Tag: tahun baru islam

  • 40 Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram yang Penuh Doa

    Jakarta

    Tahun Baru Islam 2025 jatuh pada Jumat, 27 Juni 2025. Ini diperingati pada 1 Muharram 1447 H. Kamu bisa merayakan momen istimewa ini dengan mengirim ucapan selamat Tahun Baru Islam yang penuh doa untuk orang-orang tersayang.

    Tahun Baru Islam 1 Muharram menjadi momen bagi umat Muslim untuk merenung, memperbaiki diri, dan menyambut lembaran baru dengan penuh harapan. Di Indonesia, peringatan ini sering diwarnai dengan berbagai tradisi religius, seperti doa bersama, tausiyah, hingga berbagi ucapan penuh makna kepada keluarga dan sahabat.


    Mengirimkan ucapan selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram yang penuh doa bisa menjadi cara untuk menebarkan semangat hijrah, memotivasi menjadi pribadi lebih baik. Ucapan-ucapan ini tak sekadar kata manis, melainkan juga berisi harapan dan doa untuk keberkahan hidup di tahun yang baru.

    Selain mempererat tali silaturahmi, berbagi ucapan Tahun Baru Islam juga menjadi bentuk refleksi spiritual. Kita diajak untuk mengingat kembali perjalanan hidup, memperbanyak istighfar, dan memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dan kekuatan dalam menjalani hari-hari ke depan.

    Kamu mencari referensi ucapan Tahun Baru Islam? Berikut unspirasi ucapan Tahun Baru Islam 1 Muharram yang Penuh Doa:

    1. Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram. Mari hijrahkan hati menuju cahaya, semoga setiap langkah kita diridhoi Ilahi, dan setiap doa dihantarkan oleh angin yang penuh rahmat.

    2. Muharram datang membawa harap, menghapus gelap masa silam.Semoga Allah lapangkan rezeki, kuatkan iman, dan penuhi hati kita dengan kedamaian.

    3. Tahun baru Islam bukan sekadar pergantian waktu, melainkan undangan untuk hijrah, dari lalai menuju taat, dari gelisah menuju damai bersama-Nya.

    4. Di awal Muharram ini, mari kita tulis cerita baru. Dengan tinta doa dan lembaran takwa, semoga hidup kita selalu berada di jalan yang dirahmati-Nya.

    5. Selamat menyambut 1 Muharram. Semoga setiap detik di tahun baru ini dipenuhi dengan doa-doa yang terkabul dan langkah-langkah yang diridhai.

    6. Muharram adalah nafas awal untuk jiwa yang ingin berubah. Mari buka lembaran baru dengan sabar, ikhlas, dan keyakinan bahwa Allah selalu menyertai.

    7. Bersama datangnya 1 Muharram, ku panjatkan doa agar hidupmu selalu damai dalam lindungan-Nya, dan bahagia dalam pelukan takdir terbaik dari Allah SWT.

    8. Tahun baru Islam, saatnya membersihkan hati dan menguatkan niat. Semoga hijrah kita diterima, dan hidup kita semakin dekat dengan surga.

    9. Di awal bulan Muharam yang penuh berkah ini, semoga setiap langkah menjadi amal, setiap kata menjadi zikir, dan setiap harapan menjadi kenyataan.

    10.Selamat Tahun Baru Islam. Semoga cahaya 1 Muharram menerangi hari-harimu dengan doa yang lembut, harapan yang kuat, dan iman yang teguh.

    Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram yang Penuh Doa

    11. Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H. Semoga langkah kita senantiasa dalam lindungan-Nya, dan setiap niat baik dijawab dengan kemudahan dan keberkahan.

    12. Satu Muharram bukan hanya awal kalender hijriah, tetapi juga awal untuk jiwa yang ingin kembali. Kembali kepada Allah, kepada fitrah, kepada damai yang hakiki.

    13. Tahun baru Islam adalah waktu terbaik untuk bermuhasabah. Menata ulang hati, memaafkan yang telah lalu, dan menjemput masa depan dengan harapan yang bersandar pada doa.

    14. Selamat menyambut Tahun Baru Hijriah. Semoga Allah tumbuhkan dalam hati kita rasa syukur yang tak henti, dan semangat hijrah yang tak pernah padam.

    15. Muharram adalah pintu menuju kebaikan. Mari isi tahun ini dengan amal yang tulus, zikir yang khusyuk, dan doa-doa yang penuh keyakinan akan kasih sayang-Nya.

    16. Di awal tahun ini, aku berdoa untukmu. Semoga segala luka terobati, segala harap diberi jalan, dan segala lelah diganti dengan ketenangan dari Allah.

    17. Hijrah itu tak selalu pindah tempat, kadang cukup dengan mengubah niat. Semoga di tahun baru ini, niat kita dipenuhi keikhlasan dan langkah kita diberkahi.

    18. Tahun baru Islam hadir sebagai pengingat. Bahwa waktu terus berjalan, dan hidup terlalu singkat untuk diisi dengan kelalaian. Mari perbaiki, mari kembali.

    19. Selamat Tahun Baru 1 Muharram. Semoga kita termasuk dalam golongan hamba yang senantiasa diperbaharui imannya, diteguhkan hatinya, dan diterima segala amalnya.

    20. Tak perlu menunggu sempurna untuk memulai hijrah. Cukup dengan hati yang tulus dan doa yang terus mengalir, Allah akan tunjukkan jalan yang terbaik.

    Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram

    21. Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 H! Semoga tahun ini menjadi awal yang penuh berkah, hijrah menuju kebaikan, dan hati yang semakin dekat dengan Allah SWT.

    22. Satu Muharram, saatnya muhasabah diri. Mari kita buka lembaran baru dengan niat yang lurus dan semangat hijrah untuk menjadi insan yang lebih baik. Barakallah di tahun yang baru!

    23. Tahun Baru Hijriah adalah momen hijrah hati dan amal. Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan-Nya dan istiqamah di jalan kebaikan. Aamiin.

    24. Selamat menyambut 1 Muharam 1447 Hijriah! Doaku, semoga damai menyelimuti hati, rezeki dilapangkan, dan iman dikuatkan sepanjang tahun ini.

    25. Tahun baru, semangat baru, iman yang diperbarui. Mari sambut 1 Muharam dengan penuh rasa syukur dan tekad untuk terus mendekatkan diri pada Allah SWT.

    26. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tapi juga memperbaiki niat dan memperkuat taat. Selamat Tahun Baru Islam 1447 H, semoga kita senantiasa diberi petunjuk dalam setiap langkah.

    27. Satu Muharam, saatnya memperbaiki diri dan memperbanyak amal. Semoga Allah limpahkan rahmat dan maghfirah-Nya untuk kita semua sepanjang tahun ini.

    28. Tahun Baru Islam bukan hanya perayaan, tapi refleksi atas perjalanan iman. Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk menjadi hamba yang lebih taat.

    29. Bismillah di awal Muharam, semoga setiap langkah kita lebih diberkahi dan lebih bermakna. Selamat Tahun Baru Islam 1447 Hijriah.

    30. Dengan semangat hijrah, mari kuatkan niat untuk terus berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga tahun ini penuh kebaikan, kesehatan, dan keberkahan dari Allah SWT.

    Ucapan Selamat Tahun Baru Islam dalam Bahasa Inggris

    31. Happy Islamic New Year 1447 H! May this new beginning bring peace, blessings, and endless faith into your life. (Selamat Tahun Baru Islam 1447 H! Semoga awal yang baru ini membawa kedamaian, keberkahan, dan keimanan yang tak terputus dalam hidupmu.)

    32. As the Hijri year begins, may our hearts be filled with gratitude and our lives with purpose and piety. (Saat tahun Hijriah dimulai, semoga hati kita dipenuhi rasa syukur dan hidup kita dipenuhi tujuan serta ketakwaan.)

