Tag: Strategi Investasi

  • Pahami Dollar Cost Averaging Sebagai Strategi Investasi

    Setiap instrumen investasi tentunya terdapat strategi yang bisa diterapkan, beberapanya antara lain yaitu Strategi Lump Sum atau Strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Strategi ini pun bisa dilakukan baik di investasi saham, reksa dana maupun aset kripto. Namun pada pembahasannya kali ini akan lebih membahas mengenai Strategi DCA pada investasi Bitcoin. Yuk, simak penjelasannya!

    Pentingnya Strategi dalam Investasi

    Sama seperti dengan investasi lainnya, investasi aset kripto khususnya Bitcoin perlu menggunakan strategi. Apalagi terkhusus pada Bitcoin, aset ini sama dengan aset cryptocurrency lainnya yang memiliki karakter berbeda dengan instrumen investasi lainnya, karena harganya cenderung mudah berubah atau disebut volatile. Menggunakan strategi yang tepat pada investasi Bitcoin tentunya berguna agar menghasilkan keuntungan.

    Setiap orang mempunyai cara berinvestasi Bitcoin yang berbeda-beda, ada investor yang menggunakan strategi membeli Bitcoin dalam jumlah banyak pada satu waktu, kemudian disimpan untuk beberapa tahun ke depan sebelum menjualnya kembali agar keuntungan yang didapatkan besar. Ada juga yang melakukan dengan strategi membeli sedikit Bitcoin dan langsung menjualnya ketika harga yang di pasar naik sedikit, walaupun keuntungan yang didapatkan tidak terlalu besar.  

    Mengenal Dollar Cost Averaging dalam Strategi Investasi Bitcoin

    Strategi DCA merupakan metode yang cocok digunakan pada investasi Bitcoin, karena investor dapat melindungi diri dari fluktuasi harga dan resiko kerugian. Nah, apa sih Strategi DCA? Strategi Dollar Cost Averaging adalah investasi yang dilakukan dengan membeli aset tertentu dalam jumlah yang tetap dan jadwal yang teratur tanpa melihat harga aset.Investor membeli dengan modal yang tetap sehingga akan mendapatkan lebih banyak aset ketika harga rendah, dan lebih sedikit aset ketika harga tinggi

    Strategi ini lebih sesuai untuk Anda yang ingin memiliki toleransi risiko investasi yang lebih rendah dan visi investasi dengan waktu jangka panjang. Jadi, Anda tak perlu khawatir dan memikirkan jika harga yang ada di pasar naik turun terjadi secara tiba-tiba, asalkan Anda tetap melakukannya secara rutin. 

    Lalu, bagaimana cara kerja Strategi DCA ini? Misalnya, Anda menetapkan Rp 10.000.000,- sebagai modal investasi yang akan Anda keluarkan tiap bulan, maka Anda akan selalu mengeluarkan sejumlah uang tersebut di setiap bulannya, tanpa memperdulikan apakah harga Bitcoin tersebut sedang naik ataupun turun. Jadi, saat harga Bitcoin sedang turun, Anda akan mendapatkan lebih banyak Bitcoin dengan membayarkan Rp 10.000.000 dan saat harga naik naik, Anda akan mendapatkan lebih sedikit Bitcoin. 

    Untuk melihat seberapa besar keuntungannya, simak perbandingan investasi menggunakan Strategi lump sum dan Strategi DCA di bawah ini:

    1) Strategi Lump Sum

    Misalkan Anda membeli Bitcoin pada awal tahun dengan uang Rp. 120.000.000 ketika harga Bitcoin adalah Rp. 5.000.000 per BTC. Artinya, Anda telah membeli 24 Bitcoin (Rp. 120.000.000 dibagi Rp. 5.000.000).

    Pada akhir tahun, harga naik menjadi Rp. 6.000.000 per BTC. Anda memiliki 24 Bitcoin maka total keuntungan Anda adalah Rp 24.000.000 (24 * Rp 6.000.000 = Rp 144.000.000,- dan modal awal Anda adalah Rp 120.000.000). Keuntungan (ROI  atau Return of Investment) yang Anda dapatkan adalah 20%.

