Tag: penyakit

  • Berendam di Air Panas Angseri Bali, Konon Bisa Obati Gatal dan Rematik



    Tabanan

    Bali tidak hanya punya pantai, tapi juga sumber mata air panas di pegunungan. Cobalah berendam di wisata Air Panas Angseri yang bisa menyembuhkan aneka penyakit.

    Objek wisata Air Panas Angseri di Tabanan, Bali tidak hanya menjadi tempat pelancong untuk berendam dan relaksasi. Objek wisata tersebut juga kerap dikunjungi oleh mereka yang memiliki penyakit seperti rematik dan gatal-gatal.

    Salah satu penjaga di Air Panas Angseri, Wirasutama, mengatakan jumlah pengunjung yang ingin berobat di sana rerata mencapai lima orang per hari.


    “Biasanya mereka mengobati rematik dan gatal-gatal dengan berendam di air panas,” tutur dia.

    Wirasutama menuturkan mereka yang berobat dan beragama Hindu biasanya juga membawa banten (sesajen). Banten itu lalu diletakkan di samping patung Ganesha yang berada di tepi kolam air panas untuk pengobatan.

    Wirasutama menjelaskan pengunjung juga kerap melukat (pembersihan diri) di Air Panas Angseri. Mereka melukat di kolam air panas berukuran 2 meter persegi tersebut.

    Wirasutama menerangkan tiket masuk kolam pengobatan adalah Rp 30 ribu per orang. Tiket itu jauh lebih mahal dengan tiket masuk pengunjung domestik dewasa untuk dua kolam air hangat yakni Rp 10 ribu.

    Kami pun mencoba berendam di kolam pengobatan tersebut. Suhu air di kolam tersebut lebih panas dibandingkan dengan kolam dewasa dan anak-anak. Perlu waktu untuk membiasakan tubuh saat berendam di kolam tersebut.

    “Suhunya memang lebih panas, sampai 40 derajat celcius,” tutur Wirasutama.

    Menurut Wirasutama, suhu air di kolam pengobatan lebih panas karena sumbernya berasal dari dalam tanah di tepi kolam itu. Adapun, air hangat yang berada di kolam dewasa, anak, dan ruang privat berasal dari bawah tanah di Tukad (sungai) Panahan yang dialirkan melalui pipa sepanjang 300 meter.

    Adapun suhu kolam dewasa Air Panas Angseri adalah 25 derajat celcius. Sedangkan, kolam anak lebih rendah lagi yakni sekitar 15 derajat celsius.

    Salah satu penjaga loket tikat di Air Panas Angseri, Wayan Biasa, menerangkan Air Panas Angseri belum dikenal oleh para pelancong. Hal itu terlihat dari jumlah kunjungan saat hari kerja, Senin-Jumat, yang tak sampai 20 orang per hari.

    Saat akhir pekan atau saat libur, jumlah wisatawan yang mengunjungi objek wisata itu bisa mencapai 100 orang per hari. Air Panas Angseri buka sejak pukul 08.00-18.00 Wita. Objek wisata tersebut tidak buka pada malam hari.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikBali.

    (wsw/wsw)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Pantai Lembeng, Tempat Bersemayam Abu Papa Dali



    Jakarta

    Dali Wassink atau dikenal dengan Papa Dali, suami dari artis Jennifer Coppen, meninggal pada Jumat (19/7/2024) dan abunya disemayamkan di Pantai Lembeng, Gianyar. Pantai yang menjadi pelabuhan terakhir Papa Dali ini dikenal sebagai salah satu spot surfing di Bali.

    Pada hari Minggu (21/7) Jennifer Coppen dan keluarga melepas kepergian Papa Dali dengan prosesi larung abu di Pantai Lembeng, Gianyar. Prosesi ini juga dihadiri oleh ratusan fans dan warga sekitar.

    Pantai Lembeng berada di Jl Prof. Dr. Ida Bagus Mantra No.52, Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Pantai berpasir hitam itu jaraknya sekitar 25 km dari Bandara I Gusti Ngurah Rai.


