Tag: sejarah kuliner

  • Autentik! Coto Makassar Ini Favorit Selebriti hingga Jusuf Kalla


    Jakarta

    Setengah abad berdiri, warung coto Makassar ini tak pernah sepi pengunjung. Bahkan pernah diundang ke Istana Negara dan jadi langganan artis terkenal.

    Coto Makassar merupakan salah satu kuliner yang ikonik. Berbeda dengan soto, coto memiliki kuah yang keruh karena menggunakan rempah-rempahan dan campuran kacang tanah.

    Untuk isiannya berupa daging sapi dan jeroan, seperti babat, limpa, paru, lidah, usus, hati, jantung, dan otak sapi. Coto Makassar banyak diminati di Jakarta.


    Salah satu warung yang legendaris adalah Coto Makassar Syamsul Daeng Ngawing. Warung yang berdiri sejak tahun 1970-an ini lokasinya ada di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

    1. Harganya awalnya Rp 1.500 per porsi

    Coto Makassar Syamsul Daeng NgawingCoto Makassar Syamsul Daeng Ngawing berdiri tahun 1970. Foto: detikcom/Riska Fitria

    Kepada detikFood (15/01/25) Syawal selaku penanggung jawab warung mengatakan bahwa warung ini milik pasangan suami istri bernama Syamsul dan Nurhayati.

    Warung yang merupakan usaha keluarga turun temurun ini berdiri pertama kali sekitar tahun 1970-an. Awalnya berjualan menggunakan pikulan di Makassar dan harganya hanya Rp 1.500 per porsi.

    Kemudian, warungnya pindah ke Jakarta dan buka di daerah Jakarta Utara. Pada tahun 2003, warungnya pindah di bilangan Senen, Jakarta Pusat.

    “Iya yang punya namanya Daeng Syamsul dan Ibu Nurhayati. Kalau buka di Senen itu sejak 2003, tapi warungnya sudah buka dari tahun 1970-an,” tutur Syawal.

    2. Kompornya selalu menyala 24 jam

    Coto Makassar Syamsul Daeng NgawingCoto Makassar Syamsul Daeng Ngawing buka 24 jam. Foto: detikcom/Riska Fitria

    Di kawasan Senen, warung coto Makassar ini terbilang ‘nyempil’ di antara warung nasi Kapau yang berjejer. Meski begitu, warungnya tak pernah sepi pengunjung.

    Warung ini buka 24 jam, dan setiap hari kompor untuk memasak kuahnya pun tak pernah dimatikan. Inilah yang menjadi ciri khas kuah coto Makassar di sini.

    Seporsinya dibanderol Rp 30.000 dan disajikan dengan mangkuk kecil berdiameter 12 cm. Cotonya disajikan dengan kuah yang panas dan hambar. Jadi, pengunjung bisa racik menambahkan garam di meja.

    Fakta menarik Coto Makassar Syamsul Daeng Ngawing ada di halaman selanjutnya

    3. Porsi royal dan cita rasa autentik

    Coto Makassar Syamsul Daeng NgawingCoto Makassar Syamsul Daeng Ngawing Foto: detikcom/Riska Fitria

    Kuahnya harum, agak kental, dan terasa gurih. Isian daging dan jeroan sapinya juga disajikan royal. Jangan lupa menambahkan sambal tauco agar rasanya semakin sedap.

    Sambal tauco ini memberikan rasa pedas dan sensasi asam dari fermentasi kacang kedelai. Makan coto Makassar di sini juga bisa pakai buras dan ketupat seharga Rp 4.000.

    Baik buras dan ketupat sudah tersaji di setiap meja, lengkap dengan gorengan seperti jalangkote dan bakwan seharga Rp 4.000. Jadi, pengunjung bisa ambil sendiri sesuai selera.

    4. Diundang ke Istana Negara

    Coto Makassar Syamsul Daeng NgawingCoto Makassar Syamsul Daeng Ngawing pernah diundang ke istana. Foto: detikcom/Riska Fitria

    Kelezatan coto Makassar ini bahkan menarik perhatian Wakil Presiden Jusuf Kalla periode 2014-2019. Mengingat Jusuf Kalla sendiri berasal dari Sulawesi Selatan.

    Karenanya ia tak asing dengan coto Makassar. Pada 2015, Jusuf Kalla pernah mengundang coto Makassar ini datang ke istana Wakil Presiden. Syamsul diundang untuk menyajikan berporsi-porsi coto Makassar.

    Syawal mengatakan bahwa undangan tersebut untuk jamuan makan dalam rangka acara kenegaraan. Syamsul bahkan sempat berfoto dengan Jusuf Kalla dan fotonya dipajang di warung.

    5. Langganan artis terkenal

    Coto Makassar Syamsul Daeng NgawingCoto Makassar Syamsul Daeng Ngawing langganan artis terkenal. Foto: detikcom/Riska Fitria

    Tak hanya Wakil Presiden Jusuf Kalla, banyak pula artis terkenal yang sudah pernah makan di sini. Bahkan beberapa di antaranya sudah menjadi langganan di sini.

    Syamsul menceritakan bahwa artis Denny Sumargo menjadi salah satu artis yang kerap kali datang untuk menikmati coto Makassar.

    Selain itu, beberapa artis lainnya ada mulai dari Ayu Ting Ting, Anwar Sanjaya hingga para food vlogger ternama, seperti Nex Carlos.

    (raf/odi)



    Sumber : food.detik.com

  • Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992


    Jakarta

    Terletak di dalam gang sempit yang ada di area Pasar Jatinegara, combro legendaris ini viral dan diburu banyak orang. Begini kelezatannya!

