Tag: sungai

  • Sungai di Palembang dengan Mata Air yang Dipercaya Bisa Menyembuhkan



    Palembang

    Di Palembang, ada sebuah sungai dengan mata air yang dipercaya warga bisa menyembuhkan segala penyakit. Inilah kisah tentang sungai Tawar di Palembang.

    Sungai Tawar merupakan aliran anak sungai yang terletak di Kecamatan Ilir Barat (IB) 2, Kota Palembang. Mata air yang berada di Sungai Tawar hingga kini masih menyimpan mitos dan legenda di kalangan masyarakat.

    Sejarahwan Dedi Irwanto mengatakan Sungai Tawar terletak di kawasan 27,28 dan 29 Ilir, Kecamatan IB 2 Kota Palembang. Sungai Tawar dilekatkan dengan mitos dan legenda yang tidak lepas dari seorang ulama di Palembang yang bernama Kemas Abu Nawar atau Kiai Abu Nawar.


    “Pada aliran Sungai Tawar yang berada di kawasan 29 Ilir ada sebuah mata air yang saat ini masih dipercaya untuk mengobati segala macam penyakit,” kata Dedi, Minggu (2/1/2025).

    Menurut Dedi, dari segi perspektif ilmiah, Sungai Tawar ini dulunya merupakan lembah ada talang air dan sekarang dikenal dengan nama Jalan Talang Kerangga. Lembah tersebut dulu dikenal dengan nama bukit Lembah Pengantin merupakan pengunjung dari sebuah bukit atau talang yang bentuknya lembah.

    “Kalau dilihat dari peta kolonial, dulunya di daerah lebak (dataran rendah digenangin air) karena curah hujan cukup tinggi membuat lebak itu mengalami pendangkalan. Pada tahun 1900-an terbentuklah sungai yang sekarang dikenal dengan Sungai Tawar yang berada di kawasan 27,28 dan 29 Ilir,” ujarnya.

    “Di sinilah cerita Sungai Tawar yang melegenda hingga saat ini yang dapat menyembuhkan penyakit. Pada masa penjajahan Belanda, orang Belanda mencoba meracuni masyarakat dengan mencampur racun ke dalam aliran Sungai Tawar ternyata apa yang dilakukan oleh Belanda tidak berhasil masyarakat yang menggunakan air Sungai Tawar dalam aktivitas kehidupan sehari-hari tetap sehat tanpa ada yang keracunan,” sambungnya.

    Konon, air sungai tersebut tidak bisa diracuni oleh kolonial Belanda karena ada karomah dari Kiai Kemas Abunawar sehingga air sungai tersebut menjadi tawar dan tidak beracun lagi.

    Bahkan karena karomahnya tersebut Belanda tidak bisa menyerang masyarakat di sekitar Sungai Tawar karena senjata mereka selalu rusak.

    “Selain itu di Sungai Tawar tersebut memiliki mata air yang dipercaya hingga saat ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit baik medis maupun non medis,” katanya.

    “Sehingga lama-kelamaan banyak yang mandi dan berobat,” lanjutnya.

    Lebar Sungai Tawar Kini Tinggal 2 Meter

    Dedi menyebut saat ini seiring sudah banyaknya jumlah penduduk, Sungai Tawar sudah semakin sempit bahkan lebarnya sekitar 2 meter saja.

    Menariknya lagi, Sungai Tawar yang menyempit ini sangat mudah menemukan mata air yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

    “Walau mata airnya berada di dalam parit tapi saat ada orang yang akan mengambil mata air tersebut airnya tetap jernih,” ujarnya.

    “Masyarakat percaya bahwa air tersebut ada penawar meski diambil di dalam parit yang kotor sekali pun,” tambahnya.

    Dedi pun mengimbau kepada pemerintah agar bisa mengelola peninggalan bersejarah ini agar seperti di Thailand menjadi tempat wisata dan kehidupan warga di Sungai Tawar juga terbantu.

    “Bisa jadi tempat wisata dan pemerintah harus bisa mengelolanya,” katanya.

    Sementara itu, Ketua RT 15 M Haris Fadillah membenarkan jika di wilayahnya yang di aliri air Sungai Tawar terdapat mata air yang dipercayai dan diyakin dapat menyembuhkan penyakit.

    “Beberapa orang percaya bahwa mata air ini dapat menyembuhkan penyakit jadi ada beberapa orang dari Pulau Jawa, Pulau Bangka bahkan dari luar negeri seperti Brunei Darussalam datang kemari dengan membawa botol kosong untuk mengambil airvdari mata air tersebut,” ujarnya.

    Belum Ada Perhatian dari Pemerintah

    Faris menyayangkan meski ada legenda tentang Sungai Tawar ini tapi pemerintah tidak ada perhatian untuk menjadikan tempat wisata agar ekonomi warga di sekitar Sungai Tawar terbantu.

    “Mata air ini dekat di belakang Musala Darussalam yang juga didirikan oleh Kiai Kemas Abu Nawar dan mata airnya hingga saat ini masih ada,” ujarnya.

    Dari pantauan di lokasi, mata air yang berada di Sungai Tawar masih ada. Bahkan salah seorang warga Gandus, Tarmizi datang membawa botol kosong lalu mengambil air di mata air tersebut, meski saat itu air sungai sedang pasang dan berwarna hitam karena banyaknya tumpukan sampah.

    “Untuk obat katanya bisa menyembuhkan penyakit. Jadi saya kemari,” ujar Tarmizi singkat.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Menikmati Segarnya Tiga Curug di Kaki Gunung Halimun Salak



    Bogor

    Di kawasan kaki Gunung Halimun Salak, Bogor tersimpan salah satu destinasi yang bisa jadi pilihan masyarakat untuk menikmati ketenangan dan keindahan alam, yakni Curug Nangka.

    Suasananya yang sepi tak seperti saat berkunjung ke kawasan Puncak. Jika berkunjung ke Curug Nangka, pengunjung tak hanya akan disajikan dengan satu curug saja. Ternyata di dalam area itu terdapat tiga curug yang bisa dikunjungi pengunjung.

