Tag: pembakaran

  • Ganti Oli Berapa Km? Ketahui Waktu yang Tepat Agar Motor Tetap Prima


    Jakarta

    Mengganti oli mesin secara rutin merupakan salah satu aspek penting dalam perawatan motor. Oli berfungsi dalam menjaga kinerja motor secara keseluruhan.

    Namun, masih banyak pemilik motor yang tidak tahu mengenai kapan waktu yang tepat untuk mengganti oli, terutama berapa kilometer jarak tempuh yang dianjurkan. Tak perlu bingung, simak penjelasannya berikut ini.

    Ganti Oli Berapa Km?

    Informasi mengenai waktu penggantian oli sebenarnya bisa diketahui dalam setiap buku manual motor ketika pembelian. Biasanya pabrikan motor menyarankan untuk ganti oli setiap 2.000-3.000 km atau 2-3 bulan sekali. Hal tersebut tergantung mana yang lebih dulu dicapai.


    Selain itu, pemakaian sepeda motor juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam hal penggantian oli. Jika motor sering dipakai, maka oli perlu diganti lebih cepat. Hal ini dilakukan agar mesin sehat dan kendaraan tetap awet.

    Lain halnya, jika motor dipakai lebih sering, misalnya untuk keperluan ojek online. Oli setidaknya diganti dua atau tiga minggu sekali.

    Tanda-tanda Oli Motor Harus Segera Diganti

    Menurut laman Planet Ban, salah satu fungsi penting oli adalah bisa mencegah terjadi korosi pada komponen mesin, karena polusi dan cuaca. Sehingga, penggantian oli perlu diperhatikan pemilik motor.

    Kamu telah mengetahui waktu yang tepat untuk mengganti oli. Namun, penggantian oli pada motor juga perlu dilakukan jika ada tanda-tanda berikut ini.

    1. Suhu Mesin Terlalu Tinggi

    Oli yang memburuk akan membuat daya hantar panasnya berkurang. Mengutip laman Astra Honda, hal ini menyebabkan penyebaran yang tidak merata pada mesin. Pengendara akan merasa ada hawa panas pada area bawah mesin.

    2. Suara Mesin Lebih Kasar

    Salah satu ciri utama oli motor harus segera ganti oli adalah suara mesin lebih kasar. Sebab, bunyi mesin yang lebih kasar disebabkan oleh kualitas oli yang sudah tidak bisa menghasilkan daya lumas yang baik, sehingga gir transmisi terganggu.

    3. Oli Berwarna Hitam Pekat dan Encer

    Oli mesin baru biasanya memiliki konsistensi pekat dengan warna coklat atau biru. Namun, warnanya akan berubah ketika terkena panas dan kerak karena pembakaran. Menurut Manager Service Astra Motor Papua, Harry Pranata, jika oli sudah berwarna hitam pekat, tandanya oli sudah terkontaminasi zat-zat bekas pembakaran.

    4. Volume Oli Mesin Berkurang

    Biasanya, oli sepeda motor dengan kapasitas 150cc bervolume di bawah 1 liter. Namun, volume ini akan berkurang seiring pemakaian mesin.

    Apabila volume oli terlihat kurang dari batas, maka periksa apakah ada kebocoran oli. Kemudian, segera ganti oli mesin.

    Oli harus segera diganti. Sebab, daya lumas oli akan menurun jika terus dibiarkan. Selain itu, mesin juga akan cepat aus.

    (elk/row)



    Sumber : oto.detik.com

  • Motor Tidak Bisa Distarter tapi Bisa Diengkol? Ini 4 Penyebabnya


    Jakarta

    Salah satu masalah umum yang dialami banyak pengendara motor matic adalah tidak bisa menyala ketika distarter. Namun, motor bisa hidup jika menekan engkol atau disebut kick starter.

    Memang pada akhirnya motor akan menyala dan bisa dikendarai. Namun hal tersebut harus jadi perhatian, sebab cukup merepotkan jika perlu menginjak engkol terus menerus demi menyalakan motor.

    Lantas, apa sih penyebab motor tidak bisa distarter tapi bisa diengkol? Simak pembahasannya secara lengkap dalam artikel ini.


    Penyebab Motor Tidak Bisa Distarter tapi Bisa Diengkol

    Seiring perkembangan teknologi, kini banyak motor matic keluaran terbaru yang sudah menghilangkan kick starter atau engkol. Meski begitu, masih banyak ditemui motor matic yang memiliki engkol. Biasanya motor tersebut merupakan keluaran lama.

    Jika motor detikers masih menggunakan engkel, fitur tersebut dapat membantu apabila motor tak mau menyala saat distarter.

    Mengutip situs Planet Ban, berikut sejumlah penyebab motor tidak bisa distarter tapi bisa diengkol:

    1. Tegangan Aki Kurang Optimal

    Penyebab yang pertama karena tegangan aki kurang optimal. Saat tegangan aki kurang memadai, komponen-komponen di dalamnya tidak bisa mendukung proses pengapian pada motor. Sebab, aki berperan penting sebagai pemberi pasokan listrik ke sejumlah bagian, salah satunya sistem pengapian.