    Membicarakan kuliner legendaris di sekitar Jatinegara, tak lengkap rasanya membahas tempat makan atau jajanan yang ada di Pasar Jatinegara. Pasar tradisional tertua di Jakarta ini sudah ada dari zaman kolonial dan bertahan sampai sekarang.

    Di area pasar terdapat banyak gang sempit dan bercabang yang terdiri dari pemukiman sampai warung kecil yang menjual berbagai makanan.


    Salah satunya Combro Bu Aminah atau dikenal juga dengan nama Terminal Combro di dalam Gang Tai, Jatinegara. Warung jajanan ini sudah ada sejak tahun 1992 dan belakangan viral karena diliput banyak food vlogger hingga media ternama.

    Ada banyak kisah menarik perjalanan combro Bu Aminah dari yang dulu harganya Rp 200 per buah, sampai sekarang di angka Rp 3.500 per buah. Berikut penelusurannya:

    1. Combro Legendaris di Pasar Jatinegara

    Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992 Foto: detikFood

    Jauh sebelum viral dan terkenal seperti sekarang, warung combro ini sudah mengalami naik turun dari tahun 1990-an. Menurut Arminah, generasi kedua dari Terminal Combro, pertama kali usaha ini didirikan oleh mendiang sang ayah yang bernama Pak Ujang.

    Saat itu Pak Ujang masih berjualan di dalam Pasar Jatinegara di akhir tahun 1980an. Pada saat itu Pak Ujang hanya berjualan es kacang hijau saja, kemudian mulai mencoba menjual combro dengan resep sederhana yang dibuatnya sendiri.

    “Kemudian Pasar Jatinegara sempat kebakaran, lalu kita baru pindah ke Gang Tai ini dari tahun 1992. Jadi sebenarnya cikal bakalnya itu dari tahun 1980an,” ungkap Arminah, adik dari Aminah yang meneruskan usaha combro ini.

    2. Sempat Tak Laku

    Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992Pak Ujang, pendiri Terminal Combro. Foto: detikFood

    Ketika perpindahan dari warung lama ke tempat baru, Pak Ujang sempat kesulitan mencari pelanggan baru. Apalagi saat itu warungnya berada di dalam gang yang dijadikan pembuangan oleh warga sekitar, sehingga banyak kotoran, tinja dan aromanya tak sedap.

    Akhirnya Pak Ujang mulai membersihkan gang tersebut, agar warung combronya dilewati orang. Selain itu ia juga memasarkan combronya dengan berkeliling ke area pasar agar dagangannya laku.

    “Bapak cerita ke kita, dulu orang-orang gak ada yang mau lewat gang ini, karena mereka jijik. Tapi bapak tak pernah menyerah, dia terus jualan combro di sini sampai akhirnya perlahan bapak mulai banyak pelanggan setia sampai sekarang,” tutur Arminah.

    3. Resep Combro Turun Temurun

    Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992 Foto: detikFood

    Jauh sebelum viral, Terminal Combro ini memang sudah terkenal di Pasar Jatinegara. Usaha Pak Ujang diteruskan oleh ketiga anaknya, salah satunya Aminah yang ahli membuat singkong.

    “Kalau ditanya ciri khasnya apa, sebenarnya kembali ke selera masing-masing ya. Tapi banyak pelanggan yang bilang kalau combro kita itu enak karena oncomnya itu kita masak sampai tanak, atau benar-benar matang. Jadi tidak ada aroma oncom, bahkan orang yang awalnya tak suka oncom, pas makan combro di sini jadi ketagihan,” ungkap Aminah.

    Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992 Foto: detikFood

    Kalau untuk singkong yang digunakan di Terminal Combro, tidak ada kriteria khusus karena letaknya pada isian oncomnya yang lebih berani bumbu dan berempah. Tak lupa di setiap combro diberikan cabe rawit hijau sehingga rasanya pedas menyengat.

    Kisah Selanjutnya ada di Halaman Berikutnya!

    4. Combro Viral Ramai Antrean

    Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992 Foto: detikFood

    “Semenjak viral, sekarang diwajibkan untuk semua pembeli memesan H-1. Karena kalau pesan di hari yang sama itu kita takutnya kewalahan, jadi biar tidak menumpuk, pesanan untuk hari besok bisa dipesan dari sekarang,” lanjut Arminah.

    Mereka memang tidak menghitung berapa jumlah pasti dari combro yang terjual tapi pastinya jumlahnya mencapai lebih dari 2000 biji combro. Karena rata-rata pembeli paling sedikit membeli 10 combro untuk dibawa pulang.

    “Memang efeknya sejak kita diliput oleh food vlogger dan media itu, terasa sekali jadi banjir pesanan. Sampai pelanggan lama kami sempat bingung karena tidak bisa beli langsung seperti biasa. Tapi semuanya kami syukuri,” pungkas Arminah.

    Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992Blusukan Cicip Combro Viral di Gang Sempit yang Eksis Sejak 1992 Foto: detikFood

    Masalah rasa combronya memang tak perlu diragukan lagi. Adonan singkongnya padat dan gurih serta ukurannya besar. Bagian dalam combro penuh dengan oncom yang dominan rasa pedas gurih. Dimakan hangat-hangat, combro ini memang bikin nagih.

    Selain combro, di sini juga menjual jajanan tradisional lainnya. Seperti misro, aneka roti goreng, martabak telor, getuk cokelat, gandasturi, ketimus sampai ongol-ongol. Semua harganya dipukul rata yaitu Rp 3.500 saja.

