Tag: pasar santa

  • Roastery Mungil di Pasar Santa Ini Punya Biji Kopi Pemenang Penghargaan


    Jakarta

    Di Pasar Santa yang kini dikenal sebagai pasar modern ternyata ada roastery keren. Salah satu biji kopi yang ditawarkan berhasil menyabet penghargaan bergengsi.

    Bagi warga Jakarta Selatan dan sekitarnya, pastinya tak asing dengan Pasar Santa. Pasar tradisional yang berhasil dipugar menjadi pasar modern ini menjadi tempat kulineran hits, pilihannya dari yang legendaris hingga kekinian.

    Selain tempat makan, banyak juga toko dan kedai kopi yang cukup populer di sini. Di bagian bawah pasarnya ada salah satu roastery yang menyimpan biji kopi istimewa.


    Namanya Kawaki Roastery. Toko kopi ini tak sekadar menjual kopi di pasar, tetapi juga pernah menyajikan kopi segar pada acara G20 di Jakarta, Indonesia. Pilihan biji kopi lokalnya beragam, bahkan ada satu biji kopi istimewa yang pernah menang penghargaan bergengsi.

    Detail Informasi
    Nama Tempat Makan Kawaki Roastery
    Alamat Pasar Santa Lt. Basement AKS 56-67, Jalan Cipaku I, Jakarta Selatan.
    No Telp 081282717969
    Jam Operasional Senin- Minggu, 07.00 – 21.00 WIB
    Estimasi Harga Rp 20.000 – Rp 50.000
    Tipe Kuliner Kopi
    Fasilitas
    • Makan di Tempat
    • Bawa Pulang
    • Area Parkir
    • Pesan Online
    • dll
    Kawaki RoasteryBarisan stoples kaca yang menjajakan biji kopi asli Indonesia. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Menonjolkan Kekayaan Kopi Lokal

    Kawaki Roastery berada tepat di lantai bawah, persis di depan tangga dari pintu utama Pasar Santa. Ukurannya tak terlalu besar, maksimal hanya 8 orang yang bisa duduk jika ingin berada di posisi melihat barista menyeduh kopi.

    Deretan stoples besar berisi kopi membuat mata kami terbelalak penasaran. Mulai dari Aceh, Jawa Timur, Papua, Toraja, bahkan hingga kopi luwak sekalipun tampak dipajang di bagian sisi kedai.

    Kawaki Roastery ternyata tak hanya menjual biji kopi yang sudah dipanggang. Di lantai atas, mereka juga memiliki kedai khusus digunakan sebagai tempat memanggang kopi.

    Ternyata latar belakang pemilik Kawaki Roastery, Christine Tandibua asal Toraja yang juga memiliki kebun kopi menjadi alasannya. Konon sang pemilik merasa kopi Indonesia perlu ditonjolkan dengan lebih serius.

    Ketelitian Pemiliknya Mengelola Kopi

    Kawaki RoasteryPemiliknya, Christine Tandibua, dengan teliti memilah dan mengkurasi kopi-kopi yang dijualnya. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Menurut penuturan salah satu pekerjanya, pemilik Kawaki Roastery bahkan masih aktif dalam menangani kopi-kopinya secara langsung. Pada proses pemanggangan green beans atau biji hijau bahkan tak jarang dilakukan sendiri olehnya.

    Biji kopi yang disajikan di sini dipanggang dengan tingkat medium roast. Ciri-cirinya tampak dari warna kopi yang masih cokelat cerah dan tidak mengeluarkan banyak minyak. Aroma fruity dan floral alami dari dalam kopinya juga masih terendus kencang dari dalam stoples.

    Ada salah satu biji kopi yang sejak pasca panennya ditangani sendiri oleh Christine. Ialah Toraja Asong yang sejak pencucian, fermentasi, hingga pemanggangan dipantau dengan teliti.

    Biji kopi Toraja Asong tersebut kini menjadi salah satu produk terbaik dari Kawaki Roastery. Biji kopi ini juga menyimpan perjalanan yang panjang sampai menyabet penghargaan.

    Di halaman selanjutnya ada biji kopi yang dipakai oleh juara dunia.

    Pilihan Biji Kopi yang Istimewa

    Kawaki RoasteryAda salah satu biji kopi yang mendapat penghargaan internasional di Australia. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Alih-alih dibuat penasaran dengan biji kopi luwak yang ada di deretan stoplesnya, kami justru ditawarkan biji kopi yang unik. Namanya Toraja Asong yang berasal dari tanah Toraja tetapi proses pasca panennya dikelola diurus langsung oleh Christine.