    33. May Allah guide us to walk in His light and bless us with strength to become better Muslims this new year. (Semoga Allah membimbing kita untuk berjalan dalam cahaya-Nya dan memberi kekuatan untuk menjadi Muslim yang lebih baik di tahun ini.)

    34. A new year, a new chance to purify the soul and strengthen our faith. Happy 1st Muharram! (Tahun baru adalah kesempatan baru untuk menyucikan jiwa dan menguatkan iman. Selamat 1 Muharam!)

    35. Let’s welcome the Islamic New Year with sincere hearts and a renewed spirit of devotion. (Mari sambut Tahun Baru Islam dengan hati yang tulus dan semangat ibadah yang diperbarui.)

    36. Hijrah reminds us that change begins with intention. May this year bring us closer to Allah. (Hijrah mengingatkan kita bahwa perubahan dimulai dari niat. Semoga tahun ini membawa kita lebih dekat kepada Allah.)

    37. Wishing you and your family a peaceful and blessed Islamic New Year filled with mercy and joy. (Semoga kamu dan keluargamu diberi tahun baru Islam yang damai dan penuh berkah, rahmat, serta kebahagiaan.)

    38. May the spirit of 1st Muharram inspire us to leave what’s bad behind and embrace goodness ahead. (Semoga semangat 1 Muharam menginspirasi kita untuk meninggalkan keburukan dan menyambut kebaikan di masa depan.)

    39. As the crescent moon of Muharram rises, may it light up your life with hope and faith. (Saat bulan sabit Muharam terbit, semoga ia menerangi hidupmu dengan harapan dan keimanan.)

    40. Here’s to a year of spiritual growth, sincere prayers, and meaningful deeds. Happy Hijri New Year! (Semoga tahun ini menjadi tahun pertumbuhan spiritual, doa yang tulus, dan amal yang bermakna. Selamat Tahun Baru Hijriah!)

    Itulah kumpulan ucapan selamat Tahun Baru Islam yang cocok dibagikan di media sosial, status WhatsApp, maupun sebagai pesan pribadi yang menginspirasi dan menyentuh hati. Semoga kita selalu dalam lindungan dan rahmat-Nya.

    (eny/eny)



    Sumber : wolipop.detik.com

  • Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Islam Lengkap: Arab, Latin dan Artinya


    Jakarta

    Doa akhir dan awal tahun berisi permohonan agar dijauhkan dari segala godaan hawa nafsu serta diampuni segala dosa-dosa di masa lalu. Mengamalkan doa ini juga menjadi salah satu bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT sekaligus memohon perlindungan kepada Allah untuk tahun berikutnya.

    Muslim dianjurkan untuk selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam surah Al-Mu’min ayat 60 yang berbunyi:

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ


    Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

    Doa Akhir Tahun Hijriah

    Doa Akhir Tahun Versi Pertama

    Melansir dari buku Kalender Indah Sepanjang Tahun yang ditulis Ustaz Abdullah Faqih, Berikut bacaan doa akhir tahun Hijriah lengkap dengan Arab, Latin, dan artinya:

    اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

    Allahumma ma ‘amiltu min ‘amalin fi hadzihis sanati ma nahaitani ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîha ‘alayya bi fadhlika ba’da qudratika ‘ala ‘uqubati, wa da’autani ilattaubati min ba’di jara’ati ‘ala ma’shiyatik. Fa inni astaghfiruka, faghfirli wa ma ‘amiltu fiha mimma tardha, wa wa’attani ‘alaihits tsawaba, fa’as’aluka an tataqabbala minni wa la taqtha’ raja’i minka ya karim.

    Artinya: “Ya Allah, segala perbuatan yang telah aku lakukan pada tahun ini yang Engkau larang dan aku belum bertaubat darinya, sementara Engkau masih bersabar terhadapku dengan karunia-Mu, padahal Engkau berkuasa untuk menghukumku, dan Engkau mengajakku untuk bertaubat setelah aku berani berbuat maksiat kepada-Mu, maka aku memohon ampunan-Mu, ampunilah aku. Dan segala perbuatan yang aku lakukan tahun ini yang Engkau ridai dan Engkau janjikan pahala atasnya, aku memohon kepada-Mu untuk menerimanya dariku. Janganlah Engkau memutuskan harapanku kepada-Mu, wahai Yang Maha Mulia.”

    Doa Akhir Tahun Versi Kedua

    Lafaz doa akhir tahun di bawah ini dianjurkan untuk dibaca sebanyak tiga kali pada akhir tahun. Berikut lafalnya:

    بسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتَبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَنِّي مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاءَتِي عَلَيْكَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِي اللَّهُمَّ وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيمُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

    Arab Latin: Bismillaahir rahmaanir rahiim, wa shallallaahu ta’aala ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
    Allaahumma maa ‘alimtu min ‘amalin fis-sanatil maadhiyati mimmaa nahaitanii ‘anhu wa lam atub minhu wa lam tardhahu wa nasiituhu wa lam tansahu wa halumta ‘annii ma’a qudratika ‘alaa ‘uquubatii wa da’autanii ilat-taubati ba’da jaraa-atii ‘alaika.

    Allaahumma innii astaghfiruka minhu faghfir lii. Allaahumma wa maa ‘amiltu min ‘amalin tardhaahu wa wa’adtanii ‘alaihits tsawaaba wal ghufraana fataqabbalhu minnii wa laa taqtha’ rajaa-ii minka yaa kariimu yaa arhamar raahimiin. Wa shallallaahu ta’aala ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.

    Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, dan para sahabat-nya. Ya Allah, amal yang telah Aku lakukan pada tahun lalu dari sekian amal yang Engkau cegah diriku darinya, yang aku belum tobat darinya, dan Engkau pun tidak meridainya, yang telah Aku lupakan namun tidak Engkau lupakan, Engkau telah berbuat bijak kepadaku meskipun sebenarnya mampu untuk menghukumku, Engkau menyeru kepadaku untuk bertobat setelah kenekatanku (bermaksiat) kepada-Mu, ya Allah sung-guh Aku memohon ampunan kepadamu dari amal itu, maka ampunilah diriku. Ya Allah, amal yang telah Aku lakukan yang Engkau ridai dan Engkau janjikan pahala dan ampunan atas-nya, maka terimalah amal itu dariku, dan jangan Engkau pu-tus harapanku kepada-Mu, wahai Zat Yang Maha Mulia, wa-hai Zat Yang Paling Maha Pengasih dari para kekasih. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”

    Doa Awal Tahun Hijriah

    Doa Awal Tahun Versi Pertama

    Berikut bacaan doa awal tahun Hijriah lengkap dengan Arab, Latin, dan artinya:

    اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

    Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa ‘alâ fadhlikal ‘azhîmi wa karîmi jûdikal mu’awwal. Hâdzâ ‘âmun jadîdun qad aqbal. As’alukal ‘ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ’ih, wal ‘auna ‘alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû’I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.

    Artinya: “Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”

    Doa Awal Tahun Versi Kedua

    Ada anjuran sebuah doa dari Syekh Abdullah bin Muhammad Al-Khayyath Al-Harusy untuk dipanjatkan pada awal tahun. Doanya berisi permohonan perlindungan Allah SWT. Doa ini juga tercantum dalam kitab Al-Fathul Mubin wad Durrut Tsamin:

    اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْإِلَهُ الْقَدِيمُ الْأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيمِ وَكَرِيمِ جُوْدِكَ الْعَمِيمِ الْمُعَوَّلُ وَهَذَا عَامُ جَدِيدُ قَدْ أَقْبَلَ أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَالْأَعْمَالِ وَالْاِسْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِهَا وَأَسْتَكْفِيكَ مُؤْنَتَهَا وَشُغْلَهَا فِي عَافِيَةٍ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا.

