Tag: umar bin khattab ra

  • Kumpulan Kata-kata Bijak Umar bin Khattab tentang Kehidupan yang Inspiratif


    Jakarta

    Umar bin Khattab RA merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW sekaligus Khulafaur Rasyidin. Ia memiliki sifat yang tegas dan berani.

    Dikutip dari buku Sejarah Keteladanan Nabi Muhammad SAW yang disusun Yoli Hemdi, Umar bin Khattab RA dulunya termasuk salah satu orang yang menentang ajaran Rasulullah SAW. Ia sangat membenci sang rasul dan menganggapnya sebagai orang yang memecah belah kesatuan masyarakat Makkah.


    Seiring berjalannya waktu, beliau mendapat hidayah dan masuk Islam. Kala itu ia mendengar lantunan ayat suci dan bergetar. Prasangka buruknya terhadap Nabi SAW langsung sira begitu saja.

    Kemudian Umar RA berkata, “Demi Allah! Ini (benar) adalah (ucapan) tukang syair sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy!”

    Lalu, saat Nabi Muhammad SAW membaca surah Al-Haqqah ayat 40-41, Umar RA berkata lagi pada dirinya, “Ini adalah (ucapan) tukang tenung (juru ilmu hitam)!”

    Dilanjutkannya oleh Rasulullah dengan bacaan surah Al-Haqqah sampai akhir ayat. Pada kemudian hari Umar berujar, “Ketika itulah Islam memasuki relung hatiku.” Itulah awal benih-benih kebenaran Islam masuk ke hati Umar bin Khattab.

    Kata-kata Mutiara Umar bin Khattab RA Semasa Hidup

    Semasa hidupnya, Umar bin Khattab banyak mengucap kata-kata bijak dan mutiara. Berikut beberapa di antaranya seperti dikutip dari buku 2.000 Kata Mutiara dari 200 Tokoh Dunia oleh Budi Santoso serta buku Kumpulan Kata Bijak Khulafaur Rasyidin tulisan Amir Mubarak.

    1. “Aku khawatir akan datangnya hari di mana orang-orang yang tidak beriman merasa bangga dengan kedustaannya, sementara orang-orang yang beriman malu dengan keimanannya.”

    2. “Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah akan datangnya hari besar ditampakkannya amal.”

    3. “Sabar adalah bahan ramuan paling menyehatkan dalam hidup kita.”

    4. “Jika pasanganmu sedang marah, maka kamu harus tenang. Karena ketika satu di antaranya adalah api, maka satu yang lainnya harus bisa menjadi air yang bisa meredam amarah tersebut.”

    5. “Bila engkau menemukan celah pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu, karena celahmu lebih banyak darinya.”

    6. “Duduklah bersama orang-orang yang mencintai Allah. Itu karena bergaul bersama orang seperti mereka akan mencerahkan pikiran.”

    7. “Wanita bukanlah pakaian yang bisa kamu kenakan dan kamu tanggalkan sesuka hati. Wanita itu terhormat dan memiliki haknya.”

    8. “Ilmu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, dia akan sombong. Jika dia memasuki tahapan kedua, maka dia akan rendah hati. Jika dia memasuki tahapan ketiga, maka dia akan merasa bahwa dirinya tidak ada apa-apanya.”

    9. “Mahkota seseorang adalah akalnya. Derajat seseorang adalah agamanya. Sedangkan kehormatan seseorang adalah budi pekertinya.”

    10. “Ilmu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, dia akan sombong. Jika dia memasuki tahapan kedua, maka dia akan rendah hati. Jika dia memasuki tahapan ketiga, maka dia akan merasa bahwa dirinya tidak ada apa-apanya.”

    11. “Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah lembut.”

    12. “Aku tidak pernah sekalipun menyesali diamku. Tetapi aku berkali-kali menyesali bicaraku.”

    13. “Andai terdengar suara dari langit yang berkata, ‘Wahai manusia, kalian semua sudah dijamin pasti masuk surga kecuali satu orang saja’. Sungguh aku khawatir satu orang itu adalah aku.”

    14. “Jagalah sholatmu. Karena saat kamu kehilangan sholat, maka kamu akan kehilangan segalanya.”

    15. “Hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya kunci keburukan. Sesungguhnya jika engkau malas, engkau tidak akan banyak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, engkau tidak akan tahan dalam menunaikan kewajiban.”

    16. “Jikalau kita letih karena kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Namun jikalau kita bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa itu akan kekal.”

    17. “Orang yang banyak tertawa itu kurang wibawanya.”

    18. “Janganlah kamu berburuk sangka dari kata-kata tidak baik yang keluar dari mulut saudaramu, sementara kamu masih bisa menemukan makna lain yang lebih baik.”

    19. “Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa.”

    20. “Jangan berlebihan dalam mencintai sehingga menjadi keterikatan, jangan pula berlebihan dalam membenci sehingga membawa kebinasaan.”

    21. “Perbanyaklah mengingat Allah, karena itu adalah obat. Janganlah buat dirimu terlalu banyak mengingat manusia, karena itu adalah penyakit”

    22. “Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah keadaan tenang dan sabar”.

    23. “Tidak ada rasa bersalah yang dapat mengubah masa lalu dan tidak ada kekhawatiran yang dapat mengubah masa depan”

    24. “Keyakinan (iman) adalah di mana seharusnya tidak ada perbedaan antara perbuatan, perkataan, dan apa yang kamu pikirkan.”

    25. “Ketahuilah saudara-saudaraku, bahwa sikap keras itu sekarang sudah mencair. Sikap itu (keras) hanya terhadap orang yang berlaku zalim dan memusuhi kaum Muslimin,” kata Umar.

    26. “Tetapi buat orang yang jujur, orang yang berpegang teguh pada agama dan berlaku adil saya lebih lembut dari mereka semua,” Umar melanjutkan.

    27. “Ya Allah, saya ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku! Ya Allah, saya sangat lemah, maka berilah saya kekuatan! Ya Allah, saya ini kikir, jadikanlah saya orang dermawan!”

    28. “Mahkota seseorang adalah akalnya. Derajat seseorang adalah agamanya. Sedangkan kehormatan seseorang adalah budi pekertinya.”

    29. “Ilmu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, dia akan sombong. Jika dia memasuki tahapan kedua, maka dia akan rendah hati. Jika dia memasuki tahapan ketiga, maka dia akan merasa bahwa dirinya tidak ada apa-apanya.”

    30. “Biasakan diri dengan hidup susah, karena kesenangan tidak akan kekal selamanya.”

    31. “Jika tidur pada malam hari, aku telah menyia-nyiakan diriku. Jika aku tidur pada siang hari, aku telah menyia-nyiakan rakyatku.”

