Tag: sahabat nabi

  • Kisah Khalid bin Walid Penggal Kepala Jin Uzza



    Jakarta

    Khalid bin Walid adalah sahabat nabi yang mendapat julukan pedang Allah SWT. Ia dikisahkan pernah memenggal kepala jin Uzza.

    Kisah Khalid bin Walid memenggal jin Uzza ini merupakan perintah dari Rasulullah SAW tepatnya setelah menaklukkan Kota Makkah.

    Manshur Abdul Hakim menceritakan dalam buku Khalid bin Al-Walid Saifullah Al-Maslul, setelah menaklukkan Kota Makkah Rasulullah SAW mengutus Khalid bin Al Walid untuk menghancurkan berhala Al Uzza yang disembah oleh kaum musyrik Makkah pada zaman Jahiliyah. Berhala itu dihancurkan pada tanggal 25 Ramadan pada tahun tersebut.


    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Rasulullah SAW mengutus Khalid untuk menghancurkan berhala Al-Uzza, yang terletak di sebuah rumah di perkebunan kurma yang disembah oleh suku Quraisy, Kinanah dan Mudhar Penjaga dan pengurus berhala itu adalah dari Bani Syaiban dari kabilah Bani Sulaim sekutu kabilah Bani Hasyim.”

    Lebih lanjut diceritakan, ketika penjaganya mendengar Khalid sedang berjalan menuju berhala, maka ia mengalungkan pedangnya di atas berhala, kemudian ia menaiki bukit sambil melantunkan bait syair.

    Wahai Al Uzza, hertahanlah dengan kuat jangan lemah
    Atas serangan Khalid, lemparkanlah tutup dan bersiaplah Wahai Al Uzza, jika kamu tidak bisa membunuh Khalid
    Maka kembaliku dengan dosa akan segara atau kamu yang menang

    Ketika Khalid sampai pada berhala, maka ia langsung merobohkannya dan kembali lagi kepada Rasulullah SAW. Al Waqidi dan lainnya meriwayatkan bahwa ketika itu Khalid mendatangi berhala pada tanggal 25 Ramadan.

    Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Apa yang telah kamu lihat?” Khalid menjawab, “Aku tidak melihat apa-apa.” Lalu Rasulullah SAW memerintahkan untuk kembali lagi.

    Ketika Khalid kembali ke tempat itu, tiba-tiba keluar dari rumah berhala seorang wanita hitam yang menguraikan rambutnya sambil berteriak-teriak meratapi kesedihannya. Kemudian Khalid mengacungkan pedangnya ke atas sambil berkata melantunkan bait syair.

    Wahai Al-Uzza, kekafiranmu dan ketidaksucianmu
    Sesungguhnya aku melihat Allah telah menghinamu

    Kemudian Khalid menghancurkan rumah tersebut dan mengambil harta yang ada di dalamnya, lalu ia kembali mengabari Rasulullah SAW.

    Maka Rasulullah bersabda, “Itulah Al-Uzza yang tidak akan disembah lagi untuk selamanya.”

    Abu Ath-Thufail turut meriwayatkan hal yang sama.

    Rasulullah SAW menghancurkan semua berhala yang berada di sekitar Ka’bah dan kabilah-kabilah terdekat. Beliau mengutus para sahabatnya dalam rombongan pasukan kecil untuk menghancurkan berhala-berhala seperti yang dilakukan Khalid terhadap berhala Al-Uzza.

    Hanatul Ula Maulidya dalam buku Sang Panglima Tak Terkalahkan “Khalid Bin Walid” juga menceritakan hal yang sama mengenai kisah Khalid bin Walid.

    Setibanya di tempat Uzza berada, Khalid bin Walid menghancurkan kepala Uzza menggunakan pedangnya. Kemudian Khalid membakar reruntuhan patung terbesar itu dengan semangat yang berkobar seolah-olah ia ingin membakar dan memusnahkan kekufuran dari muka bumi.

    Setelah Khalid bin Walid berhasil menghancurkan Uzza, Khalid mendapat tugas baru dari Nabi Muhammad SAW untuk berangkat ke pemukiman Bani Khuza’ah (Bani Judzaimah) untuk menyebarkan agama Islam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, Ditikam pada Waktu Subuh



    Jakarta

    Ali bin Abi Thalib RA merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang juga termasuk ke dalam Assabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama memeluk Islam. Ali lahir di Makkah pada 13 Rajab, tepatnya tahun ke-32 dari kelahiran Nabi Muhammad. Ada juga yang menyebut Ali lahir pada 21 tahun sebelum hijriah.

    Ayah Ali merupakan paman dari Rasulullah SAW, yaitu Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay. Sementara ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf.

    Mengutip dari buku Akidah Akhlak susunan Drs H Masan AF M Pd, sejak umur Ali menginjak 6 tahun dia sudah tinggal bersama Nabi Muhammad. Karenanya, sifat-sifat yang ada pada Ali ia teladani dari Rasulullah SAW.


    Selain itu, Ali juga dikenal sebagai orang yang sangat cerdas. Saking cerdasnya, Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman kerap mendatanginya untuk membantu memecahkan permasalahan yang sulit.

    Ali bin Abi Thalib sendiri baru menjadi khalifah usai wafatnya Khalifah Utsman bin Affan. Ali terpilih menjadi pengganti Utsman sehingga pada tahun 35 Hijriah dia dinobatkan sebagai khalifah keempat, seperti dinukil dari buku Sejarah Peradaban Islam tulisan Akhmad Saufi dan Hasmi Fadhilah.

    Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah selama 5 tahun, mulai dari 35 Hijriah sampai beliau wafat pada 40 Hijriah. Kisah wafatnya Ali cukup tragis.

    Diceritakan dalam buku Kisah 10 Pahlawan Surga oleh Abu Zaein, usai Khalifah Utsman bin Affan wafat banyak terjadi fitnah di kalangan umat Islam. Karenanya, masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib tergolong sebagai waktu-waktu yang sulit.

    Banyak pemberontak menyebarkan berita bohong bahwa seharusnya yang menjadi khalifah ialah Mu’awiyah, bukan Ali bin Abi Thalib. Penyebar fitnah itu ialah Abdurrahman Amru atau Ibnu Muljam, Alburak bin Abdullah Attamimi, dan Ambru bin Bakar Attamimi.

    Ibnu Muljam kala itu pergi menuju Kufah untuk menjalankan rencana kejinya. Dengan pedang yang ia bawa, ia melukai Ali bin Abi Thalib yang kala itu hendak pergi ke masjid untuk sholat Subuh.

    Dalam buku 150 Kisah Ali bin Abi Thalib yang ditulis oleh Ahmad Abdul ‘Al Al-Thahthawi, Muhammad ibn Al Hanafiyyah menuturkan,

    “Tiba-tiba aku melihat kilatan cahaya dan mendengar seseorang berkata, ‘Hukum hanya milik Allah, bukan milikmu, wahai Ali, bukan pula milik sahabat-sahabatmu!’ Aku melihat pedang, lalu disusul pedang kedua. Aku mendengar Ali berteriak, ‘Tangkap orang itu!’ Orang-orang pun mengepungnya dari segala penjuru,”

    Setelah Ibnu Muljam diringkus, orang-orang datang menemui Hasan dengan panik. Mereka membawa Ibnu Muljam dengan tangan yang diborgol.

    Tiba-tiba Ummu Kultsum binti Ali berteriak sambil menangis seraya berkata, “Wahai musuh Allah, ayahku pasti akan baik-baik saja dan Allah akan menghinakanmu,”

    Ibnu Muljam lalu menyahut, “Lalu, untuk siapa kau menangis?! Demi Allah, aku membeli pedang itu seharga seribu, lalu aku bubuhi racun seharga seribu juga. Seandainya tebasan itu mengenai seluruh penduduk kota ini, niscaya mereka akan mati semua!”

    Usai peristiwa tragis itu, Abdullah ibn Malik mengatakan para tabib dikumpulkan untuk mengobati luka Ali. Ketika itu, Atsir ibn ‘Amr Al-Sukuni sebagai tabib yang paling hebat dan berasal dari Kirsi, memeriksa kondisi Ali bin Abi Thalib.

    Atsir meminta paru-paru kambing yang masih hangat untuk diambil uratnya, lalu diletakkan pada luka yang diderita Ali. Atsir kemudian meniup urat itu dan mengeluarkannya dari luka Ali.

    Atsir menemukan bahwa ternyata luka Ali telah sampai pada bagian otak. Dengan demikian, nyawa Ali tidak dapat tertolong.

    Ali bin Abi Thalib meninggal dunia pada Jumat, 17 Ramadhan tahun 40 Hijriah. Ali meninggalkan 33 anak, 15 laki-laki dan 18 perempuan.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Hakim Agung Zaman Rasulullah yang Pandai Putuskan Perkara, Ini Sosoknya


    Jakarta

    Rasulullah SAW memiliki sahabat yang pandai memutuskan perkara. Kecerdasannya itu membuatnya disebut-sebut sebagai hakim agung era nabi.

    Adalah Amr bin Ash. Diceritakan dalam buku Politik Hukum: Studi Perbandingan dalam Praktik Ketatanegaraan Islam dan Sistem Hukum Barat karya Abdul Manan, Rasulullah SAW pernah menunjuknya untuk menyelesaikan kasus.

    Rasulullah SAW bersabda kepada Amr bin Ash, “Hai Amr, putuskanlah permasalahan ini.” Amr berkata, “Apakah aku akan berijtihad, sedangkan baginda Rasul masih di sini?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, kalau ijtihadmu benar, maka engkau akan mendapat dua pahala dan kalau salah engkau akan mendapat satu pahala.”


    Imam Bukhari dan Muslim mengeluarkan riwayat tersebut dalam kitabnya. Al-Bukhari menyebutnya dalam bahasan Al-I’tisham bab Ajru Al-Hakim Idza Ijtahada fa Ashaba aw Akhtha’a dan Muslim menyebutnya dalam bahasan Al-Aqdhiyah bab Bayan Ajri Al-Hakim Idza Ijtahada fa Ashaba aw Akhtha’a. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i.

    Sosok Amr bin Ash

    Menurut sebuah riwayat sebagaimana dinukil Abdurrahman Ra’fat al-Basya dalam Shuwar min Hayatish Shabah 65 Syakhshiyyah, Amr bin Ash memeluk Islam setelah ia merenung dan berpikir cukup panjang. Rasulullah SAW pernah bersabda tentang diri Amr, “Para manusia telah masuk Islam, dan Amr bin Ash telah beriman.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi)

    Abdurrahman Ra’fat al-Basya menjelaskan, barangkali maksud hadits tersebut adalah orang-orang yang masuk Islam pada tahap-tahap akhir.