    Pada Sabtu (22/2/2025) detikTravel berkunjung ke curug tersebut yang beberapa waktu ke belakang sempat ramai karena harga tiket yang kurang lebih Rp 50 ribu. Dengan perjalanan yang kurang lebih menghabiskan waktu tiga jam dari Jakarta ini cukup membayar kesuntukan perjalanan.


    Untuk bisa masuk ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak detikTravel mengeluarkan kocek Rp 145 ribu untuk tiga orang dan termasuk kendaraan (mobil) belum termasuk biaya parkir. Untuk biaya parkir mobil seharga Rp 15 ribu. Sehingga kurang lebih untuk satu orang dikenakan biaya sekitar Rp 43 ribu.

    Tapi setelah membayar semua itu, untungnya traveler sudah tidak perlu lagi bayar-membayar di lain areanya (pungli). Sesampainya di tempat parkiran, untuk bisa sampai ke curug traveler harus melakukan trekking kurang lebih sejauh 2 kilometer.

    Dengan pepohonan yang rimbun dan udara yang segar, setidaknya tidak terlalu membuat perjalanan begitu melelahkan. Untuk trek pun tidak terlalu berbahaya, hanya saja tetap perlu fokus karena ada beberapa area bebatuan yang basah.

    Curug Nangka di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, BogorMenyusuri bebatuan untuk menjangkau Curug Kaung. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Kurang lebih setengah jam berjalan, curug yang pertama ditemui adalah Curug Nangka yang. Tetapi Curug Nangka ini hanya terlihat dari atas saja, untuk bisa menikmati alirannya traveler perlu turun dari area yang berbeda dan trek yang sudah disediakan dan perlu menyusuri aliran untuk menikmati turunnya air.

    Namun, jika ingin merasakan segarnya air di kawasannya ini ada beberapa titik kolam alami yang bisa dinikmati. Berjalan menyusuri lebih dalam, traveler harus melewati jalanan yang telah dicor dan bebatuan sungai.

    Kala detikTravel berkunjung, debit air terlihat kecil sehingga sungainya sedikit kering. Di tengah perjalanan menyusuri lebih dalam, traveler akan menemukan curug kedua yakni Curug Daun.

    Di Curug Daun ini traveler bisa bermain air seraya menikmati kesegaran air di sana, tentunya tetap harus berhati-hati. Kemudian jika ingin melihat air terjun lainnya, traveler harus kembali menyusuri bebatuan sungai.

    Di sana traveler akan menemukan Curug Kaung, curug yang paling ujung di area tersebut. Karena debit air yang kecil sehingga tak terlalu basah jika dekat-dekat dengan area turunnya air. Pengunjung yang datang ke Curug Kaung pun banyak yang berendam dan bermain air.

    Tak lupa pengunjung pun berfoto di atas bebatuan besar dengan latar belakang air terjun. Memang berkunjung ke kawasan ini lebih baik ketika cuaca cerah, karena jika kondisi mendung ataupun hujan sangat berbahaya untuk berkunjung ke tiga curug ini.

    Traveler yang ingin merasakan ketenangan dan udara yang bersih, tamasya ke area Curug Nangka ini sungguh memberikan suasana yang menenangkan. Sedikit melepaskan diri dari hiruk-pikuk perkotaan.

    Di kawasan itu pun banyak pedagang-pedagang yang, jadi sebelum traveler masuk untuk menjajal trek menuju ketiga curug itu traveler akan melewati deretan toko-toko makanan dan minuman. Mulai dari makanan ringan, makanan berat hingga menjual buah-buahan.

    Kawasan Curug Nangka ini buka setiap hari dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB, selain bisa menikmati sejuknya alam dan segarnya air, traveler juga bisa menikmati bermalam di area ini. Dan yang perlu diperhatikan traveler jika berkunjung ke sini adalah kawanan monyet.

    Jadi perlu berhati-hati jika membawa jinjingan atau totebag karena kawanan monyet ini tak akan segan untuk ‘menjambret’ bawaan traveler.

    (upd/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Danau Gunung Tujuh, Kaldera Tertinggi di Asia Tenggara yang Menakjubkan



    Kerinci

    Danau Gunung Tujuh merupakan salah satu destinasi wisata alam menakjubkan yang wajib dikunjungi traveler jika datang ke Kabupaten Kerinci, Jambi.

    Jika datang ke destinasi wisata ini, maka traveler akan disuguhkan dengan pemandangan pagi yang begitu syahdu dan tenang. Kabut bak tembok putih perlahan-lahan pun membuka lanskap hijau danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara ini.

    Pemandangan inilah yang dinikmati wisatawan Danau Gunung Tujuh setiap pagi. Danau Gunung Tujuh dikelilingi perbukitan hijau dan udara sejuk khas pegunungan.


    Danau ini berada di Desa Palompek, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Jambi. Danau Gunung Tujuh memiliki ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan panjang 4,5 kilometer dan lebar 3 kilometer.

    Sesuai namanya, danau ini dikelilingi tujuh gunung di antaranya, Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Madura Besi (2.418 mdpl), Gunung Lumut (2.350 mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl), dan Gunung Tujuh (2.735 mdpl).

    Danau Gunung Tujuh adalah danau yang tercipta karena proses letusan gunung api dari Gunung Tujuh. Letusan gunung tersebut menyebabkan terbentuknya sebuah kawah besar yang kemudian terisi oleh air hujan sehingga membentuk sebuah danau.

    Perjalanan menuju Gunung Tujuh dapat dilakukan melalui transportasi darat. Jika berangkat dari Kota Sungai Penuh, jaraknya kurang lebih satu jam untuk sampai ke Pos Registrasi Pendakian Gunung Tujuh di Desa Palompek, yang dikelola Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

    Trekking menuju danau memakan waktu sekitar dua-tiga jam dengan jalur yang cukup menantang. Wisatawan akan melewati tiga pos dengan jalur tanah yang basah dan akar-akaran yang terus menanjak.

    Wisatawan berfoto di pinggir Danau Gunung Tujuh dengan latar gunung yang mengelilinginyaWisatawan berfoto di pinggir Danau Gunung Tujuh Foto: (Foto: Dimas Sanjaya)

    Wisatawan akan melewati hutan tropis yang rimbun dengan pepohonan besar. Sesekali, suara monyet dan kicauan burung bersautan menambah kesan alami dalam perjalanan ini. Meski cukup melelahkan, udara sejuk dan segarnya alam membuat rasa letih sedikit terobati.