    Arab Latin: Allaahumma antal abadiyyul ilahul qadiimul awwalu, wa ‘alaa fadhlikal ‘aziimi wa kariimi juudikal ‘amiimil mu’awwalu, wa hadzaa ‘aamun jadiidun qad aqbala, as-alukal ‘ishmata fiihi minas-syaithaani wa awliyaa-ihi, wal ‘awna ‘alaa hazihin nafsil ammaarati bis-suu-i wal a’maali, wal isytighaala bimaa yuqarribunii ilaika zulfa, yaa dzal jalaali wal ikraam. As-aluka min khairihaa wa a-‘uudzu bika min syarrihaa wa astakfiika mu’natahaa wa syuglahaa fii ‘aafiyatiin bi-rahmatika yaa arhamar raahimiin. Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallama tasliimaa.

    Artinya: “Ya Allah, Engkau Zat Yang Maha Abadi, Yang Menjadi Tuhan, Yang Maha Qadim, Yang Maha Awal. Sesuatu yang menjadi andalan manusia hanyalah anugerah-Mu yang agung dan kemurahan-Mu yang mulia. Ini tahun baru telah tiba. Di dalamnya aku memohon penjagaan kepada-Mu dari setan dan kekasih-kekasihnya, memohon pertolongan atas nafsu amarah yang memerintahkan keburukan dan berbagai amal jelek, dan memohon tersibukkan diri dengan aktivitas yang dapat lebih mendekatkan diriku kepada-Mu dengan sedekat-dekatnya, wahai Zat Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Aku memohon kepadamu dari baiknya tahun ini, memohon perlindungan-Mu dari buruknya tahun ini. Aku memohon kecukupan dari biayanya dan kesibukannya dalam kesehatan dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Pengasih dari sekian kekasih. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan keselamatan yang sempurna kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”

    Waktu yang Dianjurkan untuk Membaca Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah

    Berdasarkan pedoman Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, doa akhir tahun dibaca sebanyak tiga kali pada hari terakhir bulan Zulhijah. Waktu pembacaan dimulai setelah salat Ashar hingga sebelum masuk waktu Maghrib.

    Mengacu pada Kalender Hijriah 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, hari terakhir bulan Zulhijah 1446 H jatuh pada Kamis, 26 Juni 2025.

    Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan membaca doa akhir tahun pada hari tersebut, dimulai setelah menunaikan salat Ashar dan diakhiri sebelum azan Maghrib berkumandang.

    Anjuran ini didasarkan pada sistem penanggalan Hijriah, di mana pergantian hari dimulai sejak terbenamnya matahari. Ketika azan Maghrib dikumandangkan, umat Islam telah memasuki 1 Muharram 1447 H, yang menandai datangnya Tahun Baru Islam.

    (lus/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Baca Yasin 3 Kali Malam Tahun Baru Islam, Adakah Dalilnya?


    Jakarta

    Membaca Yasin 3 kali pada malam Tahun Baru Islam kerap diamalkan muslim. Sebagaimana diketahui, banyak manfaat yang bisa diraih dari membaca surah Yasin.

    Surah Yasin berada di urutan ke-36 mushaf Al-Qur’an dan tergolong surah Makkiyah. Surah ini berisi 83 ayat dan kerap disebut sebagai jantung Al-Qur’an.

    Menurut buku Surah Yasin tulisan Syekh Fadhalla, Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya menyebut surah Yasin sebagai qalb Al-Qur’an. Beliau bersabda dari Anas bin Malik RA,


    “Setiap sesuatu ada jantungnya. Jantungnya Al-Qur’an adalah surah Yasin. Siapa yang membaca surah Yasin, Allah menulis baginya pahala seolah-olah ia telah mengkhatamkan sepuluh kali Al-Qur’an.” (HR Darimi dan Tirmidzi)

    Sementara itu, malam Tahun Baru Islam banyak diisi dengan berbagai ibadah sunnah oleh muslim. Contohnya seperti membaca doa akhir dan awal tahun, berzikir, qiyamul lail, bersedekah, bertobat, hingga membaca Yasin 3 kali.

    Adakah Dalil Membaca Yasin 3 Kali pada Malam Tahun Baru Islam?

    Muharram adalah bulan yang dimuliakan dalam Islam. Karenanya kaum muslimin berlomba-lomba mengerjakan berbagai amalan untuk meraih keutamaan dari momen tersebut.

    Lalu bagaimana dengan membaca Yasin sebanyak 3 kali pada Tahun Baru Islam? Apakah hal itu disebutkan dalam dalil hadits atau Al-Qur’an?

    detikHikmah belum menemukan dalil terkait anjuran membaca Yasin 3 kali pada malam Tahun Baru Islam. Meski demikian, banyak hadits yang menyebut keutamaan membaca surah Yasin secara rutin.

    Menurut buku 5 Amalan Penyuci Hati oleh Ali Akbar bin Aqil dan Abdullah Chris, terdapat hadits mengenai manfaat membaca Yasin pada malam hari.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Siapa yang membaca surah Yasin pada suatu malam karena Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR Ibnu Sunni dan Ibnu Hibban)

    Amalan yang Bisa Dikerjakan pada Malam Tahun Baru Islam

    Mengutip dari buku 12 Bulan Mulia-Amalan Sepanjang Tahun tulisan Abdurrahman Ahmad As Sirbuny, berikut beberapa amalan yang dapat dilakukan muslim pada malam Tahun Baru Islam.

    1. Sedekah
    2. Silaturahmi
    3. Bertobat
    4. Berzikir
    5. Membaca Al-Qur’an
    6. Membaca doa awal dan akhira tahun

    Surah Yasin Lengkap dengan Arab, Latin dan Artinya

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

    يٰسۤ ۚ ١

    Yā sīn.

    وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ ٢

    Wal-qur’ānil-ḥakīm(i).

    اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ ٣

    Innaka laminal-mursalīn(a).

    عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ ٤

    ‘Alā ṣirāṭim mustaqīm(in).

    تَنْزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙ ٥

    Tanzīlal-‘azīzir-raḥīm(i).

    لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اُنْذِرَ اٰبَاۤؤُهُمْ فَهُمْ غٰفِلُوْنَ ٦

    Litunżira qaumam mā unżira ābā’uhum fahum gāfilūn(a).

    لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلٰٓى اَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ٧

    Laqad ḥaqqal-qaulu ‘alā akṡarihim fahum lā yu’minūn(a).

    اِنَّا جَعَلْنَا فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ اَغْلٰلًا فَهِيَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَ ٨

    Innā ja’alnā fī a’nāqihim aglālan fa hiya ilal-ażqāni fahum muqmaḥūn(a).

    وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ ٩

    Wa ja’alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fahum lā yubṣirūn(a).

    وَسَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ١٠

    Wa sawā’un ‘alaihim a’anżartahum am lam tunżirhum lā yu’minūn(a).

    اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ ١١

    Innamā tunżiru manittaba’aż-żikra wa khasyiyar-raḥmāna bil-gaib(i), fa basysyirhu bimagfiratiw wa ajrin karīm(in).

    اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ ࣖ ١٢

    Innā naḥnu nuḥyil-mautā wa naktubu mā qaddamū wa āṡārahum, wa kulla syai’in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn(in).

    وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا اَصْحٰبَ الْقَرْيَةِۘ اِذْ جَاۤءَهَا الْمُرْسَلُوْنَۚ ١٣

    Waḍrib lahum maṡalan aṣḥābal-qaryah(ti), iż jā’ahal-mursalūn(a).

    اِذْ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوْهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوْٓا اِنَّآ اِلَيْكُمْ مُّرْسَلُوْنَ ١٤

    Iż arsalnā ilaihimuṡnaini fa każżabūhumā fa ‘azzaznā biṡāliṡin faqālū innā ilaikum mursalūn(a).

    قَالُوْا مَآ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَاۙ وَمَآ اَنْزَلَ الرَّحْمٰنُ مِنْ شَيْءٍۙ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَكْذِبُوْنَ ١٥

    Qālū mā antum illā basyarum miṡlunā, wa mā anzalar-raḥmānu min syai'(in), in antum illā takżibūn(a).