    “Toraja Asong ini satu-satunya punya kita. Kalau sampai ketemu biji kopi Toraja Asong di kafe lain, berarti mereka sudah pasti beli kopinya dari kita,” kata salah satu barista di sana.

    Toraja Asong memiliki keunggulan pada rasa, aroma dan notes yang dihasilkan. Toraja Asong pernah mendapatkan perhatian khusus di Australia usai menyabet gelar Australian International Coffee Award pada peringkat perunggu tahun 2020.

    Biji kopi ini melalui proses anaerobic honey dalam fermentasinya. Lokasi tanamnya berada di Buntu Papasan, Toraja Utara dengan ketinggian 1.700-2.000 meter di atas permukaan laut.

    Ada juga Toraja Yale dengan karakter yang tak kalah unik. Toraja Yale menjadi biji kopi yang diboyong Muhammad Aga saat menjawarai Indonesia Barista Championship pada 2018.

    Biji kopi ini dipanen dari Sapan, Toraja dengan ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut. Proses pasca panen yang diterapkan berupa dry hulled atau pengeringan yang sepenuhnya dilakukan secara alami.

    Segarnya Racikan Kopi nan Beragam

    Kawaki RoasterySeduhan kopi di sini dapat dinikmati baik pour over maupun espresso based. Foto: detikcom/Diah Afrilian

    Untuk membuktikan karakter rasanya, kami memesan kedua kopi unggulan Toraja Asong dan Toraja Yale untuk diseduh dengan teknik pour over. Menggunakan kopi seberat 15 gram, perbandingan antara bubuk kopi dan seduhan air yang digunakan 1:15.

    Untuk teknik pour over, pelanggan yang datang cukup membayar Rp 25.000 per jenis biji kopinya. Menunggu kira-kira 3 menit, kopi kami akhirnya disajikan.

    Setelah diseduh, Toraja Asong memiliki body yang medium. Ada rasa mirip perpaduan buah persik dan buah plum sebagai sumber fruitynya. Begitu juga rasa manis sedikit sepat yang berasal dari hint apel hijau.

    Sementara pada Toraja Yale body atau kepekatannya medium to light yang artinya warna hasil seduhannya cokelat terang. Pada sesapan pertama ada rasa mirip madu yang terasa, dilanjut dengan rasa kuat dari notes cokelatnya.

    Kami juga mencicipi espresso blend andalan Kawaki Roastery dalam seduhan segelas Magic (Rp 23.000). Rasa lembut susu yang creamy memberikan hint manis untuk kemudian berganti rasa kopi dengan notes dark cokelat yang dominan. Racikan Magic di sini menjadi salah satu yang juga direkomendasikan Efenerr atau yang kerap dinobatkan sebagai Bapak Magic Indonesia.

    Ingin tempat makan atau produk Anda direview oleh detikfood? Kirim email ke foodreview@detik.com.

    (dfl/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Gnocchi Ubi hingga Fettuccine Bebek Asap di dalam Pasar Santa


    Jakarta

    ‘Tersembunyi’ di dalam pasar, gerai ini menawarkan homemade pasta unik dengan topping beragam. Mulai dari gnocchi berbahan dasar ubi hingga fettuccine topping bebek asap sedap.

    Kulineran di dalam pasar tidak melulu membosankan, terlebih ketika mampir ke Pasar Santa yang sejak lama dikenal sebagai pusat kuliner anak Jakarta Selatan.

    Pasar ini memang menampung banyak tenant makanan menarik, mulai dari kedai kopi, kafe, makanan tradisional, hingga makanan ala restoran.


    Salah satu yang sayang untuk dilewatkan, R&d Trattoria. Mereka menawarkan pasta homemade segar yang bisa dimasak dengan saus dan topping unik pilihan.

    R&D Trattoria berlokasi di area food court Pasar Santa dan menempati bangunan mungil berkonsep menarik. Makan di tempat ini rasanya tidak lagi seperti ada di pasar. Sebab, gerainya disulap seperti ala restoran di Eropa bernuansa putih dan biru. Nuansa restoran Eropa semakin didukung dengan pajangan dan dekorasinya.

    Terdapat beberapa meja dan kursi yang disiapkan khusus untuk pelanggan di depan gerai mereka. Pasta mereka juga tersusun rapi di etalase kaca sehingga pelanggan bisa memilih langsung menu yang diinginkan.

