Tag: proof of stake

  • Dapatkan TKO Gratis Dengan Staking di Pancakeswap!

     

    Pasar aset kripto menjadi sorotan masyarakat luas karena ramai diperbincangkan di media sosial. Terlebih saat kehadiran token baru, TKO yang diluncurkan oleh Tokocrypto x Binance menambah antusiasme pecinta kripto. Selain melalui trading, Anda bisa mendapat TKO secara gratis dengan staking di PancakeSwap, lho.

    Staking Koin: Cara Dapat Kripto Selain Mining

    Secara sederhana, staking adalah mempertaruhkan aset kripto yang telah Anda miliki kepada pihak ketiga seperti PancakeSwap. Cara kerja staking sendiri adalah pengguna harus memvalidasi blok pada protokol blockchain menggunakan konsensus Proof-of-Stake (PoS). 

    Lantas, apa perbedaan antara mining dengan staking?

    Perbedaan mining dan staking terletak pada konsensusnya. 

    Di mana mining menggunakan konsensus Proof-of-Work (PoW) sehingga para miners harus memiliki perangkat komputer khusus untuk mining. Sedangkan pada staking yang menggunakan konsensus PoS, seseorang hanya perlu mengunci sejumlah koin yang mereka punya di blockchain dalam kurun waktu tertentu dan setelahnya akan mendapat reward.

    Pada umumnya, tujuan dari staking ini adalah untuk mendapat passive income, karena caranya mudah dan tidak membutuhkan perangkat komputer yang rumit. 

    Kenalan dengan Metamask dan PancakeSwap, yuk!

    Sebelum lanjut kepada langkah-langkah untuk mendapat TKO gratis dengan staking, mari kenalan dulu dengan Metamask dan PancakeSwap!

    Metamask merupakan wallet aset kripto yang dapat digunakan pada beberapa browser, seperti Firefox, Chrome, Brave, dan Edge. Metamask bekerja seperti extension pada browser yang menjembatani antara browser dengan blockchain Ethereum.

    Untuk mendapatkan TKO dengan gratis, Anda bisa menggunakan Metamask yang nantinya akan digunakan secara bersamaan untuk staking di PancakeSwap.

    Nah, PancakeSwap apa, sih?

    PancakeSwap sendiri adalah pertukaran terdesentralisasi yang mirip dengan UniSwap milik Ethereum, namun PancakeSwap berjalan di atas Binance Smart Chain. 

    Jika pada penjelasan sebelumnya Metamask bekerja sebagai jembatan antara browser dengan blockchain Ethereum, maka kita harus set up Metamask dengan pengaturan khusus agar bisa digunakan untuk mendapat TKO melalui PancakeSwap yang berjalan di Binance Smart Chain.

    Berikut cara set up Metamask yang benar sebelum staking di PancakeSwap:

    1. Download Metamask pada link ini dan sesuaikan dengan browser Anda
    2. Setelah download, tambahkan Metamask sebagai extension pada browser 
    3. Kemudian, masuk ke Metamask, klik “Get Started” dan klik “Create a Wallet”
    4. Usai membaca Terms and Condition dan menyetujuinya, buat kata sandi baru dan pastikan memiliki konfigurasi yang rumit
    5. Selanjutnya, klik pada bagian “Ethereum Mainnet” dan ubah menjadi “Custom RPC” untuk mengubah pengaturan Metamask menjadi Binance Mainnet. 
    6. Pada Custom RPC, Anda harus mengisi kolom dengan set up di bawah ini untuk menjadikannya Binance Mainnet:
    7. Congratulations! Anda telah memiliki SmartChain Mainnet di wallet Metamask!

    Usai Set Up Metamask, Saatnya Dapat TKO Gratis di PancakeSwap!

    Jika Anda kesulitan untuk mendapat TKO dengan mengikuti Launchpad di Binance, Anda bisa mendapatkannya secara gratis melalui staking di PancakeSwap. 

    Berikut langkah staking di PancakeSwap untuk mendapat TKO Gratis:

    1. Klik link ini untuk menuju ke PancakeSwap
    2. Sambungkan Metamask dan PancakeSwap dengan menekan tombol “Connect”
    3. Pilih “Trade” dan klik “Liquidity”
    4. Setelah masuk ke page Liquidity, klik “Add Liquidity”
    5. Klik “Select a currency” dan pilih TKO serta BNB
    6. Masukan jumlah nominal BNB (Jumlah BNB ini nantinya akan dikalkulasikan dengan jumlah TKO)
    7. Sisakan  BNB Anda untuk biaya transaksi, ya!
    8. Jika sudah masukkan nominal yang diinginkan, klik “Supply”
    9. Setelah muncul pop-up konfirmasi yang berisi detail transaksi, klik “Confirm Supply”
    10. Pop-up konfirmasi akan muncul kembali pada Metamask Anda dan klik “Confirm”
    11. Jika sudah selesai, akan tertulis “Transaction Submitted” dan klik “Close”
    12. Langkah berikutnya klik “Farms” dan cari “TKO-BNB”
    13. Aktifkan Stake TKO-BNB LP Anda dengan klik “Enable” dan klil “Stake LP”
    14. Masukkan nominal dan klik “Confirm”
    15. Konfirmasi ulang melalui pop-up yang muncul pada Metamask

    Nah, dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda bisa memaksimalkan keuntungan dengan staking di PancakeSwap untuk mendapat TKO gratis lebih banyak!

    Oh, iya, jangan lupa untuk selalu ketahui keuntungan dan risiko sebelum trading dan investasi aset kripto, ya! Untuk memulai investasi bitcoin dan aset kripto lainnya, kunjungi Tokocrypto di www.tokocrypto.com atau di media sosial kami @Tokocrypto.

    Salam to the Moon!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Proof of Work (PoW) vs Proof of Stake (PoS), Mana Lebih Baik?

    Proof of Work (PoW) dan Proof of Stake (PoS) adalah dua mekanisme konsensus yang paling umum digunakan dalam dunia kripto. Kedua mekanisme ini diadopsi oleh mayoritas kripto utama untuk mengamankan jaringan mereka.

    Proof of Work digunakan oleh Bitcoin untuk memvalidasi transaksi dan menjaga keamanan jaringan. PoW berfungsi untuk mencegah masalah pembelanjaan ganda dalam transaksi. Dalam PoW, peserta yang disebut “miner” menggunakan daya komputasional mereka untuk bersaing memecahkan teka-teki matematis yang kompleks. Miner yang berhasil menemukan solusi akan berhak untuk mengonfirmasi blok baru dan memperbarui blockchain.

    Sebagai imbalan atas usaha mereka, miner yang berhasil akan diberikan hadiah berupa Bitcoin oleh jaringan. Pada bulan Desember 2021, setiap miner berhasil memperoleh hadiah 6,25 BTC ditambah biaya transaksi atas blok yang berhasil mereka mining.

    Perbedaan utama antara PoW dan PoS adalah bagaimana mereka menentukan siapa yang berhak memvalidasi blok transaksi. Proof of Stake adalah alternatif yang populer untuk Proof of Work. PoS adalah mekanisme konsensus yang bertujuan untuk mengatasi beberapa batasan PoW, seperti masalah skalabilitas dan konsumsi daya yang tinggi. Di PoS, peserta disebut “validator”.

    Para validator tidak perlu bersaing menggunakan perangkat keras kuat untuk memvalidasi blok. Sebaliknya, mereka harus “staking” (mengunci) sejumlah kripto asli dari blockchain tersebut. Jaringan kemudian memilih validator berdasarkan jumlah kripto yang di-stake, dan validator terpilih akan diberikan hadiah yang sebanding dengan biaya transaksi dari blok yang berhasil mereka validasi. Semakin banyak koin yang di-stake oleh seorang validator, semakin tinggi peluangnya untuk dipilih sebagai validator.

    Pendahuluan

    Dalam dunia kripto, mekanisme konsensus digunakan untuk memastikan bahwa transaksi yang tercatat dalam blockchain adalah valid dan sah. Salah satu mekanisme konsensus yang pertama dan paling terkenal adalah Proof of Work (PoW), yang pertama kali diperkenalkan oleh Satoshi Nakamoto melalui whitepaper Bitcoin pada tahun 2008. Meskipun PoW telah terbukti aman, muncul mekanisme alternatif yang disebut Proof of Stakes (PoS) untuk mengatasi beberapa masalah yang dihadapi oleh PoW.