    32. “Duduklah dengan orang-orang yang bertaubat, sesungguhnya mereka menjadikan segala sesuatu lebih berfaedah.”

    33. “Barangsiapa takut kepada Allah SWT niscaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut kepada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki.”

    34. “Sesungguhnya kita adalh kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya.”

    35. “Seandainya kejujuran merendahkanku dan sedikit yang bisa dilakukan, maka hal tersebut lebih aku cintai dari kebohongan yang dapat menaikkan posisiku, meski sedikit yang bisa dilakukan.”

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 50 Kata-Kata Mutiara Para Sahabat Nabi Muhammad SAW



    Jakarta

    Para sahabat Nabi Muhammad SAW adalah generasi terbaik umat Islam. Mereka bukan hanya saksi hidup perjuangan Rasulullah, tetapi juga penerus risalah yang menebarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia.

    Dalam kehidupan mereka yang penuh kesederhanaan dan keikhlasan, tersimpan banyak nasihat dan kata-kata bijak yang menjadi pelajaran berharga bagi umat hingga kini.

    Kata-kata mutiara para sahabat tidak hanya mencerminkan keteguhan iman dan akhlak mulia, tetapi juga menunjukkan bagaimana mereka memahami hakikat hidup, sabar dalam ujian, dan tulus dalam beramal.


    Melalui ungkapan-ungkapan penuh hikmah ini, kita dapat belajar tentang ketawadhuan, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan sesuai ajaran Islam.

    Kata-kata Mutiara Sahabat Rasulullah SAW

    1. “Ilmu adalah cahaya bagi hati dan petunjuk bagi jalan.” – Abu Bakar RA
    2. “Kesabaran menghadapi ujian adalah kunci kebahagiaan.” – Umar bin Khattab RA
    3. “Jadilah orang yang menebar manfaat bagi sesama.” – Ali bin Abi Thalib RA
    4. “Amal kebaikan kecil lebih baik daripada menunda amal besar.” – Utsman bin Affan RA
    5. “Hargai waktu, karena ia tidak akan kembali.” – Abu Hurairah RA
    6. “Jangan sombong, karena semua berasal dari Allah.” – Bilal bin Rabah RA
    7. “Kejujuran adalah fondasi persaudaraan sejati.” – Salman Al-Farisi RA
    8. “Belajarlah sepanjang hayat, ilmu tak mengenal usia.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    9. “Ridha Allah lebih berharga daripada pujian manusia.” – Sa’ad bin Abi Waqqas RA
    10. “Hati yang lembut membawa kedamaian dalam hidup.” – Abu Darda RA
    11. “Tegaslah dalam kebenaran, walau sendirian.” – Abdullah bin Mas’ud RA
    12. “Bersyukurlah atas nikmat kecil maupun besar.” – Aisyah RA
    13. “Berdoalah tanpa henti, karena doa senjata orang mukmin.” – Abu Bakrah RA
    14. “Jangan berhenti berbuat baik meski sedikit.” – Ibn Abbas RA
    15. “Keimanan sejati tampak dari akhlak yang mulia.” – Umar bin Khattab RA
    16. “Jauhi kemarahan, karena ia merusak hati.” – Abu Hurairah RA
    17. “Persaudaraan adalah harta paling berharga.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    18. “Senyum kepada sesama adalah sedekah.” – Abdullah bin Umar RA
    19. “Hidup sederhana, hati tenang, jiwa bahagia.” – Salman Al-Farisi RA
    20. “Jangan menunda kebaikan, lakukan sekarang juga.” – Ali bin Abi Thalib RA
    21. “Ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah.” – Ibn Mas’ud RA
    22. “Bersikap lemah lembut menenangkan jiwa.” – Abu Darda RA
    23. “Berani menegakkan kebenaran, meski berbeda pendapat.” – Umar bin Khattab RA
    24. “Doa tulus membuka pintu rahmat Allah.” – Aisyah RA
    25. “Jangan iri, karena setiap orang punya rezeki berbeda.” – Utsman bin Affan RA
    26. “Hati yang bersih menenangkan diri dan orang lain.” – Abu Bakr RA
    27. “Sabar menghadapi musibah adalah bagian dari iman.” – Abdullah bin Mas’ud RA
    28. “Kebaikan kecil jika konsisten lebih mulia dari besar tapi jarang.” – Ali bin Abi Thalib RA
    29. “Ridha Allah adalah kebahagiaan sejati.” – Bilal bin Rabah RA
    30. “Ilmu bermanfaat bagi diri sendiri dan umat.” – Salman Al-Farisi RA
    31. “Bersyukur membuat hidup ringan dan tentram.” – Abu Darda RA
    32. “Jangan sombong dengan harta, karena ia sementara.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    33. “Memaafkan orang lain menenangkan hati.” – Aisyah RA
    34. “Setiap langkah menuju kebaikan dicatat sebagai pahala.” – Abu Hurairah RA
    35. “Jangan takut berbuat benar meski sulit.” – Umar bin Khattab RA
    36. “Keikhlasan adalah kunci diterimanya amal.” – Ibn Abbas RA
    37. “Hargai teman yang menasihati dengan tulus.” – Abu Bakrah RA
    38. “Menjaga lisan dari ucapan buruk adalah tanda iman.” – Abdullah bin Umar RA
    39. “Sedekah menyejukkan hati dan memperkuat persaudaraan.” – Ali bin Abi Thalib RA
    40. “Kesederhanaan adalah jalan menuju ketenangan.” – Abu Darda RA
    41. “Ilmu tanpa berbagi akan sia-sia.” – Salman Al-Farisi RA
    42. “Jangan menunda taubat, lakukan segera.” – Ibn Mas’ud RA
    43. “Bersikap rendah hati mendekatkan diri kepada Allah.” – Umar bin Khattab RA
    44. “Hidup untuk memberi manfaat, bukan hanya menerima.” – Abu Bakr RA
    45. “Jangan menilai seseorang dari harta atau kedudukannya.” – Ali bin Abi Thalib RA
    46. “Senyum dan salam mempererat ukhuwah Islamiyah.” – Bilal bin Rabah RA
    47. “Bersyukur dalam segala keadaan adalah tanda orang beriman.” – Abu Hurairah RA
    48. “Belajar dan beramal adalah jalan hidup seorang Muslim.” – Ibn Abbas RA
    49. “Kesabaran menghadapi ujian membentuk karakter kuat.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    50. “Jadilah cahaya bagi orang lain melalui kebaikanmu.” – Aisyah RA

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Niat Sholat Qobliyah Jumat 2 Rakaat dan Tata Caranya



    Jakarta

    Salah satu amalan sunnah yang dapat dilakukan oleh seorang muslim pada hari Jumat adalah melaksanakan sholat qobliyah Jumat. Sholat ini dianjurkan sebagai pengganti sholat rawatib yang biasa dilakukan sebelum Dzuhur.

