Tag: ptki kementerian agama

  • Ada Beasiswa Kuliah Gratis di Korea, Dapat Uang Saku hingga Asrama!



    Jakarta

    Buat kamu yang bercita-cita kuliah di Korea Selatan, ada kabar baik! Gwangju Institute of Science and Technology (GIST) kembali membuka pendaftaran beasiswa hingga 2 Oktober 2025 mendatang. Apa saja syaratnya?

    Beasiswa yang dibuka merupakan program Magister (S2) dan Doktor (S3) dengan skema bantuan finansial yang super lengkap. Beasiswa ini berlaku untuk penerimaan mahasiswa baru Spring 2026 dan bisa jadi kesempatan emas buat kamu yang ingin riset sekaligus menikmati pengalaman studi internasional di Negeri Ginseng.

    Apa Saja yang Ditanggung Beasiswa GIST?

    Menurut laman resminya, beasiswa GIST memberikan dukungan finansial menyeluruh bagi mahasiswa internasional. Berikut fasilitas yang bisa didapat:


    1. Biaya kuliah penuh sebesar 3.607.000 won/semester atau sekitar Rp 42.543.158 (gratis biaya kuliah, hanya biaya pendaftaran 680.000 won dibebankan ke mahasiswa baru, dengan kemungkinan pengecualian).

    2. Tunjangan bulanan:
    Magister: 140.000 won/bulan (sekitar Rp 1.651.245)
    Doktor: 295.000 won/bulan (sekitar Rp 3.479.409)
    Tunjangan makan: ~100.000 won/bulan (sekitar Rp 1.179.586)
    Tambahan tunjangan internasional: 120.000 won/bulan atau sekitar Rp 1.415.503 (dengan IPK ≥ 3,0 dari 4,5).

    3. Asisten Peneliti (bagi yang mengikuti proyek penelitian):
    Magister: rata-rata 6.400.000 won/tahun (sekitar Rp 75.483.072)
    Doktor: rata-rata 13.740.000 won/tahun (sekitar Rp 162.052.720)

    4. Akomodasi kampus, tersedia asrama single maupun double, serta apartemen untuk mahasiswa menikah.

    5. Biaya bulanan mulai dari 80.000-185.000 won (Rp 943.634-Rp 2.182.154), dengan deposit tertentu.

    6. Asuransi kesehatan, didukung 60% dari Asuransi Kesehatan Nasional Korea + pemeriksaan kesehatan tahunan.

    7. Penggantian tiket pesawat berlaku sekali jalan menuju Korea (hanya untuk pertama kali kedatangan).

    Syarat Pendaftaran

    1. Memiliki atau akan memiliki gelar terakhir sebelum perkuliahan dimulai (Januari 2026 untuk Spring admission).
    2. Bukan warga negara Korea (termasuk mereka dengan kewarganegaraan ganda).
    3. Melengkapi semua dokumen sesuai panduan pendaftaran.

    Jadwal Pendaftaran

    Periode aplikasi online: 2 September 2025 (10:00 KST) – 2 Oktober 2025 (17:00 KST)
    Pengumuman hasil seleksi: mengikuti jadwal resmi GIST

    Link pendaftaran online: https://service.gist.ac.kr/admission/graduate/foreigner

    Sebagai informasi, penting untuk membaca dengan cermat Admission Guide sebelum mendaftar. Dalam hal ini, tidak ada toleransi untuk pengiriman dokumen terlambat.

    Informasi lebih lanjut tentang beasiswa S2-S3 GIST bisa cek DI SINI.

    *Penulis adalah peserta magang Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama

    (faz/faz)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah buku Belajar di Sekolah اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / kimberly farmer
  • Beasiswa Unggulan dari Pemerintah Swiss, Tunjangan Bulanan Capai Rp 70 Juta



    Jakarta

    Pemerintah Swiss kembali membuka program Swiss Government Excellence Scholarships bagi mahasiswa internasional dari 183 negara, termasuk Indonesia. Beasiswa ini dianggap sebagai salah satu penghargaan akademik internasional prestisius, kerap dibandingkan dengan program seperti Beasiswa Fulbright karena keketatan dan dampaknya.

    Setiap tahun, penerima beasiswa akan diseleksi dengan ketat oleh Federal Commission for Scholarships for Foreign Students (FCS). Program ini terutama menyasar peneliti muda berbakat yang telah menyelesaikan studi magister atau doktoral dan ingin melanjutkan penelitian di lembaga pendidikan tinggi maupun institut riset di Swiss.

    Untuk pelamar dari Indonesia, periode pendaftaran dibuka mulai 4 Agustus hingga 8 Desember 2025 seperti dikutip dari laman State Secretariat for Education, Research and Innovation SERI. Penelitian dan studi akan dimulai pada 1 September 2026.


