Tag: tiger research

  • Outlook Bitcoin Q1 2026 Target Harga $185.500

    Tiger Research merilis laporan valuasi Bitcoin untuk kuartal pertama (Q1) 2026 dengan target harga sebesar $185.500. Meski target ini mengalami penyesuaian turun dibanding laporan sebelumnya, pandangan bullish jangka menengah hingga panjang tetap dipertahankan. Penurunan lebih mencerminkan perlambatan momentum jangka pendek, bukan perubahan fundamental yang signifikan.

    Makro Ekonomi Masih Mendukung, Namun Momentum Melambat

    Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran $96.000, turun sekitar 12% sejak laporan terakhir pada 23 Oktober 2025. Di balik koreksi tersebut, kondisi makro global sebenarnya masih relatif kondusif.

    The Federal Reserve telah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin sebanyak tiga kali sepanjang September hingga Desember 2025. Suku bunga acuan kini berada di rentang 3,50%–3,75%, dengan proyeksi dot plot Desember menunjukkan level 3,4% pada akhir 2026. Meskipun pemangkasan agresif (≥50 bps) dinilai kecil kemungkinannya dalam waktu dekat, arah kebijakan tetap dovish.

    Selain itu, potensi pergantian Ketua The Fed setelah berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang, terutama jika pemerintahan Trump menunjuk figur yang lebih dovish—dapat memperpanjang siklus pelonggaran moneter.

    Arus Keluar ETF Tekan Harga, Korporasi Justru Akumulasi

    Di tengah membaiknya kondisi makro, minat institusional justru mengalami perlambatan. ETF spot Bitcoin mencatat arus keluar sebesar $4,57 miliar pada November–Desember, yang menjadi arus keluar terbesar sejak produk tersebut diluncurkan. Arus masuk bersih tahunan turun menjadi $21,4 miliar, atau merosot 39% dibanding tahun sebelumnya.

    Meski rebalancing awal tahun mendorong arus masuk kembali, keberlanjutannya masih belum pasti. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan publik terus menunjukkan keyakinan kuat terhadap Bitcoin. MicroStrategy kini menguasai 673.783 BTC, setara dengan 3,2% dari total suplai, sementara Metaplanet dan Mara juga konsisten menambah kepemilikan mereka.

    CLARITY Act Berpotensi Jadi Katalis Baru

    Dari sisi regulasi, CLARITY Act muncul sebagai katalis penting. RUU yang telah disahkan DPR AS ini memperjelas batas kewenangan antara SEC dan CFTC, sekaligus mengizinkan bank untuk menyediakan layanan kustodi dan staking aset digital.

    Jika disahkan di tingkat Senat, dengan pembahasan dijadwalkan pada 15 Januari—undang-undang ini berpotensi membuka pintu bagi partisipasi lebih luas dari lembaga keuangan tradisional yang selama ini menunggu kepastian hukum.

    Likuiditas Global Tinggi, Bitcoin Masih Tertinggal

    Likuiditas global (M2) mencapai rekor tertinggi sejak Q4 2024 dan terus meningkat. Secara historis, Bitcoin cenderung bergerak lebih awal dibanding siklus likuiditas: reli sebelum puncak M2, lalu berkonsolidasi saat likuiditas mencapai puncaknya.

    Saat ini, ekspansi likuiditas masih berlangsung, sehingga ruang kenaikan lanjutan tetap terbuka. Jika pasar saham dinilai semakin mahal, rotasi modal ke Bitcoin bisa kembali terjadi.

    Penyesuaian Faktor Makro Diturunkan Menjadi +25%

    Meskipun arah makro secara umum tidak berubah, Tiger Research menurunkan faktor penyesuaian makro dari +35% menjadi +25%. Penurunan ini mencerminkan beberapa risiko: melambatnya arus masuk institusional, ketidakpastian kepemimpinan The Fed, serta meningkatnya tensi geopolitik.

