Tag: sumatera utara

  • Mengenal Menara Doa Sinatapan, Tempat Menikah dengan Latar Danau Toba



    Samosir

    Pesona danau Toba memang tiada duanya. Traveler yang mau menikah dengan latar danau cantik ini bisa mencobanya di Menara Doa Sinatapan.

    Menara Doa Sinatapan adalah destinasi wisata yang relatif baru di Samosir, Sumatera Utara. Dari spot ini, traveler bisa mengadakan acara pernikahan dengan berlatarkan kecantikan danau Toba.

    Menara Doa Sinatapan dibangun pada 20 Desember 2017. Menara ini berfungsi sebagai tempat doa sekaligus destinasi wisata rohani dengan pemandangan menakjubkan Danau Toba dari ketinggian.


    Lokasi tepatnya berada di desa Partungko Naginjang, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir. Kata ‘Sinatapan’ sendiri berarti ‘melihat’ atau ‘menatap’ dalam bahasa Batak.

    Bangunan sederhana nan cantik ini pun sarat akan makna religius, serta mencerminkan tempat untuk merenung sambil menatap kebesaran ciptaan Tuhan.

    Menara Doa Sinatapan lantas semakin dikenal luas berkat pesona alam Danau Toba yang dapat dinikmati dari menara setinggi 10 meter.

    Keindahan pulau Samosir yang tampak jelas ditambah dengan hamparan bukit hijau, menjadikan kawasan ini destinasi rohani sekaligus wisata alam yang banyak dikunjungi.

    Salah satu pasangan yang melangsungkan acara pernikahan di Menara Doa Sinatapan adalah Hendry Donald Hanesty Sinurat, B.Eng., M.Sc dan Efriska Ginasti Mayangsari Br. Nadeak, S.KPm., M.Si.

    Mereka memilih Menara Doa Sinatapan sebagai lokasi pernikahan karena kedekatan emosional terhadap tanah leluhur.

    Meskipun keduanya bukan berasal dari Samosir, tapi rasa kedekatan itu mendorong keputusan mereka untuk menggelar acara pernikahan di sana.

    “Ini adalah wujud syukur kami sekaligus bentuk kepedulian untuk ikut melestarikan keindahan alam dan budaya Samosir. Kami berharap semakin banyak generasi muda yang juga mencintai tanah leluhur,” ujar Efriska.

    Fenomena pernikahan dengan latar nuansa alam diyakini akan terus berkembang dan jadi tren, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dan alam.

    Lokasi-lokasi yang menawarkan nilai spiritual serta keindahan panorama menjadi pilihan yang banyak dipertimbangkan pasangan muda. Terlebih ketika tempat tersebut sarat makna bagi sejarah dan budaya keluarga mereka.

    (wsw/wsw)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
    image : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Peta Lengkap Pulau Sumatera untuk Traveler



    Jakarta

    Traveler yang ingin menjelajahi keindahan Sumatera, harus baca peta wisata ini. Banyak tempat menarik yang bisa kamu temukan, mulai dari keindahan laut, kuliner hingga kekayaan budaya di Pulau Sumatera.

    1. Aceh

    Masjid Baiturrahman Aceh (Agus Setyadi/detikcom)Masjid Baiturrahman Aceh (Agus Setyadi/detikcom)

    Tak lengkap rasanya bila tak mencicipi mie aceh dan teh tarik saat wisata ke Provinsi Aceh. Kekayaan kuliner dengan rempah yang khas membuat masakan Aceh juga selalu menjadi incaran pecinta kuliner.

    Selain itu, Aceh juga banyak punya potensi wisata seperti Pulau Weh (Sabang) Pantai Iboih, Kilometer Nol, destinasi alam dan sejarah. Jelajahi juga megahnya Masjid Baiturrahman yang berdiri megah di Banda Aceh.


    2. Sumatera utara

    UNESCO menyepakati Kaldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark dalam Sidang ke-209 Dewan Eksekutif UNESCO hari Selasa 7 Juli  2020.Kaldera Toba (KBRI Paris)

    Adapun wisata yang bisa kamu kunjungi di Sumatera Utara diantaranya Danau Toba, Pulau Samosir, Air Terjun Sipiso-piso, Bukit lawang dan Istana Maimun & Rumah Tjong A Fie.

