Tag: the fed

  • Bitcoin Cs Melempem Jelang Pidato Jerome Powell


    Jakarta

    Pasar aset mata uang kripto menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa (19/8) pagi. Tekanan umumnya dialami oleh mata uang Bitcoin, Ethereum, hingga Dogecoin terpantau berada di zona merah.

    Mengutip data perdagangan Coinmarketcap, Bitcoin (BTC) terkoreksi lebih dari 1,12% dalam 24 jam terakhir dan melemah 2,27% sepanjang sepekan. Saat ini, harga BTC menyentuh level US$ 113,000 atau sekitar Rp 1,83 miliar (asumsi kurs Rp 16.218).

    Sementara untuk mata uang Ethereum (ETH) berada di harga US$ 4,200 atau sekitar Rp 68,24 juta. Cardano (ADA) tercatat anjlok 3,84% di harga US$ 0,92, Solana (SOL) di harga US$ 179, XRP di harga US$ 3, dan Dogecoin (DOGE) di harga US$ 0,21.


    Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global turun menjadi US$ 3,8 triliun atau sekitar Rp 61,74 kuadriliun, melemah dalam 24 jam terakhir. Indeks Sentimen Pasar Kripto (Crypto Fear and Greed Index) tercatat berada pada level 53, menunjukkan kondisi netral dengan kecenderungan waspada.

    Indodax menilai, pelemahan harga kripto terjadi akibat sentimen pasar yang cenderung melemah jelang pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang diperkirakan memberi sinyal arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Selain itu, regulator keuangan Korea Selatan baru saja memerintahkan bursa kripto lokal untuk menghentikan layanan pinjaman kripto.

    Dua sentimen ini dinilai meningkatkan kecemasan investor terkait stabilitas pasar regional. Sementara dari sisi on-chain, tercatat adanya pergerakan signifikan dari investor whale dan institusi.

    Data menunjukkan sebanyak 12.000 BTC dikirim ke bursa, indikasi aksi ambil untung oleh pemegang besar. Namun, akumulasi tetap terjadi di sisi treasury: Di sisi lain, Metaplanet menambah 775 BTC senilai sekitar US$ 93 juta, sementara MicroStrategy membeli tambahan 430 BTC.

    Vice Presiden Indodax, Antony Kusuma menyebut, kombinasi sentimen ini menunjukkan dinamika pasar yang kompleks. Menurutnya, jika deposit whale terus meningkat, potensi kepanikan investor ritel bisa muncul.

    Sebaliknya, akumulasi oleh perusahaan publik menjadi faktor penopang jangka panjang, meskipun efek jangka pendeknya terbatas. “Pasar kripto sering kali bergerak lebih cepat dalam merespons sinyal kebijakan makroekonomi dibanding instrumen lain. Tekanan harga yang terjadi saat ini mencerminkan sikap investor yang menahan posisi sambil menunggu kejelasan dari bank sentral Amerika,” jelas Antony dalam keterangan tertulisnya, Rabu (20/8/2025).

    Antony menjelaskan, deposit besar ke bursa dari whale seringkali memicu volatilitas jangka pendek. Jika tren ini berlanjut, ia menilai investor ritel bisa terdorong melakukan aksi jual.

    Namun, Antony menyebut akumulasi yang dilakukan institusi justru mencerminkan kuatnya keyakinan terhadap nilai BTC dalam jangka panjang. Perbedaan perilaku antara trader jangka pendek dan strategi perbendaharaan jangka panjang membuat dinamika pasar BTC semakin unik.

    Antony menambahkan, meski pembelian oleh institusi memberikan fondasi jangka panjang, dampaknya terhadap harga tidak serta-merta langsung terasa dibandingkan dengan tekanan jual dari whale.

    “Saat ini pasar berada di titik keseimbangan antara aksi ambil untung whale dan strategi akumulasi institusi. Investor perlu berhati-hati dalam jangka pendek, namun tetap melihat adanya struktur penopang yang terbentuk untuk jangka panjang,” ujarnya.

    Meski demikian, Antony menekankan kondisi pasar saat ini justru bisa menjadi momentum bagi investor jangka panjang. Strategi seperti dollar-cost averaging dinilai dapat membantu menghadapi volatilitas yang tinggi. Menurutnya, pelemahan altcoin seperti ETH, ADA, maupun SOL saat ini bagian dari pola rotasi pasar.

    “Investor cenderung mengalihkan likuiditas ke aset yang dianggap lebih aman ketika volatilitas meningkat. Pola ini bukan berarti altcoin kehilangan potensi, melainkan refleksi dari sikap konservatif sementara,” jelasnya.

    Secara historis, menurut Antony, volatilitas kripto yang tinggi justru membuka ruang bagi inovasi. Di tengah tekanan harga, ia mengingatkan pentingnya disiplin manajemen risiko. Ia juga menekankan bahwa transparansi bursa menjadi kunci menjaga kepercayaan publik

    “Setiap fase koreksi biasanya diikuti oleh lahirnya tren baru. Investor yang mampu melihat peluang di balik volatilitas akan lebih siap menghadapi perubahan siklus berikutnya,” ujar dia.

    Tonton juga video “Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?” di sini:

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Aplikasi Saham Terbaik di Indonesia 2025


    Jakarta

    Tahun 2025 menghadirkan banyak peluang baru bagi para trader dan investor. Walaupun sempat diwarnai isu tarif serta kebijakan makro yang dapat menekan pasar, bursa Amerika Serikat (AS) dan Indonesia tetap menunjukkan performa yang solid.