    Jennifer Coppen bersama keluarga hingga fans melaksanakan prosesi melarung abu Yitta Dali Wassink di Pantai Lembeng, Desa Lembeng, Gianyar, Bali, Minggu (21/7/2024). (Ni Made Lastri Karsiani Putri/detikBali)Jennifer Coppen bersama keluarga hingga fans melaksanakan prosesi melarung abu Yitta Dali Wassink di Pantai Lembeng, Desa Lembeng, Gianyar, Bali, Minggu (21/7/2024). (Ni Made Lastri Karsiani Putri/detikBali)

    Tidak seperti pantai Bali yang terkenal dengan pasir putihnya, Pantai Lembeng justru berpasir hitam legam. Walau begitu, lkeindahannya tak perlu diragukan.

    Traveler yang suka berselancar, bisa nih mencoba ombak Pantai Lembeng. Memang, salah satu daya tariknya ini adalah ombaknya. Serta pantai ini belum terlalu ramai wisatawan, jadi masih terasa asrinya.

    Tempat terapi pasir warga lokal

    Dikutip dari detikBali, setiap akhir pekan ramai warga sekitar yang melakukan terapi pasir di depan Pura Hyang Sangkur, Pantai Lembeng, Desa Adat Ketewel, Gianyar. Warga kerap duduk meluruskan kaki dan menimbunnya dengan pasir pantai.

    Konon, warga percaya terapi tradisional ini mampu menyembuhkan penyakit tertentu, salah satunya diabetes.

    “Ini terapi tradisional untuk orang-orang yang menderita penyakit tertentu, contohnya saya,” kata Wayan Warna, warga Ketewel saat ditemui di depan Pura Hyang Sangkur pada tahun 2022 lalu.

    Warga di sekitar Pantai Lembeng, Desa Adat Ketewel, Gianyar melakukan terapi tradisional dengan menimbun kakinya dengan pasir pantai, Minggu (29/5/2022).Warga di sekitar Pantai Lembeng, Desa Adat Ketewel, Gianyar melakukan terapi tradisional dengan menimbun kakinya dengan pasir pantai, Minggu (29/5/2022). Foto: Miechell Octovy Koagouw

    Ia mengaku sudah menderita diabetes selama lima tahun, dan kerap merasa tidak enak pada kedua kakinya saat berjalan, sehingga sebulan belakangan ini melakukan terapi pasir pantai.

    Wayan menambahkan warga setempat meyakini bahwa kaki yang dikubur dengan pasir pantai yang hangat dapat menjadi terapi yang meredakan penyakit di tubuh mereka.

    Sebelumnya, ia merasa ada keanehan dengan kedua kakinya saat berjalan, yang diistilahkannya dengan ‘terasa gelisah’. “Lalu setelah rajin tutupi kaki dengan pasir begini, saya merasa agak mendingan,” kata dia.

    (sym/fem)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Sepele, tapi Hal Ini Bisa Bikin Helm Hancur!



    Jakarta

    Helm merupakan peranti penting saat berkendara sepeda motor karena melindungi kepala saat terjadi peristiwa yang merugikan. Meski memiliki peran penting, perawatan helm kerap diabaikan. Padahal, minimnya perawatan bisa membuat helm rusak.

    “Helm kalian akan hancur kalau ngelakuin 1 kesalahan ini. Kesalahan ini sebenarnya simpel banget sob, yaitu kesalahannya males. Males merawat helm, males merawat motor, dan masih banyak males lainnya… Saat kotoran helm menumpuk itu sangat sulit dibersihkannya,” ucap dalam media sosial Hybroponic Lab.

    Dijelaskan perawatan khusus juga diperlukan dalam merawat helm kesayangan, agar tidak kotor, tidak bau yang menyebabkan penyakit, tidak ada lagi warna pudar, tidak ada baret-baret kecil dan tetap aman saat digunakan.


    “Treatment coating akan membuatnya terlihat lebih fresh dan terbebas dari baretan yang mengganggu, siap untuk melindungi kepalamu,” lanjut dalam media sosial tersebut.

    [Gambas:Instagram]

    Dalam kesempatan yang sama Hydrophobic Lab yang selama ini telah dikenal sebagai bengkel perawatan motor dan helm, kini membuka peluang kerjasama usaha dalam bentuk kemitraan untuk layanan produk Paint Protection Film atau PPF khusus untuk sepeda motor.

