Setelah menjebol all time high (ATH) dan melaju lebih dari US$60 ribu, Bitcoin diprediksi ke US$63-80 ribu.
Setelah dip selama 7 hari dari US$58 ribu ke US$40 ribu, dilanjut dengan memanjat perlahan selama hampir 2 minggu, akhirnya Bitcoin kembali menembus titik tertingginya pada Sabtu, 13 Maret 2021.
Raja aset kripto itu diproyeksikan akan segera menuju US$63 ribu, bahkan berpotensi US$80 ribu. Hal ini didukung oleh beberapa aspek teknikal dan fundamental.
Sisi Teknikal: Fibonacci Extension di Timeframe Mingguan Hal pertama yang mendasari potensi kenaikan Bitcoin adalah Fibonacci extension di timeframe mingguan.
Proyeksi yang ditarik sejak ATH 2017 dan titik rendah 2019, memproyeksikan bahwa Bitcoin berpotensi menuju US$63,5 ribu di titik 3,618 dan US$80 ribuan di titik 4,618. Secara teori, para pelaku pasar akan mulai mengambil keuntungan di titik-titik tersebut. Sehingga kuat kemungkinan harga Bitcoin akan terus didorong ke sana.
Ditambah lagi, di timeframe harian, kita dapat melihat terbentuknya channel yang memproyeksikan harga dapat menuju zona US$60-70 ribu.
Faktor teknikal lainnya adalah Moving Average Exponential (EMA) 21 dan 55 yang sudah “merestui” Bitcoin untuk menjadi bullish.
Faktor teknis pada Bitcoin, yakni EMA 21 dan 55 yang sudah di-test, channel yang memproyeksi pergerakan Bitcoin ke zona US$60-70 ribu.
Faktor Fundamental: Banyaknya Institusi yang Membeli Bitcoin dan Stimulus Faktor fundamental yang mungkin mempengaruhi bullish-nya Bitcoin adalah semakin banyaknya perusahaan besar yang membeli Bitcoin dan menjadikannya sebagai aset dalam perbendaharaan mereka, seperti Microstrategy dan Grayscale Bitcoin Trust.
Selain itu, kabar bahwa semakin banyaknya investor retail yang mulai melek aset kripto dan menggunakan stimulus check yang diberikan oleh Amerika Serikat, semakin memperkuat momentum bullish dari Bitcoin.
Apakah Ini Pucuk Atas? Sejalan dengan semakin naiknya Bitcoin, penulis merasa perlu juga mengingatkan bahwa “bull run” bagi Bitcoin sudah berlangsung selama 1 tahun, dimulai sejak “Corona crash” Maret tahun lalu.
Harga Bitcoin naik dari sekitar US$4 ribu, ke US$60 ribu dalam setahun, naik 15 kali lipat. Alangkah baiknya jika kita juga berhati-hati jika koreksi datang. Happy trading!
Bloomberg Intelligence meramalkan harga Bitcoin bisa mencapai US$100 ribu (Rp1,4 milyar) pada tahun ini juga. Bitcoin juga disebut dalam proses menggantikan peran emas.
“Pada Februari ketika Bitcoin mendekati US$60 ribu [lalu terkoreksi-Red], pembelian kuat akan terjadi di US$40 ribu. Meningkatnya permintaan dibandingkan pasokan yang semakin berkurang, mendukung pola kenaikan seperti masa lalu. Bitcoin berpotensi ‘menambahkan satu angka nol’ di harganya, US$10.000 ribu [menjadi US$100.000-Red] pada tahun 2021,” sebut Bloomberg dalam kajian terbarunya, ‘Bloomberg Crypto Outlook 2021‘ edisi Maret 2021.
Menurut Mike McGlone yang menyusun kajian itu, peningkatan permintaan dibandingkan pasokan unit BTC yang kian berkurang [akibat Halving-Red], berpadu dengan kondisi ekonomi makro.
Itu disebut menguntungkan peran Bitcoinmenggantikan emas dari aset berisiko dan kelak menjadi store of value.
McGlone juga menyebutkan, ketika Bitcoin masuk di US$50 ribu di awal tahun 2021 dan mencapai kapitalisasi pasar US$1 triliun, menjadikan Raja Aset Kripto itu memiliki asas untuk menjadi lebih stabil.
Bitcoin dalam Proses Gantikan Peran Emas Bloomberg juga tampaknya kian yakin menyorongkan wacana, bahwa Bitcoin saat ini dalam proses menggantikan peran emas sebagai store-of-value. Wacana seperti ini sudah sejak lama disampaikan Bloomberg dalam kajian edisi yang lampau.
“Proses Bitcoin menggantikan emas sebagai portofolio investasi semakin cepat. Kami juga melihat risikonya yang tinggi cenderung serupa. Pada 2021, kami melihat alokasi emas hanya digunakan sebagai diversifikasi investasi yang masih penting,” sebut Bloomberg.