    Jenis Beasiswa Swiss Government Excellence Scholarships

    Terdapat tiga kategori utama dalam program ini:

    1. Research Fellowship

    Tujuan:

    – Beasiswa ini memungkinkan pelamar terpilih untuk melaksanakan proyek penelitian satu tahun sebagai bagian dari studi doktoral mereka di institusi pendidikan tinggi Swiss atau lembaga penelitian yang diakui

    – Hanya berlaku untuk penelitian penuh waktu di Swiss

    Kelompok Sasaran:

    – Peneliti muda berkualifikasi tinggi dari semua bidang akademik, termasuk dokter muda

    – Prioritas akan diberikan kepada individu yang belum pernah belajar atau melakukan penelitian di Swiss (lihat kriteria kelayakan untuk pengecualian).

    Kriteria:

    – Gelar Magister atau setara yang diselesaikan paling lambat 31 Juli 2026 (untuk ETH Zurich: 30 Juni 2026)

    – Tanggal lahir setelah 31 Desember 1990

    – Rencana penelitian terperinci dengan lini masa yang merinci tonggak dan kegiatan utama

    – Pelamar harus memiliki surat dukungan dari pembimbing akademik di Swiss (termasuk CV singkat)

    – Jika pelamar sudah berdomisili di Swiss: tanggal masuk tidak boleh lebih awal dari 1 Agustus 2025 (serahkan salinan konfirmasi pendaftaran atau izin tinggal).

    Kriteria seleksi:

    – Profil akademis, kompetensi penelitian, dan motivasi

    – Orisinalitas dan kualitas metodologis proyek

    – Kualitas supervisi dan potensi kolaborasi di masa mendatang

    Durasi:

    – Maksimal 12 bulan dan tidak ada perpanjangan

    – Tanggal mulai: 1 September 2026

    Besar beasiswa: CHF 1.920 (sekitar Rp 35 juta) per bulan untuk biaya hidup dasar satu orang (Beasiswa ini bukan gaji)

    2. PhD Scholarship

    Tujuan:

    – Beasiswa ini ditujukan untuk mendukung pelamar terpilih dalam menempuh program PhD di universitas atau lembaga penelitian terakreditasi di Swiss.

    – Hanya berlaku untuk penelitian penuh waktu di Swiss.

    Kelompok sasaran:

    – Peneliti berkualifikasi tinggi yang telah menyelesaikan gelar magister di bidang akademik apa pun

    – Prioritas akan diberikan kepada individu yang belum pernah belajar atau melakukan penelitian di Swiss (lihat kriteria kelayakan untuk pengecualian).

    Kriteria:

    – Gelar Magister atau setara yang diselesaikan paling lambat 31 Juli 2026 (untuk ETH Zurich: 30 Juni 2026)

    – Tanggal lahir setelah 31 Desember 1990

    – Rencana penelitian terperinci dengan lini masa yang merinci tonggak dan kegiatan utama

    – Pelamar harus memiliki surat dukungan dari pembimbing akademik di Swiss (termasuk CV singkat)

    – Jika pelamar sudah berdomisili di Swiss: tanggal masuk tidak boleh lebih awal dari 1 Agustus 2025 (serahkan salinan konfirmasi pendaftaran atau izin tinggal).

    Kriteria seleksi:

    – Profil akademis, kompetensi penelitian, dan motivasi

    – Orisinalitas dan kualitas metodologis proyek

    – Kualitas supervisi dan potensi kolaborasi di masa mendatang

    Durasi:

    – 12 bulan, dapat diperpanjang dua kali hingga 36 bulan (tergantung pada kemajuan akademis selama 12 bulan pertama)

    – Tanggal mulai: 1 September 2026

    Besar beasiswa: CHF 1.920 (sekitar Rp 35 juta) per bulan untuk biaya hidup dasar satu orang (Beasiswa ini bukan gaji)

    3. Postdoctoral Fellowship

    Tujuan:

    – Beasiswa ini memungkinkan para peneliti untuk melaksanakan proyek penelitian pascadoktoral di universitas Swiss atau lembaga penelitian yang diakui

    – Hanya berlaku untuk penelitian penuh waktu di Swiss.

    Kelompok sasaran:

    – Peneliti pascadoktoral awal karier yang berkualifikasi tinggi.

    – Prioritas akan diberikan kepada individu yang belum pernah belajar atau melakukan penelitian di Swiss (lihat kriteria kelayakan untuk pengecualian).

