Tag: quantum computer

  • Apa itu Teknologi Quantum Computer yang Jadi Ancaman Cryptocurrency?

    Mungkin saat ini istilah quantum computer masih terasa asing di masyarakat dan menjadi pertanyaan di benak mereka. Pada dasarnya, quantum computer memiliki keterikatan dengan perangkat untuk bisa mendapatkan informasi di komputer. 

    Beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi, seperti Google, IBM dan Intel saat ini sedang berlomba-lomba untuk bisa menciptakan quantum computer. Hal ini karena perangkat ini digadang-gadang mampu menyempurnakan super computer yang saat ini memiliki kecepatan yang sangat tinggi. Jadi, sebenarnya apa itu quatum computer?

    Mengenal Quantum Computer

    Berdasarkan pengertiannya, quantum computer merupakan sebuah alat yang digunakan untuk memproses informasi dengan menggunakan prinsip mekanika kuantum. Dengan demikian, komputasi ini memiliki sifat yang berbeda jauh dengan komputasi klasik.

    Selain itu, quantum computer dilengkapi dengan prosesor yang berbeda dengan komputer klasik. Proses komputasi quantum computer menggunakan sistem kuantum seperti atom, ion, foton, atau electron. Sementara itu, proses komputasi klasik hanya menggunakan chip berbasis silicon.

    Baca Juga Alasan Pendiri Cardano Charles Hoskinson Dekati Pemerintah Burundi

    Ilustrasi quantum computer yang diprediksi ancam cryptocurrency.

    Ilustrasi quantum computer yang diprediksi ancam cryptocurrency. Foto: Getty Image

    Karakteristik Tekonologi Quantum Computer

    Ada beberapa karakter khas yang dimiliki oleh teknologi quantum computer yang membuat tekniknya berbeda dari komputasi biasanya, diantaranya sebagai berikut:

    1. Quantum computer memanfaatkan fenomena dalam fisika kuantum dalam teknik komputasinya.
    2. Quantum computer menggunakan qubits yang bisa meningkatkan kemampuannya jauh lebih cepat dari komputer klasik.
    3. Komputer kuantum tidak banyak mengonsumsi energi.
    4. Komputer kuantum dipercaya dapat mengatasi masalah komputasi dengan lebih cepat.

    Superposisi Quantum Computer

    Keadaan superposisi merupakan kondisi pada saat kondisi bit sedang bernilai nol dan 1 pada waktu yang sama. Keadaan ini sering digunakan untuk proses komputasi pada quantum computer. 

    Perumpamaan sederhananya begini, andaikan saja anak Anda sedang bermain di teras rumah. Kemudian, dia melompat ke kiri dan ke kanan secara bergantian, karena tidak akan bisa melompat ke kiri dan ke kanan secara bersamaan.

    Namun, jika anak Anda merupakan quantum computer, kedua hal tersebut dapat dilakukan secara bersamaan. Hal ini disebut dengan superposisi. Arah kiri dan kanan tersebut bisa diumpamakan sebagai nilai nol dan nilai 1.

    Ilustrasi quantum computer yang diprediksi ancam cryptocurrency.

    Ilustrasi quantum computer yang diprediksi ancam cryptocurrency.

    Manfaat Quantum Computer

    Pada awalnya, quantum computer ini ditujukan untuk menyelesaikan tugas sulit bisa terselesaikan dengan lebih efisien mengguanakan algoritmanya. Menurut Morgan Stanley yang dilansir dari Investopedia, menyatakan meskipun komputer biasa telah cukup piawai dalam memainkan kalkulus, quantum computer memiliki kemampuan lebih dari itu.

    Quantum computer dikatakan memiliki keahlian lebih dalam menyortir dan mencari bilangan prima serta mengoptimasi segala sesuatu. Hal ini membuat beberapa perusahaan besar seperti IBM, Intel, HP, Toshiba, dan perusahaan teknologi lainnya berusaha mengembangkan teknologi ini.