    Hingga 3 September 2025, S&P 500 telah mencatat pertumbuhan 8,68% sejak awal tahun, sementara IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) melonjak 10,86%. Namun, jika melihat lima tahun terakhir, pasar saham AS masih mendominasi. S&P 500 tumbuh +83,4%, sedangkan IHSG +50,5%, menandakan reli Wall Street yang konsisten dalam jangka panjang.

    Kinerja positif tahun ini sebagian besar ditopang oleh saham-saham teknologi dan AI seperti Nvidia (NVDA), Meta (META), Microsoft (MSFT), dan Google (GOOG) yang semuanya mencatat pertumbuhan dua digit-bahkan Nvidia naik lebih dari 25%. Meski momentum tahun ini begitu kuat, daya tahan pasar sangat bergantung pada kedalaman likuiditas.


    Perbedaan skala sangat terasa: kapitalisasi 50 emiten terbesar Indonesia hanya sekitar US$405 miliar, jauh di bawah kapitalisasi Nvidia yang sudah menembus US$4 triliun (Companies Market Cap). Skala yang berbeda ini berpengaruh pada kemudahan eksekusi dan daya tarik bagi dana global.

    Dari sisi kebijakan, sentimen positif turut menguat seiring ekspektasi penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada 17 September 2025-dari kisaran 4,25% – 4,50%-dengan probabilitas sekitar 89,7% (CME FedWatch Tool, data 3 September 2025). Penurunan suku bunga ini umumnya dipandang sebagai katalis bagi aktivitas bisnis dan kenaikan valuasi aset berisiko, sehingga membuka peluang bagi investor untuk memanfaatkan momentum yang ada.

    Dalam situasi dinamis seperti ini, aplikasi saham dengan fitur perdagangan real-time, notifikasi harga, akses data pasar, biaya transaksi rendah, dan kemudahan pemantauan portofolio menjadi sangat penting. Pilihan aplikasi saham di Indonesia pun semakin beragam, masing-masing menawarkan keunggulan dan kekurangan.

    Pembahasan berikut akan mengulas lima aplikasi saham teratas agar pembaca dapat membandingkan fitur, biaya, dan aspek keamanan sebelum memilih aplikasi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan gaya investasi mereka.

    1. Pluang

    Pluang kian memantapkan posisinya sebagai salah satu aplikasi saham terbaik di Indonesia. Bertumpu pada ekosistem multi-aset yang luas dan basis lebih dari 12 juta pengguna, aplikasi ini menawarkan pengalaman investasi digital yang aman, berizin dan diawasi Bappebti dan OJK.

    Lewat satu aplikasi, pengguna dapat mengakses 1.000+ produk investasi-mulai dari crypto, saham & ETF Amerika Serikat (AS), emas, reksa dana, hingga crypto futures dan options saham AS-dengan struktur biaya yang kompetitif.

    Fitur & Keunggulan

    • Pelopor Saham AS & ETF: akses ke 650 saham dan ETF populer, termasuk Google, Apple, dan Microsoft.

    • Saham fraksional asli: kepemilikan riil atas nama pribadi investor (bukan CFD) dengan hak atas dividen.

    • Perdagangan 24 jam (Senin-Sabtu) untuk Saham AS & ETF-yang pertama di Indonesia.

    • Rating 4.8 di Google Play Store.

    • Leverage hingga 4× untuk saham AS & ETF.

    • USD Yield hingga 4,13%.

    • Options: 650+ underlying, 10 strike, expiry hingga 1 tahun, termasuk 0DTE.

    • Pro Features: advanced order, take profit, dan stop loss, plus akses web trading berbasis TradingView gratis untuk analisis teknikal yang lebih presisi.

    Dari sisi keamanan, Pluang beroperasi melalui PT PG Berjangka untuk saham AS, ETF, dan Options. PT PG Berjangka berizin dan diawasi oleh OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek

    Catatan Risiko

    Meski berada dalam pengawasan regulator, produk saham AS, ETF, dan options tetap memiliki risiko: harga dapat berfluktuasi, nilai options bisa menyusut saat jatuh tempo, dan penggunaan leverage meningkatkan eksposur risiko.

    2. IPOT (Indo Premier)

    IPOT adalah platform investasi yang menghadirkan perdagangan saham dan instrumen pasar modal lewat web dan aplikasi seluler.

    Fitur & Keunggulan

    • Web & Mobile Trading: Real time execution dengan otomatisasi RoboTrading.

    • Tools: Charting, indikator teknikal, auto-orders, serta fitur chat.

    • Full support: saham, ETF, reksa dana, dan obligasi.

    Platform ini cocok untuk investor maupun trader yang menginginkan ekosistem dari grafik real-time dan kalender aksi korporasi.

    Catatan Risiko

    Meskipun PT Indo Premier Sekuritas berizin dan diawasi regulator, pengguna tetap perlu memahami risiko pasar (fluktuasi harga saham/ETF dan risiko suku bunga obligasi), serta meninjau biaya transaksi dan kewajiban pajak yang berlaku sebelum bertransaksi.

    3. Mandiri Sekuritas (Growin’)

    Growin’ adalah platform investasi dari Mandiri Sekuritas yang mendukung transaksi saham Indonesia, serta akses ke reksa dana dan obligasi dalam satu ekosistem digital.