    قَالُوْا رَبُّنَا يَعْلَمُ اِنَّآ اِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُوْنَ ١٦

    Qālū rabbunā ya’lamu innā ilaikum lamursalūn(a).

    وَمَا عَلَيْنَآ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ ١٧

    Wa mā ‘alainā illal-balāgul-mubīn(u).

    قَالُوْٓا اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهُوْا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٨

    Qālū innā taṭayyarnā bikum, la’il lam tantahū lanarjumannakum wa layamassannakum minnā ‘ażābun alīm(un).

    قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ ١٩

    Qālū ṭā’irukum ma’akum, a’in żukkirtum, bal antum qaumum musrifūn(a).

    وَجَاۤءَ مِنْ اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَّسْعٰى قَالَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِيْنَۙ ٢٠

    Wa jā’a min aqṣal-madīnati rajuluy yas’ā qāla yā qaumittabi’ul-mursalīn(a).

    اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ۔ ٢١

    Ittabi’ū mal lā yas’alukum ajraw wa hum muhtadūn(a).

    وَمَا لِيَ لَآ اَعْبُدُ الَّذِيْ فَطَرَنِيْ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ٢٢

    Wa mā liya lā a’budul-lażī faṭaranī wa ilaihi turja’ūn(a).

    ءَاَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً اِنْ يُّرِدْنِ الرَّحْمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يُنْقِذُوْنِۚ ٢٣

    A’attakhiżu min dūnihī ālihatan iy yuridnir-raḥmānu biḍurril lā tugni ‘annī syafā’atuhum syai’aw wa lā yunqiżūn(i).

    اِنِّيْٓ اِذًا لَّفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٢٤

    Innī iżal lafī ḍalālim mubīn(in).

    اِنِّيْٓ اٰمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُوْنِۗ ٢٥

    Innī āmantu birabbikum fasma’ūn(i).

    قِيْلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۗقَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَۙ ٢٦

    Qīladkhulil-jannah(ta), qāla yā laita qaumī ya’lamūn(a).

    بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ ٢٧

    Bimā gafaralī rabbī wa ja’alanī minal-mukramīn(a).

    ۞ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى قَوْمِهٖ مِنْۢ بَعْدِهٖ مِنْ جُنْدٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِيْنَ ٢٨

    Wa mā anzalnā ‘alā qaumihī mim ba’dihī min jundim minas-samā’i wa mā kunnā munzilīn(a).

    اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ خٰمِدُوْنَ ٢٩

    In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa’iżā hum khāmidūn(a).

    يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ ٣٠

    Yā ḥasratan ‘alal-‘ibād(i), mā ya’tīhim mir rasūlin illā kānū bihī yastahzi’ūn(a).

    اَلَمْ يَرَوْا كَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنَ الْقُرُوْنِ اَنَّهُمْ اِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُوْنَ ٣١

    Alam yarau kam ahlaknā qablahum minal-qurūni annahum ilaihim lā yarji’ūn(a).

    وَاِنْ كُلٌّ لَّمَّا جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ ࣖ ٣٢

    Wa in kullul lammā jamī’ul ladainā muḥḍarūn(a).

    وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الْاَرْضُ الْمَيْتَةُ ۖاَحْيَيْنٰهَا وَاَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُوْنَ ٣٣

    Wa āyatul lahumul-arḍul-maitah(tu), aḥyaināhā wa akhrajnā minhā ḥabban faminhu ya’kulūn(a).

    وَجَعَلْنَا فِيْهَا جَنّٰتٍ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ وَّفَجَّرْنَا فِيْهَا مِنَ الْعُيُوْنِۙ ٣٤

    Wa ja’alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a’nābiw wa fajjarnā fīhā minal-‘uyūn(i).

    لِيَأْكُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖۙ وَمَا عَمِلَتْهُ اَيْدِيْهِمْ ۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ ٣٥

    Liya’kulū min ṡamarihī wa mā ‘amilathu aidīhim, afalā yasykurūn(a).

    سُبْحٰنَ الَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ ٣٦

    Subḥānal-lażī khalaqal-azwāja kullahā mimmā tumbitul-arḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya’lamūn(a).

    وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ ۖنَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙ ٣٧

    Wa āyatul lahumul-lailu naslakhu minhun-nahāra fa’iżā hum muẓlimūn(a).

    وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗ ٣٨

    Wasy-syamsu tajrī limustaqarril lahā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm(i).

    وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ ٣٩

    Wal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā ‘āda kal-‘urjūnil-qadīm(i).

    لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ ٤٠

    Lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār(i), wa kullun fī falakiy yasbaḥūn(a).

    وَاٰيَةٌ لَّهُمْ اَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙ ٤١

    Wa āyatul lahum annā ḥamalnā żurriyyatahum fil-fulkil-masyḥūn(i).

    وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِّنْ مِّثْلِهٖ مَا يَرْكَبُوْنَ ٤٢

    Wa khalaqnā lahum mim miṡlihī mā yarkabūn(a).

    وَاِنْ نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيْخَ لَهُمْ وَلَاهُمْ يُنْقَذُوْنَۙ ٤٣

    Wa in nasya’ nugriqhum falā ṣarīkha lahum wa lā hum yunqażūn(a).

    اِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍ ٤٤

    Illā raḥmatam minnā wa matā’an ilā ḥīn(in).

    وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّقُوْا مَا بَيْنَ اَيْدِيْكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ٤٥

    Wa iżā qīla lahumuttaqū mā baina aidīkum wa mā khalfakum la’allakum turḥamūn(a).

    وَمَا تَأْتِيْهِمْ مِّنْ اٰيَةٍ مِّنْ اٰيٰتِ رَبِّهِمْ اِلَّا كَانُوْا عَنْهَا مُعْرِضِيْنَ ٤٦

    Wa mā ta’tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānū ‘anhā mu’riḍīn(a).

    وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۙقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنُطْعِمُ مَنْ لَّوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ اَطْعَمَهٗٓ ۖاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٤٧

    Wa iżā qīla lahum anfiqū mimmā razaqakumullāh(u), qālal-lażīna kafarū lil-lażīna āmanū anuṭ’imu mal lau yasyā’ullāhu aṭ’amah(ū), in antum illā fī ḍalālim mubīn(in).

    وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٤٨

    Wa yaqūlūna matā hāżal-wa’du in kuntum ṣādiqīn(a)

    مَا يَنْظُرُوْنَ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُوْنَ ٤٩

    Mā yanẓurūna illā ṣaiḥataw wāḥidatan ta’khużuhum wa hum yakhiṣṣimūn(a).

    فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ تَوْصِيَةً وَّلَآ اِلٰٓى اَهْلِهِمْ يَرْجِعُوْنَ ࣖ ٥٠

    Falā yastaṭī’ūna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji’ūn(a

    وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مِّنَ الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ ٥١

    Wa nufikha fiṣ-ṣūri fa’iżā hum minal-ajdāṡi ilā rabbihim yansilūn(a).

    قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا ۜهٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ ٥٢

    Qālū yā wailanā mam ba’aṡanā mim marqadinā…hāżā mā wa’adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalūn(a).

    اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ ٥٣

    In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa’iżā hum jamī’ul ladainā muḥḍarūn(a).

    فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا وَّلَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ٥٤

    Fal-yauma lā tuẓlamu nafsun syai’aw wa lā tujzauna illā mā kuntum ta’malūn(a).

    اِنَّ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِيْ شُغُلٍ فٰكِهُوْنَ ۚ ٥٥

    Inna aṣḥābal-jannatil-yauma fī syugulin fākihūn(a).

