Tag: suami

  • 8 Potret Gaya Hijab Mahalini, Yura hingga Aaliyah Massaid Umrah Bareng Suami

    Dalam foto ini, Aaliyah, Yura Yunita dan Mahalini mengenakan busana dan hijab serba hitam. Sedangkan Sheila memakai hijab pashmina serba earth tone. Tampil berhijab, Aaliyah, Yura Yunita, Sheila, dan Mahalini terliht nyaman saat berhijab dan membuat penampilan mereka semakin memesona. Foto: Dok. Instagram @aaliyah.massaid & @yurayunita.



    Sumber : wolipop.detik.com

  • Punya Tabungan Rahasia dari Pasangan? Awas Selingkuh Finansial!


    Jakarta

    Menjadi pasangan suami-istri ternyata perlu selalu punya transparansi, salah satunya soal finansial. Bisa jadi, baik suami atau istri timbul rasa curiga atau bahkan marah kalau tahu pasangannya punya tabungan tanpa sepengetahuannya. Istilah ini bisa disebut sebagai perselingkuhan finansial.

    Survei dari Bankrate menunjukkan, sebesar 40% pasangan menikah di Amerika Serikat (AS) telah melakukan selingkuh secara finansial terhadap pasangan mereka. Menghabiskan terlalu banyak uang menjadi salah satu alasan perselingkuhan finansial ini.

    Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini, tidak menyarankan pasangan suami-istri memiliki tabungan rahasia satu sama lainnya. Alasan di balik dari timbulnya keinginan merahasiakan tabungan, bisa jadi kata Mike karena sifat pasangan yang agak ‘berbahaya’.


    “Mungkin ada sifat dari pasangan yang menurut suami atau istri itu agak berbahaya, mungkin boros. Tapi merahasiakan itu ada tantangannya juga, ada negatifnya juga. Nah, kalau ada tabungan yang dirahasiakan sementara ada kebutuhan rumah tangga, itu jadi tidak bisa diakses. Apalagi kalau terjadi meninggal dunia,” ujar Mike kepada detikcom, Sabtu (9/8/2025).

    Untuk menghindari merahasiakan tabungan karena alasan pasangan yang boros, Mike menyarankan tabungan investasi harus dilakukan atas nama suami-istri. Hal ini supaya arus keluar-masuknya uang bisa diketahui, dan dilakukan atas persetujuan satu sama lain.

    “Sehingga suami atau istri yang boros atau punya sifat yang suka ambil (uang) sendiri, itu tidak bisa akses tanpa tanda tangan istrinya atau suaminya. Itu baru menomorsatukan keamanan dari pasangan sendiri,” terang Mike.

    (fdl/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Suami yang Bayar, Tapi Rumah Atas Nama Istri: Siapa Pemilik Sahnya?


    Jakarta

    Seringkali terjadi fenomena suami mencicil rumah atas nama istri, atau juga sebaliknya, istri mencicil rumah atas nama suami. Namun, sebenarnya siapa yang justru memiliki rumah ini pada akhirnya?

    Menurut Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini, rumah tersebut menjadi pemilik dari nama yang tertera di dalam sertifikat rumah. Hal ini terlepas dari entah itu si suami, atau si istri yang melunasi cicilannya.

    “Kalau rumah tersebut atas nama istri, suami yang mencicil. Berarti rumah tersebut sah atas nama istrinya. Jadi, atas nama siapa yang tercatat di sertifikat rumahnya. Namun begini, jika salah satu pasangan walaupun namanya tidak tercatat, bukan pemilik sahnya, tapi dia membayar cicilannya: secara moral dan finansial kontribusinya yang harus dihargai,” ujar Mike saat dihubungi detikcom, Sabtu (9/8/2025).


    Menghargai kontribusi pasangan dalam memberikan tempat tinggal, meskipun bukan nama dia yang tercantum di sertifikat, perlu dilakukan untuk menghindari konflik rumah tangga. Mike menyarankan untuk mendokumentasikan kesepakatan antara suami-istri terkait kepemilikan rumah tersebut.

    “Disarankan untuk mendokumentasikan kesepakatan mereka terkait kepemilikan atas rumah tersebut. Baik melalui perubahan sertifikat atau perjanjian tertulis. Jadi, sertifikatnya diubah jadi atas nama bersama, bukan atas nama satu orang. Itu bisa dilaksanakan. Ini prosesnya pasti keluar duit lagi,” beber Mike.

    Mike bilang, hal itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi konflik yang mungkin terjadi dengan memperhitungkan kontribusi moral dan finansial. Namun, ada opsi lain selain dari pengubahan nama pada sertifikat.

