Tag: Transaksi

  • Transaksi Kripto Tembus Rp482,23 Triliun Sepanjang 2025, Minat Investor Domestik Jadi Sorotan

    Jakarta, 13 Januari 2026 – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto di Indonesia sepanjang tahun 2025 mencapai Rp482,23 triliun. Capaian tersebut mencerminkan tingkat aktivitas perdagangan aset kripto yang tetap aktif di tengah dinamika pasar global sepanjang tahun lalu. 

    Selain dari sisi nilai transaksi, OJK juga melaporkan adanya pertumbuhan jumlah investor aset kripto di Indonesia sepanjang 2025. Hingga November 2025, jumlah investor tercatat mencapai 19,56 juta orang, meningkat dibandingkan bulan Oktober 2025 yang berada di angka 19,08 juta investor. Sementara itu, nilai transaksi aset kripto pada Desember 2025 tercatat sebesar Rp32,68 triliun, atau turun sekitar 12,22 persen dibandingkan November 2025. 

    Menanggapi data tersebut, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyampaikan bahwa pergerakan transaksi aset kripto sepanjang tahun 2025 mencerminkan kondisi pasar yang berjalan secara normal. Menurutnya, fluktuasi transaksi merupakan bagian dari siklus pasar yang dipengaruhi oleh perubahan sentimen global dan kondisi makroekonomi. “Sepanjang 2025, aktivitas perdagangan aset kripto masih berlangsung aktif. Naik turunnya transaksi setiap periode merupakan respons yang wajar terhadap perubahan sentimen dan kebijakan ekonomi global, sehingga mencerminkan pasar yang bergerak secara sehat.” ujar Antony.

    Sementara itu, aktivitas perdagangan di INDODAX mencatat volume transaksi kripto di pasar rupiah sekitar Rp201,2 triliun pada 2025, tercatat naik 51,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp132,6 triliun. 

    Sepanjang 2025, INDODAX juga menegaskan posisinya sebagai exchange kripto terbesar di Indonesia dengan market share di atas 40 persen. Capaian tersebut mencerminkan peran INDODAX sebagai salah satu kontributor utama dalam aktivitas perdagangan aset kripto di pasar domestik sepanjang 2025.

    Antony menambahkan bahwa pertumbuhan transaksi di pasar rupiah ini menunjukkan minat investor dalam negeri yang relatif konsisten di tahun 2025. “Peningkatan volume transaksi di pasar rupiah, khususnya di INDODAX, menggambarkan bahwa investor domestik masih aktif memanfaatkan aset kripto sebagai bagian dari strategi pengelolaan dana mereka. Di tengah volatilitas pasar, investor tetap melihat aset kripto sebagai salah satu alternatif instrumen investasi,” jelasnya.

    Dari sisi aset yang diperdagangkan, data INDODAX menunjukkan bahwa USDT, Bitcoin, dan Ethereum masih menjadi kontributor utama dalam transaksi pasar rupiah sepanjang 2025. USDT menyumbang sekitar 22 persen dari total volume transaksi di IDR Market, disusul Bitcoin sebesar 13 persen dan Ethereum sekitar 7 persen. Dominasi ketiga aset tersebut menunjukkan preferensi investor terhadap aset kripto berlikuiditas tinggi yang berfungsi sebagai acuan utama pergerakan pasar.

    Lebih lanjut, Antony menilai bahwa penguatan kerangka regulasi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap ekosistem aset kripto nasional. “Regulasi yang semakin jelas dan terstruktur memberikan kepastian bagi pelaku industri maupun investor. Hal ini menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan, memperkuat perlindungan konsumen, dan mendorong pertumbuhan industri aset kripto yang berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya.

    Sepanjang 2025, OJK telah menerbitkan sejumlah kebijakan untuk memperkuat tata kelola dan manajemen risiko di sektor aset keuangan digital. Kebijakan tersebut antara lain mencakup Peraturan OJK Nomor 30 Tahun 2025 tentang penerapan tata kelola dan manajemen risiko bagi penyelenggara inovasi teknologi sektor keuangan, serta Surat Edaran OJK Nomor 34/SEOJK.07/2025 terkait rencana bisnis penyelenggara perdagangan aset keuangan digital. 

    Selain itu, OJK juga menerbitkan daftar whitelist bagi pedagang aset keuangan digital yang telah berizin dan terdaftar, termasuk INDODAX, sebagai upaya memastikan ekosistem yang lebih aman dan terpercaya bagi investor.

    ***

    Tentang INDODAX

    INDODAX merupakan perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital atau Crypto Exchange yang didirikan oleh dua pegiat kripto dan Blockchain di Indonesia yakni, Oscar Darmawan dan William Sutanto. Berdiri resmi sejak 15 Februari 2014 dan sudah melayani lebih dari 9,75  juta member, INDODAX memperdagangkan aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan memiliki lebih dari 450+ aset kripto dari seluruh dunia yang bisa diperjualbelikan dengan pergerakan harga selama 24 jam.

    Sebagai crypto exchange pertama di Indonesia, INDODAX sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital Aset Kripto (AKD AK) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi perusahaan crypto exchange pertama di Indonesia yang mendapatkan dua sertifikasi internasional sekaligus pada tahun 2019, yaitu 9001:-2015 & 27001:2013.

