbalik. Seni rupa terapan justru dibuat berdasarkan tujuan yang ditetapkan di awal. Tujuannya bisa bermacam-macam tergantung pada kemampuan dan kebutuhan sang seniman, tetapi umumnya untuk komersial dan menjadi sesuatu bisa diterapkan dalam kehidupan.

    3. Bentuk

    Dari segi bentuk, seni rupa murni yang banyak ditemukan adalah berupa lukisan, patung, pahatan, kriya, gerabah, koreografi, hingga masih banyak lagi. 

    Di sisi lain, seni rupa terapan biasanya berbentuk fotografi, arsitektur, ukiran, batik, seni grafis, hingga fashion. Berbeda dengan seni rupa murni, bentuk seni rupa terapan lebih bersifat komersial dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Perkembangan Adopsi NFT oleh Seni Rupa Murni

    Perkembangan Adopsi NFT oleh Seni Rupa Murni

    Jika melihat beberapa waktu ke belakang, adopsi NFT sedang gencar-gencarnya dilakukan di seluruh dunia. Selain menandakan bahwa masyarakat sudah mulai terbuka dengan teknologi blockchain, hal ini juga menandakan adanya perubahan bagi dunia seni.

    Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya penjualan NFT yang ada di seluruh dunia. Dilansir dari DappRadar, volume penjualan NFT di seluruh dunia pada Q3 2021 tercatat senilai 10,3 miliar USD, naik 10 kali lipat dari Q1 dan Q2.

    Para seniman yang tertarik untuk menerbitkan NFT secara bersamaan harus mendigitalisasi karya seni miliknya. Meski begitu, hal ini tidak menutup kesempatan bagi para seniman rupa dan konvensional untuk ikut bergabung dan mengadopsi NFT. Hal ini diawali dengan tokenisasi karya seni rupa murni milik Andy Warhol, seniman pop-art ternama, berjudul “14 Small Electric Chairs” pada tahun 2018.

    14 Small Electric Chairs

    Mengutip situs Gemini, lukisan senilai 5.6 juta USD ini berhasil digitalisasi ke blockchain dibantu dengan lelang 30% bagian dari lukisan oleh Maecenas, kemudian menghasilkan penjualan senilai 1.7 juta USD.

    Para kolektor dapat membeli sebagian dari karya seni tersebut dengan BTC, ETH, juga ART koin. Para kolektor memiliki kepemilikan atas sebagian lukisan tersebut, lengkap dengan kode unik yang akan menjamin keasliannya.

    Peristiwa lain yang juga mendorong peningkatan adopsi NFT adalah penjualan seni digital karya Beeple, berjudul “Everydays: The First 5000 Days”, dalam bentuk NFT di Christie’s pada Maret 2021 lalu. NFT tersebut berhasil terjual di Christie’s seharga 69 juta USD, lho! Berkat peristiwa tersebut, adopsi NFT terus meningkat sampai sekarang dan juga merambah ke dunia seni rupa murni atau fine art.

     Francesco Clemente

    Selain digitalisasi fine art menjadi NFT, kini juga sudah ada NFT marketplace yang secara khusus dibuat untuk para seniman rupa murni yang ingin terjun ke dunia NFT, bernama ArtOfficial. Marketplace ini merupakan hasil kerja sama antara gallerist Vito Schnabel dan biro konsultan VaynerNFT. Koleksi NFT yang diluncurkan di Art Official berasal dari lukisan hasil karya fine artist ternama asal Italia, Francesco Clemente. 

    Masa Depan Seni Rupa Murni dalam NFT

    Tidak bisa dipungkiri, karya seni rupa murni telah ada sejak lama dan menjadi objek pertukaran dan jual-beli oleh para kolektor juga pegiat karya seni. Melihat kehadiran NFT, tidak menutup kemungkinan bagi fine artists untuk merilis karya seni miliknya dalam bentuk digital atau NFT, khususnya karya seni lukisan. 

    Mengingat banyak sekali fine artists yang terus-menerus hidup dalam seni konvensional, tidak ada salahnya untuk mencoba peruntungan di NFT. Dengan NFT, seniman konvensional bisa merasakan sensasi pameran dan penjualan karya seni yang tentunya lebih cepat dan praktis berkat peran teknologi blockchain.

    Akan tetapi, dalam migrasi dari fine art ke NFT, diperlukan perubahan sikap dan pandangan dari para seniman rupa juga kolektor seni konvensional. Dengan NFT, para kolektor tidak bisa lagi menilai suatu karya seni hanya dari keterampilan dan bahan baku yang digunakan saja. Sebab, akan banyak hal baru yang ternyata berpengaruh dalam menentukan value dari karya seni NFT. 

