Tag: scalping

  • Saatnya Anda Setting bollinger band Agar Lebih Akurat

    Saat melakukan aktivitas trading pada aset kripto, para trader bisa memaksimalkan penggunaan indikator agar mampu memprediksi harga bitcoin yang pergerakannya sangat fluktuatif. Pada artikel ini, kita akan membahas bagaimana cara setting bollinger band agar lebih akurat. Namun sebelum itu, yuk simak dulu kegunaan indikator dan mekanismenya!

    Kegunaan Indikator dan Mekanismenya

    Penggunaan indikator pada trading dapat memberi kemudahan bagi trader pemula ataupun handal dalam memprediksi pergerakan harga suatu koin yang kerap mengalami kenaikan atau penurunan.

    Mekanisme dari indikator ini dimulai dari analisa teknikal, di mana analisa teknikal menggunakan data historis untuk memberikan gambaran matematis dari kemungkinan aksi harga. Kemudian model ini diubah menjadi indikator yang juga berkolaborasi dengan penggunaan data dari rumus.

    Selanjutnya data dari rumus yang didapatkan akan digambar pada grafik, kemudian diposisikan pada grafik sehingga memudahkan trader untuk mengambil keputusan yang dikehendakinya.

    Apa itu Bollinger Band dan Apa Fungsinya?

    bollinger bands ditemukan oleh John Bollinger pada tahun 1980-an. bollinger band kerap digunakan oleh para trader scalper (jangka pendek) maupun jangka panjang. Hal tersebut dikarenakan, indikator ini memiliki kegunaan untuk membaca trend pergerakan harga dan mengukur volatilitas harga pasar.

    Selain melihat arah trend, bollinger band juga digunakan untuk mendeteksi overbought dan oversold. Bahkan, indikator ini mampu untuk membaca pergerakan sideways atau harga yang datar. Maka dari itu, bollinger band dapat dikatakan sebagai indikator trading andalan yang bisa membantu trader menghasilkan profit setiap harinya.

    Komposisi Bollinger Band

    Bollinger band terdiri dari tiga baris yang bergerak mengikuti pergerakan harga, yaitu upper band (garis atas), middle band (garis tengah), dan lower band (garis bawah).

    Nah, jarak yang terdapat di antara upper band, middle band, dan lower band dipengaruhi oleh volume. Di mana semakin besar volume, maka semakin lebar jarak upper band dan lower band-nya. Begitu juga sebaliknya.

    Tidak hanya itu, Anda bisa mengenali ramai atau tidaknya pasar melalui bollinger band. Ketika bollinger band melebar, artinya pasar sedang ramai. Akan tetapi jika bollinger band menyempit dan cenderung datar, artinya pasar sedang sepi.

    Cara Setting Bollinger Band yang Akurat

    Jika Anda menggunakan strategi scalping, yaitu trading dengan waktu yang sangat singkat, maka terdapat beberapa cara mengatur bollinger band untuk membantu Anda menghasilkan profit:

    Pasang indikator bollinger band pada chart aset kripto yang ingin Anda trading-kan.

    Atur indikator Bollinger untuk strategi scalping dengan mengisi beberapa parameter default, yakni sebagai berikut:

      • Periode: merupakan input periode Moving Average (MA) pada middle band sebagai alat pembaca trend. Di parameter ini, Anda bisa mengisi “20”.
      • Deviation: merupakan input jarak antara pita atas atau pita bawah dengan garis MA. Deviation berfungsi untuk mengukur volatilitas harga dengan menghubungkan sebuah rentang harga pada pergerakan rata-ratanya. Pada parameter deviation, isilah “2.00”
      • Apply to: berfungsi sebagai pembaca data input. Anda bisa mengisi “close”.
    • Lakukan Analisa

    Setelah mengatur bollinger band, Anda bisa melakukan analisa secara teknikal untuk mengamati perkembangan harga masa lampau dan terkini agar bisa memperkirakan arah pergerakan harga pasar.

    Itulah langkah sederhana yang bisa Anda coba dalam melakukan setting parameter bollinger band agar lebih akurat dalam menganalisis pergerakan. Dengan menggunakan parameter default dari Metatrader, Anda bisa melakukan trading dan mendapatkan profit apabila dilakukan dengan benar dan disiplin.