    Traveler pecinta alam harus banget nih datang ke Bukit Lawang yang menjadi gerbang utama ke Taman Nasional Gunung Leuser dan habitat orangutan Sumatera.

    Teruntuk kamu yang mencari kuliner, harus banget menikmati Bika Ambon (kue Medan bertekstur berongga dan manis), Sasagun (snack Batak dari tepung ketan dan gula, simbol ikatan keluarga), Sambal Andaliman, Ikan Arsik, serta Soto Medan dan masakan Batak.

    3. Sumatera Barat

    Siapa yang tak kenal Jam Gadang? Ikon Bukittinggi, Sumatera Barat ini hampir 100 tahun berdiri kokoh meski tanpa besi penyangga dan semen. Jam Gadang di Bukittinggi, Sumatera Barat (Rifkianto Nugroho)

    Sumatera Barat dikenal dengan kekayaan kulinernya yang beragam. Datang ke Ranah Minang harus banget makan rendang, sate, dan aneka jajanan pasarnya yang unik di berbagai daerah.

    Destinasi wisata yang iknoik dengan Sumbar diantaranya Jam Gadang ( Bukittinggi), Ngarai Sianok, Lembah Harau (Payakumbuh), Sawahlunto dan lainnya. Bagi kamu yang ingin menikmati keindahan laut Sumbar, bisa datang ke kawasan Mandeh di Pesisir Selatan.

    4. Riau

    Koleksi Museum Sang Nila Utama (Foto: Raja Adil/detikcom)Koleksi Museum Sang Nila Utama (Raja Adil/detikcom)

    Wisata ke Riau, kamu bisa datang ke Museum Sang Nila Utama (Pekanbaru). Nikmati juga olahan gulai belacan dan gulai ikan patin yang otentik.

    5. Jambi

    Foto udara sejumlah pengunjung berada di halaman Candi Tinggi, Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muara Jambi, Muaro Jambi, Jambi, Minggu (2/7/2023). Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Muaro Jambi mencatat, jumlah rata-rata kunjungan wisatawan selama libur Lebaran Idul Adha di kawasan pendidikan tertua di Indonesia dan terluas di Asia yang berdiri sejak abad 7 hingga 12 Masehi itu mencapai seribu pengunjung per hari. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/YUFoto udara sejumlah pengunjung berada di halaman Candi Tinggi, Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muara Jambi, Muaro Jambi, Jambi (Wahdi Septiawan/Antara)

    Beberapa tempat wisata yang bisa kamu datangi di Jambi yaitu Candi Muara Jambi, Gunung Kerinci, Gunung Tujuh, dan Bukit Khayangan. kamu harus tahu nih bahwa Candi Muara Jambi merupakan salah satu komplek candi terbesar di Asia Tenggara lho.

    6. Sumatera Selatan

    Bersantai menikmati sore di Jembatan Ampera atau tepian Sungai Musi bisa nih kamu lakukan saat menikmati keindahan Sumatera Selatan. Selain itu kunjungi juga Danau Ranau, Air Terjun Bidadari, dan Taman Sriwijaya.

    Nikmati juga kuliner khas di sana yaitu pempek, lenggang, martabak kuah kari, kopi tradisional dan pindang yang menggugah selera.

    7. Bengkulu

    Pekerja mengecat bagian dalam situs cagar budaya Benteng Marlborough di Kota Bengkulu, Bengkulu, Selasa (15/10/2024). Pengecatan tersebut dilakukan untuk merawat dan menjaga situs cagar budaya dalam kondisi baik saat dikunjungi para wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi/rwa.Pekerja mengecat bagian dalam situs cagar budaya Benteng Marlborough di Kota Bengkulu (Muhammad Izfaldi/rwa/Antara)

    Bila datang ke Bengkulu, sempatkan berkunjung ke Pantai Panjang dan Benteng Marlborough. Saat di sana, cobalah pendap, hidangan ikan seperti bagar hiu dan ikan pais.