    Baca juga: Serba-Serbi Kolektor Seni dan Caranya dalam Mendapatkan Cuan

    Jadi, sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia NFT, pegiat karya seni rupa murni harus tetap memiliki perencanaan yang matang dan sesuai dengan segala pertimbangan yang ada, ya! Bagi Anda para fine artists yang tertarik dengan NFT, cari tahu lebih lanjut dengan mengunjungi www.tokomall.io dan registrasi akun TokoMall Anda sekarang!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Beraneka Macam Kolektor Seni dan Caranya Mendapatkan Cuan

    Apakah di antara Anda ada yang hobi mengoleksi karya seni? Jika ada, maka artikel ini cocok untuk Anda. Hal ini dikarenakan dunia kesenian ternyata sangat terdampak dari demam NFT yang kian berkembang pesat. Nah, selain seniman, kolektor seni yang bosan dengan konsep konvensional juga bisa, lho, mencoba peruntungannya dengan NFT. 

    Sebelum membahas lebih jauh mengenai cara mencari untung lewat NFT, mari kita lebih dulu membahas apa itu kolektor seni secara umum. Seperti namanya, kolektor seni berarti seseorang yang hobi mengoleksi karya seni, khususnya seni rupa. Meski terkesan sederhana, kolektor memiliki peran penting dalam dunia kesenian, lho.

    Hal ini ditunjukkan dengan peran kolektor sebagai penentu harga pasar dari suatu karya seni. Sebab, kolektor dapat menjual kembali koleksi miliknya dengan harga tinggi. Tidak semata-mata soal harga saja, menjadi kolektor juga dituntut untuk memiliki pengetahuan yang cakap mengenai dunia seni. Dikarenakan nilai suatu karya seni juga berdasar pada aliran, teknik, hingga pandangan terhadap seniman di baliknya.

    Dilansir dari Tempo, Hendro Wiyanto, seorang kurator seni dalam negeri, menyatakan bahwa pasar seni itu sendiri juga harus dipenuhi dengan argumen dari kacamata kesenian yang disampaikan kolektor. Sehingga, pasar seni tidak melulu soal harga atau bahkan ikut-ikutan membeli, tetapi juga tetap mempertahankan kualitas dan selera.

    Pertimbangan ini juga tentunya terjadi di dunia seni NFT, teknologi yang membawa angin segar bagi dunia kesenian, termasuk bagi para seniman dan kolektor. Penasaran? Yuk, baca terus artikel ini!

    Dunia Kesenian Diramaikan dengan Hadirnya NFT

    Sebelum hadirnya NFT, dunia kesenian sempat mengalami keterpurukan sejak terjadinya pandemi COVID-19 yang dimulai pada awal tahun 2020. Para pelaku industri kesenian, khususnya seni rupa, cenderung sulit untuk memamerkan dan memperjualbelikan karya seni miliknya. Dilansir dari situs Pemasaran Kemenparekraf, subsektor seni rupa mengalami penurunan kontribusi bagi perekonomian sebesar 2.94% selama pandemi.

    Serupa dengan para seniman rupa atau kreator karya seni, kolektor karya seni juga mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan keterbatasan yang dialami kolektor yang hanya bisa melakukan mark-up harga dari suatu koleksi seni miliknya saat penjualan, karena ketersediaan karya seni di pasar yang terbatas. Selain itu, terdapat waktu tunggu yang tidak pasti untuk mencapai kenaikan value dari seniman yang karya seninya mereka koleksi. Permasalahan tersebut terbantu dengan adanya NFT.

    Baca juga: Atasi Era Digital dengan Digitalisasi Karya Seni 2 Dimensi

    Tidak hanya dalam aspek teknis yang membuat otentikasi karya seni menjadi lebih mudah dan eksklusif, NFT juga membawa keuntungan finansial bagi seniman atau kreator. Dengan menerbitkan karya seni menjadi NFT, kreator bisa mendapatkan royalti sejumlah persentase yang ditentukan pada saat minting atau upload NFT. Meskipun NFT tersebut sudah pindah tangan berkali-kali, sejumlah pendapatan akan tetap mengalir ke dompet kreator tiap kali penjualan NFT tersebut terjadi.

    Namun, selain kreator NFT, apakah kolektor NFT juga bisa memperoleh keuntungan? Jawabannya, tentu saja bisa! Kok, begitu? Begini penjelasan lebih lengkapnya!

    Mengoleksi NFT Juga Bisa Membawa Keuntungan

    Serba-Serbi Kolektor Seni dan Caranya Mendapatkan CuanLayaknya kolektor seni konvensional yang bisa meraup keuntungan lewat penjualan kedua atau seterusnya, kolektor NFT juga bisa melakukan hal yang sama, lho. Namun, ada beberapa hal yang perlu diberi perhatian lebih oleh kolektor NFT, yaitu memastikan bahwa karya seni pada NFT tersebut adalah orisinil, bukan hasil duplikat dari karya seni milik seniman lain lalu dijadikan NFT.