Kajian itu juga menekankan, arus masuk modal ke Bitcoin memang sangat besar dibandingkan ke emas.
Inilah yang membentuk tren arus balik dari emas menuju aset kripto besar itu. Grafik Bllomberg menunjukkan, total kepemilikan ETF Emas turun ke tingkat terendah sejak Juli 2020,setelah mencapai puncaknya pada November 2020. Nilai yang meningkat terlihat pada pembelian “Bitcoin saham”, yakni Grayscale Bitcoin Trust (GBTC), yang mewakili nilai permintaan Bitcoin di pasar spot.
Bitcoin Kembali ke US$50 Ribu Lagi Ketika artikel disusun, beberapa jam sebelumnya Bitcoin berhasil kembali sekali lagi ke US$50.000, setelah terkoreksi dalam mulai US$58 ribu pada 22 Februari 2021 [sebagai all time high baru]. Capaian serupa sebelumnya terjadi pada 3 Maret 2021 hingga US$51.607.
Bitcoin berhasil kembali ke US$50.000, setelah terkoreksi dalam dari US$58 ribu. Sumber: Tradingview.com.
Dari harga itu, harga Bitcoin terkoreksi 26 persen, lebih kecil daripada koreksi sebelumnya, yakni 28 persen (awal hingga akhir Januari 2021).
Pada timeframe 4 jam, berdasarkan data di Tradingview, tampak MA30 sudah menyodok MA50 sejak 5 Maret 2021. Kepastian kenaikan lebih lanjut, setidaknya dapat dilihat, ketika dalam beberapa hari MA30 menyilang bawah MA100.
Support cukup kuat di US$46.300 berdasarkan indikator Auto Fib Extension. Sumber: Tradingview.com.
Pun lagi, berdasarkan indikator Auto Fib Extension di timeframe serupa, support cukup besar berada di US$46.300.
Bobby Lee, pelaku pasar aset kripto, yang juga pendiri Litecoin meramalkan harga Bitcoin bisa mencapai US$200 ribu (Rp2,8 milyar) pada akhir tahun 2021.
Prediksi tampaknya cukup berdasar berdasarkan reli Bitcoin saat ini. Pada Desember 2018, CEO Ballet itu mengatakan, reli Bitcoin akan mulai di penghujung 2020, melesat di awal 2021 dan memuncak di Desember.
Bull run saat ini yang berawal tahun lalu mendorong Bitcoin melampaui harga puncak US$20 ribu dan menembus US$30 ribu pada bulan berikutnya. Dan terkini, Jumat petang hari ini, Bitcoin melesat ke US$52.900, setara Rp740 juta.
Harga Bitcoin terkini, lebih dari 52 ribu per BTC. Sumber: Tradingview.com.
“Di tahun 2018, Bitcoin di bawah US$10 ribu, tidak ada yang membincangkannya. Orang-orang yang tidak berkecimpung di aset kripto berpikir saya sudah gila membuat prediksi dua tahun sedetil itu,” papar Lee.
Pada tahun 2018, Lee menurunkan prediksi harga BTC US$333 ribu di akhir tahun. Kendati demikian, ia tetap kukuh harga BTC akan melampaui harga saat ini pada US$52 ribu. Ia berpendapat harganya akan naik 4-5 kali lipat, bernilai US$200 ribu hingga US$250 ribu tahun ini.
Lee mengatakan, lesatan Bitcoin baru-baru ini disebabkan kabar bahwa investor institusi seperti Tesla mulai memasuki pasar aset kripto terbesar itu.
Pegiat aset kripto meyakini regulator AS (SEC) akan lebih terbuka meresmikan Bitcoin exchange-traded fund (ETF).
Lee menyoroti langkah Musk yang memindahkan sebagian neraca perusahaannya ke Bitcoin, akan memicu jajaran direksi perusahaan publik lain dan juga perusahaan privat untuk mempertimbangkan langkah yang sama.
Ia juga merasa bisnis Musk yang lain, perusahaan privat SpaceX, akan menyusul. Kepala keuangan SpaceX Bret Johnsen dikabarkan menghadiri pertemuan strategis Bitcoin yang digelar MicroStrategy pada awal Februari lalu.
Lee memprediksi harga Bitcoin akan senilai dengan satu unit CyberTruck besutan Tesla, sekitar US$39 ribu, pada Juni 2021. Harga Bitcoin kemudian akan runtuh di tahun 2022 sebelum bertengger di bilangan US$41 ribu pada Januari 2023.
Setelah itu, Lee memproyeksikan pasar Bitcoin akan melampaui kapitalisasi emas pada tahun 2028, sehingga harga satu BTC dapat mencapai US$500 ribu.
“Jika Bitcoin tidak mencapai puncak, harganya akan ambruk, dan dampaknya akan merusak. Banyak orang akan terkejut, tetapi Bitcoin akan memanjat kembali seiring berjalannya waktu,” pungkas Lee.
