Tag: pasar baru

  • Nikmatnya Poffertjes dan Kapsalon di Kafe Belanda yang Viral di Pasar Baru


    Jakarta

    Tidak hanya kuliner tradisional, di Pasar Baru juga ada kafe kekinian yang bisa disambangi. Salah satunya kafe ini yang menawarkan kuliner Belanda.

    Pasar Baru memang terkenal sebagai pusat belanja barang hingga kuliner. Sehabis mengelilingi toko di Pasar Baru mungkin kamu mau menyempatkan waktu untuk mencicipi berbagai kuliner legendaris yang sudah terkenal di sana.

    Namun, sebenarnya Pasar Baru juga dikelilingi dengan beberapa kafe kekinian. Cocok menjadi tempat bersantai atau bahkan WFC (Work from cafe).


    Salah satu kafe terkenal di sekitar Pasar Baru adalah AMS&DAM. Lokasinya strategis dan mudah dicari, berada di Jl. Pintu Air V No. 49, Pasar Baru.

    Dari luar, bangunannya mirip seperti bangunan rumah, tetapi disulap menjadi lebih apik. Bagian terasnya diberi meja dan kursi untuk pengunjung yang ingin menikmati suasana outdoor. Adapun beberapa tanaman hijau yang membuat suasana kafe ini menjadi lebih asri.

    Ams and DamKafe Ams and Dam bisa ditemui di jalan pintu air, Pasar Baru. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Saat masuk, kamu bisa langsung melihat beberapa meja dan kursi, termasuk area bar. Kafenya didominasi dengan warna netral, seperti putih, abu-abu, dan krem dengan sentuhan kayu pada furniturnya.

    Ketika kami datang, suasana kafenya sangat tenang dan homey. Kami pun langsung pergi ke kasir untuk memesan menu makanan dan minuman andalan mereka.

    Keunikan kafe ini yaitu menu-menu yang ditawarkan merujuk pada menu khas Belanda. Meskipun memang ada beberapa yang sudah dicampur dengan sentuhan makanan Indonesia.

    Disebut-sebut pemilik sekaligus chef kafe ini memang memiliki pengalaman lebih dari 5 tahun bekerja di Amsterdam. Chef Travis banyak berlatih di restoran bergengsi di Amsterdam, yang telah mengantongi bintang Michelin.

    Ams and DamBegini tampilan bagian dalam kafe Ams&Dam. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Pada tahun 2022, ia memutuskan untuk membuka AMS&DAM dan berbagi pengalamannya selama bekerja di sana dengan menghadirkan kafe Belanda di Jakarta. Tidak heran jika kreasi makanan yang ia buat sebagian besar makanan khas Belanda.

    Pilihan menunya lengkap, mulai dari camilan, menu sarapan, makanan utama, dessert, serta berbagai macam minuman. Jenis-jenisnya ada yang memang khas Belanda, seperti poffertjes dan kapsalon, ada juga yang fusion, seperti omelet dabu-dabu hingga pasta rica-rica.

    Setiap menunya pun sudah lengkap dengan deskripsi bahan-bahan yang dipakai. Namun, jika masih bingung, kamu bisa bertanya langsung ke pelayan atau barista yang menurut kami sangat informatif.

    Ams and DamMenu poffertjes di sini tidak boleh dilewatkan. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Kami juga sempat meminta rekomendasi menu dari para barista. Akhirnya, kami memilih untuk memesan Poffertjes (Rp 40.000), Kapsalon (Rp 60.000), dan Bitterballen (Rp 44.000).

    Untuk minumannya, kami memilih dua racikan kopi berbeda yaitu Zeezout (Rp 32.000) dan Dutch Latte (Rp 34.000).

    Kurang lebih kami menunggu 15 sampai 20 menit sampai pesanan makanan dan minuman kami datang. Poffertjes dan bitterbalennya punya tampilan yang menggiurkan.

    Untuk poffertjesnya disajikan dengan lelehan butter terpisah dan ada hiasan bendera Belanda yang bisa dijadikan tusukan untuk mengambil poffertjes.

    Sepiringnya terdiri dari 8 keping poffertjes yang ukurannya agak besar. Teksturnya fluffy dengan rasa yang cukup hambar.

    Namun, karena ada taburan gula halusnya, rasanya menjadi manis. Jangan lupa dicocol butter untuk memberi sentuhan rasa gurih yang makin nikmat.

    Bitterbalennya juga punya rasa yang cukup memuaskan lidah kami. Satu piringnya terdiri dari 4 buah bitterballen. Tekstur luarnya renyah dan isiannya padat.

    Dalamnya diisi cincangan daging smoked beef yang dicampur kentang dan keju. Rasanya pun mirip seperti kroket dengan sentuhan rasa gurih dari keju yang cukup kuat.

    Jika tidak mau terlalu asin, bisa dicocol ke saus mustardnya yang akan menambah rasa asam sedikit manis.

    Untuk menu utama, kami memilih Kapsalon yang sepiringnya terdiri dari butter rice, salad tomat, potongan dada ayam, dan keju cheddar.

    Ams and DamKapsalonnya juga lezat, terdiri dari nasi butter yang gurih. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Dari segi tampilan, hidangan ini lebih mirip seperti salad karena ditutupi dengan banyak selada hijau dan tomat. Padahal, di dalamnya ada nasi gurih dan potongan daging ayam.

    Nasinya gurih dengan sentuhan aroma bawang goreng yang cukup kuat. Kami kira tidak akan cocok dipadukan dengan sayuran dan ayam kejunya, tetapi ternyata rasanya nikmat.

    Keju dan saladnya menambah sentuhan rasa gurih asam pada hidangan nasi ini. Ditambah ada saus mayonaise manis yang membuat rasanya semakin komplet. Porsinya juga besar dan mengenyangkan.

    Kalau mau minum-minum santai, bisa pesan aneka menu kopinya. Kami memesan menu signature seperti Zeezot yang terdiri dari espresso, salted caramel, sea salt, dan whip cream.

    Ams and DamIni minuman kopi yang bisa dipesan di kafe satu ini. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Rasa kopi espressonya dominan pahit tetapi kopinya tidak terlalu kuat. Cenderung lebih manis karena ada tambahan sirup salted caramel dan whip cream. Tekstur creamy juga hadir dari whip cream tersebut. Bagi yang suka kopi manis tampaknya akan cocok dengan racikan ini.

    Sedangkan Dutch Latte punya rasa kopi yang lebih pekat dan unik, Dari seruputan pertama kami sudah bisa merasakan aroma kayu manisnya. Racikannya yang ditambah dengan cokelat juga membuat minuman ini punya sentuhan rasa pahit.

    Itu dia beberapa menu makanan yang kami coba di AMS&DAM. Jika mencari kafe atau tempat minum kopi di daerah Pasar Baru, bisa mampir ke AMS&DAM yang berlokasi di Jalan Pintu Air V No. 49, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jakarta, Indonesia 10710.

    Buka Senin-Jumat pukul 10.00 sampai 21.00 WIB. Sabtu-Minggu pukul 9.00-21.00 WIB. Untuk informasi lebih lanjut bisa melihat instagram @amsendam.

    (aqr/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Hanya Ada 30 Burger Rumahan Setiap Hari Buatan Cancer Survivor


    Jakarta

    Di Pasar Baru, Jakarta Pusat, ada burger rumahan yang terbilang ‘hidden gem’. Setiap harinya hanya menawarkan 30 porsi burger saja dan cepat habis!

    Burger merupakan sajian sandwich yang populer di berbagai negara. Terdiri atas roti bun dengan isian daging patty. Untuk pelengkapnya bisa disajikan dengan acar (pickle), bawang bombay, dan lainnya.

    Jenis burger juga terbilang beragam. Paling populer memang burger ala Amerika yang patty-nya juicy dengan bumbu hanya garam dan merica. Namun, ada juga burger ala Timur Tengah yang bumbu daging patty-nya lebih berempah.


    Burger dengan Cita Rasa Timur Tengah

    Jungen Joint: burger tersembunyi di Pasar Barubeef patty ala Jungen Joint Foto: Yenny Mustika Sari/detikcom

    Salah satu yang menawarkan kreasi burger dengan cita rasa Timur Tengah adalah Jungen Joint. Sebenarnya kreasinya juga terdiri atas roti bun, pickle, saus mayones, bawang bombay, keju, dan patty.