    2) Strategi DCA

    Pada contoh diatas, Anda membeli total 24.29 Bitcoin, karena Anda secara konsisten melakukan investasi sebesar Rp 10.000.000 (diasumsikan membeli ketika harga turun). Lalu pada akhir tahun, aset Anda bernilai 24.29 x Rp 6.000.000 = Rp. 145.740.000 Anda telah mendapatkan keuntungan sebesar Rp 25.740.000 yaitu ROI sebanyak 22%. 

     Pada Strategi DCA ini, Anda mendapatkan keuntungan 2%  lebih banyak dari contoh sebelumnya yang menggunakan Strategi Lump Sump. 

    Apakah Anda tertarik untuk memulai investasi Bitcoin dan ingin menerapkan Strategi Dollar Cost Averaging secara langsung? Yuk, mulai investasi bitcoin Anda yang mudah, terpercaya dan aman di Tokocrypto dan kunjungi kami di www.tokocrypto.com!

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Trailing Stop dan Bagaimana Cara Menggunakannya?

    Dalam trading, para trader seringkali memanfaatkan order demi kelancaran trading. Order sendiri dapat membantu trader dalam mengantongi cuan. Salah satu order yang sering digunakan untuk mengamankan profit adalah Trailing Stop yang merupakan bagian dari Stop Loss. 

    Nah, sebelum memahami Trailing Stop adalah teknik yang seperti apa, mari lebih dulu membahas sedikit mengenai Stop Loss!

    Apa itu Stop Loss?

    Stop Loss merupakan suatu order untuk menutup posisi trading, yang biasanya disediakan oleh platform trading kripto. Gunanya adalah untuk menandai batas bawah harga yang diincar oleh trader, sehingga jika ternyata harga menurun drastis, trader masih bisa terselamatkan dari kerugian dengan batas yang ditentukan tersebut.

    Lalu, apa yang membuat Trailing Stop berbeda dengan Stop Loss? Yuk, simak informasi selengkapnya mengenai Trailing Stop!

    Apa Itu Trailing Stop?

    Seperti yang dibahas sebelumnya, Trailing Stop adalah salah satu jenis dari Stop Loss dalam trading, yang berguna untuk meminimalisir kerugian yang akan dihadapi oleh trader. Sebab dengan Trailing Stop, penetapan batas bawah harga lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan pergerakan harga pasar. Hal inilah yang membedakan Trailing Stop dengan Stop Loss biasa yang level maksimum-nya bersifat fixed.

    Dalam Trailing Stop, terdapat nilai yang disebut dengan Trailing Distance. Trailing Distance ini adalah selisih antara harga pasar saat ini dan nilai maksimum atau harga yang ditetapkan trader untuk buy/sell. Setelah ditetapkan oleh trader, nantinya nilai ini akan ikut bergerak, sesuai arah pergerakan harga saat di posisi buy maupun sell.

    Cara Menggunakan Trailing Stop dalam Trading

    Cara menggunakan Trailing stop

    Sebenarnya, cara menggunakan Trailing Stop bergantung pada platform trading yang Anda gunakan. Akan tetapi, secara umum, Trailing Stop bisa digunakan dalam dua keadaan, yaitu:

    1. Saat Buy

    Pada saat dipasang di posisi beli, secara otomatis perintah Trailing Stop akan mengikuti harga aset di pasar saat harga mulai meningkat. Jadi, saat harga pasar saat itu meningkat dengan nilai yang sama dengan Trailing Distance yang telah ditetapkan sebelumnya, trader melakukan buy.

    2. Saat Sell

    Pada saat posisi jual, order akan mengikuti harga pasar saat mulai menurun. Pasalnya, Trailing Stop akan berguna dalam membatasi kerugian yang akan diperoleh trader jika harga terus menurun. Sesaat harga pasar saat itu menurun dan bernilai sejumlah Trailing Distance, otomatis trader akan mengunci profit di angka tersebut dengan melakukan sell. Para trader pada umumnya memasang Trailing Stop di posisi jual.

    Contoh Penggunaan Trailing Stop dalam Trading

    Contoh Penggunaan Trailing Stop

    Misalnya, seorang trader memasang Trailing Stop di posisi sell dengan Trailing Distance sebesar 10. Harga pasar saat pemasangan Trailing Stop adalah 1000, sehingga dengan perhitungan dasar Stop Loss, sesaat harga mencapai 990, aset tersebut akan secara otomatis dijual.