Berbasis di Shanghai, Lee adalah CEO perusahaan dompet aset kripto Ballet dan penulis buku The Promise of Bitcoin.
Ia merupakan anggota dewan Yayasan Bitcoin dan mantan CEO bursa kripto pertama di Tiongkok, BTCC, yang didirikan pada tahun 2011.
Mike McGlone Analisis dari Bloomberg Intelligence meramalkan bahwa Bitcoin kuat menuju US$50 ribu (Rp700 juta) per BTC. Sementara emas kian lemas, karena arus dana keluar semakin besar.
Kajian Bloomberg masih bullish terhadap aset kripto nomor wahid itu. Kajian terbaru yang diterbitkan kemarin masih selaras dengan analisis bulan sebelumnya, bahwa ada support kuat BTC menuju US$50 ribu. Pasalnya, sokongan terbesar muncul sebelumnya di level US$30 ribu.
“BTC menunjukkan support yang kuat di US$30 dan terus diadopsi oleh institusi dan berpotensi BTC menjadi aset cadangan global. Ini dapat mendorong harga menjadi US$50 atau lebih tinggi,” tulis McGlone.
McGlone juga menyoroti semakin besarnya dana arus keluar dari pasar emas khususnya dari Gold ETF.
Itu berbanding terbalik dengan kuatnya dana masuk ke instrumen investasi berbasis nilai Bitcoin yakni ke Grayscale Bitcoin Trust (GBTC).
“Perusahaan Grayscale telah menumbuhkan dana GBTC dari 1 persen menjadi 10 persen sepanjang tahun 2020,” sebut McGlone.
Analis mengatakan dominasi Bitcoin dan Ethereum yang berkembang di pasar crypto adalah sinyal pasar bullish sangat berbeda dari sebelumnya. Data terbaru dari Pantera Capital, perusahaan investasi dan hedge fund, menunjukkan pergerakan harga Bitcoin (BTC) mengikuti lintasan model saham.
Akibatnya, analis perusahaan tersebut percaya bahwa BTC akan mencapai $115.212 pada 1 Agustus 2021. Angka tersebut membuat Bitcoin mencapai harga tertinggi barunya yang setara dengan Rp1,6 Miliar.
Bitcoin Diprediksi Mencapai Rp1,6 Miliar
Apresiasi parabola Bitcoin mungkin telah menempatkan harga sedikit di depan proyeksi model. Namun koreksi 28% minggu ini membuat stagnasi sementara akibat koreksi tajam dan konsolidasi merupakan karakteristik dari pasar bullish.
Model ini berfokus pada dampak harga dari peristiwa halving Bitcoin. Menurut model tersebut, dampak dari penurunan pasokan Bitcoin muncul sekitar 6 bulan setelah halving.
Sebelumnya, harga Bitcoin turun pada 11 Mei 2020 menuju $8.000 dan 6 bulan kemudian naik ke $15.000. Akibatnya, Bitcoin sedang diambang memasuki reli parabola ke level tertinggi baru sepanjang masa.
Grafik di atas menunjukkan kemajuan harga Bitcoin di hari-hari setelah halving terjadi. Pola serupa berkembang selama dua halving terakhir, hanya saja dengan rentang waktu yang berbeda.
Kinerja BTC saat ini tampaknya berada dengan siklus pasar 2012-2016. Sehingga terdapat potensi harga Bitcoin dapat naik menuju $300.000 bahkan $400.000 sekitar 450 hari setelah halving 4 Agustus nanti.
Tanda-tanda Siklus Pasar dari Bitcoin dan Ethereum
Perbedaan signifikan lainnya antara apresiasi saat ini dengan 2017 adalah komposisi pasar secara keseluruhan dan nilainya. Mayoritas pasar saat ini berkonsolidasi di sekitar Bitcoin dan Ethereum (ETH).
Hal ini disebabkan oleh investor institusional yang sejauh ini memilih blockchain paling aman untuk terjun mata uang crypto.
“Apresiasi ini berbeda. Aliran dana besar-besaran dari token spekulatif tinggi yang tidak berfungsi pada tahun 2017 menuju #Bitcoin dan #Ethereum, menjadi penyebabnya, menurut Pantera Capital,” tulis Andy Yee, Direktur Kebijakan Publik untuk Visa di Tiongkok di akun twitternya.
Seperti yang ditunjukkan pada grafik di atas, Bitcoin dan Ethereum memiliki 86% kapitalisasi pasar dan 5.000 koin lainnya memiliki 14%. Sementara BTC mencapai puncaknya pada akhir tahun 2017, dua koin teratas memiliki total 52% dari kapitalisasi pasar.
Hal ini menunjukkan bahwa BTC dan ETH telah mengkonsolidasikan pangsa pasar mereka selama tiga tahun terakhir. Akibatnya terdapat beberapa alasan yang memungkinan perpindahan dana menjadi lebih kuat.