    Perlu diketahui, aki yang bekerja dengan baik biasanya memiliki tegangan sekitar 12 volt. Kalau tegangannya di bawah angka tersebut, maka aki tidak berfungsi dengan baik sehingga motor sulit menyala dengan cara distarter.

    2. Korsleting pada Starter

    Faktor lainnya bisa disebabkan karena korsleting pada electric starter. Kondisi ini biasanya dapat dilihat pada terminal 30 starter, tepatnya ada di dekat logam mesin yang tersambung dengan massa dari aki.

    Tanda-tanda korsleting dapat diketahui dengan adanya bekas terbakar berwarna hitam di sekitar area tersebut. Jika memang ditemukan tanda-tanda seperti itu, bisa dipastikan bahwa electric starter motor tidak berfungsi karena sekring starter sudah putus.

    3. Masalah pada Busi

    Busi memiliki peran penting dalam sistem pengapian. Soalnya, busi bertugas menghasilkan api yang diperlukan untuk membakar campuran udara dan bahan bakar di dalam ruang pembakaran.

    Seiring pemakaian, busi motor bisa mengalami sejumlah masalah, mulai dari sudah melewati batas usia pakai, sudah aus, menjadi longgar, atau terkena kotoran maupun cairan seperti oli. Jika busi mengalami masalah tersebut, maka jangan heran kalau motor tidak bisa menyala saat distarter.

    Selain pada busi, kerusakan di kabel busi juga bisa menjadi pemicunya. Kabel ini berfungsi sebagai penghubung antara cop busi dan coil yang mendistribusikan tegangan ke busi.

    4. Aliran Bensin yang Tidak Lancar

    Penyebab yang terakhir bisa disebabkan oleh aliran bensin yang tidak lancar. Kondisi ini dapat terjadi pada motor yang menggunakan sistem bahan bakar tradisional atau karburator. Hal tersebut terjadi karena udara yang terperangkap di dalam selang bensin, sehingga tidak dapat memompa bensin.

    Untuk mengatasi masalah ini, detikers perlu melepas selang yang tersambung ke input karburator. Pada umumnya bisa dikencangkan dengan klem, lalu tunggu hingga bensin mulai mengalir dengan normal. Setelah itu, selang dapat dipasang kembali dan coba hidupkan motor dengan menekan starter.

    Demikian empat penyebab motor tidak bisa distarter tapi bisa diengkol. Semoga dapat membantu detikers!

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com

  • Motor Zaman Sekarang Masih Perlu Kick Starter?



    Jakarta

    Motor zaman sekarang sebagian besar sudah meninggalkan fitur kick starter. Sebab sistem kelistrikan pada motor sudah semakin baik, sehingga sudah cukup mengandalkan electric starter. Namun pada kasus-kasus tertentu, kick starter masih dibutuhkan lho.

    Seperti diungkap main dealer sepeda motor Honda Jakarta – Tangerang, PT Wahana Makmur Sejati (WMS), ada beberapa situasi dan masalah yang mengharuskan pengguna memanfaatkan fitur kick starter, antara lain:

    1. Sistem Pengapian Bermasalah


    Sistem pengapian pada sepeda motor perlu perhatian lebih pada bagian busi, kabel pengapian atau CDI, karena komponen tersebut memiliki tugas utama buat menghasilkan api di ruang bakar.

    2. Klep Motor Macet

    Bila komponen bermasalah, klep tidak dapat terbuka atau menutup sempurna, sehingga bahan bakar tidak mengalir dengan optimal ke ruang mesin.

    3. Karburator Bermasalah

    Karburator punya fungsi untuk mencampurkan udara dan bahan bakar di ruang mesin, apabila komponen tersebut kotor atau rusak maka aliran bahan bakar akan terganggu.

    4. Filter Udara Kotor

    Filter udara yang kotor akan menyebabkan campuran udara dan bahan bakar tidak optimal, serta mempengaruhi kualitas pembakaran di ruang mesin.

    5. Aki Motor Lemah

    Ini penyebab yang paling sering dialami. Aki yang mengalami kendala akan membuat daya listrik tidak dapat mengalir dengan maksimal, sehingga sepeda motor akan sulit dihidupkan.

    “Metode engkol atau kick starter dapat menjadi solusi apabila terjadi kendala pada sistem electric starter sepeda motor Honda. Meski jarang digunakan, konsumen tetap perlu untuk memperhatikan komponen ini, sehingga tetap dapat berfungsi dalam keadaan darurat sekalipun,” ungkap Wahyu Budhi, Training Analyst PT Wahana Makmur Sejati.

    (lua/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • 4 Penyebab Oli Cepat Hitam Meski Baru Diganti, Catat!


    Jakarta

    Oli yang menjadi hitam mengindikasikan sudah kotor akibat mendukung kinerja mesin setiap hari. Dalam kondisi ini, pemilik motor harus segera mengganti oli.

    Jika tidak ganti oli secepatnya, kinerja mesin berisiko turun bahkan rusak. Kendati begitu, saatnya oli menjadi hitam meski baru ganti yang mengindikasikan ada masalah di mesin atau komponennya.

    4 Penyebab Oli Cepat Menghitam Meski Baru Diganti

    Oli yang lebih cepat menghitam bisa menjadi pertanda ada gangguan dari motor. Mengutip laman Astra Motor, berikut beberapa penyebab oli cepat menghitam.