    Sejak berdiri sebelas tahun lalu, INDODAX selalu berfokus kepada pelayanan dan terus aktif memberikan edukasi melalui kanal edukasi yang dapat diakses secara gratis, yakni INDODAX Academy, investor kripto dapat secara bebas mengakses dan mempelajari seluk beluk kripto dan blockchain.

    Media Sosial INDODAX dapat ditemukan melalui website:

    Telegram                               : https://t.me/indodaxroom

    Instagram                              : https://www.instagram.com/indodax

    Tiktok                                   : https://www.tiktok.com/@indodax

    Twitter                                  : https://twitter.com/indodax

    Youtube                                : https://www.youtube.com/c/indodax

    Facebook                     : https://www.facebook.com/indodax

    INDODAX Academy  : https://indodax.com/academy

    INDODAX Press Release      : https://blog.indodax.com/newsroom-press-release





    Sumber : blog.indodax.com

  • Pertama di Dunia, Stablecoin Bank Digunakan Sebagai Alat Pembayaran Transaksi Online

    Lembaga keuangan yang berfokus pada aset digital telah berhasil menyelesaikan transaksi E-Commerce pertama di dunia dengan menggunakan Stablecoin yang diterbitkan oleh Bank.

    Baca Juga: Adopsi Stablecoin: DAI dalam Kartu Visa, Tether Melihat Penggunaan dalam E-Commerce

    Sygnum Digital Swiss Franc (DCHF), yang dipatok dengan harga 1:1 mata uang fiat, digunakan sebagai alat pembayaran Apple iPad di Digitec Galaxus, E-Commerce terbesar di Swiss. Transaksi ini dapat berlangsung dengan menggunakan platform mata uang digital, Coinify yang terhubung ke Galaxus.

    Menurut Sygnum, mata uang digital dengan lisensi perbankan Swiss ini, sistem DCHF memungkinkan penggunanya tidak lagi menggunakan sistem kartu kredit dan debit. Hal ini dapat mengurangi biaya dan juga potensi penipuan yang akan merugikan profitabilitas penjual, serta memungkinkan transaksi dapat diproses secara real time.

    Bank yakin aset digital baru ini dapat membuat gebrakan baru dalam industri E-Commerce saat ini dengan nilai hingga $3,5 triliun. Terlebih dengan adanya sistem baru ini, dapat membangun dan mengembangkan hubungan langsung antara konsumen dan penjual online.

    Dilansir dari Modern Consensus, saat ini opsi pembayaran dengan sistem DCHF ini hanya tersedia untuk “klien Sygnum tertentu”.

    Kembali ke Masa Lalu

    Mark Højgaard, CEO Coinify, mengatakan dalam sebuah postingan blog pada 27 Agustus lalu,

    “Dengan DCHF dan mata uang digital lainnya masa depan uang akan kembali ke akarnya; dipertukarkan antara dua pihak, secara instan dan sederhana. Ini menunjukkan banyak hal terkait dengan potensi mata uang digital terpercaya dan dengan harga stabil di dalam industri E-Commerce.”

    Sygnum terlihat lebih menonjol dibandingkan penerbit stablecoin lainnya seperti Tether, alasannya karena DCHF ini diatur oleh Bank. Ini juga berarti satu franc Swiss dijadikan jaminan yang telah terverifikasi untuk setiap DCHF yang beredar.

    Bank Sentral Swiss mengungkapkan,

    “Kami yakin stablecoin yang diterbitkan dari bank yang teregulasi dan diaudit dengan memiliki jumlah fiat yang setara di Bank Sentral memberikan tingkat transparansi dan kepercayaan tertinggi. Ini merupakan salah satu faktor penting untuk adopsi yang lebih luas lagi.”

    Masalah transparansi ini memang menjadi hambatan besar untuk adopsi stablecoin secara luas dibandingkan dengan permasalahan teknis lainnya.

    Cara pendekatan seperti ini juga akan memungkinkan pengembangan terhadap versi digital dari perdagangan aset seperti saham perusahaan dan real estate dengan aman dan dibayar serta dikirim secara instan.

    Melakukan Pendalaman Terhadap Mata Uang Crypto

    Ini bukan kali pertama, Digitec Galaxus melakukan transaksi dengan crypto. Perusahaan ini telah lama menguji coba aset digital sebagai alat transaksi di platformnya. Perusahaan ini mulai menerima mata uang crypto sebagai metode pembayarannya sejak Maret 2019 silam. Platform ini mendukung Bitcoin , Ether, XRP, Litecoin, dan sejumlah altcoin lainnya sebagai alat pembayaran. Pada awalnya, crypto hanya dapat digunakan untuk transaksi dengan pembelian lebih dari 200 CHF atau setara Rp2,9 juta, tetapi batas minimum ini kemudian dihapus 4 bulan kemudian.

    Alex Hämmerli, juru bicara dari Galaxus, mengatakan penambahan DCHF ke dalam platform ini akan memungkinkan konsumen dapat meningkatkan pilihan (transaksi pembayaran) dan kenyamanan mereka.

    Meskipun eksperimen ini berjalan sesuai yang diharapkan, perlu beberapa waktu sebelum aset ini tersedia untuk publik.