Potensi alasan perpindahan dana ini adalah uang investor institusional yang berfokus pada Bitcoin sebagai titik masuk ke pasar cryptocurrency. Hal ini disebabkan keamanan jaringan dan infrastruktur penambangannya yang luas, serta ekosistem keuangan terdesentralisasi yang sedang berkembang.
Sebagian besar jaringan tersebut dibangun di jaringan Ethereum. Seperti yang diketahui jaringan Ethereum telah bertanggung jawab juga atas pertumbuhan sektor DeFi.
Karena ekosistem DeFi terus berkembang, ia juga akan menarik perhatian institusional, yang selanjutnya meningkatkan harga Ethereum. Hal ini disebabkan interaksi dengan kontrak pintar dan platform DeFi di jaringan Ethereum.
Data dari DefiPulse menunjukkan bahwa total nilai yang terkunci di DeFi sekarang mencapai $29,98 Miliar. Angka ini mendekati level tertinggi sepanjang masa sebesar $23,166 Miliar.
Arus Dana Institusi Memicu Musim Altcoins
Bitcoin dan Ethereum saat ini memegang 86% dari kapitalisasi pasar crypto. Jika mengacu pada siklus pasar sebelumnya, ada kemungkinan terjadi aliran dana dari mata uang kripto teratas menuju proyek baru yang menjanjikan.
Dinamika ini telah membuat analis seperti Raoul Pal membuat pernyataan mengenai aliran dana. Ia memprediksi bahwa setelah Bitcoin dan Ethereum naik, perhatian berikutnya akan tertuju pada altcoins yang berisiko lebih tinggi.
Media juga melaporkan bahwa Goldman Sachs dikabarkan akan bersiap untuk menawarkan layanan penyimpanan crypto. Sehingga mereka juga dapat mempengaruhi siklus harga berikutnya untuk Bitcoin.
Arus dana masuk yang berkelanjutan dari investor institusional dapat menjadi katalisator yang mengangkat harga Bitcoin. Selain itu, aliran dana ini juga akan menjaganya untuk tetap sejalan dengan proyeksi model stock-to-flow.
Presiden Amerika Serikat terpilih Joe Biden akan mengumumkan paket stimulus baru minggu depan sebagai upaya untuk memulai ekonomi AS. Paket tersebut senilai $1.400 setara dengan Rp19.680.000 yang berupa cek stimulus individu dan akan berjumlah lebih dari $1,5 triliun.
Namun komunitas beranggapan jika warga Amerika tidak selalu menggunakan dana tersebut untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan memilih untuk investasi cryptocurrency. Hal ini akan menyebabkan harga crypto atau Bitcoin terkena imbas.
Setelah Demokrat mengendalikan DPR dan Senat, Presiden terpilih Biden dapat mendorong figur yang lebih tinggi tanpa menghadapi tingkat oposisi yang sama dengan yang dimiliki pemerintahan Donald Trump.
Joe Biden pun berjanji untuk menangani pandemi lebih serius daripada presiden saat ini. Paket tersebut akan mencakup sebagian besar pengeluaran rantai pasokan yang bertujuan untuk mendukung program peluncuran vaksin.
Paket tersebut juga akan menunjuk pendanaan khusus untuk komunitas minoritas. Seorang pejabat transisi menyatakan.
“Saya pikir Anda akan melihat penekanan nyata pada komunitas yang kurang terlayani ini, di mana ada banyak kerja keras yang harus dilakukan.”
Stimulus fiskal baru diharapkan dapat meningkatkan inflasi, melemahkan dolar AS dan membawa banyak investor baru ke Bitcoin dan emas.
“Stimulus Biden dapat menambah sentakan ekstra pada harga bitcoin, tetapi tidak lebih dari mendorong kereta barang yang meluncur,” Jehan Chu,dari Kenetic Capital, dilansir dari Coindesk.
Rencana Stimulus Biden
Pemeriksaan stimulus datang di tengah reli bersejarah di pasar cryptocurrency. Kapitalisasi pasar baru-baru ini melonjak melewati $ 1 triliun karena Bitcoin menggandakan lebih dari dua kali lipat hargatertinggi sebelumnya.
Cryptocurrency terbesar kedua di pasar, Ethereum, juga melihat beberapa aksi harga naik. Pada bulan Maret, ketika putaran pertama pemeriksaan stimulus diumumkan, Bitcoin menguat dari penurunan menjadi $ 3.000.
“ Beberapa komunitas mengatakan ini adalah efek langsung dari orang Amerika yang lebih kaya. Mereka tidak selalu membutuhkan bantuan pemerintah dan mereka memilih menghabiskan cek stimulus untuk investasi cryptocurrency,” tulis berita yang dirilis oleh Beincrypto.