    Amr bin Ash juga dikenal sebagai ahli makar dan tipu daya bangsa Arab. Ia termasuk salah seorang paling jenius di antara mereka. Semasa hidupnya, Amr bin Ash berhasil menaklukkan dua daerah besar dan makmur. Keduanya adalah Palestina dan Mesir. Keberhasilannya dalam menaklukkan wilayah tersebut tak luput dari kecerdikan yang ia miliki.

    Amr bin Ash tak sedikit mengucapkan sesuatu yang sarat akan makna. Ia pernah berkata bahwa manusia itu terbagi menjadi tiga, yakni manusia yang sempurna, separuh manusia, dan manusia yang tak bermakna.

    Manusia yang sempurna, kata Amr bin Ash, adalah manusia yang lengkap agama dan akalnya. Ketika akan memutuskan suatu perkara, ia akan meminta pendapat orang-orang cerdas sehingga ia akan terus mendapatkan petunjuk.

    Sedangkan separuh manusia, lanjut Amr bin Ash, adalah orang yang disempurnakan agama dan akalnya oleh Allah SWT. Jika ia akan memutuskan suatu perkara, ia tidak meminta pendapat orang lain dan ia berkata, “Manusia seperti apa yang mesti aku ikuti pendapatnya kemudian aku akan meninggalkan pendapatku dan mengikuti pendapatnya?” Hal ini membuatnya terkadang benar dan terkadang salah.

    Adapun, manusia yang tak bermakna yang dimaksud Amr bin Ash adalah orang yang tidak beragama dan tidak berakal. Amr bin Ash menyebut, manusia jenis ini akan selalu keliru dan terbelakang.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Ibu Pemasak Batu pada Masa Khalifah Umar bin Khattab



    Jakarta

    Ada sebuah kisah menarik mengenai seorang ibu pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Kala itu, beliau dikenal sebagai pemimpin yang adil dan sangat peduli pada rakyatnya.

    Dikisahkan dalam buku Kisah dan Hikmah susunan Dhurorudin Mashad, ketika malam menjelang dini hari Umar bin Khattab melakukan kebiasaan rutinnya yaitu berjalan bersama sang pengawal untuk melihat kondisi rakyat. Sesampainya di dusun kecil terpencil, terdengar suara tangis anak kecil.

    Tangisan anak kecil ini memilukan hati Umar. Akhirnya, ia mencari sumber suara tangis yang ternyata berasal dari rumah gubuk sederhana. Bangunan itu terbuat dari kulit kayu, di dalamnya ada seorang ibu yang tengah duduk di depan tungku seperti sedang memasak. Sang ibu sesekali mengaduk panci seraya membujuk anaknya untuk tidur.


    “Diamlah wahai anakku. Tidurlah kamu sesaat, sambil menunggu bubur segera masak,” katanya.

    Akhirnya sang anak tertidur. Namun tak lama setelahnya ia kembali terbangun dan menangis lagi. Kejadian ini terus berulang sampai akhirnya memancing Umar untuk mengecek apa yang sebenarnya dikerjakan oleh ibu tersebut.

    Perlahan Umar mendekat, ia mengetuk pelan sambil mengucap salam. Tak ingin identitasnya diketahui, Umar bertamu dalam keadaan menyamar.

    Setelah pintu dibuka, Umar menanyakan terkait apa yang dimasak ibu tersebut dan apa yang menyebabkan putranya menangis terus-menerus.

    Dengan sedih, sang ibu menceritakan keadaannya. Ia menyebut anaknya menangis karena lapar padahal ia tak punya makanan apapun di rumah.

    Ibu itu juga mengatakan bahwa yang dimasaknya adalah sebongkah batu untuk menghibur si anak. Ini dilakukan seolah-olah ia tengah memasak membuat makanan. Selain itu, ibu tersebut bahkan sempat mengumpat kesal terhadap sang pemimpin pada masa itu yang mana Umar bin Khattab sendiri.

    “Celakalah Amirul Mu’minin ibnu Khattab yang membiarkan rakyatnya kelaparan,”

    Mendengar hal itu, Umar lalu pergi dan menangis memohon ampun kepada Allah SWT. Ia merasa menjadi pemimpin yang teledor sampai-sampai tidak tahu ada rakyatnya yang kesusahan.

    Tanpa berpikir panjang, Umar bin Khattab pulang dan mengambil sekarung gandum. Dibawanya seorang diri karung gandum itu di punggungnya sambil menuju ke rumah ibu yang memasak batu.

    Melihat hal itu, pengawal Umar menawarkan diri untuk membantu. Sayangnya, Umar justru menolak.

    “Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biar aku sendiri yang memikulnya, karena ini lebih ringan bagiku dibanding siksaan Allah di akhirat nanti,” kata Umar yang terus membawa karung gandum tersebut.

    Sesampainya di rumah ibu tersebut, Umar langsung memasakkan sebagian gandum untuk dijadikan makanan. Setelah matang, ibu dan anak itu dipersilakan makan hingga kenyang.

    Setelah selesai, Umar segera pamit ke ibu dan anak itu. Ia juga berpesan agar esoknya anak dan ibu tersebut datang ke Baitul Mal menemui Umar untuk mendapat jatah makan dari negara.