    هُمْ وَاَزْوَاجُهُمْ فِيْ ظِلٰلٍ عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ مُتَّكِـُٔوْنَ ۚ ٥٦

    Hum wa azwājuhum fī ẓilālin ‘alal-arā’iki muttaki’ūn(a).

    لَهُمْ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّلَهُمْ مَّا يَدَّعُوْنَ ۚ ٥٧

    Lahum fīhā fākihatuw wa lahum mā yadda’ūn(a).

    سَلٰمٌۗ قَوْلًا مِّنْ رَّبٍّ رَّحِيْمٍ ٥٨

    Salāmun qaulam mir rabbir raḥīm(in).

    وَامْتَازُوا الْيَوْمَ اَيُّهَا الْمُجْرِمُوْنَ ٥٩

    Wamtāzul-yauma ayyuhal-mujrimūn(a).

    اَلَمْ اَعْهَدْ اِلَيْكُمْ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ اَنْ لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطٰنَۚ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٦٠

    Alam a’had ilaikum yā banī ādama allā ta’budusy-syaiṭān(a), innahū lakum ‘aduwwum mubīn(un).

    وَاَنِ اعْبُدُوْنِيْ ۗهٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ ٦١

    Wa ani’budūnī, hāżā ṣirāṭum mustaqīm(un).

    وَلَقَدْ اَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيْرًا ۗاَفَلَمْ تَكُوْنُوْا تَعْقِلُوْنَ ٦٢

    Wa laqad aḍalla minkum jibillan kaṡīrā(n), afalam takūnū ta’qilūn(a).

    هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ٦٣

    Hāżihī jahannamul-latī kuntum tū’adūn(a).

    اِصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ ٦٤

    Iṣlauhal-yauma bimā kuntum takfurūn(a).

    اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ٦٥

    Al-yauma nakhtimu ‘alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim wa tasyhadu arjuluhum bimā kānū yaksibūn(a).

    وَلَوْ نَشَاۤءُ لَطَمَسْنَا عَلٰٓى اَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَاَنّٰى يُبْصِرُوْنَ ٦٦

    Wa lau nasyā’u laṭamasnā ‘alā a’yunihim fastabaquṣ-ṣirāṭa fa annā yubṣirūn(a).

    وَلَوْ نَشَاۤءُ لَمَسَخْنٰهُمْ عَلٰى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوْا مُضِيًّا وَّلَا يَرْجِعُوْنَ ࣖ ٦٧

    Wa lau nasyā’u lamasakhnāhum ‘alā makānatihim famastaṭā’ū muḍiyyaw wa lā yarji’ūn(a).

    وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ ٦٨

    Wa man nu’ammirhu nunakkishu fil-khalq(i), afalā ya’qilūn(a).

    وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهٗ ۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙ ٦٩

    Wa mā ‘allamnāhusy-syi’ra wa mā yambagī lah(ū), in huwa illā żikruw wa qur’ānum mubīn(un).

    لِّيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ٧٠

    Liyunżira man kāna ḥayyaw wa yaḥiqqal-qaulu ‘alal-kāfirīn(a).
    .
    اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِّمَّا عَمِلَتْ اَيْدِيْنَآ اَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مٰلِكُوْنَ ٧١

    Awalam yarau annā khalaqnā lahum mimmā ‘amilat aidīnā an’āman fahum lahā mālikūn(a).

    وَذَلَّلْنٰهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوْبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُوْنَ ٧٢

    Wa żallalnāhā lahum fa minhā rakūbuhum wa minhā ya’kulūn(a).

    وَلَهُمْ فِيْهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ ٧٣

    Wa lahum fīhā manāfi’u wa masyārib(u), afalā yasykurūn(a).

    وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنْصَرُوْنَ ۗ ٧٤

    Wattakhażū min dūnillāhi ālihatal la’allahum yunṣarūn(a)

    لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ نَصْرَهُمْۙ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُّحْضَرُوْنَ ٧٥

    Lā yastaṭī’ūna naṣrahum, wa hum lahum jundum muḥḍarūn(a).

    فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘاِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ ٧٦

    Falā yaḥzunka qauluhum, innā na’lamu mā yusirrūna wa mā yu’linūn(a).

    اَوَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ ٧٧

    Awalam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa’iżā huwa khaṣīmum mubīn(un).

    وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ ٧٨

    Wa ḍaraba lanā maṡalaw wa nasiya khalqah(ū), qāla may yuḥyil-‘iẓāma wa hiya ramīm(un).

    قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙ ٧٩

    Qul yuḥyīhal-lażī ansya’ahā awwala marrah(tin), wa huwa bikulli khalqin ‘alīm(un).

    ۨالَّذِيْ جَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الشَّجَرِ الْاَخْضَرِ نَارًاۙ فَاِذَآ اَنْتُمْ مِّنْهُ تُوْقِدُوْنَ ٨٠

    Allażī ja’ala lakum minasy-syajaril-akhḍari nārā(n), fa’iżā antum minhu tūqidūn(a).

    اَوَلَيْسَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يَّخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۗبَلٰى وَهُوَ الْخَلّٰقُ الْعَلِيْمُ ٨١

    Awa laisal-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa biqādirin ‘alā ay yakhluqa miṡlahum, balā wa huwal-khallāqul-‘alīm(u).

    اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ٨٢

    Innamā amruhū iżā arāda syai’an ay yaqūla lahū kun fa yakūn(u).

    فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ٨٣

    Fa subḥānal-lażī biyadihī malakūtu kulli syai’iw wa ilaihi turja’ūn(a).

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Niat dan Tata Cara Sholat Tasbih Malam Tahun Baru 1 Muharram


    Jakarta

    Malam Tahun Baru Islam yang jatuh pada 1 Muharram bisa diisi dengan amal kebaikan, termasuk memperbanyak ibadah sunnah. Salah satunya adalah sholat tasbih.

    Dijelaskan dalam Fikih Salat Sunah karya Ali Musthafa Siregar, sholat tasbih adalah sholat sunnah empat rakaat yang di dalamnya terdapat 300 kali bacaan tasbih. Sholat ini dikerjakan untuk memohon ampunan Allah SWT atas dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang.

    Menurut Ar-Ruyani dalam Al-Bahr sebagaimana dinukil Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar, sholat tasbih termasuk amalan yang dicintai. Dianjurkan mengerjakan amalan ini setiap waktu dan tidak meremehkannya. Ini merupakan pendapat Abdullah bin Mubarak dan sebagian ulama lainnya.


    Waktu Sholat Tasbih

    Sholat tasbih bisa dikerjakan kapan saja asal bukan pada waktu yang dilarang sholat. Jika mau mengerjakan sholat tasbih pada siang hari, lebih baik sebanyak empat rakaat satu salam.

    Sementara jika mau mengerjakan sholat tasbih pada malam hari, lebih baik dikerjakan empat rakaat dengan dua salam. Hal ini mengacu pada hadits yang menyebut sholat malam itu dikerjakan dengan setiap dua rakaat salam.

    Para ulama menganjurkan melaksanakan sholat tasbih setiap hari. Jika tidak mampu setiap hari, bisa seminggu sekali. Jika tidak mampu, bisa sebulan sekali. Jika tidak mampu, setahun sekali. Namun, apabila masih tak mampu melaksanakannya setahun sekali, setidaknya sholat tasbih sekali seumur hidup.

    Niat Sholat Tasbih

    Sholat tasbih bisa diawali dengan niat. Mengacu pada sumber yang sama, berikut bacaan niatnya.

    Niat Sholat Tasbih 2 Rakaat

    أصَلَّى سُنَّةَ التَّسْبِيحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

    Ushalli sunnata-t-tasbihi rak’ataini lillahi ta’ala

    Artinya: “Saya berniat sholat sunnah tasbih dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

    Niat Sholat Tasbih 4 Rakaat

    أَصَلَّى سُنَّةَ التَّسْبِيحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

    Ushalli sunnatat tasbīhi arba’a rak’ātin lillāhi ta’ālā

    Artinya: “Saya berniat sholat sunnah tasbih empat rakaat karena Allah Ta’ala.”

