Tag: sunan kalijaga

  • Legenda Sendang Kasihan dan Kisah Kesaktian Sunan Kalijaga



    Bantul

    Di Bantul, ada destinasi pemandian yang lekat dengan mitos dan legenda. Sendang Kasihan namanya. Konon, sendang ini jadi saksi bisu kesaktian Sunan Kalijaga.

    Sendang Kasihan adalah sebuah pemandian mata air yang berada di kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Masyarakat setempat mempercayai beberapa mitos terkait Sendang Kasihan.

    Salah satunya yakni mandi di Sendang Kasihan diyakini bisa memberikan pengasihan alias mudah mendapatkan jodoh.


    “Cerita sendang ini kan terkenal dengan namanya yaitu Sendang Pengasihan. Pengasihan dalam artian luas kompleks, apalagi mengandung nilai sejarahnya. Dikatakan bahwa sumber mata air ini ditemukan oleh Sunan Kalijaga berarti ada karamahnya,” tutur pengelola Sendang Kasihan, Yudaryanto (53), beberapa waktu lalu.

    Yudi menuturkan, banyak orang yang datang ke sendang dengan beragam tujuan. Misalnya, perempuan yang sial jodoh, harapannya ia membersihkan diri dan berharap segera bertemu dengan jodohnya.

    Tidak hanya menjadi pembawa pengasihan, air di Sendang Kasihan juga konon membuat untuk awet muda. Sebab, kondisi fisik air sendang ini ternyata cukup bagus.

    “Pernah dicek dari UGM, UIN, pH-nya 7, bagus. Terus ada tamu sendang itu dia mengelola air minum juga punya alatnya dicek. Dia turun jam 04.00 WIB, siangnya coba iseng ngetes, habis ngetes telepon saya, mas airnya sendang bagus sekali pH-nya 8. Jadi secara fisik bagus kandungan mineralnya tinggi keasamannya rendah,” cerita Yudi.

    “Tokoh-tokoh banyak yang pernah datang. Paramitha Rusady 4 kali ke sini, Dian Sastro, Nicholas Saputra, banyak tokoh-tokoh. Dari Batam, Kalimantan banyak. Pejabat banyak, dulu waktu sebelum saya di sini, keluarga Pakualaman, keluarga Mangkunegaran, HB IX, HB VIII banyak,” tambahnya.

    Kesaktian Sunan Kalijaga

    Sendang Kasihan ini konon merupakan sendang yang ditemukan Sunan Kalijaga. Nama sendang ini berasal dari kisah Sunan Kalijaga yang merasa iba kepada seorang emak-emak dan bermunajat doa hingga muncul sumber mata air.

    “Nama Sendang Kasihan itu, jadi Mbok Rondo tadi cari air jauh sekali sungai itu. Kemudian Sunan Kalijaga iba kasihan melihat Mbok Rondo, kasihan. Kata-kata kasihan itu akhirnya kan besok tekan ajining zaman tak beri nama Sendang Kasihan,” ujar Kepala Bidang Warisan Budaya Disbud Bantul, Risman Supandi.

    Risman menyebut saat ini Sendang Kasihan sudah masuk dalam salah satu cagar budaya.

    “Kenapa ditetapkan sebagai struktur? Jadi berdasarkan Pasal 5 UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya bahwa benda bangunan atau struktur dapat diusulkan sebagai cagar budaya apabila memenuhi kriteria,” jelas Risman.

    Padusan jelang Ramadan di Sendang Kasihan, Kabupaten Bantul, Minggu (5/5/2019).Sendang Kasihan, Kabupaten Bantul Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

    Kisah yang sama juga dituturkan pengelola Sendang Kasihan, Yudaryanto (53). Dia menyebut Sendang Kasihan ditemukan saat Sunan Kalijaga mengembara dan bertemu dengan seorang perempuan.

    “Waktu Sunan Kalijaga dalam pengembaraanya berkelana sampai di lokasi tempat ini, bertemu dengan sosok wanita seperempat tua yang sedang mencari air, membawa kendi. Ditanya orang tua itu sama Sunan Kalijaga mau ke mana, namanya siapa. Orang tua itu mengaku bernama Mbok Rondo Kasihan yang mau mencari air. Dengan bertemunya Sunan Kalijaga dan Mbok Rondo Kasihan mencari air, beliau bermunajat berdoa di tempat ini sambil menancapkan tongkat. Setelah bermunajat doa dan tongkat dicabut bekas tancapannya timbul sumber mata air,” jelas Yudi.