    Sang ibu mengucapkan terima kasih sambil berkata, “Engkau lebih baik dibanding Khalifah Umar,” ucapnya.

    Keesokan harinya, sang ibu datang ke Baitul Mal untuk meminta jatah tunjangan pangan bagi diri dan anaknya. Umar menyambut dengan senyum bahagia.

    Saat ibu itu menyadari bahwa orang yang membantunya di malam buta adalah Umar sang Amirul Mu’minin, ia langsung terkejut. Umar menyambut si ibu sambil mendekat dan menyampaikan permohonan maafnya.

    Beliau tidak sungkan menyampaikan permohonan maafnya sebagai seorang pemimpin.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Umar bin Khattab dan Kebijakan Subsidi Makanan bagi Rakyatnya



    Jakarta

    Umar bin Khattab merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang kemudian menjadi khalifah kedua. Di masa kepemimpinannya, Umar dikenal sebagai sosok yang bijaksana.

    Rasulullah SAW memberikan julukan Abu Faiz bagi Umar bin Khattab. Julukan ini disematkan karena kecerdasan Umar dalam mengatur pemerintahan dan strategi perang. Umar memang lihai dalam mengatur sistem pemerintahan, termasuk mengambil kebijakan untuk memberikan subsidi makanan bagi rakyatnya.

    Dirangkum dari buku Kisah-Kisah Inspiratif Sahabat Nabi oleh Muhammad Nasrulloh, dikisahkan bahwa Umar memberikan subsidi makanan bagi anak-anak yang telah disapih. Ternyata kebijakan ini disalahartikan oleh beberapa orang.


    Suatu malam tiba, Umar bin khattab mendapati kafilah dagang yang sedang singgah di salah satu tempat di kota Madinah. la mendapati Abdurrahman bin ‘Auf sedang bersama mereka. Umar pun berkata pada Abdurrahman bin ‘Auf yang juga merupakan sahabat Rasulullah SAW ini.

    “Apakah engkau sedang menemani dan menjaga mereka?” tanya Umar.

    Abdurrahman bin ‘Auf: “Benar!”

    Umar: “Kalau begitu aku bantu menemanimu terjaga untuk menjaga mereka”.

    Di tengah malam, Umar mendengar isak tangis anak kecil, kemudian ia mencari sumber suara dari mana asal tangisan tersebut. Umar akhirnya mengetahui bahwa anak itu tengah bersama ibunya.

    Umar pun mengingatkan ibu tersebut: “Berbuat baiklah pada buah hatimu”. Kemudian Umar mendengar lagi isak tangis anak kecil tersebut dan kembali memperingatkan si ibu untuk berlaku baik pada anaknya.

    Hingga di penghujung malam, Umar mendengar kembali isak tangis anak kecil tersebut lalu ia berkata pada ibunya.

    “Celaka engkau! Sungguh engkau ibu yang buruk! Tidak henti-hentinya aku melihat dan mendengar putramu menangis sejak malam tadi”.

    Ibu: “Wahai tuan, aku sudah berusaha memberinya makan. Namun ia tidak mau.”

    Ibu ini tidak mengetahui kalau lawan bicaranya adalah Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

    Umar: “Kenapa engkau paksa ia makan?”

    Ibu: “Karena Umar tidak memberi subsidi makanan kecuali hanya bagi anak yang telah disapih”.

    Umar: “Berapa usia anakmu?”

    Ibu: “Masih beberapa bulan”

    Umar: “Celaka engkau. Jangan tergesa-gesa menyapihnya!”

    Dari pengalaman ini, Umar kemudian sadar bahwa kebijakannya memberi subsidi dengan membagikan makanan hanya kepada anak yang telah disapih telah membuat banyak ibu-ibu mempercepat menyapih bayinya. Tujuan tidak lain yakni agar para ibu mendapatkan makanan dari pemerintah.

    Menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan, ia pun berkata pada dirinya sendiri: “Buruk sekali engkau Umar. Sudah berapa anak yang telah engkau sengsarakan?”

    Umar lalu membuat kebijakan baru agar setiap orang tidak tergesa-gesa menyapih anaknya. Dan subsidi makanan kemudian diberikan kepada setiap anak yang lahir tanpa menunggu disapih.

    Dikutip dari buku ‘Umar Ibn Al-Khattab His Life and Times Vol. 1, kekeringan dan kelaparan parah juga sempat terjadi pada tahun ke 18 setelah hijrah. Tahun ini disebut Ar-Ramadah karena angin menerbangkan debu seperti abu atau Ar-Ramad.

    Bencana ini mengakibatkan kematian hingga hewan-hewan ikut merasakan dampaknya. Bencana alam ini terjadi pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab.

    Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, Umar memastikan agar rakyatnya tidak ada yang kesulitan mendapatkan makanan. Ia bahkan tak segan untuk turun langsung dan membagikan makanan.

    Kebijakan memberikan makanan bagi rakyatnya bukan satu atau dua kali dilakukan Umar tetapi menjadi kegiatan yang rutin.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Masuk Islamnya Khalid bin Walid, Panglima Islam Tersohor pada Masanya



    Jakarta

    Dalam sejarah kemiliteran Islam, sosok Khalid bin Walid RA dikenal akan kehebatannya dalam panglima perang. Saking hebatnya Khalid RA, ia menyandang julukan Pedang Allah yang Terhunus.