Demikian pula, putaran terakhir pemeriksaan stimulus $600 yang benar-benar disetujui Kongres telah mulai mengarah ke orang Amerika yang memenuhi syarat. Ini terjadi karena Bitcoin pulih dari koreksi baru-baru ini setelah menetapkan level tertinggi sepanjang masa di $ 41.941 minggu lalu.
Merangsang Pasar Cryptocurrency
Pemerintahan baru berusaha menemukan cara untuk membalikkan dampak ekonomi dari pandemi COVID-19. Amerika Serikat adalah salah satu negara yang paling terpukul di dunia menurut statistik resmi.
Beberapa vaksin sedang dalam proses tetapi ada kekhawatiran proses peluncurannya akan memakan waktu berbulan-bulan. Populasi umum tidak dijadwalkan untuk menerima vaksin sampai Q3.
Ini berarti akan lebih banyak pemeriksaan stimulus berpotensi diberikan kepada orang Amerika sebelum pandemi ini berakhir.
Jika para investor ritel belum sepenuhnya masuk ke Bitcoin mungkin dengan banyaknya tantangan untuk distribusi vaksin, ekonomi masih butuh waktu untuk pulih hingga stimulus AS yang bisa melemahkan dollar, bisa jadi menjadi kalatlisator untuk kenaikan Bitcoin dan cryptocurrency lain.
Perusahaan peneliti Glassnode mengungkapkan bahwa hanya 4,2 juta Bitcoin (BTC) yang bersifat likuid dari 18,5 juta BTC saat ini yang beredar (circulating supply). Selebihnya, sekitar 14,5 juta BTC bersifat “tidak likuid”, karena di-hold.
“Likuiditas Bitcoin didefinisikan sebagai nisbah (ratio) rata-rata BTC yang diterima dan dikirim oleh pemiliknya. Saat ini, sekitar 14,5 juta BTC masuk golongan tidak likuid, sehingga hanya 4,2 juta BTC yang beredar secara konstan dan tersedia untuk diperdagangkan,” jelas Glassnode.
Pernyataan Glassnode mengindikasikan, bahwa tekanan jual terhadap Bitcoin mungkin akan semakin kecil. Dari 14,2 juta BTC itu pula, yang disebut tidak likuid, sebagian bisa saja tidak dapat diakses karena pemiliknya lupa private key atas wallet-nya, atau pula bisa saja sang pemilik sudah meninggal dunia alias “aset beku”.
Protokol Bitcoin memiliki keunggulan sistem yang terbukti secara matematis serta memungkinkan jumlah unit BTC menjadi langka. Satoshi Nakamoto menentukan batas pasokan maksimal hanya 21 juta BTC, dan saat ini beredar sekitar 18,5 BTC.
Soal pasokan Bitcoin, periset dari perusahaan analisis Glassnode menyebutkan, bahwa jumlah BTC yang likuid dan tidak likuid.
Data tersebut menemukan bahwa sekitar 78 persen dari pasokan beredar Bitcoin tidak likuid dan hanya 4,2 juta BTC yang beredar secara konstan.
Kendati bursa-bursa aset kripto memiliki jumlah Bitcoin banyak untuk diperjualbelikan, menurut Glassnode, 78 persen dari pasokan beredar saat ini bersifat tidak likuid.
Maksudnya adalah, besaran 78 persen itu tidak tersedia untuk dibeli, menandakan sentimen positif dari investor, sebab sebagian besar BTC disimpan sehingga mengurangi tekanan jual.
Data on-chain menandakan tren positif di harga aset kripto saat ini didorong oleh isu likuiditas.
Selama setahun terakhir, lembaga keuangan besar dan pengelola hedge fund ternama membeli Bitcoin dalam jumlah banyak.
Daftar perusahaan dengan Bitcoin dalam perbendaharaannya meningkat pesat tahun ini, di mana 29 perusahaan tenar membeli total 1,1 juta BTC untuk disimpan sebagai aset cadangannya agar nilai uangnya tidak tergerus pelemahan nilai dolar AS.
Periset Glassnode menambahkan, selama tahun 2020, total 1 juta BTC menjadi tidak likuid. Ini menandakan semakin banyak investor yang menyimpannya. Hal ini dapat ditafsirkan, bahwa bull run saat ini tampaknya didorong oleh krisis likuiditas. Dan berlanjut pada awal tahun 2021 ini.
Glassnodemenyimpulkan jumlah Bitcoin likuid dan tidak likuid dalam peredaran memiliki tautan jelas dengan pasar Bitcoin.
Data menunjukkan, sejak tahun 2017 pasokan Bitcoin tidak likuid menggelembung lebih dari Bitcoin yang diterbikan oleh para penambang. Pola ini sebelumnya terjadi pada bull market tahun 2017 silam.
Menurut data Bituniverse yang bersumber dari Peckshield, Etherscan dan Chain.info, bursa-bursa aset kripto menyimpan lebih sedikit Bitcoin dibanding tahun lalu.
