Tag: pneumonia

  • 5 Makanan untuk Paru-paru Sehat dan Kuat, Bagus Dikonsumsi Rutin


    Jakarta

    Akibat kualitas udara yang buruk, kasus pneumonia dilaporkan meningkat. Untuk menjaga kesehatan paru-paru dan memulihkannya, coba rutin konsumsi 5 makanan ini!

    Akibat kualitas udara yang buruk, banyak masyarakat mengeluhkan gangguan pada kesehatan pernapasan dan paru-paru mereka. Bahkan laporan atas kasus pneumonia diketahui meningkat, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.

    Tak hanya selesai setelah pengobatan saja, ternyata kesehatan paru-paru yang mengalami pneumonia tetap harus diperhatikan kondisinya pasca pengobatan. Ada makanan yang direkomendasikan untuk memulihkan paru-paru.


    Asupan nutrisi yang tepat dapat membantu paru-paru kembali sehat dan kuat untuk melawan bakteri. Bawang, teh hingga rempah-rempah di dapur rumah disarankan bagi pasien pneumonia pasca pengobatan.

    Baca juga: Parah! Pelayan Hina Keluarga Pelanggan Lewat Catatan Bon

    Berikut ini 5 makanan untuk memulihkan paru-paru menurut My Natural Treatment:

    5 Makanan untuk Paru-paru Sehat dan Kuat, Bagus Dikonsumsi RutinAda lebih dari 2000 komponen aktif dalam bawnag putih yang dapat memulihkan paru-paru dari pneumonia. Foto: Getty Images/MARINA BOGACHYOVA

    1. Bawang putih

    Di balik aromanya yang menyengat, para ahli mengungkapkan ada lebih dari 2000 komponen biologis aktif dalam bawang putih. Kandungannya tersebut membuat bawang putih memiliki banyak khasiat untuk tubuh.

    Salah satunya adalah antibiotik alami yang bermanfaat untuk mengatasi inflamasi dan melawan radikal bebas. Gangguan pneumonia yang disebabkan oleh inflamasi pemulihannya juga bisa dibantu dengan cara konsumsi bawang putih.

    Terapi bernama Jill Stansbury dari National College of Naturopathic Medicine di Portland, Oregon, Amerika Serikat mengaku menyarankan bawang putih kepada mahasiswanya. Bawang putih akan digunakan untuk pengobatan yang bertujuan melawan atau membunuh bakteri dan virus pengganggu pernapasan.

    2. Bawang bombai

    Mirip seperti bawang putih, komponen aktif dalam bawang bombai juga tak kalah banyak. Secara khusus, komponen di dalam bawang bombai memiliki fungsi yang hebat untuk mengatasi infeksi pada pernapasan.

    Pada beberapa penelitian, bawang bombai pernah digunakan untuk perawatan pasca penyembuhan pada penderita pneumonia. Hasilnya pasien-pasien yang menjadi partisipannya mengalami peningkatkan kesehatan paru-paru yang luar biasa.

    Konsumsi bawang bombai yang mentah secara ilmiah juga terbukti dapat membantu meningkatkan sistem imunitas. Hasilnya tubuh akan lebih kuat dalam melawan virus dan bakteri termasuk untuk memulihkan paru-paru setelah terjangkit pneumonia.

    Makanan untuk paru-paru lainnya ada di halaman berikutnya.

    3. Kunyit

    Tidak hanya populer di Indonesia, kunyit menjadi salah satu rempah paling berkhasiat yang digunakan hampir di seluruh Asia. Kunyit dipercaya dalam ilmu Ayurveda sebagai rempah yang dapat mengatasi berbagai keluhan penyakit.

    Meredakan radang sendi, meningkatkan fungsi hati, hingga menyehatkan pencernaan bisa didapatkan dengan konsumsi kunyit. Bahkan kandungan aktifnya juga membunuh bakteri dan virus yang masuk ke dalam tubuh secara efektif.

    Khasiatnya tersebut membuat kunyit dinobatkan sebagai rempah antiinflamasi terbaik yang dapat dikonsumsi. Maka banyak ahli kesehatan yang menyarankan konsumsi kunyit pada pasien pneumonia.

    4. Teh hijau

    5 Makanan untuk Paru-paru Sehat dan Kuat, Bagus Dikonsumsi RutinHangatnya teh hijau juga dapat mengatasi inflamasi pada paru-paru yang disebabkan oleh pneumonia. Foto: Getty Images/MARINA BOGACHYOVA

    Hangat dan segarnya teh hijau tidak hanya bisa dinikmati dengan cara disesap saja. Konsumsi teh hijau secara rutin ternyata juga dapat menyehatkan paru-paru dari bakteri dan virus.