    Lain halnya jika harga pasar saat ini berkisar di antara 990 hingga 1000 saat pemasangan Trailing Stop, dengan Trailing Distance yang sama yaitu 10. Selama harga terus naik-turun, Trailing Stop akan tetap bertahan di 990 dan tidak akan ikut bergerak naik maupun turun.

    Kemudian, jika harga meningkat menjadi 1010, Trailing Stop akan bergerak dan berpindah ke angka 1000 agar tetap memiliki selisih sebesar Trailing Distance. Lalu, apabila ternyata harga terus naik hingga mencapai 1020, Trailing Stop juga akan mengikuti dan berhenti di 1010. Hal ini berlaku seterusnya apabila terjadi kenaikan di pasar.

    Inilah yang dikatakan bahwa Trailing Stop dalam posisi sell akan terus mengikuti pergerakan harga ketika naik, dan tidak akan bergerak saat mengalami penurunan. Namun, sesaat harga pasar saat ini hampir menyentuh Trailing Distance, secara otomatis dilakukan penjualan untuk meminimalisir kerugian trader. Dan hal sebaliknya akan terjadi jika trader memasang di posisi buy.

    Baca juga: Gunakan Strategi Trading Bitcoin Berikut Agar Untung

    Kelebihan dari Trailing Stop

    Kelebihan Trailing Stop

    Sebagai modifikasi dari Stop Loss, Trailing Stop tentunya memiliki beberapa kelebihan yang bisa dimanfaatkan oleh trader, di antaranya:

    1. Cocok untuk Day Trading

    Kelebihan pertama dari Trailing Stop adalah cocok digunakan untuk Day Trading, dikarenakan trader bisa membatasi jumlah kerugian yang ia akan terima saat trading. Jadi, trader tidak akan terlalu kaget jika harga pasar turun, karena nilai kerugian telah ditetapkan sebelumnya dan hanya akan ikut bergerak saat harga pasar naik.

    2. Bisa Menghindari Kerugian Besar

    Seperti contoh yang dipaparkan sebelumnya, Trailing Stop bisa membantu trader dalam menghindari kerugian besar. Sebab, sesaat Trailing Stop posisi sell dipasang dan harga pasar mendekati Trailing Distance yang sudah ditetapkan, aset tersebut akan secara otomatis terjual dan profit berhasil terkunci.

    3. Tidak Perlu Dipantau 24/7

    Berhubungan dengan poin sebelumnya, dikarenakan batas harga akan mengikuti pergerakan di pasar alias tidak fixed di satu nilai tertentu saja. Maka, trader tidak perlu lagi memantau trading selama 24/7 karena pasti akan selalu ter-update dengan sendirinya mengikuti kondisi harga di pasar.

    Sekarang, Anda sudah tahu, kan, Trailing Stop adalah order yang seperti apa? Meski terkesan mudah, diperlukan pemahaman yang mendalam dalam menggunakannya. Selain itu, Trailing Stop juga harus dibarengi dengan analisis teknikal, ya, agar strategi trading Anda tetap bisa berjalan sesuai rencana. Untuk informasi seputar trading kripto lainnya, segera kunjungi Tokonews dan mulai investasi aset kripto di Tokocrypto!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tips Kelola Gaji untuk Investasi Aset Kripto Biar Cuan

    Jelang akhir bulan, kebanyakan orang mengalami kesulitan mengatur finansial saat menerima gaji. Mereka terkadang dihadapkan pada tuntutan memenuhi kebutuhan harian atau investasi. Alhasil seringkali investasi dinomorduakan karena dianggap tidak penting dan tak cocok untuk pekerja bergaji upah minimum regional (UMR).

    Melihat kondisi seperti itu, Tokocrypto menggelar promo #SiapLebihCuan bareng GoPay yang dapat membantu masyarakat untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan harian dan berinvestasi secara bersamaan. Aset kripto kini jadi alternatif paling menarik sebagai pilihan investasi. 

    “Salah satu alasannya dengan modal yang relatif kecil, kita sudah bisa investasi di aset kripto. Profit bisa cukup baik dalam jangka panjang, sehingga menjanjikan untuk masa depan. Investasi kripto sendiri mudah diakses dan sudah legal serta resmi di Indonesia,” kata VP Marketing Tokocrypto, Aditya Raflein.