    Setiba di pos tiga atau pos terakhir, wisatawan akan turun sekitar 500 meter untuk menuju danau. Jalur turun menuju danau ini sedikit curam sehingga memerlukan kehati-hatian, apalagi jika jalur dalam keadaan basah setelah hujan.

    Akan tetapi di jalur ini, ada pegangan tali yang memagari jalur hingga ke bawah danau, sebagai pegangan untuk para wisatawan.

    Setibanya di bawah, panorama Danau Gunung Tujuh langsung menyambut dengan keindahannya yang memukau. Airnya yang jernih membentang luas dengan latar belakang perbukitan hijau yang mengelilingi danau.

    Di tepian danau, wisatawan dapat mendirikan tenda untuk nge-camp. Wisatawan juga bisa memilih pulang di hari yang sama atau yang dikenal dengan istilah pendakian tektok. Jika nge-camp, wisatawan dapat mengabadikan momen matahari terbit dan kabut yang menyingsing di danau tertinggi ini.

    Pengalaman ke Danau Gunung Tujuh memberikan kesan mendalam bagi banyak wisatawan. Salah satunya, Rifani (27), wisatawan dari Kota Jambi, mengaku terpesona dengan keindahan alamnya terutama suasana pagi harinya.

    “Saya sudah dua kali ke sini, yang pertama tektok dan yang kedua kali ini nge-camp. Perjalanan ke sini memang melelahkan, tapi begitu sampai, semua terbayar lunas,” katanya.

    Danau Gunung TujuhDanau Gunung Tujuh Foto: detik

    Hal senada dikatakan wisatawan dari Sumatera Utara, Aryo (30) yang mengaku Danau Gunung Tujuh cocok untuk melepas penat dari hiruk pikuk perkotaan karena suasananya yang tenang. Ini merupakan pengalaman pertamanya mendaki di Danau Gunung Tujuh.

    “Sebelumnya saya cuma lihat-lihat di media sosial saja, tapi akhirnya bisa sampai ke Danau Gunung Tujuh ini. Suasana dan pemandangan di sini benar-benar keren,” ujarnya.

    Sebagai destinasi wisata alam yang masih alami, Danau Gunung Tujuh membutuhkan kesadaran wisatawan untuk menjaga kebersihannya. Masih banyak ditemukan sampah baik di tepi danau maupun di jalur pendakian.

    “Sangat disayangkan masih banyak pendaki meninggalkan sampah, semoga ada aturan tegas dari pengelola terkait masalah sampah ini agar tidak mengganggu ekosistem di sekitar danau,” kata Aryo.

    Selain berkemah di tepian danau, wisatawan juga dapat menikmati alam dengan memancing, atau sekadar duduk menikmati udara segar sambil menyeruput kopi hangat.

    Beberapa wisatawan juga memilih menjelajahi danau Gunung Tujuh dengan perahu kayu atau sampan milik warga setempat.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mushola di Palembang yang Dibangun Abad ke-18 dan Khusus buat Laki-laki



    Palembang

    Di Palembang, ada mushola bersejarah yang dibangun pada abad ke-18. Uniknya, mushola ini dikhususkan hanya untuk laki-laki saja. Perempuan tidak boleh!

    Mushola Al-Kautsar merupakan salah satu mushola tertua di Palembang. Mushola yang berada di Lorong Sungai Buntu, Kelurahan Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang itu sudah dibangun sejak abad ke-18.

    Saat berkunjung ke mushola ini, ada sejumlah pengurus mushola yang terlihat di sana. Mereka merupakan jemaah laki-laki yang baru saja menunaikan ibadah salat Asar di mushola tersebut.


    Mushola ini hampir sama dengan mushola pada umumnya. Menariknya, mushola ini berada di pinggir Sungai Musi. Lokasinya cukup sulit dijangkau dengan kendaraan roda empat lantaran akses menuju ke sana harus melalui lorong kecil yang diapit oleh dua bangunan milik warga.

    Sebelum masuk ke area mushola, pengunjung dapat memarkirkan kendaraan roda duanya di sepanjang lorong tersebut. Saat masuk ke area mushola, pengujung tak akan melihat ornamen atau hiasan yang mencolok. Sebab bangunan mushola ini hanya dikelilingi pagar besi berwarna hijau.

    Mushola ini sebagian besar dibuat dari kayu, termasuk lantai terasnya. Inilah yang membuat suasana di mushola itu adem dan nyaman.

    Di sisi teras mushola, jemaah bisa melihat langsung Sungai Musi yang terbentang. Ini menambah daya tariknya, sebab dari sana bisa langsung melihat kapal-kapal yang melintas di Sungai Musi.

    Cucu pendiri Mushola, Abdullah bin Alwi Bin Husein menjelaskan mushola ini memiliki luas kurang lebih 10×12 meter yang mana di dalamnya hanya terdapat 1 mimbar. Ada anak tangga di teras belakang mushola yang langsung berdampingan ke Sungai Musi.

    “Mushola ini dibangun di akhir abad ke-8. Mushola ini sempat rusak akibat dibom oleh Belanda saat Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang, pada tahun 1947 Masehi,” jelasnya, Senin (3/3/2025).

    Mimbar di dalam Mushola Al-Kautsar Palembang.Mushola Al-Kautsar Palembang Foto: Rio Roma Dhoni

    Mushola ini, kata dia, dibangun oleh Habib Husein bin Abdullah Alkaf dan dipergunakan sebagai tempat beribadah dan menyiarkan agama Islam.

    “Dari dulu emang dibangun di pinggir Sungai Musi. Masjid ini dijaga dari generasi ke generasi oleh keluarga Syekh Abu Bakar,” katanya.

    Abdullah menjelaskan, saat perang 5 hari 5 malam di Kota Palembang, mushola tersebut dibom oleh Belanda sehingga menyisakan sebagai bangunan mushola.

    Kemudian dibangun kembali oleh Habib Muhksin Syekh Abu Bakar dan hingga saat ini bangunan di dalam mushola masih seperti awal dibangun, tidak ada perombakan.