    Selain menggunakan indikator agar profit lebih maksimal, jangan lupa trading aset kripto pada exchange terpercaya seperti Tokocrypto, ya! Nantikan update terbaru di instagram dan twitter kami! Salam to the moon!





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Scalping dalam Trading Kripto?

    Scalping, sebuah istilah yang sering terdengar dalam dunia trading kripto, telah menjadi strategi populer di antara para trader yang mencari peluang singkat untuk mendapatkan keuntungan.

    Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “scalping” dalam konteks trading kripto? Apakah ini metode yang cocok untuk Anda? 

    Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan secara mendalam tentang konsep scalping dalam trading kripto, mulai dari definisi hingga strategi yang digunakan.

    Anda akan mempelajari cara kerja scalping, faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan, serta manfaat dan risikonya.

    Dengan pemahaman yang lebih baik tentang scalping, Anda dapat memutuskan apakah metode ini sesuai dengan tujuan dan gaya trading Anda. Selamat membaca dan jelajahi dunia scalping dalam trading kripto!

    Pengantar

    Scalping, istilah yang sering terdengar dalam dunia trading kripto, telah menjadi strategi populer di kalangan para trader yang mencari peluang singkat untuk mendapatkan keuntungan.

    Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “scalping” dalam konteks trading kripto? Apakah ini metode yang cocok untuk Anda?

    Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan secara mendalam tentang konsep scalping dalam trading kripto, mulai dari definisi hingga strategi yang digunakan. Anda akan mempelajari bagaimana scalping bekerja, faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan, serta manfaat dan risikonya.

    Dengan pemahaman yang lebih baik tentang scalping, Anda dapat memutuskan apakah metode ini sesuai dengan tujuan dan gaya trading Anda. Jadi, mari kita jelajahi dunia scalping dalam trading kripto yang menarik ini!

    Apa Itu Scalping?

    Scalping adalah strategi trading jangka pendek yang sering digunakan oleh banyak trader. Bahkan, ini adalah salah satu strategi trading harian yang paling umum.

    Scalping melibatkan penggunaan kerangka waktu yang lebih pendek, pengambilan keputusan yang cepat, serta analisis teknikal dan penggunaan alat grafik yang andal. Banyak trader harian profesional mengalokasikan sebagian dari akun trading mereka untuk scalping.

    Scalping, juga dikenal sebagai scalp trading, adalah gaya perdagangan atau trading yang cocok bagi pecinta adrenalin. Apakah Anda senang mengamati grafik dalam periode waktu satu menit?

    Apakah Anda ingin masuk dan keluar dari trading lebih cepat daripada investor pada umumnya saat mereka membaca laporan keuangan? Jika ya, scalping bisa menjadi strategi yang menarik bagi Anda.

    Tujuan dari pedagang scalping adalah mendapatkan keuntungan dari pergerakan harga kecil. Mereka tidak bertujuan untuk menghasilkan keuntungan besar dari setiap trading, melainkan mendapatkan keuntungan kecil secara berulang-ulang.

    Jika dilakukan dengan baik, laba yang terkumpul dari perdagangan-pertukaran kecil ini dapat secara signifikan meningkatkan saldo akun trading Anda. Pedagang scalping sering menggunakan leverage dan menetapkan stop-loss yang sangat ketat.

    Tidak hanya dalam trading kripto, strategi scalping juga dapat digunakan dalam berbagai jenis pasar keuangan, seperti saham, forex, dan aset kripto. Namun, dalam artikel ini, kita akan fokus pada penerapan scalping dalam trading kripto.

    Ilustrasi investasi aset kripto. Sumber: Shutterstock.
    Ilustrasi trading kripto. Sumber: Shutterstock.

    Jika Anda masih pemula dalam dunia trading, pastikan untuk melihat Panduan Lengkap Trading Kripto untuk Pemula kami. Di dalamnya, kami menjelaskan segala hal yang perlu Anda ketahui tentang trading kripto. Setelah Anda memahami berbagai strategi trading, Anda bisa kembali ke artikel ini dan mendalami lebih lanjut tentang scalping.

    Mari kita lanjutkan untuk membahas semua yang perlu Anda ketahui tentang scalping dalam trading kripto, serta beberapa strategi scalping yang umum digunakan.