    Tidak ada kata terlambat untuk memulai investasi aset kripto. Menurut Raflein, industri aset kripto masih baru dan akan terus tumbuh di Indonesia. “Memerlukan waktu yang panjang untuk adopsi massal. Keuntungan menjadi yang awal adalah, peluang untuk memperoleh profit masih cukup besar.”

    hasil konservi bitcon dalam bentuk rupiah

    Ilustrasi tips investasi aset kripto saat gajian.

    Oleh karena itu sebelum terjun berinvestasi aset kripto, terlebih saat momen gajian, calon investor harus menyiapkan hal-hal berikut ini terlebih dahulu. 

    1. Tentukan tujuan investasi

    Tujuan keuangan setiap orang tidak pernah sama dengan lainnya. Perlu dipertimbangkan target keuangan sejak dini agar pengelolaannya dapat dilakukan dengan baik. Seperti menentukan target dalam kurun waktu tertentu untuk menyiapkan dana pendidikan, pensiun atau lainnya.

    Calon investor juga harus tentukan terlebih dahulu skala prioritas dari target investasi yang sudah dibuat. Tujuannya adalah memudahkan membagi pengelolaan keuangan dan menghindari sifat serakah yang bisa akibatkan kerugian.

    Baca juga: Begini Cara Investasi Bitcoin dan Konversi ke Rupiah

    2. Kelola pengeluaran yang optimal 

    Setelah mantap untuk berinvestasi, calon investor juga perlu mengelola keuangan agar pengeluaran bisa lebih ditekan. Tahan berbagai godaan untuk berbelanja kebutuhan yang tak begitu penting dan mendesak. Dengan begitu, dana yang bisa digunakan untuk berinvestasi menjadi lebih banyak.

    Soal tata kelola keuangan, bisa membagi besaran gaji yang diterima sesuai kebutuhan. Contoh membagi penerimaan gaji ke dalam beberapa pos, 50% kebutuhan hidup, 20% hiburan, 30% tabungan dan investasi. Sesuaikanlah dengan kemampuan finansial masing-masing.

    tampilan chart aset kripto

    Ilustrasi tips investasi saat gajian.

    3. Belajar tentang investasi aset kripto

    Investasi aset kripto itu memiliki risiko yang tinggi, namun bisa memberi imbal hasil yang tinggi pula (high risk, high return). Apa pun jenis asetnya, diharapkan memiliki pengetahuan mengenai aset tersebut, baik secara fundamental maupun analisis.

    Pelajari terlebih dahulu risiko-risiko yang mungkin terjadi dalam investasi aset kripto, sehingga memiliki wawasan atau edukasi yang mumpuni juga jadi lebih matang ketika bertransaksi. Jangan mudah tergiur dengan tawaran dari suatu investasi yang menguntungkan dengan imbal hasil tinggi. Pahami aset kripto yang dipilih, pastikan punya pertimbangan yang matang dalam membuat keputusan jual-beli aset.

    “Lakukan analisa fundamental dengan mempelajari aset sebelum berinvestasi, serta melakukan analisa teknikal untuk menentukan waktu yang tepat dalam membeli, menjual atau take profit aset. Pastikan selalu riset dan buat keputusan yang matang,” kata Raflein.

    Baca juga: 8 Cara Mudah Cuan dari Kripto 

    4. Siapkan perencanaan investasi

    Setelah tahu apa tujuan dan paham mengenai investasi aset kripto, bisa buat perencanaan agar tidak memberatkan keuangan dan pemenuhan kebutuhan lainnya. Alokasi dana investasi bisa ditentukan sesuai kemampuan dan profil risiko. Penting untuk menggunakan uang ‘dingin’, bukan untuk keperluan sehari-hari atau lainnya. Jadikan investasi masuk dalam pengeluaran rutin dan harus dilakukan displin.

    Investor saat menerima gaji bisa siapkan dana tidak terlalu besar untuk membeli aset kripto. Ada strategi DCA (dollar cost average), di mana membeli aset sedikit demi sedikit secara rutin. Strategi ini cocok untuk investasi jangka panjang. Nanti tanpa disadari, setelah kurung waktu tertentu, nilai aset sudah lebih tinggi.

    Ilustrasi sukses investasi aset kripto.

    Ilustrasi sukses investasi aset kripto.