    Teh hijau memiliki kandungan antioksidan tinggi yang berasal dari tiga jenis antibiotik di dalamnya. Minum teh hijau disarankan untuk menghangatkan tubuh sekaligus memulihkan paru-paru yang mengalami pneumonia akibat serangan bakteri dan virus.

    Asupan teh hijau juga dapat memancing ketahanan imunitas secara alami untuk mencegah bakteri menyerang sel-sel tubuh. Teh hijau disarankan untuk dikonsumsi dalam kondisi hangat.

    5. Kayu manis

    Kayu manis begitu berguna di dapur rumah tangga. Selain dicampurkan ke dalam makanan, kayu manis yang ditambahkan ke dalam racikan minuman juga dapat memperkaya rasanya.

    Rempah bernama kayu manis ini menjadi daftar makanan lainnya yang disebutkan ahli memiliki kandungan antibiotik yang kuat. Di balik aromanya yang harum, kayu manis dapat mengatasi serangan bakteri bahkan hingga efek setelahnya di dalam tubuh.

    Fungsinya memperkuat imunitas sebagai stimulan alami juga direkomendasikan untuk penderita diabetes. Kayu manis bisa dicampurkan ke dalam bumbu makanan maupun diracik bersama teh yang hangat.

    (dfl/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Pentingnya Udara Segar di Rumah, Alat yang Tepat Jadi Kuncinya



    Jakarta

    Polusi udara bukan hanya terjadi di luar ruang (outdoor) tapi juga di dalam ruang (indoor). Bahkan, polusi yang terjadi di luar ruang memiliki penangkal ataupun filter alami berupa angin, hujan, vegetasi, dan lainnya sementara di dalam ruangan kerap dianggap selalu bersih padahal tidak memiliki filter.

    Polusi udara khususnya di dalam ruangan bisa mengancam kesehatan secara serius. Data United States Environmental Protection Agency (EPA), jika kadar polutan di dalam ruangan memiliki tingkat 2-5 bahkan 100 kali lebih tinggi dibandingkan kadar polutan di luar ruangan.

    Ada banyak penyebab yang menjadikan sebuah ruangan tinggi polutan, salah satunya ventilasi udara buruk yang menyebabkan debu, proses pembakaran dalam rumah seperti rokok, memasak, bahan kimia pembersih, bulu Binatang, tungau, jamur, hingga serbuk terjebak dalam ruangan.


    Berbagai polutan ini bisa menjadi pemicu hingga menyebabkan gangguan kesehatan serius pneumonia, sakit kepala, sakit tenggorikan, sesak napas, bersin, iritasi pada mata, jantung, hingga stroke. Pneumonia misalnya, merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menyerang organ paru-paru yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur yang ada di udara dan selama beberapa dekade telah menjadi penyebab utama kematian pada bayi dan balita.

    Karena itu produsen perangkat elektronik rumah tangga (home appliances) Sharp bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk mensosialisasikan pentingnya menciptakan udara sehat di dalam ruangan.

    “Sudah lebih dari 20 tahun Sharp mengembangkan teknologi Plasmacluster dan terus melakukan penelitian untuk meningkatkan fungsi dari produk penjernih udara (air purifier) yang dapat memberikan perlindungan ekstra di dalam ruangan. Kerja sama dengan IDI merupakan kontribusi lebih kami untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menciptakan udara yang sehat di rumah,” ujar Shinji Teraoka, Presiden Direktur PT Sharp Electronics Indonesia.

    Kampanye “Ciptakan Udara Sehat Untuk Indonesia” terus didorong akan pentingnya kualitas udara yang bersih, sehat, dan segar di dalam rumah. Dengan produk air purifier berteknologi Plasmacluster, dibenamkan ion generator untuk menghasilkan Ion Plasmacluster bermuatan positif (H+(H2O)m) dan ion bermuatan negatif (O2-(H2O)n) yang dilepaskan ke udara secara bersamaan.