    Fitur & Keunggulan

    • Mendukung penuh perdagangan saham Indonesia melalui ekosistem Growin’ (aplikasi mobile, web, dan integrasi di Livin’ by Mandiri).

    • Trade Now, Pay Later: bisa meminjam hingga 2,8× dari net cash dan 1,81× dari nilai portofolio.

    Platform ini sangat cocok untuk investor ritel yang menginginkan pengalaman trading cepat dan informatif-mulai dari data pasar real-time dan riset di aplikasi, tampilan Pro View untuk trader aktif, hingga akses via Livin’ by Mandiri untuk kemudahan setoran/penarikan.

    Catatan Risiko

    Investasi saham memiliki risiko pasar (harga dapat berfluktuasi). Penggunaan fasilitas margin Trade Now, Pay Later menimbulkan kewajiban pembiayaan dan tunduk pada syarat & ketentuan-nasabah perlu memahami ketentuan serta profil risikonya sebelum menggunakan fasilitas tersebut.

    4. Semesta (Semesta Online Trading)

    Semesta Online Trading adalah fasilitas perdagangan saham daring yang tersedia di mobile dan desktop untuk memudahkan investor bertransaksi dan memantau pasar.

    Fitur & Keunggulan

    Platform ini cocok untuk investor maupun trader yang membutuhkan akses perdagangan saham BEI lewat aplikasi dan web dengan informasi pasar yang komprehensif dan pemantauan portofolio

    Catatan Risiko

    Meskipun PT Semesta Indovest Sekuritas berizin dan diawasi regulator, pengguna tetap perlu memahami risiko pasar seperti fluktuasi harga saham, serta meninjau biaya transaksi dan ketentuan pajak yang berlaku sebelum bertransaksi.

    5. Ajaib (Saham)

    Ajaib adalah platform investasi saham dan reksa dana di Indonesia yang tersedia melalui aplikasi dan web untuk memudahkan pembukaan rekening dan transaksi ritel.

    Fitur & Keunggulan

    • Produk: akses ke seluruh saham yang tercatat di BEI dan produk reksa dana.

    • Web & Mobile Trading: transaksi saham BEI & reksa dana via aplikasi & web.

    • Tools: auto-order (take profit/stop loss), dan price alerts.

    Platform ini cocok untuk investor maupun trader yang mencari akses penuh ke saham BEI dan reksa dana dengan antarmuka aplikasi/web yang ringan.

    Catatan Risiko

    Meskipun PT Ajaib Sekuritas Asia berizin dan diawasi regulator, investasi pasar modal tetap mengandung risiko-harga saham/NAV reksa dana dapat berfluktuasi-serta biaya dan ketentuan pajak yang perlu diperhatikan sebelum bertransaksi.

    Tips Memilih Aplikasi Saham

    • Pastikan aplikasi beroperasi melalui perusahaan sekuritas berizin dan diawasi OJK.

    • Pertimbangkan biaya transaksi (fee beli/jual), minimum setoran RDN, dan fitur yang Anda butuhkan.

    • Pilih aplikasi dengan keamanan data dan dana yang jelas.

    • Manfaatkan materi edukasi untuk memahami cara kerja pasar dan fitur aplikasi sebelum berinvestasi riil.

    • Sesuaikan pilihan dengan profil risiko dan tujuan investasi Anda (dividen, pertumbuhan, atau trading aktif).

    Kesimpulan

    Dalam dinamika pasar 2025 dan percepatan adopsi teknologi finansial, setiap aplikasi saham menghadirkan nilai tawar yang berbeda-baik dari sisi ragam produk, keunggulan fitur, maupun struktur biaya yang ditawarkan. Penting bagi investor untuk membandingkan aspek-aspek tersebut secara menyeluruh, serta memastikan kepatuhan regulasi, khususnya untuk aplikasi global yang belum memiliki izin resmi dari regulator.

    Sepanjang 2025, Pluang terlihat menonjol sebagai salah satu aplikasi saham terdepan berkat akses ke 650+ Saham AS dan ETF, USD Yield hingga 4,13%, serta options dengan 650+ underlying-ditopang rating tinggi di Google Play Store (saat ini tercatat 4,8/5). Dari sisi keamanan, Pluang berizin dan diawasi OJK dan Bappebti.

    Pada akhirnya, keputusan tetap bergantung pada tujuan dan profil risiko masing-masing investor. Pastikan untuk memanfaatkan materi edukasi sebelum mencoba fitur berisiko tinggi seperti leverage dan options, cermati biaya serta implikasi pajak, dan pilih aplikasi yang paling sesuai dengan strategi investasi Anda.

    (akn/ega)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bitcoin Melejit, Sentuh Rp 1,9 M!


    Jakarta

    Mata uang kripto, Bitcoin (BTC), mulai merangkak naik pada perdagangan Minggu (14/9). Pergerakan harga ini terjadi menjelang keputusan FOMC Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed seiring naiknya ekspektasi pemangkasan suku bunga.

    Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap hari ini, harga BTC tembus US$ 115.772,86 atau sekitar Rp 1,90 miliar (asumsi kurs Rp 16.416) per koin. Meski naik, harga BTC terpantau melemah pada perdagangan harian, yakni sebesar 0,18% dan menguat sebesar 4.61 sepekan terakhir.