    “Untuk bagian dalamnya itu masih seperti dulu, tidak berubah, dari kayunya. Perbaikan hanya satu kali setelah dibom, itu saja. Paling ada penambahan kanan dan kiri ini saja, sebab masyarakat kita bertambah jadi diperluas bagian kanan dan kirinya,” ujarnya.

    Ia menyebut, sampai saat ini mushola tersebut dimanfaatkan untuk salat lima waktu. Namun, kata dia, hanya dikhususkan bagi jemaah laki-laki saja.

    “Jemaah perempuan tidak diperbolehkan salat di dalam mushola, sesuai dengan hukum syariat Islam. Jadi untuk jemaah perempuan, diarahkan untuk salat di masjid atau mushola lain,” kata dia.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Ini 10 Destinasi Liburan Menarik di Palangkaraya, Cocok bagi Pencinta Alam



    Jakarta

    Palangkaraya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, merupakan salah satu destinasi liburan yang menarik di Indonesia. Terkenal dengan keindahan alamnya yang masih asri dan budaya yang kaya, kota ini menawarkan berbagai pilihan tempat wisata yang cocok bagi para pecinta alam, petualangan, dan budaya.

    Berikut adalah beberapa destinasi liburan yang wajib dikunjungi ketika berlibur di Palangkaraya.

    1. Taman Nasional Sebangau


    Taman Nasional Sebangau merupakan salah satu kawasan konservasi hutan rawa yang terletak di Palangkaraya. Dikenal sebagai rumah bagi satwa liar seperti orangutan, beruang madu, dan berbagai jenis burung, taman nasional ini menawarkan pengalaman wisata alam yang luar biasa.

    Anda bisa melakukan trekking menyusuri hutan rawa dan menikmati keindahan alam sambil mengamati satwa liar di habitat aslinya. Taman ini juga menjadi tempat yang cocok bagi para pengamat burung dan pecinta fotografi alam.

    2. Bukit Tangkiling

    Bukit Tangkiling adalah destinasi wisata yang menawarkan panorama alam yang memukau. Terletak sekitar 25 km dari pusat kota Palangkaraya, bukit ini memberikan pemandangan hutan tropis Kalimantan yang sangat menawan.

    Di puncaknya, pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Palangkaraya dan sekitarnya. Bukit Tangkiling juga terkenal dengan tradisi adat Dayak yang masih dijaga oleh masyarakat sekitar, menjadikannya tempat yang menarik untuk belajar tentang budaya lokal.

    3. Kuala Kurun

    Kuala Kurun adalah ibu kota Kabupaten Gunung Mas yang terletak sekitar 100 km dari Palangkaraya. Kawasan ini dikenal dengan keindahan alamnya yang masih sangat alami.

    Jika Anda tertarik dengan wisata alam yang lebih tenang dan jauh dari keramaian, Kuala Kurun adalah pilihan yang tepat. Anda dapat menikmati pemandangan sungai, hutan tropis, dan budaya lokal suku Dayak yang khas.

    4. Danau Tahai

    Danau Tahai adalah sebuah danau alami yang terletak sekitar 20 km dari Palangkaraya. Danau ini dikelilingi oleh hutan rawa yang memberikan kesan tenang dan damai.

    Anda bisa menikmati kegiatan seperti perahu dayung atau sekadar menikmati keindahan alam sambil duduk di tepi danau. Keindahan Danau Tahai sangat cocok untuk wisatawan yang mencari ketenangan dan kedamaian di alam.

    5. Pusat Budaya Dayak

    Kalimantan Tengah, khususnya Palangkaraya, adalah rumah bagi suku Dayak yang memiliki budaya yang kaya dan unik. Di Palangkaraya, Anda bisa mengunjungi Pusat Budaya Dayak yang terletak di kawasan Tangkiling.

    Di sini, pengunjung bisa belajar tentang tradisi, adat istiadat, dan kerajinan tangan suku Dayak. Anda juga bisa menyaksikan berbagai pertunjukan seni tradisional Dayak yang menggambarkan kehidupan mereka sehari-hari.

    6. Cultural Park Palangkaraya

    Cultural Park Palangkaraya adalah sebuah taman budaya yang memiliki berbagai fasilitas untuk wisatawan. Di tempat ini, pengunjung bisa menikmati berbagai atraksi budaya, mulai dari pertunjukan seni, pameran kerajinan tangan, hingga acara tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya masyarakat Kalimantan Tengah. Taman ini juga sering menjadi tempat untuk acara-acara besar, seperti festival seni dan budaya.

    7. Sungai Kahayan

    Sungai Kahayan adalah sungai terbesar di Kalimantan Tengah yang mengalir melalui Palangkaraya. Sungai ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat setempat dan menawarkan pemandangan yang indah.

    Anda bisa menyewa perahu untuk berkeliling sungai, menikmati keindahan alam sekitar, dan merasakan kesejukan angin sungai. Sungai Kahayan juga menjadi jalur transportasi utama bagi masyarakat lokal, sehingga Anda dapat melihat kehidupan sehari-hari masyarakat setempat di sepanjang sungai.

    8. Masjid Raya Palangkaraya

    Masjid Raya Palangkaraya adalah salah satu masjid terbesar dan terindah di Kalimantan Tengah. Masjid ini memiliki arsitektur yang megah dengan desain yang memadukan gaya modern dan tradisional. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Masjid Raya juga menjadi salah satu ikon kota Palangkaraya yang wajib dikunjungi.

    9. Hutan Kota Palangkaraya

    Hutan Kota Palangkaraya adalah ruang hijau yang terletak di pusat kota. Tempat ini sangat cocok untuk berolahraga, berjalan-jalan santai, atau sekadar menikmati udara segar di tengah kota. Hutan Kota Palangkaraya juga menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna lokal, menjadikannya tempat yang menyenangkan untuk bersantai sambil menikmati keindahan alam kota.

    10. Jembatan Kahayan

    Jembatan Kahayan adalah salah satu ikon utama Palangkaraya yang menghubungkan kedua sisi Sungai Kahayan. Dengan panjang lebih dari 700 meter, jembatan ini menjadi jalur utama transportasi di kota ini dan sekaligus menjadi tempat yang ideal untuk menikmati pemandangan sungai dan kota dari ketinggian. Pada malam hari, Jembatan Kahayan terlihat sangat indah dengan cahaya lampu yang memantul di permukaan sungai.