Tahun 2020 ini telah menjadi tahun yang membuat sorotan utama terhadap Bitcoin sebagai mata uang kripto utama. Hal ini disebabkan pergerakannya yang cukup mengesankan setelah mengalami penurunan hingga di bawah $5,000 dapat kembali naik ke $19,000.
Salah satu pendorong apresiasi ini adalah PayPal yang terlihat mulai mengadopsi mata uang kripto ke operasionalnya. Dorongan lain juga muncul dari beberapa tokoh utama dan institusi besar di dunia keuangan yang juga mulai menganggap bahwa Bitcoin adalah salah satu aset yang harus dimiliki.
Di luar sentimen tersebut, terdapat beberapa faktor lain yang nampaknya juga menjadi pendorong apresiasi harga di akhir 2020 ini. Nampaknya, beberapa faktor ini juga akan menjadi penyebab utama pasar kripto terutama Bitcoin akan terus naik di tahun 2021.
Salah satu faktor internal yang menjadi pengaruh terhadap dorongan harga Bitcoin ke depannya adalah valuasi dari penambangannya. Salah satu yang dapa dianalisis adalah Riot Blockchain yang memulai penambangannya di 2017.
Saat ini Riot terlihat akan meningkatkan hash ratenya dari 1,5 exahashes per detik dengan perangkat baru yang akan digunakan pada awal 2021. Selain itu Riot bertanggung jawab atas 1,11% dari keseluruhan jaringan Bitcoin dengan hash ratesebesar 135 EH/s.
Perusahaan ini telah berhasil menambang 224 BTC pada kuartal ketiga yang berarti pendapatan pada $4,1 Juta pada harga $18,500 per BTC. Tetapi, banyak investor yang meragukan valuasinya saat ini.
Hal ini sebab kapitalisasi pasar sebesar $670 Juta yang didasari pendapatan $8 Juta. Namun di luar hal tersebut, selain naiknya penambangan dari mayoritas perusahaan, ke depannya ada juga beberapa hal yang dapat membenarkan apresiasi jaringan Bitcoin di 2021.
Kesamaan dengan Emas
Salah satu hal yang juga mempengaruhi dalam aspek penambangannya adalah kesamaan Bitcoin dengan emas. Kesamaan yang terlihat juga datang dari teknologi yang mempengaruhi hasilnya.
Yang dimaksud dari pernyataan ini adalah bahwa semakin canggih perangkatnya semakin cepat juga hasilnya dari penambangan yang dilakukan. Namun pengaruhnya terhadap harga nampaknya tidak terlalu signifikan, akibat dalam era ketidakstabilan saat ini, faktor sentimen global terlihat berperan lebih besar.
Namun, kedua aset ini memiliki kelangkaan yang secara naluri akan mempengaruhi harganya. Kedua aset ini naik harganya saat persediaannya mulai berkurang sehingga walau valuasi Bitcoin masih sepertiga emas, naluri sifatnya sama.
Hal ini akan mempengaruhi pergerakan Bitcoin ke depannya, terutama dengan pandangan hedging yang dimiliki investor terhadap emas dan Bitcoin. Sehingga, ke depannya kemungkinan besar Bitcoin akan terus berjaya, bahkan mengalahkan performa emas.
Ekspektasi Kenaikan Harga
Faktor lain yang menjadi pendorong apresiasi Bitcoin adalah ekspektasi atau asumsi mayoritas investor bahwa harga akan terus naik. Saat ini sentimen pasar sedang dipenuhi oleh target harga dari Mike Novogratz, PlanB, dan CitiBank, yang berjangka dari $65,000 hingga $500,000.
Riot sendiri juga memprediksi bahwa jumlah penambangannya akan terus naik bersama dengan harga Bitcoin yang akan naik. Sehingga hal ini juga yang membenarkan valuasi perusahaan yang mencapai angka jauh di atas pendapatannya.
Namun, dengan naiknya hashrate yang juga datang bersama permintaan Bitcoin yang terus naik, penambang mulai bergabung menjadi satu. Sehingga yang bergabung akan membuat mining pool yang nampaknya akan menjadi penguasa pangsa.
Sehingga, pemula akan kesulitan untuk mengalahkan pemain besar, kecuali dengan Antminer S19 dari Bitmain, yang baru akan tersedia April 2021. Tetapi, jika kondisi buruk seperti 2017 terjadi dimana permintaan lebih tinggi dari pada persediaan, pemilik perangkat yang lebih maju dapat mengalahkan pemain besar yang tertinggal dari segi perangkat.
Namun, secanggih apa pun perangkatnya, kecepatan tertinggi masih dibatasi pada 6,25 Bitcoin setiap 10 menit akibat sistem yang dibentuk. Tetapi, dengan mulai masuknya gelombang penambang, permintaan terhadap Bitcoin juga akan terus naik, akibat hukum permintaan dan persediaan.