    Pelajari lebih lanjut mengenai “Panduan Trading Kripto Harian bagi Pemula“.

    Bagaimana Trader Scalping Menghasilkan Uang?

    Jadi, apa faktor teknis yang dipertimbangkan oleh para trader scalping? Volume trading, aksi harga, level support dan resistance, serta pola chart candlestick biasanya digunakan untuk mengidentifikasi peluang trading.

    Beberapa indikator teknikal yang umum digunakan adalah moving average, Relative Strength Index (RSI), Bollinger Bands, VWAP, dan alat Fibonacci Retracement.

    Banyak trader scalping juga menggunakan analisis order book, profil volume, minat terbuka, dan indikator kompleks lainnya.

    Selain itu, banyak dari mereka yang menciptakan indikator kustom mereka sendiri untuk mencari keunggulan di pasar. Seperti strategi trading lainnya, menemukan keunggulan unik di pasar adalah kunci kesuksesan.

    Scalping adalah tentang menemukan peluang kecil di pasar dan memanfaatkannya. Karena strategi ini bisa menjadi tidak menguntungkan jika diketahui oleh banyak orang, wajar jika trader scalping sangat tertutup tentang serangkaian trading mereka.

    Oleh karena itu, penting untuk membuat dan menguji strategi Anda sendiri.

    Seperti yang telah dibahas sebelumnya, scalper biasanya melakukan trading dalam kerangka waktu yang singkat. Mereka menggunakan chart intraday, yang dapat berupa chart 1 jam, 15 menit, 5 menit, atau bahkan 1 menit. Beberapa trader bahkan mungkin melihat kerangka waktu yang kurang dari satu menit.

    Namun, dengan kerangka waktu yang sangat singkat ini, kita memasuki domain trading frekuensi tinggi yang mungkin tidak praktis untuk diikuti oleh manusia. Mesin dapat memproses banyak data dengan cepat, sementara sebagian besar manusia tidak mampu melihat chart 15 detik dengan efektif.

    Ada hal lain yang perlu dipertimbangkan. Kita tahu bahwa sinyal dan level pada kerangka waktu yang lebih panjang umumnya lebih dapat diandalkan daripada sinyal pada kerangka waktu yang lebih pendek.

    Inilah sebabnya mengapa sebagian besar trader scalping masih akan melihat struktur pasar pada kerangka waktu yang lebih panjang terlebih dahulu. Mengapa?

    Mereka akan mengidentifikasi level penting pada kerangka waktu yang lebih panjang, kemudian memeriksa dengan cermat untuk mencari peluang trading scalping. Ini menunjukkan bahwa memperhatikan struktur pasar pada kerangka waktu yang lebih panjang dapat sangat membantu, bahkan dalam trading jangka pendek.

    Namun, strategi trading dan investasi dapat sangat berbeda antara satu trader dan trader lainnya. Tidak ada aturan yang kaku mengenai scalping, tetapi ada panduan yang dapat dipertimbangkan saat menetapkan aturan Anda sendiri.

    Strategi Trading Scalping

    Kita dapat membagi trader scalping menjadi dua jenis: trader scalping diskresioner dan trader scalping sistematis.

    Trader scalping diskresioner membuat keputusan trading “di tempat”, saat pasar terbuka di hadapan mereka. Mereka mungkin memiliki persyaratan khusus atau mungkin tidak ketika masuk atau keluar dari trading, tetapi keputusan didasarkan pada kondisi yang ada.

    Dengan kata lain, trader diskresioner dapat mempertimbangkan banyak faktor yang berbeda, namun aturan tidak terlalu kaku, dan mereka lebih mengandalkan intuisi dan naluri.

    Trader scalping sistematis mengambil pendekatan yang berbeda. Mereka memiliki sistem trading yang terdefinisi dengan baik yang secara otomatis memicu titik masuk dan keluar. Jika kondisi tertentu dari serangkaian aturan terpenuhi, mereka akan masuk atau keluar dari trading.

    Ilustrasi investasi aset kripto. Sumber: Oatawa/Getty Images.
    Ilustrasi trading kripto. Sumber: Oatawa/Getty Images.

    Trading sistematis didorong oleh data lebih dari intuisi, berbeda dengan trading diskresioner. Trader sistematis tidak terlalu mengandalkan intuisi, tetapi lebih mengandalkan data dan algoritme.