    Proof of Work (PoW) dan Cara Kerjanya

    Proof of Work (PoW) adalah algoritme konsensus yang digunakan oleh jaringan Bitcoin dan banyak kripto lainnya untuk mencegah adanya pembelanjaan ganda dalam transaksi. PoW memastikan konsensus di jaringan tanpa memerlukan kepercayaan pada pihak ketiga.

    Dalam jaringan PoW, seperti Bitcoin, transaksi divalidasi oleh para miner. Miner adalah peserta yang menggunakan daya komputasi mereka untuk memastikan keamanan dan konsistensi jaringan. Tugas utama para miner adalah menciptakan dan memvalidasi blok transaksi baru. Namun, untuk mendapatkan kesempatan memvalidasi blok, mereka harus bersaing memecahkan teka-teki matematis yang kompleks menggunakan perangkat keras khusus untuk mining.

    Miner pertama yang berhasil menemukan solusi valid untuk teka-teki tersebut berhak untuk menambahkan blok mereka ke dalam blockchain dan menerima hadiah blok. Hadiah blok terdiri dari kripto baru yang dihasilkan dan biaya transaksi dari blok yang berhasil mereka tambahkan.

    Jumlah hadiah blok bervariasi tergantung pada jaringan yang digunakan. Sebagai contoh, pada bulan Desember 2021, seorang miner di blockchain Bitcoin mendapatkan hadiah 6,25 BTC ditambah biaya transaksi dari setiap blok yang berhasil mereka mining. Namun, jumlah Bitcoin baru yang dihasilkan per blok akan berkurang sebesar 50% setiap 210.000 blok, dalam mekanisme yang dikenal sebagai “halving.”

    Jika Anda ingin memahami lebih mendalam tentang model Proof of Work, silakan baca artikel “Apa Itu Proof of Work (PoW)?

    Proof of Stake (PoS) dan Cara Kerjanya

    Proof of Stake (PoS) adalah mekanisme konsensus yang diperkenalkan sebagai alternatif dari Proof of Work pada tahun 2011. Tujuannya adalah untuk mengatasi batasan skalabilitas yang dihadapi oleh PoW. PoS menjadi salah satu mekanisme konsensus yang paling populer dan digunakan oleh kripto seperti Binance Coin (BNB), Solana (SOL), Cardano (ADA), dan banyak altcoin lainnya. Sebagai contoh, Ethereum juga berencana untuk beralih dari PoW ke PoS.

    Meskipun PoW dan PoS memiliki tujuan yang sama dalam mencapai konsensus di dalam blockchain, PoS memiliki cara yang berbeda dalam menentukan siapa yang berhak memvalidasi blok transaksi. Pada PoS, tidak ada lagi peran “miner”. Para peserta disebut sebagai “validator”.

    Para validator tidak perlu bersaing menggunakan perangkat keras kuat untuk memperebutkan hak memvalidasi blok. Sebaliknya, mereka harus “staking” atau mengunci sejumlah kripto asli dari blockchain tersebut. Proses staking ini memungkinkan validator untuk menjadi kandidat potensial yang dipilih untuk memvalidasi blok berikutnya.

    Seleksi validator dapat dilakukan secara acak atau berdasarkan jumlah kripto yang di-stake oleh masing-masing peserta. Validator yang terpilih akan mendapatkan hadiah berupa biaya transaksi dari blok yang berhasil mereka validasi. Umumnya, semakin banyak koin yang di-stake oleh seorang validator, semakin tinggi peluangnya untuk terpilih.

    Anda dapat membaca lebih lanjut tentang konsep dan implementasi Proof of Stake (PoS) dalam artikel “Penjelasan mengenai Proof of Stake (PoS).”

    Perbedaan Proof of Work dan Proof of Stake

    Proof of Work (PoW) dan Proof of Stake (PoS) adalah dua mekanisme konsensus yang digunakan dalam dunia blockchain untuk memastikan keamanan dan keandalan jaringan. Meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mencapai konsensus dan mengamankan transaksi, terdapat beberapa perbedaan mendasar antara keduanya. Mari kita lihat tabel berikut untuk lebih memahami perbedaan PoW dan PoS:

    Pendukung Proof of Stake berpendapat bahwa PoS memiliki beberapa keunggulan dibandingkan PoW, terutama dalam hal skalabilitas dan kecepatan transaksi. Mereka juga berargumen bahwa PoS lebih ramah lingkungan karena tidak memerlukan sumber daya komputasi yang tinggi seperti PoW.

    Di sisi lain, para pendukung PoW menyatakan bahwa sebagai mekanisme konsensus yang lebih mapan dan telah diuji waktu, PoW telah terbukti menjadi aman dan dapat diandalkan. Mereka juga menyoroti risiko sentralisasi yang dapat terjadi dalam PoS jika ada dominasi dalam kepemilikan kripto.

    Apakah Proof of Stake (PoS) Lebih Unggul daripada Proof of Work (PoW)?

    Pertanyaan mengenai apakah Proof of Stake (PoS) lebih baik daripada Proof of Work (PoW) telah menjadi perdebatan di dalam dunia kripto. Para pendukung PoS menyatakan bahwa PoS memiliki beberapa keunggulan dibandingkan PoW, terutama terkait dengan skalabilitas dan kecepatan transaksi. Mereka juga menyoroti aspek ramah lingkungan dari PoS, yang dianggap lebih sedikit berbahaya terhadap lingkungan daripada PoW.

    Sebaliknya, para pendukung PoW berpendapat bahwa PoS, sebagai mekanisme konsensus yang lebih baru, belum dapat membuktikan potensinya secara menyeluruh dalam hal keamanan jaringan. Mereka menunjukkan bahwa PoW telah terbukti secara efektif mengamankan jaringan blockchain selama bertahun-tahun. Keberhasilan PoW terlihat dalam jaringan Bitcoin, yang menjadi contoh terbesar dari aplikasi PoW dalam dunia kripto.

    Sebagai contoh, Ethereum (ETH) telah memutuskan untuk beralih dari PoW ke PoS dalam pembaruan Ethereum 2.0. Peningkatan ini telah lama ditunggu-tunggu, dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja jaringan Ethereum dan mengatasi masalah skalabilitas yang pernah dihadapinya.

    Dalam implementasi PoS di Ethereum 2.0, setiap individu yang memiliki setidaknya 32 ETH akan berhak berpartisipasi dalam staking dan menjadi validator untuk menerima reward.

    Meskipun PoS memiliki potensi untuk menjadi alternatif yang lebih baik dalam beberapa aspek, pertanyaan tetap muncul: mengapa kripto terbesar kedua dalam hal kapitalisasi pasar, yaitu Ethereum, memutuskan untuk mengadopsi mekanisme konsensus yang baru?

    Risiko Sentralisasi dalam Proof of Work

    Di dalam PoW, mining melibatkan penggunaan daya komputasi untuk melakukan hashing terhadap data blok hingga solusi yang valid ditemukan. Namun, solusi tersebut semakin sulit ditemukan seiring waktu, sehingga menyebabkan biaya operasional yang tinggi terkait dengan perangkat keras dan konsumsi listrik.

    Hal ini menyebabkan beberapa miner memilih untuk menggabungkan sumber daya mining mereka dalam pool mining. Pool mining besar menginvestasikan jutaan dolar dan mengontrol ribuan perangkat keras mining ASIC untuk meningkatkan daya hashing mereka secara efisien.

    Pada bulan Desember 2021, empat pool mining teratas menguasai sekitar 50% daya hashing Bitcoin secara bersamaan. Dominasi ini menyulitkan para individu untuk melakukan mining secara mandiri.

    Permasalahan Desentralisasi

    Meskipun PoW berupaya untuk mempertahankan desentralisasi dalam jaringan, kenyataannya adalah mining telah mengalami penurunan tingkat desentralisasi. Beberapa wilayah, produsen peralatan mining, dan produsen energi tertentu masih mendominasi mining, mengurangi keseluruhan desentralisasi yang diharapkan dari mekanisme konsensus PoW.

    Mekanisme Konsensus Proof of Stake

    Di sisi lain, PoS mengadopsi pendekatan yang berbeda dan menggantikan daya mining dengan staking. Dalam PoS, batasan untuk masuk menjadi validator menjadi lebih rendah, mengurangi tekanan terhadap lokasi, perangkat keras, dan faktor lainnya. Sebagai gantinya, staking ditentukan oleh jumlah token yang dimiliki oleh seorang individu.