    Ion positif dan negatif ini secara instan mengikat pada permukaan bakteri di udara, jamur, virus, alergen, dan sejenisnya kemudian mengubahnya menjadi radikal OH (hidroksil) yang memiliki daya oksidasi sangat tinggi. TeknoIogi Plasmacluster menjadi teknologi pemurnian udara unik yang bekerja untuk menekan aktivitas bakteri dan lainnya dengan memecah protein di permukaan tubuh mereka melalui reaksi kimia. Teknologi Plasmacluster juga mampu menghilangkan bau, melumpuhkan virus, bakteri dan kuman serta mengurangi pertumbuhan jamur dan listrik statis.

    Menurut dr. Ulul Albab, Sp. OG, Sekretaris Jenderal IDI, pihaknya mengapresiasi komitmen Sharp untuk meningkatkan kesadara masyarakat akan pentingnya menjaga kualitas udara di dalam ruangan karena dampak polusi di ruangan telah menjadi salah satu penyebab masalah kesehatan utama di Indonesiia.

    “Kami berharap melalui kampanye ini bisa terus meningkatkan kesadara masyarakat hingga menyukseskan program pemerintah dalam mengurangi kasus angka kematian akibat pneumonia yang terjadi di Indonesia. Bersama Sharp, kami juga telah melakukan penelitian dengan lembaga survei medis, farmasi, dan Monthly Index of Medical Specialities (MIMS) dan produk air purifier bisa meningkatkan kualitas udara dalam ruangan,” jelasnya.

    Sharp juga merilis produk air purifier terbaru yaitu Sharp Purefit mini-series untuk melengkapi line-up sebelumnya, lebih lengkapnya bisa dilihat di id.sharp. PSG Manager for AC dan Air Purifier Sharp Indonesia Yudha Eka Putra mengatakan, produk ini didesain untuk coverage area mencapai 84 m2 yang cocok digunakan untuk kamar anak maupun ruangan yang kecil.

    “Produk ini hadir dalam tiga tipe untuk menyesuaikan kebutuhan ruang-ruang kompak di rumah. Dibenamkan beragam fitur yang canggih untuk meningkatkan kualitas udara lebih sehat dan segar di ruangan dengan harga mulai Rp2 jutaan. Kami juga memberikan kemudahan dengan cashback sebesar Rp200 ribu bahkan untuk anggota IDI dan keluarganya ada cashback mencapai Rp900 ribu,” pungkasnya.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Kita Tak Sadar, Barang di Rumah Ini Lebih Jorok dari Dudukan Toilet



    Jakarta

    Banyak orang tidak sadar bahwa sebenarnya banyak barang di rumah yang bisa menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dan kuman melebihi dudukan toilet, salah satunya remote control.

    Dalam sehari, rata-rata orang sering menyalakan TV kurang lebih 150 kali. Biasanya remote digunakan untuk mengganti saluran, menyesuaikan volume, dan mematikan serta menyalakan TV.

    Melansir Daily Star, Senin (4/11/2024), ditemukan bahwa remote control yang tidak pernah dibersihkan bisa 15 kali lebih kotor daripada dudukan toilet. Padahal toilet biasanya merupakan area paling kotor di rumah.


    “Faktanya, remote TV ditemukan menjadi tempat berkembang biaknya Enterobacter 15 kali lebih banyak daripada toilet pada umumnya,” kata Sarah Khan, dari asuransi rumah Churchill, dikutip dari sumber yang sama.

    Remote control memiliki Enterobacter lebih tinggi karena biasanya orang jarang membersihkan tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh remote. Hal itu mengakibatkan perpindahan bakteri dari tangan kamu.

    Dalam survei yang dilakukan oleh asuransi rumah Churchill, seperempat dari hasil survei mereka tidak pernah membersihkan remote TV.

    “Remote control ditemukan memiliki jumlah Enterobacter tertinggi di antara semua semua benda yang kami teliti, termasuk sprei, permukaan dapur, laptop, jahitan, dan bahkan dudukan toilet,” ujarnya.

    Dilansir Good Housekeeping, Enterobacter berpotensi menyebarkan penyakit dan infeksi, termasuk infeksi aliran darah dan pneumonia. Jadi perlu membatasi pertumbuhan bakteri ini sebisa mungkin, dengan membersihkan remote secara rutin.

    Cara Membersihkan Remote Control

    1. Mulai dengan mengeluarkan baterai dan dibersihkan debunya dengan kain microfiber yang lembut.
    2. Semprotkan larutan antibakteri, seperti desinfektan antibakteri, ke bagian kain microfiber yang masih baru dan gunakan untuk membersihkan remote control.
    3. Gunakan cotton bud untuk menjangkau sela-sela tombol, jika perlu gunakan tusuk gigi untuk membantu membersihkan kotoran di sekitar tombol. Biarkan hingga kering sebelum memasang kembali baterai.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Hati-hati! Seprai yang Jarang Diganti Bisa Sekotor Dudukan Toilet



    Jakarta

    Seprai mirip seperti pakaian yang harus rutin dibersihkan karena cepat kotor walau tidak dibawa ke luar rumah. Oleh karena itu, ada anjuran untuk sering mengganti seprai kasur.