    R&D Trattoria Pasta di Pasar SantaBegini tampilan area makan R&D Trattoria Pasta di Pasar Santa. Kak Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    detikFood mencicipi beberapa menu andalan di sini. Berikut rekomendasinya:

    1. Usaha kuliner berawal dari ‘iseng’

    R&D Trattoria Pasta di Pasar SantaR&D Trattoria Pasta di Pasar Santa terbentuk dari ide iseng kedua pemiliknya. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    R&D Trattoria sebenarnya sudah berdiri hampir setahun di Pasar Santa. Berawal dari ide kedua pemiliknya yang sama-sama berpengalaman di industri ini dan pernah sekolah masak.

    Riston, salah satu pemilik mengungkap dirinya sempat belajar di Bali Culinary Pastry School (BCPS) Bali. Sedangkan partnernya Dimas, sempat belajar di Academy of Pastry & Culinary Arts Indonesia (APCA) Alam Sutera.

    Bisnis ini menjadi kerjasama pertama mereka. Berawal dari ‘iseng’ bikin pasta, lanjut menjadi hobi, sampai akhirnya kreasi pasta homemade tersebut dijual dalam skala besar.

    “Jadi awalnya itu dari iseng-iseng bikin pasta, wah ternyata enak. Terus makin lama jadi hobi. Karena kayak wah ternyata pasta itu bisa dikreasikan macem-macem akhirnya kita lanjutin,” jelas Riston kepada detikFood.

    Selain ide awal yang menarik, terdapat arti tersendiri dibalik penamaan R&D Trattoria. Riston mengaku R&D bisa berarti gabungan nama ‘Riston dan Dimas’ maupun ‘Research and development’. Artinya gerai ini akan terus mengulik hidangan pasta dan menyajikan produk-produk baru ke pelanggan.

    2. Menyajikan pasta homemade pilihan

    R&D Trattoria Pasta di Pasar SantaR&D Trattoria menawarkan pasta homemade dengan berbagai pilihan saus dan topping. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Meskipun lokasinya di dalam pasar, R&D Trattoria menyajikan pasta berkualitas. Bahkan semua pasta dan saus di tempat ini dibuat homemade dan segar.

    Resepnya juga disesuaikan dengan lidah pemiliknya agar pelanggan bisa merasakan cita rasa yang khas.

    “Kita selalu pakai taste kita sendiri dan kita mau bikin orang itu ngerasa ‘homey’ kalau makan makanan kita,” ujar Riston.

    Riston dan Dimas juga menyalurkan kreativitasnya ke dalam pilihan menu pasta di sini. Pasta yang ditawarkan tidak sekadar terbuat dari tepung, tetapi ada juga yang berbahan dasar ubi hingga kentang.

    Selain itu pemilihan toppingnya juga menarik. Di sini pelanggan bisa menikmati pasta dengan saus pilihan dan topping, seperti bebek hingga daging kuda.

    Riston mengungkap ide kreatifnya muncul atas dasar inspirasi dari tontonan Youtube.

    “Jadi, pembawa acara YouTube ini suka ngeliput nenek-nenek rumahan, gitu, masakan rumahan di berbagai daerah di Italia. Terus kayak kita terinspirasi dari situ. Soalnya rasa-rasa, cita-rasa mereka tuh beda daripada pakem-pakem restoran,” kata Riston.

    Soal harga bervariasi tergantung dari jenis pasta, saus, dan topping pilihan. Namun berkisar mulai dari Rp 38.000 hingga Rp 80.000 an per porsi.

    3. Gnocchi Ubi Cilembu dengan saus pesto pedas

    R&D Trattoria Pasta di Pasar SantaGnocchi berbahan dasar ubi yang dipadukan dengan saus pesto pedas smokey. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Awal mulanya menu pasta di R&D Trattoria sebatas fettuccine, spaghetti, pappardelle, dan gnocchi kentang. Namun sesuai dengan nama dan tujuan mereka, akhirnya menu-menu baru bermunculan.

    Ada satu pilihan pasta yang menarik perhatian kami, yaitu gnocchi ubi cilembu. Gnocchi tersebut bisa disajikan dengan saus apapun, tetapi kami mencoba saus Pesto Rosso Piccante. Seporsinya dibanderol seharga Rp 62.000.

    Sebenarnya ada tiga saus pesto yang ditawarkan oleh R&D. Mulai dari pesto berbasis daun kemangi Italia, pesto rosso piccante (dari cabai yang dibakar), dan pesto dari paprika yang dibakar dengan pasta tomat dan daun basil.

    Gnocchi berbentuk kecil dan bulat ini punya tekstur yang lembut dan kenyal saat dikunyah. Namun tidak lengket atau lembek dan masih terasa ringan di mulut.