    Selain sumber mata air, ditemukan dua arca di sisi timur setelah pintu masuk Sendang Kasihan. Kedua arca tersebut adalah arca Ganesha dan Resi Agastya.

    “Terus di sana ada dua arca, Ganesha sama Resi Agastya. Arca Ganesha dari agama Hindu, kan dewa pengetahuan. Ada Resi Agastya kan gurunya guru, Maha Guru,” ujar Yudaryanto yang sering disapa Yudi.

    “Arcanya ini yang saya dengar dulu kan sendang ini kecil dan diperlebar. Nah dulu waktu diperlebar ditemukan itu,” tambahnya.

    Pohon soko temanten di Sendang Kasihan BantulPohon soko temanten di Sendang Kasihan Bantul Foto: Anandio Januar/detikJogja

    Kemudian di samping arca tersebut terdapat pohon Soko Temanten. Konon, pohon tersebut sudah langka dan berusia tua.

    “Pohon Soko Temanten pohon yang paling tua. Menurut simbah, pohon Soko Temanten itu yang menanam Sinuwun yang pertama, Sultan pertama Jogja,” tutur Yudi.

    ——

    Artikel ini telah naik di detikJogja.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Konon, Ini Mata Air Tempat Wudu Sunan Kalijaga



    Gunungkidul

    Ada sebuah sumber mata air di Gunungkidul yang dipercaya sebagai tempat wudunya Sunan Kalijaga. Sumber air Tuk Dungsono, begitu warga setempat mengenalnya.

    Mata air Tuk Dungsono itu berada di Padukuhan Plumbungan, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Mata air itu terletak di pinggir sungai Kedung Sono.

    Airnya mengalir dari sepotong bambu yang tertancap di batu tebing yang tingginya sekitar 2,5 meter. Terdapat atap dari seng yang menaungi sumber itu.


    Air yang keluar dari sumber tersebut tampak bening, kontras dengan air di sungai yang berwarna nyaris seputih susu.

    Di bawah aliran air itu terdapat sebuah ember biru berukuran kurang lebih 50 liter. Dari permukaan ember hingga ke atas tebing terdapat dua ruas paralon.

    Dua ruas paralon itu tersambung melalui sebuah mesin pompa air. Saat Tim detikJogja mencoba meminum air tersebut, airnya terasa segar dan tidak berbau.

    Tampak seorang warga sekitar dengan anaknya sedang mengambil air dari sumber tersebut menggunakan galon berkapasitas 15 liter.

    Warga itu bernama Gunawan (41). Ia menuturkan jika mata air itu dipercaya pernah menjadi tempat wudu Sunan Kalijaga.

    “Katanya sumber di sini dulunya tempat wudunya Sunan Kalijaga. Tapi saya tidak paham betul bagaimana ceritanya,” ungkap Gunawan kepada saat ditemui di lokasi, Minggu (4/2/2024).

    Ia mengatakan biasa mengambil air bersih untuk dikonsumsi di sumber tersebut.

    “Sehari-harinya biasa ambil air di sini buat minum sama memasak,” katanya.

    Mata Air Muncul Saat Sunan Kalijaga Mau Salat

    Dukuh Plumbungan, Sulistyo menuturkan, sumber air tersebut dipercaya muncul ketika Sunan Kalijaga hendak menunaikan salat saat berada di wilayah tersebut. Saat itu, kata Sulistyo, cuaca sedang kemarau.

    “Dulu kan gini cerita yang kami yakni, Sunan Kalijaga sama muridnya nyari air untuk wudu pas musim kemarau tapi tidak ada air. Akhirnya Sunan Kalijaga nyari di sana. Dia memasukkan telunjuknya di batu itu (lalu muncullah mata air tersebut),” jelas Sulistyo saat ditemui di Padukuhan Plumbungan, Minggu (4/2/2024).

