Tag: risiko

  • Seni NFT Bisa Dilindungi Asuransi NFT? Ini Faktanya

    Masih ingatkah Anda dengan Everyday: The First 5000 Days? Sebuah NFT Art karya Mike Winkelmann alias Beeple yang laku terjual dengan harga $69 juta atau hampir setara dengan Rp 1 triliun! Fantastis sekali, ya? Harga karya seni NFT yang tidaklah murah memiliki beberapa sisi positif, di antaranya sebagai bentuk apresiasi karya dan bisa digunakan sebagai instrumen investasi jangka panjang.

    Namun, di sisi lain harga karya seni NFT yang fantastis dan bergerak di sebuah teknologi siber (blockchain) menjadikannya rawan terkena kejahatan siber maupun gangguan seperti error. Melihat hal tersebut, mungkinkah dalam waktu dekat asuransi NFT akan hadir untuk memberikan rasa aman bagi semua pihak yang terlibat? Yuk, kita bahas bersama!

    NFT dan Risiko yang DIhadapi

    NFT merupakan Non-Fungible Token yang berjalan pada teknologi blockchain. Tidak seperti aset kripto yang dapat dipertukarkan, NFT tidak bisa ditukarkan karena identitasnya yang unik satu sama lain. Oleh karenanya, harga karya seni NFT tidak bisa dibilang murah karena NFT bisa berfungsi sebagai bukti kepemilikan suatu karya yang asli dan tidak tergantikan.

    Baca Juga: Ternyata Inilah Penyebab Harga NFT Menjadi Mahal!

    Meski NFT merupakan salah satu terobosan jenius yang hadir untuk menghadapi permasalahan masa kini, yakni memberikan kesempatan bagi para seniman untuk berkiprah lebih luas, tidak bisa dipungkiri aktivitas yang berkaitan dengan teknologi siber masih memiliki risiko yang mengintai. 

    Dilansir dari Instech London, salah satu risiko yang mengintai pada sektor NFT adalah kerusakan link atau tautan yang mewakili NFT tersebut. Para pengguna NFT marketplace   Nifty Gateway adalah salah satu pihak yang mengalami kerugian ribuan dollar.

    Dari sini lah, banyak pengguna di luar sana yang menginginkan produk asuransi untuk melindungi aset digital NFT mereka.

    Bisakah Aset Digital NFT dilindungi oleh Asuransi?

    Lindungi Aset Digital NFT dengan Asuransi NFT

    Pada dasarnya, asuransi merupakan produk yang memberikan perlindungan dari risiko yang mengintai di masa depan yang ditujukan kepada suatu aset, mulai dari benda berharga hingga keselamatan jiwa.

    Aset kripto dan NFT sama-sama memiliki risiko pencurian dan peretasan data. Hal itulah yang nantinya akan dijaminkan oleh asuransi apabila industri asuransi sudah mulai merambah untuk memberikan perlindungan terhadap aset digital.

    Akan tetapi, apakah seseorang bisa mengamankan NFT-nya dengan asuransi?

    Pertama-tama kita harus melihat terlebih dahulu dua sisi yang berbeda, yakni sisi ekosistem NFT dan asuransi. 

    Perlu diketahui bahwasannya NFT memiliki volatilitas yang tinggi dan penentuan harganya dipengaruhi banyak unsur, seperti nominal gas fee, nilai karya, dan sebagainya. Selain itu NFT bisa dibilang adalah pendatang baru di ranah teknologi yang masih memerlukan banyak riset untuk memperoleh data.

    Selanjutnya, mari kita lihat dari sisi asuransi. Sebelum besaran premi diputuskan, perusahaan asuransi akan melakukan penghitungan risiko terhadap objek yang diasuransikan. Perhitungan risiko ini membutuhkan banyak data agar tujuan utama untuk melindungi aset akan tercapai bila sewaktu-waktu terjadi risiko.

    Nah, dari kedua hal di atas bisa ditarik kesimpulan jika asuransi dapat hadir untuk melindungi aset digital NFT dengan catatan sudah banyak data yang tersedia mengenai NFT dan pergerakan pasar tidak terlalu bergejolak seperti sekarang. Apabila dua hal tersebut terpenuhi, pihak asuransi bisa melakukan perhitungan risiko yang nantinya berfungsi sebagai dasar penjaminan manfaat untuk melindungi aset digital NFT.

    Lalu, Solusi Apa yang Paling Memungkinkan untuk Melindungi NFT?