    Kenaikan harga juga terjadi pada koin jenis Ethereum (ETH) yang menguat ke harga US$ 4.680,95 atau sekitar Rp 76,84 juta kendati terkoreksi secara harian sebesar 0,58%. Namun berdasarkan data perdagangan sepekan, harga ETH menguat 8,92%.


    Kemudian harga koin BNB yang tercatat menguat sepanjang perdagangan harian maupun sepekan terakhir. Harga BNB naik menjadi US$ 937,16 atau sekitar Rp 15,38 juta dengan penguatan harian sebesar 1,09% dan 8,24% sepanjang perdagangan sepekan.

    Sementara untuk harga Solana (SOL), menguat 2,64% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir. Kemudian menguat pada perdagangan sepekan sebesar 22,85% ke harga US$ 248,60 atau sekitar Rp 4,08 juta per koin.

    Diketahui sebelumnya, BTC sempat menembus US$ 114.000 atau sekitar Rp 1,87 miliar pada Jumat (12/9). Kenaikan ini terjadi setelah data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat untuk Agustus turun lebih besar dari perkiraan, sehingga memperkuat harapan pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan September.

    Sebelumnya BTC sempat menyentuh US$ 113.953 sebelum akhirnya menembus US$ 114.000, level tertingginya sejak akhir Agustus. PPI utama turun menjadi 2,6% secara tahunan (perkiraan 3,3%), sedangkan PPI inti turun ke 2,8%. Data ini membuat proyeksi inflasi melemah hingga kuartal IV 2025.

    Secara historis, harga BTC biasanya sempat bergejolak ketika The Fed memangkas suku bunga, lalu diikuti reli kuat dalam jangka panjang. Indikator Market Value to Realized Value (MVRV) dan Rasio Whale mendukung pola ini, di mana aksi jual dari investor besar sering memicu volatilitas sebelum pasar masuk ke fase akumulasi.

    “Penurunan data inflasi produsen Amerika menjadi katalis kuat yang membuat investor kembali percaya diri terhadap prospek bullish Bitcoin. Namun, kita tetap harus mewaspadai volatilitas jangka pendek menjelang keputusan Fed minggu depan,” jelas Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (14/9/2025).

    (rrd/rrd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Tembus Rp 1,94 M, Harga Bitcoin Diramal Masih Bisa Menguat


    Jakarta

    Bitcoin (BTC) kembali menembus level US$ 117.000 atau sekitar Rp 1,94 miliar (asumsi kurs Rp 16.626) usai The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Penguatan harga ini juga didorong arus dana institusional yang masuk melalui ETF.

    Pada perdagangan hari ini, Jumat (19/9), BTC berada di harga US$ 117.182. Harga BTC juga masih berpeluang menembus level psikologis di angka US$ 120.000 atau sekitar Rp 1,99 miliar jika level support berada di posisi US$ 117.000.

    “Investasi kripto, terutama Bitcoin, saat ini tidak hanya bergantung pada sentimen ritel, tetapi sudah masuk ke dalam kerangka investasi institusi global. Arus masuk ETF menjadi bukti nyata bahwa aset digital semakin diterima sebagai instrumen keuangan utama,” ujar Vice President Indodax Antony Kusuma dalam keterangan tertulis, Jumat (19/9/2025).


    Antony menilai, level psikologis harga BTC US$ 120.000 merupakan tonggak penting. Pasalnya, harga tersebut tidak hanya meningkatkan kepercayaan investor, melainkan juga berpotensi masuknya likuiditas baru dari institusi.

    Sementara dari sisi ritel, Antony menyebut mayoritas investor masih menunjukkan sikap hati-hati. Berdasarkan data on-chain, terjadi penurunan pada New Address Momentum atau menurunnya alamat baru yang masuk ke pasar.

    “Kehati-hatian ritel ini wajar, karena volatilitas Bitcoin memang tinggi. Namun, di sisi lain, aksi dari institusi justru menjadi fondasi utama reli kali ini,” jelasnya.

    Namun begitu, Antony menilai arah jangka panjang Bitcoin tetap positif, khususnya di tengah perubahan kebijakan moneter global menyusul pemangkasan suku bunga yang berpeluang menambah likuiditas pasar. Menurutnya, momentum ini selalu menjadi katalis bagi pasar kripto.

    Arus masuk ke ETF Bitcoin sepanjang pekan ini mencatat tren positif, meskipun sempat melambat saat keputusan FOMC belum diumumkan. Data ini memperkuat pandangan bahwa investor besar tidak terpengaruh gejolak jangka pendek, berbeda dengan investor ritel.

    “Institusi berinvestasi dengan visi jangka panjang. Sementara ritel masih sering terjebak dalam pola fear and greed. Perbedaan perilaku ini yang membuat tren harga saat ini lebih stabil,” terangnya.

    Ia menambahkan, fenomena ini juga menjadi pelajaran penting bagi investor kripto domestik untuk menyiapkan strategi akumulasi jangka panjang. Pasalnya jika tren arus masuk institusional terus berlanjut, pasar berpotensi melihat kapitalisasi BTC mendekati level tertinggi baru.

    Indodax mencatat minat pengguna lokal tetap tinggi disusul peningkatan jumlah investor perseroan yang tumbuh hingga 9 juta lebih. Meskipun sebagian investor ritel masih menunggu konfirmasi tren, Antony menyebut aktivitas transaksi di Indodax tetap stabil.

