Tag: snack

  • Pejuang Diet Merapat! Ini 5 Camilan Sehat yang Nggak Bikin Perut Makin Buncit

    Jakarta

    Camilan kerap dipandang sebagai jenis makanan yang bisa membuat gemuk. Karenanya, orang yang sedang diet untuk menurunkan berat badan cenderung menjauhi makanan tersebut.

    Tapi, berusaha menurunkan berat badan bukan berarti harus mengorbankan camilan. Bahkan, mengonsumsi camilan yang tepat justru dapat mendukung proses penurunan berat badan. Camilan yang sehat dapat membantu tubuh untuk tetap kenyang dalam waktu yang lama, sehingga mencegah makan berlebihan dan berat badan ‘membengkak’.

    Lantas, apa saja camilan yang aman dikonsumsi saat diet dan tidak memicu kenaikan berat badan? Dikutip dari Health, berikut daftarnya.


    1. Pisang dan Selai Kacang

    Kombinasi pisang dan selai kacang merupakan camilan yang sangat cocok dikonsumsi saat sedang diet. Berbagai penelitian menunjukkan kacang dapat membantu mengendalikan trigliserida dan lemak dalam darah, sehingga mendukung penurunan berat badan.

    Di sisi lain, pisang merupakan sumber kalium yang sangat dibutuhkan oleh fungsi saraf dan otot. Tak hanya itu, kombinasi pisang dan selai kacang juga akan memenuhi kebutuhan karbohidrat dan protein tubuh, meningkatkan mood, dan memberikan energi untuk beraktivitas.

    2. Greek Yogurt dengan Raspberry

    Greek yogurt memiliki protein yang lebih tinggi dibandingkan yogurt biasa. Penelitian menunjukkan diet yang tinggi protein dapat membantu tubuh merasa kenyang untuk waktu yang lama.

    Dengan menambahkan raspberry, kebutuhan akan serat juga ikut terpenuhi. Untuk memperkaya rasa, Anda bisa juga menambahkan madu sebagai pemanis alami.

    3. Oatmeal dan Blueberry

    Oat adalah salah satu camilan sehat yang praktis untuk dibuat kapanpun. Oat kaya akan serat yang dapat membantu menjaga kadar gula dalam darah, mengurangi lemak tubuh, dan menurunkan berat badan. Tambahkan beberapa blueberry untuk mendapatkan rasa manis alami, serat, vitamin C, dan antioksidan.

    4. Telur Rebus

    Meski sederhana, telur rebus termasuk camilan sehat yang dapat membantu menurunkan berat badan. Telur rebus mengandung protein tinggi yang mengenyangkan. Kandungan protein tersebut juga membantu menekan nafsu makan dan mencegah makan berlebihan.

    Studi juga menunjukkan diet tinggi protein dapat membantu mempertahankan massa otot dan menurunkan berat badan.

    5. Apel dan Keju

    Apel merupakan sumber serat yang mengenyangkan, sehingga cocok menjadi camilan saat sedang diet untuk menurunkan berat badan.

    Sementara itu, keju kerap dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung. Bahkan dalam sebuah studi yang dilakukan pada 2019, peneliti menemukan keju juga dapat melindungi dari risiko diabetes tipe 2. Tapi ingat, pilihlah jenis keju yang rendah lemak agar tidak malah mengacaukan proses penurunan berat badan.

    (ath/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • 6 Makanan yang Bisa Memperpendek Umur, Sosis Termasuk!

    Jakarta

    Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh akan berpengaruh terhadap kesehatan kita. Beberapa jenis makanan, yang tinggi akan gula atau zat aditif juga dikaitkan dengan berbagai risiko penyakit kronis.

    Ketika sudah banyak penyakit, kondisi tersebut bisa memperpendek harapan hidup kita. Oleh sebab itu, kita perlu memperhatikan pola makan beberapa makanan tersebut. Ada apa saja?

    Jenis Makanan Memperpendek Usia

    Berikut adalah makanan-makanan yang dapat memperpendek umur jika dimakan secara berlebihan:


    1. Ultra-Processed Food (Makanan Ultra-Olahan)

    Hot dog unikIlustrasi hot dog. Foto: Getty Images/iStockphoto/natapetrovich

    Makanan ultra-olahan seperti daging olahan (sosis atau hot dog) dan minuman manis bisa berbahaya pada kesehatan tubuh.

    Dilansir laman Harvard Health Publishing, penelitian American Society for Nutrition pada bulan Juli 2024 menggunakan data dari NIH-AARP Diet and Health Study, selama hampir 23 tahun penelitian ini melacak pola makan dan kesehatan lebih dari setengah juta orang dewasa usia 50 – 71 tahun.

    Hasilnya menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi makanan ultra-olahan dalam jumlah yang signifikan punya kemungkinan 10% lebih besar untuk meninggal. Ini terjadi terutama akibat penyakit jantung dan diabetes (selama periode tindak lanjut 2 dekade penelitian dibandingkan dengan mereka yang tidak).

    2. Makanan yang Hangus dan Gosong

    Ayam Bakar Bu Lian Favorit Gubernur NTBIlustrasi makanan yang dibakar. Foto: detikFood/Yenny Mustika Sari

    Dr. Anthony Yuon dalam tulisannya yang dimuat laman CNBC International, menyebut bahwa membakar atau menghanguskan makanan, khususnya daging di atas panggangan bisa menyebabkan terbentuknya amina heterosiklik. Di mana, hal tersebut telah terbukti menyebabkan kanker dan mempercepat proses penuaan.

