Tag: tanah timor

  • Klamby Rilis Koleksi Busana dan Hijab Nuansa Tenun hingga Flora Khas NTT

    Jakarta

    Brand busana muslim dan hijab lokal, Klamby identik mengangkat unsur keindahan budaya Indonesia dalam setiap koleksinya. Kali ini Klamby menyuguhkan koleksi edisi terbatas dengan unsur kebudayaan NTT.

    Sandy Hendra Budiman sebagai Public Relation Klamby menjelaskan soal koleksi bertajuk Dayana Series ini. Dia mengungkapkan koleksi terbaru Klamby menghadirkan motif bunga khas Nusa Tenggara Timur.

    “Dari patternya ada endemik flora dan bunganya merah dari bunga cendana. Ada campuran bunga lotus dan emblishment tenun. Klamby memang sudah terkenal mengambil kearifan lokal Indonesia. Karena tujuan Kalmby ketika orang memakai orang dari daerah mana akan bangga,” ungkap Shandy.


    Shandy menjelaskan koleksi Dayana tersedia dalam bentuk hijab reguler, hijab syari, blouse, dress dan tunik. Bahannya menggunakan polyester dicampur dengan organza.

    “Totalnya ada empat item. Harganya good a quality scarf with affordable price Rp 345 Ribu dan apparel Rp 450 Ribu hingga Rp 1 juta. Ukurannya mulai dari S hingga XXXL,” jelasnya.

    Nama koleksi Dayana dari Klamby ini terinspirasi dari lagu yang berjudul Flobamora. Lagu tersebut memiliki makna seorang yang cinta dan bangga akan kampung halaman yaitu Tanah Timor atau Nusa Tenggara Timur. Selain itu, lirik lagu ini juga bercerita tentang kerinduan para perantau yang mengingat kampung kelahirannya.

    “Koleksi ini juga untuk orang NTT yang sedang merantau dan bisa menimbulkan semangat bagi warga NTT karena kita mengangkat keindahan alam dari NTT,” ungkapnya.

    Makna lagu Flobamora digambarkan oleh tenun khas NTT yaitu tenun Buna dan Lotis (teknik tenun sulam), yang merupakah hasil karya kebangsaan dari suku Molo, Savu, dan Biboki. Motif ini menggabungkan flora-flora khas NTT sebagai identitas daerah, antara lain bunga Flamboyan (sebagai ikon), bunga lotus, tanaman cendana, eucalyptus, rosella, dan konjil.

    Koleksi yang bertajuk Dayana ini bermakna tangguh, kuat dan mencerminkan masyarakat NTT sebagai perantau yang pemberani.

    (gaf/eny)



    Sumber : wolipop.detik.com

  • Bukit Fatukopa di NTT, Legenda Bahtera Nabi Nuh di Indonesia Timur


    Jakarta

    Bukit Fatukopa adalah destinasi wisata eksotik dengan puncak mirip perahu yang terletak di KEcamatan Fatukopa, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bukit kapur ini menjulang dengan banyak kisah legenda yang dipercaya antar generasi.

    Salah satu legenda populer menyatakan, Bukit Fatukopa adalah bahtera atau perahu Nabi Nuh yang terdampar. Tidak jelas asal mula legenda tersebut dan penyebab perahu Sang Nabi bisa ada di bagian bumi Indonesia Timur.

    Dikutip dari tulisan berjudul Produksi Film Dokumenter Fatukopa Karamnya Kapal Nuh di Tanah Timor karya Christin Takain dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Jawa Tengah, perahu Nabi Nuh yang sangat besar karam setelah menerjang air bah. Karena itu, bentuk puncak bukit mirip perahu.


    Cerita lain menyatakan, Bukit Fatukopa adalah asal mula nenek moyang orang Timor. Karena itu, Suku Dawan sebagai salah satu kelompok masyarakat tertua dan terbesar di NTT menganggap tempat ini keramat. Siapa saja yang ingin mendaki bukit ini harus memperoleh izin ketua suku.