    Berdasarkan penuturan IBM yang merupakan perusahaan teknologi besar, komputasi kuantum saat ini bisa berpotensi dijadikan sebagai bahan bakar terobosan baru dalam bidang sains, teknologi, serta keuangan. 

    Baca Juga Daftar 10 Perusahaan Tambang Kripto yang Wajib Kamu Tahu

    Contoh kecilnya ialah seperti dalam bidang obat-obatan. Kemungkinan nantinya akan dapat diciptakan obat yang memungkinkan diagnosis penyakit bisa didapatkan dengan lebih cepat, dan masih banyak lagi fungsi komputer kuantum ini dalam berbagai bidang lainnya.

    MIT Technology Review melaporkan, jenis komputasi yang saat ini sudah umum digunakan tidak akan ditinggalkan begitu saja. Hal ini karena, sistem komputasi saat ini lebih mudah dan ekonomis untuk digunakan.

    Beberapa perusahaan yang sudah berhasil mengembangkan teknologi ini, kini sedang berusaha mengembangkan baterai dengan daya yang lebih kuat sekaligus lebih ringan untuk digunakan pada mobil elektrik.

    Ilustrasi penambang kripto

    Ilustrasi penambang kripto.

    Quantum Computer Jadi Ancam Peretasan Cryptocurrency ?

    Cryptocurrency diamankan oleh teknologi yang disebut kriptografi. Sistem initerdesentralisasi, melindungi transaksi online dan mengacak komunikasi untuk siapa pun. Teknologi ini bekerja dengan menggabungkan kunci publik, yang dapat dilihat siapa saja, dengan kunci pribadi yang hanya dapat dilihat oleh Anda. 

    Jika kemajuan saat ini berlanjut, quantum computer akan dapat memecahkan kriptografi kunci publik, yang berpotensi menciptakan ancaman serius bagi dunia kripto, di mana beberapa mata uang bernilai ratusan miliar dolar berputar di sana. Jika enkripsi rusak, hacker dapat menyamar sebagai pemilik sah mata uang kripto, NFT, atau aset digital sejenis lainnya.

    Sebuah laporan dari New Scientist mengungkapkan, quantum computer, secara teori, dapat memecahkan penambangan Bitcoin, tetapi mungkin tidak dalam waktu dekat, karena mereka harus sekitar satu juta kali lebih besar daripada sekarang. Jadi, dalam praktiknya, cryptocurrency kemungkinan tidak akan berisiko dari peretas yang menggunakan komputer kuantum selama kira-kira satu dekade.

    Baca Juga Vladimir Putin Isyaratkan Dukungan Terhadap Cryptocurrency



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Solana Bersiap Hadapi Komputer Kuantum, Transaksi Anti-Retas Diuji

    Solana Foundation mengumumkan kerja sama dengan Project Eleven, perusahaan keamanan kriptografi pasca-kuantum, untuk menguji teknologi transaksi yang tahan terhadap ancaman komputasi kuantum. Uji coba ini dilakukan melalui sebuah testnet Solana sebagai bagian dari inisiatif bertajuk Project Eleven.

    Dalam pengumuman resmi pada Selasa (waktu setempat), Project Eleven menyebut telah melakukan penilaian penuh terhadap ancaman komputasi kuantum pada jaringan Solana. Selain itu, perusahaan tersebut juga memprototipekan testnet Solana yang menggunakan tanda tangan digital pasca-kuantum. Hasil pengujian itu diklaim menunjukkan bahwa transaksi yang sepenuhnya tahan kuantum dapat diterapkan secara praktis dan tetap skalabel.

    Pembuktian Solana

    Baca juga: Solana Terjun ke US$122, Tapi Bitwise Ramal Harga Cetak ATH di 2026

    Dilaporkan Cointelegraph, klaim tersebut menjadi sorotan karena kriptografi pasca-kuantum secara umum dikenal membutuhkan komputasi yang lebih mahal dibandingkan metode kriptografi konvensional. Hingga berita ini diterbitkan, Solana belum memberikan tanggapan resmi terkait standar enkripsi pasca-kuantum yang digunakan dalam testnet tersebut, meskipun telah dimintai konfirmasi.