    Sebenarnya, klasifikasi ini juga dapat diterapkan pada jenis trader lainnya. Namun, perbedaannya terlihat lebih jelas dalam strategi jangka pendek. Trading diskresioner mungkin tidak bekerja secara konsisten dalam kerangka waktu yang lebih panjang.

    Beberapa scalper menggunakan strategi yang disebut trading range. Mereka menunggu terbentuknya range harga dan melakukan trading di dalam range tersebut.

    Konsepnya adalah bahwa selama range tersebut tidak tertembus, bagian bawah range akan bertindak sebagai support, dan bagian atas range akan bertindak sebagai resistance.

    Tentu saja, ini bukan jaminan, tetapi masih dapat menjadi sistem scalping yang berhasil. Namun, trader scalping yang baik akan bersiap menghadapi breakout dari range dengan menetapkan stop-loss.

    Teknik scalping lainnya melibatkan eksploitasi spread bid-ask. Jika terdapat selisih yang cukup besar antara harga penawaran tertinggi dan harga permintaan terendah, scalper dapat mengambil keuntungan dari situasi tersebut.

    Oleh karena itu, strategi semacam ini lebih cocok untuk trading algoritmik atau kuantitatif. Mengapa? Nah, tidak seperti mesin, manusia tidak dapat dengan konsisten menemukan ketidaksempurnaan kecil di pasar. Akibatnya, bidang ini dipenuhi oleh bot trading. Manusia yang ingin mengadopsi strategi ini umumnya harus bersaing dengan algoritma.

    Scalping juga sering menggunakan leverage. Karena target persentase relatif kecil, scalper biasanya ingin meningkatkan ukuran posisi mereka. Inilah sebabnya mengapa trader ini sering menggunakan platform trading margin, kontrak futures, dan jenis produk keuangan lainnya yang menawarkan leverage. Namun, karena scalper berusaha mendapatkan keuntungan dari pergerakan yang kecil dengan posisi yang besar, mereka harus waspada terhadap slippage.

    Apakah Scalping Cocok untuk Saya?

    Itu sepenuhnya tergantung pada gaya trading yang sesuai untuk Anda. Beberapa trader tidak suka meninggalkan posisi terbuka saat mereka tidur, sehingga mereka memilih strategi jangka pendek. Trader harian dan trader jangka pendek lainnya mungkin termasuk dalam kategori ini.

    Di sisi lain, trader jangka panjang suka membuat keputusan dalam jangka waktu yang lebih lama dan tidak keberatan membuka posisi selama berbulan-bulan. Mereka mungkin hanya menetapkan titik masuk, target laba, dan stop-loss, lalu memantau trading sesekali. Swing trader mungkin termasuk dalam kategori ini.

    Jadi, untuk memutuskan apakah scalping cocok untuk Anda, Anda perlu mempertimbangkan gaya trading mana yang lebih sesuai dengan Anda. Selain itu, Anda juga perlu menemukan strategi trading yang cocok dengan kepribadian dan profil risiko Anda, sehingga Anda dapat menerapkannya secara konsisten dan menguntungkan.

    Kesimpulan

    Scalping adalah strategi trading jangka pendek yang umum digunakan dengan tujuan memperoleh keuntungan dari pergerakan harga yang kecil. Ini adalah teknik trading yang membutuhkan disiplin, pengetahuan pasar, dan pengambilan keputusan yang cepat.

    Apakah scalping cocok untuk Anda? Jika Anda pemula, sebaiknya Anda mencari strategi jangka panjang seperti swing trading atau buy and hold. Jika Anda lebih berpengalaman, scalping mungkin cocok untuk Anda. Namun, apa pun yang Anda lakukan di pasar keuangan, selalu penting untuk mempertimbangkan prinsip manajemen risiko, seperti menggunakan stop loss dan menentukan ukuran posisi yang tepat.

    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Cara Menghitung Target Profit Harian Saat Trading Crypto

    Menentukan target profit harian adalah langkah penting bagi trader crypto untuk menjaga konsistensi dan mengelola risiko dengan baik. Dengan strategi yang tepat, kamu bisa memaksimalkan peluang profit tanpa terjebak dalam keputusan impulsif. 