    1. Gas Sisa Pembakaran Masuk ke Karter

    Biasanya gas sisa pembakaran mesin motor mengandung banyak kerak dan kotoran. Akibatnya, oli menjadi mudah hitam saat gas masuk karter. Namun, mudahnya oli menjadi hitam mengindikasikan ada bagian motor yang perlu perbaikan.

    Penyebab gas sisa pembakaran masuk ke karter antara lain boring motor aus, ring piston terbalik, ring piston aus, hingga gap piston yang berada segaris karena salah pemasangan. Menghadapi masalah ini, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan.

    Pertama, pilih pelumas yang berkualitas dan kadar yang cukup. Di samping itu, kamu juga bisa memilih tipe oli yang sesuai dengan motor. Pemilik motor juga disarankan rutin melakukan pemeliharaan untuk menjaga kinerja mesin.

    2. Saringan Oli yang Rusak

    Saringan oli yang rusak juga bisa menyebabkan oli cepat menghitam. Fungsi dari saringan oli adalah untuk menyaring kotoran, Jadi, jika filter ini rusak, maka oli bisa cepat menghitam.

    Upayakan untuk mengecek saringan oli pada motor. Jika saringan oli sudah rusak, maka ganti di tempat servis motor terdekat. Pilih saringan oli yang berkualitas.

    3. Ada Komponen Mesin yang Kotor

    Oli berfungsi untuk melumasi seluruh mesin. Jika area yang dilumasinya dalam keadaan kotor, kotoran yang ada pun bisa ikut terbawa.

    Sehingga, setelah dibongkar,cuci motor agar komponen bersih kembali. Dengan begitu, oli tidak akan cepat menghitam dan awet digunakan.

    4. Mesin yang Overheat

    Mesin yang overheat atau terlalu panas juga bisa membuat oli cepat menghitam. Penyebab dari mesin overheat di antaranya setelan kopling motor yang kurang pas, jadi mengakibatkan selip dan menyebabkan oli cepat menguap.

    Solusi untuk masalah ini adalah dengan memasang oli cooler atau yang biasa disebut selang hawa pada mesin motor. Namun, ganti saringan oli yang sudah gosong terlebih dahulu.

    Itulah beberapa penyebab oli cepat menghitam meski baru diganti. Jangan lupa untuk rutin dalam mengganti oli dan perhatikan jenis oli yang digunakan.

    (elk/row)



    Sumber : oto.detik.com

  • Motor Injeksi Sering Kehabisan Bensin? Ini Dampaknya


    Jakarta

    Motor injeksi jangan sering dibiarkan kehabisan bensin. Ini dampaknya motor injeksi kehabisan bensin.

    Motor injeksi kian populer di kalangan masyarakat. Penggunaan bahan bakar yang efisien dibandingkan motor karburator menjadi salah satu alasan motor injeksi makin populer. Untuk diketahui, teknologi injeksi bahan bakar memberikan kontrol yang lebih presisi terhadap campuran udara dan bahan bakar yang masuk ke ruang bakar.

    Dampak Sering Membiarkan Tangki Bensin Motor Injeksi Kosong

    Bila kamu pengguna motor injeksi, ada satu hal penting yang harus diperhatikan. Motor injeksi jangan sering dibiarkan kehabisan bensin. Dikutip laman Suzuki Indonesia, motor injeksi yang sering dibiarkan kehabisan bensin bisa memberikan dampak buruk. Berikut ini 5 dampak buruk membiarkan tangki motor injeksi kehabisan bensin.


    1. Pompa Bahan Bakar Berpotensi Rusak

    Motor injeksi dilengkapi dengan pompa bahan bakar yang berfungsi untuk mengalirkan bensin dari tangki ke injektor dengan tekanan yang tepat. Pompa ini biasanya terendam dalam bensin di dalam tangki, yang juga berfungsi sebagai pendingin.

    Tangki bensin yang sering dibiarkan kosong akan membuat pompa bahan bakar bekerja keras tanpa pendingin yang cukup. Alhasil, ini memicu terjadinya overheating. Overheating bisa membuat kerusakan permanen pada pompa. Kalau sudah begini, kamu harus mengganti pompa bahan bakar.

    2. Injektor Bermasalah, Performa Tak Optimal

    Injektor berfungsi menyemprotkan bensin ke ruang bakar dengan tekanan tinggi. Dengan begitu, campuran udara dan bahan bakar bisa menghasilkan tenaga maksimal. Bila tangki bensin sering dibiarkan kosong, injektor berpotensi tersumbat oleh kotoran atau partikel kecil yang mungkin tersedot dari dasar tangki saat posisinya kosong. Injektor yang tersumbat itu mengakibatkan pembakaran tidak sempurna. Performa mesin pun jadi terganggu.

    3. Risiko Kavitasi pada Pompa Bahan Bakar

    Kavitasi adalah fenomena di mana gelembung-gelembung udara terbentuk dalam cairan yang sedang di pompa. Gelembung-gelembung ini kemudian pecah dengan kekuatan yang cukup besar, merusak komponen-komponen di sekitarnya.