    Kriteria kelayakan:

    – Penyelesaian disertasi PhD antara 1 Januari 2023 dan 31 Juli 2026 (ETH Zürich: 30 Juni 2026)

    – Rencana penelitian terperinci dengan lini masa yang merinci tonggak dan kegiatan utama.

    – Pelamar harus memiliki surat dukungan dari pembimbing akademik di Swiss (termasuk CV singkat)

    – Jika pelamar sudah berdomisili di Swiss: tanggal masuk tidak boleh lebih awal dari 1 Agustus 2025 (serahkan salinan konfirmasi pendaftaran atau izin tinggal).

    Durasi:

    – Periode maksimum 12 bulan dan tidak dapat diperpanjang

    – Tanggal mulai: 1 September 2026.

    Besar beasiswa: CHF 3.500 (Rp 70 juta) per bulan untuk biaya hidup dasar satu orang (Beasiswa ini bukan gaji)

    Daftar Universitas di Swiss

    Program PhD, Postdoctoral scholarships and research fellowships

    • University of Basel
    • University of Bern
    • University of Fribourg
    • University of Geneva
    • University of Lausanne
    • University of Lucerne
    • University of Neuchâtel
    • University of St. Gallen
    • University of Zurich
    • Università della Svizzera italiana
    • Swiss Federal Institute of Technology Lausanne (EPFL)
    • Swiss Federal Institute of Technology Zurich (ETHZ)
    • Research Institutes of the ETH Domain (PSI; WSL; EMPA; EAWAG)
    • Graduate Institute of International and Development Studies (IHEID)

    Program Postdoctoral Scholarships dan Research Fellowships

    • University of Applied Sciences and Arts Western Switzerland (HES-SO)
    • Bern University of Applied Sciences (BFH)
    • University of Applied Sciences Northwestern Switzerland (FHNW)
    • Eastern Switzerland University of Applied Sciences (OST)
    • University of Applied Sciences of the Grisons (FHGR)
    • Lucerne University of Applied Sciences and Arts (HSLU)
    • University of Applied Sciences and Arts of Southern Switzerland (SUPSI)
    • Zurich University of Applied Sciences (ZHAW)
    • Universities of teacher education
    • UniDistance Suisse(presence in Switzerland mandatory)
    • Swiss Federal University for Vocational Education and Training (SFUVET)
    • Swiss Federal Institute of Sport Magglingen (SFISM)

    *Penulis adalah peserta Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama di detikcom

    (pal/pal)



    Sumber : www.detik.com

  • Beasiswa Master & PhD di University of Melbourne, Begini Syarat dan Cara Daftarnya!


    Jakarta

    Kuliah riset di kampus top dunia tapi tetap hemat? Bisa banget! University of Melbourne lagi buka Graduate Research Scholarships khusus buat mahasiswa internasional. Semua biaya ditanggung, plus ada tunjangan hidup dan dukungan riset.

    Berdasarkan pemeringkatan QS World University Rankings (WUR) 2026, University of Melbourne, Australia menduduki peringkat ke-19 dalam deretan universitas terbaik dunia. Posisi ini menjadikan University of Melbourne sebagai universitas terbaik di Australia versi QS WUR 2026.

    Melansir laman resminya, Graduate Research Scholarships dari University of Melbourne adalah program beasiswa untuk mahasiswa yang menempuh studi riset pascasarjana, seperti program gelar (Master by Research, MPhil, Doctor by Research, atau PhD). Program ini diberikan untuk mahasiswa domestik dan internasional yang memenuhi syarat.


    Terdapat beberapa jenis beasiswa pascasarjana di Unimelb, antara lain Melbourne Research Scholarship dan Research Training Program (RTP) Scholarship.

    Manfaat Graduate Research Scholarship University of Melbourne

    Beasiswa pascasarjana ini meliputi:

    • Pembebasan biaya kuliah penuh: hingga 2 tahun untuk Master by Research, dan hingga 4 tahun untuk PhD.
    • Tunjangan hidup (stipend): tarif per tahun penuh waktu untuk mahasiswa internasional sekitar AUD 38.500 atau setara (Rp420,98 juta) per tahun (tarif 2025), dengan durasi hingga 2 tahun untuk program Master dan 3,5 tahun untuk PhD.
    • Relocation grant AUD 3.000 (Rp 32,8 juta) bagi mahasiswa luar Australia
    • Overseas Student Health Cover (OSHC) untuk mahasiswa internasional yang memerlukan visa pelajar.

    Syarat dan Seleksi Beasiswa

    • Pendaftar baru pada yang mengajukan program riset pascasarjana di Melbourne sebelum batas waktu pendaftaran akan otomatis dipertimbangkan dalam seleksi beasiswa ini.