    Cita rasa Timur Tengah dihadirkan pada pada patty-nya. Dewi, sang pemilik Jungen Joint mengatakan kalau ia meracik patty itu menggunakan 5 bumbu rempah khas Timur Tengah.

    “Kita pakai 5 bumbu ala Timur Tengah, jadi rasa rempahnya memang dominan. Bumbunya rahasia, tapi tidak ada kunyit. Jadi rasanya bukan arah ke kari,” ungkap Dewi kepada detikFood (21/10/2025).

    Lokasi Tersembunyi di Kawasan Pasar Baru

    Jungen Joint: burger tersembunyi di Pasar BaruJungen Joint: burger tersembunyi di Pasar Baru Foto: Yenny Mustika Sari/detikcom

    Lokasi Jungen Joint tak jauh dari area Pasar Baru dan Gereja Ayam. Tepatnya menempati area teras sebuah rumah di Jalan Kelinci Raya No.30, Swah Besar, Jakarta Pusat.

    Tempat makan burger satu ini sering disebut ‘Jungen Joint’ karena memang tak banyak yang tahu. Jungen Joint mulai dikenal karena banyak yang mengulasnya di media sosial dan berhasil membuat penasaran.

    Selain karena rasa burgernya, banyak orang penasaran karena porsi yang ditawarkan sangat sedikit. Jadi banyak orang sering kehabisan saat sampai ke sana.

    Detail Informasi (Jungen Joint)
    Nama Tempat Makan Jungen Joint
    Alamat Jalan Kelinci Raya No.30, Ps. Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat
    No Telp
    Jam Operasional 11.00 – 17.00 WIB (sehabisnya)
    Estimasi Harga Rp 60.000 – Rp 90.000
    Tipe Kuliner Burger
    Fasilitas
    • Cash/QRIS
    • Dine in / Takeway

    Hanya Jual 30 Porsi Burger

    Jungen Joint: burger tersembunyi di Pasar BaruDewi, pemilik Jungen Joint di Pasar Baru Foto: Yenny Mustika Sari/detikcom

    Jumlah burger yang ditawarkan per harinya adalah 30 porsi saja. Dewi mengaku tak akan menambahkan kuotanya karena berkomitmen pada dirinya sendiri.

    “Capek kalau banyak-banyak porsinya. Karena aku cancer survivor (penyintas kanker) ya, jadi enggak boleh capek-capek. Harus work life balance (kerja dan hidup yang seimbang). Saya mencoba mendengarkan tubuh saya saja,” cerita Dewi.

    “Tiga puluh porsi itu cukup untuk saya. Hal terpenting bisa merasa bahagia saja, jadi tidak akan menambah porsi,” lanjutnya.

    Untuk diketahui, Dewi adalah seorang penyintas kanker selama 8 tahun. Kini ia mengisi harinya dengan berjualan burger di rumah bersama seorang putra.

    Menu burger yang ditawarkan hanya ada 3, yaitu Jungen Signature, Jungen +, dan The Franck. Perbedaannya ada pada kondimen yang ditambahkan ke sajian burger masing-masing.

    Nama Jungen sendiri juga diambil dari marga keluarga suaminya. Ia juga mengaku tidak memiliki pengalaman di bidang F&B, karena dulunya ia adalah seorang produser di industri periklanan.

    “Jungen itu berasal dari nama marga almarhum suami saya,” kata Dewi.

    “Karena ini usaha rumahan, jadi saya gunakan nama itu,” lanjutnya.

    Cita Rasa Burger Jungen Joint

    Jungen Joint: burger tersembunyi di Pasar BaruJungen Joint: burger tersembunyi di Pasar Baru Foto: Yenny Mustika Sari/detikcom

    detikFood mencoba dua menu burger yang ditawarkan oleh Jungen Joint. Keduanya adalah Jungen Signature (Rp 60.000) dan The Franck (Rp 72.000).

    Perbedaan dua menu ini ada pada isian kondimen burger. Pada Jungen Joint hanya terdiri atas roti brioche bun, single beef patty, keju cheddar, pickle, dan caramelized onion.

    Sementara untuk The Franck lebih komplet, karena ada tambahan telur mata sapi, beef bacon, dan onion ring. Cita rasa The Franck ini lebih kompleks karena ada tambahan sensasi gurih dari beef bacon dan telur mata sapi, juga tekstur renyah dari onion ring.

    Untuk Jungen Signature rasanya lebih sederhana, tapi beef patty mereka tetap dominan. Sensasi rempah yang membuatnya berbeda, tercecap jejak rasa rempah jinten. Apalagi patty mereka juga sangat lembut.

    Dewi mengungkapkan, “Di sini 100 persen pakai daging sapi, kita nggak ada campuran tepung. Ada tambahan rempahnya yang bikin rasa dominan.”

    “Pickle juga kita buat sendiri, rasa asamnya kita minimalisir jadi ada sentuhan manisnya. Caramelized onion juga kita masak slow cooked selama 12 jam, terus mayonesnya juga handmade,” pungkasnya.

    Buat yang penasaran ingin mencoba Jungen Joint, harus datang pukul 11.00 WIB agar masih bisa mencicipinya. Kalau akhir pekan, antrenya cukup panjang dan setiap Senin libur.

    Jungen Joint

    Jalan Kelinci Raya No.30, Ps. Baru,
    Sawah Besar, Jakarta Pusat
    Jam operasional: 11.00 – 17.00 WIB (sehabisnya)
    Instagram @jungen.joint

    (yms/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Nggak Perlu ke Luar Negeri, Ini 4 Spot Miniatur Negara Lain di Jakarta



    Jakarta

    Traveler ingin merasakan suasana belanja di Thailand? Atau ingin makan tteokbokki di Korea Selatan? Nggak perlu mahal-mahal membeli tiket pesawat dan ngurus visa, ini empat “little” negara yang bisa traveller kunjungi saat di Jakarta!

    Keempat kawasan itu mudah dijangkau dengan transportasi umum. Semuanya terkoneksi dengan Transjakarta yang beroperasi sejak pagi hingga malam.

    Tidak hanya jajanan, pakaian dan beragam asesoris khas negara itu dijajakan di sini.


    1. Little Tokyo

    Terletak di kawasan Blok M Jakarta, Little Tokyo adalah tempat yang sudah tidak asing bagi warga Jakarta. Alasan kawasan ini disebut sebagai Little Tokyo adalah karena banyaknya orang Jepang yang bekerja, bahkan tinggal di sana.

    Terdapat berbagai resto, supermarket, karaoke, dan kafe bertema negeri sakura di sana. Traveler juga dapat menikmati makanan Jepang seperti ramen, sushi, dan okonomiyaki dengan rasa yang autentik. Suasana kental Tokyo semakin terasa dengan bangunan toko-toko berarsitektur khas Jepang lengkap dengan huruf-huruf Kanji di sekitarnya.

    2. Little Bangkok

    Berbeda dengan Tokyo, Bangkok merupakan tempat para shopaholic khususnya pecinta fashion berburu baju lucu dan kekinian. Berada di pasar terbesar se Asia Tenggara, lokasi belanja ini merupakan tempat baru di Pasar Tanah Abang. Meskipun baru, antusias pembeli sudah sangat padat di sini.

    Baju-baju yang dijual di sini memiliki desain pastel girly khas Mal Platinum Fashion Bangkok lengkap dengan “beli tiga lebih murah”. Suasana lorong Little Bangkok pun sangat mirip dengan aslinya di Thailand, lengkap dengan neon box dan lampu sorot di setiap toko. Nggak perlu jauh-jauh dan mahal-mahal jastip lagi, deh.

    3. Little Korea

    Jika kamu seorang Kpopers, jangan lewatkan Little Korea ini. Di sini traveler bisa mencoba jajanan khas Korea, foto-foto, hingga mencoba seragam ala SMA di Korea. Terletak di Lotte Shopping Avenue Mall, Kuningan Jakarta Selatan membuat Little Korea ini tak pernah sepi pengunjung.