    “PPF selama ini yang banyak orang tahu untuk melindungi bodi mobil, dan seiring berkembangnya inovasi teknologi maka sekarang Hydrophobic Lab meluncurkan produk PPF dengan merek Masterpiece yang khusus dan bisa dipasang untuk di bodi motor, yang fungsinya untuk memberikan perlindungan agar bodi motor tidak kusam warna cat-nya akibat paparan sinar UV, agar terhindar dari goresan atau lecet dan juga melindungi dari kontaminasi polusi yang dapat merusak tampilan cat pada motor. Seperti kita ketahui bodi mobil dan bodi motor itu berbeda, bodi mobil dari besi atau baja sedangkan bodi motor dari plastik. Untuk PPF merek Masterpiece ini juga dapat dipasang di speedometer dan lampu motor,” ujar CEO Hydrophobic Lab, Christopher Sebastian.

    Produk Paint Protection Film atau PPF khusus untuk sepeda motor.Produk Paint Protection Film atau PPF khusus untuk sepeda motor. Foto: Pool (Hydrophobic Lab)

    Sebagai catatan Hydrophobic Lab saat ini melayani beberapa jasa perawatan untuk motor dan helm seperti cuci, detailing, coating bahkan anti karat, dengan adanya tambahan produk PPF ini tentunya akan semakin memanjakan konsumen motor atau para bikers yang ingin tampilan motor nya selalu prima dan kinclong.

    “Untuk mendukung program pemerintah agar memperbanyak jumlah entrepreneur atau pengusaha di Indonesia, maka kami membuka kesempatan bagi yang ingin menjadi pengusaha di bidang otomotif bisa bergabung menjadi mitra Hydrophobic Lab yang saat ini merupakan satu-satu nya dan yang pertama untuk usaha kemitraan Paint Protection Film atau PPF untuk sepeda motor,” imbuh Christopher.

    Penggunaan PPF untuk motor ke depan akan semakin banyak seperti saat ini untuk di mobil, karena konsumen akan semakin menyadari akan penting nya dan manfaat PPF untuk melindungi motor kesayangannya.

    “Ini tentu nya menjadi sebuah peluang usaha yang menarik karena prospek nya sangat bagus, selain itu juga investasi kemitraan nya terjangkau, dan mitra Hydrophobic Lab akan mendapatkan training agar dapat melakukan pemasangan PPF pada motor dengan hasil yang rapi,” kata Christopher.

    Di Hydrophobic Lab juga menyediakan produk VPF atau Vinyl Protection Film, ini untuk alternatif bagi konsumen yang ingin produk dengan harga lebih terjangkau dari PPF.

    (lth/dry)





    Sumber : oto.detik.com

  • Pelajaran dari Kecelakaan di Plumpang, Waspada Berkendara di Sekitar Truk



    Jakarta

    Terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan truk tangki dan sejumlah kendaraan lain di kawasan Plumpang, Semper, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, pada Rabu (4/9). Kecelakaan itu terjadi karena truk hilang kendali sebab sopir diduga mengalami serangan jantung. Terlepas dari itu, pengendara di sekitar juga perlu waspada terhadap kendaraan berdimensi besar seperti truk.

    “Sopir mengalami serangan jantung sehingga menabrak kendaraan di depannya,” kata Kasi Ops Sudin Damkar Jakarta Utara Gatot Sulaiman seperti dikutip dari CNN Indonesia.

    Dijelaskan praktisi keselamatan dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana, sakit jantung memang sudah di luar kendali manusia. Meski begitu, baiknya sebelum mengemudi, pengendara harus sadar akan kesehatannya.


    “Menurut saya, apa pun penyakitnya, yang bersangkutan yang paling tahu dan paling sadar. Jadi, jangan pernah memaksakan diri dengan kondisi tersebut yang justru itu bisa membahayakan. Pengemudi dengan riwayat penyakit jantung sebaiknya memang tidak mengemudi, lebih-lebih membawa kendaraan besar,” ungkap Sony kepada detikOto, Kamis (5/9/2024).

    “Jika serangan jantung datang, biasanya diawali dengan sesak nafas, nyeri di dada, ketika tanda-tanda itu datang, segera menepi untuk berhenti. Kalau ditunda-tunda, malah takutnya kaki nggak sanggup untuk menekan pedal rem,” tambah Sony.

    Di sisi lain, Sony menyarankan kepada para pengendara agar selalu waspada terhadap kendaraan-kendaraan besar seperti truk. Sony menyarankan kepada pengendara supaya menjauh dari kendaraan besar.