    Mengutip buku Ensiklopedia Sahabat Rasulullah oleh Wulan Mulya Pratiwi dkk, Khalid bin Walid RA lahir pada tahun 592 M. Ayahnya bernama Walid bin al-Mughirah, sementara ibunya ialah Lubabah binti al-Harith.

    Khalid bin Walid RA termasuk kerabat Rasulullah SAW karena bibinya yang bernama Maimunah merupakan istri dari Nabi Muhammad. Selain itu, Khalid RA juga merupakan sepupu dari Umar bin Khattab RA, bahkan keduanya memiliki kemiripan wajah dan postur tubuh.


    Mulanya, Khalid RA memusuhi Nabi SAW seperti suku Quraisy kebanyakan yang memegang teguh agama lama mereka. Bahkan dirinya turut serta dalam memerangi kaum muslimin, salah satunya ketika Perang Uhud.

    Saat Perang Uhud, Khalid bin Walid RA sebagai panglima pasukan berkuda suku Quraisy berhasil mengalahkan pasukan muslim. Akibatnya, tentara Islam kalah telak.

    Seiring berjalannya waktu, Allah SWT memberi hidayah pada Khalid bin Walid RA hingga akhirnya ia memeluk Islam. Dijelaskan dalam buku Para Panglima Perang Islam susunan Rizem Aizid, setelah masuk Islam Khalid RA menjadi juru tulis Nabi SAW yang bergelar Abu Sulaiman.

    Melalui Kitab Al-Maghzi Muhammad karya Al-Waqidi, disebutkan Khalid RA mengatakan bahwa Allah SWT memberinya hidayah.

    “Aku telah menyaksikan tiga perang, yang semuanya melawan Muhammad. Di setiap pertempuran yang kusaksikan, aku pulang dengan perasaan bahwa aku berada di sisi yang salah, dan bahwa Muhammad pasti akan menang,” ucapnya.

    Hatinya semakin tersentuh setelah menerima surat dari saudaranya yang terlebih dulu masuk Islam, yaitu Walid bin Al Walid. Ia mengingatkan Khalid RA bahwa banyak kesempatan baik yang terlewat olehnya. Dengan demikian, Khalid RA memutuskan untuk memeluk Islam.

    Ketika di bulan Safar 8 H, pada masa gencatan senjata setelah Perjanjian Hudaibiyah, Khalid RA bersama Amr bin Al Ash RA dan Utsman bin Thalhah RA menemui Nabi SAW untuk memeluk Islam.

    Ia berkata kepada Rasulullah SAW untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Sang nabi lantas berdoa:

    “Ya Allah, aku memohon agar Engkau mengampuni Khalid bin Al-Walid atas tindakannya menghalangi jalan-Mu pada masa lalu,”

    Setelah masuk Islam, Khalid bin Walid RA banyak memimpin berbagai pertempuran antara lain Perang Mu’tah, Fathu Makkah, Pertempuran Hunain, Pengepungan Thaif, Pertempuran Tabuk, dan Haji Wada’.

    Perang Mu’tah menjadi awal mula karier kemiliteran Khalid bin Walid RA setelah masuk Islam. Kala itu, ia melawan suku Ghassan.

    Sebelumnya, Khalid RA tidak ditugaskan untuk memimpin Perang Mu’tah. Namun karena kematian para pemimpin perang, akhirnya Tsabit bin Arqam RA meminta Khalid RA untuk memimpin pasukan muslim.

    Sebagai sosok yang dikenal hebat dalam pertempuran, Khalid RA lantas menyusun strategi untuk melakukan tipu muslihat. Khalid RA memberi perintah agar barisan pasukan belakang berpindah ke depan, lalu pasukan sayap kiri berpindah ke sayap kanan, begitu sebaliknya.

    Pasukan yang berada di barisan belakang terus menerus bergerak menuju bagian depan sehingga debu-debu berterbangan. Hal ini tentu mengganggu penglihatan pasukan musuh.

    Strategi Khalid RA yang brilian itu mengakibatkan pasukan musuh mengira kaum muslimin mendapat tambahan bala tentara baru. Karenanya, pasukan musuh tidak berani berbuat gegabah dalam menggempur kaum muslimin.

    Taktik yang Khalid RA lakukan membuat pasukan muslim memenangkan perang tersebut. Begitu pula pada pertempuran-pertempuran lainnya yang diikuti Khalid RA setelah memeluk Islam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Utsman bin Affan Masuk Islam di Usia 34 Tahun



    Jakarta

    Utsman bin Affan RA termasuk golongan pertama yang masuk Islam (Assabiqunal Awwalun). Kisah Utsman bin Affan RA masuk Islam diceritakan dalam sejumlah riwayat.

    Disebutkan dalam Biografi Utsman bin Affan karya Ali Muhammad Ash-Shalabi, pemilik nama lengkap Utsman bin Affan bin Abu Al-‘Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab ini nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW pada Abdi Manaf. Adapun dari jalur ibu, ia adalah cucu bibi Nabi SAW.

    Utsman bin Affan RA terlahir dari suku Quraisy dari silsilah Bani Umayyah yang merupakan keluarga kaya dan berpengaruh. Utsman bin Affan RA adalah seorang pedagang, hartawan, dan bangsawan Quraisy yang mengorbankan hartanya dalam jumlah besar untuk Islam.