    “Boleh bikin perjanjian tertulis, nanti dicatat di notaris. Bahwa walaupun rumah ini atas nama istri, tapi suami yang bayar, atau sebaliknya, rumah ini atas nama suami, tapi istrinya yang bayar. Itu dibikin perjanjian tertulis. Konsultasi ke notaris, mungkin bayar Rp 2,5 juta. Tapi bisa jadi lebih murah daripada sertifikat atas nama bersama,” terangnya.

    Dalam perjanjian tertulis yang didampingi notaris, Mike bilang, bisa disampaikan bahwa antara suami atau istri yang menjadi pembayar rumah berkontribusi secara finansial meskipun tidak tercantum dalam sertifikat. Nantinya, surat perjanjian ini yang menjadi bukti kuat bahwa rumah tersebut adalah aset bersama, bukan punya salah satu orang saja.

    “Di perjanjian tertulis di hadapan notaris ini, menyatakan bahwa kontribusinya itu dikenali, dihargai secara moral dan finansial, diakui sebagai harta bersama setelah pernikahan. Sehingga nanti ke depanya, akan diperhitungkan jika terjadi terkait dengan meninggal dunia, terkait dengan misalnya perceraian,” tutupnya.

    (fdl/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Gaji Istri Lebih Besar, tapi Suami Tetap Bayar Semua: Adil Nggak?


    Jakarta

    Masalah finansial seringkali jadi pemantik konflik dalam sebuah rumah tangga. Untuk itu, perlu adanya pembicaraan yang matang dan kesepakatan yang bulat dalam menentukan arah keuangan di keluarga.

    Soal ini, bagi pasangan suami dan istri yang bekerja, acap kali ada pandangan bahwa seluruh beban keuangan rumah tangga harus diselesaikan oleh sang suami saja. Padahal, istri bisa juga memiliki penghasilan yang bahkan lebih besar dari suami.

    “Sebaiknya, sebelum memutuskan untuk menikah memang sudah khatam membahas soal keuangan; yaitu apakah istri boleh bekerja, bagaimana cara mengatur pengeluaran dan simpanan untuk kebutuhan masa depan, termasuk siapa yang akan menjadi ‘menteri keuangan’ di dalam rumah tangga,” ujar Yuni A, Certified Financial Planner (CFP), kepada detikcom, Sabtu (9/8/2025).


    Perihal suami yang harus menanggung seluruh beban keuangan rumah tangga atau tidak, Yuni bilang, semua kembali pada kesepakatan tiap pasangan. Namun, jika gaji istri lebih besar dari suami, menjadi hal yang wajar jika istri ambil bagian dalam pemenuhan kebutuhan finansial keluarga.

    “Jika gaji istri lebih besar, biasanya istri ikut andil dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Suami bersifat menjadi pelengkap. Yang penting adalah kesepakatan dan bagaimana komunikasi antara suami-istri dalam mengatur keuangan rumah tangga,” Yuni menjelaskan.

    Di sisi lain, meskipun istri memiliki gaji yang lebih besar dari suami, tidak jadi persoalan juga kalau suami yang mengambil seluruh porsi bayar-bayar tagihan rumah tangganya. Sedangkan, gaji istri bisa jadi ‘bantalan keuangan’, yang bisa saja digunakan sewaktu butuh.

    “Biasanya dalam hal ini, uang istri bisa dijadikan back-up apabila terjadi sesuatu yang darurat. Contohnya atap rumah bocor harus panggil tukang, biaya bengkel kendaraan, sampai budget untuk liburan bersama keluarga yang mungkin tidak bisa dipenuhi karena gaji suami sudah habis untuk membayar semua kebutuhan. Intinya: komunikasi dan kesepakatan bersama,” tandas Yuni.

    Sementara itu, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini, bilang ada juga kemungkinan jika suami-istri membagi porsi dalam memenuhi kebutuhan finansial mereka. Adil dalam konteks ini, kata Mike, bukan berarti membagi porsi tanggung jawab keuangan dengan nominal yang sama.

    “Jadi sesuai. Misal gaji istri lebih besar, pembagiannya bisa jadi istri yang bayar lebih besar. Itu sesuai dengan kesepakatan. Misal gajinya sama-sama besarnya, kita lihat kondisi dari situasi pekerjaan masing-masing,” ujar Mike.

    Bisa jadi, sang suami justru membutuhkan ongkos perjalanan menuju kantor yang lebih besar, atau merupakan seorang generasi sandwich yang harus mengurus biaya hidup orangtua dan saudaranya. Ini yang juga perlu menjadi pertimbangan agar bisa membagi porsi tanggung jawab finansial yang adil dengan istri.

    “Jadi, adil itu harus didahului transparansi mengenai kondisi, situasi masing-masing yang harus dianalisa oleh kedua belah pihak. Sehingga, nanti dapat menentukan jumlah kontribusi yang proporsional sesuai dengan kebutuhan. Nah, baru di situ terjadi kesepakatan,” tutup Mike.