    Platform ini telah berhasil melakukan transaksi sebesar 1 juta CHFT atau Rp1,6 miliar dalam aset digital sejak tahun lalu, dengan Bitcoin dan Ether sebagai pilihan paling populer.

    Terlepas dari itu semua, pilihan ini juga memiliki efek lain. Menurut Hämmerli, mata uang crypto masih termasuk ke dalam opsi pembayaran yang mahal. Hal ini mengingat nilai tukar hanya berlaku selama 15 menit, yang berarti pembeli harus membayar biaya transaksi setinggi mungkin sehingga transaksi yang dilakukan dapat dikonfirmasi dengan cepat. Coinify sebagai platform yang memfasilitasi pembayaran ini juga mengenakan tarif konversi sebesar 1,5%.

    Pilihan Lain yang Tersedia di Pasar

    Mata uang crypto akan memainkan peran yang jauh lebih besar lagi dalam industri E-Commerce di masa mendatang. Hal ini mengingat ada banyak platform E-Commerce lainnya yang mulai menjadikan mata uang crypto sebagai opsi pembayaran yang ada.

    Baca juga: PayPal Konfirmasi Pengembangan Layanan Crypto

    Terlebih ada rumor bahwa PayPal akan mulai menjual Bitcoin pada platformnya. Belum lagi, jika stablecoin Libra diluncurkan, ini akan memperluas pengadopsian mata uang digital, crypto, dan stablecoin sebagai alat pembayaran.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Rusia Bangun Sistem Pemantauan Transaksi Kripto Gunakan AI

    Rusia baru-baru ini dilaporkan sedang mengembangkan sistem menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam melacak dan menganalisis transaksi yang melibatkan mata uang kripto, seperti Bitcoin, Dash, dan Monero.

    Protipe sistem tersebut telah dibuat dan saat ini sedang dalam tahap pengujian. Berita ini menyusul penandatangan terkait dengan regulasi kripto yang disahkan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin menjadi UU yang sah.

    Baca Juga: Cara Menukarkan Bitcoin ke Rupiah di Tokocrypto

    Sistem Pemantauan Kripto di Rusia

    Pemerintah Rusia sedang merencanakan sistem baru dalam melacak transaksi mata uang kripto. Hal ini dilansir dari media lokal RBC yang mengutip surat kepada Parshin Maxim Viktorovich, Wakil Menteri Pengembangan Digital, Komunikasi dan Media Massa Rusia. Surat itu menjelaskan rencana Layanan Pemantauan Keuangan Federal Federasi Rusia (Rosfinmonitoring) dalam memantau transaksi mata uang kripto.

    Rosfinmonitoring bertugas mengumpulkan dan menganalisis transaksi keuangan untuk memerangi pencucian uang domestik dan internasional, pendanaan teroris, dan kejahatan keuangan lainnya. Menurut surat tersebut,

    Rosfinmonitoring berencana mengembangkan sistem dalam menganalisis transaksi mata uang kripto menggunakan kecerdasan buatan (AI).

    Blockchain Transparan

    Proyek, yang disebut “Transparent Blockchain” atau Blockchain Transparan akan “menghapus sebagian anonimitas pengguna transaksi mata uang kripto dalam sistem Bitcoin, Ethereum, Omni, Dash, dan Monero,” penjelasan dalam surat itu.

    Pihak berwenang, Bank Rusia, dan organisasi keuangan akan dapat menggunakan sistem tersebut dalam memantau dan menganalisis pergerakan mata uang kripto, mengindentifikasi penyedia layanan, dan melakukan penyelidikan terkait peredaran ilegal.

    Surat itu juga merinci jika “kebutuhan mendesak” dibutuhkan oleh Rosfinmonitoring dalam memantau transaksi kripto. Hal ini memberikan kendali pemerintah atas peredaran mata uang kripto dan dapat mencegah penggunaan aset kripto pada “skema ilegal” seperti perdagangan narkoba, penggelapan pajak, kejahatan dunia maya, penyalahgunaan kontrak, penjualan informasi dari basis data tertutup, (dan) pembiayaan terkait aktivitas ekstremis.

    Lebih lanjut, Nikita Kulikov, anggota dewan ahli State Duma dan pendiri Organisasi Nirlaba Otonomi Pravorobotov, mencatat bahwa Rosfinmonitoring berencana membuat sistem AI untuk “memantau seluruh jaringan internet dalam mencari tindakan ilegal dengan aset kripto” seperti tanda-tanda pencucian uang dan pendanaan teroris.

    Baca Juga: Regulasi Crypto Pertama di Rusia Mulai Berlaku pada Awal 2021

    Uji Coba Sistem Pemantauan

    Lebih dari itu, surat tersebut juga menjelaskan bahwa prototipe sistem ini sudah dalam tahap pembuatan dan pengujian di bidang pengendalian peredaran narkoba. Sistem ini dikembangkan oleh Lebedev Physical Institute of the Russian Academy of Sciences, salah satu institut penelitian terkemuka Rusia dengan spesialisasi fisika.

    Sejauh ini, sistem tersebut dikembangkan tanpa pendanaan federal. Namun, jika proyek ini diambil alih, diperkirakan proyek tersebut akan memakan dana sebesar 760 juta rubel atau setara Rp154 miliar dari anggaran federal.

