Tag: suspension

  • Tips Naik Rengganis Suspension Bridge, Tiket Paketan, dan Larangan


    Jakarta

    Rengganis Suspension Bridge atau Jembatan Gantung Rengganis menjadi salah satu pilihan wisata yang direkomendasikan di Bandung, Jawa Barat. Jembatan ini bisa membawa wisatawan menuju ke Kawah Rengganis.

    Buat traveler yang masih bingung bagaimana cara naik Rengganis Suspension Bridge, simak dulu artikel ini untuk mengetahui informasi lengkapnya, mulai dari apa itu Rengganis Suspension Bridge, tips naik jembatan dan Keranjang Sultan, hal-hal yang dilarang, harga tiket paketan, lokasi dan jam buka.

    Sekilas Tentang Rengganis Suspension Bridge

    Dilansir dari laman Pemkab Bandung, Rengganis Suspension Bridge atau Jembatan Gantung Rengganis memiliki panjang 370 meter. Diklaim bahwa jembatan ini adalah jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara.


    Jembatan Rengganis dilengkapi kabel sling 50 mm dengan 4 bentangan di bagian bawah dan dua pada suspension. Pada bagian alasnya menggunakan kayu ulin sehingga membuatnya tampak alami dan berpadu dengan suasana alam di sekitarnya.

    Kawah Rengganis berada dalam kawasan Kawah Rengganis. Selain menguji adrenalin, traveler bisa berendam di air panas alami yang mengandung belerang, mandi lumpur, atau bersantai di bawah pancuran air panas

    Di sini, wisatawan juga bisa sekaligus menikmati panorama melalui wahana Keranjang Sultan. Cukup duduk manis di keranjang, kamu akan meluncur hingga di atas ketinggian. Selain itu, traveler juga bisa bermain di Glamping Lakeside yang masih berada di satu kawasan.

    Jembatan Gantung RengganisJembatan Gantung Rengganis (Instagram @rengganissuspensionbridge)

    Tips Naik Rengganis Suspension Bridge

    Tak perlu bingung bagaimana cara naik Rengganis Suspension Bridge. Simak beberapa tips berikut ini.

    Lokasi dan Jam Buka

    Untuk naik Rengganis Suspension Bridge, detikers harus menuju ke arah Kawah Rengganis, Situ Patenggang, atau Glamping Lakeside, yang berada di Gunung Patuha, Rancabali, Ciwidey, Kabupaten Bandung.

    Dalam perjalanan, detikers akan melewati perkebunan teh. Ikuti petunjuk arah yang mengarahkan ke Kawah Rengganis menggunakan jembatan gantung. Datanglah pada jam buka, yakni pukul 07.00-17.00 WIB setiap hari.

    Di Pintu Masuk

    Di loket, detikers bisa memilih beberapa jenis paket. Untuk bisa naik Rengganis Suspension Bridge, kamu harus membeli tiket Reguler atau VIP. Tiket Reguler hanya bisa dipakai naik jembatan gantung saat kembali dari Kawah Rengganis. Sementara tiket VIP bisa dipakai pergi-pulang.

    Jembatan gantung ini memperpendek jarak menuju ke Kawah Rengganis, dari yang mencapai lebih dari 1 km, menjadi 370 meter saja. Tapi bagi yang takut naik jembatan, tentu harus melewati jalur biasa.

    Aturan dan Larangan

    Berdasarkan papan yang berada di Rengganis Suspension Bridge, berikut ini beberapa aturan dan larangan saat naik jembatan gantung:

    • Pengunjung harus menggunakan peralatan keamanan yang disediakan.
    • Mengikuti panduan dari guide.
    • Dilarang berlari-lari saat berada di atas jembatan.
    • Dilarang melompat-lompat saat berada di atas jembatan.
    • Dilarang menggoyang-goyangkan jembatan.
    • Dilarang memanjat pagar jembatan.
    • Dilarang membuang benda apapun dari atas jembatan.
    • Pengunjung dengan riwayat sakit jantung dilarang naik.

    Berada di Kawah Rengganis

    Kawah RengganisKawah Rengganis (Satria Nandha)

    Setelah tiba di ujung jembatan, traveler harus turun melewati jalan tanah berbatu menuju Kawah Rengganis. Kamu bisa berendam di air panas alami yang mengandung belerang, mandi lumpur, atau bersantai di bawah pancuran air panas. Namun disarankan untuk berada di sini lebih dari 30 menit, karena bau belerang yang sangat menyengat.

    Naik Keranjang Sultan

    Bagi pengguna tiket VIP, kalian bisa naik Keranjang Sultan untuk kembali ke pintu masuk. Jadi detikers tidak perlu capek-capek berjalan lagi.

    Harga Tiket Paketan

    Harga tiket paketan naik Rengganis Suspension Bridge adalah sebagai berikut:

    • Paket Reguler: Rp 70 ribu per orang
      (Masuk Kawah Rengganis, naik jembatan gantung 1 kali saat pulang, masuk Situ Patenggang dan Pinisi Glamping Lakeside.)
    • Paket VIP: Rp 100 ribu per orang
      (Naik jembatan gantung 2 kali pergi-pulang, masuk Kawah Rengganis, masuk Situ Patenggang dan naik semua wahana Pinisi Glamping Lakeside.)

    Itulah tadi informasi lengkap mengenai Rengganis Suspension Bridge, termasuk tips naik jembatan gantung, aturan dan larangan, hingga harga tiket masuknya.

    (bai/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • Pokoknya Jangan Ngebut Pakai Pajero-Fortuner di Tol kalau Mau Panjang Umur!



    Jakarta

    Dua mobil SUV ladder frame, Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport, sering digunakan dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Padahal, memacu mobil SUV standar di jalan tol dengan kecepatan tinggi memiliki risiko tinggi.

    Praktisi keselamatan berkendara tidak menyarankan penggunaan SUV untuk kebut-kebutan di jalan umum. Apalagi, mobil tersebut sejatinya memang dirancang nyaman. Memacu SUV dengan ground clearance tinggi dan suspensi nyaman di jalan tol berisiko buat keselamatan. Tak jarang kecelakaan terjadi akibat memacu mobil hingga kecepatan tinggi di jalan tol. Bahkan, kecelakaan tersebut sampai merenggut nyawa.


    SUV ladder frame seperti Mitsubishi Pajero dan Toyota Fortuner memiliki bantingan suspensi yang nyaman. Dengan suspensi nyaman, biasanya mobil berisiko limbung hingga menyebabkan kehilangan keseimbangan saat dipacu dengan kecepatan tinggi.

    “Kalau suspension empuk maka limbung, suspension stabil cenderung lebih keras. Tapi banyak produk after market bisa menyempurnakan ini,” kata praktisi keselamatan berkendara yang juga Road Safety Commission Ikatan Motor Indonesia (IMI) Erreza Hardian kepada detikOto beberapa waktu lalu.

    Selain itu, dimensi kendaraan juga dapat mempengaruhi keseimbangan mobil saat ngebut di jalan tol. Menurut Reza, makin tinggi dari permukaan maka titik beratnya juga makin tinggi.

    “Maka risiko terguling ada. Ini kayak bawa barang tapi di atas kepala. Makanya ada peringatan di setiap SUV baca buku manual di sun visor biasanya,” ujar Reza yang juga menjadi Wakil Ketua Umum Bidang Diklat Perkumpulan Keamanan dan Keselamatan Indonesia (Kamselindo).

    Selain itu, mobil SUV ladder frame 2WD yang biasanya menggunakan penggerak roda belakang, menurut Reza, cenderung oversteer. Hal itu juga menjadi kombinasi yang membahayakan.

    “Titik berat di atas, lebar ban pendek, suspension empuk dan kecepatan tinggi,” bebernya.

    “Dengan bobot dan torsi serta konstruksi SUV ini memang idealnya 4WD agar ada penggerak pendorong. Saat limbung dan slip bagian belakang, ada ban depan yang menarik. Ban juga pengaruh karena dia bagian terakhir yang menapak pada permukaan jalan. Bisa dia juga sebagai suspension. Sayangnya di Indonesia 4WD ini masih dianggap barang mewah dengan pajak tinggi padahal ini bicara POV keselamatan,” jelas Reza.

    Sony Susmana, praktisi keselamatan berkendara yang juga Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), mengatakan bahwa mobil-mobil SUV ladder frame seperti Fortuner dan Pajero bukan dirancang kendaraan untuk kebut-kebutan di jalan tol. Sebab, mobil dengan dimensi bongsor tersebut bisa kehilangan kestabilan apabila dipacu dengan kecepatan tinggi di jalan tol.

    “Kendaraan-kendaraan yang big SUV rata-rata sasisnya ladder frame, antara sasis dan bodi tidak menyatu atau terpisah. Artinya, bodi mobil pada jenis sasis ini diletakkan di atas sasis lalu disambungkan. Bisa dikatakan secara bentuk lebih jangkung atau tinggi. Sehingga gejala limbung atau bounching yang terjadi lebih besar,” ujar Sony kepada detikOto beberapa waktu lalu.

    Ketika digunakan ngebut di jalan tol, Pajero Sport atau Fortuner kestabilannya mungkin tidak sebaik kendaraan dengan jenis sasis monokok. Kestabilan yang labil di kecepatan tinggi akan mempengaruhi handling. Hal ini bisa berakibat fatal terutama jika pengemudinya tak sigap.

    “Bentuk bodi seperti ini karakternya menangkap angin terutama di kecepatan tinggi. Sekalipun sudah didesain oleh tenaga-tenaga ahli tetap aja ada batas toleransinya,” jelas Sony.

    Ketika memacu SUV bongsor di kecepatan tinggi, seringnya berisiko membuat selip atau bahkan mudah terbalik. Ini bisa diakibatkan oleh terpaan angin dari depan ataupun samping.

    “Kalau bicara ngebut sih bisa, toh power dari mesinnya besar. Dan ada kok balapan mobil SUV di sirkuit. Tapi, itu sudah dimodifikasi ya. Sementara kendaraan-kendaraan standar tersebut didesain hanya untuk jalan raya yang lebih mengedepankan kenyamanan,” sebut Sony.

    Jadi, kalaupun mau kebut-kebutan pakai SUV seperti Fortuner dan Pajero Sport boleh-boleh saja. Tapi dilakukan di lingkungan tertutup seperti di sirkuit dan dengan memodifikasi komponen tertentu agar lebih stabil.

    (rgr/din)



    Sumber : oto.detik.com