    Namun, sebagian besar jaringan PoS memerlukan pengguna untuk menjalankan node validator, yang dapat memerlukan biaya yang signifikan. Meskipun biaya ini mungkin lebih rendah daripada perangkat mining PoW, pengoperasian node validator tidak murah.

    Selain itu, staking dari sejumlah besar pengguna cenderung mengumpulkan di balik validator tertentu, mirip dengan pool mining dalam PoW. Hal ini menyebabkan masalah sentralisasi dalam jaringan PoS.

    Risiko Keamanan dalam Proof of Stake

    Satu risiko keamanan yang dihadapi oleh PoW adalah serangan 51%, di mana seorang penyerang mengendalikan lebih dari 50% total daya hashing jaringan. Dengan menguasai mayoritas daya hashing, penyerang dapat memanipulasi transaksi atau melakukan tindakan jahat lainnya.

    Namun, PoS menghadapi risiko serupa, yaitu serangan 51%. Namun, dalam PoS, serangan seperti ini akan mempengaruhi nilai koin yang dimiliki oleh penyerang, mengurangi motivasi untuk melancarkan serangan.

    Kelemahan Proof of Stake (PoS)

    Meskipun Proof of Stake sering dianggap sebagai alternatif yang lebih baik daripada Proof of Work, perlu diakui bahwa ada kekurangan dalam algoritme PoS. Salah satunya adalah mekanisme distribusi reward, di mana validator dengan jumlah aset yang lebih besar yang dimasukkan ke dalam staking memiliki kesempatan lebih tinggi untuk memvalidasi blok berikutnya.

    Semakin banyak koin yang diakumulasi oleh seorang validator, semakin besar pula kesempatan mereka untuk mendapatkan reward melalui proses staking. Kritikus menganggap ini sebagai “membuat orang kaya semakin kaya”. Selain itu, validator yang memiliki lebih banyak aset juga dapat memengaruhi voting di jaringan karena sering kali blockchain PoS memberikan hak tata kelola validator.

    Terdapat kekhawatiran lain mengenai risiko keamanan, terutama bagi kripto dengan kapitalisasi pasar yang lebih kecil yang mengadopsi PoS. Seperti yang telah dijelaskan, serangan 51% hampir tidak mungkin terjadi pada kripto yang lebih populer seperti ETH atau BNB. Namun, aset digital dengan nilai yang lebih rendah cenderung lebih rentan terhadap serangan.

    Penyerang berpotensi untuk memperoleh koin yang cukup untuk mengungguli validator lain. Mereka dapat memanfaatkan sistem PoS dengan sering menjadi validator yang dipilih. Kemudian, reward yang mereka peroleh dapat digunakan untuk staking lebih lanjut, meningkatkan peluang mereka untuk dipilih kembali di ronde berikutnya.

    Kesimpulan

    Proof of Work dan Proof of Stake memiliki tempatnya masing-masing dalam ekosistem kripto. Sulit untuk dengan pasti menentukan protokol konsensus mana yang lebih unggul. 

    PoW mungkin mendapat kritik karena menghasilkan emisi karbon tinggi selama proses mining, tetapi secara efektif telah membuktikan dirinya sebagai algoritme yang aman untuk melindungi jaringan blockchain. Sementara itu, dengan pergeseran Ethereum dari PoW ke PoS, Proof of Stake dapat menjadi lebih disukai oleh proyek-proyek baru di masa depan.

    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Penjelasan Tentang Delegated Proof of Stake (DPoS)

    Banyak orang menganggap algoritme konsensus Delegated Proof of Stake (DPoS) sebagai versi yang lebih efisien dan demokratis dari mekanisme Proof of Stake (PoS).

    Baik PoS maupun DPoS digunakan sebagai alternatif dari algoritme konsensus Proof of Work (PoW), karena sistem PoW membutuhkan banyak sumber daya eksternal. Algoritme Proof of Work menggunakan sejumlah besar komputasi untuk mengamankan buku besar terdistribusi yang bersifat permanen, terdesentralisasi, dan transparan.

    Di sisi lain, PoS dan DPoS membutuhkan sumber daya yang lebih sedikit dan dirancang untuk menjadi lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Untuk memahami bagaimana Delegated Proof of Stake bekerja, kita perlu memahami dasar-dasar algoritme Proof of Work dan Proof of Stake yang mendahuluinya.

    Proof of Work (PoW)

    Sebagian besar mata uang kripto beroperasi menggunakan buku besar terdistribusi yang disebut blockchain, dan Proof of Work adalah algoritme konsensus pertama yang digunakan. PoW menjadi komponen inti dari protokol Bitcoin yang bertanggung jawab dalam menciptakan blok baru dan menjaga keamanan jaringan (melalui proses penambangan). Bitcoin diusulkan sebagai alternatif untuk sistem moneter global yang terpusat dan tidak efisien.

    PoW memperkenalkan protokol konsensus yang memungkinkan transaksi keuangan yang tidak memerlukan otoritas pusat. PoW menyediakan solusi pembayaran terdesentralisasi secara real-time dalam jaringan ekonomi peer-to-peer, menghilangkan kebutuhan untuk pihak perantara dan mengurangi biaya transaksi secara keseluruhan.

    Dalam sistem PoW, terdapat berbagai jenis node, dan penambangan dilakukan oleh jaringan node yang menggunakan perangkat keras khusus (ASIC) untuk memecahkan masalah kriptografi yang rumit. Blok baru rata-rata ditambang setiap 10 menit. Seorang penambang hanya dapat menambahkan blok baru ke blockchain jika berhasil menemukan solusi untuk blok tersebut.

    Dengan kata lain, seorang penambang hanya dapat melakukannya setelah menyelesaikan proof of work. Sebagai imbalannya, penambang akan menerima imbalan berupa koin baru yang dibuat dan semua biaya transaksi untuk blok tersebut. Namun, proses ini membutuhkan biaya yang tinggi karena konsumsi energi yang besar dan biaya perangkat keras ASIC yang mahal.

    Ilustrasi Proof of Work.
    Ilustrasi Proof of Work.

    Selain tantangan pengelolaan sistem, penerapan sistem PoW masih dipertanyakan, terutama dalam hal skalabilitas (batasan jumlah transaksi per detik). Namun, blockchain PoW dianggap sebagai yang paling aman dan andal, dan tetap menjadi standar untuk solusi toleransi kesalahan.

    Proof of Stake (PoS)

    Algoritme konsensus Proof of Stake adalah alternatif yang lebih umum dari Proof of Work. Sistem PoS dirancang untuk mengatasi beberapa ketidakefisienan dan masalah yang sering muncul dalam blockchain berbasis PoW. PoS khususnya mengatasi biaya yang terkait dengan penambangan PoW, seperti konsumsi energi dan perangkat keras yang mahal.

    Pada dasarnya, blockchain Proof of Stake diamankan secara deterministik. Tidak ada penambangan dalam sistem ini, dan validasi blok baru tergantung pada jumlah koin yang di-stake. Semakin banyak koin yang di-stake oleh seseorang, semakin tinggi peluangnya untuk terpilih sebagai validator blok (juga disebut minter atau forger).

    Sistem PoS mengandalkan investasi internal (mata uang kripto itu sendiri) untuk menjaga keamanan jaringan, berbeda dengan PoW yang mengandalkan investasi eksternal (konsumsi energi dan perangkat keras).

    Selain itu, sistem PoS membuat serangan terhadap blockchain menjadi lebih mahal, karena serangan yang berhasil memerlukan kepemilikan setidaknya 51% dari total koin yang ada. Serangan yang gagal akan menyebabkan kerugian yang sangat besar. Meskipun PoS memiliki keunggulan dan banyak pendukung, sistem ini masih dalam tahap awal dan belum diuji pada skala yang lebih besar.

    Delegated Proof of Stake (DPoS)

    Algoritma konsensus Delegated Proof of Stake (DPoS) dikembangkan oleh Daniel Larimer pada tahun 2014. Beberapa proyek mata uang kripto seperti Bitshares, Steem, Ark, dan Lisk menggunakan algoritma konsensus DPoS.

    Blockchain berbasis DPoS beroperasi dengan sistem pemungutan suara. Para pemangku kepentingan mendelelegasikan tugas mereka kepada pihak ketiga, yang berarti mereka dapat memilih beberapa delegasi untuk mengamankan jaringan atas nama mereka. Delegasi ini juga dikenal sebagai saksi, yang bertanggung jawab dalam mencapai konsensus saat pembuatan dan validasi blok baru.