    Di hari Jumat, terdapat beberapa ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan. Salah satunya adalah sholat sunnah qabliyah (sebelum) dan ba’diyah (setelah) Jumat.

    Dalam buku “Panduan Shalat Sunnah Lengkap” karya KH. Muhammad Sholikhin, disebutkan bahwa sholat sunnah qobliyah Jumat dapat dilaksanakan dua hingga empat rakaat, sebagaimana sholat sunnah sebelum Dzuhur.


    Sholat qobliyah Jumat merupakan ibadah sunnah yang dilakukan sebelum pelaksanaan sholat Jumat, dengan jumlah rakaat minimal dua.

    Niat Sholat Qobliyah Jumat

    Berikut bacaan niat sholat qobliyah Jumat 2 rakaat

    أُصَلِّيْ سُنَّةَ الجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلهِ تَعَالَى

    Ushalli sunnatal jumu’ati rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.

    Artinya: “Aku menyengaja sembahyang sunah qobliyah Jumat dua rakaat karena Allah ta’ala.”

    Tata Cara Sholat Qobliyah Jumat 2 Rakaat

    Rakaat pertama:

    Berdiri tegak menghadap kiblat dan membaca niat sholat qobliyah Jumat
    Membaca niat
    Takbiratul ihram
    Membaca doa Iftitah
    Membaca surat Al-Fatihah
    Membaca surat pendek Al Quran
    Rukuk
    Iktidal
    Sujud pertama
    Duduk di antara dua sujud
    Sujud kedua
    Duduk untuk tasyahud awal
    Bangkit untuk masuk ke rakaat kedua

    Rakaat kedua:

    Membaca surat Al Fatihah
    Membaca surat pendek Al Quran
    Rukuk
    Iktidal
    Sujud pertama
    Duduk di antara dua sujud
    Sujud kedua
    Duduk untuk tasyahud akhir
    Salam

    Hukum Pelaksanaan Sholat Qobliyah Jumat

    Dalam sebuah riwayat hadits disebutkan bahwa sebelum sholat Jumat, seseorang dibolehkan melaksanakan sholat sunnah mutlak, yaitu sholat tanpa batasan rakaat tertentu yang bisa dikerjakan kapan saja, termasuk sebelum khatib naik mimbar.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Barang siapa mandi di hari Jumat, lalu datang ke masjid dan melaksanakan sholat semampunya, kemudian diam mendengarkan khutbah hingga selesai dan ikut sholat bersama imam, maka dosanya akan diampuni antara Jumat tersebut dan Jumat berikutnya, ditambah tiga hari.” (HR Muslim no. 587)

    Hadits-hadits lain dalam Sahih Bukhari dan Sunan Abu Dawud juga menyebutkan adanya sholat sunnah qobliyah Jumat seperti halnya sholat sunnah qobliyah Dzuhur, yang dikerjakan dua atau empat rakaat.

    Hal ini juga didukung oleh pendapat Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm, yang menjelaskan bahwa sholat sunnah sebelum Jumat telah umum dilaksanakan sejak masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Beliau menjelaskan bahwa sholat sunnah qobliyah Jumat pada dasarnya adalah sholat sunnah yang dilakukan antara adzan dan iqamah sebelum khutbah dimulai.

    (lus/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Pesan Khusus Ali bin Abi Thalib RA kepada Pemungut Pajak


    Jakarta

    Ali bin Abi Thalib RA merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Semasa peninggalan sang rasul, beliau termasuk satu dari empat Khulafaur Rasyidin atau Khalifah yang memimpin umat Islam.

    Menurut buku ‘Ali ibn Abi Thalib susunan Musthafa Murad yang diterjemahkan Dedi Slamet Riyadi, nama lengkap Ali bin Abi Thalib RA adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf. Ia merupakan sosok yang cerdas dan mementingkan ilmu pengetahuan ketimbang harta.


    Ali bin Abi Thalib RA menjadi khalifah menggantikan kedudukan Utsman bin Affan. Ia meneruskan cita-cita Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA serta mengembalikan kekayaan yang diperoleh dari para pejabat melalui cara yang tidak baik.

    Selain itu, Ali bin Abi Thalib juga bertekad mengganti seluruh gubernur yang dianggap tidak mampu memimpin dan tidak disenangi masyarakat. Ali mencopot jabatan Gubernur Basrah dari tangan Abu Bakar bin Muhammad bin Amr dan digantikan oleh Utsman bin Hanif.

    Mengutip buku Sejarah Perkembangan Ekonomi Islam susunan Nurdila Oktia Risanti dan Desi Isnaini, Ali bin Abi Thalib RA sebagai khalifah juga mendistribusikan pendapatan pajak per tahun sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan Umar bin Khattab RA. Pada masa pemerintahannya, Ali menentukan pajak terhadap pemilik hutan sebesar 4.000 dirham serta mengizinkan Ibnu Abbas RA yang kala itu menjadi Gubernur Kufah untuk mengumpulkan zakat pada sayuran segar yang akan digunakan sebagai bumbu masakan.

    Semasa kepemimpinan khalifah Ali bin Abi Thalib RA, prinsip yang paling utama dari pemerataan distribusi uang rakyat sudah diperkenalkan. Sistem distribusi setiap pekan sekali untuk pertama kalinya dilakukan.

    Hari pendistribusian atau hari pembayaran adalah hari Kamis. Pada hari itu, seluruh perhitungan harus diselesaikan dan pada Sabtu dimulai perhitungan yang baru.

    Bahkan Ali bin Abi Thalib RA memiliki pesan khusus bagi para pemungut pajak, zakat dan sejenisnya. Menukil dari buku Sejarah Hidup Imam Ali RA susunan H M H Al Hamid Al Husaini terbitan Lembaga Penyelidikan Islam, seperti apa pesannya?

    Pesan Khusus Ali bin Abi Thalib RA kepada Pemungut Pajak

    “Datangilah mereka dengan tenang dan sopan. Jika engkau sudah berhadapan dengan mereka, ucapkanlah salam. Hormatilah mereka itu dan katakanlah: ‘Hai para hamba Allah, penguasa Allah dan Khalifah-Nya mengutus aku datang kepada kalian untuk mengambil hak Allah yang ada pada kekayaan kalian. Apakah ada bagian yang menjadi hak Allah itu dalam harta kekayaan kalian? Jika ada, hendaknya hak Allah itu kalian tunaikan kepada Khalifah-Nya.”

    Selain itu, Ali bin Abi Thalib RA juga berpesan agar pemungut pajak, zakat dan semacamnya tidak memaksa ketika orang tersebut mengatakan tidak ada.

