Tag: pencetus

  • Cerita di Balik Nama Unik Dusun Anjir di Kulon Progo



    Kulon Progo

    Nama Dusun Anjir di Kulon Progo memang unik. Kira-kira, apa cerita di balik dusun yang namanya identik dengan umpatan ala anak gaul Jaksel ini?

    Anjir menjadi nama sebuah dusun di Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

    Nama yang unik ini ternyata bermula dari adanya pohon ikonik yang pernah tumbuh di dusun tersebut. Kepala Dusun Anjir, Saifudin, menceritakan awal mula dusun ini diberi nama Anjir.


    Saifudin mengatakan pemilihan nama Anjir bermula dari adanya pohon di pekarangan milik mantan pemangku dusun setempat yang bernama Bardi Wirodimejo.

    Pohon tersebut menarik perhatian masyarakat karena memiliki tinggi yang menjulang dan wujudnya mirip tongkat raksasa.

    “Kenapa Anjir gitu kan ya, lha ini dulu awalnya dari dukuh pertama bernama Mbah Bardi Wirodimejo, orangnya tinggi besar, kebetulan saya masih menangi beliau. Nah di depan rumah Mbah Bardi ini dulunya ada pohon, kita tidak tau namanya, pohon ini tinggi kaya semacam cagak antena gitu, karena tidak ada daunnya efek kemarau,” ucap Saifudin saat ditemui di rumahnya belum lama ini.

    Saifudin mengatakan pohon tersebut mengingatkan warga dengan patok penyangga tanaman atau biasa disebut Ajir. Sebagai tambahan informasi, Ajir adalah alat yang terbuat dari batang bambu atau tongkat bilahan bambu yang berfungsi sebagai penyangga batang, tempat bersandar pohon atau merambatnya tanaman perdu.

    “Jadi Ajir itu cagak tanaman. Biasanya dipakai untuk tanaman seperti kacang panjang gitu,” terangnya.

    “Nah dari sinilah kemudian menjadi nama dusun ini. Semula penyebutannya masih Ajir, tapi karena lidah Jawa jadinya Anjir. Kemudian sekarang lebih dikenal Nganjir jadi ada tambahan ng, tapi untuk penulisan resminya tetap Anjir,” terangnya.

    Terkait siapa yang pertama kali mencetuskan nama tersebut, Saifudin mengaku kurang mengetahuinya. Dia menduga ini merupakan ide dari tokoh masyarakat di masa itu.

    “Kemungkinan pencetus nama itu dukuh pertama tadi, atau bisa juga tokoh-tokoh lain di masa itu,” ujarnya.

    Saifudin mengatakan belum ada arsip sejarah yang secara terang benderang menjelaskan kapan nama Anjir ini digunakan jadi nama dusun tersebut.

    Namun, dia memperkirakan nama dusun Anjir ini mulai ada pasca-pemekaran Kalurahan Hargorejo pada medio tahun 1947 silam.

    “Jadi dulu Hargorejo itu terdiri dari empat kelurahan, yaitu Penggung, Kriyan, Kokap Lama, dan Selo. Penggabungan empat Kalurahan jadi Hargorejo ini tahun 22 April 1947. Kemudian dulu itu ada Kalurahan Penggung, yang mencakup wilayah Anjir saat ini. Karena terjadi penggabungan tadi, sini masih tetep Penggung. Nah terus tahunya berapa saya belum ketemu itu terjadi pemekaran, dan Anjir berdirinya tanggal berapa tahun berapa belum ketemu, namun dimungkinkan berdirinya itu tahun 75-80 an,” ujarnya.