    Karena bahannya dicampur dengan ubi cilembu, rasa gnocchi ini pun menjadi sangat unik. Tercecap rasa manis dominan di pastanya.

    Disajikan dengan saus pesto rosso piccante perpaduan rasanya semakin menarik. Saus pesto yang terbuat dari cabai dibakar ini tidak begitu pedas tetapi ada sentuhan smoky berempah yang khas.

    Sayangnya rasa gnocchi ubi yang dominan manis agak menutupi rasa dari saus pesto tersebut. Adapun sentuhan rasa sedikit asam yang datang dari potongan tomat.

    4. Fettuccine Quackbonara yang creamy smokey

    R&D Trattoria Pasta di Pasar SantaHadir juga pasta fettuccine creamy carbonara dengan topping bebek. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Hampir setiap bulan R&D Trattoria mengeluarkan menu-menu baru dan spesial. Pada Agustus kemarin, mereka punya Fettuccine Quackbonara (Rp 68.000) yang rupanya jadi favorit banyak orang.

    “Menu favorit ada yang kita keep sampai orang mulai bosan, nanti kita let go. Paling favorit sekarang sih bisa dibilang fettuccine pakai quackbonara ini,” ujar pemilik gerai pasta tersebut.

    Seporsi fettuccine disajikan dengan saus carbonara dan potongan daging bebek asap. Fettuccine punya tekstur al dente dimasak dengan saus carbonara yang dibuat sendiri hanya pakai telur dan keju parmesan.

    R&D Trattoria Pasta di Pasar SantaFettuccine yang creamy gurih berpadu sempurna dengan potongan daging bebek asap yang smokey. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Tercecap rasa gurih, creamy, dengan sedikit aroma telur di ujung lidah. Pasta ini menjadi semakin nikmat dinikmati bersama topping bebek asapnya yang teksturnya cenderung kenyal dengan rasa gurih smokey.

    5. Meatball Ravioli Pomodoro tak kalah nikmat

    R&D Trattoria Pasta di Pasar SantaR&D Trattoria juga punya menu ravioli isi cincangan daging sapi. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Ada juga menu pasta meatball ravioli yang bisa disajikan dengan saus pomodoro. Seporsinya dibanderol Rp 54.000.

    Sesuai namanya, pasta ravioli yang berbentuk persegi diisi dengan daging sapi cincang. Teksturnya padat tetapi lembutnya pas, tidak sampai lembek. Isian cincangan dagingnya juga tidak kering, tetapi lembap dengan aroma daging yang kuat.

    R&D Trattoria Pasta di Pasar SantaIsi dagingnya padat dengan tekstur pasta lembut. Semakin enak dimakan dengan saus pomodoro yang asam segar. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Pasta ini terasa pas dipadukan dengan saus pomodoro yang berbahan dasar tomat. Rasanya asam manis alami dari tomat dan ada sedikit sentuhan gurih. Saus pomodoro ini juga terasa bersih dan ringan di mulut karena tidak banyak menggunakan rempah.

    Jika tertarik bisa mampir langsung ke R&D Trattoria di Food Court Pasar Santa. Sementara buka setiap Selasa-Minggu pukul 12.00 – 19.00 WIB.

    (aqr/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • 5 Tempat Nongkrong di Pasar Santa, Kulineran Enak Ramah Kantong


    Jakarta

    Pasar Santa telah bertransformasi menjadi salah satu tempat bagi para pencari tempat nongkrong. Lokasinya ada di Jl. Cipaku I, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    Walaupun tidak seramai dulu, pasar yang terletak di kawasan Jakarta Selatan ini masih bisa dieksplor. Di area sekitar sana, selain berbelanja kita juga bisa kulineran, menemukan barang-barang vintage, menikmati musik live, hingga berburu buku.

    Rekomendasi Tempat Nongkrong di Pasar Santa

    Berikut adalah beberapa tempat di Pasar Santa yang bisa dijadikan pilihan tempat nongkrong:


    1. Kopi Tuku

    Kedai kopi ini berlokasi di lantai dasar Pasar Santa tepatnya Kiosk 176-177. Tempat ini jadi tempat favorit para pecinta kopi atau mereka yang ingin nongkrong santai.

    Selain menikmati kopi dan teh, traveler juga bisa memesan donat, kukis, hingga bolu yang lezat. Harganya pun cukup terjangkau, menu kopi paling murahnya berkisar Rp 25 ribu saja lho.