    Jika sudah menerima offer tetapi menunda mulai studi (deferred), atau jika sudah terdaftar (current student), kamu harus mengisi formulir online paling lambat 31 Oktober agar bisa dipertimbangkan sebagai calon penerima beasiswa di tahun berikutnya.

    Seleksi berdasarkan prestasi akademik gelar terakhir, potensi penelitian, pengalaman profesional relevan, publikasi ilmiah atau karya kreatif (tergantung bidang), dan dukungan supervisor riset.

    Cara Mendaftar Beasiswa

    • Pilih jurusan/program riset yang ingin diambil (Master by Research, MPhil, PhD).
    • Periksa syarat masuk dan biaya, termasuk persyaratan akademik, bahasa Inggris, dan visa pelajar
    • Siapkan dokumen berupa transkrip akademik, CV, surat rekomendasi, proposal riset (jika diperlukan), atau karya kreatif, tulisan, atau portofolio, sesuai persyaratan tergantung jurusan.
    • Ajukan aplikasi online melalui situs resmi University of Melbourne. Jika baru mendaftar program riset sebelum deadline, secara otomatis kamu akan dipertimbangkan beasiswa.
    • Jika defer atau current student, isi formulir online khusus paling lambat 31 Oktober untuk dapat dipertimbangkan sebagai calon penerima pertimbangan beasiswa tahun berikutnya.

    Batas Waktu Pendaftaran Beasiswa

    31 Oktober adalah tanggal penting bagi mahasiswa baru yang memilih defer atau current students yang ingin agar beasiswa dipertimbangkan untuk tahun berikutnya.

    Untuk mahasiswa baru, deadline pendaftaran aplikasi program riset tergantung fakultas atau jurusan, cek di laman graduate research international applications University of Melbourne, klik DI SINI.

    Graduate Research Scholarships di University of Melbourne adalah peluang luar biasa bagi mahasiswa internasional yang ingin melanjutkan riset tanpa beban biaya besar.

    Kuncinya adalah persiapan yang matang dengan cara pilih jurusan dengan hati-hati, jajaki komunikasi dengan calon supervisor riset, kumpulkan dokumen persyaratan, dan jangan lewatkan deadline pendaftaran.

    Dengan usaha dan strategi yang tepat, detikers bisa menjadi bagian dari komunitas riset unggulan di Melbourne. Langkah ini dapat bantu dan membuka peluang besar untuk karier akademik atau profesional di masa depan. Semangat!

    *Penulis adalah peserta Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama di detikcom

    (twu/twu)



    Sumber : www.detik.com

  • Siap-siap, Ada Beasiswa Clarendon University of Oxford


    Jakarta

    Sejak 2001, lebih dari 2.500 mahasiswa internasional telah mendapat beasiswa Clarendon di University of Oxford. Berminat menjadi salah satu penerima beasiswa ini, detikers?

    Melalui Clarendon Scholarships, mahasiswa berprestasi dari seluruh dunia bisa menempuh pendidikan tinggi di University of Oxford, salah satu universitas paling bergengsi di dunia. Tak hanya dukungan biaya penuh, penerima beasiswa juga mendapat kesempatan membangun jaringan global sejak dini.


    Melansir laman resminya, beasiswa Clarendon merupakan salah satu program beasiswa bergengsi di University of Oxford, Inggris berupa pendanaan penuh untuk mahasiswa pascasarjana, baik program gelar Master’s maupun DPhil.

    Beasiswa ini terbuka untuk semua pelamar internasional dan telah mendukung ribuan mahasiswa berprestasi dari berbagai negara.

    Syarat Clarendon Scholarship University of Oxford

    Tidak semua orang bisa mendapatkan beasiswa ini. Namun, tapi peluang terbuka lebar bagi mereka yang memenuhi kriteria berikut:

    • Pendaftar Program Studi Pascasarjana. Terbuka untuk semua pelamar Master’s atau DPhil, baik full-time maupun part-time.
    • Prestasi akademik unggul. Penerima beasiswa biasanya memiliki capaian akademik tinggi, setara first class honours degree atau IPK minimal 3,7 dengan skala 4,0.
    • Lamaran berkualitas. Proposal penelitian yang kuat, motivasi belajar jelas, dan referensi akademik solid menjadi nilai tambah besar.

    Jadwal Beasiswa Clarendon Oxford

    Batas waktu pendaftaran Clarendon Scholarship berbeda-beda pada setiap program, biasanya antara Desember-Januari untuk intake berikutnya.

    Pastikan untuk mengecek halaman resmi program studi di Oxford untuk mengetahui tanggal batas waktu pendaftaran program tujuan masing-masing.