    (fdl/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Gaya Hijab Syahnaz Sadiqah di HUT RI ke-80, Elegan Saat Jadi Ibu Bupati

    HUT RI KE-80

    Gresnia Arela Febriani – wolipop

    Senin, 18 Agu 2025 09:00 WIB





    Anda menyukai artikel ini

    Gaya hijab Syahnaz Sadiqah.
    Foto: Dok. Instagram @syahnazs.

    Bandung Barat
    Syahnaz Sadiqah tampil memesona saat mendampingi sang suami, Ritchie Ismail, yang menjabat sebagai Bupati Bandung Barat periode 2025-2030, dalam upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu, 17 Agustus 2025.

    Dalam momen istimewa tersebut, Syahnaz yang juga menjabat sebagai penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Bandung Barat tampil anggun dengan balutan busana bernuansa merah marun. Ia memadukan kebaya velvet bordir floral dengan kain batik bermotif khas nusantara serta hijab senada, menciptakan penampilan yang elegan namun tetap sopan.

    Pesona adik Raffi Ahmad ini langsung mencuri atensi warganet. Seperti apa penampilannya?

    Padu padan hijab dan kebaya ala Syahnaz Sadiqah

    Halaman 2 dari 8

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”2″ dtr-id=”8066257″ dtr-ttl=”Gaya Hijab Syahnaz Sadiqah di HUT RI ke-80, Elegan Saat Jadi Ibu Bupati”>

    Padu padan hijab dan kebaya ala Syahnaz Sadiqah

    Gaya hijab Syahnaz Sadiqah.

    Foto: Dok. Instagram @syahnazs.

    Syahnaz memilih hijab bergaya minimalis yang menyatu dengan busana kebaya modernnya. Penataan yang tidak terlalu ketat memberi kesan lembut namun tetap rapi, menunjang tampilan sebagai istri kepala daerah dengan sentuhan budaya lokal.

    Gaya hijab sederhana ala Syahnaz

    Halaman 3 dari 8

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”3″ dtr-id=”8066257″ dtr-ttl=”Gaya Hijab Syahnaz Sadiqah di HUT RI ke-80, Elegan Saat Jadi Ibu Bupati”>

    Gaya hijab sederhana ala Syahnaz

    Gaya hijab Syahnaz Sadiqah.

    Foto: Dok. Instagram @syahnazs.

    Wanita kelahiran 30 Oktober 1993 ini tetap mempertahankan gaya hijab sederhana berbahan satin yang halus dan jatuh. Padupadan warna antara hijab, kebaya velvet dengan detail kancing memanjang, serta bawahan batik membuat penampilan Syahnaz tampak anggun namun tetap membumi dalam acara seremonial. Syahnaz terlihat sedang memberikan penghargaan.

    Kebaya klasik dan kain nuansa etnik

    Halaman 4 dari 8

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”4″ dtr-id=”8066257″ dtr-ttl=”Gaya Hijab Syahnaz Sadiqah di HUT RI ke-80, Elegan Saat Jadi Ibu Bupati”>

    Kebaya klasik dan kain nuansa etnik

    Gaya hijab Syahnaz Sadiqah.

    Foto: Dok. Instagram @syahnazs.

    Gaya hijab clean look Syahnaz ditata oleh hijab stylist @noviiiylnt, dengan kebaya klasik berbahan velvet berwarna marun dengan bordiran bunga warna putih, merah, dan biru. Syal berwarna ungu gelap disampirkan di salah satu bahu, mempertegas aksen formal sekaligus feminin. Bawahan kain batik putih bermotif burung dan bunga memberi nuansa etnik yang kuat namun tetap modern.

    Penampilan Syahnaz yang elegan

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”5″ dtr-id=”8066257″ dtr-ttl=”Gaya Hijab Syahnaz Sadiqah di HUT RI ke-80, Elegan Saat Jadi Ibu Bupati”>

    Syahnaz Sadiqah memberi hormat saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Ia berdiri di barisan utama tribun kehormatan, menunjukkan wibawa sebagai penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Bandung Barat.



    Sumber : wolipop.detik.com

  • 8 Foto Salma Salsabil Umumkan Sudah Melahirkan, Tampil dengan Hijab Pashmina

    Gresnia Arela Febriani – wolipop

    Senin, 08 Sep 2025 18:30 WIB





    Anda menyukai artikel ini

    Foto pernikahan Salma Salsabil
    Foto: Instagram/@inframe_photo @salmasalsabil12.

    Jakarta

    Setelah lima bulan vakum dari dunia hiburan, penyanyi Salma Salsabil akhirnya kembali menyapa penggemar di panggung Pestapora 2025. Penampilannya bukan hanya menjadi penanda comeback-nya, tetapi juga menjadi momen emosional di mana ia mengumumkan kelahiran anak pertamanya bersama suami, Dimansyah Laitupa. Anaknya bernama Obaid Bahir Raden Laitupa.

