Tag: polifenol

  • Pejuang Diet Merapat! Ini 8 Buah yang Bisa Cepat Turunkan BB


    Jakarta

    Buah-buahan adalah salah satu jenis makanan yang kerap direkomendasikan untuk diet. Tentunya bukan tanpa alasan, sebab buah-buahan mengandung berbagai macam nutrisi yang bisa menunjang penurunan berat badan.

    Salah satu nutrisi utama pada buah-buahan adalah serat. Serat dapat membantu melancarkan fungsi pencernaan, meningkatkan rasa kenyang, serta mengendalikan nafsu makan.

    Beberapa jenis buah-buahan juga mengandung sejumlah nutrisi yang turut mendukung pengelolaan berat badan, seperti vitamin dan antioksidan.


    Pertanyaannya, buah apa saja yang paling baik dikonsumsi saat diet untuk menurunkan berat badan? Dikutip dari berbagai sumber, berikut daftarnya.

    1. Apel

    Apel kaya akan polifenol, yakni zat antioksidan yang mampu melawan peradangan. Buah ini juga kaya akan serat yang mengenyangkan. Satu buah apel berukuran sedang beserta kulitnya dapat mengandung lebih dari 4 gram serat, atau 14 persen dari rekomendasi asupan serat harian.

    Sebuah studi juga menemukan mengonsumsi apel sebelum makan dapat mengurangi asupan kalori.

    2. Alpukat

    Meskipun alpukat memiliki kadar lemak dan kalori yang tinggi, buah ini merupakan salah satu pilihan tepat untuk menurunkan berat badan.

    Sebuah studi pada 2021 mengungkapkan konsumsi alpukat dikaitkan dengan penurunan lemak visceral, yakni lemak yang menumpuk di area rongga perut. Penelitian serupa juga menemukan alpukat dapat meningkatkan rasa kenyang dan menekan keinginan untuk makan sebesar 28-40 persen selama lima jam berikutnya.

    3. Blueberry

    Blueberry termasuk buah rendah kalori dengan sekitar 85 kalori per cangkir. Buah ini juga memiliki kandungan antioksidan yang tinggi.

    Penelitian menunjukkan mengonsumsi 150 gram (sekitar satu cangkir) blueberry setiap hari dapat mengurangi risiko penyakit jantung hingga 15 persen.

    Anthocyanin, sejenis antioksidan yang ada pada blueberry, juga dapat membantu menurunkan berat badan. Studi menunjukkan asupan antosianin yang tinggi dikaitkan dengan massa lemak yang lebih rendah, yaitu sekitar 3-9 persen.

    4. Kiwi

    Satu buah kiwi mengandung sekitar 50 kalori dan kurang dari 7 gram gula. Perpaduan ini membuat kiwi cocok dikonsumsi oleh orang yang sedang diet untuk menurunkan berat badan.

    Buah kiwi juga dapat membantu pengelolaan berat badan. Sebuah studi pada 2020 menemukan konsumsi kiwi secara rutin pada orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas dapat menyebabkan penurunan lemak tubuh, tekanan darah, dan penanda inflamasi secara signifikan.

    5. Jeruk

    Jeruk identik dengan vitamin C. Selain bermanfaat untuk sistem kekebalan tubuh, vitamin ini juga dapat menunjang proses penurunan berat badan.

    Sebuah studi yang dilakukan pada 2005 menemukan vitamin C dapat meningkatkan pembakaran lemak 30 persen lebih banyak saat berolahraga. Kandungan serat dan air pada jeruk juga dapat meningkatkan rasa kenyang dan menekan nafsu makan.

    6. Pir

    Pir memiliki kandungan senyawa alami yang terbukti dapat menurunkan kadar gula darah, meredakan peradangan, serta menjaga kesehatan paru-paru dan jantung. Buah ini juga merupakan pilihan yang baik untuk menurunkan berat badan.

    Sebuah studi yang dilakukan pada 2019 menemukan orang dewasa yang mengonsumsi dua buah pir setiap hari dapat mengalami penurunan ukuran lingkar pinggang hingga 0,7 cm.

    Pir juga kaya akan serat, air, serta rendah kalori. Kombinasi ini menjadikannya buah yang ideal dikonsumsi saat diet.

    7. Stroberi

    Seperti buah beri lainnya, stroberi termasuk buah yang rendah kalori dan gula. Di sisi lain, stroberi juga mengandung serat dan antioksidan tinggi, membuatnya sangat berkhasiat bagi orang-orang yang ingin menurunkan berat badan.