    Dalam konteks motor injeksi, jika tangki bensin sering kosong atau hampir habis, udara bisa masuk ke dalam sistem bahan bakar, menyebabkan kavitasi pada pompa bahan bakar. Kavitasi ini dapat merusak bagian dalam pompa, mengurangi efisiensi pengaliran bahan bakar, dan akhirnya menyebabkan kegagalan pompa.

    4. Mesin Rusak

    Pada tangki bensin yang hampir kosong, akan ada ruang tersisa dan berisi udara. Udara di dalam tangki itu bisa menimbulkan embun sehingga menghasilkan tetesan air dalam tangki. Air itu bila tercampur dengan sistem bahan bakar bisa menimbulkan masalah saat pembakaran dan merusak komponen mesin. Selain merusak mesin, korosi pada tangki juga tak terhindarkan.

    5. Sistem Bahan Bakar Lebih Cepat Aus

    Jika keseringan membiarkan tangki kosong, akan berdampak pada sistem bahan bakar dalam jangka panjang. Sistem bahan bakar yang sering terpapar kotoran, udara, dan air akan lebih cepat mengalami keausan dan kerusakan. Komponen seperti filter bahan bakar, regulator tekanan, dan injektor akan memerlukan perawatan dan penggantian lebih sering

    (dry/rgr)



    Sumber : oto.detik.com

  • Mengenal Komponen Karburator Motor dan Cara Kerjanya


    Jakarta

    Karburator merupakan salah satu komponen penting dalam mesin sepeda motor. Sebab, fungsi utama karburator adalah untuk mengumpulkan udara dan mencampurkannya dengan bahan bakar.

    Sebenarnya, motor-motor keluaran terbaru sudah meninggalkan karburator dan beralih ke teknologi injeksi yang diklaim lebih irit bensin dan ramah lingkungan. Meski begitu, tak ada salahnya mempelajari tentang karburator di sepeda motor.

    Lantas, apa saja komponen-komponen di karburator motor dan bagaimana cara kerjanya? Simak pembahasannya dalam artikel ini.


    Mengenal Karburator Motor

    Dilansir situs Planet Ban, karburator adalah komponen pada mesin pembakaran sepeda motor yang berfungsi untuk mencampur bahan bakar dengan udara, sebelum akhirnya dibakar di dalam ruang bakar.

    Pada mesin pembakaran, campuran udara dan bahan bakar yang tepat sangatlah penting agar dapat menjaga kinerja mesin dan efisiensi bahan bakar yang baik.

    Karburator bekerja dengan memasok bahan bakar ke mesin dengan cara menyedot bahan bakar dari tangki bensin, kemudian mencampurnya dengan udara, lalu campuran tersebut dikirim ke ruang bakar mesin lewat pintu gas atau throttle.

    Dilihat dari cara kerjanya, karburator memang terbilang masih bekerja secara manual jika dibandingkan dengan sistem injeksi. Meski begitu, karburator lebih mudah untuk diutak-atik saat terjadi kerusakan atau ingin diatur ulang.

    Komponen-komponen di Karburator Motor

    Agar berfungsi secara optimal, terdapat berbagai komponen pada karburator sepeda motor. Mengutip laman Suzuki, berikut bagian-bagian dalam karburator motor:

    1. Main Jet

    Main jet berfungsi untuk menentukan jumlah bahan bakar yang disemprotkan ke dalam udara. Ukuran diameter main jet akan mempengaruhi jumlah bahan bakar yang masuk ke mesin.

    Apabila ukuran main jet cukup besar maka dapat menyemburkan lebih banyak bahan bakar. Sebaliknya, ukuran main jet yang lebih kecil akan menyemprotkan lebih sedikit bahan bakar.

    2. Pilot Jet

    Komponen ini mengatur jumlah bahan bakar yang disemprotkan saat mesin dalam keadaan idle atau putaran rendah. Pilot jet juga berperan penting dalam menyediakan bahan bakar yang cukup untuk menjaga mesin tetap berfungsi saat tidak ada gas yang diberikan.

    3. Needle Jet

    Needle jet berfungsi bersama dengan jarum gas untuk mengatur jumlah bahan bakar yang disuplai ke mesin pada putaran menengah. Komponen ini memungkinkan penyesuaian bahan bakar di putaran gas sedang hingga tinggi.

    4. Choke Valve

    Choke valve merupakan katup yang mengontrol aliran udara ketika mesin sedang dingin. Saat mesin dingin, choke valve akan menutup untuk meningkatkan rasio udara bahan bakar sehingga mesin lebih mudah dihidupkan.

    Setelah mesin sudah panas, choke valve secara otomatis terbuka untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar. Dengan begitu, penggunaan bahan bakar juga lebih efisien.

    5. Jarum Pelampung

    Komponen berikutnya adalah jarum pelampung yang bentuknya lancip, mirip dengan katup yang bisa menekan sebuah lubang. Jarum ini berfungsi sebagai pengatur volume ruang pelampung agar tidak over. Hal ini membantu campuran yang keluar menuju intake manifold berlangsung normal.

    6. Pelampung

    Pelampung merupakan komponen yang mengambang pada zat cair, khususnya bensin. Pelampung terbuat dari plastik ringan sehingga bisa mengambang di atas bensin.