    Mata air itu, jelas Sulistyo, dikenal sebagai Tuk Dungsono karena dulunya sungai tersebut dipenuhi oleh pohon Sonokeling.

    “Karena di tempat itu banyak Sonokeling dulunya akhirnya akhirnya dikasih nama sama warga Kedung Sono atau Tuk Dungsono,” terangnya.

    Usai muncul mata air itu, kata Sulistyo, Sunan Kalijaga bersama muridnya menunaikan salat di sungai tidak jauh dari sumber air yang saat itu sedang kering. Sulistyo menjelaskan posisi sungai tempat Sunan Kalijaga salat berada di atas sumber dan tepat menghadap ke kiblat.

    “(Sungai) Di atas itu ada batu yang rata menghadap ke kiblat. Pas menghadap kiblat bener,” katanya.

    Lokasi Tuk Dungsono yang berada di samping sungai Kedung Sono, Gunungkidul, pada Minggu (4/2/2024).Mata air Tuk Dungsono Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja

    Pada awalnya, Sulistyo mengungkapkan sumber air itu tidak diberi bambu. Diameter lubangnya, tutur Sulistyo, dulunya hanya sebesar telunjuk orang dewasa.

    “Awalnya nggak dikasih bambu, sekarang dikasih untuk ambil air. Dulu besarnya setelunjuk jari. Besar mungkin faktor air,” terangnya.

    Pada saat gempa di Jogja tahun 2006 silam, Sulistyo menceritakan banyak sumber air di wilayahnya yang mati. Namun tidak dengan sumber air Tuk Dungsono.

    “Dulu gempa tahun 2006 itu banyak yang mati sumber di sini. Dan itu (Tuk Dungsono) yang belum berubah sampai sekarang,” terangnya.

    “Sekarang dimanfaatkan untuk air minum yang deket sini. Tidak pernah macet, airnya stabil meskipun kemarau,” lanjutnya.

    Kini, jelas Sulistyo, banyak masyarakat yang tidak paham akan cerita yang dipercaya tersebut. Ia mendapat cerita tersebut sewaktu kecil dari kakeknya.

    “Kalau sekarang masyarakat sudah hampir nggak paham. Dulu mbah yang cerita sebelum tidur. Mbah saya dulu dukuh kedua yang pertama itu bapaknya si mbah,” ungkapnya.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJogja.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kisah Pohon Angsana di Kulon Progo, Dipercaya Tongkatnya Sunan Kalijaga



    Kulon Progo

    Sebuah pohon angsana raksasa di Kulon Progo dipercaya warga sebagai jelmaan tongkat Sunan Kalijaga. Bagaimana kisahnya?

    Pohon angsana yang juga punya nama lain Sonokembang ini bisa dijumpai traveler di Dusun Semaken 1, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo.

    Lokasi persisnya berada di dalam area pemakaman umum yang terletak tepat di belakang masjid peninggalan Sunan Kalijaga, yakni Masjid Jami’ Sunan Kalijaga Kedondong atau biasa disebut Masjid Kedondong.


    Wujud pohon angsana ini terlihat mencolok jika dibandingkan dengan tumbuhan lain yang ada di area pemakaman itu. Selain karena menjadi satu-satunya pohon angsana yang tumbuh di sana, ukuran pohon yang raksasa juga jadi alasannya.

    Ketinggian pohon ini nyaris seukuran menara sutet dan lebar batangnya mencapai lebih dari 1,5 meter. Sementara daunnya tumbuh rimbun hingga hampir menutupi sekujur pohon. Namun sayang, belum ada penelitian tentang berapa usia pohon ini.

    Pohon raksasa ini mempunyai cerita tak biasa. Sebab, tanaman itu diyakini merupakan peninggalan Wali Songo, tepatnya berasal dari tongkat yang ditancapkan oleh Raden Said atau dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

    Imam Masjid Kedondong, Solihudin bercerita, kisah pohon angsana ini bermula ketika Sunan Kalijaga bersama muridnya, Adipati Teroeng atau Panembahan Bodho, sedang dalam perjalanan menuju wilayah Demak, Jawa Tengah.

    Di tengah perjalanan, Sunan Kalijaga mengajak Adipati Teroeng untuk rehat. Lokasi peristirahatan berada di tepi Sungai Tinalah, Semaken.

