Tag: tampon

  • Normalkah Miss V Kentut saat Berhubungan Seks? Begini Penjelasannya

    Jakarta

    Vagina kentut atau yang dikenal dengan istilah queefing, merupakan fenomena yang umum terjadi. Meskipun tidak berbahaya, kentut vagina sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman hingga mengganggu kepercayaan diri.

    Mengutip PharmEasy, vagina kentut terjadi akibat udara atau gas yang terjebak dalam vagina keluar, sehingga menimbulkan bunyi seperti kentut namun tidak berbau.

    Vagina kentut umum terjadi dan dapat disebabkan oleh berbagai hal. Mengutip Everyday Health, kentut vagina biasanya berlangsung beberapa detik ketika atau setelah berhubungan seks. Kejadian ini juga bisa terjadi selama berolahraga.


    Apa Penyebab Terjadinya Vagina Kentut?

    Dikutip dari Cleveland Clinic, vagina kentut terjadi ketika vagina melepaskan udara yang terperangkap di dalamnya. Ini merupakan respon tubuh yang spontan dan tidak dapat dikendalikan.

    Udara yang terperangkap tidak mempunyai tempat penampungan, sehingga harus keluar dari tubuh. Suara seperti kentut yang muncul adalah suara udara yang didorong keluar dari vagina.

    Beberapa faktor umum yang menyebabkan udara terperangkap di vagina meliputi:

    1. Aktivitas Seksual

    Seks menjadi salah satu penyebab utama terperangkapnya gas di dalam vagina. Saat penis, mainan seks, atau jari masuk dan keluar dari vagina, udara dapat terdorong ke dalam.

    Saat dikeluarkan dari vagina, udaranya dilepaskan, sehingga menimbulkan kentut vagina. Gas vagina lebih banyak terjadi pada posisi tertentu atau ketika berganti posisi saat berhubungan seksual.

    2. Menggunakan Tampon

    Sama halnya dengan hubungan seksual, memasukkan tampon atau menstrual cup ke dalam vagina selama menstruasi dapat memaksa udara masuk ke saluran vagina. Udara tersebut akhirnya keluar saat tampon atau menstrual cup dilepaskan, sehingga menimbulkan bunyi seperti kentut dari vagina.

    3. Otot Panggul Yang Lemah

    Menopause, melahirkan, dan penyebab lain dari disfungsi dasar panggul meningkatkan kemungkinan terjadinya kembung pada vagina akibat gas yang terperangkap karena melemahkan otot dasar panggul.

    4. Pemeriksaan Vagina

    Membuang gas ketika sedang melakukan pemeriksaan vagina merupakan hal yang wajar. Saat spekulum atau alat yang digunakan untuk memeriksa bagian dalam vagina dimasukkan, hal tersebut memungkinkan udara untuk masuk masuk.

    5. Fistula Vagina

    Fistula adalah lubang antara saluran vagina dan organ saluran kemih atau pencernaan (seperti kandung kemih atau usus). Fistula vagina biasanya disebabkan oleh trauma, pembedahan, atau penyakit lainnya. Selain gas vagina, gejala fistula vagina termasuk buang air kecil yang tidak terkendali, kencing berbau busuk, dan inkontinensia tinja .

    6. Gerakan Fisik

    Yoga, olahraga, dan gerakan lain seperti lari dapat menyebabkan udara terperangkap di dalam vagina karena vagina sedikit terbuka atau meregang selama aktivitas tersebut.

    Mengutip dari Everyday Health, kentut vagina merupakan kondisi yang normal dan tidak perlu diobati.

    Namun jika mengalami kentut vagina disertai gejala seperti berikut, periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut:

    • Kotoran atau nanah keluar dari vagina.
    • Keputihan yang berbau tidak sedap.
    • Infeksi vagina atau saluran kemih yang sering terjadi.
    • Iritasi atau nyeri pada vulva, vagina, atau area antara vagina dan anus.
    • Nyeri saat berhubungan seks.