    2. Mini Resto Jepang Kaifuku

    Ketika ingin kulineran di Pasar Santa, kamu bisa ke Kaifuku, mini resto berkonsep Jepang. Dari catatan detikTravel, Nanban, Katsudon, Gyoza, dan Teriyaki Aburi adalah menu best seller yang ditawarkan mini resto ini.

    Enaknya, kamu juga bisa langsung melihat proses pembuatannya. Pasalnya, makanan akan dibuat dadakan sesuai pesanan pelanggan. Buka Selasa sampai Minggu, dengan jam operasional ada di pukul 11.00-21.00 WIB dan untuk weekend tutup pukul 22.00.

    Lokasi Kaifuku sangatlah strategis, yakni dekat tangga. Mini resto ini dominasi cat warna putih dan merah khas Jepang.

    3. Kemenkan

    Toko kue bebas gluten, Kemenkan, juga jadi salah satu hidden gem di Pasar Santa. Lokasinya ada di luar Pasar Santa Lt. 1 Blok BKS 57.

    Berdasarkan laman Instagramnya @kemenkan.co, toko kue ini buka setiap Selasa sampai Minggu pukul 11.00-20.00 WIB.

    Di sini, kamu bisa menikmati aneka brownies, tiramisu, kue stroberi, hingga cheesecake. Semuanya homemade dan fresh from oven. Harganya mulai dari Rp 25 ribuan aja.

    4. Juicible

    Nah, kalau kamu ingin yang seger-seger Juicible bisa jadi pilihan tempat nongkrong di Pasar Santa. Lokasinya ada di lantai 1.

    DI sini, kamu bisa pesan aneka jus buah. Mulai dari pisang, melon, stobori, hingga buah bit. Toko jus ini buka setiap hari mulai pukul 11.00 sampai 19.00 WIB. Sementara, untuk weekend tutup di pukul 20.00-21.00 WIB.

    5. Rama Ramen

    Buat kamu yang mau ngerasain halal authentic ramen, Rama Ramen bisa jadi pilihannya. Lokasinya ada di basement Pasar Santa.

    Di sini, kamu bisa pesan ramai dengan rasa gurih, creamy, dan pedas dengan topping yang melimpah. Kedai ramen ini buka setiap Selasa-Minggu, mulai dari pukul 10.00-20.00 WIB.

    Sejarah dan Perkembangan Pasar Santa

    Didirikan sejak tahun 1971, dulunya Pasar Santa hanyalah pasar tradisional dengan tata letak tidak teratur dan becek. Pada 2002, pertama kalinya pemerintah melakukan pemugaran pada pasar ini.

    Barulah setelah itu, Pasar Santa disulap menjadi pasar modern (Santa Modern Market) yang lebih teratur dan bersih.

    Di lantai basement khusus untuk para penjual sembako, sayur mayur, beras, ikan, daging, dan kopi. Di lantai dasar lebih, tempatnya aksesori, jam tangan, toko emas, dan toko pakaian. Sementara di lantai satu, berbagai spot kreativitas anak muda berkumpul.

    Pada tahun 2014-an, Pasar Santa sangat populer di kalangan remaja kala itu. Tempat ini banyak didatangi komunitas yang menggabungkan budaya, musik, dan makanan. Hal ini juga mendorong tarik wisatawan lokal bahkan asing.

    Sekarang, Pasar Santa memang tidak seramai di masa jayanya pada 2014. Namun, pasar ini masih bisa hidup dan bertahan setelah pandemi COVID-19.

    Semoga informasi terkait tempat nongkrong di Pasar Santa tadi bisa referensi buat detikers ya.

    (khq/fds)



    Sumber : travel.detik.com

  • Menyelami Dunia Kopi di Pasar Santa



    Jakarta

    Pecinta kopi pasti sudah tidak asing dengan Kedai Dunia Kopi di Pasar Santa. Kedai kopi ini sederhana tapi istimewa.

    Wangi kopi menyeruak dari lantai basement Pasar Santa, Jakarta Selatan. Plang kedai ‘Dunia Kopi’ tampak di tengah bangunan. Jajaran toples kopi dengan kapasitas 5 kg tertata rapi di etalase.

    Pak Suradi (53), pemilik Dunia Kopi tampak sibuk menghitung pesanan. Ia pindah dari satu gerai ke gerai lain. Mungkin bagi yang tidak biasa akan bingung, karena ternyata Pak Suradi memiliki banyak gerai dalam satu lantai.


    “Sekitar 40an gerai, termasuk untuk gudang,” ucap pria asal Purwodadi itu.