    Regulasi mengenai mata uang kripto telah ditandatangani oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin. Namun, hanya sebatas sebagai mata uang legal dan tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Siap-siap! Amazon Akan Segera Masuk ke Pasar Kripto

    Selain Tesla, Apple, dan juga Coca-Cola yang sudah menerima jenis pembayaran melalui bitcoin, kini dikabarkan Amazon juga mulai menerima pembayaran melalui bitcoin.

    Awal minggu ini surat kabar London City A.M. menuliskan bahwa Amazon berencana menerima pembayaran bitcoin mulai akhir tahun ini. Tidak hanya itu, raksasa ritel buatan Jeff Bezos ini pun tengah mempersiapkan token mereka sendiri yang rencananya akan diluncurkan pada 2022 mendatang. 

    Isu tersebut semakin kuat dengan kabar yang menyebutkan bahwa Amazon telah memposting lowongan pekerjaan untuk posisi cryptocurrency dan juga blockchain lead. Pencarian untuk dua posisi ini semakin menunjukkan keseriusan Amazon pada pasar cryptocurrency seperti Bitcoin.

    Baca Juga: Ketahui Jenis-Jenis Investasi Jangka Pendek yang Menguntungkan 

    Dilansir dari CNBC Indonesia, Andy Jassy CEO Amazon yang kala 2017 lalu menjabat sebagai CEO Amazon Web Service, mengatakan bahwa pada sat itu Amazon tengah mengawasi dengan cermat perkembangan cryptocurrency.

    Unit usaha Amazon yang bergerak di teknologi cloud sebelumnya sudah merilis layanan managed blockchain. Namun sampai hari ini, Amazon belum menerima pembayaran dalam bentuk aset kripto apa pun.

    Meskpun begitu di tahun 2013 lalu Amazon merilis Amazon Coins yang bisa digunakan oleh para penggunanya untuk membeli konten game dan aplikasi.

    Tampaknya di bawah kendali Andy Jassy yang menggantikan Jeff Bezos pada bulan lalu dari posisi CEO, Amazon akan mulai agresif memasuki pasar cryptocurrency. Terlebih di Amerika Serikat seperti yang diberitakan oleh Investopedia, ada sekitar 36% pelaku UKM di Amerika Serikat yang menerima bitcoin sebagai salah satu metode pembayaran.

    Kepercayaan masyarakat terhadap inovasi dan teknologi blockchain semakin kuat. Terlebih beragam raksasa ritel dan teknologi sudah melakukan hal serupa. Apple yang mengumumkan bahwa para penggunanya bisa membeli Bitcoin lewat Apple Pay. Dan Coca-Cola yang sudah memiliki 2.000 mesin penjual otomatis yang menerima bitcoin sebagai opsi pembayaran di Australia dan Selandia Baru.

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inilah 5 Pola Candlestick Bearish yang Harus Diketahui Para Trader Kripto

    Mirip seperti dua pola sebelumnya, pola Evening Star diawali dengan candle Bulls berbodi panjang yang mantap (sumbu pendek diatas dan bawahnya) yang berlanjut dengan candle kecil dan dilanjut dengan candle Bears panjang, yang ukurannya minimal hampir sama atau lebih dari candle Bulls diawalnya.

    Candle kecil bisa terbentuk dengan GAP dari harga penutupan candle Bulls, tetapi bisa juga tidak (tanpa GAP), sehingga candle kecil ini bisa berupa candle Doji, Hammer, ataupun Pinbar.

    Ini mencerminkan kekuatan awal dominasi dari Seller yang telah dibentuk sehingga bisa menjadi awal dari perubahan trend dalam jangka waktu yang menyesuaikan time framenya berada, termasuk berada tidaknya pola ini pada Resistance utama.

    Shooting Star adalah bentuk yang cukup spesifik, dimana candle awalnya adalah candle Bulls berbodi panjang, yang berlanjut dengan candle bersumbu atas panjang dan bodinya kecil (bisa seperti hammer terbalik).Ini merupakan sinyal kekuatan dari aksi Seller saat harga mencoba bergerak lebih tinggi, dimana ini pun bisa berlanjut sebagai Evening Star yang akan memperkuat validasi dari sinyal trend selanjutnya.

    Hanging Man

    Bearish Harami Pattern
    Tidak seperti pola lainnya diatas, Hanging Man adalah sinyal Bearish tunggal yang dibentuk oleh satu jenis candle saja seperti bentuk pada gambar (berbentuk palu, sumbu bawah panjang, dan body candle kecil).Ini menunjukan sebuah upaya bertahan dari para Seller di puncak suatu tekanan Bullish, sehingga memberikan sinyal bagi masuknya kembali aksi jual yang akan membentuk trend penurunan, yang kembali bergantung dari kondisi ada tidaknya Resistance ataupun volatilitas untuk mendukung kekuatannya.

    Nah itu dia 5 pola candlestick Bearish yang harus diketahui oleh para trader kripto khususnya Anda, dengan mengetahui dan mempelajari hal ini tentunya akan meningkatkan kemampuan analisa candlestick Anda di dunia kripto yang sangat dinamis ini.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi blockchain semakin maju setiap tahunnya. Berbagai sistem dan token baru mulai diciptakan dan dikenalkan setiap tahunnya, seperti token berbasis CeFi (Centralized Finance) dan DeFi (Decentralized Finance), bahkan gabungan dari keduanya (CeDeFi).