    Dilansir dari BBC, sebuah studi yang dilakukan oleh perusahaan tempat tidur Amerika Amerisleep pada 2013 mengungkapkan gambaran seprai yang kotor ternyata mirip dengan kotornya dudukan toilet. Gambaran ini juga berlaku pada sarung bantal dan guling yang jarang diganti. Permukaannya menjadi tempat hidup bagi jutaan koloni bakteri atau colony-forming unit (CFU) per inci persegi. Jumlah ini setara dengan kotornya dudukan toilet dan mangkuk hewan peliharaan.

    Studi tersebut menguji penumpukan bakteri pada sarung bantal dan seprai yang tidak diganti selama empat minggu. Dalam satu minggu pertama, pada sarung bantal ditemukan sekitar 3 juta CFU bakteri per inci persegi. Jumlah ini 17.000 kali lebih banyak daripada jumlah yang ditemukan pada dudukan toilet. Lalu, pada seprai rata-rata ditemukan 5 juta CFU atau 25.000 kali lebih banyak daripada penemuan bakteri di gagang pintu kamar mandi.


    Bisa terbayang bagaimana jumlah koloni bakteri yang ditemukan pada minggu keempat? Benar, jumlahnya lebih banyak. Pada sarung bantal ditemukan 12 juta CFU, sementara seprai mengandung rata-rata hampir 11 juta CFU. Lebih banyak dari penemuan bakteri pada pada mangkuk hewan peliharaan dan tempat sikat gigi.

    Jenis bakteri yang ditemukan pada seprai, sarung bantal, dan sarung guling adalah bakteri Staphylococcus. Bakteri ini juga umum ditemukan pada kulit manusia. Sifat bakteri ini jinak, tetapi dapat menyebabkan infeksi kulit, jerawat, dan pneumonia pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

    Lantas, seberapa sering kita harus mengganti seprai?

    Dilansir dari Homes & Gardens, ahli menyarankan seprai diganti setidaknya dua minggu sekali. Waktu penggantian seprai ini bisa lebih sering apabila pemakainya banyak dan orang tersebut sering keluar rumah.

    “Beberapa orang menghabiskan lebih banyak waktu di tempat tidur dibandingkan saat mengenakan pakaian, sehingga masuk akal untuk mencuci seprai lebih teratur,” kata Nick Drewe, pakar rumah tangga di WeThift.

    Selain itu, seprai harus lebih sering diganti apabila orang tersebut mudah berkeringat terutama saat cuaca sedang panas. Waktu penggantian seprai sebaiknya 3-4 hari sekali. Seprai yang lembap bukan hanya dapat memicu munculnya bakteri saja, melainkan jamur juga.

    Tips lain untuk menjaga permukaan seprai tidak lembap adalah setelah bangun tidur biarkan seprai selama beberapa menit. Jangan dipakai dahulu dan tertimpa selimut hingga bantal dan guling. Sebaiknya bantal, guling, dan selimut dijemur di bawah sinar matahari untuk memusnahkan jamur. Alasan kasur dibiarkan kosong adalah untuk mengeringkan kelembapan.

    Apabila kamu jarang menggunakan kasur atau lebih banyak bepergian, tidak apa-apa jarang mengganti seprai, tetapi pastikan jika kasur tersebut dilapisi penutup agar debu tidak menempel.

    Sebaliknya, kamu harus mencuci seprai sekali jika kasur berpotensi lebih cepat kotor. Misalnya kamu selalu berkeringat saat tidur, atau kamu berbagi tempat tidur dengan hewan peliharaan.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Kemenkes Ingatkan RI Dibayangi Kenaikan Influenza A, Mulai Ngegas di Asia Tenggara


    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan kemungkinan meningkatnya kasus influenza A, khususnya subtipe H3N2, yang kini dilaporkan mendominasi di kawasan Asia Tenggara.

    Mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) FluNet, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan kasus terbanyak paparan influenza di Indonesia juga dilaporkan berkaitan dengan varian influenza A (H3N2).