    Saat sedang rehat, Sunan Kalijaga berpikiran untuk membangun sebuah masjid. Ide ini muncul karena dia ingin agar agama Islam bisa lebih dikenal masyarakat.

    “Sewaktu beristirahat di dekat Sungai Tinalah ini, kemudian Sunan Kalijaga berinisiatif membangun suatu tempat ibadah agar bisa digunakan warga desa, sehingga Sunan Kalijaga memerintahkan Adipati Teroeng untuk membangun masjid,” ujar Solihin saat ditemui di lokasi, Selasa (19/3).

    Kondisi Pohon Angsana yang tumbuh di sekitar Masjid Jami' Sunan Kalijaga Kedondong, Dusun Semaken 1, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo, Selasa (19/3).Pohon Angsana yang tumbuh di sekitar Masjid Jami’ Sunan Kalijaga Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJogja

    Sunan Kalijaga lalu menancapkan sebuah kayu sebagai patok awal lokasi masjid yang akan dibangun oleh Adipati Teroeng. Selanjutnya Sunan Kalijaga meninggalkan muridnya untuk melanjutkan perjalanan menuju Demak.

    “Kemudian Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan ke Demak. Namun, sebelum berangkat itu Sunan Kalijaga memberi tanda berupa tongkat yang jadi patokan lokasi berdirinya masjid,” ujarnya.

    Karena dapat mandat dari gurunya, maka Adipati Teroeng lantas memulai proses pembangunan masjid. Namun sebelum itu Adipati Teroeng mengecek dulu apakah lokasinya sudah pas.

    Setelah diteliti ternyata patok lokasi yang dipilih Sunan Kalijaga terlalu dekat dengan sungai. Menurut Adipati Teroeng, lokasi ini dinilai tidak aman karena berpotensi abrasi sehingga titiknya digeser menjauhi sungai.

    “Jika tetap dibangun sesuai patok, ada potensi lokasi terkikis aliran sungai. Sehingga Adipati Teroeng berinisiatif menggeser titik lokasi agak ke timur sejauh 100 meter dari titik awal tadi,” terang Solihudin.

    Masjid Ini Sudah Ada Sejak Abad 15

    Singkat cerita Masjid Kedondong akhirnya berdiri. Dalam catatan sejarah, masjid ini sudah ada sejak abad 15 atau tepatnya tahun 1477 Masehi.

    Bersamaan dengan perkembangan Masjid Kedondong, muncul sebuah pohon angsana yang tumbuh di sisi barat atau belakang masjid. Pohon ini berdiri di sekitar patok awal tempat di mana masjid Kedondong seharusnya didirikan.

    Oleh karena itu, warga meyakini jika pohon angsana tersebut merupakan tongkat kayu milik Sunan Kalijaga. Keyakinan warga kian menguat setelah mengetahui hanya ada satu pohon angsana di lokasi itu.

    “Jadi kemudian tongkat yang ditancapkan Sunan Kalijaga, ternyata tumbuh jadi pohon angsana. Anehnya pohon ini tidak bisa berkembang biak, di sini cuma ada satu pohon tersebut yang letaknya ada di belakang masjid,” pungkas Solihudin.

    ——

    Artikel ini telah naik di detikJogja.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • 4 Faktor yang Mendorong Berkembangnya Islam di Indonesia



    Jakarta

    Agama Islam masuk dan mulai berkembang di Indonesia sejak dibawa oleh para pedagang dari Arab, Persia, dan India. Faktor yang mendorong berkembangnya Islam di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa hal.

    Masuknya Islam ke Indonesia–yang pada saat itu Nusantara–lewat para pedagang tersebut mengacu pada teori Gujarat. Teori ini meyakini bahwa hubungan Indonesia dan India sudah lama terjalin. Hal ini turut dijelaskan Snouck Hurgronje dalam buku ‘L’Arabie et Les Indes NĂ©erlandaises atau Revue de L’Histoire des Religions.

    Wandi dalam buku Sejarah Peradaban Islam yang mengutip dari Candrasasmita mengatakan bahwa penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan cara damai melalui enam cara berikut:


    1. Perdagangan. Jalur perdagangan ini satu-satunya jalan yang paling memungkinkan, karena lalu lintas perdagangan sejak abad ke-7 hingga 16 M. Jalur ini dimanfaatkan karena sangat strategis sehingga proses islamisasi lebih mudah terlaksana.