    Artikel ini akan membahas 5 cara untuk menghitung target profit harian yang bisa membantu kamu membuat keputusan trading yang lebih terstruktur dan disiplin.

    Mengapa Menentukan Target Profit Harian itu Penting?

    Menentukan target profit adalah bagian dari strategi manajemen risiko agar aktivitas trading lebih terarah. Tanpa target yang jelas, trader  bisa melakukan overtrading, mengejar kerugian, atau bahkan terlalu percaya diri saat untung besar.

    Manfaat utama memiliki target profit harian:

    • Membantu disiplin dalam aktivitas trading
    • Menghindari overtrading dan burnout
    • Menjaga stabilitas psikologis saat market volatile
    • Menghindari trading sebagai aktivitas spekulatif

    Catatan: Meskipun strategi ini bisa membantu pengambilan keputusan, setiap trader tetap perlu DYOR (Do Your Own Research) sebelum menerapkannya dalam strategi trading.

    Lalu bagaimana cara untuk menentukan target profit harian? Simak 5 caranya di bawah ini:

    Menentukan Profit dengan Persentase Tetap dari Modal (Fixed Percentage Method)

    Metode Persentase Tetap dari Modal (Fixed Percentage Method) adalah strategi yang digunakan oleh trader untuk menentukan target profit harian berdasarkan persentase tertentu dari modal yang dimiliki.

    Contoh Perhitungan Persentase Profit Harian:

    Misalnya kamu punya modal Rp10 juta. Jika kamu menargetkan 2% profit harian, maka:

    • Target profit = 2% x Rp10 juta = Rp200.000/hari

    Jika kamu melakukan trading dalam dalam sebulan 20 hari trading secara konsisten, maka kamu bisa mendapatkan 20 x Rp200.000 = Rp4 juta profit bulanan


    Menentukan Target Profit Berdasarkan Risk-to-Reward Ratio (RRR)

    Risk-Reward Ratio (RRR) adalah konsep yang digunakan oleh trader untuk mengelola risiko dengan membandingkan potensi kerugian terhadap potensi keuntungan dalam setiap transaksi

    Contohnya dalam strategi RRR 1:3, trader bersedia mengambil risiko tertentu dengan harapan mendapatkan imbal hasil tiga kali lipat dari jumlah yang risiko yang berani di ambil.

    Cara untuk menentukan target profit berdasarkan Risk-to-Reward Ratio (RRR)

    Tentukan risiko maksimum sebelum membuka posisi, dengan menetapkan batas maksimal kerugian yang siap ditanggung. Misalnya, jika kamu menetapkan risiko sebesar Rp1.000.000, maka dalam skenario terburuk, kamu hanya akan kehilangan jumlah tersebut per transaksi.

    Tentukan target keuntungan, misal jika kamu menerapkan RRR 1:3 maka target profit yang diincar adalah tiga kali lipat dari risiko. Jadi, jika kamu mengambil risiko Rp1.000.000, maka profit yang diharapkan adalah Rp3.000.000.

    Memilih Titik Stop-Loss dan Take-Profit

    • Stop-Loss ditempatkan pada titik di mana kerugian maksimal Rp1.000.000 akan terjadi.
    • Take-Profit diposisikan pada level harga di mana keuntungan Rp3.000.000 bisa diperoleh.

    Strategi Risk to Reward Ratio ini bisa kamu sesuaikan dengan besaran risiko yang bisa kamu ambil di setiap trade dan strategi trading kamu. Namun yang paling umum digunakan adalah 1:2 dan 1:3.


    Menentukan Target Profit Menggunakan Support dan Resistance

    Support dan resistance adalah konsep fundamental dalam analisa teknikal yang digunakan untuk menentukan level harga penting dalam suatu aset. Kedua level ini membantu trader dalam mengidentifikasi peluang entry dan exit yang optimal.

    Support adalah level harga di mana tekanan beli cukup kuat untuk mencegah harga turun lebih jauh. Biasanya, harga akan memantul dari level ini dan mulai naik kembali.

    Resistance adalah level harga di mana tekanan jual cukup besar untuk mencegah harga naik lebih tinggi. Harga sering kali mengalami penolakan di level ini dan mulai turun kembali.

    Gambar support dan resistance pada pergerakan harga.