    Di samping itu, pastikan semua dokumen lengkap sebelum batas waktu pendaftaran agar otomatis masuk pertimbangan.

    Cara Daftar Beasiswa Clarendon Oxford

    Tidak perlu formulir terpisah, cukup mendaftar program pascasarjana Oxford sebelum batas waktu melamar program tujuan. Berikut langkahnya.

    • Pilih program studi: Tentukan Master’s atau DPhil yang ingin diambil.
    • Lengkapi aplikasi: Unggah semua dokumen yang diminta seperti transkrip, CV, proposal penelitian, dan surat referensi.
    • Kirim tepat waktu: Pastikan aplikasi dikirim sebelum batas waktu pendaftaran.
    • Tunggu hasil seleksi: Pelamar dipilih berdasarkan prestasi akademik dan potensi penelitian.

    Informasi beasiswa Clarendon di University of Oxford lebih lanjut bisa diakses di https://www.ox.ac.uk/clarendon/. Nah, jangan tunggu lagi, persiapkan aplikasi terbaikmu sekarang juga! Semangat, detikers!

    *) Penulis adalah peserta Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama di detikcom

    (twu/twu)



    Sumber : www.detik.com

  • Uban Bisa Hilang? Ilmuwan Temukan Kunci agar Rambut Kembali ke Warna Aslinya!


    Jakarta

    Seiring bertambahnya usia, pigmen warna pada rambut akan memudar dan berubah menjadi putih atau disebut dengan uban. Hal ini biasa jika di alami orang yang sudah berusia senja.

    Namun, bagaimana jika pertumbuhan uban dialami oleh mereka yang masih muda? Apakah bisa warna asli rambut seseorang kembali seperti semula setelah memutih? Ini penjelasannya menurut sains.

    Rambut Beruban Bisa Kembali ke Warna Aslinya?

    Rambut beruban sering kali jadi tanda penuaan, tapi ternyata tidak selalu begitu. Berdasarkan studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature, uban muncul karena “kemacetan” sel di dalam folikel rambut, bukan karena tubuh menua secara keseluruhan.


    Peneliti dari NYU Langone Health, Amerika Serikat, menemukan bahwa sel penghasil pigmen warna rambut, yakni sel induk melanosit (melanocyte stem cells/McSCs), gagal berpindah tempat sesuai waktunya. Akibatnya, rambut tetap tumbuh sehat, tetapi warnanya memudar menjadi abu-abu atau putih.

    “Studi kami menambah pemahaman dasar tentang bagaimana sel induk melanosit bekerja untuk mewarnai rambut,” kata Qi Sun, PhD, peneliti utama studi tersebut, dikutip dari NYU Langone Health.

    Mengapa Rambut Bisa Berubah Jadi Uban?

    Di dalam folikel rambut terdapat dua jenis “tim kerja”:

    • Sel induk rambut, yang mengatur pertumbuhan rambut.
    • Sel induk melanosit, yang bertugas memberi warna pada rambut.

    Saat rambut baru mulai tumbuh, sel induk melanosit seharusnya bergerak ke area yang kaya protein WNT yaitu sinyal kimia yang memerintahkan mereka berubah menjadi sel penghasil pigmen (melanosit).

    Namun, ketika sel-sel tersebut “macet” di tempat atau tak lagi menerima sinyal, tahap pewarnaan tidak terjadi, dan rambut yang tumbuh menjadi berwarna abu-abu.

    “Sel induk melanosit seharusnya bisa berperilaku seperti bunglon yang bisa berubah dan beradaptasi sesuai lingkungannya. Ketika kemampuan itu hilang, rambut menjadi abu-abu,” jelas Mayumi Ito, PhD, profesor dermatologi di NYU Langone Health.

    Penelitian Langsung di Folikel Rambut

    Penemuan ini bukan hasil dugaan semata. Tim ilmuwan melakukan penelitian langsung jangka panjang dan analisis RNA sel tunggal pada folikel rambut tikus.

    Mereka melacak posisi setiap sel dan melihat bagaimana instruksi genetik berubah selama beberapa siklus pertumbuhan rambut.

    Hasilnya, semakin sering pertumbuhan rambut dipaksa berulang, semakin banyak sel induk pigmen yang tertinggal di tempat yang salah dan jumlah uban pun meningkat.

    Dengan kata lain, posisi, pergerakan, dan waktu kerja sel menentukan warna rambut.

    Meskipun temuan ini terdengar menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa belum ada obat untuk menghilangkan uban secara permanen.

    Stres, genetik, dan faktor lingkungan tetap berpengaruh pada munculnya uban.