Hukum Permintaan dan Persediaan
Untuk melihat lebih dalam berapa jumlah Bitcoin yang tersedia, setiap hari jika dihitung terdapat 900 persediaan Bitcoin baru. Menurut laporan mayoritas perusahaan penambang, saat ini permintaan terhadap Bitcoin selalu melebihi persediaan sebesar 6,9 kali.
Akibat perbedaan jumlah ini, harga Bitcoin kemungkinan akan terus naik akibat terjadinya transaksi yang juga dibentuk atas investor-investor baru. Sehingga, mengingat permintaan terhadap Bitcoin yang juga terlihat terus naik, terutama akibat institusi, hukum permintaan dan persediaan akan terus terjadi.
Jika berasumsi dari pergerakan sebelumnya kemungkinan besar saat ini hal yang sama juga akan terus terjadi. Namun, mengingat saat ini mayoritas dorongan datang dari investor institusional, dorongan beli akan lebih kuat.
Faktor Reksadana
Salah satu hal yang menjadi pendorong terhadap apresiasi harga juga berasal dari Reksadana Bitcoin Grayscale. Reksadana ini mempermudah investor ritel untuk terus membeli bitcoin tanpa perlu menanggung risiko besarnya.
Satu kepemilikan mencerminkan reksadana tersebut sama dengan 0.00095346 Bitcoin. Berikut adalah grafik perbandingan antara harga Bitcoin dan Reksadana Bitcoin Grayscale.
Reksadana Bitcoin Grayscale atau GBTC cenderung bergerak lebih baik dari Bitcoin akibat juga permintaan pasar dari investor pemula. Pergerakan ini dapat dilihat dari perbedaan antara keduanya dalam dua bulan terakhir dan juga dalam 12 bulan terakhir yang terlihat pada grafik berikut.
Dapat dilihat dari perbandingan premium yang diberikan oleh kedua aset bahwa performa bergerak sama namun lebih baik GBTC. Sehingga faktor ini juga dapat menjadi pendorong apresiasi Bitcoin ke depannya akibat didasari kembali oleh dorongan beli dan ketertarikan baru.
2020 merupakan tahun yang sulit, tetapi sekaligus menguntungkan bagi teknologi keuangan dan aset kripto, termasuk Bitcoin. Henri Arslanian, Global Crypto Leader di PwC dan Profesor dari Universitas Hong Kong, memberikan sejumlah prediksi tentang Bitcoin pada tahun 2021.
Pertama, Tiongkok akan memimpin perlombaan terkait mata uang digital bank sentral (CBDC). Pada tahun 2020, 80 persen bank sentral aktif mengembangkan CBDC. Arslanian berpendapat bank sentral akan fokus ke sektor CBDCritel. Tiongkok akan menjadi pusat perhatian yuan digital dalam sistem DC/EP, di mana lebih dari 2 milyar RMB (US$300 juta) telah ditransaksikan dalam tahap uji coba.
Kedua, lembaga keuangan tradisional akan terus melirik Bitcoin. Tahun ini, sejumlah pemain institusi memasuki sektor kripto, termasuk bank besar seperti JPMorgan dan Standard Chartered. Tren ini akan berlanjut dan mendorong investor institusi lain membeli aset kripto besar itu melalui perantara sebagai ketentuan regulasi.
Ketiga, telah ada kejelasan perpajakan kripto. Tahun ini terjadi terobosan soal aturan perpajakan aset kripto. Laporan oleh PwC menunjukkan, otoritas pajak di beragam negara mulai memberikan panduan perpajakan aset kripto yang meliputi keuntungan pembelian dan penghasilan penambangan. Kejelasan aturan ini sangat penting bagi investor besar.
Keempat, merger dan akuisisi unicorn menjadi decacorn. Total merger dan akuisisi yang terjadi di sektor kripto melampaui nilai tahun sebelumnya, dengan transaksi rata-rata bernilai US$45,9 juta. Tren ini akan berlanjut, hingga terbentuk proyek-proyek kripto besar, dimana mayoritas aktivitas ini terjadi di benua Asia, Eropa dan Afrika.
Kelima, investor ritel bisa membeli Bitcoin dengan mudah. Investor ritel kini semakin berminat terhadap Bitcoin sebab proses membelinya menjadi semakin gampang. Pemain besar, seperti PayPaldan Square, turut membantu proses membeli dan menjual aset kripto. Faktor makroekonomi, seperti pencetakan uang dan pembatasan transaksi, membuat warga dunia semakin melirik Bitcoin.
Keenam, hedge fund dan family office memburu kripto. Di tahun 2020, hedge fundbesar secara serius mulai memasuki sektor kripto. Sosok hedge fund seperti Paul Tudor Jones dan Stanley Druckenmiller secara publik menyatakan telah membeli Bitcoin. Tren ini akan berlanjut berkat produk-produk yang membantu investor besar membeli aset kripto sehingga berpotensi membuat nilai kripto meroket.