    “Ada cinta dan luka yang menjadi sepakat untuk membuat kecewa, tapi ada satu cinta baru saya, dan kalian semua dapat salam dari Obaid Bahir Raden Laitupa,” ucap Salma. Pernyataan itu sontak mengundang riuh tepuk tangan dan sorakan penonton. Salma mengungkapkan bahwa ia telah melahirkan beberapa waktu lalu dan memilih Pestapora sebagai panggung spesial untuk berbagi kabar bahagia tersebut secara langsung kepada publik.

    Salma Salsabil dan Dimansyah Laitupa menikah pada 23 Januari 2025 di Surabaya, kampung halaman jebolan Indonesian Idol itu. Resepsi pernikahan mereka yang digelar pada 26 Januari 2025 dihadiri banyak rekan musisi dan sahabat dekat.


    Setelah menikah, Salma memutuskan untuk hiatus sementara waktu, termasuk membatalkan konser yang seharusnya digelar pada Juli 2025. Dia mempersiapkan diri menyambut kehadiran buah hati pertamanya dengan Dimansyah.

    Seperti apa gaya Salma Salsabil yang umumkan sudah melahirkan anak pertamanya?

    Street Style Berani dengan Hijab Pashmina Hitam dan Outer Grunge

    Halaman 2 dari 9

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”2″ dtr-id=”8101696″ dtr-ttl=”8 Foto Salma Salsabil Umumkan Sudah Melahirkan, Tampil dengan Hijab Pashmina”>

    Street Style Berani dengan Hijab Pashmina Hitam dan Outer Grunge

    Gaya Salma Salsabil ‘Aliyyah.

    Foto: Dok. Instagram @salmasalsabil12.

    Salma mengejutkan penggemar dengan gaya edgy serba hitam-merah, mengenakan inner tie dye dan outer gelap dengan pashmina hitam. Gaya ini ia kenakan saat comeback ke panggung musik.

    Panggung Penuh Energi dengan Pashmina Hitam dan Gaya Rock Chic

    Halaman 3 dari 9

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”3″ dtr-id=”8101696″ dtr-ttl=”8 Foto Salma Salsabil Umumkan Sudah Melahirkan, Tampil dengan Hijab Pashmina”>

    Panggung Penuh Energi dengan Pashmina Hitam dan Gaya Rock Chic

    Gaya Salma Salsabil ‘Aliyyah.

    Foto: Dok. Instagram @salmasalsabil12.

    Tampil percaya diri di atas panggung, Salma membawa nuansa outfit rock dengan pashmina hitam dan jeans yang penuh karakter.

    Eksplorasi Gaya Urban dengan Hijab dan Aksesori

    Halaman 4 dari 9

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”4″ dtr-id=”8101696″ dtr-ttl=”8 Foto Salma Salsabil Umumkan Sudah Melahirkan, Tampil dengan Hijab Pashmina”>

    Eksplorasi Gaya Urban dengan Hijab dan Aksesori

    Gaya Salma Salsabil ‘Aliyyah.

    Foto: Dok. Instagram @salmasalsabil12.

    Dengan latar cahaya merah menyala, Salma menunjukkan sisi powerful-nya di atas panggung, menandai momen penting comeback sekaligus pengumuman sebagai seorang ibu.

    Hijab Segiempat dan Rompi Merah Marun

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”5″ dtr-id=”8101696″ dtr-ttl=”8 Foto Salma Salsabil Umumkan Sudah Melahirkan, Tampil dengan Hijab Pashmina”>

    Gaya klasik bertemu modern Salma memadukan rompi warna marun beraksen rantai dengan hijab segiempat yang dibentuk clean look dan feminin.



    Sumber : wolipop.detik.com

  • Pantai Lembeng, Tempat Bersemayam Abu Papa Dali



    Jakarta

    Dali Wassink atau dikenal dengan Papa Dali, suami dari artis Jennifer Coppen, meninggal pada Jumat (19/7/2024) dan abunya disemayamkan di Pantai Lembeng, Gianyar. Pantai yang menjadi pelabuhan terakhir Papa Dali ini dikenal sebagai salah satu spot surfing di Bali.

    Pada hari Minggu (21/7) Jennifer Coppen dan keluarga melepas kepergian Papa Dali dengan prosesi larung abu di Pantai Lembeng, Gianyar. Prosesi ini juga dihadiri oleh ratusan fans dan warga sekitar.

    Pantai Lembeng berada di Jl Prof. Dr. Ida Bagus Mantra No.52, Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Pantai berpasir hitam itu jaraknya sekitar 25 km dari Bandara I Gusti Ngurah Rai.