    Sebagai perbandingan, National Institute of Standards and Technology (NIST) Amerika Serikat pada Agustus 2024 telah mengesahkan tiga standar enkripsi pasca-kuantum, yakni Federal Information Processing Standard (FIPS) 203, 204, dan 205. Pada 2024, Cloudflare juga melakukan pengujian yang membandingkan FIPS 204 dengan Ed25519—algoritma tanda tangan digital yang saat ini digunakan Solana, serta RSA-2048. Hasilnya menunjukkan bahwa FIPS 204 hampir lima kali lebih mahal dalam proses penandatanganan dibanding Ed25519, tetapi dua kali lebih cepat dalam proses verifikasi. Sementara itu, RSA-2048 tercatat lebih lambat dalam penandatanganan dibanding keduanya.

    Wakil Presiden Teknologi Solana Foundation, Matt Sorg, menyatakan bahwa misi Solana adalah melindungi aset digital dari risiko komputasi kuantum. Kekhawatiran serupa juga dirasakan oleh berbagai ekosistem kripto utama lainnya.

    Mempersiapkan diri menghadapi ancaman di masa depan

    Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya diskusi global soal ancaman komputasi kuantum terhadap kriptografi modern. Salah satunya datang dari pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, yang memperkirakan adanya peluang 20% bahwa komputer kuantum dapat memecahkan kriptografi saat ini sebelum 2030. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya disepakati. Kriptografer dan cypherpunk Adam Back menyebut bahwa ancaman kuantum terhadap Bitcoin kemungkinan baru akan muncul dalam 20 hingga 40 tahun ke depan.

    Meski demikian, sejumlah pengamat menilai respons teknis antar jaringan kripto berbeda-beda. Ethereum dinilai memiliki respons pengembang yang relatif cepat, sementara Bitcoin dianggap menghadapi tantangan besar dari sisi tata kelola. Analis on-chain James Check sebelumnya menyatakan bahwa meskipun solusi teknis terhadap ancaman kuantum sudah tersedia, mencapai konsensus dalam ekosistem Bitcoin untuk bermigrasi ke alamat tahan kuantum akan menjadi persoalan yang sulit.

    Jika migrasi tersebut gagal, menurut Check, ada risiko besar Bitcoin lama yang tidak berpindah ke alamat tahan kuantum dapat diretas, sehingga berpotensi membanjiri pasar.

    Langkah Solana melalui Project Eleven ini menunjukkan upaya awal industri kripto dalam mengantisipasi ancaman teknologi masa depan yang masih berkembang, namun dinilai dapat berdampak signifikan terhadap keamanan aset digital global.

    Baca juga: JP Morgan dan Coinbase: Kripto Lebih Mudah dengan Kartu Kredit


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Core Bahas Quantum Resistance Bitcoin, Awal Upgrade Besar?

    Core kembali menarik perhatian pasar dengan menggelar sesi Quantum Resistance Deep Dive pada 27 Maret 2026.

    Acara tersebut menghadirkan sejumlah kontributor inti untuk membahas arah pengembangan teknologi quantum-resistant yang diklaim dapat memperkuat keamanan infrastruktur blockchain, khususnya yang berkaitan dengan Bitcoin.

    Meski terdengar ambisius, penting untuk dicatat bahwa event ini lebih bersifat diskusi teknis dan eksplorasi visi, bukan peluncuran fitur final atau perubahan langsung pada jaringan.

    Baca Juga: Apa itu Coretax dan Apa Saja Keluhan yang Sering Dialami?

    Fokus pada Keamanan Era Quantum

    Quantum resistance menjadi salah satu topik paling hangat dalam dunia kripto, seiring kekhawatiran bahwa komputasi kuantum di masa depan dapat mengancam sistem kriptografi yang saat ini digunakan.