    Cara Menuju ke Dusun Anjir

    Dusun Anjir terletak di Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo. Dari pusat Kota Jogja jarak menuju ke dusun ini berkisar 40 km atau 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

    Anjir sendiri memiliki luas 150 hektar dan menjadi tempat tinggal bagi 690 warga. Mayoritas warga di sini bekerja sebagai pekebun dan petani.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJogja.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cara Diet Viral 90-30-50 Turun 8 Kg dalam 2 Bulan, Body Goals Tak Wacana Lagi

    Jakarta

    Seorang ahli gizi di Philadelphia viral setelah menciptakan metode diet 90-30-50. Pola makan ini disebut-sebut bisa menurunkan 8 kg dalam 2 bulan tanpa menyiksa.

    “Saya mengembangkan metode diet 90-30-50 setelah mengalami sendiri perjuangan saya dengan penurunan berat badan selama dua tahun, meskipun menganut filosofi konvensional ‘makan lebih sedikit, lebih banyak bergerak’,” kata pencetus diet itu sekaligus ahli gizi Courtney Kassis kepada Womens Health.

    Kata Kassis, rencana makan 90-30-50 meningkatkan keseimbangan gula darah, pengaturan hormon, mengurangi peradangan, dan secara keseluruhan, meningkatkan kesehatan metabolisme.


    Cara Diet 90-30-50

    Kassis menjelaskan metode diet ini berfokus pada mengonsumsi setidaknya 90 gram protein, 30 gram serat dan 50 gram lemak tak jenuh selama dua bulan penuh. Menjalani pola makan ini membuat Kassis berhasil turun setidaknya 8 kg dalam dua bulan pertama.

    “Bersama-sama, nutrisi ini menjaga metabolisme tetap tinggi, mengurangi keinginan makan, dan mendukung kesehatan metabolisme secara keseluruhan,” katanya.

    Namun dia berpesan tidak semua orang akan mendapatkan hasil yang sama. Diet bisa cocok untuk satu orang namun efeknya berbeda pada individu yang lain.

    Metode ini dirancang untuk siapa saja yang ingin meningkatkan kesehatan dan merasa lebih baik, baik menghadapi tantangan dalam manajemen berat badan, kesehatan metabolisme, atau kondisi kronis.

    Contoh makanan yang sesuai dengan rencana tersebut meliputi:

    Protein: ayam, daging sapi, telur, yoghurt tanpa tambahan gula, keju

    Serat: sayuran berdaun hijau, brokoli, kembang kol, biji chia, kacang almond, buncis

    Lemak sehat: kacang-kacangan dan selai kacang, biji-bijian, alpukat, minyak zaitun

    (kna/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • Biografi Singkat, Pendidikan, Pemikiran, dan Bukunya


    Jakarta

    Tan Malaka merupakan Pahlawan Nasional yang dikenal memiliki pemikiran penting bagi Indonesia. Pemikiran Tan Malaka diabadikan melalui buku-bukunya, termasuk yang berjudul “Madilog”.

    Tan Malaka lahir pada 2 Juni 1897 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Ia memiliki nama lain dengan gelarnya yaitu Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka.

    Nama “Tan Malaka” sendiri merupakan gelar adat yang ia sandang sejak usia 16 tahun. Gelar itu kemudian melekat dan menjadi identitas perjuangannya hingga akhir hayat.


    Sutan Ibrahim, nama kecilnya, berasal dari keluarga Muslim Minangkabau yang taat. Sejak kecil, mendapat penempaan nilai-nilai agama, budaya matrilineal, hingga tradisi pencak silat.

    Pendidikan tersebut menjadi karakter Tan Malaka yang disiplin, pemberani, dan visioner, demikian dikutip dari Lani: Jurnal Kajian Ilmu Sejarah dan Budaya Vol 3 No 1 (2022), karya Jems Sopacua dari Universitas Negeri Yogyakarta.

    Pendidikan Tan Malaka

    Tan Malaka mendapatkan pendidikan formalnya dimulai di Suliki, lalu berlanjut ke Kweekschool Bukittinggi, sekolah pribumi satu-satunya di Sumatera. Ia lulus dari Inlandsche Kweekschool voor Onderwijzers di Bukittinggi hingga lulus pada 1913.