    Jennifer Coppen bersama keluarga hingga fans melaksanakan prosesi melarung abu Yitta Dali Wassink di Pantai Lembeng, Desa Lembeng, Gianyar, Bali, Minggu (21/7/2024). (Ni Made Lastri Karsiani Putri/detikBali)Jennifer Coppen bersama keluarga hingga fans melaksanakan prosesi melarung abu Yitta Dali Wassink di Pantai Lembeng, Desa Lembeng, Gianyar, Bali, Minggu (21/7/2024). (Ni Made Lastri Karsiani Putri/detikBali)

    Tidak seperti pantai Bali yang terkenal dengan pasir putihnya, Pantai Lembeng justru berpasir hitam legam. Walau begitu, lkeindahannya tak perlu diragukan.

    Traveler yang suka berselancar, bisa nih mencoba ombak Pantai Lembeng. Memang, salah satu daya tariknya ini adalah ombaknya. Serta pantai ini belum terlalu ramai wisatawan, jadi masih terasa asrinya.

    Tempat terapi pasir warga lokal

    Dikutip dari detikBali, setiap akhir pekan ramai warga sekitar yang melakukan terapi pasir di depan Pura Hyang Sangkur, Pantai Lembeng, Desa Adat Ketewel, Gianyar. Warga kerap duduk meluruskan kaki dan menimbunnya dengan pasir pantai.

    Konon, warga percaya terapi tradisional ini mampu menyembuhkan penyakit tertentu, salah satunya diabetes.

    “Ini terapi tradisional untuk orang-orang yang menderita penyakit tertentu, contohnya saya,” kata Wayan Warna, warga Ketewel saat ditemui di depan Pura Hyang Sangkur pada tahun 2022 lalu.

    Warga di sekitar Pantai Lembeng, Desa Adat Ketewel, Gianyar melakukan terapi tradisional dengan menimbun kakinya dengan pasir pantai, Minggu (29/5/2022).Warga di sekitar Pantai Lembeng, Desa Adat Ketewel, Gianyar melakukan terapi tradisional dengan menimbun kakinya dengan pasir pantai, Minggu (29/5/2022). Foto: Miechell Octovy Koagouw

    Ia mengaku sudah menderita diabetes selama lima tahun, dan kerap merasa tidak enak pada kedua kakinya saat berjalan, sehingga sebulan belakangan ini melakukan terapi pasir pantai.

    Wayan menambahkan warga setempat meyakini bahwa kaki yang dikubur dengan pasir pantai yang hangat dapat menjadi terapi yang meredakan penyakit di tubuh mereka.

    Sebelumnya, ia merasa ada keanehan dengan kedua kakinya saat berjalan, yang diistilahkannya dengan ‘terasa gelisah’. “Lalu setelah rajin tutupi kaki dengan pasir begini, saya merasa agak mendingan,” kata dia.

    (sym/fem)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Mengenang Pempek Unyil, Tempat Nongkrong Anak Muda Palembang Tahun 90-an



    Palembang

    Di era tahun 1990-an, anak muda di Kota Palembang pasti tidak asing dengan namanya Pempek Unyil. Inilah tempat nongkrong hits pada masa itu.

    Berlokasi di Jalan Kepandean, daerah 18 Ilir Kecamatan Ilir Timur I Palembang, Pempek Unyil pernah tersohor menjadi tempat tongkrongan remaja era 80-90an.

    Pada era tahun 80-an dan 90-an, Pempek Unyil merupakan salah satu tempat favorit bujang gadis Palembang untuk nongkrong dan berpacaran, karena tempat ini menyediakan makanan dan minuman khas Palembang.


    Menurut Lusi (50), jika mendengar nama Pempek Unyil dirinya langsung ingat masa-masa remaja yang hampir setiap Minggu ke tempat makan Pempek Unyil bersama suaminya dulu.

    “Seingat saya saat itu tahun 1985an, saya dan suami setiap Minggu ke Pempek Unyil untuk menghabiskan waktu mengobrol dan menikmati makanan beragam jenis Pempek, saat itu saya dan suami masih pendekatan, tempat itu memang terkenal semua remaja Palembang tahun 80-90an itu pasti pernah ke Pempek Unyil,” katanya.

    Lusi menjelaskan harga Pempek Unyil dulu per satu biji Rp 500 dan harga es campur Rp 800. Era itu, Pempek Unyil merupakan tempat tongkrongan pempek yang lumayan mewah.

    “Namun sayang hampir masuk tahun 2000-an Pempek Unyil yang berada di Jalan Kepandean, daerah 18 Ilir berangsur sepi dan akhirnya tutup karena sudah banyak saingan,” ujarnya.

    Sementara itu, Budayawan Palembang Mang Amin mengatakan pada era 80-90an di kawasan Jalan Kepandean selain Pempek Unyil memang ada beberapa tempat kedai pempek yang sangat digemari.

    “Di lingkungan itu memang terkenal dengan pempeknya. Dan pada masa itu Bujang Gadis Palembang berlomba-lomba mengajak pasangan ke lokasi itu karena memang hits untuk tempat muda-mudi, di sana Selain Pempek Unyil, ada juga yang namanya pempek remaja dan pempek taman sari, namun memang Pempek Unyil yang paling terkenal,” katanya.

    Saat ini, di lokasi Pempek Unyil dan beberapa kedai pempek lainnya di Jalan Kepandean, daerah 18 Ilir Kecamatan Ilir Timur I Palembang yang sempat terkenal tahun 80-90an tinggal kenangan.

    Tidak terlihat lagi bekas ruko jualan Pempek Unyil tersebut kini yang terlihat hanyalah ruko yang berjualan pakaian dan sepatu.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Bunker yang Baru Ditemukan di Solo, Tempat Sembunyi-Menyimpan Harta



    Jakarta

    Solo memiliki bunker yang cukup unik untuk diketahui. Keberadaannya adalah untuk bersembunyi di masa penjajahan juga menyimpan harta.

    Masih ingat pada bunker yang ditemukan di salah satu rumah warga kampung batik Laweyan Solo? Rumah dengan ruangan bawah tanah itu sempat tak terawat setelah pewarisnya, Harun Mulyadi, meninggal. Rumah itu lalu dirawat oleh warga sekitar, kini dikenal sebagai objek wisata Bunker Setono.

    Sesuai namanya, rumah kuno itu berada di wilayah RT 2 RW 2, Kampung Setono, Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo. Tepatnya di depan Villa Tria. Rumah itu dipagari tembok bata setinggi dua meter dengan regol kayu bercat hijau.


    Saat detikJateng memasuki regol itu, Jumat (13/9) pekan lalu, ada dua rumah limasan yang menghadap ke selatan. Bunker Setono terdapat di salah satu rumah itu. Rumah berbunker itu tampak sepi. Adapun rumah di sebelahnya tampak riuh oleh aktivitas para pembatik.

    Bunker Setono di Kampung Batik Laweyan, Kota Solo (Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng)

    Milik Pasutri Juragan Batik

    Menurut pengelola bunker Setono, Sutanto, dua rumah itu dulunya milik pasangan suami istri pengusaha batik Laweyan. Setelah mereka meninggal, rumah itu dihuni oleh pembantunya dari Wonogiri.

    “Rumah ini di PBB (pajak bumi dan bangunan) atas namanya Wiryo Supadmo. Beliau tidak punya anak, hanya ada keponakan-keponakan yang salah satunya masih bisa kami hubungi (yang tinggal) di Kauman,” kata Sutanto yang juga Ketua RT 2 RW 2 di Kelurahan Laweyan itu, Jumat (13/9/2024).

    “Setelah Pak Wiryo meninggal, Bu Wiryo membawa seorang pembantu dari kampungnya di Wonogiri yang bernama Harun Muryadi. Setelah Bu Wiryo meninggal, Pak Muryadi hidup sendirian di sini sampai meninggal. Setelah itu rumahnya kosong,” sambung dia.

    Sutanto mengatakan, rumah berbunker ini berdiri di atas tanah seluas 500 meter. Ruang depannya berupa pelataran beratap, luasnya sekitar 7 x 8 meter persegi.

    “Pelataran ini dulu biasanya untuk karyawan yang bekerja di sini. Seperti untuk ngecek batik yang dibuat sudah benar atau belum,” ujar dia.

    Adapun lantai ruang belakang rumah itu tampak lebih tinggi sekitar 30 sentimeter dan lebih luas dari pelatarannya. Di ruang belakang inilah bunker itu berada.

    “Kalau yang belakang itu disebut sitinggil, tempat juragannya. Biasanya setelah karyawan selesai kerja di depan terus laporan ke juragannya di sini,” ucap Sutanto.

    “Gaya rumah juragan-juragan Laweyan dulu memang seperti ini. Bunkernya berada di tengah dan (dulu) di atasnya ada tempat tidur juragan,” imbuh dia.

    Di luar rumah itu terdapat kamar mandi dan sumur tua dengan bak besar di sampingnya. Sutanto menyebut bak itu dulunya untuk menunjang aktivitas bisnis batik Wiryo.

    “Di sini itu ada dua versi (tentang sosok almarhum Wiryo), pengusaha batik atau pengusaha pewarnaan (batik). Karena kalau dilihat dari bak-bak yang ada ini, (usahanya) pewarnaan batik. Jadi dari juragan-juragan itu mewarnakan batik di sini,” kata Sutanto.

    Lihat juga Video ‘Viral Narasi Penemuan Bunker di Gereja Lampung, Ternyata Septic Tank’:

    [Gambas:Video 20detik]

    Tempat Sembunyi-Simpan Harta

    Permukaan bunker di sitinggil rumah itu cukup sempit, sekitar 0,5 x 1 meter. Bunker itu ditutup papan kayu. Saat penutupnya dibuka, terlihat tiga anak tangga untuk masuk ke dalamnya.