    Jika mengalami gejala-gejala tersebut, kentut vagina bisa menjadi tanda fistula rektovaginal yang jarang terjadi.

    (suc/suc)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Kronologi Wanita Hampir Tewas gegara Tak Lepas Tampon Haid Berbulan-bulan


    Jakarta

    Seorang wanita bernama Kelsey Foster membagikan kisahnya hampir meninggal karena lupa melepas tampon untuk menstruasi selama dua bulan, bahkan lebih. Ia pun harus berjuang untuk hidupnya setelah didiagnosis mengidap toxic shock syndrome (TSS).

    TSS adalah komplikasi infeksi bakteri jenis tertentu yang mengancam jiwa. Seringkali kondisi ini disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh bakteri Staphylococcus aureus (staph), namun juga dapat disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh bakteri streptokokus grup A (strep).

    TSS dapat menyerang siapa saja, termasuk pria, anak-anak, dan wanita pascamenopause. Faktor risiko TSS termasuk luka kulit, pembedahan, dan penggunaan tampon serta perangkat lain, seperti cangkir menstruasi, spons kontrasepsi, atau diafragma.


    Lebih lanjut, Kelsey pun menceritakan bagaimana dirinya bisa lupa melepas tampon dan didiagnosis TSS. Wanita dari Newcastle, Australia, itu diketahui sering bolak balik ke RS selama beberapa bulan terakhir karena memiliki masalah kandung empedu dan organ hati. Kondisi ini tak ada kaitannya dengan TSS karena sudah diidapnya sedari lama.

    Dirinya juga mengaku terbiasa merasa kram dan kesakitan pada perutnya lantaran mengidap endometriosis, suatu kondisi saat jaringan yang mirip dengan lapisan rahim tumbuh di luar rahim.

    Imbas hal tersebut, Kelsey selalu menghubungkan gejala kram perut dengan kondisi endometriosis atau masalah kandung empedu. Padahal, kenyataanya disebabkan karena penyakit lain.

    Suatu hari, Kelsey pergi ke kamar mandi dan merasakan ada sesuatu yang ‘keluar’ dari dirinya. Awalnya ia mengira sesuatu yang ‘keluar’ tersebut merupakan gumpalan darah yang kerap dialaminya imbas endometriosis.

    Namun setelah diperhatikan lagi, sesuatu yang keluar dari dirinya itu adalah tampon haid tua yang sudah berbulan-bulan ‘nyangkut’ di dalam dirinya.

    “Ditemukan bahwa saya mengidap batu empedu dan kemudian kantong empedu saya kolaps. Hati saya juga menunjukkan tanda-tanda iritasi. Saya menunggu operasi dan menjalani tes. Suatu hari, aku pergi ke kamar mandi dan aku merasakan ada sesuatu yang keluar dari diriku,” imbuhnya kepada news.com.au.

    “Saya tidak yakin sudah berapa lama hal itu terjadi di dalam diri saya, tapi pastinya sudah terjadi setidaknya enam minggu yang lalu, karena itulah saat terakhir saya mengalami menstruasi. Siklus menstruasi saya sangat tidak teratur,” katanya lagi.

    Kelsey mengaku tak tahu bagaimana dirinya bisa lupa mengeluarkan tamponnya, namun ia sangat yakin hal tersebut disebabkan karena stres dan rutinitasnya saat menjalani pengobatan di RS.

    Setelah tampon tersebut keluar dari tubuhnya, Kelsey pun memasukkannya ke dalam kantong zip-lock untuk ditunjukkan kepada dokter yang melakukan tes padanya, mengumpulkan darah, dan kemudian memastikan diagnosisnya mengidap TSS.

    “Itu adalah situasi ‘Anda sangat beruntung karena Anda tidak mati’,” ungkapnya.

    “Saya bersyukur saya menemukan tampon itu ketika saya menemukannya. Shock toxic dapat membunuh Anda dalam hitungan hari, saya sangat beruntung karena kondisi tersebut tidak sampai ke tahap itu,” katanya.

    (suc/vyp)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy