Tag: sutradara

  • Australia Awards Buka Beasiswa Belajar Jadi Penulis Naskah & Sutradara Film, Minat?



    Jakarta

    Apakah detikers punya mimpi jadi sutradara atau penulis naskah film? Tahun ini, Kedutaan Besar Australia lewat Australia Awards Scholarships (AAS) menyediakan beasiswa bagi warga Indonesia yang ingin belajar dua keahlian tersebut.

    Beasiswa At the Forefront of Film – Screenwriting and Directing ini akan memberikan pelatihan penyutradaraan dan menulis naskah film lewat sebuah kursus singkat selama satu bulan. Awardee nantinya akan dibawa langsung ke Australia.

    Selama dua minggu, peserta akan belajar prinsip dasar menulis naskah dan penyutradaraan, teknik mengembangkan ide tulisan, membuat film pendek, dan masih banyak lagi. Kemudian, peserta kembali ke Indonesia untuk melakukan lokakarya selama dua minggu.


    Di akhir kelas, peserta diberi kesempatan memamerkan karyanya di festival film tahunan yang digelar oleh Kedutaan Besar Australia-Indonesia. Detikers tertarik? Simak informasi ini terlebih dahulu, sebagaimana dijelaskan pada laman Australia Awards:

    Benefit Peserta Kursus Film AAS

    Selain teori tentang penyutradaraan film dan menulis naskah film, peserta juga akan memperoleh tambahan kegiatan berupa:

    • Studi kasus
    • Sesi pelatihan
    • Diskusi panel
    • Simulasi dan permainan peran
    • Kunjungan lapangan
    • Program sosial
    • Peluang membangun jaringan dengan organisasi-organisasi hingga industri di Australia

    Hal-hal yang Dipelajari Peserta Kursus Film AAS

    • Belajar tentang sektor film Australia, termasuk pembuatan film, penyutradaraan film, produksi media film dan layar serta penulisan naskah.
    • Mengembangkan dan mengajukan konsep naskah yang terstruktur dengan baik dan menarik.
    • Menerapkan keterampilan menulis kreatif dan berpikir kritis secara kolaboratif.
    • Menyusun skenario untuk film menerapkan umpan balik yang membangun untuk ditinjau dan mengedit skenario film.
    • Mengembangkan keterampilan komunikasi dan negosiasi yang efektif dalam pengarahan dan produksi proyek film.
    • Mengembangkan pemahaman tentang penulisan skenario, penyutradaraan dan produksi film sebagai proses kolaboratif.
    • Mengembangkan keterampilan untuk fokus pada konsep, struktur, cerita, karakter dan interaksi di antara peserta.
    • Menerapkan pembelajaran proaktif yang membangun untuk meninjau dan mengedit skenario film.
    • Memahami secara kritis berbagai pendekatan berbeda dalam menulis dan menyutradarai lewat konteks budaya bercerita.
    • Menerapkan manajemen proyek yang efektif dan keterampilan kerja tim dalam peran kru utama dalam produksi dan pascaproduksi proyek film.

    Syarat dan Cara Daftar Kursus Singkat Film AAS

    Lakukan pendaftaran melalui tautan www.australiaawardsindonesia. org/id/FilmSCAplikasi

    • Batas pengiriman lamaran paling lambat tanggal 1 September (23:59 WIB).
    • Saat mendaftar, peserta diminta menjawab 4-5 pertanyaan terkait bidang perfilman.
    • Unggah resume atau curriculum vitae (CV) yang relevan dengan bidang perfilman.
    • Peserta akan dipilih melalui proses yang kompetitif.
    • Pelamar akan diundang untuk wawancara telepon singkat pada bulan September 2024.
    • Perempuan dan penyandang disabilitas menjadi pendaftar prioritas dalam beasiswa kursus film ini.
    • Pelamar yang saat ini mendapat beasiswa yang didanai oleh Pemerintah Australia tidak diperbolehkan mendaftar kursus singkat ini.

    Jadwal Seleksi dan Pelaksanaan Kursus

    • Pendaftaran: terakhir 1 September 2024
    • Pre-course: November 2024
    • Masa kursus: Januari-Februari 2024
    • Post-course: Mei 2025

    Bagaimana detikers, apakah kalian berminat? Untuk informasi lengkapnya bisa dilihat pada laman https://australiaawardsindonesia.org/ ya

    (cyu/faz)



    Sumber : www.detik.com

  • Gumuk Pasir Parangkusumo, Lokasi Syuting Video Klip Gala Bunga Matahari



    Bantul

    Video klip Gala Bunga Matahari dari Sal Priadi yang dibintangi Gempi viral. Rupanya, tempat syutingnya ada di Gumuk Pasir Parangkusumo, Bantul.

    Lagu Gala Bunga Matahari karya Sal Priadi begitu fenomenal. Liriknya yang menyayat hati, sekaligus menyisipkan optimisme dalam menjalani hidup selepas ditinggal pergi orang kesayangan untuk selamanya, begitu mengena di hati para pendengarnya.

    Video klip Gala Bunga Matahari garapan sutradara Aco Tenri juga begitu sedih. Gempita Nora Marten digambarkan sebagai bunga Matahari yang sedang berada di ‘Bulan’. Sedangkan orang yang dia kasihi masih berada di Bumi dalam wujud kakek tua.


    Ternyata, lokasi syuting video klip itu bukan berada di ‘Bulan’ betulan, melainkan di Gumuk Pasir Parangkusumo, sebuah objek wisata di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Daya Tarik Gumuk Pasir Parangkusumo

    Objek wisata ini kerap diburu wisatawan untuk berfoto karena memiliki penampakan yang tak biasa. Hamparan pasirnya bisa dibilang mirip seperti di Bulan. Pantas jika destinasi ini jadi lokasi syuting video klip Gala Bunga Matahari.

    Namun ada juga yang menyebutnya mirip seperti di Gurun Sahara. Maka tidak heran jika Bantul mendapat julukan sebagai Sahara van Java.

    Gumuk Pasir ParangkusumoGumuk Pasir Parangkusumo Foto: Putu Intan/detikcom

    Meski bentangan pasir di sini mirip seperti gurun pasir yang banyak ditemukan di daerah Timur Tengah atau Afrika. Namun jangan salah, Gumuk Pasir Parangkusumo ini sejatinya berbeda dengan gurun dan termasuk langka di dunia.

    Gumuk pasir atau istilah geologinya disebut sand dunes merupakan bentukan alam berupa gundukan-gundukan pasir menyerupai bukit yang terbentuk akibat pergerakan angin.

    Istilah gumuk sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti gundukan atau sesuatu yang menyembul dari permukaan yang datar.

    Selain berfoto-foto ria, traveler juga bisa main sandboarding di sini. Cara kerjanya sederhana, traveler dapat berdiri di atas papas lalu meluncur menyusuri bukit pasir atau bisa juga duduk di atas papan bila masih takut.

    Lokasi, Jam Operasional dan Biaya

    Gumuk Pasir Parangkusumo ini buka setiap hari mulai pukul 07.00-18.00 WIB. Tiket masuknya gratis, hanya saja bila ingin melakukan sandboarding, traveler harus menyewa papan seharga Rp 100.000.

    Gumuk Pasir Parangkusumo berlokasi di Jalan Pantai Parangkusumo, Pantai Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul, Yogyakarta. Lokasinya berada di sebelah barat Pantai Parangtritis.

    Jika berangkat dari pusat kota mJogja enggunakan kendaraan roda empat, maka kamu perlu menempuh waktu perjalanan sekitar satu jam untuk menuju ke gumuk pasir ini.

    (wsw/wsw)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Menguak Lokasi Toko Kaset di Film Galih dan Ratna Tahun 2017, di Mana Sih?



    Jakarta

    Film Galih dan Ratna sangat populer sehingga di-remake lagi tahun 2017. Di film itu, ada sebuah bangunan toko kaset yang sangat ikonik. Di mana lokasinya?

    Bangunan bersejarah sering kali menjadi saksi perjalanan waktu yang penuh cerita, baik dari segi arsitektur maupun sejarah sosial. Seringkali bangunan bersejarah ini nongol sebagai latar di film nasional.

    Seperti di film Galih dan Ratna produksi tahun 2017. Film besutan sutradara Lucky Kuswandi ini mengambil latar lokasi di sebuah bangunan sejarah milik Tio Tek Hong berlokasi di Pasar Baru, Jakarta Pusat.