    2. Perkawinan. Para pedagang muslim memiliki status yang lebih baik jika dibandingkan dengan mayoritas penduduk pribumi, sehingga para pedagang atau bahkan saudagar muslim yang menetap di Indonesia akhirnya menikah dengan penduduk pribumi. Sebelum menikah, biasanya pribumi diislamkan terlebih dahulu.

    3. Tasawuf. Para pengajar tasawuf atau para sufi mengajarkan agama bercampur dengan kebudayaan yang telah masyarakat kenal sebelumnya. Para mubaligh ini juga mahir dalam ilmu kebatinan dan pengobatan. Dengan cara dan jalur inilah Islam menyebar dengan cara menyentuh dan memberi kesan damai.

    4. Pendidikan. Dalam penyebaran agama Islam juga dilakukan melalui jalur pendidikan yakni pesantren meskipun dalam arti yang lebih sederhana. Di pesantren atau pondok, para kiai dan guru mengajar dan menyebarkan ajaran Islam. Dari sinilah santri-santri yang telah menamatkan juga turut menyebarkan agama Islam.

    5. Kesenian. Penyebaran dakwah agama Islam juga dilakukan melalui bidang kesenian. Pada saat itu kesenian sudah dikenal dekat oleh masyarakat setempat misalnya saja di Jawa, media utamanya adalah wayang, dalam hal ini Sunan Kalijaga adalah salah satu sunan yang ahli memainkan wayang.

    Selanjutnya, dalam setiap lakon yang dimainkan ia menyelipkan kisah-kisah yang berkaitan dengan agama Islam. Cara ini menjadi sangat efektif karena para penonton tidak merasa terpaksa untuk mengikuti dakwah dan ajaran yang telah disebarkan melalui media wayang.

    6. Politik dan Kekuasaan. Di beberapa kepulauan misalnya Maluku dan di Sulawesi, kebanyakan para penduduk masuk Islam setelah rajanya memeluk agama Islam terlebih dahulu, sehingga peran dan partisipasi raja sangat membantu proses Islamisasi di daerah tersebut. Sehingga hal ini juga dimanfaatkan oleh para penyebar agama Islam.

    Faktor yang Mendorong Berkembangnya Islam di Indonesia

    Masih dalam buku yang sama, dijelaskan pula mengenai faktor yang mendorong perkembangan masyarakat Islam antara lain:

    1. Hubungan baik antara para saudagar pembawa ajaran Islam dengan pemerintah atau penguasa setempat
    2. Para saudagar tidak pernah mencampuri urusan politik
    3. Para saudagar muslim lebih dahulu mempraktekkan ajaran agama pada dirinya sendiri dalam berinteraksi dengan masyarakat setempat
    4. Tidak ada proses secara paksaan dalam dakwah dan untuk menerima agama Islam

    Faktor-faktor tersebut lambat laun menarik kegemaran dari penduduk setempat untuk menganut agama Islam dengan suka hati.

    Selain itu, faktor yang mendorong berkembangnya Islam di Indonesia adalah ajaran Islam yang sederhana dan mudah dimengerti, Islam tidak mengenal kasta, dan adanya akulturasi budaya. Hal ini dijelaskan dalam buku Sejarah Islam Nusantara karya Rizem Aizid.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapa Wali Songo yang Menyebarkan Agama Islam di Demak?



    Jakarta

    Wali yang memperluas agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga. Ajarannya mudah diterima oleh masyarakat Jawa karena sangat toleran pada budaya lokal. Bagaimana cara beliau dalam menyebarkan agama Islam? Berikut ulasannya.

    Kerajaan Demak dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Pendiri kerajaan ini adalah Raden Patah pada akhir Abad ke-15 di Bintoro,Demak. Hal ini bersumber dari buku Kanjeng Sunan Kalijaga, Jejak-Jejak Sang Legenda karya Conie Wishnu W.