    Dunia Kopi ada sejak tahun 2000, saat itu baru satu kios yang ia miliki. Lambat laun, usahanya menapaki tangga kepopuleran, terlihat dari banyaknya wisatawan internasional yang datang ke sana.

    Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    “Malahan awal-awal itu yang datang bule-bule,” katanya.

    Usahanya ini memang sudah lama ia cita-citakan dengan tujuan mengenalkan nama Indonesia lewat kopi.

    “Di sini (Indonesia) banyak kopi, masa nggak bisa aku kelola dengan baik,” katanya pada detikTravel, Rabu (30/4).

    Saat pertama kali berjualan, hanya dua jenis kopi yang dijual yaitu Arabika dan Robusta. Kopi arabika cenderung dengan citarasa yang kompleks, sementara robusta lebih ke rasa pahit. Kalau pohon arabika tumbuh di ketinggian 1.000-2.000 mdpl, pohon kopi robusta tumbuh di ketinggian lebih rendah, di bawah 700 mdpl.

    “Dulu hanya 6 toples saja, sekarang kita buat ekosistemnya, langsung dari petani dari seluruh Indonesia. Jenisnya kita tambah jenisnya, ada robusta, arabika, liberika dan escelsa,” jawabnya.

    Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi pemilik Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    Varietas kopi yang ditawarkan juga beragam, mulai dari yellow honey, black honey, sigararutang, sampai yellow bourbon. Bisa dibilang hampir lengkap, tak ayal banyak pelanggan yang hilir mudik di sana.

    Di tiap kios, pegawai Dunia Kopi sibuk menimbang kopi. Pelanggan mencatat pesanan mereka dan memilih jenis kopi. Kalau ragu, mereka bisa langsung mencicip kopi di sudut basement, Pak Suradi menyiapkan kios khusus untuk mencicipi kopi. Maklum, kebanyakan pembeli adalah reseller kelas kakap.

    “Semua boleh minum kopi, gratis. Ajang promosi lah begitu, bagi-bagi gratis, tidak dibatasi,” ungkap pria kelahiran Blora itu.

    Untuk kopi gratis ini saja, ia bisa habis 5-10 kg per hari. Kedai kopi itu beroperasi dari pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB dengan total karyawan 25 orang, penjualan sehari tak kurang dari satu ton.

    Modal yang kuat sudah harus disiapkan. Selidik punya selidik, ternyata Pak Suradi menyuntik usahanya dengan dana pinjaman dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai 4 kali.

    Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    “Pinjaman pertama itu Rp 100 juta, pinjaman kedua Rp 200 juta, pinjaman ketiga Rp 300 juta dan terakhir lunas tahun ini Rp 500 juta,” ucapnya.

    Selain dukungan modal, Pak Suradi juga merasa sangat terbantu dengan syarat-syarat KUR. Saking sibuknya, berkas-berkas it ditandatangani di kedainya, suatu kemudahan bagi UMKM.

    Pak Suradi berkata bahwa turis yang paling banyak datang belakangan ini adalah orang Korea dan Jepang. Mereka sengaja memilih kopi sebagai oleh-oleh. Turis China, Malaysia dan Singapura juga masih daftar 5 turis yang paling banyak singgah.

    “Kemarin dari Jepang beli sampai dua koper penuh. Mereka suka kopi Toraja, luwak dan gayo. Tapi paling favorit luwak,” ungkapnya.

    Sepanjang usahanya, ia ingat akan satu turis asal Rusia. Turis ini beli kopi sampai dua karung, jenis kopi Bali. Satu hari beli satu karung, semua untuk oleh-oleh. Mereka datang saat weekday.

    Beda lagi dengan wisatawan domestik, sukanya kopi robusta dan arabika, datangnya saat weekend. Dunia kopi terasa seperti tempat wisata di Sabtu pagi.

    Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    “Mereka datang naik sepeda, ke sini ngopi gratis. Di sini tempatnya nyaman untuk ngumpul dan nggak dibatasi,” jawabnya.

    Per 100 gram, kopi ini dijual dengan harga paling murah Rp 13 ribu dan yang paling mahal Rp 20 ribu yaitu excelsa ijen dan liberika Jambi.

    Sukses dan tidak pelit ilmu, Pak Suradi membuka kelas barista untuk anak-anak yatim dan pesantren secara gratis. Ada pula kelas umum untuk mereka yang baru mau belajar, biayanya Rp 500 ribu sampai mahir.

    Jay (35) adalah trainer dan mekanik mesin kopi di Dunia Kopi. Sejak berkarir sebagai barista di sana pada tahun 2019, ia telah melatih sekitar 300 orang, termasuk peserta disabilitas netra dan rungu.