    “Jika orang yang bersangkutan menjawab ‘tidak’, janganlah kalian ulangi lagi. Tetapi jika orang itu menjawab ‘ya’, pergilah engkau bersama-sama untuk memungut hak Allah itu.”

    Ali RA berpesan pula pada para pemungut pajak untuk tidak menakut-nakuti orang yang ingin diambil pajaknya atau mengancam. Ia melarang mereka untuk membentak dan bersikap kasar.

    Bahkan, khalifah Ali bin Abi Thalib RA melarang mereka untuk masuk memeriksa tanpa seizin yang punya. Meskipun orang tersebut memiliki ternak yang banyak.

    “Janganlah kalian menakut-nakuti dia, janganlah mengancam-ancam dia, dan jangan pula membentak atau bersikap kasar. Ambillah apa yang diserahkan olehnya kepada kalian, emas atau pun perak. Jika orang yang bersangkutan mempunyai ternak berupa unta atau lainnya, janganlah kalian masuk untuk memeriksa tanpa seizin dia, walaupun orang itu benar-benar mempunyai banyak ternak.”

    Apabila orang tersebut memberi izin, barulah mereka diperkenankan memeriksanya.

    “Jika orang itu memberi izin kepada kalian untuk memeriksanya, janganlah kalian masuk dengan lagak seperti orang yang berkuasa. Jangan berlaku kasar, jangan menakut-nakuti dan jangan sekali-kali menghardik binatang-binatang itu. Jangan kalian berbuat sesuatu yang akan menyusahkan pemiliknya.”

    Selain itu, Ali bin Abi Thalib RA juga berpesan agar mereka menentukan sendiri harta kekayaan yang ingin diberikan.

    “Kemudian apabila harta kekayaan diperlihatkan kepada kalian, persilakan pemiliknya memilih dan menentukan sendiri mana yang menjadi hak Allah. Jika ia sudah menentukan pilihannya, janganlah kalian menghalang-halangi dia mengambil bagian yang menjadi haknya. Hendaknya kalian tetap bersikap seperti itu, sampai orang yang bersangkutan menetapkan mana yang menjadi hak Allah yang akan ditunaikan. Tetapi ingat, jika kalian diminta supaya meninggalkan orang itu, tinggalkanlah dia!”

    Ali bin Abi Thalib RA juga berpesan kepada penguasa daerah setempat agar berlaku adil terhadap rakyatnya. Jangan sampai mereka terpaksa melunasi pajak dengan menjual ternak atau hamba sahaya yang dimilikinya.

    “Berlakulah adil terhadap semua orang. Sabarlah dalam menghadapi orang-orang yang hidup
    kekurangan, sebab mereka itu sesungguhnya adalah juru bicara rakyat. Janganlah kalian menahan-nahan kebutuhan seseorang dan jangan pula sampai menunda-nunda permintaannya. Untuk keperluan melunasi pajak janganlah sampai ada orang yang terpaksa menjual ternak atau hamba sahaya yang diperlukan sebagai pembantu dalam pekerjaan. Janganlah sekali-kali kalian mencambuk seseorang hanya karena dirham!”

    Pesan dan amanah dari Ali bin Abi Thalib RA itu menunjukkan secara jelas keadilan yang dijunjung tinggi oleh sang khalifah. Bahkan, pernah suatu ketika Ali menerima setoran pajak dari penduduk Isfahan, ditemukan sepotong roti kering terselip dalam wadah.

    Roti tersebut lalu dipotong-potong oleh Ali bin Abi Thalib RA menjadi tujuh keping, sama seperti uang setoran itu juga yang dibagi menjadi tujuh bagian. Setiap bagian dari uang itu ditaruh sekeping roti kering.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Masuk Masjid Nabawi, Perhatikan saat Berkunjung



    Jakarta

    Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW setelah Masjid Quba ketika dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Masjid Nabawi menjadi tempat istimewa bagi umat muslim, bahkan ada doa ketika masuk ke dalamnya.

    Terletak di Kota Madinah, Masjid Nabawi menjadi tempat bersejarah yang ditinggali Nabi Muhammad SAW ketika memimpin umat Islam selama bertahun-tahun.

    M. Irawan dalam bukunya yang berjudul Keajaiban Masjid Nabawi menjelaskan bahwa di Masjid Nabawi terdapat makam Rasulullah SAW dan para sahabat-sahabat Nabi. Masjid ini juga menjadi salah satu tujuan utama para jamaah haji dan umroh untuk melakukan ibadah.


    Sebelum berkunjung ke Masjid Nabawi, pahami bacaan doa masuk Masjid Nabawi dan adab yang harus dilakukan berikut.

    Bacaan Doa Masuk Masjid Nabawi

    Mengutip dari buku Fiqih Sunnah 3 karya Sayyid Sabiq berikut bacaan doa masuk Masjid Nabawi:

    أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

    Latin: A’udzu billahil-‘azhimi wa bi wajhihil-karimi wa sulthanihil-qadimi min asy-syaithani ar-rajimi, bismillahi Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa alihi wa sallim. Allahumma igfir li dzunubi wa-ftah li abwaba rahmatika.

    Artinya: “Hamba berlindung kepada Allah yang Maha Agung, kepada wajah-Nya yang Mulia, dan kepada kekuasaan-Nya yang Mahadahulu, dari setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah; ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad beserta keluarga Beliau. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu untuk hamba.”

    Doa ini juga dianjurkan untuk dibaca setiap masuk masjid-masjid yang lainnya.

    Adab Masuk Masjid Nabawi

    Masjid Nabawi memiliki keistimewaan dari masjid-masjid lainnya sehingga ketika hendak masuk ke dalam masjid perlu memperhatikan adab-adabnya. Berikut ini adalah adab masuk Masjid Nabawi berdasarkan buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi:

    1. Tenang dan Tidak Tergesa-Gesa

    Adab pertama ketika memasuki Masjid Nabawi yaitu usahakan dalam keadaan tenang dan tidak tergesa-gesa. Dianjurkan pula untuk memakai wewangian serta pakaian yang bagus. Kemudian masuk ke dalam masjid dengan mendahulukan kaki sebelah kanan.

    2. Membaca Doa Masuk Masjid

    Ketika kaki masuk ke dalam masjid, baca doa masuk Masjid Nabawi dengan bacaan yang telah disebutkan di atas.

    3. Melakukan Sholat Tahiyatul Masjid

    Setelah membaca doa masuk Masjid Nabawi, dianjurkan untuk datang ke Raudhah Asy-Syarif terlebih dahulu kemudian melakukan sholat tahiyatul masjid di sana dengan rasa tenang dan khusyu.