    Stroberi juga sudah diteliti potensinya untuk melawan berbagai macam penyakit, seperti sindrom metabolik, diabetes, obesitas, penyakit jantung, hingga kanker. Jadi selain membantu menurunkan badan, mengonsumsi stroberi secara rutin juga dapat melindungi dari risiko penyakit yang membahayakan nyawa.

    8. Semangka

    Kandungan air, serat, antioksidan, dan nutrisi lainnya membuat semangka menjadi salah satu buah yang tepat untuk mendukung penurunan berat badan.

    Dalam sebuah penelitian, orang dengan obesitas yang mengonsumsi 2 cangkir semangka potong mengalami penurunan indeks massa tubuh (body mass index/BMI), rasio pinggang-pinggul, tekanan darah sistolik, dan stres oksidatif yang signifikan. Selain itu, mereka juga mengaku merasa kenyang lebih lama, dan keinginan untuk makan lebih banyak berkurang.

    Semangka juga termasuk buah yang rendah kalori, sehingga cocok dikonsumsi oleh pejuang diet yang berusaha mencapai defisit kalori.

    (ath/naf)



    Sumber : health.detik.com

  • Konsumsi Dark Chocolate Bisa Turunkan Risiko Diabetes Tipe 2


    Jakarta

    Sebuah penelitian menemukan bahwa seseorang yang mengonsumsi dark chocolate memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2. Ini penjelasannya!

    Dark chocolate atau cokelat hitam dikenal sebagai makanan yang menyehatkan. Dark chocolate mengandung senyawa polifenol yang punya banyak manfaat.

    Mulai dari melawan peradangan, menurunkan tekanan darah, hingga meningkatkan suasana hati. Selain itu, rutin makan dark chocolate juga menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2.


    Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard T.H. Chan School of Public Health. Peneliti tersebut menganalisis data dari sekitar 192.000 peserta.

    Peserta tersebut sudah menyelesaikan kuesioner diet selama bertahun-tahun, termasuk berapa banyak dan jenis cokelat yang mereka konsumsi, lapor NPR. (5/12/24).

    Ini Perbedaan Dark Chocolate, Milk Chocolate dan White ChocolateCokelat hitam mengandung senyawa penting. Foto: Getty Images/iStockphoto/bhofack2

    Studi yang diterbitkan di The British Medical Journal tersebut menemukan bahwa orang yang mengonsumsi cokelat susu (milk chocolate), yang memiliki lebih banyak gula dan lebih sedikit kakao, tidak mengalami penurunan risiko diabetes.

    Selama penelitian berlangsung, pemakan cokelat susu cenderung mengalami penambahan berat badan dan ini berkontribusi terhadap risiko diabetes.

    Sementara itu, hal yang berbeda ditemukan pada orang yang memakan dark chocolate. Mereka tidak mengalami penambahan berat badan. Justru mereka memiliki risiko yang lebih rendah terkena diabetes tipe 2 sebanyak 21%.

    Dark chocolate juga memiliki senyawa penting yang bisa meningkatkan kesehatan jantung. Penelitian yang diterbitkan di Jurnal Heart juga menemukan hal yang sama.

    Para ilmuwan telah menemukan senyawa tanaman bioaktif yang ditemukan dalam biji kakao, yang disebut flavanol. Senyawa itu terbukti mendorong memproduksi oksida nitrat dalam tubuh.

    Cheerful young woman eating chocolate at homeRutin makan cokelat hitam 28 gram per hari bisa membantu menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2. Foto: Getty Images/eternalcreative

    Selain itu, senyawa tersebut dapat menyebabkan pembuluh darah terbuka atau melebar, sehingga mengonsumsi dark chocolate juga dikaitkan dengan sedikitnya penurunan tekanan darah.

    “Vasodilatasi tampaknya menjadi mekanisme penurunan tekanan darah. Tekanan darah yang lebih rendah ini membantu menurunkan risiko jantung,” tutur peneliti Dr. JoAnn Manson.

    Studi selama 20 tahun yang lalu juga menunjukkan bahwa konsumsi dark chocolate dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin pada orang sehat.

    Sensitivitas insulin adalah ukuran seberapa baik sel seseorang merespon insulin, yaitu hormon yang mengatur gula darah. Namun, mengonsumsi cokelat hitam juga perlu dibatasi.

    Menurut peneliti Qi Sun maupun Jeffery Tessem, cokelat hitam dapat bermanfaat jika dikonsumsi tidak berlebihan. Mereka menyarankan agar mengonsumsi cokelat hitam sekitar 28 gram per hari.

