Tag: reading

  • Foreword Library di Jaksel, Koleksi Bukunya Sip, Suasananya Nyaman dan Tenang



    Jakarta

    Buat kamu pendamba suasana tenang dan tentu tempatnya juga nyaman, bisa datang ke salah satu perpustakaan yang berada di Cilandak, Jakarta Selatan.

    Foreword Library merupakan perpustakaan gratis yang memiliki beragam koleksi buku. Perpustakaan itu terletak di Jalan Jeruk Purut No. 11 Cilandak, Jakarta Selatan.

    Kendati perpustakaan itu gratis, tetapi fasilitasnya tak kaleng-kaleng. Saat detikTravel berkunjung ke perpustakaan ini, Kamis (12/9/2024) kesan pertama yang dirasakan seperti berada di rumah sendiri. Ya, jika dilihat dari luar bangunan, perpustakaan itu memang layaknya rumah tinggal.


    Perpustakaan berada di lantai dua dengan dua ruangan, general reading dan tweens and teens. Foreword Library menyuguhkan pengalaman yang begitu nyaman untuk disinggahi, tak hanya jadi sarana baca buku tapi juga tempat nugas bahkan work from anywhere.

    Sedari siang hari tempat ini banyak didatangi pengunjung, ada datang untuk membaca namun mayoritas fokus dengan laptop masing-masing. Salah satunya adalah Riani, ia menggunakan Foreword Library ini pilihan wfh-nya.

    Foreword Library, perpustakaan gratis di Jalan Jeruk Purut No. 11 Cilandak, Jakarta Selatan.Foreword Library, perpustakaan gratis di Jalan Jeruk Purut No. 11 Cilandak, Jakarta Selatan. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Baginya selain bukunya yang beragam, tentu yang terpenting adalah tempatnya yang nyaman dan membuatnya senang berlama-lama di sini.

    “Perpustakaannya nyaman banget cozy terus banyak buku-buku bagus, terus buat wfh juga oke banget sih nyaman dan tenang. Biasanya aku di sini bisa tiga sampai enam jam di sini karena sekalian wfh dan kada juga ada meeting,” ujarnya kepada detikTravel.

    Menurutnya jika dalam satu minggu ia mendapatkan kesempatan wfh maka pilihan pertama tujuannya ada Foreword Library ini. General Manager Foreword Library, Olive, menyampaikan inisiasi awal terbentuknya perpustakaan yang baru menginjak satu tahun ini.

    Pemilik perpustakaan ini adalah kakak-adik bernama Nihlah dan Nishrin Assegaf yang gemar membaca dan terpikirkan untuk membuka perpustakaan umum. Diawali dari koleksi buku pribadi kini koleksi di sini kurang lebih 1000 buku.

    “Kita coba bikin public library yang accessible buat banyak orang yang inklusif juga dengan pilihan-pilihan buku yang terkurasi, untuk bisa orang-orang datang dan baca,” kata Nihlah.

    Foreword Library, perpustakaan gratis di Jalan Jeruk Purut No. 11 Cilandak, Jakarta Selatan.Foreword Library, perpustakaan gratis di Jalan Jeruk Purut No. 11 Cilandak, Jakarta Selatan. Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Di perpustakaan ini pun pengunjung dapat meminjam buku, dengan catatan telah menjadi member. Mulai dari meminjam satu buku hingga maksimal tiga buku, durasi peminjaman buku pun selama tiga minggu.

    “Jadi kita ada dua kategori untuk membership, pertama untuk lima bulan itu Rp 100.000 dan yang satu tahun itu Rp 200.000. Kita pakai levelan gitu jadi untuk yang pertama gabung membership itu baru boleh pinjam satu buku, nanti kalau udah tiga minggu nah dapat extend satu kali aja,” ungkap librarian di sana, Alisha.

    Foreword Library bisa dikunjungi mulai hari Selasa hingga Sabtu, untuk jam bukanya hari Selasa sampai Jumat jam 11.00 hingga 19.30 WIB. Dan untuk hari Sabtu 08.00 sampai 13.00 WIB, Minggu dan Senin libur.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mewujudkan Indonesia Emas Melalui Penguatan SDM



    Jakarta

    Pada Selasa 4 Februari lalu saya diminta menjadi salah satu pemateri acara Sarasehan Ulama Nahdlatul Ulama di Hotel Sultan, Jakarta. Acara ini digelar sebagai salah satu rangkaian peringatan 102 tahun lahirnya NU. Ratusan peserta nampak antusias bertahan menyimak pemaparan para pemateri hingga sore hari.