    Langkah berikutnya adalah membuktikan apakah pola serupa juga terjadi pada manusia. Jika iya, maka ilmuwan bisa mencari cara aman untuk mendorong sel bergerak tepat waktu atau menguatkan sinyal dalam folikel rambut agar warna kembali muncul secara alami.

    “Tujuannya bukan sekadar mengubah warna rambut, tetapi menjaga keseimbangan antara sel yang aktif dan yang beristirahat,” ungkap tim peneliti.

    Uban Bukan Rambut Rusak

    Bagi detikers yang mulai menemukan helai putih di kepala, jangan khawatir. Rambut beruban bukan berarti rambut lemah atau tidak sehat.

    Folikel rambut tetap berfungsi dengan baik, hanya saja tim sel pewarna rambut sedang terlambat menerima instruksi kerja.

    Kini, sains sedang mencari cara untuk memperbaiki “kemacetan” di dalam folikel tersebut. Jika berhasil, warna rambut bisa kembali seperti semula, tanpa pewarna kimia.

    Untuk saat ini, uban bukan lagi misteri, melainkan soal waktu dan koordinasi sel yang sedang dipelajari sains.

    Penulis adalah peserta program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama di detikcom.

    (nah/nah)



    Sumber : www.detik.com

  • Tak Ada Nobel Matematika, Tapi Ada Penghargaan Bergengsi Ini!


    Jakarta

    Setiap tahun, dunia menantikan siapa saja penerima hadiah Nobel, penghargaan paling bergengsi bagi mereka yang dianggap berkontribusi besar bagi kemanusiaan. Namun, dari semua kategori yang ada, mulai dari fisika, kimia, kedokteran, sastra, hingga perdamaian, ada satu bidang penting yang tak pernah masuk daftar, yaitu matematika.

    Lalu, mengapa matematika tidak masuk ke dalam kategori penerima Nobel, bukankah ilmu ini penting bagi keberlangsungan hidup manusia? Simak penjelasan berikut ini ya detikers!

    Asal-Usul Hadiah Nobel

    Hadiah Nobel pertama kali digagas oleh Alfred Nobel, penemu dinamit sekaligus industrialis asal Swedia.


    Dalam wasiatnya, Nobel mengamanatkan agar sebagian besar kekayaannya digunakan untuk memberikan penghargaan kepada individu yang memberi manfaat besar bagi umat manusia. Hal ini dilakukannya, karena ia memiliki visi untuk mendorong penemuan dan ide yang punya dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar teori.

    Kenapa Matematika Tak Masuk Daftar?

    Meski matematika adalah “bahasa universal” ilmu pengetahuan, Nobel justru tidak memasukkan bidang ini ke dalam daftar penerima penghargaan. Sejumlah spekulasi pun bermunculan.

    Menurut catatan dari University of Waterloo, keputusan Nobel bukan karena alasan pribadi atau dendam seperti yang sering diceritakan dalam mitos populer. Banyak yang menduga Nobel bersaing dengan seorang matematikawan atau merasa cemburu, tapi tak ada bukti sejarah yang mendukung kisah itu.

    Penjelasan yang lebih masuk akal adalah, Nobel ingin fokus pada ilmu yang berdampak langsung bagi manusia, seperti fisika dan kedokteran. Pada zamannya, matematika dianggap terlalu abstrak dan belum banyak menunjukkan manfaat praktis.

    Selain itu, sejarawan juga menyebutkan bahwa pada masa tersebut, sudah ada penghargaan bergengsi di bidang matematika, yang dibuat oleh matematikawan Swedia Gösta Mittag-Leffler. Jadi, mungkin Nobel merasa tak perlu membuat versi lain.

    Matematika Tetap Diakui Lewat Bidang Lain

    Walaupun tidak ada kategori Nobel khusus Matematika, para matematikawan tetap mendapat pengakuan melalui bidang-bidang lain. Contohnya, John Nash, tokoh di balik teori permainan (game theory), menerima hadiah Nobel Ekonomi pada 1994. Karyanya membuktikan bagaimana konsep matematika bisa diterapkan dalam dunia nyata dan berdampak luas pada ekonomi modern.

    Medali Fields: “Nobel-nya Dunia Matematika”

    Untuk menutup kekosongan itu, komunitas matematika menciptakan penghargaan tersendiri. Salah satu yang paling bergengsi adalah Medali Fields, yang pertama kali diberikan pada 1936.

    Medali ini sering disebut sebagai “Hadiah Nobel untuk Matematika” karena prestisenya. Bedanya, penghargaan ini diberikan setiap empat tahun sekali kepada matematikawan berusia di bawah 40 tahun yang telah memberikan kontribusi besar, menurut International Mathematical Union (IMU).