    Komponen ini berfungsi untuk mengatur bahan bakar yang ada di dalam mangkok agar tidak berlebihan. Cara kerjanya dengan menggerakan ujung jarum pelampung agar segera tertutup saat bahan bakar sudah cukup, sehingga mencegah karburator kebanjiran bensin.

    7. Katup Gas

    Katup gas atau skep memiliki bentuk seperti tabung yang dapat bergerak naik dan turun. Fungsinya adalah untuk mengontrol banyaknya campuran udara dan bahan bakar yang akan masuk ke ruang bakar.

    8. Pegas Katup gas

    Komponen yang satu ini letaknya ada di atas karburator, tepatnya pada bagian tutup pengatur katup gas karburator motor. Pegas berfungsi mempertahankan katup agar tetap dalam kondisi tertutup ketika tuas gas ditarik. Saat pengendara melakukan deselerasi, maka pegas akan mengembalikan posisi katup.

    9. Air Pilot

    Air pilot adalah saluran memanjang yang terletak di antara ruang sebelum dan setelah katup gas. Fungsinya adalah untuk menyalurkan udara saat katup gas tertutup rapat (idle).

    Output air pilot dapat menyatu dengan saluran pilot jet, sehingga membuat bensin dapat bercampur ketika ada aliran udara melalui air jet secara otomatis. Kemudian, material yang keluar dari saluran pilot jet setelah katup akan berubah menjadi campuran udara dan bahan bakar.

    10. Mangkuk Karburator

    Mangkuk karburator berperan sebagai penampung bensin yang nantinya akan diantarkan ke venturi. Mangkok ini juga menjadi pelindung bagi komponen di karburator, seperti pelampung dan main jet.

    Mangkuk karburator harus menampung bensin dengan baik dan mempertahankan tekanannya agar tetap stabil.

    11. Sekrup Penyetel

    Komponen yang terakhir adalah sekrup penyetel. Di dalam karburator motor terdapat dua buah sekrup penyetel, yakni sekrup pengatur udara pilot jet dan sekrup gas. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

    Sekrup pengatur udara pilot jet digunakan untuk menentukan jumlah udara yang bisa masuk saat idle tanpa menggunakan sistem choke. Sementara itu, sekrup gas berfungsi untuk mengatur idle RPM pada mesin karburator.

    Itu tadi komponen-komponen pada karburator motor beserta cara kerjanya. Semoga detikers lebih paham!

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com

  • Mengenal Komponen Thermostat pada Mobil dan Fungsinya


    Jakarta

    Ada banyak komponen yang terdapat dalam mobil, salah satunya adalah thermostat. Komponen ini sangat penting karena fungsi utamanya dapat mengatur sirkulasi pendinginan mesin dari radiator.

    Sayangnya, masih banyak pemilik mobil yang tidak tahu mengenai thermostat. Bahkan, beberapa orang masih belum tahu ciri-ciri jika thermostat sudah rusak.

    Lantas, apa sih thermostat itu? Lalu apa fungsi thermostat dalam sistem pendingin mesin mobil? Simak pembahasannya dalam artikel ini.


    Mengenal Thermostat

    Thermostat adalah sebuah komponen pada mobil yang letaknya ada di dalam mesin. Bentuknya mirip selongsong dengan bagian berulir yang mengitarinya.

    Mengutip laman Auto2000, thermostat biasanya berwarna keemasan di bagian yang panjang, lalu warna perak di bagian ulirnya. Thermostat memiliki ukuran yang kecil, tetapi punya fungsi krusial dalam sistem pendinginan mesin mobil.

    Sebuah thermostat terdiri dari beberapa bagian penting yang mendukung kinerjanya agar tetap optimal. Bagian dalam thermostat antara lain:

    • Wax seal: berfungsi mengatur pembukaan bagian tutup thermostat.
    • Pegas: fungsinya untuk mengembalikan posisi katup ke posisi menutup.
    • Valve: memiliki bagian pelat yang berfungsi sebagai pintu air.
    • Control hole: berguna untuk mengatur jumlah air dalam water jacket.

    Fungsi Thermostat

    Fungsi utama thermostat adalah untuk mengatur sirkulasi pendinginan mesin dari radiator untuk mencegah terjadinya overheat. Di dalam thermostat terdapat komponen yang bisa mendeteksi perubahan suhu.

    Perlu diketahui, thermostat akan menjaga suhu mobil tetap berada di antara 80-92 derajat Celcius. Dalam suhu itu, mesin dapat menghasilkan pembakaran secara optimal serta pemakaian bahan bakar yang lebih efisien.

    Dalam menjaga suhu mobil tetap aman, thermostat akan menutup saluran air pendingin dari mesin ke radiator saat suhu air masih rendah. Lalu, thermostat akan membuka saluran tersebut ketika suhu air pendingin sudah tinggi. Jadi, air pendingin tersebut yang membantu thermostat dalam menjaga suhu mesin.

    Ciri-ciri Thermostat Sudah Rusak

    Sama seperti komponen mobil lainnya, seiring waktu thermostat bisa mengalami kerusakan. Kalau sudah rusak, maka thermostat tidak bisa bekerja secara optimal dalam menjaga suhu mesin.