    Setiap harinya Terminal Combro Bu Aminah buka dari jam 07.00 – 15.00. Tapi wajib untuk pesan lebih dulu jika ingin membeli combro ke nomor WhatsApp mereka di 081287635817.

    (sob/odi)



    Sumber : food.detik.com

  • Fuyunghai hingga Udang Kuluyuk Sedap Bikinan Mantan Chef Hotel Bersejarah


    Tangerang Selatan

    Sebuah rumah sederhana yang terkesan tua ternyata rumah makan legendaris milik seorang chef. Menunya ada fuyunghai hingga udang kuluyuk bercita rasa oriental.

    Cita rasa makanan oriental atau Chinese melekat di lidah masyarakat Indonesia sebab pengaruh budayanya yang kuat di masa lampau. Mulai dari restoran di dalam hotel mewah hingga pedagang kaki lima menyajikannya.

    Begitupula RM Rico yang lokasinya terbilang tak wajar. Bagi tim detikfood yang baru pertama kali menyambanginya, mungkin takkan tahu kalau bangunan tersebut adalah rumah makan jika tak ada plang nama di depannya.


    Namun ketika masuk dan memesan makanannya kami seolah mendapat jawaban mengapa rumah makan tersebut bertahan hingga sekarang. Sedikit berbincang dengan Arpah, pemiliknya, ia mengungkap keahliannya memasak datang dari profesinya dulu yaitu mantan chef hotel mewah.

    Detail Informasi
    Nama Tempat Makan RM Rico
    Alamat Jalan Bukit Barisan, Serua, Tangerang
    No Telp
    Jam Operasional Setiap hari, 10.00 – 15.00 WIB
    Estimasi Harga Rp 20.000 – Rp 45.000
    Tipe Kuliner Chinese food
    Fasilitas
    • Makan di Tempat
    • Bawa Pulang
    • Pesan Online
    • Parkir Terbatas
    • dll
    RM Rico: Fuyunghai hingga Udang Kuluyuk Sedap Bikinan Mantan Chef Hotel BersejarahArpah, pemilik RM Rico yang pernah bekerja di Hotel Indonesia pada 1962. Foto: Tim detikfood

    Mantan Chef di Hotel Bersejarah

    Arpah, pemilik Rumah Makan Rico, bukan mendirikan rumah makan tanpa alasan. Ia yang memasuki usia senja, ketika ditemui oleh detikcom (1/7) masih gagah memasak di dapur rumah makannya.

    Ternyata keahliannya memasak dari datang pengalamannya sebagai seorang chef. Pada 1962 Arpah bekerja di Hotel Indonesia yang diawali sebagai pencuci piring di dapurnya.

    “Ada satu hari itu salah satu kokinya gak masuk, terus chefnya suruh saya masak. Saya bilang mana bisa saya masak, orang di sini setiap hari cuma cuci piring. Tapi dia yakin, saya dikasih coba masak. Ya karena setiap hari ngeliat cara masak aja, jadi pelan-pelan bisa,” ujarnya kepada tim detikcom.

    Lebih lanjut Arpah mengatakan sejak di Hotel Indonesia ia bekerja oleh seorang chef keturunan China untuk menyajikan makanan oriental. Pengalamannya tersebut yang membuat Arpah kini piawai memasak makanan Chinese.

    Uniknya, Arpah juga memiliki andil dalam sejarah Hotel Indonesia. Ia menjadi salah satu pekerja yang sudah menggerakan dapur hotel tersebut sejak tahun pertama restoran tersebut didirikan oleh Presiden Soekarno dalam menyambut delegasi Asian Games ke-4 di Jakarta.

    RM Rico: Fuyunghai hingga Udang Kuluyuk Sedap Bikinan Mantan Chef Hotel BersejarahDi balik rumah tua ini, Arpah, Rico, dan beberapa orang karyawannya menyajikan makanan Chinese yang enak. Foto: Tim detikfood

    Kisah Perjuangannya Mendirikan Rumah Makan

    Menjadi seorang chef di hotel bintang lima pertama di Jakarta, perjalanan Arpah tak selamanya mulus. Gejolak politik dan finansial negara yang saat itu belum stabil menjadi salah satu alasan Arpah dikeluarkan dari Hotel Indonesia.

    “Dulu pas berhenti dikasih uang, zaman dulu mah Rp 100.000 udah banyak banget. Saya beli sawah di sini, dapet 1.200 meter. Sekarang ya tanahnya udah jadi rumah makan,” jelasnya.

    Rumah makan Rico sendiri baru didirikan Arpah pada 1984. Keputusannya bulat ketika sawah yang dimiliki kurang menghasilkan hingga sebagian dijual pada orang lain.

    Sejak dahulu hingga sekarang Arpah mengelola sendiri rumah makan tersebut dibantu anaknya. Ada juga beberapa pekerja, satu yang membantunya masak dan satu lagi yang membantu Rico, anaknya, untuk mencatat serta mengantarkan makanan kepada pelanggan.

    Sajian fuyunghai hingga udang kuluyuknya yang lezat ada di halaman berikutnya.

    RM Rico: Fuyunghai hingga Udang Kuluyuk Sedap Bikinan Mantan Chef Hotel BersejarahMie goreng menjadi salah satu menu yang paling laris dipesan pelanggan. Foto: Tim detikfood

    Mie Goreng dan Fuyunghai Jadi Andalan

    Bagi pengunjung pertama atau yang tak biasa datang kes sini, bisa saja dibuat terkejut dengan setiap sudutnya. Rumah makan ini jauh dari kata mewah seperti restoran atau rumah makan di tempat lain.