    Kekuatan suara dalam pemungutan suara berbanding lurus dengan jumlah koin yang dimiliki oleh setiap pengguna. Sistem pemungutan suara dapat berbeda antara proyek yang satu dengan yang lain, tetapi umumnya setiap delegasi menyajikan proposal terpisah untuk dipilih. Imbalan yang dikumpulkan oleh delegasi dibagi secara proporsional kepada pemilih mereka masing-masing.

    Dengan demikian, algoritma DPoS menciptakan sistem pemungutan suara yang bergantung pada reputasi delegasi. Jika node yang terpilih berperilaku buruk atau tidak bekerja secara efisien, mereka akan diganti dengan node lainnya.

    Dalam hal kinerja, blockchain DPoS lebih mudah diskalakan karena mampu memproses jumlah transaksi per detik (TPS) yang lebih tinggi dibandingkan PoW dan PoS.

    Ilustrasi Proof of Stake.
    Ilustrasi Proof of Stake.

    DPoS vs PoS

    Meskipun PoS dan DPoS memiliki kesamaan dalam hal kepemilikan, DPoS membawa inovasi sistem pemungutan suara demokratis yang digunakan untuk memilih produsen blok. Karena sistem DPoS dikelola oleh pemilih, delegasi didorong untuk bertindak secara jujur dan efisien, jika tidak, mereka akan dipecat. Selain itu, blockchain DPoS cenderung lebih cepat dalam hal TPS dibandingkan PoS.

    DPoS vs PoW

    PoS berusaha mengatasi kelemahan PoW, sementara DPoS berusaha menyederhanakan proses produksi blok. Oleh karena itu, sistem DPoS mampu memproses jumlah transaksi blockchain yang lebih banyak dengan cepat. Saat ini, DPoS tidak digunakan dengan cara yang sama seperti PoW atau PoS, karena PoW masih dianggap sebagai algoritma konsensus yang paling aman. Akibatnya, sebagian besar transaksi menggunakan PoW.

    PoS lebih cepat daripada PoW dan memiliki potensi penggunaan yang lebih luas. DPoS membatasi penggunaan staking pada pemilihan produsen blok. Berbeda dengan sistem PoS yang kompetitif, produksi blok dalam DPoS sudah ditentukan sebelumnya. Setiap saksi bergantian memproduksi blok. Beberapa berpendapat bahwa DPoS seharusnya dianggap sebagai sistem Proof of Authority (PoA).

    DPoS berbeda secara signifikan dari PoW dan bahkan PoS. Kombinasi pemungutan suara pemangku kepentingan berfungsi sebagai cara untuk menentukan dan memberikan insentif kepada delegasi yang jujur dan efisien. Namun, produksi blok sebenarnya cukup berbeda dari sistem PoS. Pada sebagian besar kasus, sistem ini memberikan kinerja yang lebih tinggi dalam hal TPS.

    Kesimpulan

    Delegated Proof of Stake (DPoS) adalah algoritma konsensus yang dianggap lebih efisien dan demokratis dibandingkan Proof of Stake (PoS). DPoS menggunakan sistem pemungutan suara yang melibatkan delegasi yang dipilih oleh pemangku kepentingan untuk mengamankan jaringan. 

    Reputasi delegasi sangat penting dalam sistem DPoS karena mereka dapat digantikan jika berperilaku buruk. Blockchain DPoS memiliki kinerja yang lebih tinggi dalam hal transaksi per detik (TPS) dibandingkan PoW dan PoS.

    DPoS memiliki perbedaan signifikan dengan PoW dan PoS. DPoS menghadirkan sistem pemungutan suara demokratis untuk memilih produsen blok, sementara PoS hanya menggunakan staking koin sebagai dasar validasi. PoW masih dianggap sebagai algoritma konsensus yang paling aman. 

    DPoS punya potensi penggunaan yang lebih luas daripada PoW dan PoS karena dapat memproses lebih banyak transaksi dengan cepat. Namun, DPoS masih dalam tahap awal pengembangan dan belum diuji pada skala yang lebih besar.

    Secara keseluruhan, DPoS adalah langkah maju dalam menciptakan sistem konsensus yang efisien dan demokratis. Dengan menggunakan sistem pemungutan suara dan delegasi, DPoS mampu meningkatkan kinerja jaringan blockchain dan mengurangi biaya yang terkait dengan PoW. Meskipun masih ada tantangan dan pengujian yang perlu dilakukan, DPoS memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu algoritma konsensus yang dominan di masa depan.

    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Algoritma Konsensus: Pengertian dan Jenis-Jenisnya

    Algoritma konsensus adalah mekanisme yang memungkinkan pengguna atau mesin untuk berkoordinasi dalam lingkungan terdistribusi. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa semua pihak dalam sistem dapat mencapai suatu kebenaran tunggal (single source of truth), meskipun beberapa pihak mengalami kegagalan.

    Dengan kata lain, sistem harus memiliki toleransi terhadap kesalahan (fault-tolerant).

    Dalam lingkungan yang terpusat, satu entitas memiliki kekuasaan atas sistem tersebut. Dalam kebanyakan kasus, entitas tersebut dapat melakukan perubahan sesuai keinginannya – tidak ada proses pengambilan keputusan yang rumit untuk mencapai konsensus di antara banyak administrator.

    Namun, dalam lingkungan terdesentralisasi, situasinya berbeda. Misalkan kita bekerja dengan sebuah database terdistribusi – bagaimana cara kita mencapai kesepakatan tentang entri-entri apa yang dapat ditambahkan?

    Mengatasi tantangan ini, terutama dalam lingkungan di mana entitas-entitas yang saling tidak percaya satu sama lain, telah menjadi perkembangan yang sangat penting yang membuka jalan bagi teknologi blockchain.

    Dalam artikel ini, kita akan melihat betapa pentingnya algoritma konsensus dalam aset kripto dan teknologi buku besar terdistribusi (ledger).

    Algoritma Konsensus dan Aset Kripto

    Dalam kripto, saldo pengguna dicatat dalam sebuah database yang disebut blockchain. Sangat penting bahwa setiap orang (atau lebih tepatnya, setiap node) memiliki salinan database yang identik.

    Jika tidak, akan ada informasi yang saling bertentangan, yang dapat merusak tujuan utama jaringan kripto.

    Teknologi kriptografi kunci publik (public-key) memastikan bahwa pengguna tidak dapat menghabiskan koin yang dimiliki oleh orang lain.

    Namun, tetap diperlukan adanya sumber kebenaran tunggal yang dapat dipercaya oleh semua peserta jaringan, sehingga mereka dapat menentukan apakah suatu transaksi telah terjadi.

    Satoshi Nakamoto, pencipta Bitcoin, mengusulkan sistem Proof of Work (PoW) untuk mengoordinasikan para peserta. Cara kerja PoW akan kita bahas sebentar lagi – untuk saat ini, mari kita identifikasi beberapa karakteristik umum dari berbagai algoritma konsensus yang ada.

    Pertama-tama, pengguna yang ingin menambahkan blok (disebut sebagai validator) harus menyediakan suatu jaminan (stake).

    Jaminan ini berupa nilai yang harus diserahkan oleh validator sebelumnya, yang bertujuan untuk mencegah tindakan kecurangan.

    Jika seorang validator mencoba melakukan kecurangan, maka ia akan kehilangan jaminan tersebut. Selain kerugian tersebut, validator juga dapat kehilangan daya komputasi, aset kripto, atau bahkan reputasi mereka dengan percuma.

    Mengapa validator begitu berani mempertaruhkan sumber daya mereka sendiri? Nah, hal ini dikarenakan adanya imbalan (reward) yang tersedia.

    Reward ini biasanya terdiri dari aset kripto asli dari protokol itu sendiri, yang berasal dari biaya yang dibayarkan oleh pengguna lain, atau dari unit kripto yang baru diterbitkan, atau bahkan keduanya.

    Terakhir, kita perlu adanya transparansi. Kita harus dapat mendeteksi ketika seseorang melakukan kecurangan.

    Idealnya, proses pembuatan blok harus mahal bagi pengguna, tetapi murah bagi siapa pun untuk memvalidasinya. Cara ini akan memastikan bahwa validator tetap diawasi oleh pengguna-pengguna biasa.

    Jenis-jenis Algoritma Konsensus

    Proof of Work (PoW)

    Proof of Work (PoW) dapat dianggap sebagai tokoh utama dalam algoritma konsensus blockchain. Meskipun pertama kali diterapkan dalam Bitcoin, konsep ini telah ada selama beberapa waktu.