    “Pasar akan terus memantau langkah The Fed berikutnya. Jika siklus pemangkasan suku bunga berlanjut, maka ruang pertumbuhan Bitcoin semakin terbuka,” tegasnya.

    “Investor Indonesia harus memahami bahwa volatilitas adalah bagian dari perjalanan Bitcoin. Dengan pemahaman yang benar, risiko bisa dikelola dan peluang bisa dimaksimalkan,” pungkasnya.

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin cs Rontok, Investor Waspadai Ekonomi AS


    Jakarta

    Pasar kripto melemah usai Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga beberapa waktu lalu. Sejumlah koin kripto terpantau melemah di luar ekspektasi investor.

    Berdasarkan analisis Tokocrypto, pemangkasan suku bunga The Fed justru meningkatkan kehati-hatian karena dianggap menandakan adanya indikasi pelemahan ekonomi di Amerika Serikat (AS).

    Berdasarkan data perdagangan Kamis (25/9/2025), Bitcoin (BTC) bergerak di harga US$ 111.548 atau sekitar Rp Rp 1,87 miliar (asumsi kurs Rp 16.798). BTC melemah lebih dari 4,7% dalam sepekan terakhir.


    Tren pelemahan juga dialami Ethereum (ETH) yang merosot tajam ke US$ 3.990, terkoreksi sekitar 11% dibanding pekan sebelumnya. Kemudian XRP melemah 6% ke US$ 2,89, sedangkan Solana (SOL) mencatat penurunan terdalam, anjlok lebih dari 15% ke US$ 203. BNB juga turun ke level US$ 988.

    Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyebut tekanan ini terjadi akibat likuidasi besar-besaran di pasar derivatif dan melemahnya arus masuk ke ETF BTC spot. Selain itu, penguatan dolar AS dan kenaikan imbas hasil obligasi juga mendorong investor beralih ke emas, yang saat ini mendekati harga US$ 3.800 per ons.

    Berdasarkan data The Block, nilai ETF BTC hanya tumbuh sekitar 2% sejak awal Agustus. Sebaliknya, ETF ETH mencatatkan lonjakan 33% dalam periode yang sama.

    Pertumbuhan disebut melampaui kenaikan harga ETH 13% di dua bulan terakhir. Hal ini dianggap mencerminkan minat terhadap produk ETH. Meski begitu, Fyqieh menyebut pelemahan pasar pasca-pemangkasan suku bunga merupakan kondisi umum.

    “Pasar biasanya cenderung lesu lebih dulu sebelum menemukan titik stabil, lalu memasuki fase pertumbuhan baru beberapa bulan kemudian,” ujar Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/9/2025).

    Fyqieh menilai BTC saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dengan support kuat di sekitar US$ 111.000 kendati menghadapi tekanan jual yang masif.

    “Tekanan jual memang besar, tapi data on-chain menunjukkan cadangan BTC di bursa turun ke level terendah tahun ini, yaitu 2,4 juta BTC. Ini artinya, kepercayaan holder jangka panjang masih terjaga,” jelasnya.

    Ia menambahkan, potensi pemulihan tetap terbuka jika BTC mampu menembus level psikologis US$ 114.000. Dalam jangka pendek, volume perdagangan BTC disebut masih rendah. Namun, jika Bitcoin mampu menembus harga psikologis di level US$ 118.000, peluang menuju US$ 125.000 akan terbuka.

    Bahkan, target optimistis hingga US$ 140.000 sebelum akhir tahun dinilai masih realistis, meski ada kemungkinan koreksi lebih dalam hingga US$ 108.000. Ke depan, Bitcoin diperkirakan tetap menjadi penentu arah pasar kripto secara keseluruhan.

    “Kenaikan kecil yang terlihat bisa menyembunyikan potensi lonjakan lebih besar, terutama jika sentimen institusional lewat ETF kembali menguat. Namun, jika support utama gagal bertahan, BTC bisa kembali ke bawah US$ 110.000, dan itu berpotensi menyeret altcoin lebih dalam,” tutupnya.

    Simak juga Video: Trump Kumpulkan Juragan Kripto di Gedung Putih, Apa Tujuannya?

    (hns/hns)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin cs Rontok Sejak The Fed Pangkas Suku Bunga


    Jakarta

    Pasar aset kripto kembali berada di bawah tekanan pada Jumat (26/9/), dengan total likuidasi posisi perdagangan mencapai lebih dari US$ 1,13 miliar atau sekitar Rp 19 triliun dalam 24 jam terakhir. Mayoritas likuidasi berasal dari posisi long, menandakan investor optimistis harus menutup posisinya akibat penurunan harga.

    Data CoinGlass mencatat total likuidasi long senilai US$ 1,01 miliar, dengan Ethereum (ETH) dan Bitcoin (BTC) masing-masing US$ 365 juta dan US$ 262 juta. Harga BTC turun 2% dalam sehari terakhir, sempat diperdagangkan di bawah US$ 109.400, sementara ETH melemah ke level US$ 3.900.

    Aset kripto lain juga mengalami koreksi. Dogecoin (DOGE) turun lebih dari 4%, XRP melemah 4%, dan Solana (SOL) ambles 5%, sehingga kapitalisasi pasar kripto turun hampir 3% menjadi US$ 3,7 triliun.


    “Volatilitas saat ini memang tinggi, namun investor dapat memanfaatkan kondisi ini untuk melakukan akumulasi strategis, terutama bagi yang berfokus pada investasi kripto jangka panjang,” ujar VP Indodax Antony Kusuma dalam keterangan tertulis, Senin (29/9/2025).