    Namun jika sudah mencicipi hidangannya, pasti ingin terus kembali ke sini. RM Rico hanya mengandalkan spanduk besar yang ditempel di bagian atas pintu dapur untuk menuliskan nama menu dan harganya.

    Bertanya pada Salahudin Al Ayubi, salah satu pekerja, mie goreng dan fuyunghai menjadi salah satu yang banyak dipesan sehingga membuat kami penasaran mencobanya. Untuk sajian mie goreng seharga Rp 35.000, porsinya sangat banyak.

    Aromanya smoky tipis tetapi sejak suapan pertama bumbunya terasa menyeruak di dalam mulut. Seporsi mie gorengnya dilengkapi dengan irisan sawi, kol, telur orak arik, serta bakso.

    Sementara untuk Fuyunghai, Arpah membanderolnya Rp 45.000. Isinya ada dua buah fuyunghai dengan ukuran sedang namun tebal dan saus yang berlimpah.

    Komposisi antara campuran tepung, sayuran, dan telur pada fuyunghainya seimbang ketika dipotong. Hal ini juga yang membuat fuyunghai di RM Rico tak setebal di tempat makan lain.

    Tekstur saus pelengkapnya memiliki kekentalan sedang, tidak terlalu cair maupun terlalu kental hingga kurang cocok dipadukan dengan nasi putih. Racikan bumbunya manis lembut, gurih, asam tomat yang khas, dengan sedikit rasa bawang putih tipis yang terasa di lidah.

    RM Rico: Fuyunghai hingga Udang Kuluyuk Sedap Bikinan Mantan Chef Hotel BersejarahBistik Ayam dengan citarasa oriental yang khas juga sayang untuk dilewatkan. Foto: Tim detikfood

    Bistik Ayam dan Udang Kuluyuk yang Khas

    Seporsi makanan di sini disajikan dengan jumlah yang cukup banyak. Bahkan bisa dinikmati hingga 3-4 orang sekaligus, apalagi jika ditambah nasi putih.

    Melabeli rumah makannya dengan spesialis hidangan Chinese, rasanya tak lengkap bagi kami tidak memesan Bistik Ayam dan Udang Kuluyuk. Kedua makanan tersebut masing-masing dibanderol Rp 45.000 per porsi.

    Bistik Ayam yang disajikan di RM Rico menggunakan bagian dada ayam, terlihat dari teksturnya yang berserat. Arpah tidak membuat lapisan tepung pada bistik terlalu renyah, sehingga menyerap bumbunya dengan baik.

    Bistik ayam disajikan dengan pelengkap berupa irisan kentang goreng dan timun. Bistiknya sendiri memiliki rasa gurih yang sangat tipis, tetapi ini membuatnya cocok dengan siraman kuah yang juga gurih dan sedikit manis.

    Begitupula dengan udang kuluyuk yang dimasak tak terlalu renyah bagian luarnya dengan saus yang sama persis dengan bistik ayam. Bedanya, pada Udang Kuluyuk ditambahkan pelengkap berupa potongan wortel, timun, dan kembang kol.

    Citarasa yang dihadirkan oleh Arpah di RM Rico memang terasa seperti restoran Chinese legendaris melalui sentuhan rasa pada sausnya. Arpah menjamin menu-menu yang dihidangkan juga halal untuk pengunjung Muslim.

    Ingin tempat makan atau produk Anda direview detikcom? Kirim email ke foodreview@detik.com.

    (dfl/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • 7 Kuliner Legendaris di Jatinegara Ini Mantap Rasanya, Ada yang Sejak 1948!


    Jakarta

    Meski jarang tersorot, kuliner legendaris di kawasan Jatinegara tidak pernah kehilangan pelanggan setianya. Dari bakery jadul sampai ayam goreng klasik bisa ditemukan di sini.

    Jatinegara dikenal sebagai salah satu kawasan kuliner paling tua dan sibuk di Jakarta Timur. Di balik deretan pasar, gang sempit, dan kawasan pemukiman yang padat, di sini hadir berbagai makanan legendaris yang telah bertahan puluhan tahun.

    Beberapa di antaranya bahkan sudah berdiri sejak era 1940-an dan 1950-an, tetap setia dengan racikan turun-temurun yang tak berubah.


    Dari jajanan pasar yang dijual di gang kecil, olahan sate kambing yang enak, hingga jajanan kaki lima yang antreannya tak pernah surut.

    Berikut 7 rekomendasi tempat makan legendaris di Jatinegara yang bertahan sejak puluhan tahun lalu:

    1. Ayam Goreng Ibu Haji

    10 Kuliner Legendaris di Jatinegara, Ada Combro hingga Soto BetawiAyam Goreng Bu Haji, Kuliner Legendaris di Jatinegara. Foto: Site Culinary/Visual

    Ayam Goreng Ibu Haji menjadi salah satu kuliner paling legendaris di Jatinegara, karena restoran ini sudah berdiri sejak 1948. Meski sempat terbakar pada 1998, kedai ini tetap bertahan dan menjaga cita rasa yang sama. Menu yang ditawarkan sederhana, hanya ayam goreng bumbu kuning dan sayur asem, namun justru kesederhanaan itulah yang membuat banyak pelanggan kembali.

    Potongan ayam kampung berukuran besar dimasak dengan bumbu ungkep kuning cerah yang meresap sampai ke dalam. Rasa gurih ayam semakin nikmat saat dicocol sambal ulek merah dan disantap bersama sayur asem segar.

    Selain ayam goreng, tersedia empal goreng dengan serundeng yang tak kalah populer. Harga seporsi ayam kampung masih terjangkau, sekitar Rp 25.000.

