Tag: pengentasan

  • Rayakan Kemerdekaan, Ikut Charity Fun Run Sleman Merdeka Fun Run 2025!


    Jakarta

    Di tengah padatnya aktivitas dan gaya hidup cepat yang sering membuat kamu lupa menjaga kebugaran, hadir sebuah acara yang bisa jadi momen menyenangkan sekaligus bermakna: Sleman Merdeka Fun Run 2025. Bukan sekadar ajang lari santai, event ini mengusung konsep Charity Fun Run, di mana setiap langkahmu bukan hanya untuk kesehatan diri, tapi juga jadi bagian dari aksi sosial untuk pengentasan stunting di Sleman.

    Fun run sendiri dikenal sebagai aktivitas olahraga ringan yang menyenangkan. Tanpa tekanan kompetisi atau kecepatan, kamu bisa menikmati waktu berkualitas sambil tetap aktif bergerak. Tapi di Sleman Merdeka Fun Run 2025, keseruannya naik level! Karena setiap langkah yang kamu ambil hingga garis finish akan dikonversi menjadi donasi satu rupiah yang disalurkan untuk membantu anak-anak yang terdampak stunting di Sleman.

    Acara ini akan digelar pada 24 Agustus 2025, pukul 05.00 – 11.00 WIB, dengan berbagai pilihan kategori sesuai kemampuanmu di Fun Walk 3K, Fun Run 5K, dan Challenge Run 10K. Apapun jarak yang kamu pilih, satu hal yang pasti: kamu akan disambut dengan semangat kemerdekaan dan budaya lokal yang kental.


    Setiap peserta akan mendapatkan BIB Number, E-Certificate, akses ke Water Station, Refreshment, Kupon Doorprize, Photo Booth, dan juga gratis dokumentasi resmi dari panitia. Jadi, bukan cuma lari, kamu juga bisa mengabadikan momen-momen terbaikmu selama acara berlangsung.

    Uniknya, di sepanjang rute akan ada panggung seni tradisional setiap satu kilometer! Kamu bisa menikmati berbagai pertunjukan khas Sleman sambil terus melangkah menuju garis finish. Ini bukan hanya tentang olahraga, tapi juga perayaan budaya dalam balutan semangat kemerdekaan Indonesia.

    Masih belum cukup? Tenang, ada banyak hadiah menarik, sesi zumba bareng, hingga lomba foto on the spot yang bikin acara ini makin seru. Dan yang paling spesial, kamu juga bisa mengikuti berbagai kegiatan hiburan dari Mufon Fest hasil kolaborasi dengan Mandiri Utama Finance. Di sana, kamu bisa menikmati pameran, pertunjukan musik, games interaktif, dan aktivitas seru lainnya.

    Kalau kamu mencari Charity Fun Run yang nggak cuma sehat tapi juga berdampak, Sleman Merdeka Fun Run 2025 adalah jawabannya. Satu tiket, satu aksi nyata, satu pengalaman tak terlupakan.

    Setiap langkah kecilmu, bisa membawa perubahan besar bagi masa depan anak-anak di Sleman! Daftar sekarang juga melalui detikevent!

    (krs/krs)



    Sumber : sport.detik.com

  • Kompetensi Nazhir Belum Maksimal, Akselerasi Wakaf Terkendala Serius



    Malang

    Potensi wakaf nasional Indonesia yang mencapai Rp 180 triliun belum dikelola secara maksimal. Salah satu hambatan utama dalam pengelolaan tersebut adalah rendahnya kompetensi nazhir, yaitu pihak yang mengelola dan mengembangkan harta wakaf.

    Badan Wakaf Indonesia (BWI) mencatat, dari 450.000 nazhir wakaf tanah dan 500 nazhir wakaf uang, sebagian besar masih menghadapi keterbatasan dalam pengelolaan profesional dan produktif.

    Wakil Ketua BWI, Tatang Astaruddin dalam acara Waqf Goes to Campus XV di Universitas Brawijaya, Malang pada Senin (20/10/2025) mengatakan bahwa kompetensi nazhir yang belum maksimal membuat akselerasi perwakafan nasional berjalan lambat.


    “Tanpa mengurangi rasa hormat, kami melihat kompetensi para nazhir masih jadi kendala utama dalam optimalisasi aset wakaf,” ujarnya sebagaimana dalam rilis yang diterima detikHikmah.

    BWI menegaskan bahwa wakaf tidak boleh hanya berhenti pada pembangunan masjid atau makam. Wakaf harus berkembang menjadi instrumen keuangan sosial yang mendukung pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, hingga program Sustainable Development Goals (SDGs).

    Dalam konteks ini, peran nazhir menjadi sangat vital. Sayangnya, keterbatasan kompetensi dalam manajemen aset, literasi keuangan, hingga pemanfaatan teknologi digital membuat banyak potensi wakaf tidak berkembang.

    Akibatnya, dana wakaf yang seharusnya bisa menjadi sumber daya ekonomi produktif justru stagnan atau bahkan tidak dimanfaatkan.

    Minimnya Literasi Masyarakat tentang Wakaf

    Selain itu, ada tantangan yang tak kalah besar adalah minimnya literasi masyarakat tentang wakaf. Hingga saat ini, sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengidentikkan wakaf hanya dengan pembangunan masjid, makam, atau tempat ibadah lainnya.

    Pemahaman ini menyebabkan potensi wakaf produktif tidak tersentuh secara maksimal. Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, telah ditegaskan bahwa wakaf memiliki spektrum yang luas, dan bisa digunakan untuk kepentingan umum, seperti pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, hingga pelestarian lingkungan.

    “Wakaf tidak hanya sebatas ibadah mahdhah. Sekarang makna ibadah dalam wakaf juga mencakup kesejahteraan umum. Wakaf bisa untuk pendidikan, konservasi lingkungan, sampai untuk mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs),” jelas Tatang.

    Dalam upaya memperkuat ekosistem wakaf produktif, BWI menggandeng perguruan tinggi dan pesantren melalui program Waqf Goes to Campus (WGTC). Menurut Tatang, kampus sejatinya merupakan lembaga wakaf karena berdiri untuk kepentingan umum dan bersifat jangka panjang.

    “Visi kami, wakaf menjadi pilar pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional. Kampus dan pesantren adalah tempat strategis untuk mengembangkan regulasi, literasi, dan kompetensi wakaf,” tambah Tatang.

    Selain menjadi tempat kalangan terdidik, kampus juga dinilai memiliki keunggulan dalam pemanfaatan teknologi dan semangat literasi keagamaan. BWI menyebut bahwa potensi wakaf uang dari sektor kampus bisa mencapai Rp 5,7 triliun.

    Walikota Malang, Wahyu Hidayat, yang turut hadir dalam acara WGTC, menyoroti besarnya potensi wakaf di Kota Malang yang dikenal sebagai kota pendidikan.

    Dengan lebih dari 57 perguruan tinggi dan sekitar 800.000 mahasiswa, potensi partisipasi dalam gerakan wakaf sangatlah besar.

    “Karena kita tahu potensi wakaf begitu besar, hasil kajian BWI wakaf uang kita potensinya Rp 180 triliun, itu baru menyasar 17 cluster yang diantaranya kampus yang punya potensi wakaf uang Rp 5,7 triliun,” jelas Tatang.

    BWI juga menegaskan bahwa penguatan peran nazhir sangat krusial dalam mewujudkan ekosistem tersebut. Tanpa nazhir yang kompeten, wakaf produktif akan sulit tumbuh.

    Oleh karena itu, program pelatihan, sertifikasi, serta pendampingan nazhir terus digalakkan, terutama melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan tinggi.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com