    Salah satu bangunan di Jakarta yang memiliki sejarah panjang adalah bangunan milik Tio Tek Hong, seorang pengusaha Tionghoa yang membuka toko kelontong, rekaman gramofon, piringan hitam, perlengkapan berburu, dan juga beliau membuka percetakan kartu pos.

    Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017 (Tangkapan Layar)

    Bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi ini ternyata pernah digunakan sebagai lokasi syuting film “Galih dan Ratna” pada tahun 2017.

    “Ada satu yang menarik gedung ini kalau sekarang jadi restoran, sebenarnya gedungnya pak Tio Tek Hong gedung sebelum di cet warna merah putih, diambil dari satu film yang dirilis tahun 2017 yang merupakan remake dari film paling populer tahun 70an yaitu Galih dan Ratna,” kata Farid Mardhiyanto, Co-Founder Jakarta Good Guide kepada detikTravel beberapa waktu lalu.

    Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017Gedung yang jadi latar toko kaset di Film Galih dan Ratna tahun 2017 Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

    Film “Galih dan Ratna” (2017), mengisahkan hubungan cinta antara dua karakter utama, Galih dan Ratna. Dalam film ini, Salah satu lokasi ikonik adalah “Nada musik” tempat dimana Galih menjaga toko kaset warisan dari ayahnya.

    Gedung ini menjadi titik temu yang krusial bagi hubungan mereka, menghubungkan mereka melalui kecintaan yang sama terhadap musik.

    Gedung Tio Tek Hong yang Penuh Cerita

    Tio Tek Hong dikenal sebagai salah satu sultan pasar baru dalam perkembangan Jakarta pada tahun 1902. Bangunan bergaya Belanda ini terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat yang pada masanya menjadi pusat perdagangan.

    Keunikan arsitektur bangunan ini terletak pada detail ornamen yang memadukan dengan gaya kolonial Belanda. Meskipun bangunan ini sudah tua, bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan memancarkan pesonanya.

    “Tio Tek Hong ini kemudian juga dia berbisnis senjata jual beli senjata ketika perang dunia pokoknya terakhir selesai, bisnisnya masih bertahan. Namun sayangnya, bisnis Tio Tek Hong ini mulai menurun ketika terjadinya depresi besar dari Amerika terus ke Eropa, Belanda kena termasuk akhirnya koloni nya Hindia Belanda juga kena. Makin lama makin turun, tokonya dijual dan akhirnya kemudian berpindah tangan,” tutur Farid.

    Meski banyak orang yang mungkin tidak menyadari nilai sejarah bangunan tersebut, kehadirannya dalam film Galih dan Ratna secara tidak langsung mengangkat kembali kisah dan peran penting terhadap pengusaha Tio Tek Hong dalam sejarah Jakarta.

    Dari pantauan detikTravel di lokasi, bangunan berarsitektur serba merah dengan dua lantai ini tampak ramai oleh pengunjung, karena ditempati oleh berbagai pedagang yang berjualan, menciptakan suasana hidup di setiap sudut dan pohon-pohon hijau.

    Warna merah yang mendominasi, berpadu dengan sisa warna cat asli bangunan, memperkaya estetika visual. Film Galih dan Ratna yang didominasi nuansa biru, kontras warna tersebut memberikan kesan yang ceria dan dinamis.

    Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017 Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

    Di toko milik Galih, yang menjadi latar penting dalam film Galih dan Ratna itu terdapat koleksi kaset-kaset mixtape legendaris dari zaman dahulu yang tidak hanya menambah keaslian suasana, tetapi juga mendukung properti film dengan memperkaya elemen nostalgia,

    Gedung ini mencerminkan kecintaan kedua karakter utama terhadap musik, menghadirkan harmoni unik antara masa lalu dan masa kini, serta mencerminkan kehidupan yang terus berdenyut di tengah lingkungan bersejarah yang terawat dengan baik.

    Gedung ini pun mengingatkan akan pentingnya melestarikan warisan bangunan bersejarah. Namun, bahwa jalan ini sebenarnya bukan Jalan Pasar Baru depan toko buku Gramedia yang kita kenal sekarang.

    Toko ini bukan toko pertamanya, melainkan salah satu dari sekian banyak usaha yang dimilikinya, mengingat reputasinya sebagai seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak toko di berbagai lokasi di Pasar Baru pada masa kolonial, mencerminkan luasnya jangkauan bisnis dan pengaruh beliau pada masa itu.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com