    “Karena blind spot atau titik butanya besar dan risiko rem blong tinggi, sebaiknya menjauh/menepi jika ada kendaraan besar. Beberapa area blind spot truk antara lain di area bawah depan, kemudian samping kiri dan kanan bawah pintu,” jelas Sony.

    (lua/rgr)



    Sumber : oto.detik.com

  • Ada si ‘Raja Biawak’ di Balik Keindahan Rawa Talanca



    Sukabumi

    Di balik keindahan Rawa Talanca Sukabumi, ada cerita tentang si Raja Biawak yang ‘menguasai’ tempat itu. Bagaimana kisahnya?

    Rawa Talanca berlokasi di Kampung Talanca, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Rawa ini dikenal sebagai spot favorit para pemancing.

    Di lokasi yang merupakan bagian dari kali atau sungai mati itu, siapa saja bebas melontarkan kail mereka. Berbagai jenis ikan menanti untuk dipancing di rawa ini.


    Namun, siapa sangka, di balik rimbunnya tanaman eceng gondok, tersembunyi seekor biawak yang konon berukuran besar, bahkan nyaris mencapai panjang 1,5 meter.

    Warga setempat bahkan menjuluki hewan tersebut sebagai ‘Raja Biawak’. Amih Raram (60), seorang pemilik warung kecil di sekitar rawa, tak akan pernah melupakan hari saat ia pertama kali bertemu sang ‘Raja Biawak’.

    Suara gedebuk keras mengagetkannya sore itu. Penasaran, Amih segera mendekati sumber suara, dan apa yang ia lihat benar-benar membuatnya terpaku.

    “Awalnya saya kira suara itu cuma hewan biasa, tapi waktu saya lihat ternyata ada dua ekor biawak sedang kawin. Yang satu besar sekali, panjangnya kurang lebih 1,5 meteran. Rasanya merinding waktu itu,” cerita Amih dengan raut wajah serius, belum lama ini.

    Saat berada di lokasi, kondisi sekitar rawa itu hampir setengah permukaannya tertutup eceng gondok. Tidak heran, tanaman dengan bunga berwarna ungu atau biru muda ini memang dikenal berkembang biak dengan cepat.

    Rawa Talnaca di Kabupaten Sukabumi.Rawa Talnaca di Kabupaten Sukabumi. Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

    Sekilas, seekor biawak terlihat berenang dengan tenang menuju rimbunan eceng gondok, namun ukurannya hanya beberapa sentimeter, bukan sang ‘Raja Biawak’ yang diceritakan Amih.

    “Bukan itu, itu mah yang kecil. Walau ukurannya hanya segitu, tapi sudah beberapa kali bikin repot karena memangsa ayam peliharaan saya. Tapi mau bagaimana lagi, warung saya memang dekat sekali dengan rawa,” tukas Amih sambil tersenyum, seolah mengerti saat detikJabar menatap lekat biawak kecil itu.

    Amih mengungkap, tidak sedikit orang yang datang ke rawa untuk berburu biawak. Beberapa dari mereka bahkan membawa senapan angin. Biawak-biawak itu, katanya, diburu untuk dimakan dagingnya, yang konon dipercaya memiliki khasiat dalam mengobati penyakit gatal.

    “Entah benar atau tidak, tapi beberapa dari mereka bilang daging biawak yang dimasak dan dibumbui itu enak dan bagus untuk mengobati penyakit gatal. Kalau saya mah, boro-boro. Ngebayanginnya saja sudah geli,” ujar Amih lirih.

    Kembali ke soal Raja Biawak, Amih menjelaskan bahwa hewan besar itu biasanya muncul ketika air di rawa naik atau setelah hujan deras.

    Biawak tersebut sering terlihat berenang di antara rimbunan eceng gondok atau naik ke permukaan dan berjalan di pinggiran rawa.

    “Kalau lihat manusia, biasanya dia tidak langsung lari. Dia tidak akan menyamperi, tapi kalau merasa terancam, ya, dia akan menghindar. Kalau tidak didekati, dia tidak akan kabur. Tapi, kalau saya sih ngeri, ya, melihatnya saja sudah bikin takut,” pungkasnya.