    Hadiah Abel: Bentuk Penghormatan Seumur Hidup bagi Ahli Matematika

    Selain Fields, ada juga Hadiah Abel yang diberikan pertama kali pada 2002 oleh Akademi Sains dan Sastra Norwegia. Berbeda dari Medali Fields, Abel Prize tidak memiliki batasan usia dan diberikan setiap tahun sebagai penghargaan seumur hidup. Nilai hadiahnya pun hampir setara dengan Nobel.

    Kini, Medali Fields dan Hadiah Abel menjadi simbol tertinggi pengakuan dunia terhadap para matematikawan, memastikan bahwa kecemerlangan dalam bidang ini tetap dirayakan di panggung global.

    Jadi, meskipun tidak ada Hadiah Nobel untuk Matematika, para ahli matematika tetap memiliki wadah untuk dihargai dan dirayakan. Dua penghargaan besar, Medali Fields dan Hadiah Abel menjadi bukti bahwa peran matematika tetap krusial dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.

    Pada akhirnya, meski Nobel “melewatkan” matematika, dunia tidak pernah berhenti merayakan keindahan logika dan rumus yang membentuk peradaban manusia tersebut.

    Sekarang detikers sudah tahu kan, penyebab matematika tidak masuk dalam daftar penghargaan bergengsi Nobel.

    Penulis adalah peserta program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama di detikcom.

    (nah/nah)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Mengenali Perbedaan Asteroid, Meteor, dan Komet



    Jakarta

    Benda luar angkasa yang melintasi Bumi kerap disebut sebagai meteor. Namun, terkadang disebut juga dengan asteroid dan komet. Sebenarnya apa beda ketiganya?

    Dalam astronomi, ada banyak istilah untuk menyebut benda-benda di luar angkasa. Penyebutan ini digunakan untuk memudahkan identifikasi.

    Mengutip laman resmi NASA, berikut perbedaan asteroid, meteor, dan komet.


    Perbedaan Asteroid, Meteor, dan Komet

    1. Asteroid

    Asteroid adalah benda langit berupa batu dan logam yang mengitari Matahari. Mayoritas asteroid terletak di sabuk asteroid yang merupakan wilayah antara Mars dan Jupiter.

    Menurut NASA, asteroid juga disebut sebagai sisa-sisa pembentukan tata surya, yang tak sempat menjadi planet.

    Cara mengenali asteroid:

    Komposisi: batuan dan logam, kadang sedikit es.
    Ciri khas: tidak memiliki ekor, hanya tampak seperti titik kecil di teleskop.
    Contoh: asteroid Ceres yang bahkan dikategorikan sebagai planet kerdil.

    2. Meteor

    Meteor sebenarnya berawal dari meteoroid, yaitu fragmen kecil dari asteroid atau komet. Ketika meteoroid masuk ke atmosfer bumi dan terbakar karena bergesekan udara, kita melihatnya sebagai meteor atau “bintang jatuh.” Jika sebagian masih bertahan dan jatuh ke permukaan bumi, sisa itu disebut meteorit.

    Dikutip dari Scientific American, meteor dapat berukuran sekecil butiran pasir hingga sebesar bongkahan batu. Hujan meteor tahunan yang sering kita lihat, misalnya Perseid, berasal dari debu komet yang masuk atmosfer bumi.

    3. Komet

    Komet dikenal sebagai “bintang berekor” karena saat mendekati Matahari, panas membuat es di dalamnya menguap dan membentuk coma (atmosfer tipis) serta ekor yang selalu menjauh dari Matahari.

    Mengutip planetary.org, komet berasal dari dua wilayah dingin di Tata Surya: Sabuk Kuiper (dekat orbit Neptunus) dan Awan Oort (jauh di luar Tata Surya).

    Cara mengenali komet:

    Komposisi: es air, karbon dioksida, metana, amonia, bercampur debu dan batuan.
    Contoh: Komet Halley yang muncul setiap 76 tahun.

    Nah, itulah perbedaan asteroid, meteor, dan komet. Semoga bermanfaat detikers!

    *Penulis adalah peserta magang Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama

    (faz/faz)



    Sumber : www.detik.com

  • Orangutan Sumatera Kuasai Teknik Bangun Sarang dengan Amati-Tiru-Modifikasi



    Jakarta

    Tak hanya manusia yang belajarnya dengan teknik ‘ATM’ alias amati-tiru-modifikasi. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) pun ternyata ‘ATM’ juga buat menguasai teknik membangun sarang, menurut riset selama 17 tahun ini.