    CeFi merupakan layanan terstruktur sehingga semua pesanan dikendalikan oleh satu bursa pusat tanpa pihak lain yang bersaing, yang bertujuan untuk melakukan perdagangan yang adil, dan meningkatkan proses pembelian dan penjualan.

    Berbeda dengan CeFi, DeFi yang dibuat dengan protokol smart contract  merupakan sebuah sistem yang transparan, terbuka, tanpa izin serta fleksibel dan tidak diperlukannya pengawasan terpusat dan perantara.

    Pertumbuhan DeFi yang semakin tinggi ini membuat banyak token yang diciptakan di atas blockchain berbasis DeFi. Saat ini yang paling terkenal sebagai blockchain tempat pembuatan token DeFi adalah Ethereum.

    Beberapa contoh dari project DeFi yang terkenal seperti Compound, Curve, YFI dibangun di atas blockchain Ethereum. Sedangkan untuk DeFi lokal dari Indonesia, hal ini masih sangat terbatas.

    Untuk mendukung pertumbuhan DeFi di Indonesia, Tokocrypto meluncurkan Toko Token (TKO) yang dibangun di atas Binance Smart Chain dan berfungsi sebagai token hybrid (CeDeFi) pertama di Indonesia dengan utilitas mulai dari exchange platform token, CeFi, dan DeFi.

    Toko Token ini nantinya akan berperan sebagai token platform penukaran yang mencakup berbagai benefit di dalamnya, yang akan memudahkan pengguna dalam mengelola aset crypto yang dimiliki. Tentunya hal ini sangat menarik mengingat hal seperti ini baru pertama kali ada di Indonesia. Kalau Anda ingin tahu lebih banyak tentang Token TKO bisa cek di sini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Dapatkan TKO Gratis Dengan Staking di Pancakeswap!

     

    Pasar aset kripto menjadi sorotan masyarakat luas karena ramai diperbincangkan di media sosial. Terlebih saat kehadiran token baru, TKO yang diluncurkan oleh Tokocrypto x Binance menambah antusiasme pecinta kripto. Selain melalui trading, Anda bisa mendapat TKO secara gratis dengan staking di PancakeSwap, lho.

    Staking Koin: Cara Dapat Kripto Selain Mining

    Secara sederhana, staking adalah mempertaruhkan aset kripto yang telah Anda miliki kepada pihak ketiga seperti PancakeSwap. Cara kerja staking sendiri adalah pengguna harus memvalidasi blok pada protokol blockchain menggunakan konsensus Proof-of-Stake (PoS). 

    Lantas, apa perbedaan antara mining dengan staking?

    Perbedaan mining dan staking terletak pada konsensusnya. 

    Di mana mining menggunakan konsensus Proof-of-Work (PoW) sehingga para miners harus memiliki perangkat komputer khusus untuk mining. Sedangkan pada staking yang menggunakan konsensus PoS, seseorang hanya perlu mengunci sejumlah koin yang mereka punya di blockchain dalam kurun waktu tertentu dan setelahnya akan mendapat reward.

    Pada umumnya, tujuan dari staking ini adalah untuk mendapat passive income, karena caranya mudah dan tidak membutuhkan perangkat komputer yang rumit. 

    Kenalan dengan Metamask dan PancakeSwap, yuk!

    Sebelum lanjut kepada langkah-langkah untuk mendapat TKO gratis dengan staking, mari kenalan dulu dengan Metamask dan PancakeSwap!

    Metamask merupakan wallet aset kripto yang dapat digunakan pada beberapa browser, seperti Firefox, Chrome, Brave, dan Edge. Metamask bekerja seperti extension pada browser yang menjembatani antara browser dengan blockchain Ethereum.

    Untuk mendapatkan TKO dengan gratis, Anda bisa menggunakan Metamask yang nantinya akan digunakan secara bersamaan untuk staking di PancakeSwap.

    Nah, PancakeSwap apa, sih?

    PancakeSwap sendiri adalah pertukaran terdesentralisasi yang mirip dengan UniSwap milik Ethereum, namun PancakeSwap berjalan di atas Binance Smart Chain. 

    Jika pada penjelasan sebelumnya Metamask bekerja sebagai jembatan antara browser dengan blockchain Ethereum, maka kita harus set up Metamask dengan pengaturan khusus agar bisa digunakan untuk mendapat TKO melalui PancakeSwap yang berjalan di Binance Smart Chain.

    Berikut cara set up Metamask yang benar sebelum staking di PancakeSwap:

    1. Download Metamask pada link ini dan sesuaikan dengan browser Anda
    2. Setelah download, tambahkan Metamask sebagai extension pada browser 
    3. Kemudian, masuk ke Metamask, klik “Get Started” dan klik “Create a Wallet”
    4. Usai membaca Terms and Condition dan menyetujuinya, buat kata sandi baru dan pastikan memiliki konfigurasi yang rumit
    5. Selanjutnya, klik pada bagian “Ethereum Mainnet” dan ubah menjadi “Custom RPC” untuk mengubah pengaturan Metamask menjadi Binance Mainnet. 
    6. Pada Custom RPC, Anda harus mengisi kolom dengan set up di bawah ini untuk menjadikannya Binance Mainnet:
    7. Congratulations! Anda telah memiliki SmartChain Mainnet di wallet Metamask!