    Keberadaan biawak raksasa tersebut tidak mjadi suatu yang menakutkan bagi para pehobi mancing di daerah tersebut. Bagi mereka, Rawa Talanca adalah sebuah berkah.

    Dengan ketenangan airnya yang dalam, rawa ini memang menjadi tempat favorit bagi para pemancing dari desa sekitar karena habitat ikannya yang beragam.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Hidden Gem di Sikka, Air Panas Blidit yang Tersembunyi



    Sikka

    Akhir pekan, saatnya bertualang. Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), ada wisata mata air panas Blidit yang tersembunyi. Hidden gem nih!

    Air Panas Blidit terletak di perbatasan Desa Waigete dan Hutan Lindung Egon. Onjek wisata Air Panas Blidit menawarkan pengalaman berendam di air yang jernih dan bersih tanpa sampah serta suasana alam yang asri dan menenangkan.

    Perjalanan menuju Air Panas Blidit memakan waktu sekitar 30 hingga 40 menit dari Maumere, dengan jarak sekitar 30 kilometer. Pengunjung dapat memulai perjalanan dari Jalan Trans Flores Maumere-Larantuka.


    Setibanya di persimpangan Desa Egon, terdapat papan penunjuk arah menuju Air Panas Blidit. Ikuti petunjuk jalan tersebut hingga mencapai area pedesaan, di mana pengunjung akan melintasi jalan beraspal sepanjang tujuh kilometer sebelum tiba di area parkir.

    Dari tempat parkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer (km) melewati Hutan Lindung Egon. Jalur ini menawarkan pengalaman unik dengan pemandangan pohon-pohon tinggi dan hijau, memberikan kesan seperti berjalan di dalam lukisan alam yang menakjubkan.

    Namun, pengunjung perlu berhati-hati karena medan yang dilalui cukup menantang. Sesampainya di lokasi, pengunjung dapat menikmati air hangat dengan suhu yang pas untuk tubuh.

    Selain memberikan kenyamanan, air panas di sini dipercaya oleh masyarakat setempat mampu membantu menyembuhkan berbagai penyakit kulit, seperti eksim dan gatal-gatal. Tidak heran, destinasi ini lebih sering dikunjungi oleh warga lokal dan belum terlalu dikenal oleh wisatawan luar.

    Bagi traveler yang ingin merasakan sensasi alami berendam di air panas di tengah hutan, Blidit adalah pilihan yang tepat. Terlebih, berkunjung ke sana tanpa dipungut biaya. Pastikan untuk menjaga kebersihan dan berhati-hati selama perjalanan agar keindahan alamnya tetap terjaga.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikBali.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Penampakan Air Terjun Keramat dari Samosir



    Samosir

    Liburan akhir tahun ke Samosir tak lengkap jika tidak mengunjungi Sampuran Na Pitu, air terjun yang dianggap keramat oleh warga setempat.

    Air Terjun Sampuran Na Pitu ini dianggap sebagai objek wisata spiritual yang juga dijadikan sebagai tempat ritual oleh warga Samosir.

    Dilansir dari website Badan Pelaksana Otorita Danau Toba, air terjun merupakan bagian dari magma yang terangkat ketika Samosir masih sejajar Danau Toba pada proses letusan super volcano.


    Namun lambat laun, tebing mulai terbentuk dan jadilah air terjun Sampuran Na Pitu. Sesuai dengan namanya, air terjun Sampuran Na Pitu artinya air yang memiliki tujuh tingkatan.

    Dalam setiap tingkatan, air turun bak air hujan. Masyarakat setempat percaya, air terjun ini dipercaya keramat. Air terjun ini dipercaya milik Siboru Langgatan.

    “Peziarah yang sering meramaikan tempat ini, biasanya meminta berkah atau ingin menyembuhkan penyakit yang disebabkan dari nonmedis,” tulis akun website BDODT.

    Tim detikSumut pun mendatangi langsung Air Terjun Sampuran Na Pitu di Kabupaten Samosir, Minggu (16/12) lalu. Percikan air terjun yang deras memang membuat suasana menjadi sejuk.

    Di bawah air terjun Sampuran Na Pitu, ada bak keramik dengan gayung dan terdapat beberapa mangkuk keramik yang sudah disemen.

    Sementara itu, tak jauh titik air terjun terdapat pondok dengan arsitektur berbentuk singgasana kerajaan berwarna emas.