    Apa saja ciri-ciri thermostat sudah rusak? Simak di bawah ini:

    1. Mesin Overheat

    Salah satu tanda umum thermostat sudah rusak adalah mesin mengalami overheat. Wajar saja, sebab thermostat yang tidak terbuka dengan benar membuat aliran cairan pendingin ke mesin jadi terhambat.

    2. Suhu Kerja Mesin Tidak Stabil

    Thermostat yang sudah rusak juga bisa menyebabkan suhu mesin tidak stabil. Misalnya, mesin mungkin kesulitan mencapai suhu kerja yang optimal atau suhu mesin bisa naik dan turun secara tidak terduga.

    3. Konsumsi BBM Lebih Boros

    Ciri-ciri selanjutnya adalah bahan bakar jadi lebih boros. Soalnya, thermostat yang sudah rusak menyebabkan mesin bekerja pada suhu yang tidak optimal. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan efisiensi pembakaran.

    4. Pendingin Radiator Kurang Efektif

    Thermostat yang sudah mulai rusak bisa menghambat aliran cairan pendingin ke radiator. Kondisi itu menyebabkan radiator tidak dapat melakukan pendinginan secara efektif.

    Itu dia penjelasan mengenai thermostat beserta fungsinya. Semoga dapat membantu detikers!

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com

  • Jarang Ganti Oli Motor? Awas, Mesin Bisa Begini


    Jakarta

    Ganti oli jadi salah satu perawatan motor yang mesti rutin dilakukan. Sayangnya, masih banyak pemilik motor yang abai untuk mengganti oli kendaraannya. Padahal, sejumlah risiko bisa dialami motor.

    Oli berperan penting pada sebuah motor. Fungsinya yaitu sebagai pelumas, pelindung, pembersih, maupun pendingin mesin kendaraan. Penggunaan oli harus diganti secara berkala agar kinerjanya tetap maksimal.

    Jika oli mesin motor jarang diganti, siap-siap motor bisa mengalami sederet risiko. Apa saja?


    Risiko Oli Mesin Motor Jarang Diganti

    Mengutip catatan detikcom, berikut deretan risiko jarang mengganti oli motor:

    1. Mesin Overheat

    Oli berfungsi sebagai pendingin dengan menyerap panas yang ditimbulkan kerja mesin, termasuk proses pembakaran hingga gesekan antar komponen.

    Jika kelamaan tidak diganti, oli jadi tidak mampu lagi menahan suhu tinggi alias fungsi pendinginan mesinnya berkurang. Suhu panas mesin tidak dapat diredam dan memicu overheat.

    Seiring penggunaan kendaraan, ruang mesin akan terkontaminasi debu dan kotoran. Kinerja oli yang tercemar ini berkurang sehingga tidak lagi optimal dalam melumasi mesin.

    Dampaknya, gesekan antar komponen mesin meningkat dan menyebabkan performa mesin menurun secara keseluruhan. Penurunan akselerasi, daya tarik, dan responsivitas mesin mungkin dapat dirasakan saat berkendara.

    3. Komponen Lebih Cepat Aus

    Fungsi pelumasan oli yang berkurang mampu menimbulkan gesekan berlebih di antara komponen. Sehingga bisa memicu komponen mesin seperti piston, dinding silinder, hingga poros engkol menjadi aus atau rusak lebih cepat.

    4. Menimbulkan Getaran dan Suara

    Akibat jarang diganti, oli akan mengental dan volumenya berkurang sehingga mesin harus bekerja lebih keras. Kerasnya kinerja mesin memicu gesekan lebih besar yang mampu menimbulkan getaran sekaligus suara kasar. Alhasil, membuat pengendara tidak nyaman saat berkendara.

    5. Konsumsi BBM Boros

    Gesekan antar komponen semakin keras jika oli kelamaan tidak diganti. Sehingga mesin bekerja lebih berat akibat tidak memperoleh pelumasan maksimal. Kondisi ini membutuhkan lebih banyak konsumsi bahan bakar agar mampu bekerja ekstra.

    6. Oli Lebih Cepat Keruh

    Dampak jarang mengganti pelumas, oli yang baru diganti akan lebih mudah menghitam nantinya. Sebab gas sisa pembakaran yang mengandung kerak dan kotoran masuk ke dalam karter. Sehingga gas yang masuk ke karter membuat oli lebih cepat keruh.

    Cairannya pun akan encer dan tidak layak digunakan kembali. Dan pengendara jadi perlu lebih sering mengganti oli.

    7. Biaya Lebih Besar

    Oli yang jarang diganti membuat boros bahan bakar hingga komponen mesin lebih cepat rusak. Itu artinya, membutuhkan biaya yang lebih besar. Pengeluaran yang seharusnya hanya untuk penggantian oli, jadi bertambah untuk isi BBM lebih sering dan memperbaiki komponen aus.

    Kapan Waktu Ganti Oli Mesin Motor yang Tepat?

    Pabrikan motor umumnya menyarankan ganti oli mesin setiap tempuh 3.000 km atau 3 bulan sekali, tergantung mana yang lebih dulu dicapai.

    Frekuensi pemakaian sepeda motor juga bisa jadi patokan dalam mengganti oli. Jika sering digunakan maka oli perlu diganti lebih cepat, bisa menjadi tiap bulan.