    Dikutip dalam buku Meneladani Kepemimpinan Khalifah karya Abdullah Munib El-Basyiry, Utsman bin Affan RA masuk Islam pada awal-awal Islam tepatnya sebelum Rasulullah SAW memasuki rumah Al-Arqam ibn Abi Al-Arqam, tempat berkumpulnya Rasulullah SAW dan para sahabat.

    Utsman bin Affan RA masuk Islam atas ajakan Abu Bakar RA, salah seorang sahabat nabi yang lebih dulu masuk Islam. Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi mengatakan dalam Mukhtashar Hayatus Shahabah, tidak ada riwayat yang shahih tentang dakwah Nabi SAW kepada Utsman bin Affan RA.

    Namun, ada suatu riwayat yang menceritakan tentang kisah Utsman bin Affan RA masuk Islam atas ajakan Abu Bakar RA. Riwayat ini dipaparkan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah dari Al-Hafizh Ibnu Asakir.

    Dalam penggalan riwayat itu diceritakan, Utsman bin Affan RA berpapasan dengan Abu Bakar RA. Abu Bakar RA berkata, “Celaka kau wahai Utsman, engkau adalah orang yang dikenal teguh hati, tidak ada kebenaran yang tidak bisa kau bedakan dari kebatilan. Apalah artinya berhala-berhala yang disembah kaum kita, bukankah berhala-berhala itu terbuat dari batu yang bisu, tidak bisa mendengar dan melihat, tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat?”

    “Memang begitulah,” kata Utsman bin Affan RA.

    “Demi Allah memang begitulah,” kata Abu Bakar RA. Ia melanjutkan, “Demi Allah, bibimu telah mengatakan apa adanya kepadamu. Ini dia Rasul Allah, Muhammad bin Abdullah, yang telah diutus Allah kepada makhluk-Nya dan membawa risalah-Nya. Lalu apakah engkau juga akan menemuinya?”

    Dalam riwayat tersebut juga dikatakan, setelah pertemuan dengan Abu Bakar RA itu, Utsman bin Affan RA berkumpul di tempat Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Wahai Utsman, penuhilah hak Allah. Sesungguhnya aku adalah rasul Allah yang diutus kepadamu dan kepada semua makhluk-Nya.”

    Utsman bin Affan RA berkata, “Demi Allah, aku tidak mampu menahan diri semenjak mendengar perkataan beliau itu, untuk masuk Islam dan mengucapkan syahadatain.”

    Dikutip dalam buku Utsman bin Affan RA karya Abdul Syukur al-Azizi bahwa Utsman bin Affan RA masuk Islam saat berusia 34 tahun. Ia mengajak ibu dan saudara-saudaranya untuk memeluk Islam, hanya ayahnya yang menjadi penentang Rasulullah SAW.

    Dijelaskan dalam buku Sejarah Peradaban Islam Terlengkap Periode Klasik, Pertengahan, dan Modern karya Rizem Aizid bahwa tidak lama setelah turunnya wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, Utsman bin Affan RA menikah dengan Ruqayyah RA, putri Nabi Muhammad SAW.

    Namun tidak lama setelah Utsman bin Affan RA dan Ruqayyah RA menikah, Ruqayyah RA sakit keras hingga ajal datang menjemput. Setelah Ruqayyah RA wafat, Nabi Muhammad SAW kembali menikahkan Utsman bin Affan RA dengan putri beliau yang bernama Ummu Kultsum RA.

    Maka dari itu, Utsman RA mendapat gelar “Dzun Nurain” yang berarti “yang memiliki dua cahaya”.

    Itulah sepenggalan kisah Utsman bin Affan RA ketika masuk Islam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Zaid bin Tsabit, Sahabat Nabi SAW yang Menghimpun Mushaf Al-Qur’an



    Jakarta

    Zaid bin Tsabit adalah salah satu sahabat Nabi SAW. Sebagai sosok yang dikenal cerdas, Zaid pernah mempelajari bahasa Ibrani dan menguasainya hanya dalam waktu singkat.

    Dikisahkan dalam buku Sosok Para Sahabat Nabi susunan Dr Abdurrahman Raf’at Al-Basya dan Abdulkadir Mahdamy, kecerdasan dan kejujuran yang dimiliki Zaid menjadikan dirinya sebagai penulis wahyu Nabi Muhammad SAW. Berkat jasa Zaid, kini umat Islam dapat membaca Al-Qur’an secara utuh.

    Menukil buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas X tulisan H Abu Achmadi dan Sungarso, pemilik nama lengkap Zaid bin Tsabit an-Najjari al-Anshari lahir pada 612 M. Dirinya merupakan keturunan Bani Kazraj yang mulai menetap bersama Nabi SAW ketika beliau hijrah ke Madinah.


    Zaid bin Tsabit berhasil meriwayatkan 92 hadits yang 5 di antaranya disepakati bersama Imam Bukhari dan Muslim. Bukhari juga meriwayatkan 4 hadits lainnya yang bersumber dari Zaid, sementara Muslim meriwayatkan 1 hadits lain dari Zaid, seperti dikutip dari buku Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah karya Harjan Syuhada dan Fida’ Abdillah.

    Zaid bin Tsabit diangkat sebagai ulama di Madinah pada bidang fikih, fatwa, dan faraidh atau waris. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Zaid diangkat menjadi bendahara.

    Sementara itu, pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, Zaid ditugaskan sebagai pengurus Baitul Maal. Bahkan, Umar dan Utsman melantik Zaid sebagai pemegang jabatan khalifah sementara ketika mereka menunaikan ibadah haji.