    Panorama Air Terjun Na Pitu ternyata memiliki magnet menarik para pengunjung untuk dapat menikmati suasana di sekitar air terjun.

    “Sejuk tempatnya ya, kita bisa lihat air terjun tapi di pinggir jalan. Terus tempatnya juga sepertinya religius ya kayak ada tempat ritualnya,” ungkap pengunjung asal Jakarta bernama Dinda.

    Air Terjun Sampuran Na Pitu di Samosir ini dapat ditempuh dengan jarak sekitar 111 km atau selama 5 jam perjalanan dari Kota Medan.

    ——

    Artikel ini telah naik di detikSumut.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Setiap Jumat Pahing, Gua Ini Dipenuhi Mereka yang Mau Ngalap Berkah



    Tuban

    Di Tuban, Jawa Timur ada satu gua yang dipenuhi pengunjung setiap Jumat Pahing. Mereka datang untuk ngalap berkah di gua itu. Bagaimana kisahnya?

    Wisata gua Ngerong yang berada di desa Rengel, kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur selalu ramai dikunjungi warga, terutama pada hari Jumat Pahing dalam penanggalan Jawa.

    Menurut juru kunci, Mbah Mustamin (60), banyaknya pengunjung yang datang pada hari tersebut, dengan tujuan untuk ngalap berkah. meskipun tak sedikit pula datang ke gua ini murni hanya untuk berwisata.


    “Kalau Jumat Pahing mulai pagi jam 6 itu susah antri di dekat kolam gua Lowo situ, sambil bawa bunga setaman,” tutur Mustamin, Minggu (26/1).

    Pengunjung yang datangke gua itu memiliki berbagai tujuan, seperti mencari kesembuhan dari penyakit, bersyukur atas kesembuhan, atau memiliki hajat lainnya.

    Mereka akan turun ke kolam di gua itu untuk melakukan ritual membasuh muka tiga kali dan menyampaikan harapan di petilasan pertapaan Eyang Jala Ijo.

    “Yang datang itu mulai orang sakit, sembuh dari sakit, atau hajat lainnya ya… ke sini turun ke kolam raup ping tigo (basuh muka tiga kali). Lalu hajatnya apa saya sampaikan ke dalam gua Mbah Jala Ijo,” tutur Mustamin.

    Banyak warga yang percaya bahwa doa mereka terkabul setelah berkunjung ke gua Ngerong. Hal ini membuat mereka kembali lagi untuk mengucapkan syukur dan ngalap berkah.

    Sebagai juru kunci yang bertugas secara turun-temurun, Mbah Mustamin juga menceritakan asal-usul gua Ngerong yang penuh cerita mistis.

    Asal Usul Gua Ngerong

    Kisahnya bermula dari seorang perempuan bernama Dewi Laras yang sedang hamil dan membutuhkan air untuk melahirkan. Ki Jala Ijo dan Ki Kumbang Jaya Kusuma yang sedang bertapa di depan gua, berusaha menolong Dewi Laras yang kesulitan mendapatkan air.

    Mereka pun menancapkan tongkat di dalam gua, hingga akhirnya keluar air deras disertai kemunculan hewan seperti ikan, kura-kura, dan kelelawar. Hewan-hewan ini kemudian dipercaya masyarakat sebagai hewan keramat.

    “Dewi Laras akhirnya menemukan sumber air inilah yang disebut-sebut sebagai awal mula wilayah gua Ngerong. Ngerong itu bermula dari bahasa Jawa ‘Klenger Ngorong akhire dadi Ngerong,” jelas Mbah Mustamin.

    Kepercayaan masyarakat terhadap kisah ini begitu kuat, bahkan ada pantangan untuk membawa pulang hewan dari dalam gua.

    “Sudah banyak buktinya, siapa yang ambil ikan akan mati. Sehingga tak ada yang berani bawa pulang,” pungkas si juru kunci.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Sungai di Palembang dengan Mata Air yang Dipercaya Bisa Menyembuhkan



    Palembang

    Di Palembang, ada sebuah sungai dengan mata air yang dipercaya warga bisa menyembuhkan segala penyakit. Inilah kisah tentang sungai Tawar di Palembang.

    Sungai Tawar merupakan aliran anak sungai yang terletak di Kecamatan Ilir Barat (IB) 2, Kota Palembang. Mata air yang berada di Sungai Tawar hingga kini masih menyimpan mitos dan legenda di kalangan masyarakat.