    Ada tiga titik bernuansa Korea di mal ini. Pertama adalah Kwangya di Lantai GF. Ini merupakan tempat melihat dan membeli merchandise dari berbagai idol grup. Masih di Lantai GF, spot selanjutnya adalah Korea 360.

    Di sini traveler akan disambut dengan cap tangan para Idol Korea mulai dari Haechan NCT hingga Lee Minhyuk BtoB 4U. Turun satu lantai, traveller akan menemukan titik selanjutnya yaitu Lotte Alley yang didesain seperti di jalanan Korea lengkap dengan hangeul, jajanan khas Korea, photobox, serta mesin pencapit ala Korea.

    4. Little India

    Pasar Baru, Jakarta Pusat merupakan pusat permukiman India pertama di Jakarta yang kental dengan budaya India. Sering disebut sebagai Little India, di sini traveller dapat dengan mudah menemukan makanan hingga pernak-pernik khas India yang dijual oleh orang India asli.

    Mulai dari toko baju sari, pengobatan herbal ala India, pernak pernik aksesoris dan alat ibadah yang dikirim langsung dari India, hingga makanan khas seperti kari dan berbagai olahan masala ada di Little India ini.

    Little India ini juga sering melakukan festival-festival perayaan hari besar salah satunya Diwali atau Festival Cahaya Umat Hindu yang cantik dengan dekorasi kerlap-kerlip dan jejeran lilinya.

    (fem/fem)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Pasar Baru, Pasar Lawas Sejak Jaman VOC



    Jakarta

    Pasar Baru oleh dibilang bukan pasar biasa. Pasar yang dibangun sejak jaman kolonial itu tidak hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga budaya dan kuliner.

    Pasar Baru masih berada di kawasan Weltevreden (tempat tinggal orang-orang penting Eropa pada pemerintahan Hindia Belanda). Berdiri sejak 1820, pasar itu menjadi pusat perbelanjaan tertua di Jakarta.

    Dilansir dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), ketika zaman VOC dahulu, Pasar Baru ditulis dengan ejaan Pasar Baroe atau De Nieuwe Markt.


    Pada era tersebut Pasar Baru menjadi pusat perbelanjaan bergengsi karena lokasinya yang berada di Jalan Veteran, yang dahulu merupakan kawasan elit Rijswijk. Tak heran jika banyak sekali toko-toko tua dengan segudang cerita di kawasan Pasar Baru ini

    Selain kekayaan sejarah yang ada, Pasar Baru juga terkenal akan kemajemukan suku yang ada. Tak hanya Betawi, etnis India yang pada zaman dahulu bermigrasi ke kawasan Pasar Baru masih bertahan hingga saat ini.

    Banyak ditemukan toko-toko pernak-pernik India yang bisa ditemukan hingga saat ini, bahkan ada satu kawasan yang disebut “Little India” di sana karena banyaknya pedagang asli India di kawasan tersebut. Kuil Sikh yang biasa disebut dengan Gurdwara oleh masyarakat keturunan India juga ada di kawasan Pasar Baru.

    Pasar Baru di JakartaPasar Baru di Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

    Tak hanya suku India, kehadiran tempat beribadah masyarakat Tionghoa Klenteng Sin Tek Bio yang diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-17 tepatnya tahun 1698 juga menambah keberagaman di Pasar Baru. Lokasinya berada di gang kelinci. Ini juga menjadikan bukti nyata kerukunan umat berbagai suku, ras, dan agama bersatu di kawasan Pasar Baru.

    Itu sekaligus menjadikan daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Bahkan dalam pengamatan detikTravel pada Rabu (15/5/24) terlihat beberapa turis asing mondar-mandir sambil mengabadikan suasana di Pasar Baru.

    Kini, Pasar Baru mulai dikenal oleh gen z sebagai tempat berburu baju bekas atau thrifting. Mulai dari kaos, celana, jaket, sepatu, hingga sabuk ada di sini. Harga yang dibanderol pun cukup murah mulai dari Rp 10 ribu.

    Menurut salah satu juru parkir di Pasar Baru Cenil, pengunjung Pasar Baru kini mayoritas memiliki tujuan untuk thrifting dan kulineran.

    “Paling rame Sabtu Minggu abis dhuhur lah, biasanya ke sini buat ngethrift anak-anak muda,” kata Cenil.

    “Kalau orang jauh biasa juga nanya Soto Oji, semua bisa belanja bisa kuliner juga bisa di sini. Banyak kan tuh makanan-makanan dari jaman dulu di sini,” kata Cenil.

    Pasar Baru di JakartaPasar Baru di Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

    Deretan toko legendaris yang masih eksis hingga saat ini juga masih banyak ditemukan di Pasar Baru, diantaranya toko sepatu Sin Lie Seng yang terkenal dengan keawetan produknya dan sudah berjualan sejak 1943, Bombay Textile yang sudah ada sejak 1951, dan Isardas yang terkenal dengan slogan 3 jam selesai dan sangat terkenal pada zaman dahulu.

    Akses menuju Pasar Baru bisa dibilang sangat mudah karena lokasinya yang berada di pusat Kota Jakarta. Untuk KRL stasiun terdekat ialah Stasiun Juanda dan Halte Busway terdekat ialah Halte Pasar Baru. Yuk agendakan berwisata ke Pasar Baru!

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • 4 Rekomendasi Kuliner Legendaris Saat Jalan-Jalan di Pasar Baru



    Jakarta

    Tak hanya sebagai lokasi berbelanja pakaian dan kain, jika berkunjung ke Pasar Baru jangan sampai melewatkan kuliner legendarisnya. Apa saja ya?

    Sebagai salah satu pasar tua di Jakarta, berbagai kuliner mulai dari makanan berat, cemilan, hingga dessert ada di Pasar Baru dengan cita rasa khas dan suasana vintage yang masih terasa.

    Berikut detikTravel rangkum empat kuliner legendaris di Pasar Baru,

    1. Bakmi Gang Kelinci (GK)

    Pasar Baru di JakartaBakmi Gang Kelinci di Pasar Baru di Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

    Meskipun lokasinya berada di dalam gang, Bakmi ini selalu ramai dikunjungi pembeli.


    Sudah berdiri sejak tahun 1957, konsep resto jadul masih dipertahankan Bakmi GK hingga saat ini. Meskipun telah membuka banyak cabang, Bakmi GK Pasar Baru merupakan lokasi pertama penjualannya.

    Harga per porsi bakmi mulai dari Rp 18 ribu saja. Kali ini detikTravel berkesempatan mencoba Bakmi Spesial AK yang merupakan menu andalan Bakmi GK.

    Disajikan semangkuk mi pipih dengan tekstur yang kenyal, gurih, dan khas karena dibuat sendiri. Lengkap dengan topping jamur, ayam asin, ayam manis, sayur, serta kuah gurih terpisah.

    Selain bakmi tersedia juga berbagai menu makanan berat lainnya seperti capcay, ayam goreng mentega, chicken steak, hingga gurame saus padang.

    Bakmi GK buka setiap hari pukul 09.00 – 20.00 WIB. Lokasinya berada di Gang Kelinci, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

    2. Bakmi Aboen

    Bakmi A Boen Pasar BaruBakmi A Boen Pasar Baru (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

    Berada tak jauh dari kuliner sebelumnya, tepat di samping Bakmi GK terdapat gang kecil tempat Bakmi Aboen berjualan. Nama Aboen berasal dari nama pemilik kedai.

    Kedai mie gaya China ini selalu dipenuhi pembeli setiap harinya, meskipun lokasinya di ujung gang. Namun tak perlu khawatir menunggu lama karena pelayanan di Bakmi Aboen terhitung cepat dengan ruang makan yang nyaman dilengkapi AC.

    Menu andalannya adalah bakmi non halal, yakni bakmi campur babi char siu dan babi goreng, dengan daging ayam cincang, bakso sapi. Meskipun memiliki menu andalan non halal tersedia juga berbagai menu lainnya yang tidak menggunakan campuran komponen non halal.

    Menu Locupan Bakmi Aboen yang terkenal lezat juga jangan sampai terlewat dicoba jika berkunjung ke sini. Selain bakmi tersedia juga berbagai menu chinese food lainnya yang menggugah selera.