    Dikutip dari buku Ikhtisar Tarikh Tasyri’ oleh Dr H Abdul Majid Khon MAg, perang yang pertama diikuti oleh Zaid bin Tsabit adalah perang Khandaq. Sedangkan pada Perang Tabuk, dirinya dipercaya oleh Nabi SAW untuk membawa bendera bani Malik bin Najjar yang dipegang oleh Imarah bin Hazm.

    Imarah lalu bertanya kepada Rasulullah, “Apakah sampai kepada engkau tentang aku?”

    Nabi SAW menjawab,

    “Tidak, tetapi Al-Qur’an didahulukan dan Zaid lebih banyak mengambilnya daripada kamu.” (HR Al Hakim dalam Al-Mustadrak)

    Dalam riwayat lainnya, Nabi SAW bahkan menyebut Zaid bin Tsabit sebagai orang yang paling alim. Berikut bunyi sabdanya,

    “Orang yang paling alim ilmu faraidh di antara kamu adalah Zaid bin Tsabit.” (HR Ahmad)

    Ridha Anwar dalam buku Seri Sahabat Rasulullah: Zaid bin Tsabit menyebut bahwa Zaid memiliki tulisan yang indah. Dengan kemampuan Zaid yang cerdas dan hebat itu, Nabi SAW bisa mengirim surat perjanjian kepada para pemuka kaum Yahudi dengan menggunakan bahasa mereka.

    Bahkan ketekunan Zaid dalam mencatat dan mengumpulkan wahyu Nabi SAW ia susun dengan rapi. Catatan itu Zaid tulis di pelepah daun kurma, kulit hewan, atau pun tulang hewan.

    Selepas Nabi Muhammad meninggal dunia, para penghafal Al-Qur’an satu per satu gugur di medan perang. Umar bin KHattab kala itu khawatir Al-Qur’an akan hilang bersama para penghafalnya.

    Akhirnya, ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar untuk menghimpun. Mereka sepakat mengumpulkan lembaran ayat-ayat Al-Qur’an menjadi satu mushaf dan mengutus Zaid untuk melaksanakan tugas tersebut.

    Zaid mendatangi para penghafal Al-Qur’an yang masih hidup. Dengan cermat, ia mencocokkan catatan dan hafalan mereka hingga akhirnya terciptalah mushaf Al-Qur’an yang dapat dibaca oleh umat Islam. Begitu besar jasa Zaid bin Tsabit bagi kaum muslimin.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Abu Darda, Sahabat Nabi yang Paling Terakhir Masuk Islam



    Jakarta

    Sahabat Nabi Muhammad SAW yang pertama kali masuk Islam disebut dengan “As sabiqunal awwalun.” Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Khadijah, Abu Bakar As-Shiddiq, Zaid bin Haritsah, dan Utsman bin Affan. Lalu bagaimana dengan sahabat Rasulullah SAW yang terakhir kali memeluk Islam? Berikut kisah lengkap sahabat nabi yang paling akhir masuk Islam.

    Sahabat Nabi SAW yang paling akhir masuk Islam adalah Abu Darda. Ia adalah seorang laki-laki yang unggul, penuh ketaatan, dan spesifik. Ia seorang muslim yang selalu berusaha menggapai derajat ibadah tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia.

    Kisahnya dirangkum dalam buku Sosok Para Sahabat Nabi oleh Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya, sebagaimana berikut ini.


    Abu Darda memiliki nama asli Uwaimir bin Malik dari suku Khazraj. Namun orang-orang lebih sering memanggilnya dengan Abu Darda karena ia memiliki anak bernama darda.

    Suatu pagi yang sangat pagi ia telah terbangun dari tidurnya. Ia lantas mengucapkan doa dan salam kepada berhala yang ia simpan di tempat terbaik di rumahnya.

    Tak lupa, ia juga mengoleskan wangi-wangian serta memberinya baju sutera, hadiah dari kawannya yang kembali dari Yaman kemarin.

    Setelah matahari sudah meninggi, ia lantas pergi menuju tokonya. Namun belum jauh ia berjalan, di Kota Yatsrib terdapat riuh-rendah yang ternyata berasal dari sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang pulang dari Perang Badar.

    Ia lantas menanyakan kabar sahabat jahiliyahnya dulu yang kini telah memeluk Islam, Abdullah ibn Rawalah. Seorang pemuda menjawab bahwa Abdullah baik-baik saja dan pulang dengan membawa ghanimah. Ia pun merasa tenang dan lega.

    Meskipun Abdullah bin Rawalah telah masuk Islam, dirinya masih berhubungan baik dengan Abu Darda. Ia bahkan sering mengunjunginya dan menyemangatinya untuk segera masuk Islam. Namun selalu saja ditolak oleh Abu Darda.

    Ketika Abu Darda sudah sampai di tokonya, kesibukan langsung menyelimutinya, tanpa tahu apa yang akan diperbuat Abdullah di rumahnya.

    Di Rumah Abu Darda

    Pintu rumah Abu Darda terbuka dan Abdullah melihat Ummu Darda di dalam. Lantas ia meminta izin untuk masuk rumah dan diijinkan olehnya.

    “Di mana gerangan Abu Darda?” Tanya Abdullah.