    Sejarahwan Dedi Irwanto mengatakan Sungai Tawar terletak di kawasan 27,28 dan 29 Ilir, Kecamatan IB 2 Kota Palembang. Sungai Tawar dilekatkan dengan mitos dan legenda yang tidak lepas dari seorang ulama di Palembang yang bernama Kemas Abu Nawar atau Kiai Abu Nawar.


    “Pada aliran Sungai Tawar yang berada di kawasan 29 Ilir ada sebuah mata air yang saat ini masih dipercaya untuk mengobati segala macam penyakit,” kata Dedi, Minggu (2/1/2025).

    Menurut Dedi, dari segi perspektif ilmiah, Sungai Tawar ini dulunya merupakan lembah ada talang air dan sekarang dikenal dengan nama Jalan Talang Kerangga. Lembah tersebut dulu dikenal dengan nama bukit Lembah Pengantin merupakan pengunjung dari sebuah bukit atau talang yang bentuknya lembah.

    “Kalau dilihat dari peta kolonial, dulunya di daerah lebak (dataran rendah digenangin air) karena curah hujan cukup tinggi membuat lebak itu mengalami pendangkalan. Pada tahun 1900-an terbentuklah sungai yang sekarang dikenal dengan Sungai Tawar yang berada di kawasan 27,28 dan 29 Ilir,” ujarnya.

    “Di sinilah cerita Sungai Tawar yang melegenda hingga saat ini yang dapat menyembuhkan penyakit. Pada masa penjajahan Belanda, orang Belanda mencoba meracuni masyarakat dengan mencampur racun ke dalam aliran Sungai Tawar ternyata apa yang dilakukan oleh Belanda tidak berhasil masyarakat yang menggunakan air Sungai Tawar dalam aktivitas kehidupan sehari-hari tetap sehat tanpa ada yang keracunan,” sambungnya.

    Konon, air sungai tersebut tidak bisa diracuni oleh kolonial Belanda karena ada karomah dari Kiai Kemas Abunawar sehingga air sungai tersebut menjadi tawar dan tidak beracun lagi.

    Bahkan karena karomahnya tersebut Belanda tidak bisa menyerang masyarakat di sekitar Sungai Tawar karena senjata mereka selalu rusak.

    “Selain itu di Sungai Tawar tersebut memiliki mata air yang dipercaya hingga saat ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit baik medis maupun non medis,” katanya.

    “Sehingga lama-kelamaan banyak yang mandi dan berobat,” lanjutnya.

    Lebar Sungai Tawar Kini Tinggal 2 Meter

    Dedi menyebut saat ini seiring sudah banyaknya jumlah penduduk, Sungai Tawar sudah semakin sempit bahkan lebarnya sekitar 2 meter saja.

    Menariknya lagi, Sungai Tawar yang menyempit ini sangat mudah menemukan mata air yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

    “Walau mata airnya berada di dalam parit tapi saat ada orang yang akan mengambil mata air tersebut airnya tetap jernih,” ujarnya.

    “Masyarakat percaya bahwa air tersebut ada penawar meski diambil di dalam parit yang kotor sekali pun,” tambahnya.

    Dedi pun mengimbau kepada pemerintah agar bisa mengelola peninggalan bersejarah ini agar seperti di Thailand menjadi tempat wisata dan kehidupan warga di Sungai Tawar juga terbantu.

    “Bisa jadi tempat wisata dan pemerintah harus bisa mengelolanya,” katanya.

    Sementara itu, Ketua RT 15 M Haris Fadillah membenarkan jika di wilayahnya yang di aliri air Sungai Tawar terdapat mata air yang dipercayai dan diyakin dapat menyembuhkan penyakit.

    “Beberapa orang percaya bahwa mata air ini dapat menyembuhkan penyakit jadi ada beberapa orang dari Pulau Jawa, Pulau Bangka bahkan dari luar negeri seperti Brunei Darussalam datang kemari dengan membawa botol kosong untuk mengambil airvdari mata air tersebut,” ujarnya.

    Belum Ada Perhatian dari Pemerintah

    Faris menyayangkan meski ada legenda tentang Sungai Tawar ini tapi pemerintah tidak ada perhatian untuk menjadikan tempat wisata agar ekonomi warga di sekitar Sungai Tawar terbantu.

