Tag: strategy

  • Inilah Strategi Veteran Bitcoin Yang Menghasilkan Keuntungan $ 10 Miliar

    Investor Bitcoin legendaris, Chamath Palihapitiya telah menerbitkan rahasianya menghasilkan keuntungan $ 10 miliar dalam Bitcoin. Ia memulai pertaruhannya pada tahun 2012 dan 2013 dan memperoleh 1 juta BTC dengan harga $ 80 saat itu.

    Strateginya adalah bisa membedakan kapan suatu investasi menghasilkan keuntungan dan mengetahui bagaimana mengelola risiko.

    Investasi 101: Jangan bingung membedakan presentase slugging dengan pukulan rata-rata. Palihapitiya menjelaskan bahwa investasi adalah tentang mengetahui produk yang Anda investasikan, meskipun produk tersebut tidak diketahui. Dalam hal ini, indikator MOIC (Multiple of Invested Capital) menjadi alat yang sangat diperlukan untuk mengetahui nilai total investasi atau portfolio.

    Baca Juga: Industri Cryptocurrency dan Blockchain di Indonesia Alami Pertumbuhan Besar-besaran

    Menurutnya, investor hebat fokus pada presentase slugging, yaitu mereka mengetahui investasi mereka dan dapat menambahkan lebih banyak uang untuk investasi tersebut. Mereka tahu bagaimana memanfaatkan atau mengambil risiko serta ‘menunggangi pemenang’.

    Kesimpulannya, investor hebat tahu bahwa memiliki investasi yang baik itu lebih penting, dari pada memiliki banyak bagian dari yang tidak relevan dari banyak pemenang.

    Palihapitiya menambahkan: Luangkan waktu untuk memahami apa yang Anda miliki sehingga Anda bisa menjadi ‘semua’ jika perlu. Seharusnya tidak pernah terjadi tetapi jika Anda memiliki tingkat keyakinan seperti ini, Anda akan mengukur dan menambahkan dengan tepat dan membiarkan persentase slugging Anda yang berbicara.

    Ketika Whitepaper Bitcoin diterbitkan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009, mantan eksekutif senior Facebook ini diperkirakan telah memiliki kekayaan $ 1 miliar.

    Melalui perusahaannya, Social Capital, dia telah berinvestasi di Digital Currency Group, sebuah perusahaan yang bertujuan untuk mempercepat pengembangan sistem keuangan yang lebih baik dengan mendukung perusahaan Bitcoin dan blockchain dengan akses ke modal.

    Bisa dikatakan bahwa sang investor tersebut melihat crypto baru yang berpotensial dan HODL, tidak melakukan perdagangan.

    Menurut para analis, selama Bitcoin masih diatas $10.000, trend masih terlihat bullish. Namun, masih ada CME Gap di $9.600 menghantui BTC. Pada saat pers, harga Bitcoin berada di $10.634 menurut Binance.

    Menurut Whalemap, aktivitas whale Bitcoin menunjukkan dukungan yang kuat di level $ 10.407 dan $ 10.570. ini berarti, whale Bitcoin telah mengumpulkan jumlah yang signifikan di level itu menjadi dukungan yang kuat. Whalemap menyatakan harga Bitcoin harus tetap di atasnya agar pasar tetap bullish.

    Baca Juga: Analisa Teknikal 7 Oktober: Bitcoin dan Ethereum

    artikel ini dapat dibaca kembali disini.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pecahkan Rekor, Strategy Beli $2 Miliar Bitcoin

    Perusahaan investasi global Strategy baru saja mengumumkan pembelian Bitcoin senilai $2 miliar (sekitar Rp 31 triliun) sebagai bagian dari alokasi aset reservanya.

    Pembelian ini tercatat sebagai investasi Bitcoin terbesar oleh institusi sepanjang 2025, sekaligus menegaskan kembali kepercayaan pasar terhadap aset kripto meski di tengah gejolak volatilitas.

    Berdasarkan laporan resmi Strategy, pembelian Bitcoin dilakukan secara bertahap selama Q3 2025 melalui kombinasi pembelian langsung di pasar spot dan kerja sama dengan platform over-the-counter (OTC).

    Perusahaan mengklaim dana ini berasal dari alokasi kas perusahaan yang sebelumnya diinvestasikan dalam instrumen tradisional seperti obligasi pemerintah dan emas.

    Akusisi Bitcoin Kembali

    Dengan pembelian ini, total kepemilikan Bitcoin dari Strategy mencapai 45.000 BTC, menempatkannya di peringkat ketiga institusi pemegang Bitcoin terbesar di dunia, di bawah MicroStrategy (190.000 BTC) dan Tesla (12.000 BTC).