    Dalam mengatur Kerajaan Demak, pemerintahan dibantu oleh Dewan Penasihat yang bernama Wali Songo. Dewan ini bertugas memberikan masukan kepada raja serta menyelesaikan persoalan di masing-masing bidangnya.


    Seluruh Wali Songo ini memiliki peran yang sangat besar untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya tanah Jawa dan Demak. Berikut nama wali yang memperluas agama Islam di Demak.

    a. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

    b. Sunan Ampel atau Raden Rahmat

    c. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim

    d. Sunan Drajat atau Raden Qasim

    e. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq

    f. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin

    g. Sunan Kalijaga atau Raden Sahid

    h. Sunan Muria atau Raden Umar Said

    i. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

    Salah satu wali yang paling banyak dibicarakan apabila membicarakan tentang perluasan agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Muria.

    Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Nana Supriatna dalam bukunya yang berjudul Sejarah untuk Kelas XI SMA Program Bahasa.

    Tulisan kali ini akan membahas tentang sosok Sunan Kalijaga sebagai salah satu wali yang paling berpengaruh di Demak. Lantas, bagaimana sosoknya dan cara dakwahnya?

    Sosok Sunan Kalijaga

    Sunan Kalijaga memiliki nama kecil Raden Said. Beliau adalah seorang wali yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Hal ini sebagaimana dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas IX oleh Murodi.

    Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 M. Ayahnya bernama Arya Wilatikta, adipati Tuban. Nama lain beliau yang banyak diketahui adalah Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

    Mengenai nama Kalijaga ada banyak versi yang menjelaskannya. Ada yang berpendapat nama ini diambil dari hobinya berendam di sungai (kungkum kali), sehingga orang-orang menyebutnya “jaga kali” atau Kalijaga.

    Sebagian yang lain menyebutkan nama ini diambil dari istilah Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan Demak kala itu.

    Menurut catatan sejarah Indonesia, Sunan Kalijaga termasuk dalam jajaran wali yang popular di kalangan masyarakat khususnya Jawa. Peran dan cara penyebaran Islam yang menggunakan pendekatan budayalah yang menjadikannya banyak dikenal oleh masyarakat.

    Lantas, bagaimana cara dakwah Sunan Kalijaga sebagai wali yang memperluas agama Islam di Demak?

    Dakwah Sunan Kalijaga

    Salah satu wali yang memperluas agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga. Dakwah yang dilakukannya tergolong mudah diterima oleh masyarakat sehingga bisa berkembang pesat.

    Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga mempunyai pola yang sama seperti guru sekaligus sahabat dekatnya, yaitu Sunan Bonang. Beliau memiliki paham keagamaan yang cenderung sufistik berbasis salaf.

    Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan budaya lokal untuk media berdakwah. Oleh sebab itu, beliau dinilai sebagai wali yang toleran pada budaya lokal.

    Sunan Kalijaga berpendapat, jika pendirian atau budaya yang sudah melekat pada mereka dihilangkan atau diserang, maka mereka tidak akan mau mempelajari agama Islam. Oleh karena itu, beliau menyebarkan ajaran Islam secara bertahap sambil terus mempengaruhi mereka.

    Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta suluk sebagai media dakwahnya. Beliau yakin, apabila masyarakat sudah mengerti tentang agama Islam, maka kebiasaan lama mereka akan hilang dengan sendirinya. Karena inilah, ajaran beliau terkesan sinikretis.

    Terdapat beberapa peninggalan Sunan Kalijaga yang masih ada sampai sekarang. Beliau merupakan perancang Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang Tatal yang ada di masjid merupakan kreasi beliau.

    Selebihnya, Sunan Kalijaga juga merupakan pencipta dari baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, layang kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja, lanskap pusat kota berupa keratin, dan alun-alun dengan dua beringin serta masjid.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Biografi, Strategi Dakwah dan Jasa yang Terkenal


    Jakarta

    Sunan Kalijaga adalah salah satu anggota wali songo yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Ketika berdakwah, para wali ini berhasil mengintegrasikan unsur-unsur budaya untuk menyentuh dan menarik hati masyarakat Jawa.

    Sunan Kalijaga yang bernama asli Raden Said ini berdakwah di wilayah Demak, Jawa Tengah. Banyak jasa dan peninggalan Sunan Kalijaga yang masih terjaga hingga saat ini, seperti Masjid Agung Demak, Masjid Kedondong, upacara adat Grebeg Maulud, dan sebagainya.

    Biografi Sunan Kalijaga

    Menukil buku Kisah Teladan Walisongo karya M. Faizi, Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada 1450 Masehi. Ayah Sunan Kalijaga bernama Raden Sahur Tumenggung Wilatikta dan ibunya bernama Dewi Nawang Rum.


    Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Beberapa nama panggilan Sunan Kalijaga di antaranya Brandal Lokajaya, Syaikh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

    Mengutip buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida, Sunan Kalijaga lahir dari keluarga bangsawan asli Istana Tumenggung Wilatikta di Tuban. Sunan Kalijaga dididik dalam bidang pemerintahan, kemiliteran, kesenian, dan arsitektur.

    Nama Kalijaga sendiri lahir dari rangkaian bahasa Arab yaitu qadizaka. Qadi berarti pelaksana atau pemimpin sedangkan zaka berarti membersihkan. Dengan kata lain, qadizaka berarti pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kebersihan dan kebenaran agama Islam.

    Tahun wafatnya Sunan Kalijaga belum dapat dipastikan, tetapi umurnya diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Sunan Kalijaga dimakamkan di Desa Kadilangu dekat Kota Demak.

    Sunan Kalijaga adalah salah satu wali songo yang penuh dengan ide-ide kreatif dalam berdakwah, salah satunya dengan media wayang kulit. Kesenian wayang kulit yang awalnya berisi kisah-kisah Hindu, diganti oleh Sunan Kalijaga menjadi kisah-kisah yang berisikan ajaran Islam. Salah satu contohnya yaitu Jamus Kalimasada, sebagaimana dijelaskan Siti Wahidoh dalam Buku Intisari Sejarah Kebudayaan Islam.

    Pada masa itu, ketika hendak mengadakan pentas atau pagelaran wayang, Sunan Kalijaga memberi wejangan atau nasihat keislaman kepada para penonton. Berikutnya, mereka diajak mengucap dua kalimat syahadat. Dengan demikian, mereka telah menyatakan diri masuk Islam sembari lambat laun belajar mengenai ibadah-ibadah Islam.

    Sunan Kalijaga pun dapat memikat hati masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah hingga Islam cepat menyebar. Sunan Kalijaga berhasil melakukan dakwah tanpa tekanan dan paksaan.

    Selain pewayangan, Sunan Kalijaga juga banyak menciptakan kesenian lain seperti perangkat gamelan dan tembang-tembang dengan suluk serta notasi nada yang khas. Semua hasil kesenian tersebut merupakan kreasi kebudayaan yang berisi ajaran Islam.

    Jasa Sunan Kalijaga

    Sunan Kalijaga berjasa dalam sejumlah bidang semasa berdakwah. Mengacu sumber sebelumnya, berikut jasa Sunan Kalijaga di bidang kesenian dan budaya.

    Bidang Kesenian dan Budaya

    Kesenian yang diciptakan Sunan Kalijaga digunakan sebagai media berdakwah. Kesenian tersebut di antaranya cerita wayang lengkap dengan perangkat gamelan serta tembang dan suluk. Beberapa tembang ciptaan Sunan Kalijaga yang terkenal yaitu Lir-Ilir, Gundul-gundul Pacul, dan Dhandhanggula. Selain itu, Sunan Kalijaga juga berjasa dalam menciptakan upacara adat seperti Grebeg Maulud.

    Bidang Arsitektur

    Sunan Kalijaga juga memiliki keahlian di bidang arsitektur. Ia berjasa dalam menata tata ruang Kota Demak dan mendirikan Masjid Agung Demak. Salah satu karyanya di Masjid Agung Demak yang sangat terkenal yaitu saka tatal, atau tiang kukuh dalam Masjid Agung Demak yang terbuat dari potongan-potongan kayu jati.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Mencuri untuk Dibagi ke Orang Miskin



    Jakarta

    Sunan Kalijaga adalah tokoh wali songo yang di masa mudanya pernah mencuri dan merampok pejabat yang korupsi di kerajaan yang menyelewengkan uang upeti dari masyarakat. Ia kemudian membagikan hasil curian tersebut kepada orang-orang miskin dan terlantar.

    Rizem Aizid dalam buku Sejarah Islam Nusantara menceritakan bahwa sebelum menjadi wali, Sunan Kalijaga adalah orang yang nakal dan berandalan. Tetapi, ia kemudian berhasil di insafkan oleh Sunan Bonang.

    Sunan Kalijaga termasuk murid dari Sunan Bonang, terdapat dua macam versi cerita mengenai Sunan Kalijaga.


    Versi pertama mengisahkan bahwa Raden Said atau Raden Sahid yang merupakan nama asli Sunan Kalijaga adalah seorang yang suka mencuri dan merampok. Namun, hasil curiannya itu tidak digunakan sendiri tetapi dibagi-bagikan kepada rakyat jelata.

    Konon, Raden Said sudah disuruh mempelajari agama Islam ketika usianya masih kecil, tetapi karena ia melihat kondisi lingkungan yang kontradiksi dengan ajaran agama itu, maka jiwanya memberontak.

    Ia melihat rakyat jelata yang hidupnya sengsara, sementara bangsawan Tuban hidup dalam kemegahan dan berfoya-foya. Rakyat diperas dan diwajibkan membayar upeti. Maka, dalam konteks itulah, Raden Said yang terpanggil hatinya mencuri harta kadipaten untuk kemudian dibagikan kepada rakyat miskin.

    Versi kedua, menyebutkan bahwa Raden Said adalah benar-benar seorang perampok dan pembunuh yang jahat. Menurut versi ini Raden Said merupakan orang yang nakal sejak kecil, kemudian berkembang menjadi penjahat yang sadis.

    Ia suka merampok dan membunuh tanpa segan, ia juga suka berjudi. Setiap kali uangnya habis untuk berjudi ia merampok penduduk. Selain itu, digambarkan bahwa Raden Said adalah seorang yang sakti dan mendapat julukan Brandal Lokajaya.

    Dikisahkan pula oleh Jhony Hadi Saputra dalam buku Mengungkap Perjalanan Sunan Kalijaga, Raden Said lahir saat kejayaan Majapahit mulai memudar hingga membuat rakyat dari hari ke hari semakin hidup dalam kesengsaraan. Hal tersebut rupanya tidak dipahami dan dipedulikan oleh penguasa Majapahit.

    Raden Said kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda yang merasa prihatin pada keadaan masyarakat. Terlebih sebagai seorang putra Adipati, Raden Said merasa memiliki tanggung jawab hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang pencuri.

    Tempat pertama yang ia jarah adalah gudang kadipatennya sendiri. Berbagai bahan makanan yang ia ambil dari gudang tersebut, secara diam-diam ia bagikan kepada seluruh masyarakat yang membutuhkan.

    Masyarakat pun tidak tahu siapa yang membagikan bahan makanan tersebut. Kejadian seperti ini terus berulang-ulang, sehingga masyarakat memberikannya julukan sebagai “maling cluring”. Arti dari maling cluring in ialah pencuri yang mencuri bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk dibagikan kepada orang-orang miskin.

    Hingga akhirnya, Raden Said pun ketahuan dan diusir dari istana kadipaten. Ia semakin menjadi-jadi ketika diusir, bahkan mulai merampok orang-orang kaya yang tinggal di wilayah Kadipaten Tuban.

    Hal ini semakin membuat ayahnya, Tumenggung Wilatikta kemudian mengusirnya keluar dari wilayah Kadipaten Tuban.

    Raden Said tetap melakukan hal yang sama untuk merampas orang-orang kaya yang korupsi dan membagikannya kepada rakyat yang tidak mampu. Namun, ketika bertemu dengan Sunan Bonang ia akhirnya memutuskan untuk menjadi murid Sunan Bonang.

    Dari sinilah Raden Said mengetahui bahwa selama ini perbuatannya tidak bisa dikatakan benar dalam Islam. Raden Said akhirnya mengetahui bahwa kebenaran dalam Islam adalah kebenaran yang hakiki, mutlak, dan tidak dapat diperdebatkan karena membawa dampak kebaikan untuk siapa pun yang menjalankan kebenaran itu.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com