    Sebagai informasi, Suku Dawan banyak berdiam di Kabupaten Kupang tak terkecuali Kecamatan Timor Tengah Selatan. Dikutip dari situs Kemdikbud dan Indonesia Kaya, Suku Dawan menyebut tempat tinggalnya sebagai Tanah Dawan dan bahasa yang digunakan adalah Bahasa Dawan. Suku Dawan digambarkan sebagai sekelompok orang yang pandai berburu.

    Legenda Bukit Fatukopa

    Bukit Fatukopa tidak boleh didaki apalagi yang dilakukan orang luar bukan dari suku setempat. Puncak Bukit Fatukopa hanya terbuka untuk ketua adat yang hendak melakukan persembahan pada leluhur. Ketua adat nantinya berkomunikasi dan akan memperoleh petunjuk dari orang-orang terdahulu.

    Dalam tulisan tersebut dijelaskan, pengunjung yang nekat mendaki Bukit Fatukopa harus melakukan ritual adat lebih dulu. Ritual dilakukan bersama seorang usif, sebutan untuk pemimpin atau raja bagi masyarakat setempat. Pelaksanaan bertujuan meminta keselamatan dan kemudahan dalam pendakian hingga sampai di puncak.

    Ritual dilakukan dengan membakar lilin, menuang minuman beralkohol tradisional sopi, dan membakar ayam kampung yang kemudian dinikmati bersama. Menurut tulisan tersebut, spot ritual adalah tempat yang disebut pohon batu Fatukopa. Tentunya, para pendaki ikut serta dalam ritual dari awal hingga selesai.

    Para pendaki hanya bisa melanjutkan rencananya, jika leluhur sudah mengizinkan yang dikomunikasikan lewat ketua adat. Pendaki yang keras kepala akan mengalami kesulitan, celaka, hingga akhirnya tidak sampai puncak. Konsekuensi serupa terjadi jika pendaki nekat ke puncak tanpa melakukan ritual.

    Menurut kepercayaan setempat. Bukit Fatukopa dijaga seekor kuda dan ular. Fosil kuda ini terdapat di bagian selatan bukit, sedangkan sosok ular jarang menampakkan diri kecuali pada orang yang diinginkan. Penjaga lain adalah para kera dengan wajah mirip manusia sebagai petugas pengusir manusia yang nekat naik ke puncak Bukit Fatukopa.

    Terlepas dari benar tidaknya legenda Bukit Fatukopa, kisah turun temurun itu berhasil menjaga kelestarian alam lingkungan setempat. Bukit masih tampak hijau asri, vegetasi tumbuh tanpa hambatan, bersama biota lain. Seluruh kekayaan alam ini tidak dicuri atau dipindah-pindah tangan usil.

    Detikers yang penasaran dengan Bukit Fatukopa di bisa kemah di Bukit Besteke untuk melihat langsung keindahan alamnya. Rute dari Jakarta ke Bukit Besteke adalah:

    • Jakarta-Kupang bisa ditempuh pesawat dengan harga tiket Rp 1,7 juta-2,3 juta sesuai tanggal keberangkatan, permintaan pengguna, dan keperluan transit
    • Kupang-Soe bisa ditempuh dengan mobil atau bus umum sejauh 108 km. Perjalanan memerlukan waktu kurang lebih 2 jam 36 menit dalam kondisi lancar.
    • Soe-Bukit Besteke ditempuh dengan mobil atau motor sejauh 68 km dengan waktu tempah 2-3 jam.

    Berkemah di Bukit Besteke tidak dikenakan biaya seperti dikutip dalam google review. Namun, pengunjung harus membawa sendiri perlengkapan kemah ke Bukit Besteke yang dikelola masyarakat setempat. Pengunjung wajib membayar biaya sewa kamar mandi sebesar Rp 5 ribu di rumah penduduk serta tarif parkir Rp 20 ribu per mobil.

    Selama berkemah, pengunjung wajib hati-hari karena tidak ada pagar pembatas atau petunjuk spot lokasi yang bisa didirikan tenda. Sebelum berkemah ke Bukit Besteke untuk melihat bukit Fatukopa, pastikan kendaraan mampu berjalan di medan berat.

    (row/wsw)



    Sumber : travel.detik.com