    2. Siomay Wawa

    10 Kuliner Legendaris di Jatinegara, Ada Combro hingga Soto BetawiSiomay Wawa. Foto: Site Culinary/Visual

    Siomay Wawa menjadi jajanan favorit di Jatinegara sejak era 1990-an. Berlokasi di dalam Gang Banten, Pasar Jatinegara, siomay ini kembali viral setelah banyak diulas di media sosial.

    Untuk adonan siomay ini terbuat dari campuran ayam dan udang yang bentuknya sekilas menyerupai dimsum, tapi tetap disebut siomay karena proses dan penyajiannya.

    Selain siomay di sini juga menjual ngohiong yang padat dan lembut. Karena tingginya permintaan, pembeli kini harus memesan minimal satu hari sebelumnya. Harga siomay per porsi berada di kisaran Rp 30.000 dengan jam operasional pukul 05.00-17.00.

    Aromanya yang khas dan teksturnya yang kenyal membuat Siomay Wawa tetap menjadi pilihan banyak warga sekitar yang mencari jajanan jadul yang enak.

    3. Combro Bu Aminah

    Gurih Renyah Combro di Dalam Gang Tai Jatinegara yang LegendarisGurih Renyah Combro di Dalam Gang Tai Jatinegara yang Legendaris Foto: detikFood

    Combro Bu Aminah atau Terminal Combro, kini menjadi buruan para pencinta jajanan tradisional di Jatinegara. Berlokasi di Gang Tai, kios ini sudah berdiri sejak 1980-an dan semakin populer setelah banyak diliput media serta food vlogger.

    Ciri khasnya ada pada adonan singkong padat yang diisi oncom berbumbu gurih pedas. Sensasi cabai rawit di dalamnya memberi kejutan yang membuat banyak pelanggan ketagihan. Meski lokasinya tersembunyi, pembeli terus berdatangan hingga kini harus memesan H-1 agar kebagian.

    Selain combro, tersedia juga misro, getuk, ongol-ongol, dan roti goreng dengan harga sekitar Rp 3.500. Rasanya yang autentik membuat jajanan sederhana ini tetap bertahan di tengah maraknya kuliner modern. Banyak warga datang karena rasa yang dianggap tidak berubah sejak dulu.

    4. Toko Roti Gelora

    Nostalgia Jajan Roti Jadul di Toko Roti Gelora yang Berusia 73 TahunNostalgia Jajan Roti Jadul di Toko Roti Gelora yang Berusia 73 Tahun Foto: detikFood

    Toko Roti Gelora merupakan salah satu jejak kejayaan bakery lawas era 1980-an yang masih bertahan hingga kini. Berada di dalam gang padat pemukiman Bali Mester, letaknya memang tidak mencolok sehingga pengunjung harus jeli mencari. Namun lokasi tersembunyi ini tidak mengurangi popularitasnya, terutama setelah viral di media sosial.

    Toko yang sudah berdiri lebih dari 75 tahun ini tetap mempertahankan racikan roti khas dengan kualitas yang konsisten. Menu utamanya adalah roti tawar, disusul roti manis, roti gandum, roti sobek, dan roti pisang. Selain roti, tersedia butter cookies dengan berbagai rasa, seperti Vanilla Ring, Danish, dan Speculaas.

    Usaha ini kini dikelola oleh Pak Ridwan, generasi kedua pemilik Roti Gelora. Harga rotinya masih terjangkau mulai dari Rp 15.000.

    5. Siomay Super Pak Aceng

    5 Siomay Enak dan Legendaris di Jatinegara yang Wajib Dicoba!Siomay Enak dan Legendaris di Jatinegara yang Wajib Dicoba! Foto: Site Culinary

    Siomay Super Pak Aceng di Cipinang Raya menjadi salah satu jajanan yang selalu diminati pembeli. Dijual sejak 1980-an, siomay ini terkenal karena mampu menjual ribuan butir hanya dalam waktu kurang dari 2 jam. Ukuran siomaynya besar, mirip dengan siomay premium di restoran.

    Menunya lengkap, mulai dari kentang, pare, siomay tahu goreng dan putih, hingga kol gulung lembut. Setiap potongan disajikan dengan siraman bumbu kacang, perasan jeruk nipis, dan kecap manis. Harga per biji hanya Rp 4.000.

    Tekstur siomaynya kenyal, terutama siomay telur yang menjadi favorit pelanggan. Aroma bumbu kacangnya yang wangi membuat banyak orang rela antre panjang. Kelezatannya membuat jajanan kaki lima ini tetap bertahan di tengah persaingan kuliner modern.

    6. Sate Kambing H. Giyo

    Sate Kambing H. Giyo sudah menjadi ikon kuliner di kawasan Jatinegara sejak 1985. Beroperasi dengan gaya Solo, sate ini terkenal karena potongan dagingnya yang besar namun tetap empuk. Daging kambing dipanggang dengan olesan kecap dan rempah khas sehingga menghasilkan aroma sedap dan rasa manis gurih. Sensasi daging yang lembut menjadikan sate ini favorit banyak pelanggan setia.

    Selain sate, tersedia juga tongseng kambing dengan kuah kental, sop kambing, serta tengkleng yang kaya rempah. Harga satu porsi sate berkisar Rp 55.000.

    Tempat makan sate ini selalu ramai oleh pengunjung yang datang untuk menikmati olahan kambing yang tidak berbau prengus. Kedai ini menjadi salah satu tempat makan wajib saat berkunjung ke Jatinegara.