    Palangkaraya menawarkan berbagai macam destinasi wisata yang bisa memuaskan hasrat liburan Anda, mulai dari wisata alam yang menakjubkan! Ikuti dan menangkan liburan ke Palangkaraya dengan Jerome Polin di sini. Jangan lupa untuk menjelajahi keindahan alam Palangkaya dengan booking tiketnya di BookCabin.

    (akn/ega)





    Sumber : travel.detik.com

  • Air Terjun Ini Lebih Terkenal di Mata Turis Asing daripada Warlok Bali



    Gianyar

    Di Bali, ada sebuah air terjun yang lebih dikenal oleh turis asing dibandingkan oleh warga lokal (warlok) Bali sendiri. Air terjun Kanto Lampo namanya.

    Sejumlah turis asing terlihat berdiri mengular di Air Terjun Kanto Lampo. Mereka menanti giliran untuk bisa berfoto dengan latar air terjun cantik tersebut.

    Jangan heran jika ada lebih banyak turis asing yang berkunjung ke air terjun ini dibandingkan dengan wisatawan domestik, bahkan warga lokal (warlok) Bali sendiri. Fenomena tersebut sudah biasa terjadi di Bali.


    Petugas Pemasaran Air Terjun Kanto Lampo, Ita Pratistita, menuturkan air terjun yang ditemukan pada tahun 2016 silam itu memang lebih populer di kalangan pelancong asing.

    “Jumlah wisatawan asing sampai 80 persen, sedangkan sisanya domestik,” ungkap dia.

    Menurut Ita, jumlah pengunjung Air Terjun Kanto Lampo saat musim liburan bisa mencapai 1.000 turis. Sedangkan saat hari biasa hanya 500 pelancong. Adapun, wisatawan domestik ramai saat libur sekolah dan Lebaran.

    Saat kami pelesiran ke Air Terjun Kanto Lampo. memang terlihat bagian besar pengunjung saat itu merupakan turis asing.

    Sejumlah konten kreator asing dan pemengaruh mancanegara pelesiran ke sana lalu mengunggah foto maupun video selama pelesiran di sana.

    Ita menjelaskan kenapa Air Terjun Kanto Lampo banyak dikunjungi turis asing karena objek wisata tersebut viral di dunia maya.

    Wisatawan berfoto di jembatan bambu di kawasan objek wisata Air Terjun Kantolampo, Gianyar, Bali, Sabtu (12/4/2025).Wisatawan berfoto di Air Terjun Kanto Lampo Foto: Gangsar Parikesit/detikBali

    Hal itu juga yang membuat pengelola Air Terjun Kanto Lampo, warga Banjar Kelod Kangin, menerapkan tiket yang sama untuk wisatawan asing dan domestik yakni Rp 25 ribu per orang. Padahal, sejumlah objek wisata di Pulau Dewata menerapkan tarif berbeda antara pelancong asing, domestik, dan pemegang KTP Bali.

    Menurut Ita, daya tarik Air Terjun Kanto Lampo adalah batu berundak yang jadi latar air terjun. Selain itu, bebatuan besar yang berada di sungai mempercantik objek wisata tersebut.

    Momen terbaik datang ke Air Terjun Kanto Lampo pada pukul 07.00-09.00 Wita. Saat itu, objek wisata tersebut belum dipadati oleh wisatawan sehingga bisa puas berfoto di air terjun.

    Buat traveler yang ingin melali (jalan-jalan) ke Air Terjun Kanto Lampo jangan khawatir. Objek wisata tersebut sudah dilengkapi beragam fasilitas seperti tempat parkir, kamar mandi, ruang ganti, hingga food court.

    Sayangnya, pengelola Air Terjun Kanto Lampo belum menyiapkan transaksi nontunai. Traveler perlu menyiapkan uang tunai. Selain itu, objek wisata yang berada di Desa Adat Beng, Gianyar, Bali tersebut juga belum dilengkapi musala.

    Tiket masuk seharga Rp 25 ribu cukup sepadan untuk menikmati air terjun dan rindangnya pepohonan di sana. detikers juga bisa berendam di kolam, treking menyusuri tepi sungai, singgah ke Goa Tan Hana, hingga berfoto lalu menggunggahnya di media sosial.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikBali.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Makam Misterius di Jalur Pantura Lasem, Konon Milik Intel Zaman VOC



    Lasem

    Jalur Pantai Utara (Pantura) Lasem menyimpan makam yang sederhana namun misterius. Konon, makam itu milik ‘agen rahasia’ pada zaman VOC.

    Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jalur Pantura yang membelah wilayah Lasem di kabupaten Rembang, Jawa Tengah tersembunyi sebuah makam sederhana penuh misteri.

    Terletak tidak jauh dari badan jalan. Tepat di sebelah utara Jalur Pantura masuk Dukuh Caruban, Desa Gedongmulyo, Lasem. Tak jauh dengan lokasi Sungai Kiringan atau Kairingan, atau sebelah timurnya, makam ini dikenal masyarakat sebagai makam Mbah Galio atau Mbah Sedandang.


    Tidak sedikit yang percaya, ia bukan orang biasa, melainkan seorang inteligen sekaligus pengawal setia Raden Panji Margono, tokoh perlawanan terhadap VOC Belanda dalam Perang Kuning di Lasem.

    Sepintas melihat, makam ini nyaris tidak mencolok. Diteduhi pohon tua dan dilindungi cungkup kayu yang sangat sederhana. Keberadaannya seolah terlupakan oleh modernitas. Namun, bagi sebagian masyarakat Lasem, makam ini adalah saksi bisu perjuangan heroik di masa lampau.

    “Nama Mbah Galio memang tidak muncul dalam buku-buku sejarah resmi, tapi dalam penuturan masyarakat tua, beliau adalah orang kepercayaan Raden Panji Margono. Perannya cukup penting dalam Perang Kuning melawan VOC yang terjadi sekitar abad ke-18,” ujar Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Forkmas) Lasem, Ernantoro, Minggu (4/5/2025).