    8. Lampung

    Pulau Pahawang LampungPulau Pahawang Lampung (Instagram @pahawang.island.lampung)

    Lampung dikenal dengan kekayaan lautnya yang selalu menjadi tujuan open trip kaula muda. Seperti berkunjung ke Way Kambas, Pantai Gigi Hiu, Puncak Mas dan Pulau Pahawang.

    9. Bangka Belitung

    Replika Sekolah Laskar Pelangi merupakan objek wisata populer di Belitung Timur. Objek wisata ini pernah digunakan untuk lokasi pembuatan film Laskar Pelangi.Replika Sekolah Laskar Pelangi merupakan objek wisata populer di Belitung Timur. (Fakhri Hermansyah/Antara)

    Manjakan lidah traveler dengan mie Bangka, lempah kuning dan otak-otak khas Bangka yang ‘ikan banget’. Kunjungi juga pesona alamnya yang memukau seperti Pantai Tanjung Tinggi dan Danau Kaolin

    Kamu yang membaca novel Andrea Hirata ‘Laskar Pelangi’ juga bisa berkunjung ke resplika SD Muhammadiyah Gantong yang berada di Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur.

    (sym/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kutablang, Stasiun Paling Barat Indonesia, dan Relasi Erat dengan KA Cut Meutia



    Jakarta

    Stasiun Kutablang hidup lagi. Stasiun kereta api yang berada di ujung barat Indonesia itu, berdenyut setelah layanan Kereta Api (KA) Perintis Cut Meutia beroperasi kembali.

    KA Cut Meutia melayani lintas Krueng Geukueh – Kutablang di Provinsi Aceh. Jalur itu menjadi simbol keterhubungan masyarakat sekaligus bagian penting dari sistem pertahanan nasional berbasis rel.

    Sepanjang Januari-September 2025, KA Cut Meutia melayani 31.412 pelanggan. Angka ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik yang aman, efisien, dan berkelanjutan.


    “KA Cut Meutia menjadi alat transportasi dan lambang semangat Aceh untuk kembali bangkit melalui infrastruktur yang memperkuat konektivitas dan pertahanan wilayah barat Indonesia,” ujar Vice President Public Relations KAI Anne Purba dalam rilis kepada detikTravel, Jumat (24/10/2025).

    Stasiun KA Kutablang AcehStasiun KA Kutablang Aceh (dok. PT KAI)

    Terletak di Gle Putoh, Kabupaten Bireuen, Stasiun Kutablang kini menjadi stasiun aktif paling barat di Indonesia. Dari sinilah perjalanan KA Cut Meutia berakhir setelah melintasi jalur sepanjang 21,45 kilometer dari Stasiun Krueng Geukueh. Kutablang menjadi penanda batas geografis perkeretaapian nasional dan simbol kedaulatan transportasi di wilayah Aceh.

    “Kutabalang mewakili semangat menjaga wilayah terluar bangsa. Saat ini, selain untuk pertahanan juga menjadi fasilitas yang menghubungkan masyarakat, pendidikan, serta wisata,” kata Anne.

    Dari Rel Perang ke Jalur Pertahanan dan Harapan

    Sejarah perkeretaapian Aceh dimulai tahun 1876, ketika jalur pertama dari Ulee Lheue ke Kutaraja (Banda Aceh) sepanjang 5 kilometer dibangun untuk kepentingan militer. Rel ini digunakan sebagai jalur logistik dan mobilisasi pasukan dalam Perang Aceh. Dalam dua dekade berikutnya, jalur terus diperluas hingga mencapai 502 kilometer, menghubungkan Banda Aceh – Sigli – Lhokseumawe – Langsa – Pangkalan Susu (Sumatera Utara).

    Sejak awal, rel di Aceh berperan strategis bagi keamanan dan pertahanan. Jalur ini memungkinkan pasokan logistik dan pergerakan personel secara cepat di kawasan perbatasan barat. Setelah Indonesia merdeka, peran itu berlanjut sebagai infrastruktur dasar untuk membangun konektivitas nasional.

    Stasiun KA Kutablang AcehKA Cut Meutia hidupkan Stasiun KA Kutablang Aceh (dok. PT KAI)

    Meski operasional kereta api di Aceh sempat berhenti pada 1982 akibat kerusakan jembatan dan penurunan aktivitas ekonomi, semangat untuk menghidupkannya tidak pernah padam. Kini, melalui jalur Krueng Geukueh – Kutablang, rel yang dahulu dibangun untuk kepentingan militer kembali berfungsi sebagai jalur penguatan konektivitas dan pertahanan bangsa.