    Untuk memasuki bunker tersebut, detikJateng harus menundukkan badan. Sebab, ketinggian pintunya tak lebih dari satu meter. Hawa pengap dan lembab langsung terasa setelah memasuki bunker ini. Tidak ada lubang ventilasi di dalamnya. Satu-satunya jalan udara hanyalah dari pintu masuknya.

    Bagian dalam bunker Setono luasnya hanya sekitar 2 x 2 meter. Bunker itu beralas tanah dan bertembok batu bata yang masih kokoh. Tinggi ruangannya sekitar 1,7 meter. Ada lampu kuning yang dipasang untuk menerangi ruangan bunker.

    Dari permukaan lantai, bunker ini memiliki kedalaman sekitar 2 meter. Sutanto bilang, bunker ini dulunya memiliki dua fungsi. Yaitu untuk berlindung dari bahaya dan untuk menyimpan harta.

    “Kalau ada rame-rame dulu itu (seperti) rampok, bisa langsung masuk bunker lewat kolong. Di halaman depan itu kan ada kerikil-kerikil, jadi kalau ada orang masuk itu tahu (karena) ada suaranya,” ujar Sutanto.

    “Dulu zaman (penjajahan) Jepang, kalau ada (tentara) Jepang itu penghuni juga bisa masuk sini. Tapi fungsi utamanya bunker itu untuk menyimpan perhiasan, harta,” imbuhnya.

    Sutanto juga menepis kabar bahwa bunker ini dulunya sempat terhubung dengan bunker-bunker di rumah lain.

    “Oh nggak, bukan, bukan gitu. Kalau bunker itu ya tetep berhenti di situ (tidak terhubung dengan bunker lain). Kalau yang (dikabarkan) nyambung itu, maksudnya rumah yang belakang itu ada sisa tanah, di sana ada pintu,” terang Sutanto.

    “Jadi ketika ada apa-apa, orangnya lari ke belakang kemudian bisa tembus ke rumah sebelahnya. Kalau bunkernya ya susah (jika dibuat terhubung). Menerobos mau tembus ke mana?” sambung dia.

    Baca artikel selengkapnya di detikJateng

    Lihat juga Video ‘Viral Narasi Penemuan Bunker di Gereja Lampung, Ternyata Septic Tank’:

    [Gambas:Video 20detik]

    (msl/msl)



    Sumber : travel.detik.com

  • Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di Karawang



    Karawang

    Rumah Djiaw Kie Song di Karawang adalah destinasi wisata sejarah yang menyimpan kisah penculikan Soekarno-Hatta. Akses mudah dan tanpa tiket masuk.

    Peristiwa bersejarah itu terjadi di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada 16 Agustus 1945 atau sehari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada hari itu, dua tokoh penting Indonesia, Sukarno dan Mohammad Hatta, diculik oleh golongan muda, di antaranya Soekarni, Shodancho Singgih, dan Jusuf Kunto. Mereka mendesak agar segera dilakukan proklamasi kemerdekaan.

    Sukarno dan Hatta dibawa ke rumah seorang petani keturunan Tionghoa bernama Djiauw Kie Siong. Rumah Djiauw Kie Siong itu berada dii Dusun Bojong, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang.


    Rumah itu sudah ditempati Djiauw Kie Siong sejak 1920. Tetapi, rumah itu sudah tidak berada di tempat aslinya. Rumah itu telah dipindahkan dari tepi Sungai Citarum pada 1957

    Kini, rumah Djiaw Kie Song itu tidak jauh dari pusat kota Karawang, hanya berjarak sekitar 19,9 km. Kendati telah dipindahkan, banyak elemen asli seperti bata merah, dinding kayu, dan genteng tradisional masih dipertahankan, menambah daya tarik bagi pengunjung.

    Kini rumah itu masuk dalam daftar cagar budaya.

    Ramai Setiap Agustus

    Kini, rumah itu menjadi destinasi wisata. Menurut pemilik rumah, yang merupakan istri dari cucu Djiaw Kie Song, yang akrab disapa Bu Yanto, rumah itu biasa menerima pengunjung. Jam operasional dimulai dari pukul 08.00 hingga 17.00, tetapi jam tersebut dapat diperpanjang saat ada acara komunitas, terutama pada Agustus.

    Ya, di bulan Agustus, banyak acara yang digelar di sini. Mereka menjadikan rumah itu tidak hanya sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai tempat ngumpul bareng menjelang 17 Agustus.

    “Ramainya biasanya di bulan Agustus. Banyak sekali acara di sini pada bulan Agustus dan September, karena banyak peristiwa yang diperingati. Terakhir, komunitas pecinta alam sempat mengadakan acara di sini,” kata Bu Yanto dalam perbincangan dengan detikTravel.