    4. Menuju Makam Rasulullah SAW dan Sahabat Nabi

    Setelah melakukan sholat tahiyatul masjid, bisa dilanjutkan dengan mendatangi makam Rasulullah SAW dan sahabat Nabi. Ketika sampai ke makam, hadaplah ke makam, lalu mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW.

    Kemudian bergeser ke sebelah kanan dan mengucapkan salam kepada Abu Bakar As-Shiddiq RA. Selanjutnya bergeser lagi dan mengucapkan salam kepada Umar bin Khattab RA.

    5. Menghadap Kiblat dan Berdoa

    Setelah mengunjungi makam Rasulullah SAW dan sahabatnya, kemudian menghadap ke arah kiblat dan berdoa untuk dirinya, kekasih, saudara, dan umat Islam pada umumnya. Bagi yang berziarah, hendaknya tidak mengeraskan suara kecuali hanya sekadar dapat didengar oleh dirinya sendiri.

    Tak hanya itu, tidak dianjurkan pula untuk mengusap makam dan menciumnya karena hal tersebut termasuk perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

    Itulah bacaan doa masuk Masjid Nabawi dan adab-adab yang harus dilakukan. Dengan membaca doa dan memperhatikan adab-adab saat berkunjung di Masjid Nabawi, umat muslim insyaAllah akan mendapatkan keberkahan dan manfaat dari ibadah yang dilakukannya. Semoga artikel ini dapat menjadi manfaat bagi detikers yang berencana untuk berkunjung ke Masjid Nabawi.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Hamba Sahaya Melahirkan Tuannya sebagai Tanda Kiamat



    Jakarta

    Ada salah satu riwayat hadits Rasulullah SAW menyebutkan perihal hamba sahaya melahirkan tuannya. Keadaan tersebut dijelaskan Rasulullah SAW sebagai salah satu tanda dari datangnya hari kiamat.

    Hadits itu bersumber dari Umar bin Khattab RA. Ia bercerita, para sahabat tengah duduk-duduk bersama Rasulullah SAW hingga datang seorang laki-laki yang berpakaian putih, rambut hitam, tidak memiliki bekas sehabis perjalanan, dan tidak ada seorang pun yang mengenalnya.

    Dikutip dari Riyadhush Shalihin Juz 1 karangan Imam an-Nawawi dan Mida Latifatul Muzammirah, S.S, laki-laki tersebut meminta Rasulullah SAW untuk menyebutkan tanda-tanda datangnya hari kiamat. Berikut keterangan hadits selengkapnya.


    قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ السَّاعَةِ. قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنْ أَمَارَتِهَا. قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ

    Artinya: Lelaki itu kemudian mendekatkan dirinya pada Rasulullah SAW dan bertanya, “Kapan hari kiamat?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” Ia bertanya lagi, “Kalau begitu, terangkan tanda-tanda kiamat?” Rasulullah SAW menjawab, “Jika hamba sahaya telah melahirkan majikannya dan orang-orang fakir miskin yang tidak bersepatu, tidak berpakaian telah berlomba-lomba membangun gedung besar.” (HR Muslim)

    Dalam riwayat lain, menurut Said Hawwa dalam buku Al Islam, lelaki yang menghampiri Rasulullah SAW dan para sahabat tersebut diketahui adalah Malaikat Jibril. Hadits tersebut menyebut, tujuan kedatangan Malaikat Jibril itu untuk mengajarkan agama pada para sahabat (HR Muslim, At Tirmidzi, dan An Nasa’i).

    Tafsir Hadits Hamba Sahaya Melahirkan Tuannya

    1. Makna Budak yang Sebenarnya

    Ada beragam pendapat yang menafsirkan salah satu tanda-tanda hari kiamat pada hadits sebelumnya. Salah satunya pendapat yang datang dari Syaikh Nawawi dalam buku 6 Pilar Keimanan.

    Menurutnya, hadits tersebut hendak menggambarkan kekacauan pada akhir zaman. Saat itu, marak penjualan ibu hingga kerap terjadi pembelian ibu sendiri tanpa diketahui oleh sang pembeli yang notabene adalah putra kandungnya.

    Pendapat kedua datang dari penjelasan para ulama dalam Syarah An Nawawi ‘ala Muslim. Secara bahasa, al amah dalam hadits tersebut diartikan sebagai budak perempuan yang ditawan di medan perang.

    Sebab itu, para ulama tersebut berpendapat, kalimat hamba sahaya melahirkan tuannya sebagai tanda kiamat diartikan sebagai tanda meluasnya praktik perbudakan di masa mendatang hingga lahirlah anak-anak hasil hubungan antara budak dan majikannya.

    Anak-anak tersebut kemudian menjadi tuan atas ibunya sendiri. Jadi, status anak-anak dari hamba sahaya tersebut mengikuti dari status ayahnya yang seorang tuan.

    “Telah banyak hamba sahaya menjadi orang merdeka dengan kepemilikan sumpah (milkul yamin). Secara syariat diketahui bahwa anak-anak yang lahir dari hamba sahaya menjadi orang merdeka,” demikian keterangan Syarah An Nawawi ‘ala Muslim yang diterjemahkan Dr. Umar Sulaiman al Asygar dalam buku Ensiklopedia Kiamat.

    Hamka dalam Tafsir al-Azhar Jilid 3 juga turut menjelaskan bahwa ada kemungkinan hadits tersebut bermakna seorang petualang yang tanpa diketahui asal usulnya diadopsi oleh seorang budak. Namun lama kelamaan, anak tersebut menjadi sombong setelah meraih kekuasaan.

    2. Makna Budak sebagai Kiasan

    Pendapat sebelumnya ditentang oleh pendapat dari Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Sebab, menurutnya, perbudakan sudah banyak terjadi dan budak perempuan yang melahirkan anak untuk majikannya sudah terjadi di zaman Rasulullah SAW.

    Pendapat ini juga didukung oleh Syeikh Mustofa Dib al-Bugha dan Syeikh Muhyiddin Mistu dalam Kitab al-Wafi fi Syarh al-Arba’in al-Nawawiyyah. Hadits hamba sahaya melahirkan tuannya merupakan bentuk kiasan dari maraknya perbuatan durhaka pada orang tua.

    Lebih lanjut, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Kitab Fath al Bari yang dikutip dari laman Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia berpendapat, hadits itu juga dapat menunjukkan meluasnya praktik durhaka seorang anak pada ibunya pada akhir zaman. Kata tuan tersebut merupakan pengibaratan anak yang bertindak semena-mena pada ibunya bak tuan memperlakukan budaknya.

    “Pandangan ini juga sejalan dengan konteks hadis yang berbicara tentang salah satu tanda kiamat, yaitu golongan rendah menjadi tinggi, dan orang tua yang seharusnya menjadi penguasa didominasi oleh anaknya sendiri,” demikian penjelasan dari situs tersebut.