    Dalam konferensi pers, Michael Saylor selaku CEO Strategy, menjelaskan motivasi di balik langkah besar ini.

    “Bitcoin bukan sekadar aset spekulatif, melainkan penyimpan nilai yang superior di era digital. Dengan inflasi global yang masih fluktuatif dan ketidakpastian pasar obligasi, kami yakin Bitcoin adalah solusi jangka panjang untuk melindungi kekayaan perusahaan,” ujar Saylor sebagaimana dikutip dari Coinpaprika pada Rabu (26/2).

    Sementara itu, analis menyoroti timing pembelian ini. Strategy membeli Bitcoin saat harganya terkoreksi ke level $43.000, turun 28% dari rekor tertinggi 2025 di kisaran $60.000.

    Reaksi Pasar Kripto

    Meskipun strategi agresif ini mencerminkan kepercayaan jangka panjang terhadap aset digital, saham perusahaan tersebut telah berkinerja buruk dalam beberapa bulan terakhir.

    Meskipun akumulasinya stabil, saham MSTR telah turun, meningkatkan kekhawatiran tentang risiko keuangan yang terkait dengan volatilitas harga Bitcoin .

    Strategi Saylor konsisten menggunakan modal dari penjualan saham untuk mendanai pembelian Bitcoin. Namun, kondisi pasar telah menghadirkan tantangan.

    Melemahnya harga Bitcoin telah memengaruhi mata uang kripto dan kinerja saham Strategy, membuat beberapa investor berhati-hati tentang stabilitas keuangan perusahaan.

    Produk Keuangan Baru

    Selain penawaran saham, Strategy telah memperkenalkan produk keuangan baru, seperti sekuritas berjangka, untuk mendiversifikasi pendekatan penggalangan modalnya.

    Investor institusional, termasuk BlackRock, sekarang memegang sebagian saham perusahaan, yang menggarisbawahi skala transaksi ini.

    Beberapa analis berspekulasi bahwa akuisisi Bitcoin yang besar ini dapat menciptakan kompleksitas pajak , tetapi Saylor tetap fokus pada pertumbuhan jangka panjang.

    Ke depannya, pasokan Bitcoin di bursa terus menurun, yang mengindikasikan adanya potensi guncangan pasokan di masa mendatang.

    Jika Bitcoin memasuki fase bullish lainnya, akumulasi agresif Strategy dapat membuahkan hasil.

    Namun, ketergantungan perusahaan pada penjualan saham menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan, terutama jika kondisi bearish terus berlanjut.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Strategy Kini Kuasai 650.000 BTC, Siapkan Kas Dividen Puluhan Triliun

    Strategy, perusahaan treasury bitcoin yang sebelumnya bernama MicroStrategy, kembali menambah kepemilikan Bitcoin-nya. Dalam laporan 8-K ke Securities and Exchange Commission (SEC) pada Senin (1/12/2025) waktu setempat, perusahaan mengumumkan pembelian tambahan 130 bitcoin (BTC) senilai sekitar US$11,7 juta.

    Pembelian dilakukan antara 17–30 November dengan harga rata-rata US$89.960 per BTC. Dengan transaksi terbaru ini, Strategy kini memegang total 650.000 BTC, yang bernilai sekitar US$56 miliar berdasarkan harga pasar saat ini. Menurut salah satu pendiri sekaligus executive chairman Michael Saylor, rata-rata harga beli Strategy berada di US$74.436 per BTC dengan total biaya sekitar US$48,4 miliar termasuk fee dan biaya lain. Artinya, meski pasar kripto tengah lesu, perusahaan masih mencatat keuntungan belum terealisasi sekitar US$7,6 miliar di atas kertas.

    Dilaporkan The Block, kepemilikan itu mewakili lebih dari 3% dari total suplai maksimal bitcoin yang hanya 21 juta BTC.

    Dana Dividen Jumbo: USD Reserve US$1,44 Miliar

    Bersamaan dengan pengumuman pembelian Bitcoin, Strategy juga mengumumkan pembentukan cadangan kas dalam denominasi dolar AS (USD Reserve) senilai US$1,44 miliar. Dana ini disiapkan khusus untuk:

    • membayar dividen saham preferen, dan
    • bunga atas utang yang sudah ada.

    Cadangan dolar tersebut berasal dari hasil penjualan saham biasa Class A (MSTR) melalui program at-the-market (ATM). Dalam dua minggu terakhir, Strategy menjual 8.214.000 saham MSTR dan meraup dana sekitar US$1,48 miliar.