    Menurut Ernantoro, Mbah Galio bukan sekadar pengawal. Ia disebut-sebut sebagai mata-mata ulung, sebagai seorang intelijen pemberi informasi dalam mengatur strategi perang.

    Makam misterius di Pantura Lasem, Rembang, Minggu (4/5/2025). Konon makamnya Mbah Galio (Mbah Sedandang) pengawal Raden Panji Margono, tokoh pemimpin Perang Kuning.Makam misterius di Jalur Pantura Lasem Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

    Ia mampu menyamar dengan sangat baik, bahkan hingga dianggap orang biasa oleh masyarakat umum. Karena kesederhanaan dan kemisteriusannya, ia dijuluki Mbah Sedandang, sosok yang selalu membawa dandang (panci tradisional untuk mengukus) dan berpakaian seperti rakyat jelata.

    “Konon, beliau sering muncul tiba-tiba di tempat berbeda. Ini yang membuatnya dijuluki sebagai intelijen. Dia suka nyamar dengan memikuk dandang tiap ke mana-mana. Namun, hingga kini, keberadaan dan identitas aslinya tetap menjadi teka-teki,” tambah Ernantoro.

    Perang Kuning sendiri merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perlawanan lokal Lasem terhadap kolonialisme Belanda.

    Dipimpin oleh Raden Panji Margono, perang ini melibatkan jaringan perlawanan rakyat yang tersebar hingga ke pelosok desa. Banyak tokoh penting yang gugur, dan sebagian jejaknya terkubur oleh waktu, salah satunya adalah Mbah Galio.

    Meski tidak tercatat dalam arsip resmi kolonial, makam Mbah Galio tetap dihormati oleh warga sekitar. “Tempat ini sering dianggap angker, tapi sebenarnya tidak,” ungkap Ernantoro.

    Forkmas Lasem kini tengah mengusulkan agar situs makam Mbah Galio dijadikan cagar budaya lokal, sebagai upaya pelestarian sejarah lisan yang masih hidup di tengah masyarakat.

    “Sejarah tidak selalu harus tertulis. Selama masih hidup dalam ingatan kolektif, ia layak dihormati dan dilestarikan,” pungkasnya.

    Di tengah lalu lintas kendaraan berat dan debu jalanan Pantura, makam Mbah Galio berdiri diam, menyimpan cerita tentang keberanian, pengabdian, dan misteri yang belum terpecahkan.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Begini Wajah Terkini Kampung Pelangi di Bandung, Penuh Warna-warni



    Bandung

    Kampung Pelangi di Bandung kini punya wajah baru. Warna-warni cerah kampung yang kini berubah nama menjadi Lembur Katumbiri itu telah kembali.

    Pemandangan penuh warna yang unik dan semarak kini sudah siap menyambut siapa saja wisatawan yang menyambangi kawasan Lembur Katumbiri di Kota Bandung.

    Perkampungan dengan topografi berundak-undak ini menjadi rumah bagi ratusan warga yang menghuni bangunan dengan aneka mural berwarna-warni cerah.


    Rumah-rumah berwana tersebut berdiri di lereng Sungai Cikapundung, tepatnya terletak di Jalan Siliwangi, RT 03 RW 12 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong. Jalan masuknya dapat diakses melalui Gang Bapa Ehom yang berada di samping area Teras Cikapundung.

    Tim detikJabar menyambangi Lembur Katumbiri yang baru diresmikan hari Selasa (6/5/2025) ini. Di pagi hari, suasana jalan Gang Bapa Ehom menuju Lembur Katumbiri terasa segar dan sejuk, dengan gemercik suara sungai dan sinar matahari menerobos pepohonan.

    Lembur Katumbiri di Kota BandungLembur Katumbiri di Kota Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Tak heran, banyak pejalan kaki maupun pelari yang terpantau mengunjungi kawasan ini untuk berolahraga. Terlebih, jalan setapak yang telah dipugar ini juga terlihat bersih dan asri.

    Untuk mencapai Lembur Katumbiri, traveler perlu berjalan sekitar 600-an meter dari bibir gang, dengan jalan yang relatif datar dan aman untuk dilalui siapa saja. Namun, ada beberapa titik yang licin dan perlu diwaspadai terutama bila hujan turun.

    Warna-warni cerah dinding rumah mulai terlihat setelah berjalan kaki santai selama kurang lebih 10 menit. Ada spot foto yang bisa digunakan pengunjung untuk mengabadikan momen dengan latar rumah warna-warni. Namun, untuk mengakses kampung ini, pengunjung harus melalui turunan dan tanjakan yang cukup curam.

    Lembur Katumbiri di Kota BandungLembur Katumbiri di Kota Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Lembur atau kampung yang sebelumnya dinamai Kampung Pelangi 200 ini telah cukup lama menjadi salah satu spot wisata ‘Instagramable’ Kota Bandung, yakni sejak 2018-an. Namun, seiring waktu, warna-warni kampung ini perlahan pudar.

    Oleh karena itu, pemerintah Kota Bandung bersama seniman mural John Martono dan warga setempat kembali mengecat sebanyak hampir 200 rumah di kawasan ini agar kembali menarik.

    Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan pengecatan kembali rumah-rumah di Lembur Katumbiri bertujuan untuk menjadikan kawasan ini sebagai tempat wisata tersembunyi atau ‘hidden gem’ yang menarik bagi wisatawan.

    “Tujuannya adalah untuk memberikan alternatif ‘hidden gem’, sebuah konsep yang bisa dibuat sebenarnya. Tempat tersendiri, jauh dari keramaian, sangat menyenagkan untuk didatangi wisatawan,” ungkap Farhan di sela peresmian Lembur Katumbiri.

    Nama katumbiri alias “pelangi” dalam Bahasa Sunda dipilih karena merepresentasikan suasana rumah dengan mural warna-warni di kawasan ini. Ia berharap warga setempat dapat memanfaatkan hal ini dengan membuka tempat usaha yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai.

    “Wisatawan bisa bikin konten di sini. Warga silakan buat tempat jajan, tempat duduk-duduk dan foto2-foto. Asalkan tetap jaga kebersihan dan keselamatan,” terangnya.