    Sebenarnya sesekali memasak dan memakannya boleh-boleh saja, namun teknik memasak yang direkomendasikan adalah dengan mengukus, merebus, memasak dengan api kecil hingga sedang, atau memanggang dengan api kecil hingga sedang.

    3. Snack (Makanan Ringan)

    Bukan Curang, Ini Alasan Kemasan Snack Berisi Banyak UdaraIlustrasi snack. Foto: Getty Images/MarkGillow

    Makanan ringan juga termasuk kategori makanan ultra olahan. Contoh makanan yang paling umumnya adalah permen, keripik, kue kering, donat, batangan granola, atau kue.

    Kebanyakan makanan ini mengandung bahan pengawet dan bahan kimia lain, yang diproduksi di pabrik atau laboratorium.Tambahan tersebut biasanya untuk membantu memperpanjang masa simpan.

    4. Produk Olahan Susu yang Ditambah Gula

    Meskipun susu bisa jadi sumber nutrisi baik, namun produk susu sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu banyak. Pasalnya, di pasaran produk susu juga mengandung banyak gula (dalam bentuk laktosa, yang tidak bisa ditoleransi oleh banyak orang) dan protein yang berpotensi menimbulkan peradangan yang dikenal sebagai kasein.

    Tapi, kalau mau tetap mengkonsumsi produk susu, sebaiknya konsumsi yoghurt yang tanpa tambahan gula adalah jenis pilihan yang terbaik.

    5. Biji-bijian Olahan

    Pada dasarnya, biji-bijian olahan telah kehilangan nutrisi dan seratnya karena mereka telah diproses. Misalnya dengan dibuat menjadi tepung putih atau tepung terigu halus, pasta,).
    Pemurnian biji-bijian menghilangkan kulit ari dan lembaga, yang jadi tempat sebagian besar serat dan nutrisi penting.

    Sementara tepung putih menghasilkan produk yang lebih ringan, sehingga rasanya tidak terlalu berat dan besar. Selain itu, tepung ini juga dicerna lebih cepat, sehingga berisiko membuat lonjakan glukosa yang lebih besar dan selanjutnya lonjakan insulin yang lebih besar.

    6. Makanan yang Asin Banget

    Penambahan sedikit garam pada makanan tidak akan membahayakan. Namun, tambahan banyak garam berisiko merusak kulit dan penuaan dini.

    Garam menyebabkan retensi air, hal ini bisa mengakibatkan bengkak dan kembung. Biasanya makanan yang super asin karena ada garam dan MSG (monosodium glutamat yang mengandung natrium).

    (khq/fds)



    Sumber : food.detik.com

  • Banyak SPPG Ganti Menu Jadi Snack-Biskuit, Wamenkes: MBG Harus Dimasak


    Jakarta

    Belakangan tidak sedikit satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang mengganti menu makan bergizi gratis dengan snack dan roti kering. Hal ini ikut disoroti Wakil Menteri Kesehatan dr Benjamin Paulus Octavianus.

    Ia menegaskan, kebijakan itu tidak sejalan dengan tujuan program makan bergizi gratis (MBG) yang mengutamakan makanan segar dan dimasak langsung.

    “Saya setuju bahwa dari Kementerian Kesehatan, masyarakat harus diberikan makanan yang dimasak. Karena makanan yang dimasak itu kualitasnya lebih aman dibanding kita pakai biskuit atau makanan kering lain,” ujar Benjamin, dalam Temu Media di Kementerian Kesehatan RI, Jumat (17/10/2025).


    dr Benjamin menjelaskan berdasarkan laporan terakhir yang diterima Kementerian Kesehatan, Jumat pagi (17/10), terdapat 439 kasus keracunan pangan MBG di delapan kabupaten. Tren tersebut menurutnya fluktuatif.

    “Kemenkes ini luar biasa, laporan tadi pagi 439 kasus di delapan kabupaten. Kami punya laporan setiap hari, kemarin 200, sebelumnya 103, jadi naik-turun dari sekitar hampir 35 juta orang yang makan,” jelasnya.

    Ia menegaskan, target pemerintah adalah zero case, artinya tidak boleh ada satu pun kasus keracunan dalam program makan bergizi gratis.

    “Targetnya kita ya harus zero, nggak boleh ada orang keracunan,” tegas Benjamin.

    Alasan SPPG Beralih ke Snack Kering

    Menurut Benjamin, sebagian SPPG memilih menyediakan makanan kering seperti biskuit atau snack kemasan karena kendala operasional di lapangan, misalnya belum memiliki dapur layak atau keterbatasan waktu dalam pengadaan bahan segar.

    “Memang ada yang sudah mampu langsung masak makanan, ada juga yang karena harus segera membeli makan, akhirnya memilih makanan jadi seperti biskuit,” katanya.

    Namun, pemerintah ingin memastikan setiap penerima program mendapatkan makanan bergizi yang benar-benar memenuhi standar keamanan dan nilai gizi.

    Kementerian Kesehatan kini tengah memperkuat sistem pengawasan terhadap mutu makanan yang disalurkan oleh SPPG, termasuk menyiapkan standar kelayakan dapur, sanitasi, dan pelatihan pengelolaan bahan makanan. Benjamin menyebut peningkatan kualitas ini menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan dan kredibilitas program.

    “Kita tingkatkan kualitasnya. Makanan yang berproses dan dimasak itu jauh lebih baik untuk kesehatan penerima manfaat,” ucapnya.

    (naf/up)



    Sumber : health.detik.com