    Mengawali pemaparan, kepada peserta Sarasehan saya mengatakan bahwa ketika berusia 100 tahun, Indonesia diproyeksikan mengalami masa keemasan. PDB saat itu diperkirakan mencapai USD 9100 miliar, dan PDB per kapita mencapai USD 30.000 per tahun atau naik sekitar enam kali lipat dibanding 2024. Dalam proyeksi seperti itu, Indonesia akan masuk ke dalam empat atau lima besar ekonomi dunia.

    Tanda-tanda bahwa perekonomian Indonesia akan terus membesar sudah terlihat dari studi McKenzie global institute pada 2012 dan Price Waterhouse Cooper pada 2017. Dua lembaga internasional itu memperkirakan bahwa pada 2030 Indonesia akan masuk ke dalam tujuh atau lima besar dunia. Adanya usia produktif yang mendominasi struktur penduduk Indonesia dan transformasi masyarakat agraris ke masyarakat industri merupakan pendorong percepatan perekonomian Indonesia.


    Meskipun demikian, proyeksi menuju Indonesia emas bukan berarti tanpa adanya prasyarat. Bonus demokrasi yang dimiliki Indonesia itu bisa berubah menjadi bencana demografi makakala Indonesia gagal mengelola potensi sumber daya manusia (SDM) produktif yang dimiliki. Karena itu, tidak ada cara lain bagi Indonesia untuk menjadikan SDM yang dimiliki itu sebagai salah satu key main drivers bagi pertumbuhan ekonomi, kecuali memiliki SDM yang berkualitas.

    Upaya melakukan hal itu tentu tidak mudah. Bottom line kualitas SDM yang dimiliki Indonesia tidaklah baik baik amat. Paling tidak, hal ini terlihat dari data yang dilaporkan oleh dua pemeringkatan kualitas manusia dunia. Menurut Human Development Index (HDI) pada 2024, HDI Indonesia tercatat baru 0,713 atau di peringkat 112 dari 193 negara. Sementara itu, menurut Global Competitiveness Report 2024, angka global talent competitiveness index Indonesia baru 40,25 atau di peringkat 80 dari 134 negara yang diukur. Angka-angka itu jauh dari

    Singapura di mana HDI-nya mencapai 0,949 atau peringkat 9 dunia, dan angka global talent competitiveness-nya mencapai 77,11 atau peringkat 2 dunia.
    Index yang dikeluarkan oleh dua laporan itu berseiring dengan hasil pengujian terhadap siswa Indonesia berusia 15 tahun terhadap kemampuan mereka dalam reading, matematika dan sains, melalui PISA (programme for international student assessment). Di reading, nilai rata-rata siswa Indonesia dari 8 kali tes yang dilakukan baru 383,9. Di bidang matematika, nilai rata-rata dari 7 kali tes baru 375,4. Terakhir, di bidang sains, nilai rata-rata dari 6 kali tes, baru 390. Semetara itu, nilai rata-rata siswa di negara-negara maju di tiga bidang itu adalah 500.

    Adanya SDM yang berkualitas, yang berperan sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi, tentu saja tidak mudah terjadi manakala angka-angka indeks HDI, global talent competitiveness, dan angka PISA masih seperti itu. SDM yang kreatif dan inovatif biasanya lahir dari orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi. Belum lagi soal soft skills, seperti kemampuan berkolaborasi dan bersinergi, juga sangat dibutuhkan.

    Mau tidak mau, adanya rekayasa yang terukur, di bidang Pendidikan, Kesehatan, serta pemerataan pembangunan ekonomi menjadi suatu keniscayaan. Di bidang Pendidikan dasar dan menengah, meningkatkan kemampuan literasi, numerasi, pembangunan karakter, serta dasar-dasar berfikir analitis dan kritis, menjadi kebutuhan untuk diperkuat di dalam kurikulum. Untuk pendikan tinggi, adanya kemampauan spesialisasi, berpikir analitis dan kritis, serta adaptif, menjadi suatu kebutuhan. Tetapi, kemampuan di bidang pendidikan ini juga membutuhkan adanya kondisi kesehatan yang bagus dan adanya standar hidup yang memadai.