    (azn/row)



    Sumber : oto.detik.com

  • Kenapa Motor Matic Tidak Kuat Nanjak? Ini 5 Masalahnya


    Jakarta

    Motor matic tidak kuat nanjak mungkin menjadi masalah banyak pengguna kendaraan sejenis. Berbeda dengan motor manual, pengendara motor matic tidak bisa menurunkan tranmisi jika kendaraannya tidak kuat nanjak.

    Sebetulnya, motor matic aman-aman saja digunakan untuk naik tanjakan ketika di dataran tinggi. Jika motor kamu tidak kuat nanjak, coba cek bagian berikut. Ketahui juga tips membawa motor matic menanjak agar tidak berhenti di tengah jalan.

    Alasan Motor Matic Tidak Kuat Nanjak

    Dilansir dari situs Astra Otoshop dan Wahana Honda, berikut ini 5 kemungkinan alasan kenapa motor matic tidak kuat nanjak:


    1. Filter Udara Kotor

    Filter udara yang kotor akan menyumbat aliran udara ke mesin, sehingga mengurangi tenaga yang dihasilkan. Jika kotor, bersihkan filter udara dengan kompresor. Sekiranya sudah tidak layak, maka gantilah dengan filter udara yang baru.

    2. Kondisi CVT Aus

    Kemungkinan lainnya adalah kondisi Continuously Variable Transmission (CVT) yang sudah aus atau kotor. Hal ini menyebabkan motor matic loyo, bahkan ketika digunakan di jalan datar.

    Pastikan komponen CVT, dalam kondisi baik dan bersihkan secara berkala untuk mencegah motor tak bertenaga. Beberapa komponen CVT adalah roller dan belt.

    3. Masalah Sistem Bahan Bakar

    Masalah pada sistem bahan bakar juga sering membuat motor tidak bertenaga. Biasanya masalah terjadi pada karburator bocor atau kondisi ruang bakar yang kotor. Masalah lain adalah jarum skep pada karburator yang kurang tepat.

    Jika kondisi ini terjadi, motor berisiko loyo saat melewati tanjakan. Dalam perawatan berkala, biasanya akan dilakukan pembersihan bagian sistem bahan bakar dan mengatur jarum skep supaya tepat.

    4. Kondisi Busi

    Masalah selanjutnya yang mungkin membuat motor tidak bertenaga adalah busi kotor atau aus. Kondisi ini mengganggu proses pembakaran dan menyebabkan motor kehilangan tenaga. Pada servis berkala, mekanik akan memeriksa busi dan akan menggantinya jika sudah waktunya diganti.

    5. Oli Mesin Kotor

    Kemungkinan masalahnya adalah oli mesin yang kotor, bocor, atau habis. Oli berfungsi untuk melumasi seluruh bagian mesin agar kinerjanya menjadi optimal. Ganti oli secara berkala akan membuat performa mesin selalu optimal.

    Tips agar Motor Matic Kuat Nanjak dan Aman di Turunan

    Motor matic dan manual sebenarnya bisa kuat nanjak, asal tidak mengalami masalah seperti yang telah disebutkan. Tapi karena tidak punya persneling rendah, pengendara motor matic harus tahu tips jika tidak kuat nanjak.

    Berikut tips yang memungkinkan motor matic aman di tanjakan dan turunan, dikutip dari laman Suzuki:

    1. Cek Kondisi Motor

    Langkah pertama, pastikan kondisi motor matic kamu normal. Jika kurang yakin, bawa motor kamu ke bengkel untuk diservis untuk memastikan semua komponen layak digunakan.

    2. Kenali Kondisi Jalan

    Penting untuk mengenali kondisi jalan yang akan kamu lewati. Jika sudah hafal jalan, tentu pengendara dapat mengantisipasi titik-titik sulit, seperti tanjakan di belokan, hingga jalan rusak.

    3. Postur Tubuh Saat Berkendara

    Saat menanjak, posisikan tubuh agak condong ke depan. Tujuannya adalah agar roda depan mendapat daya cengkeram (grip) yang kuat pada permukaan jalan. Sedangkan saat menurun, usahakan postur tubuh lebih condong ke belakang.

    4. Ancang-ancang

    Saat melihat tanjakan, ambil ancang-ancang terlebih dahulu agar kecepatan motor sudah cukup cepat saat naik. Sebab saat di tanjakan, kecepatan motor pasti akan menurun.

    5. Tahan Gas

    Saat menanjak, hindari menambah gas. Tahan gas tetap pada posisinya agar torsi mesin tetap bekerja optimal. Dalam posisi demikian, justru motor matic bisa sedikit demi sedikit akan menambah kecepatannya.

    Tapi jika langsung menambah gas penuh, maka kecepatan akan sulit bertambah, bahkan justru akan menurun.

    6. Jalan Zig-zag

    Ketika motor dirasa kurang kekuatannya saat menanjak, maka bisa menggunakan trik jalan zig-zag. Dengan cara ini, tanjakan akan terasa lebih landai. Tapi pastikan kondisi jalan cukup sepi, agar tidak mengganggu pengguna jalan lain.