Ketujuh, bursa derivatif aset kripto semakin matang. Volume bursa derivatif aset tradisional berkali lipat lebih besar dibanding pasar spot. Tetapi di kripto tidak demikian sebab banyak bursa derivatif tidak diregulasi sehingga tidak dipakai investor besar. Tahun depan, volume tersebut akan bertambah jika kebutuhan investor institusi bisa dipuaskan.
Kedelapan, sektor kripto semakin diisi oleh profesional. Generasi pertama pegiat kripto terdiri dari sosok yang pintar teknologi. Dengan adanya banyak lembaga yang memasuki sektor kripto, banyak pula individu berlatarbelakang bisnis untuk menjalankan usaha di bidang ini. Bedanya, sektor aset kripto hidup 24 jam sehari, sehingga sosok yang tidak mampu beradaptasi akan cepat tertinggal.
Kesembilan, regulasi baru mendorong orang ke DeFi. Tahun ini, DeFimeledak pesat dan total modal yang ditanamkan mencapai lebih dari US$15 milyar. Tahun depan, terobosan-terobosan baru akan ditemukan dalam sektor ini, dan layanan keuangan akan direvolusi. Bila kebijakan keuangan semakin ketat, warga dunia akan semakin terdorong untuk beralih cepat ke DeFi.
Kesepuluh, peran stablecoinsemakin besar. Momentum stablecoin akan terus meningkat, dari nilai US$5 milyar pada awal tahun 2020 menjadi US$25 milyar di akhir tahun. Stablecoin banyak dipakai dalam perdagangan aset kripto, tetapi ke depannya stablecoin juga dapat mengurangi biaya transfer antar negara dan remitansi, seperti di Amerika Latin dan Asia Tenggara.
Ketertarikan investor terhadap Bitcoin diprediksi akan menekan harga emas dalam jangka panjang. Menurut ahli strategi, JPMorgan yang dipimpin oleh Nikolas Panigirtzoglou pada Selasa (8/12/2020) mengatakan harga BTC condong ke sisi bawah, sementara emas terlihat lebih positif.
Namun, kabar baiknya pergerakan harga BTC dalam jangka menengah dan panjang memiliki arah yang berlawanan.
“Bitcoin adalah investasi yang baru mulai dilirik oleh investor institusi, sedangkan investasi emas memang sudah sangat maju.”
“Jika prediksi pergerakan BTCitu benar dalam jangka menengah dan panjang, harga emas akan mengalami hambatan aliran struktural selama beberapa tahun mendatang,” pungkas JPMorgan.
Para ahli strategi JPMorgan, mencatat bahwa dalam dua bulan terakhir, kepercayaan Bitcoin manajer aset digital Grayscale melihat arus masuk hampir $2 miliar, sementara ETF emas melihat arus keluar lebih dari $7 miliar.
Walaupun begitu, investor institusi yang merupakan keluarga kaya raya tercatat masih lebih banyak memiliki emas dibanding Bitcoin, hal ini diungkapkan oleh JPMorgan.
Bagi investor, investasi tradisional seperti emas masih dianggap sebagai “safe haven”, sementara Bitcoin yang merupakan media investasi baru akan mendapatkan keuntungan dari semakin banyak investor institusi yang melirik mata uang digital ini.
Para ahli strategi JPMorgan, mengatakan bahwa nilai intrinsik Bitcoin akan naik secara signifikan selama beberapa bulan mendatang karena aktivitas penambangan meningkat. Menurut pengamatan JPMorgan, nilai intrinsik Bitcoin saat ini $11.000 – $12.000. Bila dibandingkan dengan harga pasar saat ini yang sekitar $18.200.
Sebelumnya, selisih antara nilai intrinsik dan harga pasar begitu lebar. Aktivitas penambangan akan meningkat dan menjadi lebih sulit dan mahal.
Namun hal ini belum terjadi saat ini, sebagian terjadi gegara gangguan pada aktivitas penambangan dari pasokan listrik karena topan dan curah hujan tinggi di Tiongkok. Saat kondisi sudah mulai normal kembali, aktivitas penambangan akan meningkat dan nilai intrinsik Bitcoin pun demikian.
“Kami memperkirakan bahwa peningkatan 70% dalam kesulitan, semuanya sama, akan melihat nilai intrinsik mendekati harga pasar saat ini.”
“Meskipun ini adalah peningkatan yang besar, peningkatan dengan besaran serupa juga pernah terjadi pada akhir 2017 dan pertengahan 2019. Ini berarti kami berpikir kemungkinan besar bagian yang lebih besar dari penutupan akhirnya dari kesenjangan antara harga pasar dan biaya produksi bisa datang dari yang terakhir daripada di rentang waktu akhir 2017 dan pertengahan 2019 lalu.