    Dengan memanfaatkan dua indikator ini, kamu bisa menentukan target profit. Misalnya kamu melakukan pembelian di area support dan melakukan penjualan di area resistance ketika kamu melakukan trade.


    Menentukan Target Profit dengan RSI (Relative Strength Index)

    RSI (Relative Strength Index) adalah indikator momentum yang digunakan untuk melihat apakah pasar sedang overbought (jenuh beli) atau oversold (jenuh jual). Nilai RSI berada dalam rentang 0 hingga 100, dengan patokan:

    • RSI < 30 → pasar dalam kondisi oversold (potensi naik)
    • RSI > 70 → pasar dalam kondisi overbought (potensi turun)

    Kamu bisa memanfaatkan RSI untuk menentukan entry dan exit point  dan menetapkan target profit harian.

    Gambar bagaimana indikator RSI bekerja (warna ungu): Terlihat korelasi RSI yang tinggi menandakan overbought lalu membuat harga koreksi dan sebaliknya.

    Langkah Menggunakan RSI untuk Target Profit

    1. Entry saat RSI < 30: Menandakan aset mengalami tekanan jual yang berlebihan, sinyal beli.
    2. Tetapkan target profit saat RSI mendekati 70: Potensi reversal akan terjadi, jadi ini momen ambil untung.
    3. Estimasi jarak harga antara RSI 30 ke 70: Misalnya, harga naik dari Rp9.500.000 ke Rp9.900.000 saat RSI bergerak dari 30 ke 70, maka target profit = Rp400.000.

    Perlu diingat, bahwa RSI (Relative Strength Index) memang berguna untuk mengidentifikasi apakah harga sudah berada di zona overbought atau oversold, tetapi tidak selalu memberikan sinyal yang akurat. 

    Ada beberapa kondisi di mana RSI bisa tetap tinggi atau rendah dalam waktu yang lama saat tren kuat berlangsung, sehingga mengandalkan RSI saja tanpa melihat konteks pasar bisa berisiko. Maka dari itu strategi cut loss juga harus tetap kamu terapkan.

    Strategi Cut Loss Berdasarkan RSI

    Untuk menghindari kerugian besar saat sinyal RSI tidak valid:

    1. Pasang stop loss saat RSI turun lebih jauh dari level oversold (misal RSI < 25).
    2. Atau gunakan harga support terdekat sebagai batas cut loss.
    3. Contohnya: Jika entry di RSI 28, dan harga BTC turun 2% setelah entry tanpa rebound, kamu bisa exit untuk membatasi kerugian di level itu.

    Menentukan Target Profit Menggunakan Fibonacci Retracement

    Fibonacci Retracement adalah alat analisis teknikal yang digunakan oleh trader untuk mengidentifikasi level penting dalam pergerakan harga. Konsep ini berasal dari deret Fibonacci, yang ditemukan oleh matematikawan Leonardo Fibonacci pada abad ke-13. 

    Deret ini menghasilkan rasio-rasio seperti 0%, 23.6%, 38.2%, 50%, 61.8%, 78.6%, dan 100%, yang sering digunakan untuk menentukan support dan resistance dalam grafik harga

    Gambar contoh bagaimana Fibonacci bisa menjadi indikator untuk Entry dan TP.

    Cara Menggunakan Fibonacci Retracement

    1. Menentukan Titik High dan Low
    • Uptrend → Tarik garis dari titik terendah (low) ke titik tertinggi (high) untuk mengidentifikasi potensi retracement sebelum tren naik berlanjut.
    • Downtrend → Tarik garis dari titik tertinggi (high) ke titik terendah (low) untuk mencari level retracement sebelum tren turun berlanjut.
    1. Mengidentifikasi Level Retracement dan Take Profit
    • Setelah garis Fibonacci diterapkan, kamu akan melihat beberapa level retracement: 0.236 (23.6%), 0.382 (38.2%), 0.5 (50%), 0.618 (61.8%), dan 0.786 (78.6%).
    • Golden Ratio 0.618 (61.8%) dan 0.5 (50%) sering menjadi titik utama untuk entry atau reversal.
    • Jika harga memantul dari level Fibonacci, target profit bisa ditetapkan di level berikutnya, seperti 0.236 (23.6%) atau bahkan kembali ke titik awal (0%).
    1. Menggunakan Fibonacci dalam Trading
    • Entry Point → Trader bisa membuka posisi saat harga mendekati level Fibonacci yang relevan, dikonfirmasi dengan price action atau indikator lain. 
    • Stop-Loss → Sebaiknya ditempatkan di bawah support (untuk posisi buy) atau di atas resistance (untuk posisi sell), menghindari pergerakan harga yang tidak sesuai prediksi. 
    • Take Profit → Ditetapkan di level Fibonacci berikutnya atau berdasarkan pola pergerakan harga setelah retracement terjadi.