    “Bangga sih sebenarnya, apa yang selama ini diinginkan anak-anak barista tercapai, banyak bule uang suka kopi datang ke Indonesia,” jawabnya.

    Pak Suradi tak merasa rugi dengan itu semua. Ia malah senang bisa menjadi perpanjangan tangan dan bermanfaat bagi sekitar. Ia berterima kasih juga pada BRI yang telah mendukungnya selama ini.

    “Maju terus untuk pelayanannya, sukses untuk BRI,” katanya.

    Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    Pariwisata Lewat Kopi

    Perkembangan pariwisata kopi tak lepas dari perhatian Pengamat Ahli Pariwisata Profesor Azril Azhari. Sebagai pecinta kopi, ia bangga nama kopi Indonesia mulai dilirik oleh dunia.

    “Ini sangat bagus, tapi sekali lagi sayang karena kita hanya fokus pada kopinya saja,” ungkap mantan dosen Universitas Indonesia itu.

    Sejatinya, proses alami yang terjadi pada kopilah yang membuat rasanya mewah. Sebut saja kopi luwak, proses fermentasi yang terjadi di lambung luwak lah yang membuat cita rasa kopi itu jadi berbeda.

    “Kopi yang bagus itu sudah difermentasi, kalau di luar negeri itu dibuat jadi tidak alami,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, Prof Azril mengatakan bahwa sejak dipetik memang kopi Indonesia mengalami proses alami. Kopi dijemur di panas matahari sehingga kering dengan perlahan.

    “Di luar negeri itu keringnya dipaksa lewat oven, di sini dijemur di jalanan,” katanya sambil tertawa.

    Pada tahun 2018, Prof Azril mematenkan batik dari ampas kopi. Saat dipakai, batik akan mengeluarkan wangi semerbak layaknya kopi yang dihidangkan.

    Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi bersama reseller Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    “Harusnya bukan cuma kopinya tapi semua aspek kopi, ampasnya dijadikan bahan untuk spa, sementara sejarah kopi di Maluku dan Sumatera dijadikan paket wisata ‘Spicy Road’, melihat kembali bagaimana VOC menguasai kita di zaman itu,” jawab Prof Azril.

    Wisata jalur rempah Indonesia, itulah yang menjadi impian dari Prof Azril. Pendiri ilmu pariwisata Indonesia itu ingin agar kopi Indonesia terus maju dan mengharumkan nama bangsa.

    “Indonesia itu sudah terkenal rempah-rempahnya dari dulu, ini tinggal pemerintah saja bagaimana mendukungnya,” tutupnya.

    (bnl/bnl)



    Sumber : travel.detik.com

  • Itinerary Healing ke Pegunungan untuk Budget Rp 500 Ribu


    Jakarta

    Mau healing dengan budget terbatas? Bisa dong, termasuk untuk warga Jabodetabek yang hanya punya waktu terbatas. Tentunya, detikers harus menyusun itinerary yang tepat agar dana dan waktu yang tersedia bisa digunakan dengan tepat.

    Itinerary ke Pegunungan dengan Budget Rp 500 ribu

    Berikut adalah contoh itinerary ke pegunungan di area Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hanya dengan dana Rp 500 ribu. Sentul adalah kawasan kota modern yang terkenal dengan wisata alam dan fasilitas terkini, dengan hawa sejuk dan pastinya Instagramable.

    06.00- Menuju Sentul


    • Naik Transjakarta P11 Bogor-Blok M turun halte Mall Bellanova Sentul

    08.00- Menuju Curug Bidadari

    • Naik kendaraan online Rp 60-70 ribu

    09.00- Trekking Curug Bidadari

    • Tiket masuk akhir pekan dan libur panjang Rp 40-50 ribu

    12.00- Geser ke Sentul Forest City (Curug Aren)

    • Naik kendaraan online Rp 50-60 ribu

    12.30- Makan siang dan jajan camilan di Hutan Kota Sentul

    • Tarif masuk Rp 30 ribu dan estimasi makan siang Rp 200 ribu

    14.30- Foto-foto dan jalan ke Curug Aren

    • Tarif masuk sudah termasuk tiket Sentul Forest City

    16.00- Siap pulang

    • Naik kendaraan online ke halte Mall Bellanova Sentul Rp 50-60 ribu

    17.00- Menuju Jakarta dengan Transjakarta P11

    Botani Square, Mall Bellanova Sentul, Sentul, Simpang Sentul, Pintu Tol Citeureup 1, Cibubur Junction, Pancoran Tugu, Pancoran, Tegal Mampang, Rawa Barat, Pasar Santa, Kejaksaan Agung, Blok M.