    Asuransi NFTInstech London mengeluarkan beberapa nama perusahaan yang menghadirkan servis untuk melindungi para pengguna serta pemilik aset digital seperti aset kripto dan NFT, beberapa di antaranya adalah Cover Protocol, Insured Finance, dan Nexus Mutual. 

    Ketiga perusahaan tersebut memiliki konsep dasar yang sama, yaitu memberikan perlindungan untuk smart contract yang juga digunakan untuk membeli dan menjual NFT melalui peer-to-peer network. Peer-to-peer network di sini memiliki arti jika proses klaim tersebut akan diproses dan divalidasi oleh sesama pengguna serta tidak melibatkan perusahaan asuransi.

    Salah satu manfaat yang ditawarkan dari ketiga perusahaan tersebut adalah memberi penjaminan atas kerugian yang disebabkan ketika smart contract mengalami bug. Jika pengguna mengalami hal tersebut, pengguna bisa mengajukan klaim dan mendapatkan manfaat ganti rugi. 

    Itulah beberapa fakta mengenai perlindungan untuk aset digital seperti NFT dan aset kripto. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, tidak menutup kemungkinan jika dalam waktu dekat asuransi NFT akan benar-benar hadir untuk memberikan perlindungan terbaik bagi para penggunanya. 

    Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai NFT atau ingin mengoleksi karya seni NFT, yuk kunjungi TokoMall sekarang juga!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Rugikan Masyarakat Rp 139 T, 10.890 Pinjol Ilegal-Investasi Bodong Ditutup!


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menutup 10.890 platform investasi ilegal, pinjaman online (pinjol) ilegal hingga gadai ilegal. Penutupan itu merupakan jumlah tindakan sejak 2017 sampai Agustus 2024.

    Direktur Pengawasan Perilaku PUJK Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah Regional 4 Surabaya Dedy Patria mengatakan puluhan ribu entitas ilegal yang ditutup itu telah merugikan masyarakat mencapai Rp 139,67 triliun.

    Dedy juga menyebut kerugian masyarakat terbesar akibat entitas ilegal ini terjadi pada 2022 yakni sebesar Rp 120,79 triliun.


    “Total semua ada 10.890 entitas ilegal yang telah kita tutup dengan kerugian masyarakat mencapai Rp139 triliun terutama yang terbesar pada 2022,” katanya dikutip dari Antara, Jumat (4/10/2024).

    Secara rinci, 10.890 entitas yang ditutup tersebut meliputi investasi ilegal sebanyak 1.459, pinjol ilegal 9.180, dan gadai ilegal 251.

    Pada tahun ini hingga Agustus 2024, OJK telah menutup 2.741 entitas ilegal yang terdiri atas 241 investasi ilegal dan 2.500 pinjol ilegal.

    Menurut Dedy, aktivitas keuangan ilegal tidak akan mudah berhenti. Dia mengatakan para oknum diyakini terus memanfaatkan masyarakat yang belum memiliki literasi keuangan yang baik.

    “Seperti kita tutup di sini muncul di tempat lain. Itu selalu dan kapan pun akan terjadi karena mereka tahu itu kebutuhan masyarakat. Mereka mencari peluang kepada masyarakat yang belum terliterasi,” terangnya.

    Pihaknya pun meminta masyarakat tetap waspada dengan berbagai rayuan para pelaku entitas ilegal itu. Dia mencontohkan hal yang harus diwaspadai masyarakat, janji member get member, klaim tanpa risiko, keuntungan besar, dan sebagainya.

    Dedy mengungkapkan beberapa risiko yang akan didapatkan masyarakat ketika memutuskan menggunakan pinjol ilegal adalah bunga dan denda yang tidak terbatas, akses data tersebar, hingga adanya ancaman teror, penghinaan, dan pencemaran nama baik.

    “Kita tidak tinggal diam karena masyarakat banyak menjadi korban terutama karena pinjol ilegal ini,” pungkasnya.

    Simak Video: Menkominfo Ungkap Ada Kaitan Antara Pebisnis Judol dan Pinjol Ilegal

    [Gambas:Video 20detik]

    (ada/hns)



    Sumber : finance.detik.com

  • Salah Pilih Kabel Listrik Bisa Bawa Petaka di Rumah


    Jakarta

    Memilih kabel listrik yang tepat untuk rumah adalah hal krusial yang sering diabaikan.

    Padahal, kesalahan dalam memilih kabel bisa menimbulkan berbagai risiko yang berbahaya, mulai dari kerusakan perangkat hingga kebakaran rumah.