    7. Soto Sapi Ni’mat

    Kelezatan Soto Betawi Legendaris di Jatinegara Berusia 73 TahunKelezatan Soto Betawi Legendaris di Jatinegara Berusia 73 Tahun Foto: detikFood

    Soto Sapi Ni’mat Betawi yang berdiri sejak 1952 menjadi salah satu soto paling legendaris di Jatinegara. Warung sederhana ini konsisten menyajikan satu menu yaitu soto Betawi berkuah santan murni tanpa susu, menggunakan santan dari kelapa pilihan, dan racikan rempah turun-temurun.

    Daging sapi, kikil, dan tulang muda dimasak dua kali agar empuk, lalu disajikan bersama sambal rawit dan acar. Seporsi soto dihargai Rp 26.000, atau Rp 32.000 jika termasuk nasi. Meskipun tempatnya sederhana, warung ini mampu menghabiskan 15-25 kilogram daging per hari.

    Tidak tersedia di aplikasi ojek online, pengunjung harus datang langsung untuk menikmati soto legendaris ini. Aroma gurih kuah santannya membuat banyak pelanggan kembali.

    (sob/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • 7 Kuliner Legendaris di Jatinegara Ini Mantap Rasanya, Ada yang Sejak 1948!


    Jakarta

    Meski jarang tersorot, kuliner legendaris di kawasan Jatinegara tidak pernah kehilangan pelanggan setianya. Dari bakery jadul sampai ayam goreng klasik bisa ditemukan di sini.

    Jatinegara dikenal sebagai salah satu kawasan kuliner paling tua dan sibuk di Jakarta Timur. Di balik deretan pasar, gang sempit, dan kawasan pemukiman yang padat, di sini hadir berbagai makanan legendaris yang telah bertahan puluhan tahun.

    Beberapa di antaranya bahkan sudah berdiri sejak era 1940-an dan 1950-an, tetap setia dengan racikan turun-temurun yang tak berubah.


    Dari jajanan pasar yang dijual di gang kecil, olahan sate kambing yang enak, hingga jajanan kaki lima yang antreannya tak pernah surut.

    Berikut 7 rekomendasi tempat makan legendaris di Jatinegara yang bertahan sejak puluhan tahun lalu:

    1. Ayam Goreng Ibu Haji

    10 Kuliner Legendaris di Jatinegara, Ada Combro hingga Soto BetawiAyam Goreng Bu Haji, Kuliner Legendaris di Jatinegara. Foto: Site Culinary/Visual

    Ayam Goreng Ibu Haji menjadi salah satu kuliner paling legendaris di Jatinegara, karena restoran ini sudah berdiri sejak 1948. Meski sempat terbakar pada 1998, kedai ini tetap bertahan dan menjaga cita rasa yang sama. Menu yang ditawarkan sederhana, hanya ayam goreng bumbu kuning dan sayur asem, namun justru kesederhanaan itulah yang membuat banyak pelanggan kembali.

    Potongan ayam kampung berukuran besar dimasak dengan bumbu ungkep kuning cerah yang meresap sampai ke dalam. Rasa gurih ayam semakin nikmat saat dicocol sambal ulek merah dan disantap bersama sayur asem segar.

    Selain ayam goreng, tersedia empal goreng dengan serundeng yang tak kalah populer. Harga seporsi ayam kampung masih terjangkau, sekitar Rp 25.000.

    2. Siomay Wawa

    10 Kuliner Legendaris di Jatinegara, Ada Combro hingga Soto BetawiSiomay Wawa. Foto: Site Culinary/Visual

    Siomay Wawa menjadi jajanan favorit di Jatinegara sejak era 1990-an. Berlokasi di dalam Gang Banten, Pasar Jatinegara, siomay ini kembali viral setelah banyak diulas di media sosial.

    Untuk adonan siomay ini terbuat dari campuran ayam dan udang yang bentuknya sekilas menyerupai dimsum, tapi tetap disebut siomay karena proses dan penyajiannya.

    Selain siomay di sini juga menjual ngohiong yang padat dan lembut. Karena tingginya permintaan, pembeli kini harus memesan minimal satu hari sebelumnya. Harga siomay per porsi berada di kisaran Rp 30.000 dengan jam operasional pukul 05.00-17.00.

    Aromanya yang khas dan teksturnya yang kenyal membuat Siomay Wawa tetap menjadi pilihan banyak warga sekitar yang mencari jajanan jadul yang enak.

    3. Combro Bu Aminah

    Gurih Renyah Combro di Dalam Gang Tai Jatinegara yang LegendarisGurih Renyah Combro di Dalam Gang Tai Jatinegara yang Legendaris Foto: detikFood

    Combro Bu Aminah atau Terminal Combro, kini menjadi buruan para pencinta jajanan tradisional di Jatinegara. Berlokasi di Gang Tai, kios ini sudah berdiri sejak 1980-an dan semakin populer setelah banyak diliput media serta food vlogger.

    Ciri khasnya ada pada adonan singkong padat yang diisi oncom berbumbu gurih pedas. Sensasi cabai rawit di dalamnya memberi kejutan yang membuat banyak pelanggan ketagihan. Meski lokasinya tersembunyi, pembeli terus berdatangan hingga kini harus memesan H-1 agar kebagian.

    Selain combro, tersedia juga misro, getuk, ongol-ongol, dan roti goreng dengan harga sekitar Rp 3.500. Rasanya yang autentik membuat jajanan sederhana ini tetap bertahan di tengah maraknya kuliner modern. Banyak warga datang karena rasa yang dianggap tidak berubah sejak dulu.