    Selain sebagai infrastruktur pertahanan dan transportasi publik, lintas KA Cut Meutia juga berkembang menjadi jalur wisata edukatif. Penumpang dapat menikmati panorama sawah, perdesaan, dan pantai yang membentang di sepanjang jalur.

    Beberapa sekolah dan komunitas di Aceh menjadikan perjalanan ini sebagai sarana belajar sejarah, mengenalkan generasi muda pada kisah perjuangan dan teknologi rel bangsa.

    Perintis untuk Pemerataan dan Ketahanan Wilayah

    KA Cut Meutia merupakan satu dari sembilan kereta api perintis di Indonesia. Bersama KA Datuk Belambangan di Sumatera Utara, KA Lembah Anai di Sumatera Barat, dan KA Makassar-Parepare di Sulawesi Selatan, layanan ini memperluas pemerataan transportasi sekaligus memperkuat fondasi pertahanan wilayah dari barat hingga timur Nusantara.

    “Kereta api adalah infrastruktur strategis. Di Aceh, KA Cut Meutia menjadi penghubung masyarakat sekaligus bagian dari kesiapan bangsa menjaga dan membangun wilayah Indonesia,” kata Anne.

    (fem/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kemenkes Ungkap 800 Ribu Lebih Anak RI ‘Zero Dose’ Imunisasi, Inikah Pemicunya?


    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan jumlah anak yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali atau zero-dose di Indonesia masih tinggi. Pada tahun ini, tercatat ada sekitar 836.789 anak di Indonesia yang masih zero-dose.

    Angka tersebut sedikit menurun dibandingkan dengan tahun 2024 dengan 973.378 kasus, tapi jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2023 dengan 372.965 kasus.

    Hal ini cukup memprihatinkan mengingat pemberian imunisasi rutin sesuai jadwal memiliki peran penting untuk pencegahan penyakit pada anak dan mengantisipasi munculnya wabah atau kejadian luar biasa (KLB).


    “Saat ini kita menduduki peringkat keenam, di dunia untuk negara yang jumlah anaknya belum mendapatkan imunisasi,” ujar Direktur Imunisasi Kemenkes Prima Yosephine, ketika ditemui awak media di Jakarta Selatan, Rabu (15/10/2025).

    Prima mengungkapkan ada total ada ratusan KLB yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2025 hingga pekan ke-36. Ini meliputi 66 KLB campak pasti di 52 kabupaten/kota, 198 KLB pertusis di 133 kabupaten/kota, dan 57 KLB difteri di 50 kabupaten/kita.

    Ia mengatakan kelengkapan imunisasi ini harus terus dikejar. Kalau anak sudah terlanjur terkena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), maka penanganannya akan lebih berat. Terlebih, belum ditambah risiko penyebaran yang lebih luas.

    “Kalau kena ya bisa menularkan kepada anak-anak lain di sekitarnya. Kalau anak-anak yang nggak diimunisasi berkumpul di satu tempat, tentu nggak terbentuk kekebalan kelompoknya. Oleh karena itu, tempat daerah itu akan sangat mungkin atau mendapat kejadian luar biasa, wabah dalam konteks kecil, tapi itu sudah wabah,” sambungnya.

    Berkaitan dengan masih tingginya angka zero-dose pada anak-anak di Indonesia, Prima menyebut masih ada keraguan soal vaksinasi di tengah masyarakat. Meski edukasi terkait manfaat imunisasi terus digencarkan, ada banyak juga pemahaman yang menentang imunisasi.

    Berdasarkan survei yang dilakukan UNICEF Nielsen pada tahun 2023, sebanyak 12 persen persen orang tua takut dengan efek samping sehingga enggan membawa anak imunisasi. Beberapa faktor lain yang juga memengaruhi meliputi takut disuntik lebih dari satu kali, jadwal imunisasi tidak pas, tidak ada ongkos, akses sulit, hingga merasa imunisasi tidak ada manfaatnya.