    Overheating yang Berpotensi Kebakaran

    Salah satu risiko terbesar dari pemilihan kabel yang tidak sesuai adalah overheating. Kabel yang tidak mampu menahan arus listrik berlebih dapat memanas dengan cepat, melansir familyhandyman.com, tukang listrik biasanya menggunakan alat penguji tegangan non kontak, dan kamu juga sebaiknya memiliki alat tersebut.


    Jika dibiarkan, suhu tinggi ini dapat menyebabkan isolasi kabel terbakar, yang akhirnya berujung pada kebakaran rumah. Pastikan memilih kabel dengan kapasitas yang sesuai dengan beban listrik di rumah, konsultasikan dengan teknisi listrik jika kamu tidak yakin dengan spesifikasi yang dibutuhkan.

    Korsleting Listrik

    Korsleting listrik terjadi ketika aliran listrik yang tidak sesuai atau arus pendek mengalir di dalam rangkaian. Ini biasanya disebabkan oleh penggunaan kabel yang tidak mampu menahan beban arus listrik yang besar. Korsleting tidak hanya dapat merusak perangkat elektronik, tetapi juga berpotensi memicu kebakaran.

    Gunakan kabel dengan standar yang sudah teruji kualitasnya dan mampu menahan arus listrik yang diperlukan. Periksa juga instalasi listrik secara berkala untuk memastikan semua kabel dalam kondisi baik.

    Kerusakan Perangkat Elektronik

    Memilih kabel dengan spesifikasi yang salah, terutama yang tidak sesuai dengan kebutuhan arus listrik, bisa menyebabkan kerusakan perangkat elektronik. Ini disebabkan oleh arus listrik yang tidak stabil, yang membuat perangkat cepat rusak atau bahkan terbakar.

    Kamu bisa menggunakan kabel dengan ukuran yang tepat sesuai daya yang dibutuhkan oleh perangkat. Misalnya, untuk perangkat besar seperti AC dan kulkas, gunakan kabel dengan diameter yang lebih besar.

    Kejutan Listrik (Sengatan Listrik)

    Bahaya lain yang tak kalah serius adalah kejutan listrik. Ini bisa terjadi jika kabel yang dipilih tidak memiliki isolasi yang baik atau rusak. Risiko ini bisa sangat berbahaya, terutama jika penghuni rumah secara tidak sengaja menyentuh kabel yang terkelupas.

    Pilihlah kabel dengan isolasi yang tebal dan berkualitas baik. Hindari penggunaan kabel yang murah dan tidak jelas mereknya, karena biasanya memiliki kualitas isolasi yang buruk.

    Biaya Perbaikan yang Tinggi

    Memilih kabel yang salah bukan hanya menimbulkan risiko keselamatan, tetapi juga berdampak pada biaya perbaikan yang tinggi. Perangkat yang rusak akibat arus listrik yang tidak stabil atau korsleting membutuhkan biaya perbaikan atau penggantian yang mahal.

    Jangan berhemat pada kualitas kabel. Meskipun kabel berkualitas mungkin lebih mahal, ini adalah investasi jangka panjang yang akan melindungi rumah dan perangkat kamu dari kerusakan lebih lanjut.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Biaya Pendidikan Makin Tinggi, Orang Tua Perlu Siapkan Hal Ini


    Jakarta

    Biaya pendidikan menjadi biaya terbesar kedua setelah biaya kesehatan yang memiliki kenaikan cukup tinggi setiap tahunnya. Untuk itu, orang tua perlu menyiapkan biaya pendidikan sedini mungkin, salah satunya dengan cara berinvestasi.

    Direktur PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) Danica Adhitama mengatakan merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), uang pangkal sekolah swasta rata-rata naik sebesar 10-15% setiap tahun, sementara inflasi pendidikan nasional mencapai 2,83%. Alhasil, dana pendidikan jadi salah satu tujuan keuangan yang krusial dan perlu direncanakan sedini mungkin.

    Danica menyebut pada realitasnya, memang biaya pendidikan selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya, sehingga para orang tua membutuhkan strategi khusus dalam mempersiapkan dana pendidikan. Salah satu pilihan paling rasional adalah mempersiapkan skema investasi yang tepat sejak dini.