    Perbuatan durhaka sebagai tanda hari kiamat tersebut digambarkan hingga seorang ibu atau ayah menjadi takut pada anaknya sendiri seperti hamba sahaya yang takut pada tuannya. Menurut mereka, hal itu terjadi pada fase peluruhan waktu (fasad al-zaman) dan pembalikan tatanan kehidupan (inqilab al-ahwal).

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Umar dengan Janda Tua yang Masak Batu untuk Makan



    Jakarta

    Banyak sekali kisah inspiratif dan menambah keimanan dalam berbagai keterangan dalam dunia Islam. Salah satunya adalah kisah dari sahabat, Umar bin Khattab RA dengan janda tua.

    Umar bin Khattab atau yang kerap dipanggil Umar merupakan salah satu orang terhebat di dalam sejarah Islam mungkin setelah Rasulullah SAW. Beliau merupakan Amirul Mukminin atau pemimpin orang-orang yang beriman sekaligus menjadi khalifah pertama setelah sepeninggalnya Rasulullah SAW.

    Catatan dan rekaman sepak terjangnya semenjak masih menjadi musuh Islam hingga akhirnya menjadi ujung tombak Islam menyimpulkan dirinya sebagai orang yang besar dan tangguh. Namun, dalam satu kisah kita dapat mengetahui bagaimana hati seorang Umar yang ternyata lembut dan sangat perasa.


    Umar diceritakan gemar melakukan blusukan ke rumah-rumah rakyatnya untuk mengetahui secara langsung bagaimana kondisi mereka. Seperti dikisahkan dalam buku Memang untuk Dibaca, 100 Kisah Islami Inspiratif Pembangkit Jiwa karya Rian Hidayat Abi, kisah ini berawal ketika suatu malam pada salah satu jadwal blusukan rutin sang khalifah.

    Suatu malam, Umar bersama seorang sahabat bernama Aslam mengunjungi sebuah desa terpencil. Ketika sedang berkeliling, ia mendengar terdapat suara tangisan anak kecil yang bersumber dari sebuah rumah.

    Rumah tersebut dihuni oleh seorang perempuan tua dan anaknya yang sedang menangis tadi. Alangkah terkejutnya ketika Umar ini mengetahui ternyata ibu tersebut sedang memasak batu seolah-olah sedang memasak makanan.

    Hal ini membuat Khalifah umar merasa penasaran sekaligus merasa iba dengan perilaku yang ditunjukkan oleh janda tua tersebut, sehingga ia bertanya kepadanya perihal anaknya yang sedang menangis itu. Wanita tersebut kemudian menjawab,

    “Saya memasak batu-batu ini hanya untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan yang dilakukan Umar bin Khattab (wanita itu tidak mengetahui sedang berbicara dengan Umar) yang tidak mau melihat rakyatnya sengsara. Sungguh kejam! Seharian ini kami belum makan satu suap pun, bahkan anakku pun sampai harus berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, saya mengharap bakal ada rezeki yang datang, namun kenyataannya tidak! Saya harus mengumpulkan batu-batu ini kemudian memasaknya untuk membohongi anakku yang kelaparan dengan harapan dia akan lekas tertidur. Ternyata anakku tidak bisa tertidur, kemudian ia menangis meminta makan.”

    Sembari mendengar keluh kesah yang diutarakan oleh perempuan tua itu, Amirul Mukminin berlinang air mata. Kemudian. Umar segera beranjak dari tempat itu dan kembali ke Madinah untuk mengambil gandum yang dipikul di punggungnya untuk diantar ke janda tua itu.

    Tanpa istirahat, Umar kemudian sampai ke rumah janda tua itu dan membawakan gandum serta beberapa liter minyak samin untuk bisa dimasak oleh janda tua itu. Setelahnya, janda tua itu bergegas memasak makanan untuk dia dan anaknya.

    Setelah mampu menikmati makanan tersebut, wanita tua itu berkata, “Terima kasih, Semoga Allah SWT membalas amal perbuatanmu.”

    Setelah kejadian yang menguras hati dan tenaga itupun akhirnya Umar lega karena bisa membantu rakyatnya agar tidak kelaparan lagi sekaligus menghentikan tangisan anak kecil tersebut. Umar kemudian berpamitan, sebelum pergi, ia menyampaikan kepada wanita tua itu untuk segera menemui Umat karena akan diberikan kepadanya hak penerima santunan negara.

    Esok harinya, wanita itu bergegas untuk menemui Umar bin Khattab. Alangkah terkejutnya ia ketika mengetahui ternyata yang semalaman membantunya mengangkat gandum dan minyak adalah Umar sendiri.

    Dikutip dari buku Umar Ibn Al-Khattab His Life and Times Vol. 1, kekeringan dan kelaparan parah sempat terjadi pada tahun ke 18 setelah hijrah. Tahun ini disebut Ar-Ramadah karena angin menerbangkan debu seperti abu atau Ar-Ramad. Bencana ini mengakibatkan kematian hingga hewan-hewan ikut merasakan dampaknya.

    Umar yang merasa bertanggung jawab melakukan berbagai usaha untuk membantu rakyatnya, termasuk mendistribusikan makanan dari Dar Ad-Daqeeq. Umar membagikan hingga berdoa memohon pengampunan pada Allah SWT hingga akhirnya turun hujan dan mengakhiri bencana tersebut.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Usia 18 Tahun, Usamah bin Zaid Jadi Panglima Perang Islam Termuda



    Jakarta

    Usamah bin Zaid RA adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang menyandang gelar panglima perang termuda. Ia diangkat menjadi panglima di usianya yang masih 18 tahun.

    Menukil dari buku Jika Sungguh-sungguh Pasti Berhasil yang disusun oleh Amirullah Syarbini dkk, Usamah lahir pada tahun ke-7 sebelum Hijriah. Ia juga merupakan anak dari Zaid bin Haritsah.

    Mulanya, pengangkatan Usamah tidak diyakini oleh para sahabat. Sebagian dari mereka meragukan kemampuan Usamah di usianya yang masih muda.


    Rizem Aizid dalam karyanya yang berjudul Para Panglima Perang Islam mengisahkan kala itu Umar bin Khattab RA menemui Nabi Muhammad SAW dan menyampaikan desas-desus dari sahabat yang meragukan kemampuan Usamah dan keputusan sang rasul. Mendengar hal itu, Nabi SAW marah dan meyakinkan para sahabat untuk meredam ketidakpuasan mereka.

    Meski di usianya yang masih 18 tahun itu, tugas Usamah untuk pertama kalinya sebagai panglima perang adalah mengusir pasukan Romawi yang mengancam keutuhan umat Islam. Ini tentu merupakan hal yang berat dan tidak mudah bagi Usamah.