    Harga seporsi bakmi di sini mulai dari Rp 50 ribu saja dengan sajian topping yang melimpah. Bakmi Aboen buka setiap hari pukul 07.00 – 20.00 WIB.

    3. Cakwe Ko Atek

    Cakwe Ko Atek, Pasar BaruCakwe Ko Atek, Pasar Baru (Natasha kayla Ananta/detikcom)

    Setelah kenyang menyantap bakmi, traveler bisa coba cemilan satu ini. Masih berada satu gang dengan Bakmi Aboen, ada toko cakwe legendaris yang sudah berdiri sejak 1971. Kelezatan Cakwe Ko Atek berhasil membuatnya masuk ke dalam jajaran ’10 Most Wanted Food In Jakarta’.

    Sesampainya di sana traveler akan bertemu langsung dengan Ko Atek. Ko Atek merupakan generasi kedua dari ayahnya, Sutikno yang lebih dulu berjualan cakwe dan kue bantal.

    Hingga saat ini Ko Atek masih terjun langsung dalam membuat adonan hingga menjual cakwe di Pasar Baru. Hal ini dilakukannya untuk terus mempertahankan kelezatan cakwe buatannya.

    “Iya buat adonan masih sendiri juga. Kalau makanan itu susah, beda pembuat pasti rasanya berubah,” Kata Ko Atek saat ditemui detikTravel Kamis (16/5/24).

    Hanya dengan Rp 6 ribu per biji traveler sudah bisa menikmati cakwe yang mekar sempurna, gurih, garing, dan lembut pada bagian dalamnya. Saus cakwenya pun unik dengan rasa pedas manis asam yang kuat.

    Meskipun sudah berdagang selama 53 tahun, Ko Atek tetap mempertahankan kesederhanaannya berjualan di gang dan kios kecil. Hal tersebut dilakukannya karena ia sudah merasa nyaman berjualan di lokasi tersebut.

    “Enak begini kan di gang, nggak ganggu orang lain, tenang,” kata Koh Atek.

    Cakwe Ko Atek buka setiap hari Selasa – Minggu pukul 09.00-16.00 atau sampai habis. Jika beruntung, traveler bisa melihat langsung proses Ko Atek membuat cakwe hingga menggorengnya di sana.

    4. Restoran Tropic

    Restoran Tropic di Pasar BaruRestoran Tropic di Pasar Baru (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

    Perlu kejelian mata yang ekstra untuk menemukan resto es krim yang sudah berdiri sejak tahun 1950-an ini. Menu andalannya adalah Three Fruity dan Banana Splits.

    Menurut salah satu penjaga toko, es krim yang dijual di Restoran Tropic dibuat sendiri atau home made dengan resep turun temurun. Itulah sebabnya es krim di sini akan selalu menciptakan cita rasa yang khas dan lembut.

    “Iya, semua es krim kita bikin sendiri,” katanya.

    Nama ‘Tropic’ diambil dari kata Tropis yang mencerminkan iklim di Indonesia yang cenderung panas. Sehingga Tropic Ice Cream hadir untuk melegakan tenggorokan di kala cuaca panas.

    Terdapat banyak lukisan di dinding resto, lukisan itu kini sudah tidak ada namun nuansa tempo dulu sengaja dibiarkan begitu saja di resto ini.

    Menjadi toko es krim tertua kedua di Indonesia, tak menghalangi Restoran Tropic untuk terus berinovasi. Hal ini terlihat dari pilihan rasa es krim yang mulai menyajikan rasa kekinian seperti rasa green tea dan tiramisu. Es krim di Restoran Tropic dibanderol mulai dari harga Rp 25 ribu saja.

    detikTravel berkesempatan untuk mencoba es krim Three Fruity yang terdiri dari 4 rasa eskrim buah dilengkapi dengan potongan buah koktail, sirup, dan wafer. Rasanya unik dengan sedikit rasa asam yang menyegarkan. Setiap pembelian es krim juga akan mendapatkan segelas air mineral gratis untuk menetralkan mulut.

    Mulanya resto ini hanya menjual es krim saja, namun seiring berjalannya waktu menunya bertambah. Traveler juga bisa mencoba menu makanan lainnya yang ada di sana seperti pangsit goreng, bakso, soto, laksa ayam, hingga opor ayam.

    Resto ini berada tepat di depan toko Dunia Moda tekstil dan di samping Bombay Tekstil. Buka setiap hari Selasa-Minggu pukul 10.00-16.00 WIB.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Deretan Tempat Wisata yang Didatangi IShowSpeed Selama di Indonesia



    Jakarta

    Kedatangan Youtuber IShowSpeed diyakini turut mempopularkan destinasi pariwisata Indonesia. Secara langsung, dia mempromosikan tempat-tempat wisata di Indonesia yang didatangi.

    Youtuber IShowSpeed mencuri perhatian netizen Indonesia karena kedatangannya disiarkan langsung dan ditonton lebih sejuta netizen. Selama di Indonesia, dia berkeliling Jakarta, Yogyakarta dan Bali.

    detikTravel telah merangkum nih, tempat wisata yang didatangi IShowSpeed selama di Indonesia. Bisa jadi referensi liburan kamu.


    1. Kota Tua

    Heboh! IShowSpeed Dapat Hadiah Nasi Padang dari PenggemarnyaSpeed di Kota Tua, Jakarta (YouTube/IShowSpeed)

    Hari pertamanya, IShowSpeed langsung live streaming di Kota Tua, Jakarta. Saat dia turun dari mobil, para penggemar langsung menyambutnya.

    Selama di Kota Tua, Speed seru-seruan dengan bermain di Rumah Hantu. Dia juga mencoba jasa ramal dan bergoyang mengikuti alunan musik angklung yang bergema di Kota Tua.

    2. Pasar Baru

    Setelah dari Kota Tua, Speed menuju ke pasar Baru di Jakarta Pusat. Selama berada di Pasar Baru, IShowSpeed sempat mengunjungi toko batik dan melayani permintaan swafoto pengunjung. Para penggemar terus mengikuti IShowSpeed sampai dia masuk ke mobilnya, yang diparkir di depan Antara Heritage Center di Pasar Baru.

    Informasi nih untuk traveler, di pasar Baru kamu juga bisa belanja thrifting lho. Banyak barang-barang menarik yang bisa kamu buru.

    Serta Pasar Baru juga surga bagi pecinta fotografi, karena banyak tempat service kamera bagus di sana.

    3. Jalan Malioboro

    IShowSpeed di Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (21/9/2024).IShowSpeed di Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (21/9/2024). (Youtube.com/@IShowSpeed)

    Saat di Yogyakarta, Speed menyusuri Jalan Malioboro dengan andong hingga ke Pasar Beringharjo. Dia pun streaming memakai blangkon yang dihadiahi oleh fansnya.

    Speed pun singgah ke toko batik bernama Hamzah Batik. Ia disambut para penari dari Raminten Kabaret Show. Di sana, ia dikenakan batik dan disodori makanan khas Yogyakarta yakni bakpia.

    Di sana Speed juga menabuh gendang diiringi pemusik tradisional lainnya. Kemudian, petualangannya berlanjut dengan memasuki area toko batik. Matanya langsung tertuju ke tenan penjual jamu. Penasaran, ia pun memesan segelas minuman tradisional tersebut. Oleh sang acaraki, Speed diberikan segelas jamu beras kencur.

    4. Alun-alun Kidul Yogyakarta

    iShowSpeediShowSpeed di Alun-alun Kidul Yogyakarta (YouTube)

    Speed selalu dikerubungi fansnya saat berkeliling Yogyakarta. Salah satunya saat dia menyuruh fansnya dengan kalimat “minggir lu miskin” saat berkunjung ke Alun-alun Kidul. Kalimat spontan itu pun langsung trending di medsos.

    Netizen merespons dengan berbagai komentar kocak. Mereka juga menanyakan siapa yang mengajarkan kalimat itu kepada Speed?

    5. Uluwatu

    Sat di Bali, salah satu tempat yang dituju Speed adalah menonton tari kecak di Uluwatu. Tak hanya menonton, Speed juga ikut menari dan melenggak-lenggok dengan gerakan ala kadarnya bersama seniman yang sedang tampil.

