Tag: store of value

  • Pemred Forbes: Bitcoin Kelak Menjadi Store-of-Value Seperti Emas

    Steve Forbes, Pemimpin Redaksi Forbes Media mengatakan bahwa Bitcoin kelak bisa menjadi store-of-value seperti emas.

    “Bitcoin belum bisa menjadi emas baru sebagai pelindung nilai terhadap inflasi. Emas, kendati harganya tertekan dibandingkan harga Bitcoin, tetap mempertahankan nilai intrinsiknya. Emas lebih baik daripada aset lainnya di muka bumi, karena teruji selama 4 ribu tahun. Ketika Anda melihat harga emas dalam dolar berfluktuasi, nilai emas tidak berubah, melainkan nilai dolar itu sendiri. Nilai emas terbilang konstan. Itulah yang tak terjadi pada Bitcoin,” ujar Forbes di Forbes.com, 4 Desember 2020 lalu.

    Baca Juga: S&P Dow Jones Luncurkan Indeks Crypto di 2021, Bakal Dorong Bitcoin Lebih Tinggi?

    Steve berpendapat, bahwa fluktuasi yang sangat tinggi pada harga Bitcoin, tidak memungkinkan kelas aset baru itu sebagai store-of-value alias menjaga nilai uang di masa depan.

    “Bitcoin terlalu volatil sebagai aset store-of-value jangka panjang. Bahkan pasokan terbatas Bitcoin menjadi tantangan tersendiri soal kegunaannya di masa depan. Lihat pasokan emas yang sekitar 2 persen setiap tahun. Itu yang membuatnya langka, tetapi tak terlalu langka. Jadi, belum saatnya Bitcoin sebagai emas baru. Justru emaslah saat ini sebagai aset terbaik untuk melawan inflasi,” ungkapnya.

    Sejak 1 Januari-5 Desember 2020, imbal hasil emas hanya 20,98 persen (US$1835 per oz). Di saat yang sama, Bitcoin naik gila-gilaan hingga 165 persen (US$19.000 per BTC). Indeks dolar AS sendiri tertekan hebat hingga minus 5 persen (90,81).

    Steve Forbes memang terkenal mengapresiasi Bitcoin sebagai kelas aset baru. Pada Juni 2020 misalnya ia mengatakan bahwa Bitcoin dan sejumlah aset kripto lainnya adalah pelindung dari ketidakpastian kebijakan keuangan saat ini.

    Steve juga percaya bahwa aset kripto Bitcoin membantu menstabilkan sistem keuangan yang dikendalikan pemerintah dan mendesak pengembangan teknologi blockchain Bitcoin.

    Hal itu ia sampaikan pada dalam satu wawancara dengan US Center for Natural dan Artificial Intelligence pada 12 Juni 2002 lalu.

    “Aset kripto adalah sebuah respons ketika bank sentral mengeluarkan kebijakan pelonggaran kuantitatif dan pinjaman murah untuk merevitalisasi ekonomi mereka. Namun, kebijakan untuk menambah pasokan uang ke dalam pasar itu justru menyebabkan ketidakstabilan keuangan dalam jangka panjang,” kata Steve.

    Steve mencontohkan Jepang. Mereka menjalankan program pelonggaran kuantitatif pada akhir 1980-an, yang mengarah ke “The Lost Decade” dari 1990-2000, sebuah periode penurunan output ekonomi dan inflasi.

    Jepang sejatinya masih belum pulih, bahkan tiga puluh tahun setelah program itu. Para kritikus mengatakan, Amerika menuju nasib yang serupa seperti Jepang, jika langkah-langkah penanangan tidak segera dilakukan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • AllianceBernstein: Bitcoin adalah Store of Value Jangka Panjang

    Divisi penelitian perusahaan manajemen aset, AllianceBernstein, asal New York berubah sikap. Kali ini mereka menegaskan bahwa Bitcoin berperan besar dalam portofolio investor, khususnya sebagai store of value jangka panjang.

    Baca Juga: Lima Koin Teratas Mulai Bangkit dari Sell Off!

    AllianceBernstein cukup ternama dengan total aset dikelola mencapai US$631 milyar. Dalam catatan penelitian yang diberikan kepada kliennya, Kepala Tim Strategi Portofolio Bernstein Research, Inigo Fraser Jenkins, mengatakan pihaknya sebelumnya tidak menganggap Bitcoin sebagai instrumen investasi, pada Januari 2018 silam ketika harga Bitcoin mulai longsor dari harga tertingginya.

    Tetapi, perubahan kebijakan akibat pandemi, tingkat utang dan opsi diversifikasi bagi investor, perusahaan akhirnya mengakui Bitcoin memegang peran penting dalam alokasi aset untuk periode jangka panjang.

    Jenkins menjelaskan, berkurangnya volatilitas harga Bitcoin menjadikannya menarik, baik dari sisi alat simpan nilai (store of value) dan sebagai alat pertukaran.

    Selama pandemi, korelasi Bitcoin dengan aset besar lain meningkat. Di sisi lain, Bitcoin adalah aset likuid yang bisa dijual cepat, seperti yang terjadi saat market crash pada Maret 2020 lalu, lalu rebound tak kalah cepatnya.

    “Dari sudut pandang empiris, berkurangnya volatilitas Bitcoin menjadikannya lebih menarik, tetapi korelasi yang meningkat menunjukkan arah sebaliknya,” sebut Fraser Jenkins.

    Soal perlindungan terhadap inflasi, Bitcoin kiranya mirip seperti emas. Kendati demikian, aset kripto tersebut tidak akan bergerak sepenuhnya untuk melawan inflasi dalam mata uang fiat

    Isu lain seperti penggunaan aset kripto dalam tindak kriminal dan konsumsi energi penambangan Bitcoin yang berat disebut sebagai kekhawatiran mengenai aset itu, dan juga soal pengawasan pemerintah.

    Baca Juga: Perusahaan Australia Ini Beralih ke Bitcoin dari Emas

    Jenkins berpendapat, jika jadi ada isu lain untuk Bitcoin di masa depan. Pandemi membuat pemerintah lebih berkuasa dan berperan mengelola ekonomi, sehingga jika aset kripto semakin besar, regulator bisa merasa terganggu oleh kehadirannya.

    “Aset kripto berperan dalam alokasi aset, selama mereka legal,” tegas Jenkins.

    Bernstein Research menyarankan investor menyimpan Bitcoin sebanyak 1,5 hingga 10 persen dari portofolio investasi, tergantung kepada imbal hasil bulanannya.

    “Hasil alokasinya rendah, tetapi dalam kerangka optimasi sederhana ini, alokasi terhadap aset lain bisa mencapai nol, sehingga Bitcoin tampaknya signifikan,” pungkas Jenkins.



    Sumber : news.tokocrypto.com