    Usamah mengepalai para sahabat Rasulullah SAW yang lebih senior, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, Umar bin Khattab RA, Sa’ad bin Abi Waqqash RA, Abu Ubaidah bin Jarrah RA dan lain sebagainya. Panglima perang termuda itu memimpin mereka semua untuk mengusir pasukan Romawi.

    Saat itu, Usamah diminta untuk berhenti di Balqa’ dan Qal’atut Darum dekat Gazzah, termasuk wilayah kekuasaan Rum (Romawi). Pada perang itu, Usamah bersama pasukan yang ia pimpin berhasil membawa kemenangan.

    Dari situlah, para sahabat yang semula tidak yakin dengan Usamah menepis keraguan mereka. Ia berhasil membuktikan bahwa di usianya yang masih muda, tak ada satu pun korban dari pasukan muslimin.

    Kemenangan yang gemilang tersebut membuatnya mendapat pujian dari para sahabat. Setelahnya, Usamah terus menjadi panglima dan memimpin pasukan Islam dalam peperangan, bahkan seusai wafatnya Nabi Muhammad SAW.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 10 Kisah Sahabat Nabi untuk Anak yang Bisa Jadi Teladan


    Jakarta

    Ada 10 sahabat Rasulullah yang dijanjikan masuk surga. Setiap sahabat memiliki kisah yang berbeda-beda. Tentunya anak-anak pasti akan penasaran dan dapat meneladani sikap serta sifat para sahabat Nabi.

    Menceritakan kisah kemuliaan para sahabat nabi kepada anak merupakan cara yang tepat dalam meningkatkan pemahaman dan moralitasnya supaya menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

    Sahabat-sahabat nabi tersebut adalah 10 orang pertama masuk Islam dan dijanjikan masuk surga, diantaranya yaitu: Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidillah bin Jarrah.


    Kisah 10 Sahabat Nabi Muhammad SAW

    Berikut ini, cerita singkat kesepuluh sahabat nabi Muhammad SAW yang sudah disebutkan di atas.

    1. Abu Bakar as-Shiddiq

    Menurut buku 10 Sahabat Rasul Penghuni Surga karya Ariany Syurfah, nama asli Abu Bakar adalah Abdul Ka’bah, sedangkan nama Abu Bakar As-Shiddiq berarti ‘Ayah si gadis’ yaitu ayah dari Aisyah, istri Rasulullah SAW.

    Nama lengkap Abu Bakar adalah Abdullah bin Abu Quhafah bin Usman bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Ta’im bin Murah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib Al-Qurasyi At-Tamimi.

    Abu bakar Ash-Shiddiq lahir di kota Mekkah pada tahun 573 M atau dua tahun setelah Nabi Muhammad SAW lahir.

    Abu Bakar yang memiliki sifat lembut, rendah hati, setia, dan suka menolong, menjadi orang kedua yang memeluk Islam setelah Khadijah istri Rasulullah SAW, sehingga beliau termasuk dalam Sabiqun Al-Awwalun.

    2. Umar bin Khattab

    Menurut buku Umar bin Khattab RA karya Abdul Syukur Al-azizi, bahwa Umar bin Khathab RA memiliki nama lengkap Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Rabah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr al-Adawi al-Qurasyi.

    Terkait tahun kelahiran Umar bin Khattab RA, para ulama dan ahli sejarah berbeda pendapat. Namun, mayoritas ulama mengatakan ia lahir di Makkah pada tahun 538 M, dua belas, atau tiga belas tahun lebih muda dari Nabi Muhammad SAW.

    Umar bin Khattab memiliki perawakan wajah putih, agak merah, kidal, dan berkaki lebar, sehingga jalannya agak cepat, ditambah beliau dikenal sebagai pemuda yang piawai menunggangi kuda, memanah, memainkan pedang, hal ini lah yang membuatnya sangar dan ditakuti.

    3. Utsman bin Affan

    Nama lengkap Biografi Utsman bin Affan karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, bahwa nama asli Utsman bin Affan adalah Utsman bin Affan bin Abu Al-‘Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab.

    Menurut pendapat yang shahih, Utsman bin Affan lahir di Makkah, enam tahun sesudah terjadinya ‘Am Al-Fil (Tahun Gajah). Namun, ada juga yang mengatakan ia lahir di Thaif, usianya lebih muda lima tahun dari Rasulullah SAW.

    4. Ali bin Abi Thalib

    Menurut buku Biografi Ali bin Abi Thalib karya Ali Muhammad Ash-Shalabi, bahwa nama asli Ali bin Abi Thalib adalah Ali bin Abi Thalib (Abdu Manaf) bin Abdul Muthalib, dipanggil juga dengan nama Syaibah Al-Hamd bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Luai bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Maad bin Adnan.

    Terdapat perbedaan di antara penulis ahli sejarah Islam, Al-Hasan Al-Basri berpendapat kelahiran Ali bin Abi Thalib sekitar 15 atau 16 tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW.

    Beda lagi dengan Ibnu Ishaq, beliau berpendapat Ali bin Abi Thalib dilahirkan 10 tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW menjadi nabi.

    5. Thalhah bin Ubaidillah

    Menurut buku Dahsyatnya Ibadah, Bisnis, dan Jihad Para Sahabat Nabi yang Kaya Raya karya Ustadz Imam Mubarok Bin Ali, bahwa Thalhah bin Ubaidillah merupakan seorang pemuda Quraisy yang berprofesi sebagai saudagar.

    Suatu hari, Thalhah bin Ubaidillah bersama Abu Bakar pergi menjumpai Rasulullah SAW, setelah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, Thalhah memantapkan niatnya memeluk agama Islam. Dirinya pun menjadi salah satu dari 10 sahabat nabi yang dijanjikan masuk surga.

    6. Zubair bin Awwam

    Menurut buku Sirah 60 Sahabat Nabi Muhammad saw karya Ummu Ayesha. Bahwa Zubair termasuk dalam salah satu dari 10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga.

    Zubair memeluk agama Islam saat usianya baru berusia 15 tahun, namun ada juga pendapat lainnya mengatakan Zubair memeluk Islam sejak masih anak-anak.·

    7. Abdurrahman bin Auf

    Menurut buku Kisah Seru Para Sahabat Nabi karya Lisdy Rahayu, bahwa Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu dari 10 orang yang pertama masuk Islam dan dijanjikan surga. Beliau ini dikenal sebagai sahabat yang pandai berdagang.

    Suatu ketika, umat Islam hijrah dari Makkah ke Madinah, dan masing-masing sahabat nabi akan dipersaudarakan menjadi Anshar dan Muhajirin. Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi al-Anshari.