    Usai Set Up Metamask, Saatnya Dapat TKO Gratis di PancakeSwap!

    Jika Anda kesulitan untuk mendapat TKO dengan mengikuti Launchpad di Binance, Anda bisa mendapatkannya secara gratis melalui staking di PancakeSwap. 

    Berikut langkah staking di PancakeSwap untuk mendapat TKO Gratis:

    1. Klik link ini untuk menuju ke PancakeSwap
    2. Sambungkan Metamask dan PancakeSwap dengan menekan tombol “Connect”
    3. Pilih “Trade” dan klik “Liquidity”
    4. Setelah masuk ke page Liquidity, klik “Add Liquidity”
    5. Klik “Select a currency” dan pilih TKO serta BNB
    6. Masukan jumlah nominal BNB (Jumlah BNB ini nantinya akan dikalkulasikan dengan jumlah TKO)
    7. Sisakan  BNB Anda untuk biaya transaksi, ya!
    8. Jika sudah masukkan nominal yang diinginkan, klik “Supply”
    9. Setelah muncul pop-up konfirmasi yang berisi detail transaksi, klik “Confirm Supply”
    10. Pop-up konfirmasi akan muncul kembali pada Metamask Anda dan klik “Confirm”
    11. Jika sudah selesai, akan tertulis “Transaction Submitted” dan klik “Close”
    12. Langkah berikutnya klik “Farms” dan cari “TKO-BNB”
    13. Aktifkan Stake TKO-BNB LP Anda dengan klik “Enable” dan klil “Stake LP”
    14. Masukkan nominal dan klik “Confirm”
    15. Konfirmasi ulang melalui pop-up yang muncul pada Metamask

    Nah, dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda bisa memaksimalkan keuntungan dengan staking di PancakeSwap untuk mendapat TKO gratis lebih banyak!

    Oh, iya, jangan lupa untuk selalu ketahui keuntungan dan risiko sebelum trading dan investasi aset kripto, ya! Untuk memulai investasi bitcoin dan aset kripto lainnya, kunjungi Tokocrypto di www.tokocrypto.com atau di media sosial kami @Tokocrypto.

    Salam to the Moon!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pentingnya Risk Assessment dalam Transaksi Keuangan Digital

    Dalam era keuangan modern, pemahaman tentang pentingnya transaksi monitoring dan penilaian risiko atau risk assessment sangatlah krusial bagi masyarakat. Khususnya saat melibatkan pengiriman jumlah besar aset atau uang, pemahaman yang baik tentang proses ini sangatlah penting.

    Artikel ini akan membahas mengapa transaksi monitoring dan penilaian risiko merupakan langkah-langkah yang penting, dengan contoh-contoh dari berbagai sektor seperti transfer antar bank dan transaksi digital lainnya.

    Keamanan Transaksi

    Transaksi monitoring dan penilaian risiko merupakan langkah yang penting untuk menjaga keamanan finansial individu dan perusahaan. Pada tingkat nasional, lembaga seperti Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bertanggung jawab untuk memantau transaksi keuangan guna mencegah pencucian uang, pendanaan teroris, dan aktivitas ilegal lainnya. Ini adalah tindakan proaktif yang membantu menjaga keamanan negara dan masyarakat.

    Identifikasi Potensi Risiko

    Dalam konteks identifikasi potensi risiko, pemantauan transaksi dan penilaian risiko membantu pihak berwenang mengidentifikasi risiko yang terkait dengan transaksi keuangan. Misalnya, ketika seseorang ingin mengirim sejumlah besar aset ke mitra bisnisnya, mereka harus melakukan analisis transaksi tersebut. Ini mencakup pemeriksaan apakah penerima transaksi adalah individu atau entitas yang sah, apakah tujuan transaksi tersebut wajar, dan apakah ada potensi risiko hukum atau kepatuhan yang perlu ditangani.

    Ilustrasi transaksi keuangan digital. Sumber: Shutterstock.
    Ilustrasi transaksi keuangan digital. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Pengenalan Travel Rule: Regulasi Transaksi Aset Kripto dalam Upaya Mengatasi Pencucian Uang

    Persyaratan dan Dokumentasi

    Sebagian besar transaksi besar mengharuskan pemenuhan berbagai persyaratan dan pengumpulan dokumen yang relevan. Misalnya, dalam transfer antar bank, pihak pengirim biasanya harus menyediakan informasi seperti nomor rekening, nama bank penerima, dan alasan transfer. Selain itu, dokumen pendukung seperti faktur atau kontrak bisnis juga mungkin diperlukan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa transaksi berjalan lancar dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

    Dalam konteks perdagangan aset kripto di Indonesia, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mengharuskan Calon Pedagang Aset Kripto (CPFAK) untuk mengumpulkan, mengirim, dan memeriksa informasi pribadi pelanggan yang melakukan transaksi aset kripto di atas batas ambang US$ 1.000 atau setara dengan Rp 15 juta (kurs dolar AS US$ 1 = Rp 15.000).