    Juga, karena nilainya masih cenderung abstrak dengan risiko yang tinggi, kolektor NFT harus pintar-pintar memilih dan menentukan NFT mana yang memiliki nilai dan harganya berpotensi menjulang di masa depan. Meskipun sulit dan penuh akan ketidakpastian, tetapi kolektor bisa melihat track record kreator NFT tersebut atau dari segi arah tren, estetika, juga aliran seni yang diterapkan. 

    Jadi, seperti kolektor seni konvensional, mengoleksi NFT juga baiknya tidak semata-mata untuk mengejar tren saja, tetapi juga berdasar pada nilai-nilai kesenian yang berlaku. Nah, dengan koleksi NFT yang bernilai tinggi, kemungkinan besar harga NFT tersebut akan meningkat seiring berjalannya waktu dan Anda bisa meraih keuntungan setelahnya.

    Cara Kolektor Seni Memperoleh Keuntungan Lewat NFT

    Terdapat 3 cara yang bisa kolektor NFT lakukan dalam mengantongi keuntungan, nih, yaitu:

    1. Pamerkan Koleksi NFT

    Cara pertama yang bisa Anda lakukan sebagai kolektor NFT adalah memamerkan koleksi NFT yang Anda punya. Pasalnya, Anda tidak akan bisa meraih calon pembeli jika mereka tidak mengetahui koleksi NFT apa saja yang Anda miliki. Anda bisa mulai dengan memamerkan NFT di media sosial, misalnya Instagram atau Twitter. 

    Ditambah lagi, jika Anda mengoleksi NFT hasil karya seniman ternama atau memiliki nilai estetika yang cukup tinggi, Anda sudah mendapatkan nilai plus dalam meningkatkan reputasi Anda sebagai kolektor dan membuat calon pembeli tertarik dengan koleksi Anda.

    2. Lakukan Lelang dari Koleksi NFT

    Setelah memilih koleksi NFT mana yang sekiranya memiliki value lebih dan potensial, Anda bisa mulai menaruhnya untuk dilelang atau auction di platform pilihan. Selain konsep jual-beli, konsep lelang juga seringkali menjadi pilihan dalam mengumpulkan keuntungan lewat NFT.

    Setelah menaruhnya untuk dilelang, Anda bisa lakukan pengecekan secara berkala mengenai tawaran yang telah diberikan oleh para calon pembeli. Tidak menutup kemungkinan, akan ada calon pembeli yang bid sesuai dengan harga yang Anda inginkan, atau bahkan jauh di atas harga tersebut. Barulah dari sana Anda bisa mendapat cuan.

    3. Jual Koleksi NFT di Marketplace

    Terakhir, cara ini menjadi cara yang paling mudah untuk Anda lakukan dalam mendapatkan keuntungan lewat NFT. Sebagai kolektor, Anda bisa menjual kembali NFT tersebut di NFT marketplace khusus jual-beli NFT, lho. Anda juga tidak perlu khawatir, karena kini sudah tersedia banyak sekali marketplace NFT yang bisa Anda pilih sesuai kebutuhan, salah satunya adalah TokoMall.

    Sebelum memutuskan untuk menjual NFT kembali, Anda harus memilih NFT dengan nilai jual yang cenderung tinggi. Hal ini agar Anda bisa menjualnya dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan pada saat Anda membelinya untuk pertama kali. Dengan begitu, Anda bisa mengantongi sejumlah keuntungan lebih dari penjualan tersebut.

    Sekarang Anda sudah paham, kan, mengenai cara yang bisa dilakukan kolektor seni untuk mendapatkan cuan lewat NFT? Yuk, cari tahu serba-serbi terbaru mengenai NFT lainnya di www.mall.tokoscape.com dan daftarkan diri Anda sebagai Creator (kolektor) di marketplace NFT TokoMall sekarang juga!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mampir ke Semesta Gallery, Melihat Karya Seni Sekaligus Spot Foto Estetik



    Jakarta

    Di Lebak Bulus, Jakarta Selatan ada salah satu ruang pamer seni bernama Semesta Gallery. Tak hanya menyuguhkan karya seni, tempat ini juga punya spot foto estetik.

    Tak dipungkiri lagi, zaman sekarang ini media sosial begitu bervariasi, sehingga banyak medium untuk menyalurkan minat. Belum lagi bagi yang senang berfoto, tempat-tempat estetik pasti jadi tujuannya.

    Berawal dari media sosial pula, detikTravel berkunjung ke galeri seni tersebut, Selasa (3/9/2024). Di bawah terik matahari, Semesta Gallery ini menyuguhkan suasana yang nyaman nan sejuk karena di sekelilingnya terdapat banyak pepohonan.