    Di bulan itu para pedagang di sekitar rumah turut ketiban rejeki. Mereka senang penjualan berlipat.

    Mengenai perizinan untuk mengadakan acara, Bu Yanto menjelaskan, bahwa komunitas yang mengadakan acara di rumah bersejarah ini biasanya mengurus izin sendiri kepada RT dan RW, serta izin keramaian ke kepolisian.

    “Tahapan untuk mengadakan acara di sini biasanya dimulai dengan izin dari saya atau suami. Namun, untuk perizinan di luar, seperti izin RT, RW, hingga izin keramaian ke kepolisian, itu mereka urus sendiri,” kata Bu Yanto.

    Traveler tidak perlu khawatir mengenai biaya masuk, karena tidak ada biaya tiket yang dikenakan alias gratis. Pengunjung hanya pelru berdonasi sukarela yang digunakan untuk pemeliharaan bangunan.

    Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di KarawangRumah Djiaw Kie Song, hidden gem wisata sejarah di Karawang (Asti Azhari/detikTravel)

    Bangunan Tradisional

    Bagi para traveler yang menyukai fotografi, rumah ini juga menawarkan banyak spot menarik. Struktur bangunan tradisional dengan bata merah dan atap genteng membuatnya sangat fotogenik, terutama saat matahari mulai terbenam.

    Interior rumah yang kaya akan ornamen sejarah, seperti foto-foto lama dan replika kamar Soekarno, menambah daya tarik bagi wisatawan yang ingin menangkap momen unik melalui lensa kamera.

    Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di KarawangRumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di Karawang (Asti Azhari/detikTravel)

    Lokasi Rumah Djiaw Kie Song sangat strategis di Karawang. Meskipun awalnya terletak di tepi Sungai Citarum, saat ini rumah ini berada di Kalimati, sebuah area yang telah berkembang pesat.

    Akses menuju rumah ini cukup mudah dengan kendaraan pribadi, dan area parkir di sekitar rumah juga luas, sehingga nyaman bagi para pengunjung.

    Bagi yang ingin membawa pulang oleh-oleh, rumah ini bersebelahan dengan warung yang menjual makanan dan minuman ringan, sehingga traveler dapat beristirahat sejenak sambil menikmati suasana sekitar.

    Warung-warung kecil di sekitar lokasi juga menjadi tempat bertemunya pengunjung dan warga lokal, menciptakan suasana yang hangat dan autentik.

    Traveler yang ingin belajar lebih banyak tentang sejarah juga akan menemukan bahwa rumah ini menyimpan banyak cerita yang jarang diungkapkan dalam buku sejarah.

    Pemandu lokal, seperti Bu Yanto, cucu dari Djiaw Kie Song, siap memberikan wawasan mendalam mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di rumah ini, termasuk penculikan Soekarno-Hatta dan bagaimana rumah ini digunakan sebagai tempat merumuskan strategi perjuangan oleh para pemuda.

    Bagi keluarga atau rombongan wisata yang berkunjung, rumah ini menawarkan suasana yang tenang dan nyaman untuk dijelajahi bersama. Lokasinya yang luas membuatnya ideal untuk berjalan-jalan, dan suasana pedesaan yang masih terasa memberikan pengalaman wisata yang berbeda dari hiruk-pikuk kota.

    Dengan segala daya tariknya, Rumah Djiaw Kie Song tidak hanya penting dari segi sejarah, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang memperkaya pengetahuan traveler.

    Jika Anda seorang traveler yang tertarik dengan wisata sejarah dan ingin memahami lebih dalam perjuangan bangsa Indonesia, rumah ini adalah destinasi yang wajib ada dalam daftar kunjungan traveler di Karawang.

    Cara Menuju ke Rumah Djiaw Kie Song

    Bagi yang memilih transportasi umum, traveler dapat naik angkot 07 atau 17 dari Stasiun Karawang menuju Tanjung Pura, dengan pemberhentian di daerah Bojong atau lampu merah menuju Rengasdengklok.

    Waktu yang ditempuh jika menggunakan kendaraan roda 4 sekitar 40 menit, tetapi menyesuaikan juga dengan keramaian dan kondisi jalan menuju destinasi.

    Rumah Djiaw Kie Song bukan hanya sekadar saksi sejarah penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta pada 16 Agustus 1945, tetapi juga telah menjadi destinasi wisata yang menarik bagi para traveler.

    Dengan akses yang mudah dan nilai sejarah yang kaya, rumah ini ideal bagi wisatawan yang ingin menjelajahi cerita kemerdekaan Indonesia. Traveler yang tertarik dengan sejarah akan menemukan pengalaman unik di rumah ini, di mana atmosfer perjuangan terasa di setiap sudutnya.

    (wsw/fem)



    Sumber : travel.detik.com