    7. Kurangi Kecepatan, Gunakan Rem Belakang

    Ketika hampir mendekati puncak atau jalan mendatar, turunkan kecepatan motor secara bertahap dengan menggunakan rem belakang. Mengurangi kecepatan akan mencegah roda bagian depan terlepas pada saat mencapai ujung tanjakan.

    8. Gunakan Rem Belakang Saat Berhenti di Tanjakan

    Lantas bagaimana jika terpaksa berhenti di tanjakan? Pastikan gunakan komposisi rem belakang lebih besar agar tidak terdorong ke belakang. Saat terasa sulit menanjak, segera ambil lajur kiri agar tidak ditabrak dari belakang.

    Motor matic sangat berbeda dengan manual saat berada di turunan. Motor manual memiliki rem mesin (engine brake) sesuai dengan posisi gigi, sehingga bisa tertahan pada kecepatan tertentu.

    Sementara pada motor matic, jika gas dilepaskan, maka akan melaju sangat kencang dan membahayakan. Pastikan gunakan rem depan dan belakang. Selain itu, gas jangan benar-benar dilepas agar tetap mendapatkan engine brake.

    Demikian telah kita ketahui alasan kenapa motor matic tidak kuat menanjak, lengkap dengan tips menghadapi jalan menanjak maupun menurun.

    (bai/row)



    Sumber : oto.detik.com

  • Jarang yang Tahu, Ini 4 Perbedaan Busi Panas dan Busi Dingin


    Jakarta

    Busi merupakan salah satu komponen penting pada sebuah kendaraan. Tanpa adanya busi maka mobil detikers tidak dapat dinyalakan.

    Dilansir laman Wuling, busi memiliki fungsi utama untuk membakar campuran bensin dan udara yang dikompres melalui gerakan piston. Selain itu, busi juga berfungsi untuk menarik energi panas yang tidak diinginkan dari dalam ruang pembakaran, kemudian dikirim ke sistem pendingin pada mobil.

    Perlu diketahui, busi terbagi menjadi dua jenis, yakni busi panas dan busi dingin. Terkadang, banyak orang yang kebingungan ketika harus memilih di antara keduanya.


    Lantas, apa perbedaan busi panas dan busi dingin? Simak penjelasanya dalam artikel ini.

    Mengenal Busi Panas

    Mengutip Auto 2000, busi panas dirancang untuk lebih lambat melepaskan panas yang dihasilkan dalam proses pembakaran. Jadi, busi jenis ini dapat mempertahankan panas lebih lama sehingga suhunya tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang.

    Disebut busi panas karena memiliki insulator keramik yang lebih panjang, sehingga mampu menjaga panas lebih lama sebelum panas tersebut dilepaskan ke sistem pendingin. Artinya, busi panas bekerja optimal dalam kondisi mesin yang tidak membutuhkan pembakaran berlebih atau saat mesin tak dipaksa untuk bekerja di suhu ekstrem.

    Mengenal Busi Dingin

    Sebaliknya, busi dingin dirancang untuk lebih cepat melepaskan panas dari proses pembakaran. Busi jenis ini dapat menjaga suhu pembakaran pada tingkat yang lebih rendah, sehingga cocok untuk mobil berperforma tinggi atau mesin yang sering bekerja di putaran tinggi, seperti mobil sport.

    Keunikan dari busi dingin adalah insulator keramik yang lebih pendek, sehingga panas dari proses pembakaran lebih cepat terserap oleh sistem pendingin mesin.

    Perbedaan Busi Panas dan Busi Dingin

    Meski sama-sama busi, akan tetapi ada hal yang membedakan antara busi panas dan busi dingin. Berikut sejumlah perbedaannya:

    1. Beban Mesin

    Busi panas lebih cocok untuk mesin dengan beban yang berat serta dapat bertahan di cuaca dingin. Sementara itu, busi dingin lebih pas untuk mesin yang menanggung beban ringan dan dipakai di suhu udara yang relatif tinggi atau panas.

    2. Waktu Pemanasan

    Dari segi waktu pemanasan, busi panas memiliki waktu yang lebih cepat. Jadi, mobil bisa segera digunakan meski kondisi suhunya masih dingin.

    Sementara itu, busi dingin membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai suhu kerja. Meski begitu, keuntungan dari bus jenis ini adalah tahan terhadap suhu tinggi.

    3. Tipe Kendaraan

    Busi panas lebih cocok untuk mobil yang dipakai sehari-hari atau tidak membutuhkan performa tinggi, seperti sedan, city car, atau hatchback yang umum dipakai di perkotaan.

    Lain halnya dengan busi dingin yang dikhususkan untuk mobil dengan performa tinggi atau dipakai dalam balapan, misalnya mobil sport.

    4. Risiko Kerusakan

    Busi panas dinilai lebih unggul karena memiliki risiko pencemaran yang lebih rendah terhadap mesin, sehingga busi panas aman dipakai untuk penggunaan sehari-hari, terutama pada mesin yang bekerja dalam kondisi normal.

    Sedangkan busi dingin diklaim lebih rentan terhadap pencemaran. Alhasil, busi ini dapat menyebabkan masalah pada efisiensi mesin karena busi dingin biasanya digunakan untuk mobil berperforma tinggi.

    Demikian empat perbedaan busi dingin dan busi panas. Semoga dapat membantu detikers!

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com