    Kawasan ini juga cukup luas sehingga pengunjung banyak mengeksplor area-area sekitar Semesta Gallery ini untuk dijadikan latar belakang foto mereka. Shanaz berkunjung ke tempat ini memang sedang mencari ketenangan, sekaligus mencari nyaman secara pandangan matanya.

    “Ke sini sih buat nyari suasana tenang aja karena kan tempat enak juga buat healing gitu, terus di sini kan ada galeri seninya jadi sekalian aja liat-liat. Di sini juga tempatnya enak banyak pohon, udaranya juga sejuk jadi enak banget,” ucapnya kepada detikTravel.

    Semesta's GallerySemesta Gallery Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

    Di sela-sela aktivitasnya sebagai mahasiswa, ia sudah beberapa kali datang ke Semesta Galery ini hanya untuk sekadar melepas penat. Tak seperti kebanyakan yang datang ke sini bersama teman atau pasangan, Shanaz datang hanya seorang diri.

    “Iya ke sini sendirian aja karena ya memang buat nyari ketenangan aja, kadang juga ke sini bareng teman kalau lagi pengen rame-rame,” ujarnya.

    Semesta Gallery ini berada di Jalan Taman Sari No.77, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Saat berkunjung ke Semesta Gallery kebetulan sedang berlangsung pameran seni karya-karya Ria Pasaman yang merupakan ibu dari pemilik galeri ini yakni Andra Semesta.

    Tak cuma terdapat galeri seni saja, bagi pengunjung yang lapar di Semesta Gallery juga terdapat cafe yang hidangannya bisa dinikmati oleh para pengunjung.

    Semesta Gallery ini buka setiap hari Selasa hingga Minggu mulai dari jam 10.00 hingga 17.00 WIB untuk Selasa sampai Kamis

    Untuk Jumat hingga Minggu, Semesta Gallery ini buka dari pukul 09.00 hingg 18.00 WIB. Tidak ada pungutan biaya untuk pengunjung yang ingin datang ke tempat ini.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Ngulik Seni dan Desain di Tengah Kawasan Keren, Yuk Main ke ICAD 2025



    Jakarta

    Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) kembali digelar pada 10 Oktober-9 November 2025 di Kemang, Jakarta Selatan. Di gelaran yang ke-15 ini, detikTravel sempat berkunjung pada Jumat (17/10/2025) untuk menjelajahi dunia seni kontemporer dan kreatif yang menawarkan ide segar.

    Vibe nyeni sudah terasa ketika memasuki lobi pelaksanaan acara di Grand Kemang, yang penuh instalasi seni. Beragam warna dan bentuk seperti menarik perhatian pengunjung untuk sekadar melihat, menyentuh, atau tenggelam bersama pemikiran para senimannya.


    ICAD 2025 ini bukan hanya memamerkan karya seni keren, tetapi juga ikut merasakan atmosfer kreatif tepat di jantung Kemang. Saat ini, Kemang adalah kawasan yang baru-baru ini dinobatkan sebagai salah satu kawasan terkeren di dunia.

    Sejak dimulai pada tahun 2009, ICAD telah menjadi wadah bagi para seniman, desainer, dan profesional industri kreatif untuk berkolaborasi. Melalui program Kemang 12730 yang dimulai pada tahun 2021, ICAD juga bermitra dengan pelaku industri lokal, mulai dari kuliner, fashion, hingga gaya hidup, untuk menampilkan sisi Kemang yang lebih semarak dan berwarna.

    Banyak ide fresh yang ditawarkan dalam ICAD 2025 seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Saking freshnya ide kreatif para seniman, ada saja yang meluangkan waktu untuk nonton tiap tahun.

    “Saya selalu datang ke ICAD setiap tahun, jadi ini seperti acara yang wajib diikuti dan tidak perlu registrasi, cukup pakai gelang ini,” kata Richard.

    Saat memasuki area pameran, detikers akan menemukan beragam karya seni yang unik dan interaktif. Salah satunya terbuat dari barang-barang daur ulang yang disulap menjadi karya seni futuristik.

    “Keren banget, banyak banget karya seni unik yang terbuat dari barang bekas di sini. Aku datang untuk jalan-jalan juga. Suasananya sangat menyenangkan dan ada banyak kafe dan toko lokal yang bisa dikunjungi,” ujar Emely, seorang pengunjung yang mengetahui ICAD 2025 melalui media sosial.

    Di Kemang, lokasi pelaksanaan ICAD 2025, suasana urban berpadu dengan sentuhan artistik menjadikan agenda dan kawasan ini ideal bagi detikers yang ingin menikmati pengalaman kreatif. Kalau detikers mencari inspirasi artistik atau sekadar ingin menyaksikan pameran seni, Kemang dan ICAD 2025 wajib detikers kunjungi tahun ini.

    (row/row)



    Sumber : travel.detik.com