Tag: Santiment

  • Ethereum Terus Berkembang, Ini 10 Proyek Utama 2021

    Santiment, perusahaan penelitian dan analisis crypto, baru saja mempublikasi 10 proyek Ethereum terbesar menurut kegiatan developer di tahun 2021.

    Walau saat ini mengalami biaya transaksi yang tinggi, perkembangan proyek-proyek di blockchain Ethereum masih layak untuk diperhatikan .

    10 Proyek Ethereum Terbesar di 2021

    Santiment menegaskan bahwa kegiatan developer sering kali menjadi salah satu indikator yang dilupakan saat melihat kesuksesan suatu proyek.

    Sebab, kegiatan developer menunjukkan komitmen dalam perkembangan suatu produk terutama komitmennya terhadap rencana awal dalam jangka panjang.

    Santiment memberikan data tentang 10 proyek utama yang hanya berada pada ERC-20 atau blockchain Ethereum.

    Penelitian ini menggunakan aktivitas pada GitHub dengan kurun waktu satu bulan terakhir, berikut adalah daftar yang dipublikasi di Twitter.

    Di peringkat pertama adalah Gnosis, platform prediksi pasar, yang aktivitasnya terlihat terus meningkat di Februari 2021.

    Kegiatan Gnosis mencakup terbitnya pada sidechain Ethereum, xDai, mengikuti aliansi DeFi, dan meluncurkan dana kolaborasi untuk Gnosis Safe Apps.

    Status menjadi proyek kedua yang terlihat sibuk dengan beberapa pembaruan untuk aplikasi desentralisasinya.

    Selain itu, harga tokennya, SNT, juga naik menyentuh harga tertingginya dalam tiga tahun terakhir pada Rp1.783 di Februari 2021.

    Protokol NFT dan realita virtual Decentraland, menjadi peringkat ketiga akibat beberapa perkembangan baru untuk menambah kenyamanan penggunanya.

    Protokol aset sintetis DeFi UMA menjadi peringkat keempat akibat dua hal yaitu publikasi beberapa protokol besar dan kolaborasi dengan BadgerDAO.

    Pada peringkat kelima adalah Chainlink yang mengumumkan peluncuran mainnet resminya melalui Off-Chain Reporting (OCR).

    Peluncuran tersebut membuat peningkatan efisiensi data pada oracle Chainlink, sehingga membuat biaya operasional turun sekitar 90%.

    Baca Juga: Direktur Fidelity: Bitcoin Unggul Dibanding Emas

    Sektor DeFi Masih Mendominasi

    Perkembangan dari Chainlink juga akan memberikan manfaat yang signifikan kepada Sektor DeFi akibat memberikan efektivitas lebih sebesar 10 kali lipat.

    Selanjutnya ada Skale Network platform desentralisasi modular cloud untuk mengoperasikan aplikasi terdesentralisasi berbasis blockchain Ethereum.

    Diperingkat berikutnya adalah MakerDAO yang terus berkembang bersama Ocean, platform pertukaran data terdesentralisasi.

    Baca juga: Apa itu ChainLink $LINK ? Panduan untuk Pemula

    Terakhir terdapat Golem, platform komputasi berbasis sharing economy dan Santiment di peringkat 10 .

    Lima peringkat teratas dalam daftar tersebut didominasi oleh sektor DeFi yang menunjukkan bahwa Sektor DeFi belum selesai mendominasi di 2020.

    Mengingat adanya proposal EIP-1559 yang segera diterapkan untuk melawan permasalahan biaya Ethereum, Sektor DeFi juga akan semakin mendominasi.

    Sehingga saat ini perhatian utama dapat dituju kepada lima peringkat teratas dalam daftar tersebut akibat potensinya yang cukup kuat.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ray Dalio Bikin Harga Bitcoin Betah di Zona Merah, Kenapa?


    Jakarta

    Konglomerat asal Amerika Serikat (AS), Ray Dalio, disebut memicu kecemasan terhadap investor kripto. Kecemasan itu bermula dari sebuah wawancara Ray Dalio yang menyebut Bitcoin (BTC) tidak akan menjadi mata uang cadangan karena mudah diretas oleh komputasi kuantum.

    Hal ini kemudian memicu kepanikan investor yang melakukan aksi jual besar-besaran mencapai US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 21,72 triliun (kurs Rp 16.710). Alhasil, harga BTC anjlok pada perdagangan hari ini, Jumat (21/11).

    Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap, harga BTC berada di level US$ 85.970,36 atau sekitar Rp 1,43 miliar, melemah sekitar 11,72% pada perdagangan sepekan terakhir. Angka tersebut turut merosot dari hari sebelumya, Kamis (20/11), di mana BTC berada di level US$ 87.000 atau sekitar Rp 1,45 miliar.


    Berdasarkan analisis Tokorypto, penurunan tajam harga BTC memicu gelombang likuidasi lebih dari US$ 220 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun untuk posisi long. Selain itu, kondisi ini mendorong volatilitas pasar yang telah meningkat dalam beberapa hari terakhir.

    Namun begitu, sejumlah analis pasar menilai kekhawatiran Ray Dalio terlalu berlebihan dan dianggap mengesampingkan kriptografi Bitcoin yang berbasis SHA-256. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai narasi quantum panic Ray Dalio bersifat psikologis daripada teknis.

    “Risiko komputasi kuantum terhadap Bitcoin masih berada pada level teoretis dan belum mendesak. Justru, jika benar-benar ada terobosan yang mampu mendekripsi Bitcoin, maka sistem perbankan global yang menggunakan RSA akan jauh lebih rentan. Jadi, kepanikan ini lebih dipicu persepsi, bukan realita teknologinya,” ujar Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/11/2025).

    Selain itu, tekanan terhadap BTC juga muncul kala Owen Gunden menjual seluruh kepemilikan asetnya sebanyak 11.000 coin. Aksi ini dianggap sebagai kapitulasi besar yang menambah suplai di pasar, memperkuat tekanan jual, dan membuat harga BTC menjauh dari level US$ 90.000.

    Meski begitu, aksi jual bersih ini tidak cukup menjadi indikator arah pasar BTC. Menurut Fyqieh, masih banyak investor jangka panjang mengambil keputusan berdasarkan portofolio individual, bukan kondisi fundamental Bitcoin.

    Ia tak menampik adanya panic selling dan ketidakpastian pasar menyebabkan lebih dari 222.000 pedagang terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Data Coinglass menunjukkan likuidasi long mencapai lebih dari US$ 264 juta hanya dalam satu jam di awal sesi AS.

    “Namun benar bahwa suplai tambahan dalam kondisi pasar rapuh dapat mempercepat koreksi,” jelasnya.

    Bitcoin Loyo

    Berdasarkan laporan CryptoQuant, BTC memasuki fase paling bearish dalam siklus bull 2023-2025. Indeks Bull Score bahkan turun ke level 20/100 dengan harga BTC kini berada di bawah MA 365 hari. Meski begitu, Fyqieh menilai hal tersebut merupakan kondisi wajar.

    “Penurunan hingga 25-30% adalah hal yang wajar dalam market bullish. Bahkan dalam bearish sekalipun, Bitcoin sering membentuk rebound kuat. Level teknikal seperti area US$ 84.000 hingga US$ 90.000 menjadi penting untuk memantau potensi pembalikan,” jelasnya.

    Mengutip dari Data Santiment, mayoritas trader ritel BTC mulai memprediksi harga akan turun ke bawah US$ 70.000 atau sekitar Rp 1,17 miliar. Menurutnya, kondisi ini biasanya menandai pergerakan pasar yang berlawanan. Indeks Fear and Greed juga turun ke level ekstrem 15/100, kondisi yang secara historis sering diikuti pemulihan signifikan dalam beberapa bulan berikutnya.

    Kondisi panic selling, kekhawatiran komputasi kuantum, aksi jual whale, dan dinamika ETF menciptakan badai volatilitas yang belum mereda. Fyqieh menilai, harga BTC akan ditentukan oleh dukungan institusional mampu menstabilkan harga atau pasar masih akan mencari titik dasar baru.

    Pasalnya, ETF Bitcoin di AS masih mencatat arus masuk sebesar US$ 75 juta dan mengakhiri tren arus keluar selama lima hari berturut-turut. BlackRock IBIT menjadi pendorong utama arus masuk tersebut.

    “Volatilitas seperti ini adalah bagian dari karakter Bitcoin. Investor jangka panjang tidak fokus pada gejolak harian, tetapi pada struktur jangka panjang yang masih solid. Yang penting adalah manajemen risiko, bukan mengejar harga,” pungkasnya.

    Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

    (ara/ara)



    Sumber : finance.detik.com