    Perusahaan menyatakan niat untuk mempertahankan USD Reserve dalam jumlah yang cukup menutup setidaknya 12 bulan pembayaran dividen, dengan target jangka menengah untuk memperkuat cadangan hingga bisa meng-cover 24 bulan atau lebih. Namun, besar kecilnya cadangan tetap bisa disesuaikan sewaktu-waktu bergantung kondisi pasar dan kebutuhan likuiditas perusahaan.

    “Membangun USD Reserve untuk melengkapi BTC Reserve menandai tahap berikutnya dalam evolusi kami,” kata Saylor. Menurutnya, langkah ini diambil agar Strategy lebih siap menghadapi volatilitas jangka pendek sembari tetap mengejar visi menjadi issuer utama Digital Credit berbasis bitcoin.

    Baca juga: Bitcoin Rontok! Tapi Michael Saylor Malah Tambah Beli BTC, Nekat?

    Didanai Penjualan Saham, Bukan Menjual Bitcoin

    Strategy menegaskan, pembelian bitcoin terbaru dan pembentukan USD Reserve tidak didanai dari penjualan BTC, melainkan dari penjualan saham MSTR di pasar.

    Per 30 November, perusahaan masih memiliki ruang hingga US$13,37 miliar untuk penerbitan dan penjualan tambahan saham biasa Class A di bawah program ATM yang sama.

    Untuk saham preferen perpetual, tidak ada penjualan baru pada periode tersebut. Namun, Strategy masih punya kapasitas hingga US$30,2 miliar untuk menerbitkan saham preferen melalui program ATM yang terpisah.

    Sempat Dianggap “Pause” Beli Bitcoin

    Sepekan sebelumnya, pasar sempat mengira Strategy menghentikan pembelian rutin bitcoin setelah tidak ada pengumuman akuisisi baru, dengan total kepemilikan tercatat masih 649.870 BTC. Namun, karena pengumuman terbaru mencakup periode 17–30 November, belum jelas kapan tepatnya 130 BTC tambahan tersebut dibeli.

    Langkah ini menyusul apa yang disebut Saylor sebagai “big week” pada minggu sebelumnya, ketika Strategy membeli 8.178 BTC senilai sekitar US$835,6 juta, salah satu akuisisi terbesar sejak Juli lalu.

    Alih-alih memberi kode pembelian seperti biasanya, Saylor pada Minggu hanya mengunggah pembaruan pelacak bitcoin Strategy disertai kalimat, “What if we start adding green dots?” yang diduga mengacu pada penambahan titik hijau untuk menandai USD Reserve baru senilai US$1,44 miliar tersebut.

    Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Saylor Borong Bitcoin Lagi Rp20 Triliun, Total Kepemilikan 738.731 BTC

    Perusahaan treasury Bitcoin Strategy (MSTR) kembali menambah kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar. Perusahaan yang dipimpin oleh Michael Saylor tersebut membeli 17.994 BTC senilai sekitar US$1,28 miliar atau lebih dari Rp20 triliun dalam sepekan terakhir.

    Dilaporkan Bitcoin Magazine, pembelian tersebut dilakukan antara 2 hingga 8 Maret 2026 dengan harga rata-rata sekitar US$70.946 per Bitcoin, berdasarkan laporan resmi yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC).

    Dengan akuisisi terbaru ini, total kepemilikan Bitcoin Strategy kini mencapai 738.731 BTC.

    Total Kepemilikan Bitcoin Capai US$50 Miliar

    Secara keseluruhan, Strategy telah menginvestasikan sekitar US$56,04 miliar untuk membangun cadangan Bitcoin perusahaan.

    Harga rata-rata pembelian Bitcoin oleh perusahaan tersebut tercatat sekitar US$75.862 per koin. Dengan harga Bitcoin saat ini di kisaran US$68.000, nilai pasar dari kepemilikan tersebut diperkirakan mendekati US$50 miliar.

    Jumlah tersebut setara dengan lebih dari 3,4% dari total pasokan maksimum Bitcoin yang dibatasi sebanyak 21 juta koin.

    Hal ini semakin memperkuat posisi Strategy sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, bagi narasi adopsi, pembelian terbaru ini memperkuat posisi Strategy sebagai simbol paling ekstrem dari model perusahaan treasury Bitcoin.

    “Semakin besar akumulasi seperti ini, semakin kuat pula pesan ke pasar bahwa sebagian korporasi melihat BTC sebagai aset neraca jangka panjang, bukan sekadar instrumen trading sementara,” jelasnya.

    Baca juga: Michael Saylor Tambah 3.015 BTC, Borong di Harga Bitcoin Diskon

    Pendanaan Lewat Penjualan Saham

    Pembelian Bitcoin terbaru tersebut dibiayai melalui kombinasi penjualan saham dan penerbitan saham preferen.