    5. Manfaatkan promo

    Untuk memperbesar keuntungan, investor bisa memanfaatkan program promo yang memberikan potongan harga atau cashback saat ingin menginvestasikan dananya. Seperti program yang digelar oleh Tokocrpto #SiapLebihCuan bareng GoPay.

    Pengguna setia dan baru GoPay bisa mendapatkan banyak cashback hingga Rp 80.000 yang akan dibagikan selama periode 25 Februari sampai 2 Maret 2022. Tidak hanya itu, investor juga bisa mendapatkan gratis ekstra 2 token TKO bagi pengguna baru Tokocrypto yang menyelesaikan KYC (Know Your Costumer).

    “Program #SiapLebihCuan bareng GoPay ini bisa dimanfaatkan baik oleh pengguna Tokocrypto yang baru ingin atau sudah berinvestasi aset kripto. Kami terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan mengapresi kepada payment partner atas terjalinnya kerja sama selama ini untuk mendukung ekosistem keuangan yang inklusif dan bermanfaat bagi pengguna,” kata Raflien. 

    Baca juga: Tips Cari Cuan Investasi Aset Kripto di Kala Market Anjlok

    Untuk informasi lengkap mengenai program #SiapLebihCuan bareng GoPay bisa kunjungi link ini atau akses situs www.tokocrypto.com.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • NOBI Dana Kripto Hadir untuk Dukung Inklusi Keuangan RI


    Jakarta

    PT Dana Kripto Indonesia (NOBI Group) meluncurkan NOBI Dana Kripto. Produk ini hadir sebagai pionir dan satu-satunya manajemen aset kripto di Indonesia.

    Selama ini, banyak calon investor kesulitan masuk ke dunia kripto karena kesulitan mengelola wallet pribadi, memilih aset kripto sendiri, hingga mengamankan aset dari risiko peretasan. NOBI Dana Kripto hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut.

    Cukup dengan satu produk Dana Kripto Indeks, seluruh proses mulai dari strategi investasi hingga penyimpanan aset dijalankan secara profesional dan aman. Dengan model terkelola ini, investor tidak perlu repot memantau pergerakan harga setiap hari.


    Portofolio investor dikelola oleh manajer dana kripto berpengalaman menggunakan strategi berbasis data, sementara aset ditempatkan di kustodian kripto berstandar institusional dengan sistem air-gapped cold storage yang memastikan perlindungan maksimal. Lebih dari itu, investor bisa berinvestasi dengan tenang karena produk ini dirancang sesuai peraturan yang berlaku.

    Dengan bergabung dalam Sandbox OJK, NOBI Dana Kripto menegaskan komitmen untuk menjalankan operasional sesuai standar regulator, sekaligus memberikan perlindungan maksimal bagi para investor.

    (akd/akd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Transaksi Kripto Naik Terus, Investor Mesti Perhatikan Hal Ini


    Jakarta

    Transaksi kripto terus menunjukkan peningkatan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, transaksi kripto sepanjang Juli 2025 mencapai Rp 52,46 triliun, naik 62,36% dibandingkan bulan sebelumnya sebesar Rp 32,31 triliun. Secara kumulatif, total nilai transaksi kripto di 2025 telah menembus Rp 276,45 triliun.

    Jumlah investor juga terus bertambah. Per Juli 2025, OJK mencatat total 16,5 juta konsumen aset kripto, naik 4,11% dibandingkan Juni 2025 sebanyak 15,85 juta.

    Meski demikian, industri aset kripto dan juga saham memasuki bulan September dengan perhatian khusus pada fenomena yang dikenal sebagai September Effect, sebuah anomali musiman yang kerap dikaitkan dengan penurunan kinerja pasar saham maupun kripto.


    Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Digital, dan Aset Kripto OJK Hasan Fawzi mengingatkan investor agar berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di tengah tren ini. Fenomena tersebut diyakini dipengaruhi oleh penyesuaian portofolio pasca musim liburan, kebutuhan likuiditas, hingga faktor psikologis investor global.

    Sementara, Vice President Indodax Antony Kusuma, mengatakan September Effect perlu dipahami secara proporsional. Menurutnya, anomali tersebut tidak seharusnya menjadi patokan tunggal dalam menentukan strategi investasi kripto.