    Tata Cara Sholat Tasbih

    Mengacu pada riwayat dalam al-Adzkar karya Imam an-Nawawi yang diterjemahkan Arif Hidayat, berikut tata cara sholat tasbih:

    • Takbiratul ihram
    • Membaca tasbih 15 kali
    • Membaca taawudz, basmalah, Al Fatihah dan surah dalam Al-Qur’an
    • Membaca tasbih 10 kali
    • Rukuk, baca tasbih 10 kali
    • Itidal, baca tasbih 10 kali
    • Sujud, baca tasbih 10 kali
    • Bangun dari sujud, baca tasbih 10 kali
    • Sujud kedua, baca tasbih 10 kali
    • Lanjutkan rakaat kedua hingga empat dengan tata cara seperti di atas sehingga genap 300 kali bacaan tasbih (75 tasbih setiap rakaat)

    Bacaan Tasbih dalam Sholat Tasbih

    سُبْحَانَ اللهُ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

    Subhaanallahi wal hamdu lillaahi walaa ilaaha illallah wallaahu akbar

    Artinya: “Mahasuci Allah, segala puja dan puji hanya untuk Allah, tidak ada llah yang berhak disembah melainkan Allah, Allah Mahabesar.”

    Anjuran Sholat Tasbih pada Malam 1 Muharram

    detikHikmah tidak menemukan dalil yang secara khusus menganjurkan sholat tasbih pada malam 1 Muharram. Pelaksanaan sholat ini mengacu pada hadits tentang keutamaan bulan Muharram secara umum.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Niat Mandi 1 Muharram untuk Sholat Akhir Tahun Islam


    Jakarta

    Mandi wajib dilakukan bagi seseorang yang berhadas besar untuk bisa menunaikan sholat. Termasuk sholat yang dikerjakan pada akhir tahun Islam atau malam 1 Muharram.

    Dalil mandi untuk menghilangkan hadas mengacu pada firman Allah SWT dalam surah Al Ma’idah ayat 6,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٦


    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah. Jika kamu sakit, dalam perjalanan, kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.”

    Beberapa hal yang mewajibkan seseorang mandi besar antara lain karena bersetubuh, mengeluarkan mani baik karena bersetubuh, mimpi basah, maupun sebab lainnya, selesai nifas, setelah melahirkan, setelah selesai haid. Bagi orang yang meninggal, wajib baginya dimandikan.

    Terkait mandi khusus 1 Muharram, detikHikmah tidak menemukan dalil untuk ini. Namun, mandi tetap diwajibkan bagi seseorang yang berhadas besar, termasuk saat malam 1 Muharram. Hal ini dilakukan agar umat Islam bisa mengerjakan sholat, baik wajib maupun sunnah.

    Dalam pelaksanaannya, muslim bisa mengawali mandi dengan membaca niat. Dalam kitab-kitab fikih dikatakan niat termasuk rukun mandi wajib.

    Niat Mandi 1 Muharram

    نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

    Nawaitul ghusla liraf ‘il hadatsil akbari fardhal lillaahi ta’aala

    Artinya: “Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar fardu kerena Allah ta’ala.”

    Tata Cara Mandi Sesuai Sunnah

    Ada beberapa sunnah mandi sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Mengutip kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq yang diterjemahkan Khairul Amru Harahap dkk, berikut di antaranya:

    1. Membasuh kedua tangan sebanyak tiga kali.
    2. Membasuh kemaluan.
    3. Berwudhu seperti wudhu mau sholat.
    4. Menyiram air di atas kepala sebanyak tiga kali dan menyela-nyela rambut agar air membasahi pangkal rambut.
    5. Menyiramkan air ke seluruh tubuh. Dahulukan bagian tubuh sebelah kanan.
    6. Dianjurkan pula membersihkan ketiak, bagian dalam telinga, pusar, jari-jari kaki, dan menggosok anggota tubuh yang bisa dijangkau tangan.

    Doa setelah Mandi 1 Muharram

    Ada doa yang bisa dipanjatkan muslim setelah mandi besar. Menurut Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar yang diterjemahkan Arif Hidayat, doa setelah mandi sama halnya dengan doa setelah wudhu. Berikut bacaannya:

    أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ، وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوبُ إلَيْكَ

    Asyhadu an lā ilāha illallāhu wahdahū lā syarīka lahū, wa asyhadu anna Muhammadan abduhū wa rasūluhū. Allāhummaj’alnī minat tawwābīna, waj’alnī minal mutathahhirīna. Subhānakallāhumma wa bi hamdika asyhadu an lā ilāha illā anta, astaghfiruka, wa atūbu ilayka.

    Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Ya Allah jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang bertobat. Dan jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang suci. Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau dan aku meminta ampunan dan bertaubat pada-Mu).”

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bolehkah Puasa di 1 Muharram Tanpa Puasa Asyura? Begini Penjelasannya


    Jakarta

    Puasa 1 Muharram merupakan salah satu amalan yang bisa dikerjakan muslim saat Tahun Baru Islam. Sebagaimana diketahui, puasa pada bulan Muharram dianjurkan oleh Rasulullah SAW melalui haditsnya.

    Beliau bersabda,

    “Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadan adalah puasa bulan Muharram dan sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)


    Selain puasa 1 Muharram, ada juga puasa Tasua dan Asyura pada bulan Muharram. Kedua puasa tersebut memiliki keutamaan yang luar biasa.

    Lantas, bolehkah muslim hanya melaksanakan puasa 1 Muharram tanpa puasa Asyura?

    Hukum Mengerjakan Puasa 1 Muharram Tanpa Puasa Asyura

    Puasa yang dikerjakan pada bulan Muharram hukumnya sunnah. Diterangkan dalam buku Dahsyatnya Puasa Sunah karya H Amirulloh Syarbini dkk, puasa di bulan Muharram menjadi puasa yang paling baik setelah Ramadan sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW.

    Sementara itu, puasa Asyura dikerjakan setiap 10 Muharram. Biasanya, amalan tersebut diikuti dengan puasa Tasua sehari sebelumnya yaitu pada 9 Muharram.

    Sejatinya, puasa Tasua dimaksudkan sebagai pembeda dengan puasa bangsa Yahudi yang berlangsung pada 10 Muharram. Namun, Rasulullah SAW tidak mewajibkan kedua puasa tersebut harus beriringan. Muslim bisa melaksanakan puasa Asyura tanpa Tasua.

    Kesunnahan puasa Asyura mengacu pada hadits berikut,

    “Hari ini hari Asyura, tidak diwajibkan atas kalian puasa. Dan aku berpuasa. Maka barangsiapa yang ingin puasa maka berpuasalah, dan barangsiapa yang tidak maka berbukalah.” (HR Bukhari)

    Melalui hadits di atas, Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa puasa Asyura hukumnya sunnah dan tidak wajib. Muslim tidak mendapatkan dosa jika tidak mengerjakan amalan sunnah.

    Meski begitu, puasa Asyura memiliki keutamaan yang luar biasa dan sayang jika dilewatkan. Diterangkan dalam buku Puasa Jadikan Hidup Penuh Berkah yang ditulis Syukron Maksum, puasa Asyura disebut dapat menghapus doa setahun yang lalu.

    Rasulullah SAW pernah ditanya terkait puasa Asyura dan beliau menjawab:

    “Menebus dosa tahun yang lalu.” (HR Muslim)

    Selain itu, Imam Baihaqi dalam kitab Fadha ‘Ilul Quqat (Edisi Indonesia) terjemahan Muflih Kamil mencantumkan hadits pahala puasa Asyura setara dengan 10 ribu orang berhaji.

    Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura, ditulis untuknya pahala ibadah enam puluh tahun termasuk di dalamnya ibadah puasa dan salatnya; barangsiapa berpuasa pada hari Asyura akan diberi pahala sepuluh ribu malaikat; barangsiapa berpuasa di hari Asyura akan diberi pahala yang setara dengan pahala seribu orang yang haji dan umrah; barangsiapa berpuasa di hari Asyura akan diberi pahala sepuluh ribu mati syahid; barangsiapa berpuasa Asyura sesungguhnya ia seperti orang yang memberi makan seluruh orang fakir dari umat Muhammad SAW dan membuat mereka semua kenyang; barangsiapa membelai anak yatim dengan tangannya pada hari Asyura, maka akan diberikan untuknya untuk setiap rambut satu derajat di surga.”

    Buya Yahya melalui ceramahnya yang ditayangkan dalam YouTube Al Bahjah TV juga mengatakan hendaknya muslim tidak melewatkan puasa pada 10 Muharram.

    “Tapi di antara (tanggal) 10 pada 1 bulan (Muharram) itu ada hari istimewa yang harus anda tekankan yaitu tanggal 10 Muharram. Jangan puasa di (tanggal) 1,2,3,4,5,6,7,8,9 (tapi tanggal) 10-nya buka (tidak puasa). Jangan gitu,” katanya. detikHikmah telah mendapat izin mengutip tayangan tersebut.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Islam dan Budaya Saling Menguatkan



    Jakarta

    Di Indonesia tahun baru Islam dirayakan dengan berbagai cara. Dari Tabuik di Pariaman, tradisi Grebeg Suro di Jawa, hingga doa bersama di masjid, musala di kampung-kampung.

    Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan aneka tradisi perayaan tahun baru Islam di Indonesia menunjukkan adanya kekayaan Nusantara dan Islam yang membumi.

    “Di banyak daerah di Indonesia, Muharram dirayakan dengan cara yang indah. Ada Tabuik di Pariaman, Grebeg Suro di Jawa, doa bersama di kampung-kampung. Semua itu menunjukkan bahwa Islam dan budaya lokal kita tidak saling meniadakan, justru saling menguatkan,” kata Nasaruddin dalam keterangan tertulisnya Kamis 26 Juni 2025.

    Beragam tradisi perayaan tahun baru Islam di sejumlah daerah di Indonesia tersebut, lanjut Menag, menandakan Islam yang membumi tanpa kehilangan kemurniannya. “Maka tugas kita hari ini bukan hanya menjaga ritual, tapi menjaga makna. Bukan hanya mengingat peristiwa hijrah, tapi menghidupkan semangat hijrah dalam kehidupan nyata, baik di ruang keluarga, pendidikan, birokrasi, maupun media sosial,” sambung Menag.


    Nasaruddin Umar yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengajak mengajak seluruh umat Islam Indonesia menyambut tahun baru hijriyah 1447 ini dengan tiga kata kunci.Pertama, bersyukur, karena kita masih diberi umur dan kesempatan. Kedua, berhijrah, karena stagnasi adalah musuh masa depan. Ketiga, berkontribusi, karena iman yang sejati harus tampak dalam tindakan.

    Secara khusus Menteri Agama Nasaruddin Umar mengucapkan Selamat Tahun Baru 1447 Hijriah kepada seluruh umat Islam. Dia berharap hijrah bisa menjadi momentum tidak semata berpindah tempat dan waktu, tapi juga arah dan tujuan hidup yang lebih baik dan berkualitas.

    Menag Nasaruddin mengutip Firman Allah SWT yang tercantum dalam Al-Quran, Surah At-Taubah ayat 20:

    اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ ۝٢

    Arab latin: alladzîna âmanû wa hâjarû wa jâhadû fî sabîlillâhi bi’amwâlihim wa anfusihim a’dhamu darajatan ‘indallâh, wa ulâ’ika humul-fâ’izûn

    Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka lebih agung derajatnya di hadapan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

    Menurut Menag hijrah dalam Surah At-Taubah ayat 20 bukan sekadar berpindah tempat, tapi berpindah arah. “Dari gelap ke terang. Dari stagnan ke tumbuh. Dari biasa-biasa saja ke luar biasa dalam nilai dan kontribusi,” pesan Menag.

    “Hari ini, mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Sudah sejauh mana kita berhijrah dari rutinitas yang kering makna menuju amal yang bernilai? Sudahkah kita membawa Islam tidak hanya di kartu identitas, tapi juga dalam kejujuran, dalam kasih sayang, dalam tindakan sehari-hari?,” lanjutnya.

    Sejarah tahun baru hijriah diambil dari momentum hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah lebih dari 14 abad lalu. Peristiwa ini membawa makna mendalam bagi perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw. Islam kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia.

    Tahun Baru Islam tidak datang dengan kemeriahan pesta. Tahun Baru Islam hadir dalam sunyi, dalam zikir, dan dalam refleksi yang hening.

    Menurut Menag Nasaruddin, di situlah kekuatannya. Sebab, perubahan besar sering dimulai dari perenungan yang paling dalam.

    “Selamat Tahun Baru Islam 1447 Hijriah. Semoga hijrah kita bukan hanya berpindah waktu, tapi berpindah kualitas hidup,” kata Menteri Nasaruddin.

    (erd/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 1 Muharam 1447 H, Menag Nasaruddin Ajak Umat Islam Refleksi Makna Hijrah



    Jakarta

    Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum untuk melakukan transformasi spiritual, intelektual, dan sosial. Ia menekankan pentingnya merenungkan kembali makna hijrah Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.

    “Bagaimana kita menghayati apa hikmah di balik hijrahnya Rasulullah SAW? Ada hijrah fisik, hijrah intelektual, spiritual, hijrah dari segi waktu, hijrah dari prestasi,” ujar Nasaruddin Umar di acara peringatan 1 Muharam 1447 Hijriah Tingkat Kenegaraan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (26/6/2025) malam.

    Menag menyebut, peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah merupakan awal dari perubahan besar dalam sejarah umat manusia, yakni dari kegelapan menuju pencerahan peradaban. Oleh karena itu, Menag mengingatkan, “Apa artinya kita memperingati Muharam kalau terjadi penurunan degradasi kualitas individu?” tegasnya.


    Nasaruddin Umar juga menyoroti keputusan para sahabat Nabi yang menjadikan peristiwa hijrah sebagai dasar kalender Islam. Hal ini menunjukkan betapa agungnya momen tersebut dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.

    “Banyak pilihan yang ditawarkan saat itu di masa pemerintahan Umar bin Khattab terkait kalender atau penanggalan umat Islam. Lalu Sayyidina Ali mengusulkan agar hijrahnya Rasulullah SAW. Para sahabat pun menyepakati,” imbuh pria yang juga menjabat sebagai imam besar Masjid istiqlal itu.

    Lebih lanjut, Menag Nasaruddin Umar menyinggung relevansi semangat hijrah dengan kehidupan modern. Baginya, hijrah adalah ajakan untuk terus-menerus memperbaiki diri, bergerak dari kondisi stagnan menuju kemajuan yang penuh makna.

    “Kalau ada di antara kita di sini diberikan umur panjang oleh Allah, bisa hidup pada tahun 2.526 Masehi, maka itu juga akan bertepatan dengan 2.526 Hijriah,” pungkasnya.

    (hnh/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Sejarah Penetapan 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam


    Jakarta

    1 Muharram menjadi momentum yang dirayakan umat Islam di seluruh dunia. Umumnya, muslim memanfaatkan Tahun Baru Islam ini untuk muhasabah, hijrah hingga pembaruan diri.

    Selain itu, banyak juga amalan yang bisa dikerjakan muslim untuk mensyukuri awal tahun Hijriah tersebut. Dengan mengerjakan berbagai amalan itu, muslim bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Perlu dipahami, terdapat sejarah mengenai penetapan 1 Muharram sebagai Tahun Baru Islam. Penetapan ini erat kaitannya dengan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang juga menjadi Khalifah sepeninggalan beliau, yaitu Umar bin Khattab RA.