    Strategy menjual sekitar 6.327.541 lembar saham biasa Class A melalui program at-the-market, yang menghasilkan dana sekitar US$899,5 juta.

    Selain itu, perusahaan juga mengumpulkan sekitar US$377,1 juta melalui penjualan 3.776.205 saham preferen perpetual STRC.

    Strategy menyatakan masih memiliki kapasitas penerbitan saham biasa senilai sekitar US$6,71 miliar serta kapasitas tambahan US$3,16 miliar dari saham preferen STRC.

    Bagian dari Strategi Akumulasi Bitcoin

    Langkah pembelian ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk terus meningkatkan cadangan Bitcoin.

    Strategy menjalankan beberapa program pembiayaan melalui saham preferen seperti STRK, STRC, STRF, dan STRD yang memberikan akses pendanaan hingga miliaran dolar.

    Seluruh program tersebut merupakan bagian dari rencana penggalangan modal “42/42” yang menargetkan pengumpulan dana hingga US$84 miliar melalui penerbitan saham dan obligasi konversi hingga 2027.

    Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pembelian Bitcoin secara berkelanjutan.

    Isyarat dari Michael Saylor

    Sebelum pengumuman resmi dirilis, Michael Saylor sempat memberi petunjuk mengenai pembelian terbaru ini melalui unggahan di media sosial.

    Dalam unggahannya, ia menuliskan bahwa “the second century begins,” yang merujuk pada pencapaian Strategy melakukan lebih dari 100 transaksi pembelian Bitcoin sejak program akumulasi dimulai pada 2020.

    Sementara itu, saham Strategy (MSTR) tercatat naik sekitar 0,5% pada perdagangan pre-market, sementara harga Bitcoin diperdagangkan mendekati US$69.000.

    Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Michael Saylor Tambah 3.015 BTC, Borong di Harga Bitcoin Diskon

    Perusahaan milik Michael Saylor, Strategy, kembali menambah cadangan Bitcoin dalam pembelian ke-101 mereka. Dalam laporan ke Securities and Exchange Commission (SEC) AS, perusahaan mengungkapkan telah membeli 3.015 BTC senilai sekitar US$204,1 juta dalam sepekan terakhir.

    Pembelian dilakukan dengan harga rata-rata US$67.700 per BTC, lebih rendah dibandingkan harga rata-rata akumulasi perusahaan yang berada di US$75.985. Dengan tambahan ini, total kepemilikan Strategy kini mencapai 720.737 BTC.

    Secara keseluruhan, Bitcoin tersebut diperoleh dengan total biaya sekitar US$54,8 miliar.

    Beli di Bawah Harga Rata-Rata

    Dikutip Cointelegraph, pembelian terbaru ini termasuk salah satu dari sedikit transaksi yang dilakukan di bawah harga rata-rata akumulasi perusahaan. Data dari SaylorTracker menunjukkan Strategy sebelumnya juga sempat membeli di bawah harga rata-rata pada Februari, ketika harga pasar turun di bawah US$76.000.

    Situasi serupa pernah terjadi pada periode 2022–2023, saat harga Bitcoin jatuh di bawah biaya akumulasi perusahaan sekitar US$30.600. Pada periode tersebut, Strategy melakukan tujuh pembelian tambahan dengan total 28.560 BTC.

    Langkah ini menunjukkan konsistensi perusahaan dalam strategi akumulasi jangka panjang, bahkan ketika harga bergerak di bawah rata-rata pembelian mereka.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, akumulasi korporat konsisten memperkuat narasi Bitcoin sebagai treasury asset, tapi bukan jaminan reversal harga.

    “Hal yang paling penting adalah keberlanjutan akses pendanaan Strategy untuk tetap jadi buyer of size saat market melemah,” analisanya.

    Saham MSTR Menguat Tipis

    Di tengah aksi beli tersebut, saham Strategy (MSTR) mencatat kenaikan moderat pekan lalu, dari sekitar US$125 menjadi hampir US$130.

    Sementara itu, harga Bitcoin relatif datar dalam periode yang sama. BTC sempat menyentuh US$69.000 sebelum kembali turun dan stabil di kisaran US$65.834 saat artikel ini ditulis.

    Kabar ini juga muncul setelah Michael Saylor mengumumkan kenaikan dividen saham preferen STRC atau “Stretch” menjadi 11,50% untuk Maret 2026, naik dari sebelumnya 11,25%. Dana yang dihimpun melalui instrumen tersebut dapat digunakan untuk keperluan korporasi, termasuk potensi pembelian Bitcoin tambahan.

    Dengan total kepemilikan melampaui 720.000 BTC, Strategy semakin memperkuat posisinya sebagai perusahaan publik dengan cadangan Bitcoin terbesar di dunia.

    Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Rontok! Tapi Michael Saylor Malah Tambah Beli BTC, Nekat?

    Pasar kripto sedang gemetar. Bitcoin jatuh tajam hampir 9% dalam sepekan, salah satu koreksi paling brutal di siklus ini. Investor panik. Analis saling lempar prediksi kiamat. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, satu figur justru tampil santai… bahkan makin percaya diri.

    Ya, Michael Saylor, pimpinan Strategy, perusahaan publik dengan cadangan Bitcoin terbesar di dunia, lagi-lagi menunjukkan bahwa badai bukan alasan untuk goyah.

    Dan langkahnya kali ini kembali memicu satu pertanyaan besar:
    “Apa yang dia tahu tentang Bitcoin, yang orang lain tidak?”

    Strategy Tetap Tenang: “Rencana Jangka Panjang Tidak Berubah”

    Meski Bitcoin babak belur dan sentimen pasar memanas, Strategy menegaskan bahwa mereka tidak berniat mengubah strategi akumulasi Bitcoin. Tidak ada pengumuman pembelian baru, tetapi Saylor kembali menegaskan bahwa visi jangka panjang perusahaan tetap kokoh.

    Yang mengejutkan, portofolio Bitcoin Strategy masih untung sekitar 16%. Mereka memegang 649.870 BTC, dibeli dengan harga rata-rata $74.430 Sementara itu, kinerja saham perusahaan berkata lain…

    MSTR Runtuh ke $170: Premium Hilang, Tekanan Meningkat

    Harga saham Strategy (MSTR) merosot mendekati $170, menghapus hampir seluruh premium yang sebelumnya melejit karena optimisme Bitcoin.

    Kini, analis mulai bertanya-tanya: Apakah Strategy masih punya bantalan finansial yang cukup? Apa yang terjadi jika Bitcoin kembali terjun bebas? Sampai kapan Saylor bisa bertahan dengan strategi “all-in Bitcoin”-nya?

    Pasar sepertinya belum menemukan jawabannya.

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Senin, 24 November 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Senin, 24 November 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Krisis Makro Semakin Mencekik

    Menurut catatan yang dikutip ZeroHedge, Bank of America memperingatkan bahwa:

    • The Fed sudah di ujung tanduk dan “perlu memangkas suku bunga.”
    • Jika The Fed menyerah pada pengetatan moneter, Bitcoin akan jadi aset pertama yang bereaksi keras.

    Pendapat itu hanya menambah kepanikan di pasar yang sudah rapuh.

    Retail Malah Bandel: 77.8% Bilang “Tidak Jual!”

    Dikutip Coindoo, di tengah drama harga, Saylor menggelar survei komunitas.
    Hasilnya mengejutkan:

    77.8% responden mengaku tidak menjual Bitcoin sama sekali selama kejatuhan terbaru.

    Artinya, mayoritas pemilik ritel masih teguh dengan strategi HODL mereka, meski BTC sempat turun mendekati $80.000. Namun tidak semua orang seoptimis itu.

    Kritik: “Bitcoin Justru Aset Paling Rapuh Saat Krisis”

    Sebagian analis menilai penurunan terbaru membuktikan bahwa:

    • Bitcoin masih sangat rentan terhadap gejolak makro.
    • Setiap koreksi membuat BTC berpindah dari tangan kuat ke tangan lemah.
    • Siklus ini bisa memicu penjualan yang lebih besar di masa depan.

    Masih jauh dari konsensus, tetapi keraguan ini membuat tekanan pasar semakin dalam.

    Panik? Semua Orang Panik… Kecuali Saylor

    Ketika investor lain sibuk mengukur kerugian, Michael Saylor tetap pada satu keyakinan:

    Bitcoin adalah masa depan, dan badai hanyalah peluang beli.

    Apakah dia benar lagi, seperti di siklus-siklus sebelumnya? Ataukah kali ini dia salah langkah?

    Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Strategy Siapkan Dana Rp1.000 Triliun untuk Borong Bitcoin?

    Perusahaan publik Strategy (sebelumnya MicroStrategy) kembali menarik perhatian pasar setelah memperluas kapasitas pendanaan hingga lebih dari 60 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.000 triliun. Langkah ini dilakukan untuk mendukung strategi akumulasi Bitcoin dalam skala besar, yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga di pasar kripto.

    Melalui pengajuan terbaru, Strategy membuka peluang penerbitan saham dan instrumen keuangan baru yang dapat digunakan secara bertahap untuk mendanai pembelian Bitcoin.

    Strategi Pendanaan Jumbo untuk Bitcoin

    Dalam dokumen terbaru, Strategy mengungkapkan rencana untuk menerbitkan hingga 21 miliar dolar AS saham biasa, 21 miliar dolar AS saham preferen STRC, dan sekitar 2,1 miliar dolar AS saham preferen STRK.