    Soraakn penonton pun meramaikan penampilan Speed. Apalagi saat Speed dan Hanoman memparodikan selebrasi ala CR7.

    6. Monkey Forest Ubud

    Momen monyet curi mikrofon IShowSpeed.Momen monyet curi mikrofon IShowSpeed di Monkey Forest Ubud (YouTube/IShowSpeed)

    Berkunjung ke Monkey Forest Ubud, Speed juga berselfie dan berfoto dengan monyet liar di sana. Saking lucunya, foto selfie Speed dengan monyet pun tersebar dan jadi bulanan lelucon netizen.

    Saat di sana, mikrofon Speed sempat dibawa kabur oleh para monyet. Setelah pencarian dan mencoba melacak, Speed terpaksa merelakan mikrofonnya hilang.

    7. Pasar Seni Ubud

    Saat di Pasar Seni Ubud, Speed membeli jersey Cristiano Ronaldo. Saat berkeliling Speed pun ditawari souvenir spesial berbentuk penis. Dia pun kaget dan bertanya fungsi dari benda khas dari Bali ini. Kemudian pedagang mengatakan jika itu adalah pembuka botol.

    8. Naik ayunan raksasa di Ubud

    Selama di Bali, Speed terlihat berkunjung ke beberapa tempat menarik. Salah satunya adalah ayunan raksasa yang lokasinya berada di pinggir tebing Ubud. Aksi kocaknya pun terlihat saat ayunan diayun lebih keras dan tinggi. Speed pun berteriak-teriak “santai.. santai..”.

    (sym/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Eksplorasi Sejarah di Pasar Baru, Cek 4 Bangunan Ikonik di Sana


    Jakarta

    Pasar Baru bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang buat traveler di Jakarta. Ada apa saja ya?

    Ternyata di pusat perbelanjaan tradisional yang legendaris di Jalan Pasar Baru, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat itu tersimpan banyak cerita menarik tentang masa kejayaannya sebagai salah satu pusat perdagangan tertua di Jakarta.

    Traveler bisa merasakan nuansa kolonial yang masih terasa kental sambil menelusuri bangunan-bangunan bersejarah, toko-toko tua yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Selain itu, jejak-jejak penting yang mencerminkan perjalanan ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial kota ini dari masa ke masa.


    Setidaknya terdapat empat bangunan bersejarah di kawasan Pasar Baru yang ditetapkan oleh Anies Baswedan, di antaranya ialah Vihara Sin Tek Bio, Toko Tio Tek Hong, bangunan Toko Kompak dan bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

    Berikut empat bangunan bersejarah di Pasar Baru:

    1. Vihara Sin Tek Bio

    Umat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek BioUmat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek Bio (Tsarina Maharani/detikcom)

    Vihara Sin Tek Bio dengan nama Vihara Dharma Jaya merupakan salah satu vihara yang menjadi bagian dari sejarah di Jakarta diperkirakan sejak 1698. Terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, wihara itu menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya Ibu Kota.

    Vihara Sin Tek Bio menjadi pusat spiritual sekaligus simbol penting bagi masyarakat Tionghoa yang telah lama mendiami kawasan tersebut. Di dalam vihara ini, terdapat beberapa altar pemujaan yang dihiasi dengan beberapa patung dewa-dewa dan leluhur, menambah suasana sakral dan penuh khidmat di setiap sudut ruangan.

    Wihara ini didominasi oleh nuansa merah yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, sementara lilin-lilin besar yang terus menyala memenuhi ruangan utama, menyebarkan cahaya hangat dan menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam, di mana umat datang untuk berdoa, memohon berkah, dan mencari ketenangan batin.

    “Banyak jemaat datang dari mana-mana, jika nanti masuk banyak sekali dewa-dewanya karena disumbangkan dari si jemaat-jemaat itu. Tapi, setiap klenteng itu punya dewa utama. Nah, dewa utama di sini yang diangkat sebagai tuan rumahnya. Ini adalah dewa bumi, kenapa dewa bumi, karena ada hubungan dengan pendiri-pendirinya adalah petani karena petani mereka berdoa ke dewa bumi supaya subur,” kata Farid Mardhiyanto, cofounder Jakarta Good Guide, pada Sabtu (5/10/2024).

    “Altar utama itu yang di tengah. Biasanya kalau jemaat sembahyang, pertama di altar itu untuk menaruh dupa, kemudian itu yang kedua yang altar utamanya si tuan rumahnya. Itu wajib. Kemudian, barulah mereka berkeliling untuk milih dewa Kwan Im, dewa kesehatan, dewa jodoh kah, keberuntungan kah dan sebagainya,” Farid menambahkan.

    Walaupun Pasar Baru kini dipadati oleh gedung-gedung, toko-toko yang menjual barang-barang dan elektronik, serta kafe kontemporer Vihara Sin Tek Bio tetap mempertahankan kesederhanaan dan keagungannya. Banyak orang yang mengunjungi vihara ini bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk merasakan sentuhan sejarah di setiap sudut vihara.

    2. Toko Tio Tek Hong

    Toko Tio Tek Hong ditetapkan melalui Kepgub Nomor 239 tahun 2022 dan diperkirakan sudah ada sejak 1900. Toko Tio Tek Hong didirikan oleh Tio Tek Hong, seorang pengusaha Tionghoa yang inovatif.

    Pada saat itu, Batavia sedang berkembang sebagai pusat perdagangan yang ramai, dengan pengaruh kolonial Belanda yang kuat. termasuk Tio Tek Hong memanfaatkan peluang untuk membuka usaha yang melayani kebutuhan masyarakat luas.

    “Nah toko Tio Tek Hong pertama didirikan oleh beliau, gedung itu berubah menjadi toko populer. Dulu adalah toko Tio Tek Hong. Dia jual yang pertama alat kelontong sampe kemudian akhirnya beliau menjual chronograph, dan juga gramofon, dan piringan hitam,” kata Farid.

    “Kemudian, pada 1940-an gedung itu dijual karena Tio Tek Hong mulai turun gara-gara krisis ekonomi. Akhirnya, beliau mulai menjual tokonya, terus kemudian balik nama. Tokonya dibeli oleh perusahaan rekaman dan di situlah tempat direkam pertama kalinya lagu Indonesia Raya. Jadi lagu Indonesia Raya direkam ke piringan hitam untuk pertama kalinya di rekaman toko populer ini. Namun, kepemilikan bukan Tio Tek Hong lagi,” ujar Farid.

    3. Toko Kompak

    Bangunan bersejarah itu didirikan di kawasan Jalan Pasar Baru, No 18A, Jakarta Pusat. Selain sejarah, bangunan itu memiliki daya tarik arsitektur yang kuat.

    Bangunan itu dikenal dengan nama Sin Siong Bouw, kemudian diganti menjadi Toko Kompak akibat kebijakan pelarangan nama Tionghoa. Bangunan itu merupakan contoh arsitektur China selatan asli dengan interior warna merah.

    Dikutip dari banner dipajang di besi Toko Kompak, bangunan itu didirikan pada abad ke-19, bahkan lebih tua dari Pasar Baru. Toko ini dahulu merupakan kediaman Majoor der Chinezen keempat Batavia yaitu (Tio Tek Ho).

    4. Bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

    Dikutip dari buku ‘Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Mut Romusha 1944-1945’ ditulis oleh J. Kevin Baird & Sangkot Marzuki pertama kali didirikan pada tahun 1888. Pendirinya merupakan peneliti dari Belanda yang populer pada saat itu yaitu Christiaan Eijkman.

    Bangunan Lembaga Eijkman terletak di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bangunan berarsitektur kolonial ini awalnya lembaga ini berfokus pada penelitian penyakit tropis seperti malaria, beri-beri, dan kolera.

    Temuan penting Eijkman mengenai penyebab dan pencegahan penyakit beri-beri hingga soal asal-usul manusia Indonesia. Memberikan beberapa sumbangsih penelitian di bidang biologi dan kedokteran.

    Selama pandemi COVID-19, LBM Eijkman memainkan peran penting dalam penelitian terkait virus covid-19 dengan pengembangan vaksin Merah Putih. Namun, pada 2022, lembaga ini mengalami restrukturisasi, dan fungsinya digabungkan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yaitu ketua BRIN Dr Laksana Tri Handoko, M.Sc.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Menyantap Ragusa Ice Cream hingga Bakmi Gang Kelinci



    Jakarta

    Pasar Baru salah satu kawasan legendaris di Jakarta Pusat bisa menjadi jujugan saat libur tahun baru. Belanja, kuliner, berwisata sejarah. bisa dilakukan.