    Dengan penyusunan itinerary ini, total biaya yang diperlukan adalah Rp 440-460 ribu yang artinya ada lebihan Rp 40-60 ribu. Dana ini bisa digunakan untuk beli oleh-oleh, beli minum, atau keperluan lain di jalan.

    Tentunya, estimasi biaya dan durasi di perjalan bisa berubah bergantung kondisi saat healing. Biasanya, tarif kendaraan online meningkat seiring dengan banyaknya permintaan saat libur. Jalanan menjadi lebih padat karena banyak orang ingin piknik ke destinasi wisata.

    Tips Menyusun Itinerary Healing Budget Rp 500 Ribu

    Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:

    • Wajib bangun pagi untuk menekan risiko macet
    • Gunakan kendaraan umum jika tersedia dan mudah diakses
    • Bawa bekal minum dan makan untuk sarapan
    • Bawa uang cash secukupnya
    • Disiplin dan tepat waktu sesuai perencanaan dalam itinerary.

    Sebelum pergi, jangan lupa update info ketersediaan layanan kendaraan dan destinasi wisata. Jika ada perubahan, maka kondisi bisa diantisipasi secepatnya agar healing dapat berjalan dengan baik dan nyaman.

    (row/fem)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
    image : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Post, Surga Bagi Pencinta Buku Indie, di Pasar Santa



    Jakarta

    Bagi para pecinta sastra, deretan rak kayu berisi buku-buku memiliki daya tarik tersendiri. Di era banyaknya toko dan buku digital, Post A Living Room & Press tetap memberi ruang nyaman bagi siapa saja yang rindu pada pengalaman membaca buku fisik.

    Terletak di lantai dua gedung Pasar Santa, Jakarta Selatan, toko buku ini sudah berdiri sejak tahun 2014 dan masih eksis hingga saat ini.

    Berbeda dari toko buku lain, Post hanya menjual buku-buku baru, mulai dari karya penerbit independen, penulis lokal, hingga internasional. Koleksi yang tersedia juga beragam, mulai dari buku-buku fiksi hingga nonfiksi, termasuk karya penulis ternama seperti Aan Manshur dan Pramoedya Ananta Toer.


    “Bedanya kita cuma jual buku baru, nggak ada buku bekas. Jadi kualitasnya terjamin. Genrenya ada fiksi dan nonfiksi, tapi yang paling banyak dijual di sini itu buku indie,” ujar Putri, penjaga Post A Living Room Bookshop & Press, beberapa waktu lalu.

    Buku berbahasa Inggris dan buku terjemahan menjadi buku paling banyak dicari pengunjung.

    “Biasanya pengunjung nyari buku terjemahan atau buku-buku impor yang nggak ada di toko lain,” dia menambahkan.

    Selain koleksi yang eksklusif, suasana hangat Post membuat siapa saja betah berlama lama disana. Diiringi musik dari lagu lagu indie memberikan kesan homey yang nyaman.

    Menariknya, sejak berdiri pada 2014, Post banyak menggandeng penulis penulis lokal untuk menerbitkan buku dalam usaha penerbitan Post Press. Sejauh ini sudah ada 10 buku yang diterbitkan, termasuk satu buku kolaborasi penulis berjudul “Museum Teman Baik” yang dapat dibeli di toko Post secara langsung maupun toko digital postpress melalui kanal Tokopedia.

    Melalui lini penerbitannya ini, Post memberi kesempatan bagi para penulis lokal untuk turut mengembangkan karyanya.

    “Post Press nantinya mengkurasi sendiri untuk pilihan karya dari penulis-penulis lokal, biasanya nanti akan dihubungi atau diumumkan,” kata Putri.

    Pengunjung Post A Living Room & Press datang dari berbagi kalangan, mulai dari anak muda, mahasiswa, hingga orang tua yang mencari bacaan santai selepas kerja. Bahkan toko ini menjalin hubungan baik dengan para pengunjung yang sudah mengikuti perkembangan Post sejak dulu.

    Post a living room & press menjadi ruang baca bagi para pecinta sastra. Buka setiap Senin-Jum’at pukul 14.00-19.00 WIB dan khusus Sabtu-Minggu buka mulai pukul 12.00-19.00 WIB. Toko ini biasanya ramai dikunjungi pengunjung saat akhir pekan atau saat jam pulang kerja.

    (fem/ddn)



    Sumber : travel.detik.com