    Secara total, kapasitas penerbitan aktif perusahaan kini mencapai sekitar 64,15 miliar dolar AS. Namun, perusahaan menegaskan bahwa dana tersebut belum seluruhnya dihimpun, melainkan akan diterbitkan secara bertahap sesuai kebutuhan.

    Langkah ini menjadi peta pendanaan jangka panjang yang akan mendukung ekspansi kepemilikan Bitcoin perusahaan.

    Baca juga: Strategy Borong Bitcoin Rp25 Triliun, Total Kepemilikan 761.000 BTC

    Strategy Tetap Jadi Pemegang Bitcoin Terbesar

    Strategy saat ini merupakan perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia, dengan total sekitar 762.099 BTC. Nilai akumulasi pembelian mencapai sekitar 57,7 miliar dolar AS, dengan harga rata-rata sekitar 75.700 dolar AS per Bitcoin.

    Meski demikian, posisi tersebut saat ini masih mencatatkan kerugian belum terealisasi lebih dari 3 miliar dolar AS, seiring fluktuasi harga Bitcoin di pasar.

    STRC Jadi Instrumen Utama

    Salah satu perubahan penting dalam strategi pendanaan ini adalah meningkatnya peran saham preferen STRC. Perusahaan bahkan meningkatkan jumlah saham STRC yang diotorisasi secara signifikan.

    Instrumen ini menawarkan imbal hasil variabel sekitar 11,5% dan telah menarik minat investor institusional besar seperti BlackRock, Anchorage, dan Strive.

    Sebaliknya, peran STRK mulai dikurangi, menunjukkan adanya penyesuaian strategi dalam struktur modal perusahaan.

    Potensi Dampak ke Harga Bitcoin

    Langkah agresif Strategy dalam mengumpulkan dana untuk membeli Bitcoin dinilai dapat memberikan tekanan beli tambahan di pasar, terutama jika realisasi pembelian dilakukan secara bertahap dalam jumlah besar.

    Namun, strategi ini juga membawa risiko, termasuk potensi dilusi saham dan ketergantungan pada pendanaan berbasis pasar.

    Tim Research Tokocrypto menilai bahwa strategi Strategy menunjukkan tingkat keyakinan yang tinggi terhadap prospek jangka panjang Bitcoin, terutama sebagai aset treasury perusahaan.

    Menurut mereka, jika sebagian besar dana tersebut benar-benar digunakan untuk membeli Bitcoin, hal ini dapat menjadi katalis positif yang mendorong harga, terutama dalam kondisi suplai yang semakin terbatas.

    Namun, Tim Research Tokocrypto juga mengingatkan bahwa pendekatan ini memiliki risiko struktural. Ketergantungan pada pendanaan berbasis pasar dapat meningkatkan tekanan jika kondisi likuiditas global memburuk atau jika harga Bitcoin bergerak tidak sesuai ekspektasi.

    Selain itu, mereka menyoroti bahwa pergerakan harga Bitcoin tidak hanya ditentukan oleh satu entitas, melainkan oleh kombinasi faktor seperti arus dana institusional, kebijakan moneter, dan sentimen global.

    Pasar Menanti Realisasi Strategi

    Dengan kapasitas pendanaan yang besar, langkah Strategy akan terus menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan.

    Jika strategi ini berjalan sesuai rencana, dampaknya dapat memperkuat posisi Bitcoin di kalangan institusi. Namun, pasar tetap akan mencermati bagaimana perusahaan mengeksekusi rencana tersebut di tengah dinamika pasar yang masih fluktuatif.

    Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perusahaan Rintisan Wajib Kembangkan Bisnis Terintergrasi dan Berkelanjutan


    Jakarta

    Startup atau perusahaan rintisan harus memiliki strategi untuk pengembangan bisnis yang terintegrasi dan berkelanjutan.

    VP of Strategy & Sustainability MDI Ventures Alvin Evander mengungkapkan startup juga harus memiliki visi kuat untuk menciptakan dampak nyata dan memberi solusi terhadap aspek sosial maupun lingkungan.

    Dia menyebutkan dengan kolaborasi lintas sektor, startup juga diharapkan bisa terus berkontribusi yang relevan. “Bisa menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat, pemangku kepentingan dan pihak terkait,” ujar dia dalam siaran pers, ditulis Minggu (9/2/2025).


    MDI Ventures baru-baru ini mengumumkan peluncuran delapan impact report yang menyoroti kontribusi startup portfolionya terhadap sektor-sektor esensial, seperti pendidikan, kesehatan, aquaculture, dan fintech. Laporan ini memaparkan bagaimana para startup tersebut menciptakan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.