    Pasar Baru mudah dijangkau dengan transportasi umum, dekat dengan Stasiun Juanda dan Halte TransJakarta Juanda dan halte TransJakarta Pasar Baru.

    Di sinilah perpaduan nuansa Jakarta tempo dulu dengan pesona modern ibu kota. Traveler bisa berfoto dengan nuansa jadul atau pun kekinian.


    Berikut adalah rekomendasi jalan-jalan sehari di Pasar Baru:

    1. Memulai Hari dengan Es Krim Legendaris Ragusa

    ice cream Ragusa di Jakarta PusatIce cream Ragusa di Jakarta Pusat (Rifkianto Nugroho/detikTravel)

    Perjalanan dimulai di Ragusa Italian Ice Cream, yang berlokasi tidak jauh dari Stasiun Juanda maupun Halte TransJakarta Juanda. Setelah turun di Stasiun Juanda, traveler dapat mengikuti petunjuk keluar menuju Masjid Istiqlal dengan berjalan melalui skybridge. Ikuti jalur skybridge hingga melewati pintu masuk halte TransJakarta.

    Setelah keluar dari skybridge, belok kiri dan lanjutkan perjalanan lurus hingga tiba di Ragusa Italian Ice Cream yang berada di seberang Masjid Istiqlal. Es krim yang telah berdiri sejak 1932 ini terkenal karena menggunakan resep tradisional tanpa pengawet.

    Menu andalannya, seperti Spaghetti Ice Cream menjadi favorit pengunjung dari berbagai generasi. Suasana nostalgia semakin terasa dengan interior sederhana dan bangunan bergaya kolonial. Sembari menikmati es krim, traveler juga dapat melihat di atas lalu lalang KRL melintas dan pengamen jalanan yang sering tampil di depan Ragusa, menambah pengalaman otentik khas Jakarta tempo dulu.

    2. Menyusuri Kemegahan Masjid Istiqlal

    Hari ketiga Ramadan, umat muslim dari Jakarta dan sekitarnya menghadiri buka puasa bersama di Masjid Istiqlal, Kamis (14/3/2024). Begini suasananya.Masjid Istiqlal (Rifkianto Nugroho/detikTravel)

    Hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari Ragusa Italian Ice Cream, Masjid Istiqlal menjadi destinasi wajib selanjutnya. Sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara yang mampu menampung hingga 120.000 jemaah, Istiqlal memancarkan keindahan arsitektur modern dengan sentuhan tradisional yang memancarkan nuansa religius yang menenangkan.

    Kubahnya yang megah berbentuk seperti payung melambangkan persatuan umat Islam di Indonesia, menjadikan masjid ini tidak hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol kebangsaan.

    Traveler dapat menjelajahi interiornya di dalam masjid Istiqlal, termasuk tepat sholat yang megah dan area wudhunya yang luas. Bagi para fotografer, halaman luar masjid juga menjadi spot menarik untuk mengabadikan perpaduan antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta yang berada di seberangnya.

    3. Menikmati Seni dan Kreativitas di Pos Bloc

    Pos Bloc Gedung Filateli Jakarta di Pasar Baru, Jakarta PusatPos Bloc Gedung Filateli Jakarta di Pasar Baru, Jakarta Pusat (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Dari Masjid Istiqlal, perjalanan berlanjut ke Pos Bloc, pusat kreatif baru yang berada di Gedung Filateli Jakarta. Gedung ini dulunya adalah kantor pos dan kini diubah menjadi ruang multifungsi yang dipenuhi dengan kafe, toko kerajinan lokal, dan spot nongkrong dan bengong.

    Di sini, traveler bisa menikmati kopi, nyemil-nyemil cantik, photobox, atau sekadar bersantai di sudut-sudut estetik gedung Pos Bloc ini. Suasananya sangat Instagramable, cocok untuk traveler yang ingin berbagi momen di media sosial traveler.

    4. Berburu Barang Unik di Pasar Baru

    Setelah menikmati suasana santai di Pos Bloc, saatnya melanjutkan perjalanan ke destinasi utama yaitu berburu barang unik di Pasar Baru. Kawasan yang telah berdiri sejak 1820 merupakan surga belanja dengan berbagai toko legendaris yang menawarkan sepatu berkualitas dengan harga terjangkau.

    Selain itu, Pasar Baru juga dikenal dengan gerai bahan pakaian yang menyediakan koleksi menarik dan unik, menjadikannya tempat yang sempurna untuk memenuhi kebutuhan belanja sekaligus merasakan nuansa nostalgia Jakarta tempo dulu.

    5. Menutup Hari dengan Bakmi Gang Kelinci

    Pasar Baru di JakartaBakmi Gang Kelinci di Pasar Baru, Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

    Setelah lelah berbelanja, akhiri perjalanan dengan mencicipi kuliner legendaris di Bakmi Gang Kelinci. Berdiri sejak 1957, restoran ini terkenal dengan sajian bakminya yang lembut dan kuahnya yang gurih. Menu andalan seperti Bakmi Ayam isian jamur, Bakso, dan Pangsit Goreng selalu menjadi pilihan favorit pengunjung.

    Restorannya terletak di kawasan Pasar Baru tepat di belakang pasar baru, sehingga mudah dijangkau setelah seharian menjelajahi dan berbelanja di Pasar Baru. Sambil menikmati makanan, traveler bisa mengenang kembali perjalanan yang penuh kenangan di kawasan bersejarah ini.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Menguak Lokasi Toko Kaset di Film Galih dan Ratna Tahun 2017, di Mana Sih?



    Jakarta

    Film Galih dan Ratna sangat populer sehingga di-remake lagi tahun 2017. Di film itu, ada sebuah bangunan toko kaset yang sangat ikonik. Di mana lokasinya?

    Bangunan bersejarah sering kali menjadi saksi perjalanan waktu yang penuh cerita, baik dari segi arsitektur maupun sejarah sosial. Seringkali bangunan bersejarah ini nongol sebagai latar di film nasional.

    Seperti di film Galih dan Ratna produksi tahun 2017. Film besutan sutradara Lucky Kuswandi ini mengambil latar lokasi di sebuah bangunan sejarah milik Tio Tek Hong berlokasi di Pasar Baru, Jakarta Pusat.


    Salah satu bangunan di Jakarta yang memiliki sejarah panjang adalah bangunan milik Tio Tek Hong, seorang pengusaha Tionghoa yang membuka toko kelontong, rekaman gramofon, piringan hitam, perlengkapan berburu, dan juga beliau membuka percetakan kartu pos.

    Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017 (Tangkapan Layar)

    Bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi ini ternyata pernah digunakan sebagai lokasi syuting film “Galih dan Ratna” pada tahun 2017.

    “Ada satu yang menarik gedung ini kalau sekarang jadi restoran, sebenarnya gedungnya pak Tio Tek Hong gedung sebelum di cet warna merah putih, diambil dari satu film yang dirilis tahun 2017 yang merupakan remake dari film paling populer tahun 70an yaitu Galih dan Ratna,” kata Farid Mardhiyanto, Co-Founder Jakarta Good Guide kepada detikTravel beberapa waktu lalu.

    Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017Gedung yang jadi latar toko kaset di Film Galih dan Ratna tahun 2017 Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

    Film “Galih dan Ratna” (2017), mengisahkan hubungan cinta antara dua karakter utama, Galih dan Ratna. Dalam film ini, Salah satu lokasi ikonik adalah “Nada musik” tempat dimana Galih menjaga toko kaset warisan dari ayahnya.

    Gedung ini menjadi titik temu yang krusial bagi hubungan mereka, menghubungkan mereka melalui kecintaan yang sama terhadap musik.

    Gedung Tio Tek Hong yang Penuh Cerita

    Tio Tek Hong dikenal sebagai salah satu sultan pasar baru dalam perkembangan Jakarta pada tahun 1902. Bangunan bergaya Belanda ini terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat yang pada masanya menjadi pusat perdagangan.

