Tag: shanghai

  • Baju Sarimbit Lebaran 2025 di Tanah Abang, Harga Rp 400 Ribu Kembar Ibu Anak

    Jakarta

    Lebaran identik dengan busana seragam keluarga atau sarimbit. Kamu bisa membeli aneka sarimbit di Tanah Abang dengan harga yang lebih terjangkau dan melihat langsung koleksinya.

    Sarimbit keluarga biasanya tersedia untuk pria dan wanita dewasa, anak perempuan dan anak laki-laki, dengan warna atau motif yang senada. Wolipop menelusuri Tanah Abang Blok B untuk melihat pilihan koleksi sarimbit. Dari pintu utama, sudah berjejer toko yang menjual koleksi sarimbit. Seperti apa koleksinya?


    Toko Nesty Collection Blok B Lantai SLG Los F No. 68 menjual aneka koleksi sarimbit Hari Raya.Toko Nesty Collection Blok B Lantai SLG Los F No. 68 menjual aneka koleksi sarimbit Hari Raya. Foto: Dok. Gresnia/Wolipop.

    Toko Nesty Collection Blok B Lantai SLG Los F No. 68 menjual aneka koleksi sarimbit dengan detail bordir untuk mempercantik busana. “Koleksi sarimbit bahan ceruty ukurannya sampai XXL. Harganya mulai dari 425 Ribu dan baju koko Rp 215 Ribu. Kalau anaknya Rp 190 Ribu. Ada warna abu-abu dan mauve. Detailnya ada bordir dan payetnya,” ucap salah satu penjaga toko Nesty.

    Ingin tampil berbeda, warna hitam juga bisa kamu gunakan untuk sarimbit keluarga. Toko Nesty menyediakan pilihan sambit hitam yang elegan.

    Toko Nesty Collection Blok B Lantai SLG Los F No. 68 menjual aneka koleksi sarimbit Hari Raya.Toko Nesty Collection Blok B Lantai SLG Los F No. 68 menjual aneka koleksi sarimbit Hari Raya. Foto: Dok. Gresnia/Wolipop.

    Sarimbit baju kurung khas melayu yang simpel, bisa menjadi inspirasi untuk baju Lebaran nanti. Detail kerah shanghai dilengkapi dengan bordir floral warna putih menambah kesan suci Lebaran.

    Selanjutnya, ada toko Jeje Blok B LT. SLG LOS F No.46 yang menjual koleksi sarimbit harga Rp 400 Ribu sudah satu set dengan ibu dan anak perempuan. Jika harga koleksi untuk anaknya saja dijual Rp 170 Ribu. Kedua koleksi ini menggunakan bahan ceruty.

    Toko Nesty Collection Blok B Lantai SLG Los F No. 68 menjual aneka koleksi sarimbit Hari Raya.Toko Nesty Collection Blok B Lantai SLG Los F No. 68 menjual aneka koleksi sarimbit Hari Raya. Foto: Dok. Gresnia/Wolipop.

    (gaf/eny)



    Sumber : wolipop.detik.com

  • Pameran Seni Budaya China yang Menawan di Galeri Nasional



    Jakarta

    Pameran seni China digeber di Gedung D Galeri Nasional Indonesia, Jakarta mulai 6 September hingga 7 Oktober 2024. Beragam karya seni dipamerkan di sana.

    Pameran seni tradisional China itu diselenggarakan oleh Shanghai Art Collection Museum bersama Indonesia Heritage Agency (IHA), Badan Layanan Umum (BLU) di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

    Pameran itu bertajuk ‘Irama Baru Jalur Sutra Maritim’. Sebanyak kurang lebih 80 karya dari sekitar 50 seniman asal China ambil bagian dalam pameran tersebut.


    detikTravel menilik satu per satu karya tersebut pada Rabu (11/9/2024). Karya seni yang dipajang di galeri itu bukan hanya lukisan, tetapi juga terdapat karya seperti patung, paper cut hingga kerajinan sulam.

    Gallery sitter, Divan, menjelaskan pameran di Galeri Nasional itu menjadi titik keempat yang disinggahi Shanghai Art Collection Museum. Dia mengatakan pameran itu untuk memperkenalkan lebih luas lagi seni asli yang berangkat dari tradisi di sana.

    “(Tujuannya) untuk mengenalkan seni rupa China kepada dunia terutama yang berangkat dari kerajinan atau keahlian asli dari China itu sendiri, terutama di Shanghai. Ini adalah pameran stop keempat setelah sebelumnya merek dari Mesir, Turki, dan Slovakia jadi ini adalah sebuah tur global besar,” ujarnya kepada detikTravel.

    Pameran Seni Budaya China di Galeri NasionalPameran Seni Budaya China di Galeri Nasional (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

    Sebanyak 80 karya yang dipamerkan di sana terbagi menjadi empat bagian. Divan menerangkan dari empat bagian tersebut memiliki keunikannya masing-masing, salah satunya distrik di Shanghai yang bernama Jinzhan.