    Namun demikian, bobot +25% tetap mencerminkan pandangan positif, didukung oleh ekspansi M2 dan kemajuan regulasi.

    On-Chain Netral: Support Kuat di $84.000, Resistance di $98.000

    Data on-chain mengonfirmasi kondisi pasar yang relatif seimbang. Selama koreksi November 2025, permintaan beli terkonsentrasi di sekitar $84.000, membentuk zona support yang kuat. Sementara itu, level $98.000, yang merupakan biaya rata-rata holder jangka pendek—berfungsi sebagai resistance psikologis.

    Indikator utama seperti MVRV-Z (1,25), NUPL (0,39), dan aSOPR (1,00) telah keluar dari area undervalued dan masuk ke zona keseimbangan. Ini menunjukkan reli berbasis euforia ekstrem mungkin terbatas, namun potensi profit masih terbuka.

    Struktur pasar saat ini juga dinilai lebih sehat dibanding siklus sebelumnya, dengan porsi kepemilikan jangka panjang dan institusional yang lebih besar. Risiko panic selling ala ritel menjadi lebih kecil, dan koreksi cenderung terjadi melalui rebalancing bertahap.

    Target Direvisi ke $185.500, Potensi Kenaikan Masih Sekitar 100%

    Dengan menggunakan kerangka TVM (Total Value Model) untuk Q1 2026, Tiger Research menetapkan valuasi dasar netral Bitcoin di $145.000, turun dari $154.000 pada laporan sebelumnya. Dengan penyesuaian fundamental 0% dan faktor makro +25%, target harga direvisi menjadi $185.500.

    Penyesuaian fundamental dinaikkan dari -2% menjadi 0%, seiring stabilnya aktivitas jaringan dan meningkatnya perhatian terhadap ekosistem BTCFi, yang menyeimbangkan sinyal positif dan negatif.

    Penurunan target ini bukan sinyal bearish. Bahkan setelah revisi, model masih menunjukkan potensi kenaikan sekitar 100% dari level saat ini. Penyesuaian lebih mencerminkan volatilitas jangka pendek, sementara nilai intrinsik Bitcoin dinilai terus meningkat dalam jangka menengah hingga panjang.

    Kesimpulan

    Koreksi terbaru Bitcoin dipandang sebagai rebalancing yang sehat, bukan awal dari tren penurunan struktural. Dengan dukungan makro yang masih positif, potensi katalis regulasi melalui CLARITY Act, serta struktur pasar yang semakin matang, outlook bullish Bitcoin untuk jangka menengah hingga panjang tetap utuh, meski investor perlu bersiap menghadapi volatilitas jangka pendek.

    Baca juga: Outlook Kripto 2026: Suku Bunga Turun, Institusi Masuk, Market Bangkit?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Begini Prospek Perkembangan Aset Digital di Indonesia


    Jakarta

    Teknologi transformatif saat ini terus berkembang di Indonesia. Seperti blockchain dan sejumlah teknologi lainnya bisa membentuk masa depan keuangan Indonesia.

    Chief Investment Officer BRI Ventures Markus Liman Rahardja mengungkapkan perusahaan menjembatani kolaborasi yang bermakna antara institusi keuangan mapan dengan mitra teknologi inovatif.

    “Dengan menjembatani dua dunia ini, kami ingin mendorong pertumbuhan berkelanjutan, memperluas inklusi keuangan, dan mempercepat adopsi aset digital di Indonesia,” kata Markus dalam siaran pers, Senin (28/4/2025).


    Saat ini lebih dari 20 juta pengguna crypto, Indonesia kini menempati peringkat ketiga secara global dalam adopsi Web3-sebuah bukti nyata dari ekosistem yang berkembang pesat.