    Sejarah Penetapan 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam

    Dikisahkan dalam buku Menggapai Berkah di Bulan-bulan Hijriah karya Siti Zamratus Sa’adah, dahulu muslim belum memiliki sistem penanggalan yang baku. Hal ini menyebabkan surat menyurat antara khalifah pusat dengan para pemimpin di wilayah kekuasaan Islam sering mengalami kebingungan karena tidak ada penanggalan yang jelas.

    Kejadian itu berlangsung sekitar 6 tahun setelah meninggalnya Rasulullah SAW saat pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA. Abu Musa al-Asy’ari yang merupakan seorang gubernur mengirim surat kepada Umar RA untuk dibuatkan sistem kalender resmi agar urusan administrasi dapat teratur dengan baik dan tertib.

    Mendengar hal itu, Umar bin Khattab RA segera mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah dalam menentukan sistem penanggalan yang tetap bagi umat Islam. Berbagai pendapat bermunculan pada pertemuan tersebut.

    Masing-masing mengeluarkan pandangannya dari mana sebaiknya hitungan tahun dalam Islam dimulai. Sebagian sahabat mengusulkan agar dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

    Namun, ada juga yang berpendapat dari hari pertama sang rasul mendapat wahyu. Pendapat lain mengatakan sebaiknya dimulai dari hari wafatnya Rasulullah SAW.

    Dari semua pendapat itu, hasilnya para sahabat sepakat menentukan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai penetapan awal kalender Islam. Khalifah Umar bin Khattab RA lalu mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah sang rasul adalah tahun satu, sejak saat itu kalender Islam disebut Tarikh Hijriyah.

    1 Muharram pada 1 Hijriah bertepatan dengan 16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Sementara itu, tahun keluarnya keputusan Khalifah Umar RA adalah 638 M dan ditetapkan sebagai 17 Hijriah.

    Penamaan Hijriah pada kalender Islam berasal dari bahasa Arab yang maknanya berpindah. Kata ini diambil dari awal mula penanggalan, yaitu hijrahnya sang rasul dari Makkah ke Madinah.

    Turut disebutkan melalui buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah yang disusun Ida Fitri Shohibah, meski peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW terjadi pada Rabi’ul Awwal, para sahabat memilih Muharram sebagai awal tahun Hijriah. Tak sembarangan, ada faktor penting yang menjadikan Muharram sebagai awal bulan pada kalender Hijriah.

    Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram dalam Islam, yang sejak zaman jahiliyah telah dimuliakan dan dihormati. Muharram juga berdekatan dengan bulan Zulhijah, saat umat Islam menunaikan ibadah haji.

    Dengan demikian, terdapat makna yang mendalam pada 1 Muharram bagi kaum muslimin. Tak hanya sekadar pergantian angka tahun, melainkan juga simbol hijrah. Berpindah dari kegelapan menuju cahaya, dari dosa menuju tobat.

    (aeb/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Keistimewaan Bulan Muharram yang Perlu Diketahui Umat Islam


    Jakarta

    Kita tinggal menghitung hari menuju datangnya Bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah yang penuh makna. Itu tandanya, kita akan segera berganti tahun dan memasuki tahun baru 1447 Hijriah.

    Bulan Muharram dikenal sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam dan menyimpan banyak keistimewaan. Lantas, apa saja keistimewaan Bulan Muharram yang perlu kita ketahui dan amalkan?

    Keistimewaan Bulan Muharram

    Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah, Muharram memegang posisi istimewa sebagai salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam ajaran Islam. Mengacu pada buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ustadz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid dan Majalah Aula Edisi Juli 2024 bertema Istiqamahkan Ngaji karya KH Nurul Huda Djazuli, terdapat sejumlah keistimewaan yang terkandung di dalam Bulan Muharram.


    1. Bulan Allah dan Para Nabi

    Salah satu keutamaan lain dari bulan Muharram adalah bahwa ia disebut sebagai bulan Allah (Syarullah), karena memiliki keistimewaan yang lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya.

    Menurut Majalah Aula, Syeikh Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa keistimewaan bulan Muharram terletak pada namanya yang paling mencerminkan nilai-nilai Islam dibanding bulan Hijriah lainnya.

    Bulan ini juga dikenal sebagai bulannya para nabi karena banyak peristiwa penting yang terkait dengan para nabi terjadi di dalamnya. Di antaranya adalah diterimanya tobat Nabi Adam, diangkatnya Nabi Idris ke tempat yang tinggi, turunnya Nabi Nuh dari bahtera setelah banjir besar, serta keselamatan Nabi Ibrahim dari kobaran api.

    Selain itu, pada bulan Muharram pula diturunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa, ditenggelamkannya Fir’aun di Laut Merah, hingga peristiwa diangkatnya Nabi Isa ke langit menjelang upaya penyaliban.

    2. Bulan Suci

    Dalam Islam, bulan Muharram termasuk salah satu bulan yang sangat dimuliakan. Keistimewaan bulan haram ini disebutkan secara jelas dalam Surah At-Taubah ayat 36.

    اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ٣٦

    Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

    3.Bulan Hijrah

    Dengan merenungi peristiwa besar hijrahnya Nabi Muhammad SAW, kita dapat memetik pelajaran dan hikmah yang berharga sebagai bekal dalam menyambut tahun baru Islam 1446 Hijriah. Hijrah dari Makkah ke Madinah mencerminkan perjalanan dari kehidupan jahiliyah menuju peradaban yang berlandaskan iman dan akhlak mulia.

    Momentum pergantian tahun ini menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk bermuhasabah, mengevaluasi diri, dan merenungkan perjalanan hidup selama ini, agar ke depannya kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

    4. Bulan Dilipatgandakan Amalan

    Di bulan Muharram, Allah SWT mendorong umat Islam untuk meningkatkan amal kebajikan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Sebab, pada bulan yang mulia ini, pahala dari setiap perbuatan baik akan dilipatgandakan, begitu pula dosa akibat perbuatan maksiat akan menjadi lebih besar.

    Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan hal ini dengan lebih mendalam.

    ثُمَّ اخْتَصَّ مِنْ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حَرَامًا، وعَظم حُرُماتهن، وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيهِنَّ أَعْظَمَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالْأَجْرَ أَعْظَمَ.

    Artinya: “Allah SWT mengkhususkan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada, bahkan menjadikannya mulia dan istimewa, juga melipatgandakan perbuatan dosa disamping melipatgandakan perbuatan baik.”

    5. Terdapat Hari Asyura

    Hari Asyura yang diperingati setiap tanggal 10 Muharram merupakan salah satu hari paling istimewa dalam bulan yang penuh kemuliaan ini. Pada hari tersebut, berbagai peristiwa besar dan bersejarah dalam Islam pernah terjadi.

    Kaum Muslimin sangat dianjurkan untuk menjalankan puasa pada hari Asyura, yaitu tanggal 10 di bulan Muharram. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dijelaskan bahwa puasa di hari tersebut dapat menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan selama setahun sebelumnya.

    عَنْ أَبي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. (رواه مسلم)

    Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra: sungguh Rasulullah saw bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat.” (HR Muslim)

    6. Puasa Sunnah

    Puasa sunah di bulan Muharram sangat dianjurkan bagi umat Islam. Sebab puasa ini menempati posisi tertinggi setelah puasa Ramadan.

    Anjuran ini disampaikan langsung oleh Rasulullah SAW sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” أفضل الصيام بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ “.

    Artinya: Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah puasa di bulan Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam.” (HR Muslim)

    7. Dimuliakan Umat Beragama

    Tidak hanya dalam Islam, Hari Asyura juga dihormati oleh kaum Yahudi. Mereka merayakannya dengan puasa sehari penuh, sebagai ungkapan syukur atas kemenangan Nabi Musa AS mengalahkan Firaun dan pasukannya.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com