    Dalam PoW, validator (yang disebut penambang) melakukan hash terhadap data yang ingin mereka tambahkan, hingga mereka menemukan solusi yang tepat.

    Hash adalah serangkaian karakter acak yang dihasilkan saat data dijalankan melalui fungsi hash. Namun, jika data yang sama dijalankan melalui fungsi tersebut, output yang dihasilkan akan selalu sama. Jika ada sedikit perubahan pada data, hash yang dihasilkan akan sangat berbeda.

    Melihat output hash, tidak mungkin mengetahui informasi apa yang dimasukkan ke dalam fungsi tersebut. Oleh karena itu, fungsi hash berguna untuk membuktikan bahwa Anda memiliki akses ke data sebelum waktu tertentu.

    Anda dapat memberikan hash suatu data kepada seseorang, dan ketika Anda kemudian mengungkapkan datanya, orang tersebut dapat menjalankannya melalui fungsi hash untuk memastikan bahwa outputnya sama.

    Dalam PoW, protokol menetapkan persyaratan agar sebuah blok dianggap valid. Misalnya, hanya blok yang memiliki hash yang dimulai dengan 00 yang dianggap valid. Satu-satunya cara bagi penambang untuk mencapai hasil tersebut adalah dengan mencoba sebanyak mungkin kombinasi input.

    Mereka dapat mengubah parameter dalam data untuk menghasilkan output yang berbeda setiap kali mencoba, hingga mereka menemukan hash yang tepat.

    Dalam blockchain yang besar, persaingan di antara penambang menjadi sangat ketat. Untuk bersaing dengan penambang lainnya, Anda memerlukan gudang perangkat keras hashing khusus (ASIC) agar dapat menghasilkan blok yang valid.

    Saat melakukan penambangan, “stake” Anda adalah biaya perangkat keras hashing dan konsumsi listrik yang diperlukan.

    ASIC dibangun hanya untuk satu tujuan, sehingga perangkat ini tidak berguna di luar aktivitas penambangan aset kripto.

    Satu-satunya cara untuk mendapatkan pengembalian investasi awal adalah melalui penambangan yang berhasil, yang akan menghasilkan reward yang signifikan jika Anda berhasil menambahkan blok baru ke blockchain.

    Proses verifikasi blok yang telah Anda buat sangat mudah bagi jaringan. Meskipun Anda telah mencoba triliunan kombinasi untuk mencapai hash yang tepat, jaringan hanya perlu menjalankan data Anda sekali melalui fungsi hash.

    Jika hash yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan, data tersebut akan diterima, dan Anda akan menerima reward. Jika tidak, jaringan akan menolaknya, dan waktu serta listrik yang Anda habiskan akan sia-sia.

    Proof of Stake (PoS)

    Proof of Stake (PoS) diajukan sebagai alternatif untuk Proof of Work pada awal perkembangan Bitcoin. Dalam sistem PoS, tidak ada konsep penambang, perangkat keras khusus, atau konsumsi energi yang besar. Yang Anda butuhkan hanyalah komputer biasa.

    Namun, Anda masih perlu memberikan sesuatu. Dalam PoS, Anda tidak mengorbankan sumber daya eksternal seperti listrik atau perangkat keras, tetapi sumber daya internal yaitu kripto itu sendiri.

    Aturan-aturan yang berlaku dapat berbeda di setiap protokol, tetapi umumnya ada jumlah minimum dana yang harus Anda kunci sebagai staking.

    Anda akan mengunci sejumlah dana di dalam wallet (yang tidak dapat dipindahkan selama proses staking). Biasanya, Anda akan sepakat dengan validator lain mengenai transaksi mana yang akan dimasukkan ke dalam blok berikutnya. Ini dapat dianggap sebagai Anda bertaruh pada blok yang akan dipilih oleh protokol.

    Jika blok Anda terpilih, Anda akan menerima sebagian dari biaya transaksi, tergantung pada jumlah staking yang Anda miliki.

    Semakin besar jumlah dana yang Anda kunci, semakin besar keuntungan yang Anda dapatkan.

    Namun, jika Anda mencoba melakukan kecurangan dengan mengajukan transaksi yang tidak valid, Anda akan kehilangan sebagian atau seluruh dana yang Anda kunci.

    Oleh karena itu, mekanisme ini mirip dengan PoW, di mana bertindak jujur lebih menguntungkan daripada mencoba melakukan kecurangan.

    Umumnya, tidak ada koin baru yang dihasilkan sebagai reward bagi validator dalam PoS. Mata uang asli blockchain harus didistribusikan melalui cara lain, seperti penjualan awal (ICO atau IEO), atau melalui peluncuran protokol dengan PoW yang kemudian beralih ke PoS.

    Sampai saat ini, Proof of Stake hanya digunakan dalam aset kripto dengan skala kecil. Oleh karena itu, belum jelas apakah sistem ini dapat menjadi alternatif yang layak. Meskipun secara teoritis tampak masuk akal, implementasinya dapat sangat berbeda dalam praktiknya.

    PoS akan segera diuji dalam skala yang besar, di mana Casper akan diimplementasikan sebagai bagian dari serangkaian peningkatan pada jaringan Ethereum (dikenal sebagai Ethereum 2.0).

    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai PoS, bisa baca artikel “Apa Itu Proof of Stake (PoS).”

    Algoritme Konsensus Lainnya

    Proof of Work (PoW) dan Proof of Stake (PoS) telah menjadi perbincangan yang paling luas dalam konteks algoritma konsensus. Namun, ada berbagai variasi algoritma konsensus lainnya yang juga patut diperhatikan. Setiap varian memiliki kelebihan dan kekurangan uniknya sendiri.

    Berikut adalah beberapa algoritma konsensus lainnya yang layak untuk disebut:

    Delegated Proof of Stake (DPoS)

    DPoS adalah varian dari PoS di mana pemegang token memiliki hak untuk memilih sekelompok validator yang akan bertindak atas nama mereka. Validator yang dipilih ini akan bertanggung jawab untuk menghasilkan blok dan mengamankan jaringan.

    Keuntungan dari DPoS adalah kecepatan transaksi yang lebih tinggi dan pengambilan keputusan yang lebih efisien, tetapi kelemahannya adalah terdapat potensi terpusatnya kekuasaan pada pemilik token terbesar.

    Practical Byzantine Fault Tolerance (PBFT)

    PBFT adalah algoritma konsensus yang dirancang untuk jaringan terdistribusi dengan kecilnya jumlah node. PBFT memerlukan mayoritas node yang jujur dan dapat diandalkan untuk mencapai konsensus. Setiap node memiliki peran sebagai pemimpin (leader) yang menginisiasi pemilihan blok dan node pelanggan (follower) yang menyetujui blok tersebut. PBFT memiliki kecepatan transaksi yang tinggi, tetapi memerlukan kepercayaan pada mayoritas node yang jujur.

    Proof of Elapsed Time (PoET)

    PoET adalah algoritma konsensus yang dikembangkan oleh Intel. Dalam PoET, setiap node di jaringan bersaing untuk mendapatkan izin untuk menghasilkan blok berdasarkan waktu yang terlewati.

    Node yang memenangkan izin akan tidur untuk jangka waktu yang ditentukan sebelum dapat menghasilkan blok berikutnya. Kelebihan dari PoET adalah penghematan energi yang signifikan, tetapi kekurangannya adalah ketergantungan pada kepercayaan pada pihak yang mengatur waktu dalam jaringan.

    Proof of Authority (PoA)

    PoA adalah algoritma konsensus di mana identitas dan otoritas validator yang terkait dengan entitas yang terpercaya.

    Dalam PoA, validator yang sudah ditentukan memiliki hak untuk menghasilkan blok. Keuntungan dari PoA adalah kecepatan transaksi yang tinggi dan pengambilan keputusan yang efisien, tetapi kelemahannya adalah terdapat risiko terpusatnya kekuasaan pada validator yang dipilih.

    Proof of Capacity (PoC)

    PoC adalah algoritma konsensus di mana validasi blok didasarkan pada penggunaan ruang penyimpanan yang tersedia di setiap node.

    Node-node dalam jaringan menggunakan ruang penyimpanan mereka untuk memecahkan teka-teki matematika dan menghasilkan bukti kapasitas. Keuntungan dari PoC adalah efisiensi energi yang tinggi, tetapi kekurangannya adalah ketergantungan pada penyimpanan fisik yang tersedia pada setiap node.

    Setiap algoritma konsensus memiliki trade-off dan cocok untuk situasi-situasi tertentu. Pilihan algoritma konsensus yang tepat akan bergantung pada kebutuhan, tujuan, dan karakteristik dari jaringan yang ingin dibangun.

    Kesimpulan

    Mekanisme pencapaian konsensus memainkan peran yang sangat penting dalam keberhasilan sistem terdistribusi. Banyak yang meyakini bahwa inovasi terbesar dari Bitcoin adalah penggunaan Proof of Work (PoW), yang memungkinkan pengguna untuk mencapai persetujuan tentang kebenaran bersama.

    Algoritma konsensus saat ini tidak hanya mendukung sistem uang digital, tetapi juga teknologi blockchain yang memungkinkan pengembang untuk menjalankan kode di lingkungan terdistribusi. Algoritma ini telah menjadi pondasi utama bagi perkembangan teknologi blockchain, yang sangat krusial bagi keberlanjutan berbagai jaringan yang ada.

    Dari semua algoritma konsensus yang ada, Proof of Work masih mendominasi. Saat ini belum ada alternatif yang diusulkan yang dapat menandingi keandalan dan keamanan PoW. Namun, penelitian dan pengembangan yang luas sedang dilakukan untuk mencari pengganti PoW, dan kemungkinan besar kita akan melihat munculnya lebih banyak opsi dalam beberapa tahun mendatang.

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa itu Proof of Stake? Cara Kerja, Manfaat, Kekurangan dan Kelebihan

    Proof of Stake (PoS) adalah salah satu mekanisme konsensus yang semakin populer sebagai alternatif dari Proof of Work (PoW) dalam dunia blockchain.

    Dalam PoS, para validator tidak perlu menggunakan daya komputasi tinggi untuk memvalidasi transaksi, namun mereka harus melakukan staking atau mengunci sejumlah koin sebagai syarat partisipasi.

    Hal ini secara signifikan mengurangi konsumsi energi yang dibutuhkan. Selain itu, PoS juga meningkatkan desentralisasi, keamanan, dan skalabilitas blockchain.

    Meskipun demikian, PoS memiliki beberapa tantangan, seperti kurangnya aksesibilitas tanpa kepemilikan kripto.

    Selain itu, blockchain dengan kapitalisasi pasar yang rendah rentan terhadap serangan 51%. Oleh karena itu, PoS memiliki variasi-variasi yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan berbagai blockchain dan kasus penggunaan.

    Sejauh ini, PoS menjadi pilihan yang paling populer untuk jaringan blockchain saat ini. Meskipun ada banyak variasi, memahami konsep inti PoS menjadi tantangan tersendiri.

    Meskipun bentuk aslinya mungkin tidak terlihat secara langsung, semua jenis PoS memiliki prinsip dasar yang sama. Memahami kesamaan tersebut akan membantu pengguna untuk membuat keputusan yang lebih baik terkait penggunaan dan pengoperasian blockchain.

    Apa Arti dari Proof of Stake?

    Proof of Stake adalah algoritme konsensus yang diperkenalkan pada tahun 2011 melalui forum Bitcointalk. Algoritme ini diusulkan sebagai solusi atas masalah PoW. PoS tidak memerlukan bukti berupa daya komputasi tinggi, melainkan peserta hanya perlu membuktikan bahwa mereka telah melakukan staking koin. Meskipun PoS dan PoW memiliki tujuan yang sama, yaitu mencapai konsensus dalam blockchain, cara kerjanya memiliki perbedaan yang signifikan.

    Bagaimana PoS Bekerja?

    Algoritme Proof of Stake menggunakan proses pemilihan pseudo-random untuk memilih validator dari sekelompok node. Pemilihan ini melibatkan kombinasi beberapa faktor, termasuk usia staking, elemen pengacakan, dan jumlah kekayaan yang dimiliki oleh masing-masing node.

    Dalam PoS, blok bukan lagi ditambang (mined) seperti dalam PoW, namun melalui proses “forging”. Meskipun istilah “mining” masih sering digunakan secara umum.

    Sebagian besar kripto yang menggunakan PoS diluncurkan dengan pasokan koin “pra-forging” agar para node dapat memulai staking segera setelah diluncurkan.

    Para pengguna yang berpartisipasi dalam proses forging harus mengunci sejumlah koin dalam jaringan sebagai staking. Besar staking yang dilakukan akan menentukan peluang node untuk dipilih sebagai validator berikutnya.

    Semakin besar jumlah staking, semakin besar peluangnya.

    Untuk menghindari dominasi oleh node dengan kekayaan yang besar, metode unik diterapkan dalam pemilihan, sehingga tidak hanya node dengan kekayaan terbesar yang dipilih. Dua metode yang umum digunakan adalah Pemilihan Blok Acak (Random Block Selection) dan Pemilihan Usia Koin (Coin Age Selection).

    Pemilihan blok acak

    Dalam metode Pemilihan Blok Acak, validator dipilih dengan mencari node yang memiliki kombinasi nilai hash terendah dan jumlah staking tertinggi. Karena informasi tentang jumlah staking bersifat publik, node lain dapat memprediksi node mana yang akan menjadi forger berikutnya.

    Pemilihan usia koin

    Metode Pemilihan Usia Koin memilih node berdasarkan usia koin yang telah masuk ke dalam staking. Usia koin dihitung dengan menggandakan jumlah hari koin tersebut berada dalam staking dengan jumlah koin yang telah masuk staking.

    Setelah node berhasil melakukan forging blok, usia koin akan direset menjadi nol, dan node harus menunggu dalam jangka waktu tertentu sebelum dapat melakukan forging blok lagi. Hal ini bertujuan untuk mencegah node dengan jumlah staking yang besar menguasai blockchain.

    Validasi transaksi

    Setiap kripto yang menggunakan PoS memiliki aturan dan metode sendiri yang dianggap sebagai kombinasi terbaik untuk jaringan dan pengguna.

    Ketika terpilih untuk melakukan forging blok berikutnya, node akan memastikan bahwa transaksi dalam blok tersebut valid. Node tersebut akan menandatangani blok dan menambahkannya ke dalam blockchain. Sebagai imbalan, node akan menerima biaya transaksi dari blok tersebut dan, dalam beberapa blockchain, juga mendapatkan reward berupa koin.

    Jika seorang node ingin berhenti menjadi forger, staking dan reward yang diperolehnya akan dilepaskan setelah jangka waktu tertentu.

    Hal ini memberikan waktu bagi jaringan untuk memastikan tidak ada blok yang ditambahkan oleh node tersebut yang merupakan blok palsu atau mencurigakan.

    Prediksi Harga BNB-Tokocrypto
    Ilustrasi aset kripto BNB.

    Daftar Blockchain yang Menggunakan Proof of Stake

    Banyak blockchain pasca-Ethereum yang menggunakan mekanisme konsensus Proof of Stake atau variasinya. Berikut ini beberapa contohnya:

    1. Binance Smart Chain (BSC)
    2. Cardano (ADA)
    3. Polkadot (DOT)
    4. Avalanche (AVAX)
    5. Solana (SOL)
    6. Tezos (XTZ)
    7. Cosmos (ATOM)
    8. Ethereum (ETH)

    Keunggulan Proof of Stake

    Proof of Stake memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan Proof of Work, yang menjadikannya pilihan utama untuk banyak blockchain. Beberapa keunggulannya antara lain:

    1. Efisiensi energi yang lebih tinggi

    Proof of Stake mengurangi konsumsi energi yang diperlukan untuk menjalankan jaringan blockchain, karena tidak ada kebutuhan untuk melakukan penambangan dengan perangkat keras khusus.

    2. Skalabilitas yang lebih baik

    Dengan Proof of Stake, penambahan validator baru ke jaringan menjadi lebih mudah dan murah, memungkinkan skalabilitas yang lebih baik seiring pertumbuhan jaringan.

    Keamanan yang lebih tinggi: Staking dalam Proof of Stake memberikan insentif finansial bagi validator untuk memproses transaksi dengan jujur ​​dan tidak memproses transaksi palsu. Serangan 51% juga lebih sulit dilakukan karena melibatkan kepemilikan mayoritas pasokan koin.

    3. Desentralisasi yang lebih besar

    Proof of Stake memungkinkan partisipasi yang lebih luas dalam validasi transaksi, sehingga meningkatkan desentralisasi jaringan.