    Baca selengkapnya mengenai Fibonacci Retracement di sini: Panduan Menguasai Fibonacci Retracement – Tokocrypto News

    Itu dia 5 strategi untuk tentukan target profit harian yang bisa kamu coba gunakan.

    Dengan menerapkan strategi-strategi di atas, semoga kamu bisa lebih konsisten, disiplin, dan realistis dalam mencapai target profit harian saat trading crypto.

    Namun ingat, pasar selalu dinamis dan tidak selalu sesuai prediksi. Karena itu, penting untuk terus belajar, berdiskusi, dan mengevaluasi setiap keputusan trading yang kamu ambil.

    Untuk terus meningkatkan pemahamanmu tentang trading, kamu bisa bergabung dengan komunitas Telegram Tokocrypto. Di sana kamu bisa mendapatkan informasi seperti: 

    • 📊 Sinyal trading harian berbasis analisis teknikal
    • 💬 Diskusi strategi dan edukasi dari trader berpengalaman
    • 🎓 Grup belajar kripto khusus pemula
    • 📰 Update market dan peluang terbaru langsung ke HP kamu

    Yuk mulai gabung sekarang dan belajar lebih banyak soal trading! Klik link berikut untuk mulai gabung: https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Swing Trading vs Scalping, Mana Cocok untuk Kripto?


    Jakarta

    Ada banyak strategi yang dapat diterapkan untuk mendapatkan keuntungan di pasar kripto di mana salah satunya adalah dengan memanfaatkan pergerakan harga mata uang kripto. Salah dua strategi yang populer adalah swing trading dan scalping.

    Namun, kedua pendekatan ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Penasaran apa itu swing trading vs scalping? Nah berikut adalah penjelasnya.

    Apa Itu Swing Trading dan Scalping?


    Swing trading adalah strategi perdagangan yang bertujuan untuk memanfaatkan pergerakan harga yang lebih besar dalam jangka menengah. Seorang trader yang menggunakan pendekatan ini biasanya akan memegang posisi lebih lama dari beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung pada potensi pergerakan harga yang dapat diperkirakan.

    Metode swing trading seringkali melibatkan analisis teknikal yang mendalam untuk mengidentifikasi titik masuk dan keluar yang optimal.

    Sebaliknya scalping adalah strategi yang lebih agresif dan berfokus pada perdagangan jangka sangat pendek. Trader yang menggunakan strategi ini berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari fluktuasi harga kecil yang terjadi dalam hitungan menit atau bahkan detik.

    Scalping memerlukan kecepatan eksekusi yang tinggi dan sering kali dilakukan dengan volume perdagangan yang besar.

    Perbedaan Utama Swing Trading dan Scalping

    Jangka Waktu dan Tujuan

    Perbedaan utama antara swing trading dan scalping terletak pada jangka waktu dan tujuan keuntungan. Swing trading memanfaatkan pergerakan harga dalam beberapa hari hingga minggu sehingga Anda sebagai trader atau investor dapat menganalisa lebih lama sambil memantau posisi.

    Sebaliknya scalping berfokus pada range trading yang lebih pendek dari pergerakan harga kecil dalam waktu yang sangat singkat.

    Tingkat Risiko hingga Pengelolaan Modal

    Scalping cenderung memiliki risiko lebih tinggi karena melibatkan banyak transaksi dalam waktu singkat yang dapat mengakibatkan kerugian cepat jika pasar bergerak tidak sesuai harapan. Sementara itu swing trading dapat diasumsikan lebih kecil resikonya karena memberi lebih banyak waktu dalam menganalisis pergerakan pasar sebelum mengambil keputusan.