    Pengecetan Lembur Katumbiri Melibatkan Warga

    Sementara itu, seniman mural John Martono mengatakan ia memerlukan waktu sekitar 17 hari untuk mengecat 200-an rumah di Lembur Katumbiri. Pengecatan dilakukan bekerja sama dengan sejumlah pihak, tak terkecuali warga setempat.

    “Ada teman-teman dan pegawai yang ngecat, juga warga sekitar. Ini adalah kerja sama kami. Kita usahakan agar setiap rumah warnanya berbeda-beda,” ungkap John.

    Ia mengatakan proses awal pengecetan dimulai dengan membuat sketsa kasar di smartphone tentang mural yang akan diaplikasikan di dinding-dinding rumah. Setelah berembuk dengan para pengecat, mereka kemudian mulai bahu-membahu melakukan pengecatan.

    “Tapi memang ada beberapa spot yang sulit dijangkau, jadi kita maksimalkan di dinding-dinding lain,” terangnya.

    Ia mengatakan tidak ada konsep spesifik yang diterapkan di karya mural Lembur Katumbiri. Tujuannya adalah membuat suasana lebih semarak dan berwarna, dan adaptif dengan keinginan warga setempat yang ingin mewarnai kampung mereka dengan gambar-gambar tertentu.

    “Jadi keseluruhan mural ini memiliki alur yang menggambarkan bahwa hidup adalah hal yang situasional, kita harus fleksibel menghadapi berbagai situasi. Saya menamainya ‘the journey of happiness’”, papar John.

    Warga Berharap Roda Ekonomi Berputar

    Sementara itu, Ketua RT 10 RW 12 Kelurahan Dago, Rasimun mengatakan warga setempat mendukung pengecatan kembali tempat tinggal mereka menjadi warna-warni. Ia berharap, peresmian kampung mereka menjadi Lembur Katumbiri dapat mendorong bergeraknya perekonomian warga setempat.

    “Perekonomian warga minimal ya harus ada peningkatan lah ke depannya. Untuk saat ini mungkin belum, karena masih baru. Mudah-mudahan ke depannya akan ada pedagang baru bermunculan setelah peresmian ini,” ungkap Rasimun.

    ——

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Alun-Alun Barat Depok, Kebanggaan Warga Sawangan, Cocok buat Berakhir Pekan



    Depok

    Depok mempunyai dua alun-alun, ada yang di bagian timur dan barat. Alun-alun Barat (Albar) menyuguhkan pesona tersendiri sebagai tempat kumpul warga.

    Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar) berada di Sawangan lama, Depok masuk lewat perumahan Shila Sawangan. Albar terasa berbeda dari Altim, yang berada di Grand Depok City, terutama kontur dan luasnya.

    Dibangun pada 2024, Albar memiliki luas 2,1 hektar. Lebih kecil dari Altim, tapi tampak lebih mencolok dengan Jembatan Juara di atas Setu Tujuh Muara.


    Jembatan sepanjang 168 meter itu menghubungkan kelurahan Sawangan dan Bojongsari. Dibuat dengan menggunakan sling, jadilah jembatan gantung khusus orang.

    Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar)Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar) (Rifkianto Nugroho/detikcom)

    Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Hutan Raya (Tahura) Kota Depok Lintang Yuniar Pratiwi mengatakan jembatan itu aman dengan kapasitas 40-60 orang dalam satu waktu.

    “Motor nggak boleh lewat, sepeda juga. Hanya orang saja, karena ada CCTV, pos pantau dan keamanan,” katanya pada Kamis (14/5).

    Pengunjung atau warga yang ingin menyeberang tidak diperbolehkan untuk berhenti terlalu lama di tengah jembatan. Jalur jembatan pun dibuat khusus untuk dua arah, agar tidak ada kendaraan atau orang berkumpul di sepanjang area.

    “Jembatan kita fasilitasi penangkal petir, tapi kalau mulai mendung dengan potensi petir, akan kita tutup,” kata dia.

    Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar)Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar) (Rifkianto Nugroho/detikcom)

    Bukan cuma kendaraan bermotor, drone pun dilarang terbang tanpa izin.

    Selain jembatan gantung, Albar juga memiliki gedung serbaguna. Gedung berkapasitas 700-1.000 orang itu disewakan. Sejauh ini, mayoritas penyewa menggunakan gedung serbaguna itu untuk kegiatan sekolah atau hajatan.

    Dengan luas hanya setengah dari Altim, Albar didesain untuk terlihat lebih luas. Joging trek dipasang mengelilingi taman dengan variasi kolam dan sungai.

    Taman Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) berada di tengah. Perosotan, jungkat-jungkit, dan ayunan menjadi favorit anak-anak. Devan yang berusia dua tahun memilih perosotan sebagai kesukaannya.

    Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar)Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar) 9Rifkianto Nugroho/detikcom)

    “Iya tadi dia main perosotan,” kata salah satu ibu yang berkunjung pada Jumat (16/5).

    Saat pagi hari memang didominasi oleh keluarga yang membawa anak. Mereka bisa jogging, selagi anak bermain tanpa perlu khawatir.

    Salman, bayi yang berusia satu setengah tahun, juga ikut merasakan senangnya bermain di Albar. Bocah laki-laki itu berlarian di sepanjang jembatan tanpa alas kaki. Ia tampak senang, sesekali jongkok untuk melihat ke bawah air.

    “Sering saya bawa ke sini. Dia bisa bermain sambil berjemur kalau pagi-pagi,” kata ayah Salman.

    Hal lain yang menambah keestetikan Albar adalah kios khusus UMKM. Lintang berkata bahwa bangunan terdiri dari 12 unit yang diperuntukkan bagi 11 kecamatan dengan luas 3×3. Sayang, kios UMKM hanya buka di akhir pekan saja.

    Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar)Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar) (Rifkianto Nugroho/detikcom)

    “Untuk Kecamatan dua unit, karena lokasinya di Sawangan,” kata dia.

    Menurut Joni, seorang juru parkir Albar, alun-alun tersebut paling ramai dikunjungi saat akhir pekan. Warga sekitar datang pagi-pagi untuk olahraga. Minggu biasanya menjadi hari yang paling ramai pengunjung.

    “Di parkiran sini dibikin tiga layer, bisa sampai 300 motor,” kata dia.