    “Berbagai pilihan investasi yang tersedia dapat dimanfaatkan oleh orang tua dalam mempersiapkan dana Pendidikan. Orang tua perlu cermat dalam memilih Instrumen keuangan dengan risiko yang terukur dan imbal hasil yang stabil. Salah satu alternatif yang bisa dipertimbangkan adalah investasi pada reksa dana, yang menawarkan fleksibilitas jangka waktu investasi sesuai kebutuhan, serta manajemen risiko yang terkelola dengan baik oleh Manajer Investasi” kata Danica dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jumat (19/7/2024).

    Dia menjelaskan investasi pendidikan merupakan langkah strategis di mana penting untuk melakukan penyesuaian produk, jumlah dana dan tujuan pendidikan di masa depan. Untuk mengatasi tingkat kenaikan biaya pendidikan, para orang tua perlu secara teratur menyisihkan dana investasinya dalam jangka waktu tertentu, misalnya dengan mengalokasikan sebagian pendapatan setiap bulan.

    Menurutnya, orang tua dapat memastikan memiliki dana yang cukup untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka dengan tenang dan efisien. Reksa dana adalah salah satu alternatif investasi yang ideal untuk mempersiapkan dana pendidikan. Hal ini karena reksa dana menawarkan berbagai jenis dengan karakteristik berbeda yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan investor.

    Meski begitu, berinvestasi di reksa dana juga tak bisa lepas dari faktor risiko. Banyak hal yang perlu diperhitungkan untuk meminimalisir risiko di setiap instrumen investasi.

    “Maka dari itu, peran manajer investasi menjadi penting. Berbekal pengalaman dan sumber daya manusia yang mumpuni di bidang investasi, manajer investasi dapat membantu investor mengelola portofolionya. Dan tak lupa, terpenting adalah diversifikasi investasi juga perlu dilakukan oleh investor untuk meminimalisir potensi penurunan nilai investasinya,” terangnya.

    Berikut pilihan reksa dana yang dapat dipertimbangkan dalam mempersiapkan dana pendidikan, di antaranya:

    1. Reksa Dana Pasar Uang

    Reksa dana pasar uang cocok untuk investor yang menginginkan investasi dengan risiko rendah. Meskipun memiliki rata-rata imbal hasil historis relatif lebih rendah dibanding jenis reksa dana yang lain, yaitu dengan potensi return sebesar 5- 6%. Namun, tingkat risiko dan jangka waktu yang relatif lebih pendek. Reksa dana ini cocok untuk mempertahankan nilai investasi dari gerusan inflasi.

    2. Reksa Dana Pendapatan Tetap

    Reksa dana jenis ini menawarkan expected return relative sedikit lebih tinggi dibanding reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap memiliki return di kisaran 7-10%. Tingkat return ini terbilang cukup aman karena lebih tinggi dari tingkat inflasi pada umumnya.

    Pada reksa dana pendapatan tetap, investor akan mendapatkan keuntungan dari investasi yang ditempatkan dalam bentuk surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau korporat. Meski lebih aman dan relatif lebih stabil, investor disarankan untuk menempatkan dananya dalam jangka waktu lebih dari dua tahun untuk meminimalisir risiko fluktuasi pasar.

    3. Reksa Dana Campuran

    Reksa dana ini dianggap cocok untuk investor yang memiliki profil risiko moderat dan memiliki tujuan jangka menengah panjang (3-5 tahun atau lebih). Reksa dana campuran adalah investasi yang menempatkan dana kelolaannya di berbagai macam efek, antara lain ekuitas (saham), surat utang (obligasi), dan pasar uang (deposito).

    Penempatan dana di efek yang bervariasi ini membuat investor lebih fleksibel, terdiversifikasi optimal, dan risikonya lebih rendah dibandingkan reksa dana saham. Reksa dana ini cocok dilakukan dengan jangka waktu panjang karena menawarkan estimasi tingkat pengembalian hingga 10% setiap tahunnya.

    4. Reksa Dana Saham

    Jenis reksa dana ini cocok untuk profil investor yang agresif karena menawarkan potensi tingkat pengembalian keuntungan yang lebih tinggi dibanding reksa dana jenis lainnya. Namun sesuai dengan pepatah, high risk high return, reksa dana ini memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi pula dibanding reksa dana jenis lain.

    Hal ini lebih dikarenakan dana investasi akan dialokasikan pada pasar saham yang terkenal lebih fluktuatif dan sensitif terhadap sentimen. Untuk memaksimalkan tingkat keuntungan, banyak pihak menyarankan untuk melakukan investasi di reksadana ini dalam jangka waktu panjang.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com