    Dengan pemikirannya yang menonjol, ia kemudian melanjutkan studi ke Belanda untuk belajar di Rijkskweekschool Haarlem (1913-1919). Studi di Belanda ini yang kemudian membuka wawasan dan pola pikirnya.

    Tan Malaka muda mulai berkenalan dengan ide-ide politik, sosialisme, dan perlawanan terhadap kolonialisme. Dia banyak mempelajari tentang Sosialisme dan Komunisme setelah adanya Revolusi Rusia pada Oktober 1917. Tan Malaka membaca buku karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin.

    Perjuangan Tan Malaka

    Dengan latar belakang pendidikan dan pergaulannya, Tan Malaka tumbuh menjadi tokoh revolusioner. Pemikirannya yang terkenal yaitu tentang kemerdekaan sejati yang hanya bisa diraih melalui revolusi total.

    Tan Malaka aktif di Sarekat Islam (SI) bersama H.O.S. Tjokroaminoto, lalu bergabung dengan PKI hingga sempat menjabat sebagai ketua pada 1921. Namun, karena pemikirannya yang independen, ia akhirnya keluar dan mendirikan partai bawah tanah PARI (1927).

    Semboyannya tegas, “Merdeka 100 persen.”

    Ia menolak kompromi dengan Belanda, bahkan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Tan Malaka memilih menggerakkan massa, salah satunya dalam Rapat Raksasa Ikada 19 September 1945, yang menjadi bukti dukungan rakyat terhadap “Republik Muda”-nya Tan Malaka.

    Sayangnya, sikap kerasnya membuat ia sering berbenturan dengan tokoh lain. Hidupnya diwarnai pengasingan, penjara, hingga akhirnya berakhir dengan eksekusi tragis pada 21 Februari 1949 di Kediri.

    Pemikiran Revolusioner

    Dalam Jurnal Jejak: Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 6 No. 2 (2021) karya Wanda Marshanda, dijelaskan bahwa di balik sosoknya yang kontroversial, Tan Malaka meninggalkan warisan pemikiran yang masih relevan hingga kini. Ia bahkan merupakan pencetus ide Republik Indonesia.

    1. Bapak Republik

    Dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia (1925), Tan Malaka merumuskan visi Indonesia merdeka jauh sebelum tulisan Hatta atau Soekarno. Karena itu, ia kerap dijuluki “Bapak Republik.”

    2. Marxisme ala Tan Malaka

    Ia memandang Marxisme bukan sebagai dogma, melainkan alat analisis untuk melawan penjajahan. Tan Malaka mencoba memadukan Marxisme dengan Pan-Islamisme dalam perjuangan rakyat.

    3. Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika)

    Ditulis pada masa pendudukan Jepang, Madilog mengajak rakyat berpikir rasional dan meninggalkan takhayul, agar mampu membangun kesadaran nasional yang kritis.

    4. Gerpolek (Gerilya, Politik, Ekonomi)

    Ditulis saat dipenjara, Gerpolek menjadi panduan revolusi tiga front: perjuangan bersenjata, politik ideologis, dan kemandirian ekonomi. Selain Madilog dan Gerpolek, pemikirannya yang lain, juga dituangkan dalam buku-buku seperti “Aksi Massa”, “Dari Penjara ke Penjara”, hingga “Menuju Republik Indonesia”.

    Selama ini, dalam kacamata sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, nama Tan Malaka tidak dikenalkan sebagai tokoh yang memiliki pemikiran penting bagi Bangsa Indonesia. Sejarah hanya sering mencatat bagaimana Soekarno dan Hatta menjadi tokoh sentral tunggal.

    Padahal, perjuangan bangsa Indonesia dibangun oleh sejumlah tokoh, termasuk fondasi pemikiran dari Tan Malaka tentang revolusi dan Republik Indonesia.

    *Penulis adalah peserta magang Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama

    (faz/faz)



    Sumber : www.detik.com