    Menurut laporan Coinmarketcal, dalam sesi ini Core membahas bagaimana pendekatan mereka dalam menghadapi potensi ancaman tersebut, termasuk strategi untuk memperkuat keamanan jaringan berbasis Bitcoin.

    Topik yang diangkat mencakup visi jangka panjang pengembangan quantum-resistant, dampak terhadap keamanan infrastruktur blockchain, dan arah teknis upgrade di masa depan.

    Dengan kata lain, event ini lebih berfungsi sebagai sarana edukasi dan transparansi kepada komunitas dibandingkan sebagai pengumuman produk siap pakai.

    Bukan Launching, Tapi Positioning

    Berbeda dengan peluncuran mainnet atau upgrade jaringan yang langsung aktif, Quantum Resistance Deep Dive lebih berfokus pada komunikasi dan positioning teknologi.

    Hal ini penting dalam membangun kepercayaan komunitas dan menarik perhatian developer, namun biasanya tidak memiliki dampak langsung terhadap fundamental harga dalam jangka pendek.

    Pasar kripto cenderung merespons lebih kuat terhadap deliverable nyata, seperti fitur yang sudah berjalan atau integrasi yang langsung digunakan.

    Perspektif Industri: Booster Sentimen

    Tim riset dari Tokocrypto menilai bahwa event ini lebih cocok dipandang sebagai penguat narasi teknologi dibandingkan katalis harga.

    “Tema quantum resistance memang seksi buat narasi teknologi, tapi event berbentuk Spaces seperti ini jarang cukup kuat buat mengubah valuasi secara nyata. Selama belum ada deliverable final yang hidup di jaringan, dampaknya buat CORE lebih cocok dibaca sebagai booster sentimen dan positioning brand teknologi, bukan pemicu repricing besar,” ungkap Tim Research Tokocrypto.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun topiknya menarik, pasar tetap membutuhkan bukti implementasi nyata sebelum memberikan valuasi lebih tinggi.

    Quantum Resistance: Narasi Masa Depan

    Topik quantum resistance sendiri memang memiliki daya tarik kuat, terutama karena menyangkut masa depan keamanan blockchain secara global.

    Jika komputer kuantum berkembang hingga mampu memecahkan algoritma kriptografi saat ini, maka banyak jaringan blockchain, termasuk Bitcoin, berpotensi terdampak.

    Karena itu, proyek yang mulai membahas dan mengembangkan solusi quantum-resistant sejak dini dapat memperoleh keunggulan positioning sebagai inovator teknologi.

    Namun, hingga saat ini, ancaman tersebut masih berada dalam tahap teoritis dan belum menjadi risiko langsung dalam jangka pendek.

    Dampak ke CORE Token

    Bagi investor, event seperti ini biasanya memberikan efek berupa peningkatan awareness terhadap proyek, dorongan sentimen jangka pendek, hingga penguatan narasi teknologi.

    Namun tanpa adanya implementasi nyata, dampak tersebut cenderung terbatas dan bersifat sementara.

    Pergerakan harga CORE kemungkinan besar tetap akan dipengaruhi oleh faktor lain seperti kondisi pasar secara umum, likuiditas, serta perkembangan fundamental yang lebih konkret.

    Baca Juga: Hard-Core-Fund-Sinyal-Positif-Bagi-Pengembang-Bitcoin-Independen

    Sesi Quantum Resistance Deep Dive dari Core menjadi langkah penting dalam membangun narasi dan positioning teknologi di tengah persaingan industri kripto.

    Namun, investor perlu memahami bahwa event ini bukanlah peluncuran fitur atau upgrade yang langsung berdampak pada jaringan.

    Dalam jangka pendek, dampaknya lebih condong ke sentimen dan branding. Sementara dalam jangka panjang, nilai sebenarnya akan ditentukan oleh sejauh mana konsep quantum resistance tersebut benar-benar diwujudkan dalam bentuk teknologi yang dapat digunakan.

    Dengan kata lain, ini adalah langkah awal yang menarik, tetapi belum cukup untuk mengubah arah pasar secara signifikan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com