    Ketika itu, Sa’ad menawarkan Abdurrahman sebagian hartanya, namun Abdurrahman menolak, dan memilih bertanya dimana letak pasar perniagaan di kota Madinah. Disanalah ia mulai berdagang, dan kembali menjadi seorang yang kaya raya.

    8. Sa’ad bin Abi Waqqash

    Menurut buku Sa’ad bin Abi Waqqas karya Arief Priambudi, bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash merupakan anak yang ebrbakti kepada orangtuanya. Beliau juga berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya.

    9. Said bin Zaid

    Menurut buku Manusia-manusia yang Dirindukan Surga karya As’ad Muhammad, bahwa Said bin Zaid adalah anak dari paman Umar bin Khattab, dan suami dari adik perempuan Umar, yakni Fatimah binti al-Khattab.

    10. Abu Ubaidillah bin Jarrah

    Menurut buku Biografi 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga karya Sujai Fadil, nama aslinya adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah Al-Quraisyi Al-Fihri Al-Makki. Beliau termasuk Sabiqun Al-Awwalun (Orang-orang pertama masuk Islam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Salahuddin Al Ayyubi, Pemimpin Bijaksana yang Disegani Negara Barat dan Islam


    Jakarta

    Kisah Salahuddin Al Ayyubi merupakan salah satu legenda paling terkenal dalam sejarah Islam, bahkan hingga ke dunia Barat. Salahuddin, yang dikenal sebagai pendiri Dinasti Ayyubiyah, dihormati sebagai pahlawan besar dalam Perang Salib karena keberaniannya dan kecerdasannya di medan perang.

    Dalam buku Kilau Mutiara Sejarah Nabi yang disusun oleh Tempo Publishing, Amanda Mustika Megarani menyebutkan bahwa Salahuddin adalah tokoh yang berhasil merebut kembali Yerusalem untuk umat Islam setelah jatuh ke tangan kaum Nasrani, prestasi yang sebelumnya pernah dicapai oleh Umar bin Khattab RA.

    Di mata orang Barat, Salahuddin, yang dikenal dengan nama Saladin, dianggap sebagai pemimpin yang adil dan berani, mencerminkan sifat-sifat ksatria sejati.


    Keberhasilannya dalam Perang Salib tak hanya mengukir namanya dalam sejarah Islam, tetapi juga menjadikannya sosok yang dihormati oleh lawan-lawannya. Hingga kini, kisah Salahuddin Al Ayyubi tetap hidup sebagai inspirasi bagi banyak orang di seluruh dunia.

    Biografi Salahuddin Al Ayyubi

    Menurut buku Sejarah Perkembangan Islam di Mesir (Masa Khalifah Umar bin Khaththab Sampai Masa Dinasti Ayyubiyah) karya Husain Abdullah, dkk, Salahuddin Al Ayyubi lahir di Takriet, Irak, pada tahun 589 H (1137 M).

    Sejak kecil, Salahuddin dibesarkan di Damaskus, di mana ia menerima pendidikan agama Islam dan pelatihan militer di bawah bimbingan pamannya, Asaddin Syirkuh, seorang panglima perang dari Turki Saljuk.

    Berkat keterampilan militernya, Salahuddin bersama pamannya berhasil merebut Mesir dan menggulingkan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimiyah.

    Atas kesuksesannya, ia diangkat menjadi panglima perang pada tahun 1169 M dan tidak butuh waktu lama bagi Salahuddin untuk memimpin Mesir dengan baik.

    Salahuddin Al Ayyubi dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana dalam menyelesaikan berbagai masalah, yang membuatnya dicintai oleh rakyatnya. Selain itu, keberhasilannya dalam memperkuat kekuatan militer membuat bangsa Eropa merasa segan dan waspada terhadapnya.

    Negara-negara Eropa bahkan khawatir wilayah mereka akan ditaklukkan oleh Salahuddin, sehingga mereka sepakat untuk menghancurkan kekuasaannya dengan menyerang Mesir.

    Di sisi lain, ketika Dinasti Fatimiyah mulai runtuh, Salahuddin melihat kesempatan untuk mendirikan Dinasti Ayyubiyah di atas reruntuhan tersebut. Dari sinilah masa keemasan Salahuddin dimulai, dengan pencapaian-pencapaiannya yang luar biasa dalam menyatukan dunia Islam, menjadi teladan yang patut diikuti.

    Kisah Salahuddin Al Ayyubi dalam Perang Salib

    Diceritakan dalam buku 55 Tokoh Dunia yang Terkenal dan Paling Berpengaruh Sepanjang Waktu karya Wulan Mulya Pratiwi, dkk, Salahuddin Al Ayyubi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan Perang Salib.

    Persiapan tersebut tidak hanya mencakup strategi militer dan pelatihan fisik, tetapi juga persiapan spiritual yang sangat penting. Salahuddin memfokuskan upaya untuk memperkuat pertahanan dengan membangun benteng-benteng yang kokoh, menentukan perbatasan secara jelas, mendirikan markas-markas perang, dan mempersiapkan armada kapal terbaik. Selain itu, beliau juga mendirikan rumah sakit serta memastikan ketersediaan obat-obatan bagi pasukannya.

    Meskipun sedang mengalami sakit keras, hal tersebut tidak memadamkan semangatnya untuk merebut kembali Yerusalem, tanah suci Nabi. Sebaliknya, penyakit tersebut malah memperkuat tekadnya.

    Salahuddin memulai perjuangannya dalam pertempuran Hathin, di mana pasukannya yang berjumlah 63.000 prajurit menghadapi Tentara Salib. Dalam pertempuran ini, pasukan Salahuddin berhasil membunuh 30.000 musuh dan menawan 30.000 lainnya.

    Perjuangan berlanjut di kota Al-Quds dan Yerusalem, di mana banyak dari pasukan Salahuddin yang gugur sebagai syuhada. Ketika Tentara Salib memasang salib besar di atas Batu Shakharkh, hal ini justru memicu semangat pasukan Salahuddin, yang akhirnya berhasil meraih kemenangan dalam Perang Salib kedua.

    Menurut Karen Armstrong dalam bukunya Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, yang diterjemahkan oleh Hikmat Darmawan, ketika Salahuddin Al Ayyubi membebaskan Palestina, ia tidak membunuh seorang pun dari pemeluk agama Kristen, bahkan tidak merampas harta benda mereka.

    Salahuddin memegang teguh ajaran Islam yang melarang mengambil keuntungan dalam situasi sulit dan tidak mengajarkan balas dendam. Islam mengajarkan umatnya untuk memenuhi janji dan memaafkan kesalahan sesama.

    Hingga saat ini, kisah Salahuddin tetap terkenal, dan ia dikenang sebagai tokoh penting dari Dinasti Ayyubiyah yang berperan besar dalam menyatukan dunia Islam.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com