    Swing trading memungkinkan investor untuk lebih berhati-hati dalam memilih posisi dan memantau tren pasar dalam waktu yang lebih lama. Namun, meskipun resikonya lebih terkendali dalam menjalankan swing trading juga memerlukan disiplin yang lebih besar dalam mengelola posisi selama beberapa hari atau minggu.

    Keterampilan yang Dibutuhkan

    Scalping mengharuskan trader untuk memiliki keterampilan eksekusi cepat, karena keputusan harus dibuat dalam hitungan detik. Anda sebagai trader scalper harus terbiasa dengan volatilitas pasar dan spreads kecil yang membutuhkan ketepatan tinggi dalam eksekusi transaksi.

    Di sisi lain swing trading membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam tentang analisis teknikal dan fundamental yang mendasari pergerakan harga kripto dalam periode waktu yang lebih panjang. Trader swing harus dapat mengidentifikasi titik masuk dan keluar yang tepat serta memanfaatkan tren pasar.

    Mana yang Lebih Cocok untuk Kripto?

    Volatilitas Pasar Kripto

    Kripto dikenal dengan volatilitas yang sangat tinggi. Harga mata uang kripto dapat naik dan turun dalam waktu sangat singkat yang memberikan peluang besar bagi trader untuk mendapatkan keuntungan. Dalam kondisi ini, kedua strategi baik itu swing trading dan scalping memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.

    ● Swing Trading

    Karena pergerakan harga dalam kripto seringkali sangat besar dalam jangka menengah maka swing trading memungkinkan untuk memanfaatkan fluktuasi harga yang lebih signifikan.

    Sebagai trader swing dapat mengatur posisi untuk mendapatkan keuntungan dari tren jangka menengah yang sering kali lebih menguntungkan di pasar kripto yang sangat volatile.

    ● Scalping

    Di sisi lain scalping dapat memberikan keuntungan lebih cepat dalam kondisi pasar yang sangat fluktuatif. Namun, karena seringkali melibatkan transaksi dalam volume besar dan dalam waktu singkat maka scalping membutuhkan kecepatan eksekusi yang tinggi dan mungkin lebih cocok bagi yang memiliki banyak waktu untuk memantau pasar dan siap menghadapi risiko tinggi.

    Waktu yang Tersedia

    Jika Anda memiliki waktu terbatas untuk memantau pergerakan pasar, swing trading mungkin menjadi pilihan yang lebih baik. Melalui strategi ini investor hanya perlu memantau pasar beberapa kali sehari dan menganalisis tren pasar secara menyeluruh.

    Sebaliknya, scalping mengharuskan Anda untuk aktif memantau pasar sepanjang waktu bahkan bisa saja Anda perlu melakukan ratusan transaksi dalam sehari.

    Toleransi Terhadap Risiko

    Jika Anda lebih menyukai pendekatan yang lebih santai dan dapat mengelola risiko dengan baik maka swing trading lebih cocok untuk Anda. Meskipun risiko tetap ada namun Anda memiliki waktu untuk menganalisis pasar dan menyesuaikan posisi jika terjadi perubahan besar.

    Sebaliknya scalping membutuhkan kemampuan untuk menghadapi volatilitas yang lebih cepat dan memerlukan pengelolaan risiko yang lebih ketat.

    Mana yang Menguntungkan?

    Baik swing trading maupun scalping dapat menguntungkan tergantung pada preferensi pribadi. Jika mampu memanfaatkan tren pasar dalam jangka menengah dan memiliki ketahanan terhadap pergerakan harga besar maka swing trading dapat memberikan hasil yang memuaskan.

    Namun, jika mampu melakukan eksekusi transaksi dengan cepat dan ingin mendapatkan keuntungan dari pergerakan harga kecil dalam waktu singkat maka scalping bisa menjadi pilihan yang menguntungkan. Kedua strategi memiliki potensi keuntungan dan juga membawa risiko yang harus dikelola dengan bijak.

    Jika Anda tertarik untuk mencoba salah satu strategi di atas maka Tokocrypto adalah exchange ideal yang bisa Anda andalkan. Ada berbagai fasilitas trading kripto yang bisa dimanfaatkan dan tampilan interfacenya sangat memudahkan. Daftar sekarang dan mulai perjalanan trading Anda di dunia kripto bersama Tokocrypto.

    (ega/ega)



    Sumber : finance.detik.com