    Antony menegaskan, likuidasi besar-besaran bukan hanya risiko, tetapi juga peluang membeli di level harga rendah. “Data on-chain menunjukkan cadangan BTC di bursa turun ke level terendah tahun ini, 2,4 juta BTC. Ini menandakan kepercayaan investor jangka panjang tetap solid,” tambahnya.

    Ia menekankan bahwa penurunan harga pasca-pemangkasan suku bunga Federal Reserve merupakan fenomena normal, dan pasar biasanya memasuki fase konsolidasi sebelum pertumbuhan baru.

    Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan risiko secara disiplin di tengah fluktuasi pasar. Menurutnya, investor harus memantau pergerakan harga dan memanfaatkan data on-chain untuk strategi investasi kripto yang tepat.

    “Tekanan jual memang besar, tetapi dukungan institusional dan regulasi yang jelas memberikan fondasi kuat bagi pertumbuhan jangka panjang pasar kripto,” tambah Antony.

    Menurut Antony, peluang jangka menengah tetap terbuka dengan potensi BTC mencapai US$ 125.000 jika sentimen institusional kembali menguat. Antony menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dan manajemen risiko untuk menghadapi tekanan pasar saat ini. Ia menambahkan, kondisi ini menjadi kesempatan bagi

    investor untuk menerapkan strategi beli bertahap (DCA), memanfaatkan harga rendah secara konsisten. “Investor yang fokus pada strategi jangka panjang dapat melihat volatilitas ini sebagai peluang, bukan sekadar risiko,” tutup Antony.

    Simak Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Diramal Terbang Tinggi di Kuartal IV, Ini Pemicunya


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) melemah tajam. Berdasarkan laporan ketenagakerjaan ADP, tercatat penurunan 32.000 lapangan kerja pada September, terendah sejak Maret 2023.

    Hal ini dianggap dapat memperbesar keyakinan pasar terkait langkah Federal Reserve System atau The Fed untuk memangkas suku bunga pada Oktober. Berdasarkan data Polymarket, ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga hanya tersisa 6%. Banyak analis yang memperkirakan pemangkasan sebesar 25 basis poin (bps) akan terjadi pada Oktober dan kembali di Desember.

    Ekspektasi pemangkasan suku bunga ini memicu arus modal masuk ke aset alternatif seperti emas dan kripto. Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, BTC menguat 9,77% ke harga US$ 120.309,39 atau sekitar Rp 1,99 miliar (asumsi kurs Rp 16.610) pada perdagangan sepekan terakhir.


    Tokocrypto menilai, capaian ini memperpanjang tren positif BTC. Koin kripto ini mengakhiri perdagangan di kuartal III dengan kenaikan sekitar 5% di kisaran US$ 114.000. Secara historis, kuartal IV cenderung menghasilkan reli besar, dengan rata-rata menguat lebih dari 50% seperti yang terjadi pada 2015, 2016, 2023, dan 2024.

    Berdasarkan data Tokocrypto, kenaikan harga rata-rata BTC sebesar 21,8% bulan Oktober 2015. Jika tren historis ini kembali berulang, BTC berpeluang menembus level US$ 150.000 atau sekitar Rp 2,49 miliar sebelum pergantian tahun.

    Prospek ini ditopang arus masuk modal institusional dan meningkatnya partisipasi investor ritel. Kedua faktor ini dinilai kerap menjadi pemicu lonjakan harga besar.

    Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan secara teknikal grafik harian BTC membentuk pola double bottom di kisaran US$ 113.000 dengan menembus batas atas atau neckline di US$ 117.300. Jika breakout terkonfirmasi, target kenaikan menuju US$ 127.500 terbuka. Selain itu, pola segitiga simetris memberi proyeksi target lebih tinggi hingga US$ 137.000, yang berdekatan dengan level Fibonacci extension di US$ 134.700.

    “Data on-chain dari Glassnode menunjukkan BTC masih berada di bawah zona panas, dengan level resistensi kritis di US$122.000 dan US$138.000. Artinya, ruang reli masih terbuka sebelum potensi koreksi besar terjadi,” jelas Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (3/10/2025).

    Berdasarkan data Coinglass, terang Fyqie, transaksi berjangka BTC tercatat hampir mencapai US$ 100 miliar per hari, atau naik lebih dari 18%. Institusi besar juga terpantau aktif. Sementara BlackRock mentransfer BTC lebih dari US$ 130 juta ke Coinbase.

    Aksi ini menambah keyakinan arus dana institusional akan terus mendukung reli BTC di kuartal terakhir tahun ini. Fyqieh menilai kombinasi faktor teknikal, fundamental, dan historis menempatkan BTC pada momentum yang positif.

    “Data tenaga kerja yang lemah memperbesar peluang pemangkasan suku bunga The Fed, dan itu menjadi katalis utama lonjakan harga Bitcoin. Selama BTC mampu bertahan di atas US$118.000, target ke US$122.000 hingga US$137.000 realistis dicapai dalam waktu dekat,” tuturnya.

    Di sisi lain, penutupan pemerintahan AS setelah hasil Kongres yang gagal mengesahkan anggaran mendorong investor beralih ke aset safe haven. Harga emas melonjak ke rekor di atas US$ 3.900 per ons, sementara BTC diuntungkan sebagai aset lindung nilai.