    “Kami melihat ‘September Effect’ lebih bersifat psikologis ketimbang fundamental. Jika kita bandingkan, di 2024 transaksi penuh setahun Rp 344 triliun, sementara 2025 baru berjalan hingga Juli sudah menembus Rp 276 triliun. Ini bukti bahwa kripto di Indonesia terus tumbuh kuat, bahkan di tengah faktor musiman,” ujar Antony dalam keterangannya, Minggu (7/9/2025).

    Ia menambahkan, investor perlu mengedepankan strategi diversifikasi portofolio serta manajemen risiko jangka panjang. Pihaknya, mengingatkan investasi kripto harus dilakukan secara rasional. “Prinsipnya bukan market timing, melainkan konsistensi, pemahaman aset, dan disiplin dalam bertransaksi,” jelas Antony.

    Meskipun ada unjuk rasa yang sempat mengguncang pasar modal pada akhir pekan lalu, OJK menegaskan bahwa industri kripto tetap stabil. Aktivitas penempatan dan penarikan dana di exchange kripto tercatat normal, memperlihatkan ketahanan ekosistem digital nasional.

    Ia menilai ketahanan sektor kripto menjadi bukti bahwa ekosistem keuangan digital di Indonesia telah semakin matang. “Kondisi stabil meski terjadi tekanan eksternal adalah tanda kepercayaan publik terhadap kripto makin kokoh,” katanya.

    Menurutnya, tren positif transaksi kripto pada 2025 bisa menjadi katalis bagi transformasi ekonomi digital nasional. “Jika tren ini berlanjut, kontribusi aset kripto terhadap perekonomian digital Indonesia akan semakin signifikan, terutama dalam memperluas partisipasi masyarakat pada layanan keuangan modern,” terangnya.

    Namun demikian, Antony mengingatkan bahwa investasi kripto tetap memiliki risiko tinggi. Investor disarankan untuk hanya menggunakan dana yang siap dialokasikan (uang dingin), tidak semata mengikuti tren pasar, serta perlu memahami fundamental dari setiap aset yang diperdagangkan.

    “Bagi investor baru, strategi seperti Dollar-Cost Averaging (DCA) bisa menjadi pilihan yang bijak. Cara ini mengurangi dampak volatilitas pasar karena pembelian dilakukan secara konsisten dalam periode tertentu,” jelas Antony.

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Optimalkan Investasi Crypto dengan Strategi Buy the Dip


    Jakarta

    Pasar crypto telah mengalami tren kenaikan dan penurunan sepanjang 2025. Kombinasi kondisi makroekonomi yang buruk dan perang tarif Trump membuat pasar crypto terpuruk.

    Di sisi lain, berita-berita seperti penurunan suku bunga dan regulasi aset crypto juga menjadi pelontar kenaikan harga pasar. Salah satu strategi paling banyak digunakan oleh trader dan investor adalah strategi buy the dip.

    Kita akan mengupas apa itu strategi buy the dip dan memberikan 3 strategi yang bisa diterapkan oleh investor kripto!


    Apa itu Strategi Buy The Dip?

    Buy the dip adalah strategi investasi yang umum digunakan di pasar crypto dan saham. Strategi ini merujuk pada metode sederhana membeli ketika harga turun dengan ekspektasi bahwa harga akan pulih.

    Di pasar crypto, strategi ini sangat populer di kalangan investor pemula karena sederhana dan mudah dilakukan. Strategi yang baik adalah membeli koreksi harga dalam tren naik yang kuat dan meraih keuntungan sebelum tren tersebut berbalik.

    Contoh di bawah ini menunjukkan betapa menguntungkannya melakukan buy the dip pada aset SOL sepanjang 2024. Ini merupakan contoh yang baik tentang cara membeli dip di pasar bullish.

    3 Pola Grafik dan Strategi untuk Membeli Dip

    1. Rounding Bottom

    InvestasiInvestasi Foto: dok. Pintu

    Rounding bottom adalah pola grafik yang sering terbentuk saat tren bearish akan selesai. Pola in ditemukan di akhir tren penurunan yang panjang dan menandakan pembalikan harga.

    Secara visual, pola ini berbentuk ‘U’ Pola ini juga disebut dengan rounding bottom karena kesederhanaan pergerakan harga (higher low yang diikuti oleh higher high). Dalam pola rounding bottom, pemulihan aset terjadi secara lambat dan stabil.