    Kelemahan Proof of Stake

    Meskipun memiliki banyak keunggulan, Proof of Stake juga memiliki beberapa tantangan yang harus diatasi:

    1. Kekayaan dan aksesibilitas

    Untuk berpartisipasi dalam staking, pengguna harus memiliki jumlah koin yang cukup dan akses ke blockchain tersebut. Hal ini dapat menjadi hambatan bagi mereka yang tidak memiliki ketersediaan dana yang cukup atau kesulitan dalam mengakses kripto tersebut.

    2. Keamanan serangan 51% yang lebih mudah

    Dalam Proof of Stake, serangan 51% menjadi lebih mudah dilakukan jika harga koin turun atau jika blockchain memiliki kapitalisasi pasar yang rendah. Oleh karena itu, upaya perlindungan terhadap serangan semacam itu sangat penting.

    3. Masalah fork

    Proof of Stake juga rentan terhadap risiko fork ganda, di mana orang dapat melakukan staking pada kedua sisi fork. Hal ini dapat menyebabkan ketidakstabilan dalam jaringan.

    Meskipun Proof of Stake memiliki beberapa tantangan, inovasi dan penelitian terus dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Seiring dengan perkembangan teknologi blockchain, kemungkinan adopsi dan perkembangan Proof of Stake akan terus meningkat.

    perbedaan proof of stake dan proof of work, apa saja?
    Perbedaan proof of stake dan proof of work, apa saja?

    Proof of Work vs Proof of Stake

    Jika kita membandingkan kedua mekanisme konsensus ini, terdapat beberapa perbedaan utama.

    Namun, terdapat beragam mekanisme Proof of Stake di berbagai blockchain. Kebanyakan perbedaannya akan bergantung pada mekanisme yang digunakan. Beberapa perbedaan utama antara Proof of Work dan Proof of Stake.

    1. Konsumsi Energi

    Salah satu perbedaan utama antara Proof of Work dan Proof of Stake adalah dalam hal konsumsi energi. Proof of Work memerlukan daya komputasi yang tinggi untuk menyelesaikan algoritme kriptografis yang rumit.

    Hal ini menghasilkan penggunaan energi yang sangat besar, terutama dalam kasus blockchain besar seperti Bitcoin. Di sisi lain, Proof of Stake mengurangi konsumsi energi dengan mengandalkan staking koin sebagai syarat partisipasi, tanpa memerlukan perangkat keras khusus.

    2. Keamanan

    Meskipun Proof of Work telah terbukti aman selama bertahun-tahun, Proof of Stake juga menawarkan keamanan yang tinggi.

    Dalam Proof of Work, serangan 51% dapat terjadi jika penambang memiliki lebih dari 50% kekuatan komputasi jaringan. Namun, dalam PoS, serangan serupa akan memerlukan kepemilikan mayoritas pasokan koin dalam jaringan.

    Selain itu, mekanisme tambahan seperti pemilihan acak validator dan penalitas finansial bagi pelanggaran aturan meningkatkan keamanan jaringan.

    3. Desentralisasi

    Proof of Stake mendorong desentralisasi yang lebih besar daripada Proof of Work. Dalam Proof of Work, penambangan yang efisien biasanya membutuhkan peralatan khusus yang mahal. Ini dapat mengarah pada sentralisasi kekuatan penambang di tangan beberapa pemain besar.

    Dalam PoS, individu dengan jumlah staking yang lebih besar memiliki peluang yang lebih tinggi untuk menjadi validator. Ini mengurangi kecenderungan sentralisasi dan mendorong partisipasi yang lebih luas.

    4. Skalabilitas

    Proof of Stake cenderung lebih mudah diskalakan daripada Proof of Work. Dalam Proof of Work, semakin banyak penambang yang terlibat, semakin sulit dan memakan waktu untuk menyelesaikan algoritme kriptografis.

    Dalam PoS, penambahan validator baru dapat dilakukan dengan biaya yang lebih rendah dan lebih cepat. Ini memungkinkan jaringan untuk skalabilitas yang lebih baik dengan meningkatkan kecepatan verifikasi transaksi.

    5. Pemilihan mekanisme Proof of Stake yang berbeda

    Setiap blockchain yang menggunakan Proof of Stake memiliki variasi mekanisme sendiri untuk mencapai konsensus. Misalnya, beberapa blockchain menggunakan kombinasi pemilihan acak dan pemilihan usia koin untuk memilih validator, sedangkan yang lain menggunakan metode lain yang unik.

    Pilihan mekanisme PoS yang berbeda ini bergantung pada kebutuhan khusus jaringan dan tujuan yang ingin dicapai. Setiap mekanisme memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri dalam hal efisiensi, keamanan, desentralisasi, dan skalabilitas.

    6. Pengembangan dan penelitian yang terus berkembang

    Seiring dengan perkembangan industri blockchain, pengembangan dan penelitian terus dilakukan untuk meningkatkan mekanisme Proof of Stake dan mengatasi tantangan yang ada.

    Banyak proyek blockchain terus berinovasi dan mengadopsi variasi PoS yang baru untuk meningkatkan kinerja dan keamanan jaringan mereka.

    Beragam Mekanisme Konsensus Proof of Stake

    Proof of Stake (PoS) merupakan mekanisme konsensus yang sangat fleksibel. Para pengembang dapat mengadaptasi mekanisme ini sesuai dengan kebutuhan khusus dari suatu blockchain. Berikut ini beberapa contoh mekanisme PoS yang umum digunakan:

    1. Delegated Proof of Stake (DPoS)

    Delegated Proof of Stake memungkinkan pengguna untuk melakukan staking koin tanpa harus menjadi validator langsung. Dalam DPoS, pengguna dapat melakukan staking di belakang validator tertentu dan berbagi reward blok dengan mereka.

    Semakin banyak delegator yang melakukan staking di belakang calon validator, semakin tinggi peluangnya untuk dipilih. Validator dapat mengatur jumlah reward yang dibagi dengan para delegator sebagai insentif. Selain itu, reputasi validator juga menjadi faktor penting bagi para delegator.

    2. Nominated Proof of Stake (NPoS)

    Nominated Proof of Stake adalah model konsensus yang dikembangkan oleh Polkadot. Model ini memiliki kesamaan dengan DPoS, namun dengan satu perbedaan utama. Jika seorang nominator (delegator) melakukan staking di belakang validator yang bermasalah, mereka juga akan kehilangan staking mereka sebagai sanksi.

    Nominator dapat memilih hingga 16 validator untuk melakukan staking di belakangnya. Jaringan kemudian akan mendistribusikan staking mereka secara merata di antara validator yang dipilih.

    Polkadot juga menggunakan pendekatan berdasarkan teori permainan dan teori pemilihan untuk menentukan siapa yang akan melakukan forging blok baru.

    3. Proof of Staked Authority (PoSA)

    BNB Smart Chain menggunakan Proof of Staked Authority untuk mencapai konsensus dalam jaringannya.

    Mekanisme ini menggabungkan elemen Proof of Authority dan Proof of Stake, di mana validator dapat bergantian untuk melakukan forging blok.

    Terdapat kelompok validator aktif sebanyak 21 orang yang memenuhi syarat untuk berpartisipasi. Pemilihan kelompok dilakukan berdasarkan jumlah BNB yang di-stake atau yang telah didelegasikan kepada mereka.

    Penentuan kelompok ini dilakukan setiap hari, dan BNB Chain mencatat hasil pemilihan tersebut.

    Kesimpulan

    Proses penambahan blok transaksi dalam sebuah jaringan telah mengalami perubahan signifikan sejak munculnya Bitcoin.

    Sekarang, tidak lagi dibutuhkan daya komputasi yang tinggi untuk mencapai konsensus dalam dunia kripto. PoS memiliki sejumlah keunggulan, dan sejarah telah membuktikan keberhasilannya.

    Meskipun Bitcoin masih menggunakan Proof of Work, tampaknya Proof of Stake akan terus bertahan dan menjadi pilihan utama untuk banyak jaringan blockchain saat ini.

    Jika kamu ingin mempelajari mekanisme Proof of Work bisa baca di artikel “Apa Itu Proof of Work“.

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Cara Menambang Ethereum: Panduan dan Tips Agar Auto Cuan

    Rencana perpindahan Ethereum dari mekanisme konsensus Proof of Work (PoW) menjadi Proof of Stake (PoS) masih belum selesai. Itu sebabnya, hingga saat ini Ethereum masih dapat diperoleh lewat penambangan atau yang biasa di sebut dengan mining layaknya Bitcoin, lho. Para penggemar Ethereum, apakah Anda tertarik untuk mencobanya? Yuk, intip penjelasan mengenai cara mining ethereum berikut ini!