    Dengan kombinasi data makro yang melemah, peluang pemangkasan suku bunga, faktor musiman bullish, dan dukungan investor institusional, BTC akan berada dalam posisi yang sangat kuat di kuartal IV 2025.

    “Sejarah menunjukkan bahwa ketika September ditutup positif, kuartal keempat hampir selalu diikuti reli besar. Jika pola itu berulang, Bitcoin bisa mendekati US$ 150.000 sebelum akhir tahun, terutama dengan dukungan arus dana institusional,” tutupnya.

    Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bitcoin Diramal Bisa Tembus Rp 2,15 Miliar


    Jakarta

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC) terpantau terus menguat. Beberapa waktu lalu, salah satu aset kripto ini sempat menembus level tertinggi mingguan di harga US$ 126.198 atau sekitar Rp 2,09 miliar (asumsi kurs Rp 16.588) sebelum akhirnya turun di level US$ 121.382 atau sekitar Rp 2,01 miliar per hari ini, Jumat (10/10/2025).

    Berdasarkan analisis Tokocrypto, BTC masih memiliki potensi penguatan atau bullish dengan area support berada di US$ 119.500, bertepatan dengan level Fibonacci 50%. Sementara resistensi kuat di US$ 124.850 menjadi sinyal potensi kenaikan ke level US$ 130.000 atau sekitar Rp 2,15 miliar.

    Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai volatilitas rendah yang terlihat pada Bollinger Band squeeze justru menjadi sinyal menarik. Adapun saat ini, ia menilai dinamika pasar tengah memasuki fase konsolidasi sehat.


    “Jika BTC mampu bertahan di atas US$ 120.000 dan menembus US$ 124.850, peluang menuju US$ 130.000 terbuka lebar. Namun, kegagalan mempertahankan level US$ 119.500 dapat memicu koreksi jangka pendek hingga US$ 117.000,” jelasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (10/10/2025).

    Ia menjelaskan, harga BTC naik 0,64% dalam 24 jam terakhir pada 9 Oktober 2025, menjadi sekitar US$ 122.273 atau sekitar Rp 2,0 miliar, melanjutkan tren positif mingguan sebesar +3,07% dan bulanan +9,22%.

    Penguatan harga BTC ini didorong peningkatan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, meningkatnya permintaan institusional melalui ETF, dan kekuatan teknikal harga di atas level support. Berdasarkan risalah rapat FOMC yang dirilis beberapa waktu lalu, tercermin sinyal dovish dari para pejabat The Fed.

    Sebagian besar peserta menilai pelonggaran kebijakan moneter tepat dilakukan untuk sisa tahun ini. Data CME FedWatch menunjukkan adanya peluang 92,5% pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 29 Oktober.

    Investor menilai pelonggaran moneter ini akan melemahkan daya tarik dolar AS dan mendorong minat pada aset langka seperti BTC. Fyqieh menyebut, kebijakan ekspansif Amerika Serikat (AS), termasuk injeksi dana US$ 2,5 triliun melalui program Reverse Repo, menjadi sinyal bullish BTC.

    “Kebijakan moneter longgar mengurangi daya tarik aset berbasis fiat dan memperkuat narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap pelemahan dolar AS. Seperti tahun 2020-2021, penurunan imbal hasil riil biasanya diikuti lonjakan permintaan kripto, khususnya BTC,” jelasnya.

    Sementara adopsi BTC bagi investor institusi juga turut meningkat. Berdasarkan data Bitwise, total inflow mencapai US$ 22,5 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Angka ini diproyeksikan meningkat hingga US$ 30 miliar pada akhir tahun.

    Fyqieh memperkirakan arus masuk ETF akan mencetak rekor baru di kuartal IV karena meningkatnya perhatian investor ritel dan institusi terhadap BTC. Namun, ia tetap memperingatkan risiko eksternal.

    “Kunci penggerak Bitcoin ke depan ada pada keseimbangan antara kebijakan The Fed dan kekuatan inflow ETF. Jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga, arus masuk ETF harus tetap kuat agar tren bullish tidak kehilangan momentum,” tutupnya.

    Lihat juga Video: Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Perang Dagang Makin Panas, Harga Bitcoin Ikut Kebakaran


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan imbas memanasnya tensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. CoinMarketCap mencatat koreksi harga BTC hingga 8,86% di perdagangan sepekan terakhir.

    Harga BTC tergelincir ke level US$ 110.743 atau sekitar Rp 1.83 miliar (asumsi kurs Rp 16.583). Pada perdagangan sepekan terakhir, BTC mengalami volatilitas tinggi yang dipicu oleh isu perang tarif AS-China. Kondisi tersebut menempatkan BTC pada rentang US$ 107.318 hingga US$ 123.535.

    Tokocrypto menyebut, kapitalisasi pasar BTC berada di angka Rp 36.629 triliun dengan volume perdagangan 24 jam terakhir tercatat turun 24% menjadi Rp 1.136 triliun. Penurunan terjadi setelah China menjatuhkan sanksi terhadap suku cadang buatan AS yang digunakan perusahaan pelayaran Korea Selatan.


    Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan ketegangan dagang AS-China mendorong penurunan tajam kapitalisasi pasar kripto dari US$ 3,96 triliun menjadi US$ 3,75 triliun. Penurunan tersebut terjadi lebih dari US$ 210 miliar dalam sehari.