    “Dia sudah pergi ke toko. Tak lama lagi tentu pulang.” Lalu ia menunggu kedatangan Abu Darda di dalam rumah. Tanpa sepengetahuan Ummu Darda, Abdullah diam-diam masuk ke ruangan berhala dan menghancurkannya.

    “Semua yang menyekutukan Allah itu sesat.” Gumam Abdullah. Setelah patung itu hancur, ia lantas meninggalkannya.

    Tak lama, Ummu Dardah masuk dan berteriak histeris mendapati patung sembahannya telah hancur berkeping-keping. Sambil memukul-mukul kepala dan menampar pipi ia meratap, “Engkau menghancurkanku. Ibnu Rawahah, engkau menghancurkanku…”

    Abu Darda pun pulang dari tokonya. Ia mendapati istrinya di depan pintu sambil memeluk berhala rusak itu dengan wajah yang ketakutan.

    “Kenapa kau?” Tanya Abu Darda.

    “Saudaramu, Abdullah ibn Rawalah, tadi datang lalu menghancurkan patung pemujaanmu…” jawab Ummu Darda

    Sekejap emosinya pun memuncak dan hendak langsung mendatangi Abdullah. Namun setelah dipikir-pikir, amarahnya mereda dan tidak jadi marah. Ia malah berkata,

    “Kalau patung ini memiliki kebaikan, tentu dia mampu melindungi dirinya dari segala gangguan…”

    Setelah kejadian ini, ia langsung pergi mencari Abdullah ibn rawalah. Ia lantas meminta untuk diantar menghadap Rasulullah SAW untuk menyatakan keislamannya.

    Dengan ini menjadikan Abu Darda sebagai sahabat nabi paling akhir dari yang memeluk Islam dari kaum Khazraj.

    Sejak saat itu, ia langsung beriman secara mantab kepada Allah SWT. Ia menyesali ketertinggalannya tersebut, membalasnya dengan mempelajari agama dengan sangat giat dan tekun.

    Dirinya bagai orang yang kehausan akan ilmu-ilmu dan ibadah. Bahkan ia tak segan untuk meninggalkan jual belinya demi menghadiri majelis-majelis ilmu. Akhirnya Abu Darda menjadi sahabat nabi dan orang yang paling mengerti tentang dinullah dan hafal Al-Qur’an.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Masuk Islamnya Hamzah di Hadapan Kaum Quraisy



    Jakarta

    Hamzah bin Abdul Muthalib adalah paman Nabi Muhammad SAW yang dijuluki singa Allah. Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dan pemberani.

    Meski disebut sebagai paman Nabi Muhammad, usia Hamzah dan Rasulullah SAW tidak terpaut jauh. Tahun kelahiran Hamzah hampir sama dengan sang nabi, seperti dinukil dari buku 99 Kisah Menakjubkan dalam Al-Qur’an.

    Hamzah sangat disegani oleh kaum Quraisy, termasuk para pemukanya. Sebagai sosok yang tegas, dia bahkan selalu menjadi orang paling pertama yang maju jika Nabi SAW dihina.


    Hubungan Hamzah dengan Rasulullah SAW sangat dekat. Saking sayangnya Hamzah terhadap sang nabi, ia selalu melindunginya dari segala marabahaya.

    Mengutip buku Sirah Nabawiyah susunan Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Hamzah bin Abdul Muthalib masuk islam pada penghujung tahun keenam kenabian Rasulullah SAW, yaitu pada bulan Dzulhijjah. Hal ini mengacu pada mayoritas pendapat ulama.

    Kisah masuk Islamnya Hamzah bermula ketika Abu Jahal berjalan melewati Nabi Muhammad SAW di Bukit Shafa. Kala itu, Abu Jahal mengganggu dan mencaci Rasulullah.

    Alih-alih membalas cacian Abu Jahal, Nabi Muhammad hanya terdiam dan tidak berbicara. Melihat hal itu, Abu Jahal menghantam kepala sang nabi menggunakan batu hingga mengeluarkan banyak darah.

    Pada waktu yang sama, budak perempuan Abdullah bin Jad’an menyaksikan perbuatan Abu Jahal kepada Nabi Muhammad SAW. Budak tersebut lantas memberitahu Hamzah yang baru pulang berburu sambil menenteng busur panahnya.

    Mendengar hal itu, Hamzah sangat murka. Ia langsung pergi menghampiri Abu Jahal yang tengah berkumpul dengan kaum Quraisy. Saat memasuki Masjidil Haram, Hamzah segera berhadapan dengan Abu Jahal.

    “Wahai orang hina dina, engkau berani mencela anak saudaraku padahal aku sudah menganut agamanya?”

    Setelah menyatakan hal itu, Hamzah memukul Abu Jahal menggunakan busur panah hingga menghasilkan sejumlah luka menganga di wajahnya. Orang-orang dari Bani Makhzum yang merupakan suku Abu Jahal bangkit karena merasa murka akan tindakan Hamzah.

    Begitu pula dengan orang-orang Bani Hasyim dari suku Hamzah yang terpancing emosinya. Abu Jahal lalu melerai kedua suku tersebut sambil berkata,

    “Biarkanlah Abu Imarah. Memang aku tadi telah mencaci maki anak saudaranya dengan cacian yang menyakitkan.”

    Keislaman Hamzah mualnya berasal dari pelampiasannya yang tidak terima bahwa harga diri keluarganya dihina. Namun Allah SWT memberikannya hidayah hingga akhirnya Hamzah berpegag teguh agama Islam.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com