    Dalam transaksi aset kripto senilai US$ 1.000 atau lebih, pengirim diharuskan untuk menyediakan data berikut:

    • Nama pengirim
    • Alamat dompet pengirim
    • Kartu Tanda Penduduk (KTP) bagi warga negara Indonesia atau Paspor, Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP), atau Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) yang diterbitkan oleh negara asal bagi warga negara asing
    • Alamat pengirim

    Meminimalkan Potensi Penipuan

    Pemantauan transaksi dan penilaian risiko juga membantu meminimalkan potensi penipuan. Dengan mengikuti prosedur yang ketat dan memeriksa semua dokumen dan informasi yang terkait dengan transaksi, risiko penipuan dapat dikurangi secara signifikan. Ini melindungi baik pihak yang mengirim maupun yang menerima aset atau uang.

    Perlindungan Terjamin

    Dalam konteks investasi aset, pemantauan transaksi dan penilaian risiko sangat penting. Sebelum melakukan investasi besar, individu atau perusahaan harus melakukan analisis menyeluruh terhadap aset yang akan dibeli. Ini mencakup pemahaman risiko terkait dengan aset tersebut, potensi pengembalian investasi, dan kepatuhan terhadap regulasi investasi. Transaksi semacam ini memerlukan persyaratan dan dokumentasi yang cermat guna melindungi kepentingan finansial.

    Sebagai pelanggan atau pengguna yang bijak, penting untuk memahami proses ini dan mengikuti dengan cermat, terutama ketika melibatkan jumlah aset atau nominal dana yang besar. Dengan demikian, kita dapat memastikan transaksi kita tetap aman dan terlindungi dari ancaman potensial.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ethereum: Biaya Gas Fee Turun, Peluang atau Peringatan?

    Ethereum (ETH) mencatat penurunan biaya transaksi ke level terendah dalam sepanjang sejarah.

    Saat ini, biaya transfer rata-rata hanya $0,41, jauh dibandingkan puncak $15,21 dalam dua tahun terakhir. Dilaporkan Cryptopotato pada Kamis (20/2), penurunan ini memunculkan pertanyaan banyak pihak: apakah ini tanda bearish atau justru peluang investasi?

    Terkait dampak positif biaya transaksi Ethereum yang rendah, analisa terbaru dari Santiment mengungkap bahwa rendahnya biaya transaksi Ethereum mengindikasikan jaringan tidak mengalami kemacetan.

    Ketika biaya transaksi turun, biasanya pasar sedang berada dalam kondisi tenang atau sedikit bearish. Namun, kondisi ini juga dapat membuka pintu bagi investor baru yang sebelumnya terhalang oleh tingginya biaya gas.

    Biaya rendah ini dapat meningkatkan utilitas jaringan Ethereum dengan menarik lebih banyak pengguna kembali ke ekosistemnya. Dalam jangka menengah dan panjang, ini berpotensi mendorong tren harga Ethereum ke arah yang lebih positif.

    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT). Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT). Sumber: Tokocrypto.

    Tren Pergerakan Ethereum dan Pasokan di Bursa

    Saat ini, jumlah Ethereum yang tersedia di bursa hanya 6,38% dari total pasokan, level terendah sejak awal peluncurannya. Ini menunjukkan bahwa banyak investor lebih memilih menyimpan ETH mereka, mengurangi tekanan jual di pasar.

    Meskipun harga ETH masih berkisar antara $2.600 hingga $2.800 sejak awal Februari 2025, ada spekulasi bahwa ETH dapat mengalami kenaikan signifikan setelah melewati level $2.800.

    Pembaruan Ethereum: Pectra Hard Fork

    Ethereum juga bersiap untuk upgrade besar berikutnya, Pectra, yang akan menjadi hard fork terbesar dalam sejarahnya. Upgrade ini mencakup berbagai perbaikan, seperti peningkatan efisiensi jaringan, abstraksi akun, dan ekspansi Layer 2.

    Dengan meningkatnya batas gas menjadi 36 juta, Ethereum berupaya meningkatkan skalabilitas dan ketahanan terhadap sensor. Meskipun biaya gas yang rendah dapat menjadi sinyal bearish dalam jangka pendek, kondisi ini juga dapat menarik lebih banyak pengguna dan investor ke dalam ekosistem Ethereum.

    Ditambah dengan upgrade Pectra dan pengurangan pasokan di bursa, Ethereum berpotensi mengalami pemulihan yang lebih kuat jika kondisi pasar lebih mendukung.

    Para investor dan trader pun akan terus memantau perkembangan terbaru sebelum mengambil keputusan strategis mereka.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Transaksi Aset Kripto Per April 2024 Capai Rp 211 Triliun


    Jakarta

    Badan Pengawas Berjangka Perdagangan Komoditi (Bappebti) mencatat jumlah investor aset kripto mencapai 20 juta orang per April 2024. Sementara itu, total transaksinya dalam empat bulan pertama tahun ini mencapai Rp 211,1 triliun, lebih tinggi dibandingkan tahun 2023 yang hanya Rp 149 triliun.

    Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) Bappebti, Tirta Karma Senjaya, menjelaskan masih ada sejumlah tantangan investasi kripto di Indonesia. Pertama, terkait ruang lingkup investasi kripto dari hulu ke hilirnya sangat luas.

    “Sehingga hal ini menjadi tantangan yang cukup besar untuk kami bisa meregulasi secara baik, namun juga tetap memberikan ruang eksplorasi dan inovasi bagi industri maupun pendukung ekosistemnya, serta memberikan keamanan dan kenyamanan investasi bagi para investor,” ujar Tirta dalam keterangannya, Rabu (29/5).


    Tirta menambahkan, tantangan tersebut menjadi tanggung jawab bersama agar bisa mengatur terkait dengan penggunaan blockchain. “Karena kami yakin dari sisi hulu ini akan memberikan keuntungan besar bagi Indonesia jika dikembangkan lebih jauh lagi,” kata dia.

    Sementara itu, General Counsel Pintu, Malikulkusno Utomo (Dimas), menjabarkan tantangan yang dihadapi oleh industri kripto di Indonesia dari sisi pedagang. Tantangan pertama adalah aturan dari hulu hingga hilir. “Karena kita tahu investasi kripto bergerak sangat cepat dan dinamis dengan berbagai use cases yang muncul setiap harinya.

    Investasi perdagangan spot hanyalah salah satu produk, sementara banyak hal lain seperti Decentralized Finance (DeFi), NFT, Web3, dan produk kripto lainnya yang menjadi tantangan seluruh pihak,” kata dia.

    Tantangan selanjutnya yakni edukasi di tengah meningkatnya jumlah investor dalam waktu cepat. Menurut Dimas, Pintu memiliki komitmen untuk melakukan edukasi kepada masyarakat melalui webinar, roadshow, hingga adanya Pintu Academy.

    “Namun kami justru melihat ada sarana lain untuk edukasi yaitu langsung mencoba berinvestasi kripto. Hal tersebut tidak hanya dapat mendorong penetrasi investor kripto Indonesia, namun menjadi bagian dari perjalanan self-learning investor itu sendiri bahwa terdapat berbagai risiko di dalam investasi kripto,” pungkasnya.

    (fdl/fdl)



    Sumber : finance.detik.com

  • Pelaku Fintech Syariah Kumpul, Bahas Keamanan Data dan Transaksi


    Jakarta

    Sejumlah perusahaan fintech syariah yang tergabung dalam Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) berkumpul untuk membahas tantangan industri ke depan dalam forum CBNCloud Connect.

    CBNCloud Connect digelar oleh PT Cyberindo Mega Persada, salah satu pionir layanan cloud computing dengan merek CBNCloud, bersama mitra strategisnya, EDTS (Enterprise Digital Technology Services).

    CBNCloud Connect menyoroti pentingnya keamanan dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks di era digital, terutama dalam industri fintech yang sangat sensitif terhadap keamanan data dan transaksi.


    Kolaborasi dengan menggunakan Google Cloud dipilih sebagai fokus utama acara ini, mengingat peran pentingnya dalam menyediakan solusi keamanan dan kolaborasi terdepan dalam teknologi cloud. Acara ini dihadiri oleh para pemimpin utama dari CBNCloud, EDTS, serta jajaran pengurus dan anggota perusahaan fintech AFSI.

    “Kami dari AFSI berharap CBNCloud Connect dapat menjadi wadah yang produktif dan mengembangkan inovasi untuk memajukan ekosistem fintech yang lebih aman dan terintegrasi, tentunya dalam pemanfaatan teknologi cloud yang andal,” kata Ketua Umum AFSI Ronald Yusuf Wijaya, ditulis Kamis (27/6/2024).

    General Manager Corporate Solutions CBNCloud, Natalia D. Arientowati, menyatakan kolaborasi antara CBNCloud, EDTS, dan AFSI akan mendorong terciptanya solusi yang inovatif dan terpercaya dalam industri fintech. “Khususnya dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasional bisnis melalui penggunaan teknologi cloud,” katanya.

    Peserta disajikan materi yang mendalam dan komprehensif oleh para ahli di bidangnya, Faradila dan Arif Sembiring. Para cloud architect dari EDTS ini secara rinci menyampaikan berbagai aspek keamanan dalam teknologi cloud. Penjelasan mereka mencakup bagaimana Google Collaboration meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi risiko bagi perusahaan fintech di Indonesia.

    “Google Cloud menghadirkan teknologi terdepan ke dalam fintech syariah, menyederhanakan integrasi data dan analitik untuk membantu pengambilan keputusan yang lebih baik dan aman.” Ujar Allto W. Setiabudi, Chief Operating Officer EDTS.

    Acara ini bukan hanya menjadi ajang untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga bukti nyata dari komitmen CBNCloud dan EDTS dalam mendukung perkembangan teknologi cloud di Indonesia.

    Dengan menghadirkan platform kolaborasi seperti CBNCloud Connect, diharapkan tercipta kerjasama yang berkelanjutan untuk mewujudkan visi bersama demi meningkatkan daya saing dan inovasi di industri fintech. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat membawa dampak positif dalam meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keamanan data, serta memperluas jangkauan layanan bagi pelanggan fintech.

    (fdl/fdl)



    Sumber : finance.detik.com