    Startup portofolio yang terlibat dalam laporan ini meliputi Aruna, Paxel, Julo, SwipeRX, Qoala, Delos, Cermati, dan Amartha. Salah satu aspek yang disorot dalam laporan ini adalah komitmen perusahaan portfolio MDI Ventures terhadap inklusi gender dan pemberdayaan perempuan, seperti di Qoala dan Amartha.

    Hingga tahun 2023, 42% dari total agen Qoala adalah perempuan, meningkat dari 38% pada tahun sebelumnya. Melalui kebijakan kerja yang inklusif dan program pelatihan, Qoala membuka peluang kerja bagi perempuan, termasuk mereka yang tidak memiliki gelar formal. Inisiatif ini berperan dalam mendukung kesetaraan gender dan meningkatkan partisipasi ekonomi perempuan.

    Demikian juga dengan Amartha, yang terkenal sebagai perusahaan pionir fintech yang berfokus pada pembiayaan perempuan di perdesaan. Hingga saat ini, Amartha sudah berhasil menyalurkan pinjaman kepada lebih dari 2,6 juta nasabah perempuan di Indonesia.

    Co-Founder dan Chief Sustainability Officer Aruna Utari Octavianty menjelaskan, peluncuran impact report ini mencerminkan komitmen kami dalam memberdayakan komunitas pesisir melalui inovasi dan teknologi. Pada tahun 2023, kami terhubung dengan lebih dari 55.000 nelayan di 150 lokasi, meningkatkan produksi, ekspor, dan pendapatan mereka hingga tiga kali lipat.

    “Laporan ini adalah bukti nyata kontribusi kami dalam menciptakan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan,” ujar dia.

    VP of Strategy & Sustainability MDI Ventures, Alvin Evander mengatakan, “Peluncuran delapan impact report ini menegaskan komitmen kami untuk berinvestasi di startup yang tidak hanya berfokus pada nilai ekonomi, tetapi juga yang memiliki visi kuat untuk menciptakan dampak nyata dan memberikan solusi terhadap aspek sosial maupun lingkungan,” ungkapnya.

    Laporan ini juga menggarisbawahi pentingnya pengembangan strategi yang terintegrasi dan berkelanjutan bagi para startup. Melalui kolaborasi lintas sektor, para startup diharapkan dapat terus memberikan kontribusi yang relevan dan menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat, pemangku kepentingan, dan pihak terkait.

    Peluncuran laporan ini juga sejalan dengan komitmen GoZero%, sebuah inisiatif baru yang hadir sebagai pembaharuan dari program ESG Telkom Indonesia sebelumnya. Melalui GoZero%, Telkom optimis dapat mendorong semangat baru untuk mewujudkan masa depan berbasis ESG dan bisnis berkelanjutan.

    “Kami berharap seluruh impact report ini dapat meningkatkan kesadaran publik dan pemangku kepentingan terhadap peran strategis startup dalam mendorong perubahan sosial, pemberdayaan komunitas, inovasi teknologi dan keberlanjutan lingkungan. Komitmen kami terhadap transparansi dan dampak nyata dari investasi akan terus menjadi prioritas kedepannya,” ujar Alvin.

    Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan pengalaman lebih dari 15 tahun, Amartha terus berkomitmen untuk memberdayakan perempuan dan masyarakat akar rumput melalui akses pendanaan yang terjangkau dan berkelanjutan, melalui pemanfaatan teknologi digital berbasis AI yang juga disertai pendampingan oleh SDM terlatih.

    Selain itu, laporan ini juga mencatat inisiatif Corporate Social Responsibility (CSR) dari JULO, yang pada tahun 2023 mengalokasikan investasi sebesar Rp113,9 juta, meningkat 403% dibandingkan tahun sebelumnya. Program CSR JULO berfokus pada aktivitas untuk memenuhi kebutuhan komunitas, memperkuat hubungan, dan menciptakan dampak positif yang nyata bagi masyarakat.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Sempat Tembus US$ 97.000, Ini Pemicunya


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) menguat dan sempat menembus level US$ 97.000 atau sekitar Rp 1,63 miliar (kurs Rp 16.800) pada Kamis (15/1). Apa pemicunya?

    Meskipun pada akhirnya BTC terkoreksi tipis ke level US$ 95.000-96.000 setelah rilis data inflasi Amerika Serikat Desember 2025 yang cenderung sesuai dengan ekspektasi pasar.

    Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), inflasi AS tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan, sementara inflasi inti (core inflanon rate) tetap terkendali di level 0,2% m/m dan 2,6% yy. Kenaikan inflasi tersebut terutama didorong oleh sektor perumahan (shelter) yang naik 0,4% m/m.


    Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai stabilnya inflasi tersebut memberi ruang bagi pasar kripto untuk bergerak lebih leluasa setelah periode konsolidasi yang cukup panjang.

    “Angka inflasi Desember 2025 masih sejalan dengan ekspektasi, sehingga pasar relatif lebih tenang alam kondisi seperti ini, investor global biasanya mulai kembali melirik aset berisiko, termasuk kripto, karena ketidakpastian kebijakan moneter menurun dan likuiditas global berpotensi tetap terjaga,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Jumat (16/1/2026).

    Antony menjelaskan, selain faktor makro, penguatan Bitcoin juga terjadi di tengah aksi pembelian oleh institusi besar. Strategy Inc. mengumumkan penambahan kepemilikan Bitcoin senilai lebih dari US$ 1 miliar di awal 2026, yang menjadi pembelian terbesarnya sejak pertengahan 2025.

    Langkah tersebut memperkuat posisinya sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar dan turut memberi dorongan sentimen pasar, meskipun permintaan ritel global masih cenderung terbatas.

    Menurut Antony, konsistensi akumulasi oleh institusi besar memperkuat pandangan bahwa Bitcoin semakin dipandang sebagai aset dengan fundamental yang kuat.

    “Institusi tidak masuk karena momentum sesaat Akumulasi yang dilakukan secara berkelanjutan mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap Bitcoin, terlepas dari volatilitas jangka pendek yang masih terjadi,” ujarnya.

    (hrp/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Siasat BPOM Kembangkan Fitofarmaka, Tekan Impor Bahan Baku Obat


    Jakarta

    Obat bahan alam atau fitofarmaka masih menemui banyak tantangan dalam pengembangannya. Baik dari sisi bahan baku hingga pengolahannya.

    Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Dian Putri Anggraweni, mengungkapkan perlunya inovasi dalam pengembangan obat bahan alam yang ternyata banyak tersedia di Indonesia.

    “Perlunya pengembangan obat bahan alam Indonesia dengan tepat, agar bisa menjadi produk berkelas secara global,” tutur Putri dalam keterangan tertulis, Kamis (16/10/2025).


    “Hal ini yang sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperkuat ekosistem riset bahan obat alam dan fitofarmaka nasional,” tambahnya.

    Hal ini juga disinggung oleh Sekretariat untuk International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines Organisasi Kesehatan Dunia (WHO-IRCH), Pradeep Dua. Pihaknya juga telah merilis WHO Global Traditional Medicine Strategy 2025-2034.

    “Salah satu dari 4 tujuan utama dalam strategi ini berfokus pada regulasi. Regulasi ini tidak hanya membahas mengenai produk, melainkan juga mengatur masalah praktik dan praktisi pengobatan tradisional, komplementer, dan intergratif,” terangnya.

    Dalam mendukung bahan alami dari Indonesia sebagai obat, farmakolog Prof Raymond Tjandrawinata menggunakan tumbuhan dan hewan dari dalam negeri. Meski begitu, tetap dibutuhkan tahap uji klinis agar mendapatkan bukti ilmiah bahwa produk fitofarmaka yang dihasilkan aman dan berkhasiat.

    “Ketika kami masuk ke tahap uji klinis, kita perlu memiliki bukti ilmiah. Dengan pendekatan tersebut, akan lebih mudah memperoleh data yang baik pada fase klinis, dan berdasarkan pengalaman tersebut, jika desain baik mulai dari bahan baku aktif hingga produk jadi, maka produk herbal berbasis keanekaragaman hayati tidak kalah kualitasnya dibandingkan produk kimia,” tegasnya.

    Sebelumnya, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengungkapkan tengah mengintensifkan perkembangan fitofarmaka Indonesia. Hal ini dilakukan demi menekan penggunaan bahan baku impor untuk obat-obatan di Indonesia.

    Taruna menyebut Indonesia memiliki potensi 30 ribu jenis tumbuhan baru, yang 18 ribu di antaranya digunakan sebagai jamu. Sementara 71 jenis yang berkembang menjadi obat herbal terstandar dan 20 yang menjadi fitofarmaka.

    “Kita punya ribuan kampus, at least BPOM sekarang sudah kerja sama 179 kampus-kampus besar dan industri. Jika digabungkan, keduanya ini maka nanti hasil ribuan jamu-jamuan itu bisa berkemban menjadi obat herbal terstandar,” jelas Taruna ketika ditemui awak media di Jakarta Selatan, Selasa (14/10/2025).

    “Dan dari herbal terstandar ini, nanti bisa berpotensi menjadi obat,” punkasnya.

    (sao/naf)



    Sumber : health.detik.com