    Keunikan arsitektur bangunan ini terletak pada detail ornamen yang memadukan dengan gaya kolonial Belanda. Meskipun bangunan ini sudah tua, bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan memancarkan pesonanya.

    “Tio Tek Hong ini kemudian juga dia berbisnis senjata jual beli senjata ketika perang dunia pokoknya terakhir selesai, bisnisnya masih bertahan. Namun sayangnya, bisnis Tio Tek Hong ini mulai menurun ketika terjadinya depresi besar dari Amerika terus ke Eropa, Belanda kena termasuk akhirnya koloni nya Hindia Belanda juga kena. Makin lama makin turun, tokonya dijual dan akhirnya kemudian berpindah tangan,” tutur Farid.

    Meski banyak orang yang mungkin tidak menyadari nilai sejarah bangunan tersebut, kehadirannya dalam film Galih dan Ratna secara tidak langsung mengangkat kembali kisah dan peran penting terhadap pengusaha Tio Tek Hong dalam sejarah Jakarta.

    Dari pantauan detikTravel di lokasi, bangunan berarsitektur serba merah dengan dua lantai ini tampak ramai oleh pengunjung, karena ditempati oleh berbagai pedagang yang berjualan, menciptakan suasana hidup di setiap sudut dan pohon-pohon hijau.

    Warna merah yang mendominasi, berpadu dengan sisa warna cat asli bangunan, memperkaya estetika visual. Film Galih dan Ratna yang didominasi nuansa biru, kontras warna tersebut memberikan kesan yang ceria dan dinamis.

    Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017 Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

    Di toko milik Galih, yang menjadi latar penting dalam film Galih dan Ratna itu terdapat koleksi kaset-kaset mixtape legendaris dari zaman dahulu yang tidak hanya menambah keaslian suasana, tetapi juga mendukung properti film dengan memperkaya elemen nostalgia,

    Gedung ini mencerminkan kecintaan kedua karakter utama terhadap musik, menghadirkan harmoni unik antara masa lalu dan masa kini, serta mencerminkan kehidupan yang terus berdenyut di tengah lingkungan bersejarah yang terawat dengan baik.

    Gedung ini pun mengingatkan akan pentingnya melestarikan warisan bangunan bersejarah. Namun, bahwa jalan ini sebenarnya bukan Jalan Pasar Baru depan toko buku Gramedia yang kita kenal sekarang.

    Toko ini bukan toko pertamanya, melainkan salah satu dari sekian banyak usaha yang dimilikinya, mengingat reputasinya sebagai seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak toko di berbagai lokasi di Pasar Baru pada masa kolonial, mencerminkan luasnya jangkauan bisnis dan pengaruh beliau pada masa itu.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • 10 Pilihan Lokasi Liburan Long Weekend di Jakarta


    Jakarta

    Jakarta memiliki banyak pilihan liburan bersama teman dan keluarga. Destinasi wisata ini relatif mudah diakses dengan kendaraan umum, online, atau milik pribadi. Banyaknya pilihan tempat wisata memungkinkan warga Jabodetabek tidak bingung.

    10 Lokasi Liburan Long Weekend di Jakarta

    Berikut adalah beberapa pilihannya dikutip dari media sosial dan situs tempat wisata.

    1. Monas

    Warga Jakarta memanfaatkan libur panjang Hari Raya Waisak 2025 dengan berolahraga di Monas. (Taufiq/detikcom)Tugu Monas (Taufiq/detikcom)


    Jam buka

    Selasa-Minggu: 06.00-16.30, Senin tutup.

    Tiket masuk

    Tugu Monas

    • Dewasa: Rp 24.000
    • Pelajar/Anak-anak: Rp 6.000
    • Mahasiswa: Rp 13.000.

    Ruang Museum, Ruang Kemerdekaan, dan Pelataran

    • Dewasa: Rp 8.000
    • Pelajar/Anak-anak: Rp 3.000
    • Mahasiswa: Rp 5.000.

    Harga tiket masuk taman Monas gratis namun ada biaya parkir.

    Lokasi

    Lapangan Medan Merdeka, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.

    Monumen Nasional (Monas) adalah tugu ikonik setinggi 132 meter yang menjadi simbol Provinsi Jakarta. Spot wisata populer ini terletak di jantung Jakarta dan sangat mudah diakses dengan transportasi umum. detikers yang datang saat weekend berpeluang melihat pertunjukan air mancur menari.

    2. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

    TMII menjadi salah satu tujuan wisata warga saat liburan akhir tahun. Sejumlah warga mengaku ingin menyaksikan pertunjukan air mancur dan drone 'Tirta Cerita'. (MI Fawdi/detikcom)TMII (MI Fawdi/detikcom)

    Jam buka

    Setiap hari: 05.00-20.00

    Tiket masuk

    • Orang: Rp 25 ribu
    • Mobil: Rp 35 ribu
    • Motor: Rp 25 ribu
    • Sepeda: Rp 10 ribu
    • Bus: Rp 60 ribu
    • Truk: Rp 60 ribu.

    Pengunjung akan dikenakan biaya lagi saat masuk museum dan menikmati wahana.

    Lokasi

    Jl. Taman Mini Indonesia Indah, Ceger, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

    Komplek TMII setia menemani masyarakat Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata sejak 1975. TMII adalah miniatur keanekaragaman budaya Indonesia yang berpadu dengan aneka wahana dan atraksi terkini. Salah satu yang paling dikenal adalah kereta gantung dan tram mover yang telah diperbarui.

    3. Dunia Fantasi (Dufan)

    Pengunjung menaiki wahana Paralayang di Dunia Fantasi (Dufan), Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Selasa (1/4/2025). Sejumlah warga memanfaatkan libur Lebaran 2025 dengan berkunjung ke Dufan yang menyuguhkan sejumlah wanaha dan pertunjukan. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nym.Wahana roller coaster Halilintar di Dufan (Sulthony Hasanuddin/nym/Antara)

    Jam buka

    • Senin-Jumat: 10.00-17.00
    • Sabtu-Minggu: 10.00-19.00

    Tiket masuk

    Reguler

    • Senin-Jumat: Rp 260 ribu
    • Sabtu-Minggu: Rp 400 ribu
    • Belum termasuk tiket masuk Ancol

    Annual Pass

    • Mulai dari Rp 415.000
    • Belum termasuk tiket masuk Ancol

    Fast Trax

    • Senin-Jumat: Rp 375 ribu
    • Sabtu-Minggu: Rp 500 ribu
    • Belum termasuk tiket masuk Dufan dan Ancol

    Premium

    • Senin-Jumat: Rp 650 ribu
    • Sabtu-Minggu: Rp 1 juta
    • Sudah termasuk Tiket Masuk Dufan
    • Belum Termasuk Tiket Masuk Ancol.

    Lokasi

    Jl. Lodan Timur Nomor 7, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

    Dufan adalah arena yang cocok bagi penyuka adrenalin tinggi. Berbagai wahana di sini memang membutuhkan pengunjung bernyali, misal roller coaster halilintar dan tornado. Dufan sebetulnya ditujukan bagi semua umur, namun bagi keluarga yang membawa anak-anak sebaiknya mencari info terkait wahana di spot wisata ini. Beberapa wahana diperuntukkan bagi remaja dan dewasa, bukan usia anak.

    4. Seaworld

    Dalam rangka memeriahkan perayaan Imlek, Seaworld Ancol menggelar aksi barongsai dan liong di bawah air. Yuk, intip foto-fotonya.Aksi barongsai di Seaworld, Ancol (Agung Pambudhy)

    Jam buka

    • Senin-Jumat: 09.30-16.30
    • Sabtu-Minggu: 09.00-16.30

    Tiket masuk

    • Senin-Jumat: Sea World+Ancol Rp 110 ribu
    • Sabtu-Minggu: Sea World+Ancol Rp 130 ribu.

    Alamat

    Jl. Lodan Timur Nomor 7, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

    Seaworld menjadi destinasi utama keluarga saat ada hari libur. Di sini, pengunjung dapat menyaksikan kehidupan laut dengan keragamannya. Salah satu wahana ikonik adalah terowongan antasena yang membuat pengunjung seolah membelah lautan dengan airnya yang biru dan aneka biota. Untuk pertunjukan favorit, salah satunya adalah waktu pemberian makan yang dilakukan tenaga berpengalaman.