    “Dari data WHO terbanyak influenza A (H3),” ujar Aji, saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (16/10/2025).


    Namun, ia belum dapat merinci wilayah mana saja di Indonesia yang mencatat jumlah kasus tertinggi.

    Menurut Dicky, praktisi global health security, peneliti sekaligus pakar epidemiologi, tren kasus influenza A memang mulai dominan di beberapa negara.

    “Secara regional Asia Tenggara bahkan global, tahun ini influenza A, khususnya subtipe A H3N2 dilaporkan dominan di beberapa zona dan berkontribusi besar terhadap peningkatan kasus,” beber Dicky saat dihubungi terpisah.

    Ia menjelaskan WHO memang mencatat peningkatan aktivitas influenza A H3N2 di beberapa wilayah Asia Selatan termasuk Asia Tenggara. Salah satu lonjakan terbesar terjadi di Thailand, dengan 61 kematian dari 702.308 kasus sejak 1 Januari hingga 8 Oktober 2025.

    “Ini menunjukkan gelombang nyata di kawasan ASEAN,” tambahnya.

    Rawat Inap Lebih Lama dan Risiko Komplikasi

    Dicky menyebut, sejumlah studi klinis menunjukkan influenza A menjadi penyebab dominan pasien dewasa dirawat karena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dengan rata-rata lama rawat inap 9 hingga 10 hari, lebih panjang dibandingkan paparan virus lain.

    “Ini mendukung pengamatan bahwa pada gelombang tertentu, flu A bisa menimbulkan beban rumah sakit yang besar, jadi harus waspada,” jelasnya.

    Meski begitu, Dicky menekankan distribusi subtipe flu relatif berbeda di setiap waktu.

    “Dominasi flu A H3N2 bersifat spasial dan temporal, tidak otomatis semua negara memiliki pola yang sama,” katanya.

    Karena itu, data lokal dan sistem sentinel perlu terus dimonitor untuk memastikan pola penularan di Indonesia. Ia menambahkan, mayoritas kasus flu akan sembuh dalam 1 hingga 2 minggu, tetapi pasien dengan influenza A cenderung mengalami demam lebih lama, batuk berkepanjangan, dan komplikasi seperti pneumonia sekunder yang membuat masa rawat inap lebih panjang.

    Dicky menuturkan, anak kecil dan lansia merupakan kelompok paling rentan terhadap infeksi berat akibat influenza A. Selain karena imunitas tubuh yang rendah, faktor lain seperti varian baru, ketidaksesuaian vaksin, atau infeksi ganda dengan COVID-19 juga dapat memperparah kondisi pasien.

    “Flu A menyebabkan lebih banyak rawat inap dengan durasi lebih lama karena komplikasi pneumonia sekunder, eksaserbasi asma, atau efek batuk berkepanjangan,” paparnya.

    Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, musim influenza tahun ini bahkan disebut memiliki beban rumah sakit yang tinggi dengan potensi kematian lebih besar dibandingkan musim flu sebelumnya.

    Menghadapi tren ini, Dicky mengingatkan pentingnya langkah pencegahan sederhana, mulai dari vaksinasi flu musiman hingga menjaga kebersihan diri.

    “Kelompok berisiko tinggi harus divaksinasi flu. Gejala berat yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi dan sesak napas,” ujarnya.

    Ia juga menekankan vaksinasi flu musiman, mencuci tangan, isolasi saat sakit, serta memakai masker di tempat padat tetap menjadi langkah efektif untuk menekan penularan.

    “Untuk masyarakat, bila mengalami demam, batuk, pilek, sebaiknya istirahat di rumah, minum air hangat, dan konsumsi obat pereda demam sesuai anjuran. Jangan berangkat sekolah atau kerja dulu satu-dua hari,” imbaunya.

    Dicky juga menyarankan vaksinasi flu bagi ibu hamil, anak di bawah 5 tahun, lansia di atas 50 tahun, orang dengan penyakit kronis, serta mereka yang sering bepergian.

    Meskipun mayoritas kasus influenza A dapat sembuh tanpa komplikasi, gelombang besar seperti yang terjadi di Thailand menjadi peringatan bagi Indonesia untuk memperkuat sistem surveilans dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan.

    “Dalam menghadapi lonjakan kekhawatiran ini, penting untuk memastikan data lokal diperbarui secara rutin dan fasilitas kesehatan siap menghadapi potensi peningkatan pasien influenza A,” kata Dicky.

    (naf/up)



    Sumber : health.detik.com