    Harga sering berfluktuasi di dekat level terendah, secara perlahan membentuk higher low sambil mendekati resistance sebelumnya. Selain itu, perhatikan pola lain yang sering terjadi dalam rounding bottom, seperti double bottom.

    2. Membeli pada Fase Akumulasi Wyckoff

    Menurut teori Richard Wyckoff, fase akumulasi adalah fase yang terjadi setelah suatu aset mengalami tren turun yang berkepanjangan dan akhirnya harga stabil. Dalam fase akumulasi, harga menetap dalam suatu jarak harga (bergerak sideways).

    Namun, Wyckoff berpendapat bahwa trader “smart money” akan mengakumulasi aset selama fase ini. Pada fase Fase akumulasi Wyckoff, dapat terlihat pola seperti rounding bottom, triple bottom, V-reversal, double bottom, atau bahkan cup and handle.

    Aspek penting dari tahap akumulasi adalah volume yang stabil dan/atau mulai meningkat kembali. Trading dalam fase akumulasi Wyckoff menggunakan strategi buy the dip serupa dengan pola rounding bottom.

    Terbentuknya higher low pada grafik merupakan potensi sinyal beli, sementara stop loss harus ditetapkan pada support sebelumnya atau pada titik rendah lokal (untuk mengantisipasi potensi penurunan lebih lanjut).

    3. Melakukan Buy the Dip dalam Tren Kenaikan

    InvestasiInvestasi Foto: dok. Pintu

    Menerapkan strategi buy the dip dalam tren kenaikan yang kuat adalah skenario ideal. Dalam tren ini, penurunan harga biasanya bersifat sementara dan harga pada akhirnya akan kembali melanjutkan tren.

    Seperti terlihat di atas, membeli koreksi besar di bawah $2 pada SUI akan memberikan profit lebih dari 150% (jika dijual sekitar $5). Kamu dapat menggunakan berbagai indikator untuk mengidentifikasi tren kenaikan yang kuat seperti EMA (Exponential Moving Average) atau Fibonacci Retracement.

    Kita bisa mengatakan SUI masih dalam kenaikan kuat karena harga memantul pada level EMA 50-hari dan langsung membentuk higher low dan higher high.

    Cara Membeli Aset Crypto di Pintu

    Kamu bisa membeli aset crypto di Pintu dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

    1. Masuk ke homepage aplikasi Pintu.
    2. Masuk ke laman Market, cari aset crypto seperti BTC, ETH, SOL, atau XRP.
    3. Di halaman token, kamu bisa melihat grafik pergerakan harga aset dalam jangka waktu 24 jam, 1 minggu, 1 bulan, hingga 1 tahun.
    4. Setelah berada di halaman token, klik Buy atau Beli dan masukkan nominal.
    5. Klik Lanjutkan.
    6. Anda sudah berhasil membeli aset crypto!

    Keamanan kamu sebagai pengguna Pintu terjamin, karena Pintu diawasi oleh OJK dan CFX. Selain trading, Pintu juga memungkinkan kamu untuk belajar lebih banyak tentang kripto melalui berbagai artikel di Pintu Academy, diperbarui setiap minggu!

    (prf/ega)



    Sumber : finance.detik.com

  • Investor Kakap Serok Bitcoin Saat Harga Anjlok


    Jakarta

    Pasar aset kripto mengalami gonjang-ganjing usai Bitcoin (BTC) mengalami koreksi tajam ke kisaran level US$ 74.000 sebelum akhirnya rebound ke level US$ 77.000. Kombinasi antara eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS pasca-nominasi kepemimpinan baru Federal Reserve menjadi pemicunya.

    Vice President INDODAX Antony Kusuma menjelaskan saat ini Bitcoin sering kali menjadi salah satu aset pertama yang bereaksi terhadap kepanikan global karena sifat pasarnya yang beroperasi 24/7.

    Meski begitu, data on-chain Glassnode menunjukkan anomali yang menarik. Terdapat perbedaan perilaku yang kontras antara kelas investor kripto, kelompok Mega-Whales atau investor pemegang 1.000 Bitcoin ke atas justru terpantau membeli Bitcoin secara bertahap untuk menyerap pasokan pasar yang panik.


    “Meskipun pasar saat ini berada dalam fase ketakutan yang ekstrem, fundamental industri dinilai jauh lebih kokoh dibandingkan siklus serupa di tahun 2022,” ujar Antony dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).