    Sementara altcoin utama relatif cepat pulih, harga BTC masih bertahan di zona pelemahan. Presiden AS, Donald Trump, bahkan menegaskan pihaknya secara aktif terlibat dalam perang dagang dengan China setelah sebelumnya mengancam tarif 100% pada semua impor dari Negeri Tirai Bambu tersebut.

    “Selama hubungan AS-China masih goyah, kripto akan kesulitan pulih karena aset berisiko seperti ini biasanya hanya menguat saat kondisi global stabil,” ujarnya.

    Fyqieh menyebut, kondisi pasar saat ini berada dalam fase badai yang dipicu oleh faktor eksternal makroekonomi. Ia menjelaskan, fase yang sama sempat melanda BTC pada tahun 2022 kala China dihadapkan dengan era suku bunga The Fed yang tinggi.

    “Setiap fase bear market kripto punya pemicunya sendiri. Di 2018-2019 ada larangan Bitcoin di China, di 2022 kita menghadapi kenaikan suku bunga The Fed, dan kini di 2025 pemicunya adalah perang dagang AS-China. Ini fase yang tidak bisa dihindari, tapi pada akhirnya selalu diikuti pemulihan,” jelasnya.

    Namun, ia menyebut volatilitas tinggi ini merupakan kekhawatiran jangka pendek investor terhadap ketidakpastian kebijakan dagang global. Sementara di sisi teknikal, BTC kini tengah terkonsolidasi di kisaran US$ 110.000-US$ 116.000 dengan dominasi penjual (bear).

    Level US$ 110.000 menjadi area support penting, sementara US$ 116.000 menjadi batas resistensi utama. Jika BTC berhasil menembus level tersebut, peluang untuk kembali menguji US$ 120.000 terbuka lebar.

    “Jika ketegangan tarif terus berlanjut, pasar kripto akan tetap choppy dengan pergerakan harga yang liar. Namun, bila dalam beberapa minggu ke depan ada sinyal positif seperti kesepakatan dagang atau penundaan tarif, badai ini bisa mulai mereda,” tambahnya.

    Tonton juga video “Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin” di sini:

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Rontok, Apa Pemicunya?


    Jakarta

    Harga aset kripto termasuk bitcoin turun dari US$ 116.400 menjadi US$ 109.200. Harga bitcoin rontok saat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga 25 basis poin ke level 3,75%-4%.

    Kondisi dianggap mencerminkan fenomena ‘buy the rumor, sell the news’ di mana investor yang telah membeli sebelumnya melakukan realisasi keuntungan pasca pengumuman resmi.

    Di sisi lain, ketegangan dagang AS-China menambah risiko dan menahan aliran modal ke aset berisiko. Meski kesepakatan parsial sebagian tercapai, riwayat negosiasi antara kedua negara menunjukkan bahwa hasil akhir sering kali tidak sesuai ekspektasi pasar.


    Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan konsolidasi harga saat ini sejatinya mencerminkan mekanisme adaptasi pasar digital terhadap kondisi makroekonomi global yang berubah cepat.

    “Investor tidak lagi hanya bereaksi terhadap angka-angka suku bunga atau kebijakan moneter, tetapi mulai menilai konteks keseluruhan-dari geopolitik, arus modal institusional, hingga psikologi pasar. Koreksi yang terjadi setelah pengumuman The Fed adalah contoh nyata dari perilaku pasar yang semakin rasional,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (2/10/2025).

    Ia menambahkan, pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa faktor geopolitik masih menjadi salah satu penggerak utama sentimen investor. Kesepakatan tarif dan penyelesaian isu rare earth memberikan sinyal positif, tetapi pasar cenderung menunggu implementasi nyata sebelum benar-benar bereaksi.

    Menurutnya, investor kripto yang bijak akan memanfaatkan volatilitas ini untuk melakukan akumulasi, bukan sekadar ikut tren harga. Dia mengatakan, investor kripto harus melihat volatilitas sebagai peluang strategis.

    “Pasar digital tidak seperti pasar tradisional; perubahan harga yang tajam menciptakan momen bagi investor untuk mengoptimalkan portofolio. Kuncinya adalah disiplin, diversifikasi, dan pemahaman fundamental aset. Mereka yang mampu membaca konteks ekonomi global dan perilaku institusional akan lebih siap menghadapi ketidakpastian jangka pendek, sekaligus memaksimalkan potensi keuntungan jangka panjang,” terangnya.

    Sementara, Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menerangkan, penurunan bitcoin terjadi setelah Ketua The Fed Jerome Powell, menyampaikan bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember ‘bukan hal yang pasti’. Komentar ini mengguncang pasar keuangan global dan memicu pelarian modal ke aset aman seperti emas dan dolar AS.

    Pernyataan Powell tersebut datang di tengah meningkatnya kekhawatiran atas penutupan sebagian pemerintahan AS (government shutdown) yang telah berlangsung 30 hari dan berpotensi memecahkan rekor 35 hari. Investor pun semakin ragu dengan arah kebijakan moneter, meski pasar sebelumnya menilai ada peluang 70% pemangkasan suku bunga pada Desember mendatang.

    “Ketidakpastian arah suku bunga dan tensi politik di AS menekan minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto,” ujarnya.

    “Saat dolar menguat dan investor mencari perlindungan di aset tradisional, bitcoin kehilangan daya tarik jangka pendeknya,” imbuhnya.

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com