    Di hari libur, parkir kerap overload, sementara pengunjung antre untuk masuk. Pengelola menyediakan parkir di sisi utara, parkir di bawah gedung serbaguna atau kantong parkir lainnya.

    “Kalau ada event kita koordinasi dengan petugas linmas dari kecamatan Bojongsari,” kata dia.

    Albar memang sengaja untuk memfasilitasi masyarakat Depok di bagian barat, sehingga pergerakan masyarakat tak melulu terpusat di Margonda. Masyarakat kini bisa menggunakan fasilitas berupa body gym, area akupuntur dan joging trek untuk berolahraga. Kawasan pohon jati di area jembatan gantung membuat suasana alun-alun semakin teduh.

    Alun-alun ini buka mulai pukul 06.00-18.00 WIB dan gratis.

    (bnl/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Wisata Rakit Danau Lido, Alternatif Liburan Murah dan Sejuk di Bogor


    Jakarta

    Danau Lido di Bogor, Jawa Barat adalah spot liburan alternatif bagi yang tidak bisa jauh dari Jakarta. Di sini tersedia beragam wahana rekreasi dan kuliner yang bisa dinikmat bersama keluarga.

    Salah satu bentuk wisata yang jangan sampai terlewat adalah perahu rakit yang disewakan warga sekitar. Pengunjung tentunya wajib membayar biaya sewa sesuai lokasi tujuan.

    Lokasi Danau Lido

    Danau Lido terletak di Jl. Raya Bogor-Sukabumi Km 21, Watesjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Luas Danau Lido awalnya 24 hektar namun menjadi hanya 11-12 hektar seperti dijelaskan dalam arsip berita detikcom.


    Kedalaman Danau Lido adalah 9 meter dikutip dari tulisan Daya Dukung Perairan Danau Lido Berkaitan dengan Pemanfaatannya untuk Kegiatan Budidaya Perikanan Sistem Keramba Jaring Apung karya Fredrik Tambunan, dkk, dari IPB University. Danau Lido mengalami sedimentasi seluas 3 hektar akibat kegiatan yang tidak ramah lingkungan.

    Kawasan yang juga disebut Situ Lido ini dikelilingi pemandangan hijau dan cuaca sejuk sehingga cocok sebagai lokasi wisata. Angin di sekitar Danau Lido bertiup sepoi dan tidak terlalu kencang sehingga terasa sangat nyaman.

    Biaya Masuk Danau Lido dan Tarif Wisata Rakit

    Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

    Tarif Masuk Danau Lido

    Danau Lido tidak menetapkan biaya masuk, kecuali wisatawan mengunjungi kawasan wisata yang dikelola pihak swasta. Pengunjung tentunya jangan sampai melewatkan perahu rakit yang dikelola masyarakat setempat.

    Tarif Wisata Rakit Danau Lido

    Biaya sewa perahu rakit Danau Lido adalah:

    Keliling danau

    • WNI: Rp 150 ribu per kelompok
    • WNA: Rp 500 ribu per kelompok.

    Antar jemput restoran

    Perahu rakit untuk antar jemput tamu restoran biasanya dimiliki masing-masing tempat makan. Tamu bisa memilih makan di perahu rakit atau di dalam restoran. Untuk tamu yang memilih makan di perahu, menu akan dikirim dari restoran pilihan.

    Danau Lido bisa diakses dengan mobil dan kereta dengan rute sebagai berikut:

    Mobil

    • 2 jam 3 menit lewat Jl. Tol Jagorawi sejauh 78 km
    • 2 jam 10 menit lewat Jl. Tol Jagorawi dan Jl. Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi sejauh 83,6 km.

    Kereta

    • Naik KRL tujuan Stasiun Bogor di Kota Bogor
    • Lanjut kereta Pangrango rute Bogor-Sukabumi turun di Stasiun Cigombong
    • Pengunjung bisa melanjutkan dengan perjalanan sejauh 2,7-3,4 km menuju Danau Lido.

    Sejarah Danau Lido dari Masa ke Masa

    Danau Lido BogorDanau Lido Bogor (bonauli/detikcom)

    Danau Lido sebetulnya sudah lama dikenal sebagai tempat liburan dengan air jernih, tenang, dan hawa sejuk. Warga sekitar senang datang ke Danau Lido untuk cuci mata atau sekadar melihat pemandangan.

    Menurut Ketua Paguyuban Kluster Wisata Rakit Danau Lido, Indra Jaya Lesmana, ikan di dalam danau bisa terlihat karena jernihnya air. Namun air jernih dan luasnya danau yang seperti tak bertepi perlahan menghilang akibat sedimentasi.

    “Dulu warna air Danau Lido jernih, ikan-ikan masih bisa terlihat dari permukaan. Namun sedimentasi mengakibatkan danau makin keruh dan besarnya terus menyusut,” kata Indra.

    Danau Lido mendapat sorotan lebih luas setelah memperoleh status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dikelola MNC Land. KEK MNC Lido City ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah nomor 69 tahun 2021, sementara peresmiannya dilakukan pada Jumat, 31 Maret 2023.

    Fokus KEK MNC Lido City adalah pariwisata terintegrasi yang memudahkan pengunjung. Dalam perjalanannya, KEK ini ditengarai menyebabkan sedimentasi yang berisiko mengganggu keseimbangan lingkungan sekitar. Risikonya adalah bisa terjadi banjir besar di daerah hilir, karena Danau Lido berada di area hulu Sungai Cisadane.

    Pemerintah lantas melakukan investigasi yang membuktikan KEK MNC Lido City melakukan reklamasi pada Danau Lido seluas 3 hektar. Pemerintah juga menggelar audiensi dengan masyarakat dan dinas terkait yang menghasilkan bukti KEK MNC Lido City belum memiliki izin lingkungan.

    Dengan hasil tersebut, pemerintah menyegel KEK MNC Lido City dan melarang pembangunan. Perkara ini dikabarkan sudah naik ke tahap penyidikan sesuai arsip berita detikcom pada Senin (19/5/2025). Hingga kini, perkara KEK MNC Lido City dan izin lingkungannya masih berlanjut

    (row/fem)



    Sumber : travel.detik.com