    Apa Itu Mining Ethereum?

    Mining Ethereum adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan sejumlah ETH, selain dengan membelinya. Kegiatan ini dilakukan dengan cara memecahkan suatu teka-teki matemtika untuk kemudian memverifikasi transaksi yang terjadi, sehingga terdapat satu blok yang bertambah dalam blockchain.

    Kemudian, apabila transaksi tersebut berhasil terverifikasi, maka si penambang atau miner akan mendapatkan sejumlah imbalan dalam bentuk ETH. Hingga saat ini, jumlah imbalan per blok adalah 2 ETH ditambah dengan transaksi dan gas fee yang telah dibayarkan.

    Lalu, apa bedanya dengan mining Bitcoin?

    Modifikasi Ethereum adalah hal yang membuat penambangan Ethereum berbeda dengan Bitcoin. Sebab, Ethereum sudah didesain agar kegiatan mining lebih efisien dengan memanfaatkan perangkat bernama Graphic Processing Unit (GPU) saja. Sementara itu, dalam mining Bitcoin diperlukan perangkat khusus yang dinamakan Application System-Integrated Circuit (ASIC) yang cenderung lebih mahal dan kelas berat.

    Baca juga: Apa Itu Bitcoin dan Bagaimana Cara Mendapatkannya?

    Hal ini dikarenakan Ethereum ingin memberikan kesempatan bagi para penambang perseorangan mencobanya di rumah. Meskipun masih tetap dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi, tetapi tidak menutup kemungkinan penambangan akan berhasil. Ditambah lagi, supply Ethereum tidak terbatas seperti Bitcoin dan telah dilakukan pemotongan imbalan blok, sehingga penurunan nilainya tidak akan terlalu drastis. 

    Selain itu, Ethereum juga sedang dalam proses migrasi ke mekanisme konsensus Proof of Stake (PoS) dan akan selesai dalam waktu dekat. Jika Ethereum sudah sepenuhnya menggunakan PoS, kegiatan mining sudah tidak bisa lagi dilakukan dan berubah menjadi staking.

    3 Cara Mining Ethereum yang Bisa Dipilih

    cara menambang ethereum

    Dalam menambang Ethereum, terdapat 3 cara yang bisa dipilih sesuai dengan kemampuan miner, yaitu:

    1. Solo Mining

    Cara pertama adalah dengan melakukan mining secara perseorangan. Cara ini memang terlihat mudah, karena tidak ada biaya yang perlu dibayar dan jika berhasil, hasil mining bisa dinikmati sepenuhnya. Akan tetapi, cara satu ini sebenarnya sangat bergantung pada kemampuan perangkat komputer yang digunakan untuk mining, lho. Sehingga tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.

    Para miner harus memiliki hardware dengan kualitas yang mumpuni, bahkan membutuhkan beberapa GPU. Selain itu, Anda juga harus memperhatikan biaya listrik, perawatan perangkat, hingga tempat untuk melakukan mining. Sehingga, cara ini dianggap kompleks dan memiliki peluang yang lebih sedikit untuk berhasil, apalagi jika hanya menggunakan perangkat yang seadanya atau dilakukan oleh miner pemula.

    2. Pool Mining

    Berbeda dengan solo mining, cara mining ethereum satu ini dilakukan secara bersama-sama dalam suatu wadah yang disebut dengan pool atau kolam. Tiap kali ada seseorang yang berhasil mendapat imbalan hasil memecahkan teka-teki matematika, maka imbalan tersebut akan dibagi rata kepada setiap anggota dalam pool. Terdengar lebih mudah, bukan?

    Baca juga: Kenali Perbedaan Proof of Work dan Proof of Stake

    Memang, pool mining sangat cocok untuk para miner pemula yang tidak memiliki perangkat yang cukup canggih. Akan tetapi, tidak semua pool memiliki nilai yang setara, lho. Jadi, Anda wajib memperhatikan 3 hal ini sebelum memutuskan untuk bergabung, yaitu ukuran, biaya, dan jumlah terkecil yang bisa ditarik dari pool. Jika tidak sesuai, Anda bisa mencoba mencari pool yang lain.

    3. Cloud Mining

    Nah, cara terakhir adalah dengan cloud mining, yaitu mempekerjakan seseorang untuk melakukan mining. Bagaimana bisa? Nah, caranya adalah dengan menyewa seseorang yang memiliki perangkat komputer yang canggih dan bersedia untuk melakukan mining. Nantinya, imbalan dari keberhasilan mining akan diberikan untuk Anda.

    Cara mining ethereum ini dianggap lebih menguntungkan karena Anda tidak memiliki tanggung jawab besar dalam proses teknis mining. Anda hanya perlu membayar biaya sewa yang biasanya sudah mencakup biaya listrik dan perawatan perangkat. 

    Namun, Anda juga harus tetap berhati-hati dalam memilih jasa cloud mining, ya. Sebab, hampir seluruh transaksi dilakukan secara online dan tidak semua jasa bisa dipercaya. Untuk itu, lebih baik Anda memilih platform cloud mining yang cukup besar dan dapat dipercaya.

    3 Platform untuk Menambang Ethereum

    platform menambang ethereum1. MinerGate

    Platform penambangan berupa mining pool yang satu ini sangat cocok digunakan oleh para miners pemula, nih. Sejak peluncurannya pada 2014 lalu, MinerGate masih menjadi pilihan banyak miners, totalnya sekitar 5.1 juta pengguna di seluruh dunia melansir Software Testing Help, dikarenakan memiliki tampilan yang jelas beserta tools yang lengkap dan mudah dioperasikan. MinerGate memiliki 2 jenis penambang, yaitu Graphical User Interface (GUI) dan Console.

    Kelebihan lainnya adalah di MinerGate, tidak hanya ETH saja yang bisa ditambang oleh pengguna, tetapi juga aset kripto lain seperti Bitcoin (BTC), Litecoin (LTC), hingga yang terbaru ada ICON Representative (ICX). MinerGate berencana untuk terus menambahkan aset kripto lain dan mendukung mekanisme konsensus lain seperti PoS.

    2. NiceHash

    Platform selanjutnya dianggap sebagai salah satu pionir dalam kegiatan cloud mining, dikarenakan sudah dirilis sejak 2014 lalu. Sebagai platform cloud mining, NiceHash telah digunakan oleh lebih dari 650 ribu pengguna dari seluruh dunia setiap harinya. NiceHash juga dilengkapi banyak fitur yang bermanfaat, seperti kemampuan cloud mining menggunakan lebih dari 30 algoritma.

    Baca juga: 5 Situs Mining Bitcoin Terpercaya yang Aman Digunakan

    NiceHash juga memungkinkan para penggunanya untuk memantau aktivitas mining secara real time. Selain itu, para pengguna NiceHash tidak diikat dengan perjanjian khusus, sehingga para pengguna yang ingin membatalkan sewa dapat melakukannya tanpa dipotong biaya pembatalan layaknya marketplace.

    3. NBMiner

    Terakhir adalah platform bernama NBMiner yang bisa dimanfaatkan oleh para solo miners, khususnya yang memiliki perangkat kartu grafis NVIDIA LHR. Ditambah lagi, baru-baru ini NBMiner melakukan pembaruan yang meningkatkan performa mining hingga 70 persen, yaitu melalui pemanfaatan mode LHR terbaru yang bisa meningkatkan hash rate.

    Selain ETH, NBMiner juga bisa digunakan dalam menambang aset kripto lainnya seperti Zilliqa (ZIL), Grin (GRIN), juga Conflux (CFX). NBMiner dapat beroperasi dengan baik di dua sistem operasi besar, yaitu Windows juga Linux, sehingga para miners tidak perlu khawatir.

    Sekarang, Anda sudah paham, kan, mengenai cara menambang Ethereum? Ternyata, memang tidak semudah yang dibayangkan, ya. Akan tetapi jangan khawatir, karena Anda masih bisa mendapatkan ETH dengan investasi! Tentunya di exchange yang terpercaya dan sudah resmi terdaftar di Bappebti seperti Tokocrypto. 

    Yuk, segera kunjungi www.tokocrypto.com untuk informasi lebih lengkap dan gabung bersama komunitas Tokocrypto di Discord!



    Sumber : news.tokocrypto.com