    “Kami melihat pertumbuhan signifikan dalam talenta developer, keterlibatan institusi, serta kejelasan regulasi yang bersama-sama membentuk fondasi untuk kemajuan jangka panjang. Di Coinvestasi, peran kami adalah menghubungkan ekosistem: memfasilitasi dialog, berbagi wawasan, dan menciptakan kolaborasi yang mendorong industri maju,” ujar Founder Coinvestasi Steven Suhadi.

    Lanskap tokenisasi dan blockchain di Indonesia berkembang pesat, didorong oleh populasi muda dan dinamis, kelas menengah yang terus tumbuh, industri fintech yang berkembang, serta sistem pembayaran digital yang makin kuat.

    Kombinasi ini menjadi fondasi bagi gelombang inovasi blockchain berikutnya untuk berkembang dan bertumbuh secara masif.

    Project Wira, laporan yang dikembangkan oleh BRI Ventures, Saison Capital, D3 Labs, dan Tiger Research, menyoroti potensi blockchain untuk mentransformasi ekosistem keuangan Indonesia. Sebanyak 7% populasi Indonesia saat ini telah memiliki aset digital, melampaui jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berjumlah 6,4 juta orang – menunjukkan potensi adopsi yang masih sangat besar.

    Inovasi telah bermunculan dalam bentuk uang digital, komoditas, obligasi, kredit karbon, hingga properti. Laporan ini memperkirakan bahwa permintaan terhadap tokenisasi aset di Indonesia dapat mencapai US$88 miliar pada tahun 2030.

    Program Akselerator untuk Startup Real-World Asset (RWA) yang Ingin Berekspansi ke Indonesia Tokenize Indonesia yang menyasar startup Real-World Asset (RWA) secara global, hadir setelah peluncuran laporan “Project Wira – Indonesia’s Asset Tokenization Opportunity” pada November 2024 yang mengidentifikasi potensi pasar tokenisasi aset di Indonesia sebesar US$88 miliar.

    Saison Capital, lengan investasi ventura dari perusahaan keuangan Jepang Credit Saison, bersama BRI Ventures, lengan investasi dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Coinvestasi, perusahaan media yang berfokus pada blockchain, secara resmi meluncurkan Tokenize Indonesia – sebuah program akselerator untuk mencari, mendanai, dan mendukung startup Real-World Asset (RWA) yang bergerak di bidang blockchain dan tokenisasi aset untuk berekspansi dan mengimplementasikan solusi mereka di Indonesia.

    Tokenize Indonesia akan berlangsung dari April hingga Agustus 2025. Startup terpilih akan menjalankan Proof of Concept (POC) dengan berbagai perusahaan ternama di Indonesia, termasuk BRI Ventures dan MDI Ventures, anak perusahaan Telkom Indonesia. Program ini akan ditutup pada Agustus dengan sesi demo day yang diselenggarakan dalam Coinfest Asia, festival crypto terbesar di Asia, pada 21-22 Agustus di Bali.

    Pengumuman peluncuran Tokenize Indonesia disampaikan dalam acara ONCHAIN 2025 – konferensi tahunan yang diprakarsai oleh Saison Capital, D3 Labs, Helix, dan Emurgo – yang mempertemukan investor, founder, dan pemimpin industri RWA dari sektor keuangan tradisional maupun fintech.

    Tahun ini, acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 500 peserta di Bangkok. “Di Saison Capital, kami percaya bahwa teknologi blockchain dan manfaat luasnya akan menjadi fondasi dalam membentuk masa depan keuangan yang inklusif, mentransformasi sistem keuangan yang ada, dan menciptakan akses yang lebih merata untuk semua. Meski kondisi pasar saat ini sedang volatil, kami tetap menjadi investor aktif dalam startup blockchain yang menyelesaikan permasalahan nyata di sektor keuangan. Kami percaya pentingnya menjalin kolaborasi dengan mitra strategis untuk memberikan dukungan nyata bagi para founder, dan kami senang menemukan mitra yang sevisi seperti BRI Ventures dan Coinvestasi,” ujar Qin En Looi, Partner di Saison Capital.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com