    Warga di sana memiliki kebiasaan untuk melukis sehingga karya dari warga distrik tersebut mempunyai ciri khas tersendiri.

    “Bagian pertama ada karya-karya yang berangkat dari kerajinan China secara keseluruhan, kemudian karya dari Shanghai secara spesifik. Ada yang terinspirasi dari Peking Opera, dan karya dari salah satu distrik di Shanghai yaitu Jinzhan, di mana para petani di sana memiliki kebiasaan atau culture melukis,” kata dia.

    Pameran Seni Budaya China di Galeri NasionalPameran Seni Budaya China di Galeri Nasional (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

    Sembari berkeliling terdapat salah satu karya yang sangat indah dan berbeda, dari jauh terlihat seperti lukisan biasa. Namun ketika ditelisik lebih dekat lukisan itu tak menggunakan cat, melainkan disulam menggunakan benang di medium kertas.

    Divan menerangkan karya tersebut juga jadi satu dari beberapa favoritnya di pameran ini. Karya yang bergambar bunga teratai itu merupakan hasil tangan seniman bernama Gu Yuchun dan Gu Zipeng.

    “Menurut saya yang paling berkesan itu adalah karya berjudul ‘Bunga Teratai dan Embun’ karya Gu Yuchun dan Gu Zipeng, itu adalah keluarga marga Gu yang mengembangkan teknik menyulam di atas kertas,” ujarnya.

    “Jadi kertasnya mereka sudah buat sendiri dan mereka sudah tahu keahlian khusus yang dibutuhkan untuk membuat karya yang benar-benar masif dan berimbas,” dia menambahkan.

    Pameran seni tradisional China ini berlangsung sejak 6 September hingga 7 Oktober 2024 mendatang. Buka setiap hari dari jam 09.00 sampai 19.00 WIB. Untuk bisa menyaksikan pameran ini, pengunjung akan dikenakan biaya sebesar Rp 20.000 per orang.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cerita Diet Pria Turun 57 Kg, Begini Triknya yang Bisa Ditiru


    Jakarta

    Seorang pria asal Jerman yang tinggal di Shanghai, China bernama Thomas Derksen (36) menceritakan pengalamannya sukses menurunkan 57 kg berat badan menjadi 83 kg dalam 5 tahun. Ia mengaku berhasil menurunkan berat badannya tanpa obat dan tanpa diet ketat.

    Ia mengalami masalah berat badan sejak sekolah dasar. Ia sempat mencoba beberapa kali diet ketat dan berhasil turun, tapi akhirnya berat badannya justru naik lagi dan semakin parah. Bobot terberatnya pernah mencapai 140 kg.

    Semasa sekolah, ia sering diejek oleh teman-temannya dan Derksen menyebut itu pengalaman yang menyakitkan. Bahkan ketika sudah dewasa, dirinya masih sering menerima komentar dan saran yang tidak diminta untuk menurunkan berat badan.


    Sampai pada tahun 2020 di masa pandemi, isolasi mandiri membuatnya lebih banyak merenung soal berat badan dan kesehatan. Ini juga didorong komplikasi medis yang ia alami akibat berat badan berlebih.

    “Aku mulai menurunkan berat badan saat COVID melanda. Aku tahu harus menurunkan berat badan dan bahwa gaya hidupku tidak sehat. Aku punya masalah hati berlemak, nyeri dada, dan sendi yang sakit,” katas Derksen dikutip dari SCMP, Jumat (1/8/2025).

    Semenjak itu, Derksen jadi sering jalan-jalan, berolahraga, hingga pergi ke gym. Ia melakukan latihan kekuatan tiga kali seminggu dan kardio dua kali seminggu.

    Derksen juga selalu memilih jalan kaki jika pergi ke tempat yang jaraknya kurang dari 5 km. Menurutnya, jalan kaki adalah aktivitas fisik terbaik.

    Alih-alih diet ketat, Derksen justru makan 3-4 kali sehari tapi dengan porsi yang lebih kecil. Ia pernah mencoba intermittent fasting, tapi memutuskan berhenti karena menurutnya terlalu berat. Derksen bahkan bisa makan bebas seperti kentang dan hamburger sesekali.

    “Aku tidak pernah berkata pada diriku, ‘Kamu tidak boleh makan ini atau itu’. Sebaliknya, aku bilang, ‘Kamu boleh makan apa pun, tapi 80 persen waktunya harus makan sehat’. Pergeseran itu membuatku merasa jadi pelaku aktif, bukan pasif,” katanya.

    Dulu, ia menganggap makanan sebagai hiburan dan harus enak. Derksen kini lebih sering memasak sendiri dengan bahan sehat dan sederhana.

    Derksen tidak mempertimbangkan obat GLP-1 karena ia menyadari bahwa pola makannya selama ini bukan disebabkan oleh rasa lapar, melainkan oleh faktor emosional seperti stres atau kebosanan. Baginya, menekan nafsu makan saja tidak cukup untuk mengatasi akar permasalahan.

    (avk/kna)



    Sumber : health.detik.com