    Dari pentingnya rekayasa yang terukut di bidang-bidang itu, secara khusus saya ingin menyoroti bagaimana pentingnya rekasa di bidang pendidikan tinggi. Pengalaman negara-negara maju menunjukkan, beragam inovasi dan tata kelola untuk mewujudkan pertumbuhan berkelanjutan, sebagian besar dilakukan oleh tenaga-tenaga handal lulusan perguruan tinggi. Ketika Indonesia hendak mengikuti cara serupa, mau tidak mau, adanya lulusan pergutuan tinggu handal, sangat dibutuhkan.

    Collaborative Flexible Specialization

    Di dalam beberapa dekade belakangan jumlah lembaga pendidikan tinggi di Indonesia meningkat tajam. Demikian juga anak-anak muda yang melampai Pendidikan tinggi juga terus naik. Tetapi, output dan outcome yang dihasilkan masih jauh dari harapan. Ada gap yang jauh antara kualitas lulusan yang dihasilkan dan yang diharapkan oleh pasar dan masyarakat.
    Adanya deindustrialisasi yang melanda Indonesia dalam beberapa dekade belakangan, bisa jadi karena kurang tepatnya kebijakan-kebijakan industri pemerintah, infrastruktur yang kurang memadai, tetapi juga karena tingkat produktivitas angkatan kerja Indonesia, termasuk lulusan perguruan tinggi, kalah jauh dari negara-negara yang konsisten melakukan industrialisasi seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan, serta belakangan Vietnam dan beberapa negara lainnya.

    Pemerintah, khususnya kementerian yang terkait dengan pendidikan, memang telah berupaya membuat kebijakan-kebijakan untuk mempertipis gap antara lembaga pendidikan tinggi dan dunia pasar. Yang terakhir adalah adanya kurikulum Kampus Merdeka, yang telah diperkenalkan di dalam kabinet lalu.

    Tetapi, kurikulum itu masih dalam bentuk eksperimen dan belum membawa hasil yang kelihatan. Kurikulum Kampus Merdeka memang telah memungkinkan terbangunnya fleksibilitas di dalam pembelajaran. Tetapi, kurikulum itu belum mampu menghasilkan lulusan yang kompeten di bidangnya dan diterima oleh pasar. Dalam taraf tertentu, kurikulum itu lebih mementingkan fleksibelitas tetapi mengabaikan core competence bidang masing-masing.

    Untuk itu, saya mengusulkan adanya desain kurikulum yang memungkinkan adanya para lulusan yang kompeten di bidang masing-masing tetapi para lulusan juga masih memiliki fleksibelitas di dalam mengembangkan karier dan memiliki kompetensi di dalam membangun sinergi dan kolaborasi. Kurikulum demikian, memungkinkan adanya apa yang saya sebut sebagai collaborative flexible specialization.

    Di dalam kurikulum seperti itu, mahasiswa selain dibekali core competence masing-masing, memiliki pengetahuan dan skills yang handal, juga dimungkinkan mengembangkan kompetensi tambahan atau studi minor. Misalnya, mahasiswa psikologi bisa mengambil sistem informasi sebagai minor. Mahasiswa juga sejak awal didesain untuk bekerja sama lintas program studi, termasuk menyelesaikan tugas akhir bersama-sama. Desain demikian, plus tambahan adanya kesempatan magang di dunia industri, membuat para lulusan lebih siap di dunia industri, termasuk di dalam mengembangkan kariernya.

    Selain itu, perlu juga didesain adanya perguruan tinggi yang berfungsi sebagai center of excellence, sebagai pusat riset dan inovasi, serta pusat pengembangan talent, yang merupakan produk kerja bersama dengan dunia industri dan komunitas. Kolaborasi ini bukan hanya terkait pembiayaan, melainkan juga terkait agenda-agenda penting bersama ke depan.

    Memang, rasanya terlalu berat kalau pengembangan SDM itu hanya diletakkan di bahu pemerintah. Kerja bersama antara pemerintah, pasar (swasta), dan komunitas-komunitas sangat penting untuk menghasilkan SDM yang siap sebagai motor bergeraknya Indonesia emas di masa mendatang. Semoga.

    Kacung Marijan
    Wakil Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com