    Keahlian Orangutan Dirikan Sarang

    Para ahli primata dari Universitas Warwick Inggris bersama Institut Max Planck Jerman mengemukakan bahwa keahlian orang utan muda untuk membuat sarang merupakan hasil dari mengamati secara dekat orang utan lain dan kemudian mempraktikkannya. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan orang utan dalam membangun sarang bukan sekadar naluri saja melainkan kemampuan mereka dalam observasi atau mengamati.

    Bagi spesies hewan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pepohonan atau arboreal, sarang yang kokoh sangatlah penting untuk bertahan hidup serta melindungi diri dari predator. Dengan membangun sarang di tempat yang tinggi dapat membantu mereka memperoleh kehangatan bahkan dapat terhindar dari gigitan nyamuk. Bagaimana tepatnya orangutan bisa menguasai kemampuan rumit ini, selama ini masih menjadi tanda tanya.


    Rahasia di Balik Sarang Orangutan

    Para peneliti dari Universitas Warwick telah mengkonfirmasi bahwa orangutan Sumatera yang masih muda mempelajari teknik membangun sarang yang rumit dengan ‘mengintip’ hasil karya induk mereka dengan cermat dan saksama.

    “Membangun sarang sangat penting untuk kelangsungan hidup orangutan, tetapi anehnya tidak menjadi fokus banyak penelitian. Kami sebelumnya melaporkan bahwa butuh beberapa tahun bagi orangutan muda untuk belajar membuat sarang, tetapi berdasarkan 17 tahun data observasi, makalah ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran ini sangat bergantung pada hewan muda yang dengan cermat memperhatikan pembuatan sarang oleh individu lain,” ujar penulis utama dalam studi tersebut Dr Ani Permana dari Departemen Psikologi dari Universitas Warwick dikutip Senin (20/10/2025).

    Di alam liar, orangutan Sumatera membangun dua jenis sarang. Sarang siang cenderung berupa kerangka praktis dasar, tetapi sarang malam berupa platform tidur yang rumit yang sering kali dibangun setinggi 20 meter di tajuk pohon dan dilengkapi elemen kenyamanan seperti ‘bantal’, ‘selimut’, kasur (pelapis), dan atap untuk melindungi dari kondisi buruk cuaca.

    Dengan mengamati orangutan dalam jangka waktu yang lama selama bertahun-tahun, kelompok peneliti berhasil menunjukkan bahwa orangutan muda mengamati (sengaja mengamati) induk mereka membuat sarang untuk mempelajari cara melakukannya. Ketika pengamatan dilakukan, orangutan yang belum dewasa lebih cenderung menindaklanjuti dengan berlatih membangun sarang sendiri.

    Jika orangutan yang belum dewasa berada di dekat induk mereka ketika membangun sarang tetapi tidak mengamati, misalnya karena teralihkan, mereka umumnya tidak melanjutkan berlatih sendiri. Hal ini berarti pengamatan aktif kemungkinan penting untuk mengembangkan keterampilan tersebut, yang sangat mendukung gagasan bahwa ini adalah pembelajaran sosial observasional.

    Orangutan yang belum dewasa juga terbukti memberikan perhatian khusus pada bagian-bagian yang lebih rumit dari konstruksi sarang. Seperti menambahkan elemen kenyamanan atau membangun di atas beberapa pohon, dan berlatih lebih banyak setelah mengamati tindakan-tindakan ini.

    Seiring bertambahnya usia orangutan, mereka mulai mengamati dan belajar dari individu lain selain induk mereka, memilih panutan baru yang dapat membantu mendiversifikasi pengetahuan mereka tentang pohon mana yang akan digunakan, menunjukkan bahwa baik cara membangun, maupun dengan apa membangun, dipelajari secara sosial.

    “Orangutan muda tidak hanya belajar cara membuat sarang, tetapi juga tahu bahan apa yang paling cocok. Mereka belajar memilih jenis pohon dari induknya dan cenderung menggunakan jenis yang sama,” ucap penulis senior studi Dr Caroline Schuppli dari Max Planck Institute of Animal Behavior.

    Uniknya, orangutan dewasa justru ‘balik lagi’ menggunakan bahan sarang yang sama seperti induknya. Seolah ada tradisi turun-temurun, pola ini jadi bukti adanya budaya dalam kehidupan orangutan liar. Tapi hati-hati, budaya unik ini bisa lenyap kalau spesies dan habitatnya tak dilindungi.

    Riset selama 17 tahun ini sudah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications Biology dengan judul ‘Observational social learning of “know-how” and “know-what” in wild orangutans: evidence from nest-building skill acquisition’ yang diterbitkan 7 Juni 2025.

    *) Siti Nur Salsabilah Silambona, adalah peserta Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama di detikcom

    (nwk/nwk)



    Sumber : www.detik.com