    Kehadiran institusi besar seperti BlackRock dan JPMorgan yang telah terintegrasi dalam ekosistem melalui ETF dan infrastruktur perbankan memberikan bantalan yang lebih kuat terhadap risiko sistemik jangka panjang.

    INDODAX mengimbau para investor kripto di Indonesia untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan impulsif berdasarkan emosi sesaat. Penting bagi investor untuk mengevaluasi kembali manajemen risiko mereka.

    Investor disarankan untuk tetap disiplin pada strategi investasi jangka panjang, mencermati dinamika pasar secara proporsional, serta terus membekali diri dengan riset mandiri.

    Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

    (hal/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Biang Kerok Harga Bitcoin Anjlok


    Jakarta

    Harga Bitcoin mengalami penurunan ke level US$ 70.000 atau Rp 1,18 miliar (kurs Rp 16.928/dolar AS). Penurunan nilai aset digital ini didorong oleh hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan sinyal arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang masih cenderung ketat.

    Sebelumnya, Bitcoin sempat mengkuat mendekati US$ 76.000 atau Rp 1,28 miliar pada perdagangan Selasa (17/3) pekan lalu, didorong arus dana institusional ke spot Bitcoin ETF sebesar US$ 199,37 juta hingga sesi ketujuh berturut-turut, dengan total arus masuk selama tujuh hari mencapai US$ 1,16 miliar.

    “Hal ini menunjukkan minat investor besar yang masih terjaga meski pasar mengalami volatilitas. Namun, setelah pertemuan FOMC, para investor melakukan penyesuaian yang mempengaruhi pergerakan harga, tercermin dari koreksi sekitar 7-8%,” kata Vice President INDODAX, Antony Kusuma, dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/3/2026).


    “Keputusan FOMC yang mempertahankan suku bunga acuan serta revisi naik proyeksi inflasi menunjukkan arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish. Pasar pun menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun secepat harapan, sehingga likuiditas ke aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas. Namun, ini merupakan bagian dari penyesuaian pasar terhadap dinamika ekonomi global yang terus berkembang,” sambungnya.

    Belum lagi menurutnya pergerakan ini turut dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, termasuk revisi kenaikan inflasi AS menjadi sekitar 2,7% serta suku bunga yang bertahan di kisaran 3,50%-3,75%.

    Dalam hal ini Gubernur The Federal Reserve (Bank Sentral AS) Jerome Powell menyampaikan penurunan suku bunga di AS akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi. Membuat minat investasi akan aset digital ini menjadi terbatas.

    “Kondisi ini membuat peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi lebih terbatas, sehingga mempengaruhi minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto,” paparnya.

    Pada akhirnya, Antony berpendapat pergerakan aset kripto Bitcoin saat ini berada di kisaran US$ 70.000, dengan area US$ 70.000-72.000 menjadi level support penting yang dicermati oleh investor.

    “Selama level ini mampu bertahan, pergerakan harga berpotensi tetap stabil dalam jangka pendek, didukung oleh arus masuk dana institusional yang membantu menyerap tekanan jual. Namun jika harga melewati level support ini, penyesuaian harga berpotensi berlanjut ke level yang lebih rendah,” jelasnya.

    Antony menambahkan pada kondisi pasar saat ini, sentimen pasar cenderung dipengaruhi oleh faktor makroekonomi. Namun bagi investor, fase koreksi dan konsolidasi seperti ini dapat dimanfaatkan untuk menata kembali strategi investasi secara lebih bijak dengan manajemen risiko yang tepat dan fokus jangka panjang

    “Sejalan dengan dinamika ini, INDODAX menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan ekosistem perdagangan aset kripto yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh seluruh member. INDODAX juga aktif mendorong literasi dan edukasi masyarakat melalui INDODAX Academy, agar pengguna memahami risiko investasi dan pentingnya riset mandiri (DYOR),” ujar Antony.

    “Selain itu, penerapan strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu investor menghadapi volatilitas pasar dengan lebih disiplin, Lewat edukasi yang berkelanjutan, INDODAX mengajak masyarakat untuk tetap rasional, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang dalam menyikapi peluang di pasar kripto,” pungkasnya.

    (igo/hns)



    Sumber : finance.detik.com . Diterbitkan pada :