    Dark chocolate mengandung kakao yang lebih tinggi dibandingkan cokelat susu. Karenanya para peneliti tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang jenis flavanol tertentu yang ditemukan dalam kakao, termasuk epikatekin yang dikenal dengan sifat antioksidannya.

    (raf/odi)

    Sumber : food.detik.com

    Alhamdulillah Makanan Minuman Sehat Di JumatBerkah.Com اللهم صل على محمد
    Source : unsplash.com / Dan Gold

  • Teh Hijau Vs Kopi, Mana yang Bisa Cegah Otak Tak Cepat Pikun?


    Jakarta

    Dalam kesehatan otak, banyak orang telah mencoba berbagai makanan dan perubahan gaya hidup. Tetapi, satu hal terlintas dalam pikiran adalah minuman antioksidan mana yang paling ampuh untuk otak.

    Kebanyakan orang percaya kopi adalah cara terbaik menyegarkan otak dan tetap fokus pada pekerjaan. Itu membantu pekerjaan tanpa merasa mengantuk sepanjang hari.

    Beberapa orang mengatakan bahwa teh hijau lebih baik karena meningkatkan energi, membuang racun tubuh, dan membantu fungsi kognitif yang lebih baik. Lalu, mana yang lebih efektif?


    Dikutip dari Times of India, ahli saraf Dr Robert Lowe menjelaskan manfaat dari kedua minuman tersebut.

    1. Secangkir Kopi dapat Meningkatkan Kinerja Otak

    Kopi lebih dari sekadar ritual pagi, tetapi bisa bermanfaat untuk otak. Bagi sebagian orang, secangkir kopi segar tanpa tambahan gula mungkin satu-satunya cara untuk memulai pagi.

    Penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi kopi secara teratur dikaitkan dengan penurunan penumpukan plak, yang menjadi salah satu indikator utama penuaan dan penyebab penyakit Alzheimer.

    Sebuah penelitian yang dipublikasikan di PubMed Central, menyatakan bahwa kopi mengandung lebih dari 1.000 senyawa bioaktif. Itu termasuk kafein, polifenol, antioksidan, dan trigonelin, yang banyak di antaranya memiliki efek antiinflamasi, antioksidan, neuroprotektif, anti kanker, dan pelindung jantung.

    Selain itu, kopi dapat mengurangi kemungkinan Alzheimer hingga 65 persen dan Parkinson 29 persen. Tetapi, ada pula kekurangannya yaitu dapat mengganggu penyerapan zat besi, pengobatan osteoporosis, dan beberapa antibiotik.

    2. Teh Hijau Meningkatkan Kognitif yang Lebih Tenang

    Teh hijau memiliki manfaat tersendiri untuk meningkatkan kinerja otak, dan juga memberikan energi yang menenangkan. Sebuah studi yang dipublikasikan dengan judul ‘Studi kohort longitudinal yang menunjukkan efek menguntungkan dari konsumsi teh hijau dan kopi dalam jumlah sedang terhadap pencegahan demensia: Studi Kesehatan Mental JPHC Saku’ menyimpulkan bahwa 2-3 cangkir teh hijau per hari secara signifikan mengurangi risiko penurunan kognitif.

    Namun, hal ini hanya diamati pada individu yang lebih tua. Tidak ada efek signifikan yang ditemukan pada seluruh sampel yang mencakup orang yang lebih muda.

    Ini untuk mengingatkan bahwa lebih banyak tidak selalu lebih baik. Tetapi, dosis teh hijau yang lebih tinggi (lebih dari 4 cangkir) tidak meningkatkan manfaatnya.

    Menurut Robert Lowe, kopi merupakan peningkatan kognitif, terutama karena kandungan kafein yang membantu meningkatkan fokus, daya ingat, dan rentang perhatian. Kopi juga kaya polifenol, senyawa yang memberi warna gelap pada kopi, yang bermanfaat untuk kesehatan usus, mikroba usus yang terkait dengan fungsi otak.

    Sementara teh hijau, selain membantu menyeimbangkan energi, minuman ini mengandung L-theanine, asam amino yang meningkatkan ketenangan dan relaksasi. Teh hijau juga ramah usus dan mengandung polifenol, seperti kopi yang mendukung kesehatan usus dan pada gilirannya menutrisi otak melalui poros usus-otak.

    Kesimpulannya, kopi maupun teh hijau menawarkan manfaat yang kuat. Tetapi, kopi mungkin sedikit lebih merangsang energi, sementara teh hijau memberikan energi yang lebih halus dan lebih tenang.

    Namun, pada akhirnya semua kembali ke pilihan yang nyaman untuk tubuh masing-masing.

    (sao/naf)



    Sumber : health.detik.com