    5. Taman Margasatwa Ragunan

    Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan (Jaksel) pada hari cuti bersama Waisak 2025, Selasa (13/5/2025).Taman Margasatwa Ragunan (Rumondang/detikcom)

    Jam buka

    • Selasa-Jumat: 07.00-16.00
    • Sabtu-Minggu: 06.00-16.00

    Senin tutup

    Tiket masuk

    • Dewasa: Rp 4 ribu
    • anak-anak: Rp 3 ribu

    Parkir

    • Bus, truk, mobil box besar: Rp 15 ribu per hari
    • Bus, truk, mobil box kecil, pick up besar: Rp 12.500 per hari
    • Mobil sedan, minibus, pick up kecil: Rp 6 ribu per hari
    • Sepeda motor dan kendaraan roda tiga: Rp 3 ribu per hari
    • Sepeda: Rp 1 ribu per hari.

    Pengunjung dikenakan biaya lagi jika ingin menikmati wahana dan pertunjukan.

    Lokasi

    Jl. RM Harsono Rm Dalam Nomor1, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

    Kebun binatang Ragunan hampir selalu penuh tiap akhir pekan dan di musim liburan. Pengunjung rela antri mulai pagi untuk mendapatkan tiket dan melihat berbagai satwa langka. detikers bisa beli tiket online untuk menghindari antrean. Selama berinteraksi dengan satwa, pengunjung wajib mengikuti instruksi yang tersedia agar tidak ada yang terganggu.

    6. Museum Nasional Indonesia

    Sejumlah pegunjung melihat koleksi di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa (6/5/2025).Museum Nasional Indonesia (Pradita Utama)

    Jam buka

    • Senin-Kamis: 08.00-16.00
    • Jumat-Minggu: 08.00-20.00

    Tiket masuk

    Wisatawan Domestik

    • Anak-anak (usia 3-12 tahun): Rp 15 ribu per orang
    • Dewasa: Rp 25 ribu per orang

    Warga Negara Asing (WNA)

    • Anak-anak dan Dewasa Rp50.000 per orang
    • WNA dengan izin tinggal sementara (KITAS) dikenakan tarif wisatawan domestik dewasa perorangan.

    Lokasi

    Jl. Medan Merdeka Barat Nomor 12, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.

    Destinasi yang juga dikenal sebagai Museum Gajah ini belakangan sangat diminati wisatawan segala usia. Wisatawan antusias mencoba fitur Mengenal Paras Nusantara yang memungkinkan pengunjung tahu aneka ras dalam dirinya. Pengunjung cukup menghadapkan wajahnya pada layar, kemudian menunggu hasil analisis mesin. Tujuan fitur ini adalah menegaskan keragaman ras dan budaya di Indonesia.

    7. Kota Tua

    Sejumlah warga tengah mengisi waktu libur Idul Fitri 1446 H di kawasan Kota Tua, Jakarta, Rabu (2/4/2025).Kawasan Kota Tua, Jakarta (Grandyos Zafna)

    Jam buka

    • Lapangan: setiap hari 24 jam
    • Museum, kafe, spot wisata: sesuai kebijakan pengelola

    Tiket masuk

    Magic Art 3D Museum

    • Dewasa Senin-Jumat: Rp 60 ribu
    • Dewasa Sabtu-Minggu: Rp 80 ribu
    • Anak usia 3-17 tahun Senin-Jumat: Rp 40 ribu
    • Anak usia 3-17 tahun Sabtu-Minggu: Rp 50 ribu.

    Museum Fatahillah

    • Pelajar: Rp 2 ribu
    • Mahasiswa: Rp 3 ribu
    • Dewasa: Rp 5 ribu.

    Museum Wayang

    • Umum Senin-Jumat: Rp 10 ribu
    • Umum Sabtu-Minggu: Rp 15 ribu
    • Pelajar, mahasiswa, anak: Rp 5 ribu
    • Wisatawan mancanegara: Rp 50 ribu.

    Museum Bank Indonesia

    • Individu: Rp 5 ribu bisa gratis untuk pelajar, mahasiswa, dan rombongan yang terverifikasi.

    Museum Seni Rupa dan Keramik

    • Umum Selasa-Jumat: Rp 10 ribu
    • Umum Sabtu-Minggu: Rp 15 ribu
    • Pelajar, mahasiswa, anak: Rp 5 ribu
    • Wisatawan mancanegara: Rp 50 ribu.

    Kota Tua adalah kawasan pusat kegiatan di masa kolonialisme yang masih dilestarikan hingga kini. Kawasan ini menjadi arena wisata sejarah yang tak pernah sepi pengunjung. Beberapa bangunan masih ada namun dialihfungsikan sesuai kebutuhan pengunjung. detikers yang ingin ke Kota Tua sebaiknya mengunjungi area di sore hari ketika cuaca tidak terlalu panas.

    8. Museum MACAN

    Adi Sundoro Buka Ruang Seni Anak di Museum MACANAdi Sundoro Buka Ruang Seni Anak di Museum MACAN (Tia Agnes/ detikcom)

    Jam buka

    • Selasa-Minggu: 10.00-18.00 akses terakhir jam 17.30, Senin tutup.
    • Musem Macan buka kembali pada Sabtu (24/5/2025) pukul 10.00-18.00.

    Tiket masuk

    Dewasa

    • Senin-Jumat: Rp 70 ribu
    • Sabtu-Minggu: Rp 90 ribu

    Pelajar dan mahasiswa

    • Senin-Jumat: Rp 60 ribu
    • Sabtu-Minggu: Rp 80 ribu

    Lansia usia lebih dari 65 tahun

    • Senin-Jumat: Rp 60 ribu
    • Sabtu-Minggu: Rp 80 ribu

    Anak usia 3-12 tahun

    • Senin-Jumat: Rp 50 ribu
    • Sabtu-Minggu: Rp 70 ribu
    • Anak usia kurang dari 3 tahun: gratis.

    Lokasi

    AKR Tower Level M, Jl. Panjang Nomor 5, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

    Museum MACAN menyajikan seni kontemporer dan modern dari Indonesia serta internasional. Koleksi yang disajikan berbeda sehingga selalu menarik dikunjungi setiap saat. Selama di museum pastikan taat pada aturan supaya tidak merusak koleksi dan menjaga kenyamanan pengunjung lain. Sebagai informasi, harga tiket dan koleksi yang bisa dilihat bergantung kebijakan pengelola.

    9. Arena Masjid Istiqlal

    Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi gelar pameran kebudayaan dan keagamaan di Masjid Istiqlal. Pameran bertajuk Masjid Istiqlal (Rifkianto Nugroho)

    Jam buka

    Setiap hari: 04.00-22.00

    Tiket masuk

    Gratis

    Lokasi

    Jl. Taman Wijaya Kusuma, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

    Masjid Istiqlal adalah wisata religi yang sudah pasti wajib dikunjungi selama di Jakarta. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini sangat sejuk dan sangat tepat untuk istirahat serta menunaikan ibadah. Di sini tersedia juga aneka wisata kuliner yang bisa dicicipi pengunjung.

    10. Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

    Gereja Katedral JakartaGereja Katedral Jakarta (Ari Saputra)

    Jam buka

    • Senin-Sabtu: 08.00-20.00, Rabu tutup
    • Minggu: 08.00-15.00

    Tiket masuk

    Gratis

    Lokasi

    Jl. Katedral Nomor 7B, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

    Gereja Katedral Jakarta ini berada tepat di depan Masjid Istiqlal seolah menjadi bukti toleransi masyarakat Indonesia. Katedral tampil dengan pesona neo gotik yang sangat memukau pengunjung. Gereja ini punya banyak jendela, detail bangunan yang kompleks, serta pegangan pintu yang tinggi.

    Bagi detikers dan keluarga yang ingin berkunjung, sebaiknya rencanakan perjalanan dengan baik agar tidak terjebak macet dan antri lama. Jangan lupa update info untuk memastikan ketersediaan layanan di lokasi pilihan long weekend di Jakarta.

    (row/ddn)



    Sumber : travel.detik.com