    “Mata air ini dekat di belakang Musala Darussalam yang juga didirikan oleh Kiai Kemas Abu Nawar dan mata airnya hingga saat ini masih ada,” ujarnya.

    Dari pantauan di lokasi, mata air yang berada di Sungai Tawar masih ada. Bahkan salah seorang warga Gandus, Tarmizi datang membawa botol kosong lalu mengambil air di mata air tersebut, meski saat itu air sungai sedang pasang dan berwarna hitam karena banyaknya tumpukan sampah.

    “Untuk obat katanya bisa menyembuhkan penyakit. Jadi saya kemari,” ujar Tarmizi singkat.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mau Pinang Daihatsu Zebra Seken Harga Rp 10 Jutaan? Ini Penyakitnya



    Jakarta

    Daihatsu Zebra bisa menjadi opsi menarik bagi konsumen yang ingin membeli mobil jadul dengan budget terbatas. Mobil van terpopuler Daihatsu di zamannya itu bisa dibeli dengan harga mulai Rp 10 jutaan. Tapi sebelum kamu pinang mobil ini, perlu diketahui terlebih dahulu ragam penyakitnya.

    Seperti dikatakan Reza, member dari ZEC (Zebra Club) Chapter Jabodetabekar, Daihatsu Zebra memiliki sejumlah penyakit yang harus diatasi. Penyakit ini meliputi di bagian kelistrikan dan juga mesin.

    “Pengalaman teman-teman di komunitas, penyakit utama Zebra itu seringnya overheat dan timing belt putus, dan yang terakhir itu yang paling umum, delco-nya kalau kena cipratan air, itu akan mati mesinnya,” ungkap Reza ditemui detikOto di acara Daihatsu Kumpul Sahabat 2025 di alun-alun Tigaraksa, Cikupa, Kabupaten Tangerang, Minggu (18/5/2025).


    Reza pun membeberkan solusinya. “Kalau untuk penyakit delco, itu pasti dikasih halang-halangan bawahnya supaya kalau kena cipratan aman. Untuk masalah timing belt itu ada beberapa montir yang sudah ngerti setelan topnya, karena kan kalau kekencangan dia putus, kalau terlalu longgar dia akan lepas,” sambung Reza.

    Lanjut ke permasalahan overheat, umumnya Daihatsu Zebra menggunakan sistem radiator 1 ply. Maka jika ingin mencegah terjadinya panas berlebih pada mesin, radiatornya harus diganti. “Diganti pakai yang 2 ply, sama mungkin pulley kipasnya dibesarin, begitu, biar adem,” bilang Reza.

    Di luar kekurangan, Daihatsu Zebra memiliki keunggulan berupa konsumsi BBM yang irit, di mana bisa mencapai angka 1:15. Selain itu, harga mobil yang diproduksi rentang tahun 1995 hingga 2007 ini juga tergolong murah.

    “Kisarannya antara Rp 10 sampai Rp 30 juta,” bilang Reza.

    Namun Reza mengingatkan, ada harga ada rupa. Artinya, jika meminang Daihatsu Zebra yang harganya Rp 10 jutaan, maka kemungkinan PR perbaikannya banyak. “Tapi jika beli yang harga Rp 20 juta-Rp 30 jutaan, ya mungkin perbaikannya minor lah,” sambung Reza.

    Lanjut Reza menjelaskan, jika Anda membeli Zebra di harga Rp 10 jutaan, maka sebaiknya siapkan biaya sekitar Rp 15 jutaan untuk perbaikan. “Uang itu digunakan rekondisi mesin, terus radiatornya dibikin 2 ply, kaki-kaki diberesin semua, dan bisa buat ganti CDI juga,” ungkap Reza.

    Sementara itu jika berencana meminang Zebra, Reza menyarankan agar memilih generasi Zebra yang diproduksi terakhir kali pada 2007. “Karena itu Zebra yang paling bagus dan sudah injeksi EFI (Electronic Fuel Injection).

    Harga pasarannya memang lebih mahal, Rp 40 juta sampai Rp 50 juta. Tapi kalau ketemu penjual yang hobi, harganya bisa sampai Rp 60 juta hingga Rp 70 juta,” tukas dia.

    (lua/dry)



    Sumber : oto.detik.com