    4. Toko Roti Gelora

    Nostalgia Jajan Roti Jadul di Toko Roti Gelora yang Berusia 73 TahunNostalgia Jajan Roti Jadul di Toko Roti Gelora yang Berusia 73 Tahun Foto: detikFood

    Toko Roti Gelora merupakan salah satu jejak kejayaan bakery lawas era 1980-an yang masih bertahan hingga kini. Berada di dalam gang padat pemukiman Bali Mester, letaknya memang tidak mencolok sehingga pengunjung harus jeli mencari. Namun lokasi tersembunyi ini tidak mengurangi popularitasnya, terutama setelah viral di media sosial.

    Toko yang sudah berdiri lebih dari 75 tahun ini tetap mempertahankan racikan roti khas dengan kualitas yang konsisten. Menu utamanya adalah roti tawar, disusul roti manis, roti gandum, roti sobek, dan roti pisang. Selain roti, tersedia butter cookies dengan berbagai rasa, seperti Vanilla Ring, Danish, dan Speculaas.

    Usaha ini kini dikelola oleh Pak Ridwan, generasi kedua pemilik Roti Gelora. Harga rotinya masih terjangkau mulai dari Rp 15.000.

    5. Siomay Super Pak Aceng

    5 Siomay Enak dan Legendaris di Jatinegara yang Wajib Dicoba!Siomay Enak dan Legendaris di Jatinegara yang Wajib Dicoba! Foto: Site Culinary

    Siomay Super Pak Aceng di Cipinang Raya menjadi salah satu jajanan yang selalu diminati pembeli. Dijual sejak 1980-an, siomay ini terkenal karena mampu menjual ribuan butir hanya dalam waktu kurang dari 2 jam. Ukuran siomaynya besar, mirip dengan siomay premium di restoran.

    Menunya lengkap, mulai dari kentang, pare, siomay tahu goreng dan putih, hingga kol gulung lembut. Setiap potongan disajikan dengan siraman bumbu kacang, perasan jeruk nipis, dan kecap manis. Harga per biji hanya Rp 4.000.

    Tekstur siomaynya kenyal, terutama siomay telur yang menjadi favorit pelanggan. Aroma bumbu kacangnya yang wangi membuat banyak orang rela antre panjang. Kelezatannya membuat jajanan kaki lima ini tetap bertahan di tengah persaingan kuliner modern.

    6. Sate Kambing H. Giyo

    Sate Kambing H. Giyo sudah menjadi ikon kuliner di kawasan Jatinegara sejak 1985. Beroperasi dengan gaya Solo, sate ini terkenal karena potongan dagingnya yang besar namun tetap empuk. Daging kambing dipanggang dengan olesan kecap dan rempah khas sehingga menghasilkan aroma sedap dan rasa manis gurih. Sensasi daging yang lembut menjadikan sate ini favorit banyak pelanggan setia.

    Selain sate, tersedia juga tongseng kambing dengan kuah kental, sop kambing, serta tengkleng yang kaya rempah. Harga satu porsi sate berkisar Rp 55.000.

    Tempat makan sate ini selalu ramai oleh pengunjung yang datang untuk menikmati olahan kambing yang tidak berbau prengus. Kedai ini menjadi salah satu tempat makan wajib saat berkunjung ke Jatinegara.

    7. Soto Sapi Ni’mat

    Kelezatan Soto Betawi Legendaris di Jatinegara Berusia 73 TahunKelezatan Soto Betawi Legendaris di Jatinegara Berusia 73 Tahun Foto: detikFood

    Soto Sapi Ni’mat Betawi yang berdiri sejak 1952 menjadi salah satu soto paling legendaris di Jatinegara. Warung sederhana ini konsisten menyajikan satu menu yaitu soto Betawi berkuah santan murni tanpa susu, menggunakan santan dari kelapa pilihan, dan racikan rempah turun-temurun.

    Daging sapi, kikil, dan tulang muda dimasak dua kali agar empuk, lalu disajikan bersama sambal rawit dan acar. Seporsi soto dihargai Rp 26.000, atau Rp 32.000 jika termasuk nasi. Meskipun tempatnya sederhana, warung ini mampu menghabiskan 15-25 kilogram daging per hari.

    Tidak tersedia di aplikasi ojek online, pengunjung harus datang langsung untuk menikmati soto legendaris ini. Aroma gurih kuah santannya membuat banyak pelanggan kembali.

    (sob/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Catat! Kuliner Legendaris Jakarta yang Bisa Dituju dengan Transportasi Umum



    Jakarta

    Kuliner legendaris tidak hanya berbicara tentang cita rasa, tetapi juga tentang warisan budaya yang melekat dalam setiap hidangannya. Nah, traveler harus tahu bahwa banyak nih kuliner legendaris di Jakarta yang bisa dijangkau dengan transportasi umum lho.

    Yuk, kita susuri beberapa destinasi kuliner legendaris yang bisa mengenyangkan perut ini di momen libur Nataru.

    1. Bakmi Gajah Mada – Pasar Baru

    Jakarta Siapa yang tak kenal Bakmi Gang Kelinci? Meski sekarang sudah menjadi jaringan restoran besar, cabang pertamanya di Pasar Baru tetap punya pesona tersendiri. Berlokasi dekat halte TransJakarta Pasar Baru lalu ada stasiun KRL Juanda, traveler hanya perlu berjalan kaki lima menit atau sekitar 700 m saja untuk mencapai tempat ini.


    Selain bisa kulineran traveler juga bisa belanja banyak sekali gerai toko sepatu, dan bahan pakaian yang sudah lama pedagangnya berjualan. Bakmi yang kenyal dipadukan dengan jamur dan pangsit goreng renyah adalah perpaduan sempurna yang membuat pelanggan setia sejak era 1957.