    “Adanya keraguan vaccine hesitancy masyarakat. Karena mereka bingung di satu pihak mereka mendapat kabar pentingnya imunisasi, tapi di lain pihak, gencar juga orang-orang yang menyuarakan ‘hati-hati dengan imunisasi’, ‘yakin imunisasi bikin sehat?’. Kita perlu bergandengan tangan untuk bisa membuat keraguan di masyarakat ini berubah menjadi kepastian,” tandasnya.

    Berikut lima wilayah dengan angka zero-dose tertinggi di Indonesia:

    1. Jawa Tengah – 158.941 kasus
    2. Jawa Timur – 79.973 kasus
    3. Sumatera Utara – 66.886 kasus
    4. Jawa Barat – 55.936 kasus
    5. Lampung – 41.169 kasus

    (avk/suc)



    Sumber : health.detik.com

  • BMKG Imbau Warga Hindari Paparan Matahari Langsung Jam 10-16 WIB, Ini Alasannya


    Jakarta

    Kondisi cuaca pada saat peralihan musim dari awal hingga pertengahan Oktober, diwarnai dengan cuaca panas dan terik yang terjadi di banyak wilayah di Indonesia. Hal ini didukung oleh kombinasi gerak semu matahari, yang pada bulan Oktober sudah berada sedikit di selatan ekuator, sehingga wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima pemanasan yang intens.

    Selain itu, pengaruh Monsun Australia turut berkontribusi terhadap peningkatan suhu udara di beberapa wilayah di Indonesia.

    Berdasarkan hasil pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam beberapa hari terakhir, suhu maksimum udara tercatat mencapai 38 derajat celcius di beberapa lokasi. Daerah yang mengalami suhu panas antara lain Karanganyar, Jawa Tengah (38,2 derajat celcius) Majalengka, Jawa Barat (37,6 derajat celcius), Boven Digoel, Papua (37,3 derajat celcius), dan Surabaya, Jawa Timur (37,0 derajat celcius).


    Imbas hal tersebut, BMKG mengimbau untuk menghindari paparan langsung sinar matahari antara pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto hal ini dikarenakan pukul tersebut intensitas radiasi matahari berada pada titik tertinggi.

    Selain itu, ia juga menyarankan untuk menggunakan pelindung diri seperti topi, kacamata hitam, payung, dan tabir surya (sunscreen) saat harus beraktivitas di luar ruangan.

    “Perbanyak minum air putih untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dan menurunkan suhu tubuh,” ucapnya kepada detikcom saat dihubungi Selasa, (14/10/2025).

    “Kurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Pantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi InfoBMKG dan akun media sosial resminya,” lanjutnya.

    BMKG menegaskan fenomena ini masih tergolong normal untuk periode pancaroba, meski dampaknya kini terasa lebih ekstrem karena perubahan iklim global dan urbanisasi yang memperparah efek panas permukaan.

    “Yang penting masyarakat tetap tenang, tetapi waspada. Pastikan kondisi tubuh terjaga, kurangi aktivitas di bawah matahari langsung, dan ikuti perkembangan cuaca dari sumber resmi,” tutup Guswanto.

    Di sisi lain, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat pada sore hingga malam hari akibat adanya aktivitas konvektif lokal terjadi di beberapa wilayah, seperti Belawan, Sumatera Utara (117,6 mm/hari), Deli Serdang, Sumatera Utara (110,4 mm/hari), dan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (88,4 mm/hari).

    Kondisi ini menunjukkan, meskipun cuaca panas dan terik masih mendominasi pada pagi hingga siang hari di sejumlah wilayah Indonesia, potensi pembentukan awan konvektif dengan intensitas hujan tinggi pada sore hingga malam hari masih tetap signifikan, sejalan dengan karakteristik periode transisi musim dari kemarau menuju musim hujan di wilayah tropis.

    Cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan masih didominasi oleh cuaca cerah hingga berawan. Kondisi ini berpeluang terjadi hingga akhir Oktober atau awal November 2025. Meskipun demikian, potensi hujan yang bersifat lokal masih dapat terjadi pada sore hingga/atau malam hari di beberapa wilayah, seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

    (suc/suc)



    Sumber : health.detik.com