    Suasana di dalam restorannya pun masih jadul dan klasik. Biar makin nikmat, jangan lupa pesan es teh manis yang khas untuk melengkapi pengalaman kuliner kamu ya.

    2. Nasi Bali Pak Gede

    Warung Bali Pak Gede tawarkan sajian nasi campur dan sate yang halal khas Bali.Warung Bali Pak Gede tawarkan sajian nasi campur dan sate yang halal khas Bali. Foto: detikFood / Yenny Mustika Sari

    Salah satu destinasi kuliner otentik, menghadirkan beragam hidangan khas Bali. Terletak di pusat kota, restoran ini mudah diakses dengan berbagai moda transportasi umum, menjadikannya pilihan favorit bagi pekerja kantoran dan wisatawan urban yang ingin mencicipi kuliner khas Bali.

    Lokasinya berada di kawasan strategis Jakarta Selatan, dekat dengan stasiun MRT Haji Nawi. Dari stasiun, traveler hanya perlu berjalan kaki keluar untuk sampai ke restoran ini karena lokasinya tepat di samping stasiun.

    Menu favorit di Nasi Bali Pak Gede adalah nasi campur khas Bali, lengkap dengan sate lilit yang gurih,ayam suwir bumbu betutu, ayam goreng, sate ayam, maupun sambal matah. Rasa autentiknya membuat pelanggan kembali lagi untuk menikmati kelezatan khas Bali.

    Ditambah dengan akses yang mudah dijangkau dan halal, restoran ini menjadi destinasi kuliner yang cocok untuk pecinta makanan khas Bali tanpa perlu keluar kota.

    3. Menjelajahi Kelezatan Pempek

    Jalan Garuda Kemayoran Jalan Garuda di Kemayoran, Jakarta Pusat, menjadi salah satu destinasi kuliner favorit bagi para pecinta pempek. Berlokasi strategis dekat dengan Stasiun Kemayoran, kawasan ini dipenuhi oleh berbagai gerai yang menawarkan pempek otentik khas Palembang.

    Mulai dari pempek kapal selam dan lenjer, semuanya disajikan dengan cuko yang kental dan pedas manis, dan juga minuman es kacang merahnya yang menyegarkan dahaga memberikan cita rasa yang sulit dilupakan.

    Untuk mencapai kawasan ini, traveler bisa menggunakan KRL Commuter Line dan turun di Stasiun Kemayoran. Dari stasiun, hanya diperlukan waktu sekitar 5-10 menit berjalan kaki untuk sampai ke Jalan Garuda.

    Di sepanjang jalan, traveler akan menemukan beberapa tempat makan pempek legendaris yang masih tetap mempertahankan kelezatan khas Palembang. Salah satu daya tarik pempek di Jalan Garuda adalah keaslian rasa yang dipertahankan dari generasi ke generasi.

    Tak hanya itu, suasananya yang sederhana namun hangat menjadikan pengalaman bersantap semakin menyenangkan. Dengan lokasi yang mudah diakses dan cita rasa yang otentik, Jalan Garuda menjadi destinasi kuliner wajib bagi para penggemar pempek di Jakarta.

    4. Menikmati Kelezatan Es Krim Legendaris Ragusa

    ice cream Ragusa di Jakarta Pusatice cream Ragusa di Jakarta Pusat Foto: Rifkianto Nugroho/detikTravel

    Bagi pecinta es krim klasik dengan cita rasa autentik, Ragusa Es Italia adalah destinasi kuliner yang wajib dikunjungi. Toko es krim ini berdiri sejak tahun 1930-an, menjadikannya bagian dari sejarah kuliner Indonesia.

    Ragusa Es Italia, yang berlokasi di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, terkenal dengan es krim homemade-nya yang lembut tanpa bahan pengawet. Serta menyajikan berbagai rasa es krim tradisional dengan suasana kafe retro yang menggugah nostalgia.

    Ragusa Es Italia mudah diakses dengan transportasi umum. Traveler bisa menggunakan KRL/halte bus tarnsjakarta dan turun di Juanda selanjutnya berjalan menuju Masjid Istiqlal sekitar 10 menit dan sampai. Di sini, menu andalan seperti Spaghetti Ice Cream dan banana split selalu menjadi favorit pelanggan. Suasana sederhana dengan interior vintage menambah keunikan pengalaman bersantap es krim di tempat ini.

    5. Soto Betawi H. Husein

    Soto Betawi H. Husein merupakan salah satu kuliner legendaris Jakarta yang telah eksis sejak tahun 1989. Berlokasi di kawasan Manggarai, soto ini terkenal dengan cita rasa kuah santannya yang gurih dan kaya rempah.

    Setiap porsinya berisi potongan daging sapi empuk, babat dan paruh yang tebal serta tambahan tomat dan kentang yang membuatnya semakin nikmat, untuk kuah dari soto nya yang kental dicampur susu rasanya gurih. Keaslian rasa dan konsistensi kualitas menjadikan Soto Betawi H. Husein sebagai destinasi kuliner favorit bagi pencinta soto khas Betawi.

    Tempat ini mudah dijangkau dengan transportasi umum. Jika menggunakan KRL, traveler cukup turun di Stasiun Manggarai dan berjalan kaki sekitar 5 menit menuju lokasi. Alternatif lain adalah menggunakan TransJakarta dan turun di Halte Manggarai.

    Suasana warung makan sederhana namun selalu ramai pengunjung memberikan kesan autentik, seolah membawa traveler ke Jakarta tempo dulu. Makan di sini terasa lebih istimewa dengan kehangatan pelayanannya yang ramah, khas Betawi.

    (sym/sym)



    Sumber : travel.detik.com